
Gemercik air dari wastafel yang dihidupkan oleh Ara untuk mencuci muka dari darah yang keluar dari hidungnya setelah merasakan sakit kepala yang sangat kuat setelah Rayyan keluar dari kamarnya tadi.
"sebenarnya gue kenapa sih, heran perasaan dari kemaren sakit kepala Mulu" gumam Ara pelan
"apa mungkin sama kaya Ibu ya. faktor keturunan gitu kali. eh semoga aja enggak.. semoga enggak yaAllah" lirihnya dengan perasaan takut
"besok gue harus cek kondisi gue, gue gak mau terlambat mengetahui penyakit apa yang gue derita, lebih cepat lebih baik. semoga gak sesuai dengan apa yang gue fikirin"
"eh, tapi kalo misal kan iya. gue harus gimana dong. gue gak mau jadi beban orang-orang lagi. udah syukur gue diadopsi dan dibesarkan kayak gini. Semoga bukan deh penyakit itu. takut gue hisk" gumamnya dengan menitikan air mata
"sekarang gue harus istirahat, semoga besok lebih baik dan perkiraan gue gak tepat. gue harus yakin gue sehat" tekadnya kemudian keluar dari kamar mandi dan berganti baju tidur.
setelah sholat subuh tadi Ara langsung menuju dapur untuk membuat sarapan. teman temannya semua masih berada didalam mimpi dan tanpa terganggu sedikitpun.
terlihat Ara sedang fokus memasak sampai tidak menyadari seseorang sedang memperhatikan nya dari dinding sekat antara ruang tamu dan dapur.
pelukan hangat dari belakang mengejutkan Ara yang sedang menumis bumbu untuk membuat nasi goreng.
"crpet banget bangun nya yang" ucap Ray sambil menghirup aroma dari leher Ara
"gak usah gitu Ray, geli. gak fokus aku masak ini" omel Ara karena kegelian
"kamu kok udah bangun, udah sholat subuh belom" tanya Ara tanpa mengalihkan fokus dari masakannya.
"ini mau sholat subuh, tapi pas bangun kecium bau wangi masakan. penasaran ya aku turun eh ada bidadari lagi masak" ucap Rayyan dengan diiringi gombal sedikit.
"ck.. gombal nya, belajar dari mana sih. sholat udah gih sana. trus bangunin yang lain suruh sholat juga nanti keburu siang" ucap Ara seraya melepaskan tangan Rayyan dari pinggang nya dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil beberapa sayur.
*cup*
"iya, sholat dulu yang" ucap Rayyan, setelah mengecup kening Ara sebentar dan pergi ke kamar mandi un tuk bersih bersih
Ara hanya tersenyum dan melanjutkan memasaknya.
15menit, semua masakan telah tersaji di meja makan tak lama setelah itu terdengar suara langkah kaki mendekat, melihat banyak makanan diatas meja, tentunya menciptakan senyum manis dari para sahabatnya yang memang sudah lapar
"kok masak gak bangunin kakak sih Ra" ucap Tania setelah duduk di kursinya
"gak tega buat bangunin kalian, gak papa juga udah biasa gue masak mah" ucap Ara tersenyum
"ambilin dong yang nasi goreng spesial itu" ucap Ray dan temannya yang mendengar itu melongo tak percaya
ini bener Rayyan. ucap mereka dalam hati tak percaya
"huek, kok alay sih Ray, ini beneran elo" tanya Sam
"Lo lagi sakit Ray, sini gue cek" tanya Andrea dengan menempelkan tangannya ke kenin Rayyan dan langsung ditepis oleh Rayyan
"ck apaan sih nde, gue sehat ini" ucap Ray jengah
"wih, Lo kasih apa tadi malam Ra, sampe kayak gini anak orang berubahnya" tanya Kevin dengan menguap nasi goreng yang baru saja diisi ke piringnya oleh Tania.
"kenapa sih" tanya Ara bingung dengan percakapan yang gak jelas menurutnya
"gak usah di dengar Yang, mereka lagi mode iri" ucap Ray mengambil piring yang berisi nasi goreng dari Ara
"makasih" lanjutnya seraya tersenyum manis
"iya, kayaknya nyenyak banget dia tidur di sini, biasa dirumah jam 4 subuh udah teriak teriak" Jawab Vera sambil melanjutkan sarapan nya
"Ray Lo gak kerja" tanya Dion
"kerja dong, hari ini gue ada meeting sama klien dari Singapura" jawab Ray tanpa melihat lawan bicaranya
"meeting proyek pembangunan Mall itu ya Ray" tanya Kevin yang diangguki oleh Rayyan
"Lo hari ini mau kemana Ra" tanya Lala
"ke kampus lah, hari ini jadwal gue masuk. agak siang dih tapi gue mau berangkat pagi soalnya tugas mahasiswa kemarin belum gue periksa" ucap Ara
"Lo serius jadi dosen Ra," tanya Tania yang masih belum percaya
"iya lah, serius gue. gak percaya, ikut aja yok" ajak Ara kemudian berdiri menuju wastafel menyimpan piring kotor
"iya kita percaya, nanti weekend jalan yuk. ke pantai kek gitu" ajak Sisi
"boleh, nanti kita ke rumah gue yang sekarang jadi base camp aja" ucap Ara
"oh ya, nanti gue mau nginap di mansion bang. kasih tahu bunda ya.. anaknya mau pulang. gue mau nginap seminggu gitu ya bang" ucap Ara tersenyum yang dijawab anggukan antusias oleh Kevin
"akhirnya adek gue pulang" pekiknya senang
"ya udah, kita pulang ya Ra, ini Sean juga udah bangun dan mandi" jawab Vera setelah turun dari lantai atas melihat Sean dan memandikan anak nya.
"yah, anak gue mau dibawa pulang sama Mak nya" jawab Ara dengan muka dibuat sedih
"anak Lo,!! hallo, ini anak gue ya. kalo mau punya anak minta Ray buat" ucap Sam dengan menggoda Ara
"apaan sih mas Sam, gak lucu ya" ucap Ara dengan mengengembungkan pipi nya terlihat lucu
"ini bocah umur udah tua masih aja imut" ucap Dion menjitak kening Ara
"ih kak Dion, sakit" pekik Ara mengusap keningnya
*cup*
"sini lihat yang sakit, Lo kenapa sih Yon" ucap Rayyan setelah mencium kening Ara dan temannya menampilkan ekspresi ingin muntah.
"udah gak sakit kan, aku berangkat kekantor dulu ya. Nanti aku telpon ya" ucap Ray seraya mengecup puncak kepala Ara sebentar
"kita juga deh Ra, nanti kita ketemu di basecamp aja. kumpul lagi disana" ucap Lala kemudian memeluk Ara diikuti sisi, Tania dan Vera
"nanti Abang bilang bunda dek, Abang pulang dulu habis itu ke kantor" ucap Kevin setelah memeluk Ara sebentar
"kita pulang Ra, Assalamualaikum" ucap Andrea dan lainnya.
setelah sahabatnya semua pulang. Ara langsung kekamarnya mengambil tas, kunci mobil dan ponselnya.
keluar dari apartemen dan menuju basemen mengambil mobilnya. tujuannya kali ini adalah rumah sakit untuk memeriksa kondisi kesehatan nya.