Arawinda Adinda

Arawinda Adinda
9



"eughhh"


terdengar lenguhan dari seorang gadis yang baru bangun dari tidurnya sejak pulang dari cafe tadi sore. jam sudah menunjukan pukul 11 malam, mungkin karna suasana hati dan pikiran nya sedang tidak baik-baik saja hingga tak terasa dia tertidur hingga tak menyadari hari sudah malam.


setelah beberapa lama mengumpulkan nyawa nya, Ara bangun dan duduk di kasur sambil memijit pelipisnya karna kelelahan menangis sejak sore hingga tertidur.


"gue harus tetap semangat buat hidup gue, jangan karna hanya cowok gue jadi melupakan buat ngebahagiakan diri gue sendiri. gue pasti bisa" semangatnya menghibur diri sendiri


ya dia memang tidak menceritakan tentang masalah ini kepada sahabat dan orang tuanya, Ara memang suka memendam perasaan nya sendiri dan menanggung semua nya sendiri.


"apa gue harus ambil beasiswa yang di sarankan prof. tadi kali ya, biar gue bisa jauh dan gak lihat mereka lagi walaupun cuma untuk beberapa tahun. setidaknya gue bisa mengobati sakit hati gue" gumamnya


"ya gue harus ambil, tapi gue gak mau di luar negri"


"besok gue harus diskusi sama prof lagi ah.. ya gue harus yakin dengan keputusan ini."


"gak perlu kasih tau anak-anak. gue perlu menyendiri beberapa lama biar gue bisa menata hati gue lagi. harus" tekatnya


kemudian meraih hp yang ada di nakas dan menghubungi sang ibu.


Tut Tut Tut


"hallo, assalamualaikum"


"waalaikumsalam Bun, maaf ganggu ya"


"iya gak papa, kamu kenapa sayang, kamu sakit, kamu perlu sesuatu sayang, kenapa kamu belum tidur?"


"gak Bun, besok bunda bisa ke rumah kan Bun sama ayah"


"iya bisa, besok pagi bunda sama ayah ke rumah kamu,, memangnya ada apa?"


"besok Ara ceritain, sekarang bunda tidur lagi ya, selamat malam bunda cantik. assalamualaikum" kata Ara dan langsung mematikan panggilan tanpa menunggu jawaban dari seberang.


"biar ayah sama bunda aja yang tahu, selain itu biar semua menjadi rahasia" ucap Ara setelah bertekad buat meyakinkan hati nya mengambil beasiswa tersebut.



pagi harinya, saat ini Ara dan keua orang tua nya sudah berada di ruang keluarga setelah sarapan pagi. ya memang bunda dan ayah datang pagi sekali dan sekalian masak buat sarapan dirumah sang anak. Ayah hari ini memang sengaja buat masuk ke kantor agak siang karna ingin mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh anak gadisnya.



"kamu serius mau ngambil beasiswa S2 sayang?" tanya Ayah setelah tadi diberi tahu Ara



"iya ayah, tapi Ara gak mau diluar negri" jawab nya Ara yakin



"trus mau dimana, kan beasiswa itu di luar negri?" tanya bunda heran



"gini Bun, beasiswa nya memang ada diluar negri, tapi kalu misal mahasiswa nya minta buat di pindah boleh. gitu kata prof kemarin Bun." ucap Ara



"gak ngerti juga sih, tapi yang jelas beasiswa ini dari kampus Ara sekarang bun" jelasnya lagi



"ayah sama bunda dukung kamu, tapi kenapa mendadak sayang.. ?" tanya Ayah



"gak mendadak yah, udah memang dari sebelum skripsi Ara selesai juga prof udah nawarin beasiswa ini" kata nya




"di Kalimantan bagaimana yah, biar Ara bisa menikmati alam di negara kita ini" jawab Ara antusias



"kenapa harus di Kalimantan, kenapa gak dikampus kami sekarang aja?" tnya bunda karna agak keberatan dengan permintaan anaknya yang akan pergi jauh dari nya lagi



"biar dapat pengalaman bunda, biar Ara juga bisa berbaur sama suku yang ada disana" jelas Ara dengan wajah sedikit memelas agar dapat izin



melihat wajah Ara yang sepertinya memang sangat menginginkan untuk lanjut kuliah di Kalimantan, mau tidak mau ayah dan bunda mengizinkan dan mengangguk kan kepala. sontak itu membuat Ara langsung bahagia dan memeluk kedua orang tua nya erat



"tapi Ara ada permintaan lagi, bunda sama ayah gak boleh bilang siapa pun termasuk bang Kevin dan sahabat Ara yang lainnya.. janji ya yah, Bun." pinta ara dengan serius setelah melepas pelukan



"memangnya kenapa sayang?" tanya bunda heran



"nanti bunda juga tahu alasannya. tapi janji jangan kasih tau siapapun. kalau tidak Ara gak akan pulang lagi ke sini" ancamnya



"dan juga nanti Ara ingin seolah olah Ara berangkat kuliah keluar negri biar pada gak bisa nemuin Ara" ujar Ara dengan sesikit senyum



"ya udah terserah kamu, yang penting kamu jaga kesehatan, dan selalu kasih kabar ayah sama bunda kamu nak" pasrah ayah karna tidak ingin membuat sang anak sedih



"yey makasih ayah sayang,"



cup



Ara mengecup sekilas pipi ayah dan bundanya. setelah itu dia bersiap buat pergi ke kampus untuk mengkonfirmasi kan untuk menerima beasiswa itu dan mengajukan syarat yang sama kepada prof dan pihak terkait agar tidak memberikan informasi tentang keberadaan nya.



sepanjang koridor dari ruang dosen menuju parkiran tak sengaja Ara mendengar beberapa orang sedang membahas pertunangan yang akan di lakukan oleh Rayyan dan Gisel.. dan tak sedikit pula memandang Ara dengan raut kasihan mengingat hubungan mereka yang sangat baik dan tiba tiba kabar pertunangan itu tersebar tidak tahu siapa dalang yang menyebarkan kabar tersebut..



memang Ara telah berusaha menguatkan hati nya dan menganggap itu semua hanya angin lalu dan ujian dalam hidupny yang memang harus dia lalui. jadi Ara bersikap cuek cuek saja dan terus berjalan menuju mobilnya yang ada diparkiran.



seminggu berlalu, kini waktunya Ara sidang buat skripsi nya dan beberapa hari ini setelah kabar itu tersebar luas. para sahabat nya tidak tinggal diam.. mereka selalu ada untuk menghibur dan memberi semangat kepada Ara.. mereka memang tahu Ara akan menghadapi sidangnya dan mereka tidak mau melihat Ara murung jadi sebisa mungkin mereka selalu ada buat menghibur Ara.


tak jauh beda dengan ayah dan bunda yang juga baru mengetahui kabar tersebut, dan kini mereka mengetahui alasan mengapa Ara meminta menutupi keberadaan nya nanti setelah melanjutkan kuliah nya..


saat ini diluar ruangan terlihat para sahabat nya sedang menunggu kehadiran Ara untuk memberi selamat atas kelulusan nya. dah tepat hampir dua jam lamanya Ara selesai dan mendapatkan hasil terbaik dan tercepat..


rupanya patah hati tidak mengubah apapun terhadap diri Ara, meski beberapa waktu lalu sempat menangis dan sedih tapi itu tidak mempengaruhi sidang skripsi nya dan konsentrasi nya untuk menyelesaikan sidang tersebut.