
"ehemmm"
deheman seseorang memecah hening suasana disebuah ruang keluarga yang saat itu terdapat beberapa orang yang saling terdiam dan canggung.
"Ray, cepat jelasin semua nya." ucap Kevin dengan nada dingin
terlihat Rayyan menghela nafas panjang sebelum memulai cerita nya seraya menatap seorang gadis yang dari tadi tertunduk enggan menatap orang yang berada di sana.
yups, saat ini mereka sedang berkumpul di rumah Ara. tepat nya saat ini memang Ara yang mengundang mereka mengingat Abang nya baru tiga hari yang lalu sampai Indonesia.
"Ara, aku minta maaf sebelumnya.. tapi jujur aku tidak pernah sekali pun berniat buat khianati kamu.. demi Allah aku di jebak dan aku masih berusaha buat cari bukti. dan aku jamin aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun"
"kamu percaya kan Ra?" ucap Rayyan
Ara hanya diam, saat ini dia enggan untuk komentar apapun karna kemarin dia bertemu seseorang dan mendengarkan sebuah rekaman yang mana saat itu dia mengetahui satu hal yang mungkin bisa membuat hatinya sedikit lega.
flash back
"Araa!!"
Ara menoleh kebelakang, melihat siapa yang berteriak memanggil namanya. Ara mengerenyitkan dahinya melihat seseorang yang sangat familiar dan ya Ara ingat, dia adalah salah satu gadis yang sejak SMA pernah turut membully nya. saat itu mereka sedang berada di depan butik tempat Ara bekerja.
"kenapa?" tanya nya
"bisa bicara sebentar gak Ra, ini penting buat Lo"
"masalah apa ver, dan perasaan kita gak ada masalah lagi kan sejak lulus sekolah"
"udah Lo ikut gue,"
"no, ke ruang kerja gue aja. kalau memang masalah penting"
"oke deh, yuk lah"
mereka kemudian menuju ruang kerja Ara, terlihat suasana yang nyaman, rapi dan terlihat beberapa tumpukan kertas, mungkin berkas pekerjaan Ara.
"to the poin ver, gue gak bisa lama soalnya gue juga harus menyelesaikan urusan gue" ucap Ara
"ck, Lo mah tamu gak di kasih air dulu kek, kue kek" dengus Vera
"kan Lo yang ngajak dodol" ketus Ara
"iya iya, nih Lo dengar aja sendiri dan trus Lo pikirin lagi mana baiknya" ujar Vera
dengan cepat Ara meraih ponsel yang disodorkan oleh Vera dan mendengar rekaman yang ada disana dengan seksama. terlihat Ara menahan emosi nya dan wajahnya terlihat memerah..
"Lo udah Taukan Rayyan gak salah Ra, ini semua salah Gisel" ucap Vera
"Lo dapat dari mana rekaman ini" tanya Ara
"Lo tau kan gue itu temenan sama Gisel, itu gue rekam pas kita lagi nongkrong dirumah dia dan kebetulan sekali anak anak pada ngebahas masalah hubungan Li dan Rayyan..." jelas Vera
"trus Kenapa Lo rekam ini semua dan tunjukin ke gue.. teman macam apa Lo" sinis Ara dan menatap tajam vera
"gue udah muak sama cara pergaulan mereka Ra, gue sadar mereka memang gak sejalan sama gue" jawab Vera, terlihat kilatan emosi dari matanya dan Ara menyadari hal itu
" dan gue mau minta maaf sama Lo atas perlakuan gue dulu, dan sebagai penebus semua nya gue sengaja buat rekam itu biar Lo gak salah faham sama Rayyan."
ara tersenyum getir, tidak tahu harus bagaimana setelah mengetahui semua kebenaran ini, dan dia telah memantapkan hati dengan pilihannya untuk melanjutkan Studinya mengingat tiga hari lagi keberangkatan nya dan dia mengatur ulang semua nya. tidak jadi ke Kalimantan tapi keluar negri yaitu ke malaysia. itupun tanpa sepengetahuan orang tua nya dan hanya diketahui oleh profesor yang mengusulkan saran tersebut.
"gue maafin Lo ver, gue gak pernah dendam sama Lo.. oh ya ver, gue boleh minta tolong gak" tanya Ara dengan wajah serius
"apa???" tanya Vera
"gue mau lanjut studi gue dan ini tanpa sepengetahuan Rayyan dan anak anak.. Lo mau gak nanti tunjukkan bukti ini kepada mereka setelah gue berangkat dan juga kalau mereka tanya gue kemana Lo jangan bilang ya dan anggap aja Lo gak tau" jelas Ara
Vera nampak menimbang apa yang dikatakan Ara dan akhirnya mengangguk.
setelah itu mereka nampak membicarakan beberapa hal.
flash back off
"basi Lo Ray, kemarin kemana aja, kok gak langsung jelasin ke Ara. bahkan dia sidang skripsi pun Lo gak hadir.. Lo tau gak gimana sakit nya Ara pas Lo gak ada kabar dan tau tau udah mau tunangan kayak gini" teriak kak Nia panjang lebar
"dan Lo pada kemana aja hah, jahat Lo semua" ucap Lala marah menunjuk para sahabat Rayyan
"eh gue enggak ya, gue baru datang kemarin" bela Kevin pada dirinya sendiri
"asal Lo tahu Ray, jujur memang menyakitkan, tapi membahagiakan orang lain dengan kebohongan itu lebih sakit dan parah nya lagi dengan pengkhianatan " teriak Sisi emosi karna mereka melihat bagaimana Ara bangkit dari keterpurukannya setelah kabar pertunangan rayya mencuat ke media sosial dan massa
rayyan dkk hanya menunduk mendengar luapan emosi dari ketiga gadis yang membela Ara..
Ara,? jangan tanya lagi, dia hanya menyaksikan perdebatan itu walau hanya terdiam dan seakan tak mengetahui satu kebenaran.. Ara ingin melihat seberapa besar cinta Rayyan untuk nya dengan perjuangannya untuk mendapat kepercayaan dari Ara lagi.
tak dipungkiri Ara masih sangat menyayangi Rayyan dan sangat mencintainya meskipun ada kesalahpahaman itu
terlihat Rayyan bangkit dan berjalan mendekati Ara, digenggam nya tangan Ara dan menatap mata sang kekasih
"Ra, aku Akan buktikan semuanya dan aku mohon kamu percaya sama aku, aku tidak akan menikah dan mencari cara agar ancaman yang diberikan Gisel tidak terjadi"
"aku hanya takut dia menyakitimu, kakak sepupunya itu mafia jadi aku takut terjadi sesuatu padamu" ucap Rayyan serius dan sedikit keceplosan mengenai ancaman yang diberikan Gisel kepada nya. dan itu sukses membuat Ara dan lainnya terkejut
"maksudnya ancaman apa Ray" tanya Kevin yang terlihat serius
"maaf, tapi aku janji akan menjaga Ara sebaik mungkin" ucap Rayyan enggan untuk menjelaskan lebih detail
"tapi aku mohon, kamu percaya padaku ya Ra" pintanya
sedangkan Ara tetap terdiam karna terkejut atas yg di ucapkan Ara dan memang masih ingin memberikan ruang untuk Rayyan membuktikan ucapannya
tiba-tiba Ara berdiri, melepaskan tangannya dari genggaman Rayyan dan menoleh sebentar.
"Buktikan semua nya dan perbaiki" ucap Ara dingin dan cuek langsung meninggalkan orang orang yang menatapnya dengan pemikiran masing-masing.