
"Papa stop!!! hahaha geli papa" ucap seorang anak laki-laki yang pipinya sedang dicium dengan gemas oleh sang papa.
"udah mas ah, kasihan muka nya merah gitu" ucap sang mama dengan tersenyum melihat kedekatan ayah dan anak tersebut
mendengar suara lembut dari sang istri, akhirnya aksi menjahili antara anak dan ayah selesai.
"kamu udah minum vitamin yang" tanya Ray pada sang istri setelah mendudukkan dirinya disamping Ara
ya setelah setahun setelah kesembuhan Ara, Rayyan dan Ara mengadakan pernikahan dan sudah mendapatkan seorang anak laki-laki yang kini berusia 3 tahun.
setelah hampir 4tahun menjalani biduk rumah tangga bersama, suka duka selalu mendampingi hubungan mereka, ditambah hadirnya anak diantara mereka membuat hubungan yang mereka jalani semakin harmonis.
Rayyan, pria itu bahkan selalu memberikan kasih sayang berlimpah kepada anak dan istrinya.
"anak papa jangan nakal ya diperut mama, kasihan mama nanti capek" ucap Rayyan dengan mengusap perut sang istri yang sedang hamil anak kedua
"iya papa" jawab Ara menirukan suara bayi
"makasih sayang, makasih sudah berjuang bahagia bersama ku selama ini. aku sayang kamu Arawinda" kata Ray lalu mencium kening Ara
melihat sang ayah mencium kening mamanya. Bima, anak laki-laki mereka seketika berteriak kesal dengan pipi tembem yang menggemaskan.
"papa jangan cium mama, mama punya Bima sama dedek bayi" ucap nya dengan berteriak dan berkacak pinggang
Ara dan Ray yang melihat aksi anaknya hanya tertawa geli. Bima Angkasa, yang memiliki mata yang sama dengan sang ibu dan kulit serta hidung dan bibir yang sama dengan sang ayah, pipi tembem dan pintar di usia yang masih 3 tahun, anak yang selalu cemburu apabila sang ayah selalu mencium atau memeluk sang ibu.
"papa sana jauh jauh dari mama, nanti mama sakit perut kalo papa peluk peluk mama" ketus nya langsung memeluk Ara dan duduk diantara Ray dan Ara.
"itu Abang peluk mama, nanti perut mama sakit loh bang kan dedek bayinya ada diperut mama" sanggah Ray sengaja menjahili sang anak
"bener ma, sakit ya ma. maaf ya ma" ucap Bima mendongak menatap Ara
"enggak sayang, gak sakit. adek juga nyaman kalo di peluk Abang" jawab Ara seraya mengusap kepala Bima
"tuh pa, gak sakit kata mama, kalo papa yang peluk baru sakit, kan ma" tanya Bima lagi
"tapi dedek bayi pengen papa peluk loh bang, gimana dong" tanya Ray dengan muka dibuat serius
"bener ma, adek pengen di peluk papa" tanya polos Bima
"tapi Abang juga pengen peluk mama sama adek" ucapnya lagi dengan menatap kedua orang tuanya bergantian
"yaudah sini papa peluk Abang sama mama sama adek" ujar Ray langsung memeluk kedua kesayangan nya.
mereka tersenyum menikmati kebersamaan yang selalu hangat setiap harinya. terdengar suara teriakan seorang anak laki-laki dari ruang tamu mengganggu kenyamanan mereka.
"Bima, yuhuuuuu Abang Eza datang nih mana karpet merah nya"
itu Eza Abra anak dari Kevin dan Tania, berusia 4 tahun dan disebelahnya Sean anak dari Sam dan Vera yang berusia hampir 8 tahun.
"kalian kesini kenapa gak ngabarin dulu sih" tanya Ray setelah semuanya berada di taman tepatnya duduk di tikar yang digelar di halaman taman belakang.
"lupa Lo Ray, tadi malam kan udah kita kasih tahu" jawab Andrea jengah
"biasa lah kalo udah bareng Ara, semua dilupakan" ucap Sam dengan tangan mengambil toples biskuit yang memang disediakan oleh pelayan untuk acara santai setiap Minggu mereka
"Eza kalo udah ketemu Bima pasti gitu" ucap Tania melihat sang anak sedang bermain bersama Bima dan Sean
" biasa lah kak, kayak gak tahu aja kebiasaan mereka" jawab Ara tersenyum
"dek, gimana keponakan Abang didalem" tanya Kevin setelah mengusap perut sang adik
"Alhamdulillah sehat dong bang"
"udah USG lagi kan Ra, dah tahu belum jenis kelamin nya" tanya Lala
"kita gak berminat buat cari tahu jenis kelaminnya. biar kejutan" ucap Ray lalu merangkul pundak Ara
"siniin La anak Lo, gemes gue" pinta Ara melihat gadis kecil yang cantik dipangkuan Lala
lalu semuanya larut dalam obrolan ringan dan saling bercanda. saling bercerita mengenang masa sekolah kuliah dan semua yang telah mereka lewati.
Arawinda Adinda, wanita itu tampak tersenyum mengingat banyaknya kejadian yang menimpa persahabatan mereka dan hubungannya yang sering mengalami kesalah pahaman.
"kenapa sayang" tanya Ray melihat sang istri tersenyum
"aku bahagia mas, makasih" ucap Ara lalu memeluk Ray
mereka yang menyaksikannya pun turut tersenyum. mereka tahu maksud "terima kasih" dari Ara, yang mana memiliki makna
"terima kasih telah hadir dihidup Ara, memberikan warna yang sempat hilang setelah kematian kedua orang tua kandungnya, terima kasih telah menjadi bagian dari hidup Ara, membuat kebahagiaan yang sempat tak diharapkan oleh Ara, terima kasih mau mendampingi Ara dimasa terpuruk nya dan ketika proseh penyembuhan nya kemarin, terima kasih telah membuat cerita di hidup Ara tanpa membedakan Ara yang anak angkat dari keluarga Bagaskara."
the end.
Mohon maaf, banyak typo dan ceritanya kurang menarik. author masih pemula mohon kritik dan sarannya agar kedepannya lebih baik lagi..
terima kasih reader tersayang nya Nuna.
semoga akan ada cerita lagi nanti...