Arawinda Adinda

Arawinda Adinda
7



sinar matahari menyelinap masuk melalu celah gorden disebuah kamar tidak dapat membangunkan seorang gadis yang masih anteng di dalam selimut yang membungkus tubuh nya..


pintu kamar terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya yang pagi-pagi sekali sudah berada di kediaman milik putri kesayangannya, wanita itu hanya dapat menggeleng kan kepalanya melihat sang anak masih terlelap ketika jam sudah menunjukan pukul 09.24 pagi..


"ya Allah araaaaaa!!!! "


"apa sih Bun, masih ngantuk Ara Bun"


"bangun nak, kamu gak kuliah"


"gak Bun, aku nanti siang ada Konsul sama dosen pembimbing buat skripsi aku" jawab Ara masih dg mata terpejam


"loh, perasaan kuliah kamu masih dua semester kan Ra?" tanya sang bunda heran


"humm" jawabnya malas


"trus kamu udah nyusun skripsi?, kamu mau selesai dalam tiga tahun setengah maksud kamu nak?"


"ih bunda, masih pagi ini, udah pertanyaan nya kek wartawan aja" kata Ara seraya bangkit dan duduk di sisi ranjang


"hebat anak bunda. gak salah sih, waktu sekolah aja kamu selalu dapat juara umum" ujar bunda nya seraya mengelus rambut sang anak


"Bun, bang Kevin masih di London ya?" tanya Ara


"iya, kenapa kamu kangen abng?"


"iya lah, Ara mau mandi dulu ya Bun, lupa ntar jam sepuluh Lala, Sisi, dan kak Nia mau ke sini" ucap Ara langsung berdiri dan berlari menuju kamar mandi


bunda yang melihat kelakuan Ara hanya bisa menggeleng sambil tersenyum seraya merapikan tempat tidur yang seperti kapal pecah itu.




"bunda masak apa?" kata Ara mengejutkan sang bunda dan memeluk dari belakang



"Ara bikin bunda kaget" omel nya sambil mengelus dada dan hanya mendapat cengiran dari sang anak



"nih masak ayam kecap, kamu suka kan?" lanjutnya



belum sempat Ara menjawab terdengar suara teriakan menggema hingga ke dapur, siapa lagi pelakunya kalau bukan trio Macan eh maksudnya para sahabat Ara



"berisik kalian" teriak nya



"gak usah pada teriak di rumah gue"



"eh Lo juga teriak ya Ra" balas Lala



"wah ada bunda, pasti lagi masak ya. mau dong Bun" ucap Lala lagi



"tumben di rumah ini gak ada Syah rukhan" ledek kak Nia



"ah iya, tumben banget sepi" sambung Sisi



" mau dengar kalian, oke bentar ya gue nyalain spiker nya" jawab Ara enteng



"eh jangan dodol, mending lagu Korea " jawab mereka kompak



"gue kurang suka Korea" jawabnya seraya duduk di kursi bar mini di depan dapur nya



"ya udah mending diem gini" sambung bunda nya dan mendapat jempol dari Sisi



"yah bunda gak mendukung Ara" ucap Ara dengan muka di buat sedih



" ya udah deh terserah Lo aja Ra, suka suka Lo yang penting Lo seneng" kata Sisi menengahi




"gak dikubu mana mana"



"terserah, gue mau makan" kata kak Nia yang mendudukan dirinya di bangku makan dan langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk



"yah kek yang punya rumah "sindir Ara tapi tidak berpengaruh pada ketiga sahabatnya yang memang dibebaskan dirumah Ara buat melakukan apa saja



dan akhirnya semua makan dengan tenang dan sesekali berdebat tentang hal yg Unfaedah. bunda hanya sebagai penengah dan senyum mendengar celotehan para gadis yang kelakuan nya masih seperti gadis SMA itu



setelah makan yang tak tahu makan pagi atau siang itu mereka semua menuju keruang keluarga, sisi dan Lala sibuk dengan Drakor nya, kak Nia dengan hp nya dan Ara sedang membersihkan dapur dan meja makan bersama sang bunda,



"nih minum," ucap Ara dengan membawa jus jeruk dan menyimpannya di meja



"Ra, Rayyan mau datang loh" kata kak Nia semangat



"biarin aja, sudah hampir lima bulan ini dia udah gak ada kabar sama gue" jawab Ara cuek



"serius Lo Ra, kok Lo gak pernah cerita" Tanya Lala



"dan itu kak Nia dapat kabar dari mana?" sambungnya lagi



"dari bebeb nya aku dong" jawab kak Nia enteng tapi muka nya serius melihat ke ara



"kalian ngapain pada ngeliatin gue" ucap Ara karna merasa di perhatikan oleh trio itu



"serius Rayyan gak kabarin Lo selama itu?" tanya Sisi yang kini juga fokus ke Ara



"iya, kenapa sih Lo pada, heran gue" tanya Ara keheranan



"Lo gak masalah gitu Ra, kalau gue udah urung uringan itu" kata kak nia



"mungkin dia sibuk sama kuliah dan perusahaan dia kali" jawab Ara enteng



"serius Lo gak sedih Ra" tanya Lala yang kini sudah duduk disebelah Ara



"udah sih, gue juga sibuk jadi gue gak masalahin itu. nanti juga kasih kabar kalau dia kangen" kata Ara dan bangkit menuju kamar nya



sementara teman temannya yang melihat Ara hanya saling pandang dan diam dengan pemikiran mereka masing-masing dan melanjutkan kegiatan mereka yang terjeda,



"eh Ray kenapa ya pulang mendadak" tanya Lala setelah beberapa lama hening



"katanya sih ada masalah urgent" jawab tania tanpa melihat lala



"tapi kenapa sih gak kasih tahu ara ya, kasihan itu bocah" ucap Sisi memandang pintu kamar ara



"udah, mingkin mereka ada masalah kali, kita mau ikut campur juga Ara pasti gak mau cerita kan" jawab Tania lagi dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Lala dan Sisi.