
dua tahun kemudian,
sebuah mansion mewah saat ini sedang terlihat ramai oleh para pelayan yang sedang mempersiapkan berbagai hidangan untuk sebuah acara yang akan di gelar di halaman belakang mansion.
acara yang akan berlangsung dengan konsep outdoor ini menjadi tempat yang begitu elegan dengan dekorasi yang demikian rupa. sebuah acara yang disiapkan untuk acara ulang tahund dari Amelia adik dari seorang CEO ternama di Indonesia yang memiliki sikap dingin dan kejam nya .
para tamu juga sudah mulai berdatangan, dengan dress code pink putih yang memang menggambar kepribadian dari si bintang utama acara ini.
banyak dari para kolega bisnis keluarga William yang di undang untuk meriahkan acara ulang tahun Amelia kali ini, begitupun dengan keluarga Bagaskara yang turut hadir menjadi salah satu undangan.
saat ini, pak Bagas dan pak Riko sedang bercengkrama dengan beberapa relasi yang menjalin kerjasama dengan perusahaan mereka,
dan begitu pun dengan para nyonya nyonya sosialita sedang berkumpul membentuk urusan masing-masing.
"eh jeng Dina, anak sulung nya udah punya calon istri belum sih. kalau belum mending sama keponakan saya aja" ucap nyonya Ibrahim
" oh kalau itu sih saya gak pernah ikut campur jeng. soalnya kata papa nya anak anak semua yang berkaitan sama masalah pribadinya anak anak itu gak perlu dicampuri takutnya anak nya gak nyaman." ucap mama Dina bijak
"tapi usia Ray juga udah cukup kok jeng berumah tangga, temen teman nya juga udah punya pasangan masing-masing, lah dia masih betah aja sendiri" kata ibu ibu lainnya
bunda Ira yang mendengar itu hanya tersenyum dan diam, begitupun dengan Mama Dina yang hanya tersenyum mendengar orang lain membicarakan sang anak.
"ma, kakak kemana sih" tanya Amel yang baru saja mendekat ke arah sang ibu.
"di kamarnya kali dek, coba kamu lihat, atau gak telpon biar cepet" ucap mama Dina dan diangguki oleh Amel
belum sempat Amel membuka ponselnya, orang yang dicari sedang melangkah menuju para sahabatnya. dan tentu Amel segera menyusul sang kakak.
"kak, ayo temani Amel buat mulai acara ini" ucap Amel yang sedikit manja kepada kakaknya
"ya udah, ayok" ucap Rayyan dingin dan langsung melangkah mengikuti adiknya yang lebih dulu berjalan menuju panggung kecil
acara telah dimulai dan semua menikmati acara ini dengan canda tawa.
ponsel Ayah Bagas berdering, saat ini beliau sedang berada di samping sang anak, Kevin.
"hallo Do." ucapnya
"assalamualaikum pak Bagas, cepat ke rumah sakit pak. Ara sekarang sedang kritis" ucap Aldo di seberang sana
"apa!!! baik saya segera kesana secepatnya, apa pak Adnan sudah kamu kasih tahu" tanya pak Bagas sambil melangkah menuju dimana sang istri berada meninggalka. Kevin yang trlihat bingung
"sudah pak, beliau juga sudah dijalan sekarang"
"kalau begitu saya juga segera kesana, Assalamualaikum" ucap pak Bagas dan langsung memberi tahu bunda Ira
"Bun, ke rumah sakit sekarang, ajak Tania juga sekalian" kata pak Bagas dengan panik
"kenapa yah, apa terjadi sesuatu" tanya bunda yang juga ikut panik
" Ara sedang kritis Bun, baru saja aldo telpon ayah. ayo cepat ayah tunggu di mobil. panggil tania cepat," ucap pak bagas yang langsung melangkah meninggalkan acara tanpa pamit kepada tuan rumah.
dengan tergesa gesa bunda ira melangkah ke tempat Tania yang saat itu berada di antara para sahabatnya.
"tania, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Bunda Ira panik
"kenapa bund" tanya Kevin yang bingung karena tadi sang ayah yang panik lalu sekarang ibunya juga terlihat oabik, tapi kenapa dengan Tania
"Ara sedang kritis sekarang, ayo cepat Tania" ucao Bunda Ira tanpa memperdulikan ucapan sang anak kandung dan malah menarik tangan xalon menantu nya
"kalau kalian ingin tahu, ayo sekarang kalian ikut kita ke rumah sakit, nanti gue jelasin maksud nya. dan ya yang paling penting Lo Ray, Lo harus ikut. mungkin ini saatnya Lo semua harus tahu kebenaran nya" ucao Tania setengah berteriak dan mengikuti bunda Ira menuju mobil pak Bagas
setelah kepergian tiga orang yang terlihat panik itu, pak Riko sebagai tuan rumah lalau segera mengakhiri acara ulang tahun sang anak dan juga segera menyusul mobil pak Bagas ke rumah saki begitupun Kevin dkk.
sesampainya di rumah sakit, terlihat raut wajah cemas dari pak Bagas, bunda Ira dan tania. tapi tunggu dulu
kenapa ada prof Nina dan suaminya yang turut cemas menunggu di ruangan itu, siapa sebenarnya yang sakit.
Kevin yang melihat orang tua nya yang begitu cemas segera mendekat dan meminta penjelasan.
"ayah, bunda. kenapa kalian begitu cemas, memangnya siapa yang sakit sih" tanya Kevin penasaran
"ada apa pak Bagas, siapa yang sakit. mengapa anda begitu terlihat cemas tadi" tanya pak Riko yang juga ikut ke rumah sakit beserta istrinya
sebelum menjawab, pak Bagas melihat sekeliling nya dan menatap pak adnan, ibu Nina dan juga sang istri yang mengangguk mengizinkan untuk membuka rahasia mereka selama ini
Kevin dan lainnya menunggu dengan cemas kebenaran apa yang akan terungkap
"sebenarnya selama ini Ara mwngalami kangker otak dan koma selama hampir Dua tahun setelah melakukan operasi pengangkatan sel kanker" ucap Pak bagas dengan tenang tapi tersirat kesedihan diwajahnya
Deg deg deg
jantung mereka yang mendengarnya berdetang cepat, seakan habis dari lari jauh, terutama Rayyan dkk.
"selama ini Ara berada di Singapura menjalani pengobatan dan berada di Indonesia juga baru dua Minggu ini" ucap Tania yang juga turut menjelaskan
"Lo tahu nia, kok Lo gak pernah kasih tahu kita semua sih" ucap Sisi dengan mata berkaca-kaca menatap tania mwminta penjelasan
sebelum Tania menjawab, dr. Aldo keluar dari ruangan dan terkejut mendapati orang ramai yang menunggu di ruangan ara
"gimana Ara do" tanya pak bagas setelah melihat Aldo keluar
"Alhamdulillah kondisi nya membaik, tapi dia masih betah tidur kayaknya.. mungkin mimpinya terlalu indah. tadi sempat kritis karena ada sedikit masalah pada alat pernapasan, tapi sekarang sudah kami ganti" ucap dokter Aldo yang membuat mereka semua lega
Rayyan yang melihat Aldo segwra mendekat.
"Lo pacarnya Ara kan, Lo dokter kan. kenapa Lo gak bisa jaga ara hah" teriak Ray emosi
"maaf ini rumah sakit, tolong jangan teriak teriak" ucap Aldo yang terkejut dengan bentakan Ray
"kamu apa apaan sih Ray, kenapa teriak begitu" ucao mama Dina menenangkan sang anak
"dia ini pacar nya ara Ara ma, karna dia Ara memutuskan hubungan sama Ray dua tahun lalu" ucap Ray dengan mata menatap tajam aldo
"benar begitu dok" tanya mama Dina memastikan dan dokter Aldo tersenyum sebelum menjawab pertanyaan mama Dina ada suara seorang wanita yang memanggil nya.
"mas Al, gimana keadaan Ara" tanya Istri daei dr Aldo yang sedang menggendong anak kecil
"Alhamdulillah baik yang. kita doakan saja semoga ara cepat sadar" ucap dr Aldo lalu mengecup kening sang istri dihadapan semua orang ya karna memang kebiasaan nya.
"maksudnya apa ini dok, jadi doter selingkuh dari ara ketika ara koma" tanya lala emosi
pak Bagas yang jengah melihat para anak muda yang terus saja marah marah segera menjelaskan kejadian dimana ara memutuskan hubungan dengan Rayyan
"kalian gak usah marah sama Nak aldo, dia itu Om nya Ara, adik dari almarhumah ibu kandung ara" ucap Pak bagas yang langsung membuat mereka terkejut
"dan ya, waktu itu ara yang meminta saya untuk akting menjadi pacarnya dia agar kalian bisa membenci dia dan meninggalkan dia. karna Menurut nya hidupnya gak akan lama lagi jadi jika dia meninggal dunia kalian semua gak akan sedih dan juga dia gak mau kalian khawatir. dia mengidap kangker otak stadium 3 saat itu dan setelah kejadian itu ara langsung kami bawa ke Singapura untuk pengobatan nya" jelas dr Aldo yang membuat mereka sekali lagi terkejut kecuali Tania, pak Bagas, bunda Ira, ibu Nina dan pak Adnan.
"jadi selama ini, ayah sama bunda yang bilang keluar negri ingin jalan jalan itu ya mau menjenguk Ara" jelas bunda Ira yang membuat Kevin menatap mereka datar pasalnya masalah sebesar ini tiidak memberi tahukan dirinya sama sekali.
"aku juga tahu kok Vin, bahkan sebelum ara berangkat ke Singapura dulu, maaf" ucap tania menunduk menahan air mata
"Lo tahu nia, kenapa Lo gak kasih tahu kita kebenaran ini sih hah" tanya Sam emosi
"gue bisa apa, ini permintaan terakhir Ara saat itu, dan gue takut jika memang itu permintaan terakhir Ara, dan ya Ray. waktu Ara kemoterapi dulu ara pernah bilang sama gue kalau dia itu satang banget sama Lo, dia gak mau jadi beban Lo dimasa depan jika memang dia menerima lamaran Lo, saat itu dia nangis nangis telpon gue. dan Lo tahu saat dia nolak lamaran Lo dia sangat sakit dan menangis di rumah dr Aldo semalaman sampai sampai dia pingsan. gitu kan dok" ucap Tania dan bertanya pada dr Aldo kebenaran ini yang dijawab anggukan kepala oleh Aldo