
malam sudah tiba, saat ini para cewek sedang memasak buat makan malam.. karena yang pandai masak hanya Ara, Tania jadi mereka yang lebih mendominasi dapur. sedangkan Vera Sisi dan Lala hanya menjadi penonton saja. Vera yang sibuk dengan Sean dilarang buat bantu memasak oleh Ara
tak jauh beda dengan para laki-laki. mereka saat ini berada diruang keluarga. menonton film dari laptop Ara yang disambungkan ke proyektor milik Ara,.
sekitar 45 menit, masakan sudah siap dan dibantu sisi dan Lala menyajikan makanan dimeja makan. sedangkan Vera memanggil suaminya dan temannya untuk turun dan makan malam.
"Lo gak makan dek" tanya Kevin melihat Ara yang sedang bercanda dengan Sean
"nanti aja, gantian Vera. kasihan dia pasti laper kan perlu banyak makan buat menyusui" jawab Ara seraya mengunyel pipi tembem bayi usia setahun itu.
"sini aku siapin aja" ucap Rayyan langsung membawa piring yang berisi nasi beserta beberapa lauk dan sayur.
"kamu kan belum makan, makan aja dulu gih. aku mah gampang. biasa jam segini juga belum makan aku mah" ucap Ara menolak Rayyan untuk menyuapinya
"aaa'. buka mulut Ra" pinta Ray
"ya udah tapi kamu makan juga gih, " ucap Ara seraya membuka mulutnya menerima suapan Ray
"kak Nia tolong ambilkan send.." ucapan Ara terhenti ketika melihat Rayyan makan dengan sendok yang sama dengannya.
"ih, itukan bekas aku kak Ray"
"tadi panggil mas, sekarang Kak. yang bener yang mana sih Ra". tanya Ray seraya menyuapi Ara lagi
"ih, kak Ray ambil sendok lagi aja gih, itu bekas aku kak. jorok" ucap Ara gemas
"gak papa, aku suka kok. udah jangan berisik. makan yang tenang" ucap Rayyan tersenyum
"panggil mas aja Ra, aku suka" kata Ray lagu setelah menyuap makanan ke mulutnya.
"ih geli" ucap Ara bergidik geli
"biar terbiasa nanti kalo kita nikah" jawab Rayyan enteng dan berlanjut menyuapi Ara lagi
dan dengan kata itu saja membuat Ara bersemu merah dipipi nya.
makan malam berlanjut dengan obrolan ringan Ara dan para sahabatnya.
setelah selesai makan malam. semua bekas piring kotor juga sudah dibersihkan. kini semuanya berada di ruang keluarga. melanjutkan acara menonton mereka yang tadi terhenti.
"Ra, sekarang jelasin kemana aja Lo selama ini" tanya Kevin to the point
"sabar elahhhhh.. baru aja selesai makan kita" jawab Ara dengan mata fokus ke layar yang menampilkan film
"sekarang!!!!" kompak mereka semua dan membuat Ara melongo mendengar nya. segera Dion mem pause film nya.
"oh oke oke. biasa aja dong mata nya. gue cerita tapi jangan dipotong ucapan gue oke" ucap Ara karna ditatap oleh semua orang
"jadi kemarin gue memang rencananya mau ke Kalimantan, tapi pas minta saran sama prof Nina, dia kasih usul buat ke Malaysia" jelas Ara
"eh jadi selama ini Lo di malaysia Ra, wah jahat lo. bunda sama ayah juga pernah ke sana. jangan jangan ketemu sama Lo ya. curang Li, masa bunda sama ayah doang yang dikabarin" sanggah Kevin panjang lebar
"eh kambing, kan gue udah bilang gak usah dipotong dulu elahhhhh, tak tabok juga nih Abang laknat" ucap Ara kesal
"yaudah, lanjut Ra. gak usah diladeni" lerai Tania dan berlanjut lah menceritakan semua kejadian selama beberapa tahun terakhir.
"gitu ceritanya" ucap Ara tersenyum
semua yang mendengarnya hanya mengangguk dan tersenyum bahagia. begitu pun dengan Rayyan yang berada disofa yang sedang disandari oleh Ara karna Ara berada di karpet khusus diruang keluarga itu.
"terima kasih telah kembali Ara" ucap Rayyan mengecup puncak kepala Ara. dan begitu juga dengan Lala dan Sisi yang langsung memeluk Ara erat sehingga susah bernafas.
"Lo..be..rdu..a ma..u nge...bu..nuh gue, hosh hosh" ucap Ara sesak
"eh sorry Ara, kita seneng banget Lo Kemabli sama kita" ucap Lala berkaca-kaca
"ya udah sih, jangan pergi lagi ya dek" pinta Tania dengan mengelus rambut Ara dan dibalas pelukan dari Ara. begitu pun dengan Vera dll.
setelah itu mereka melanjutkan acara menonton nya dengan selingi bercanda. sesekali terlihat Ara memengang kepala nya dan meringis, tapi secepat kilat Ara merubah ekspresi wajah nya agar tidak membuat mereka khawatir.
"kak Sam, sama Vera tidur dikamar itu aja ya. kasihan Sean kalau harus tidur di luar" ucap Ara sambil menunjuk pintu kamar disebelah kamarnya
"kak Nia, Sisi dan Lala di kamar sebelahnya lagi. soal ya kalau mau disuruh ke kamar Ara, masih berantakan. yang cowok cowok ganteng ini di sini aja ya, karpet nya hangat kok nanti selimutnya Ara ambil dulu" ucap Ara panjang lebar seraya bangkit dari duduknya menuju kamar.
"gue susul Ara bentar ya, ada yang mau gue omongin" ucap Ray berdiri dan berjalan mengikuti Ara
"bilang aja mau melepas Rindu Ray, susah amat" kata Kevin cekikikan dan disambung tawa dari para sahabatnya
tanpa dia sadari, seseorang masuk dan mengunci pintu kamarnya. mendekat dan memeluk Ara dari belakang. sontak itu membuat Ara terkejut dan berbalik kebelakang melihat siapa pelakunya.
"eh, ngagetin banget sih" ucap Ara berusaha lepas dari pelukan Ray yang mengeratkan pelukannya setelah Ara menghadap ke arah nya dan membenamkan wajah nya ke ceruk leher Ara.
"biar kan seperti ini sebentar sayang, aku rindu" ucap Ray lirih dan Ara berhenti berontak hanya membiarkan Ray melepas Rindu dan tentunya Ara juga demikian. dia sangat merindukan Ray meski sebelum pergi dulu sempat ada beberapa konflik diantara mereka.
perlahan Ray mengendurkan pelukannya dengan tangan yang masih dipinggang Ara, menatap mata Gadis yang selalu dihatinya yang juga tengah menatap nya. perasaan rindu yang selama ini menggerogoti hatinya kini telah terobati dengan hadirnya sang penyembuh.
perlahan tatapan itu berpindah ke arah bibir ranum Ara yang berwarna peach. dan mulai mendekat dan semakin dekat hingga hidung mereka bersentuhan dan deru nafas terasa hangat mengenai wajah Ara. dan Ara spontan menutup matanya
entah siapa yang memulai, hingga kini bibir mereka menyatu, tak mendapat penolakan Rayyan langsung me\*\*\*\*t dan me\*\*\*\*\*p lembut bibir Ara meskipun tidak ada balasan.
Ara seakan terhanyut dalam ciuman tanpa sengaja Ara membuka mulutnya membiarkan lidah Ray mengeksplor dan mengabsen yang ada didalam mulut Ara.
setelah beberapa menit, akhirnya ciuman itu terhenti karna mereka kekurangan pasokan oksigen dengan kening saling menyatu, perlahan Ray mengusap bibir Ara yang basah akibat ciuman mereka tadi.
setelah kesadaran Ara dari permainan yang Rayyan pimpin tadi, Ara langsung menjauh dan menyembunyikan Raut wajahnya yang memerah malu.
"first Kiss Gue. yaampun diambil Ray. maluuuu" pekik Ara dalam Hati
Rayyan yang melihat Ara menjauh dan mengalihkan wajahnya pun tersenyum dan mendekat, memeluk Ara dari belakang dan membenamkan wajahnya dileher Ara.
"kenapa wajahnya merah" goda Ray
"eee...Ng..gak kok, gak merah" ucap Ara gugup dan di balas kekehan dari Ray
"jangan malu sayang, nanti kalo udah nikah bisa lebih dari tadi" ucap Ray semakin menggoda Ara
"ih udah sana, gak usah peluk peluk." geram Ara karena digoda Ray
Rayyan hanya tertawa dan kemudian membawa Ara ke dalam dekapannya lagi dikecupnya kening Ara.
"jangan tinggalkan aku lagi ya Ra, kari rasanya udah gak bisa hidup lagi. dan sekarang jangan lagi" pinta ras dengan mengeratkan pelukannya
"iya Ray, aku janji" jawab Ara tersenyum
"ya udah lepas pelukannya dulu, nih selimut kasihkan ke mereka yang ada di sana. kamu juga keluar. istrahat sama mereka ya. aku mau bersihin diri dulu" ucap Ara sebenarnya Ara hanya berbohong untuk bersih-bersih, itu hanya alasan karna kepalanya terasa semakin sakit
"iya, kamu juga istrahat. kayak pucat tuh muka. kecapekan mungkin tadi pagi baru sampai habis dari perjalanan cukup jauh kan" ucap Ray mengusap pipi Ara dan kemudian melangkahkan kaki nya keluar dari kamar Ara setelah memberikan kecupan singkat di kening gadis ya itu.