
"huh, sekarang gue harus gimana lagi" gumam Ara keluar dari ruang dokter setelah mendapatkan hasil dari tes darah.
"ayo mbak, saya antar keruangan dr. Aldo" ucap perawat sopan
"ah, iya sus. ayo" ucap Ara tersenyum tipis
setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di depan ruangan dr. Aldo. suster tadi mengetuk pintu dan terdengar dari dalam suara seseorang menyuruh masuk.
"permisi dok, ini pasien yang tadi dirujuk oleh dr. Hendra" ucap suster
"silahkan duduk" ucap dr.Aldo tanpa melihat pasiennya
Ara duduk di kursi tepat di hadapan dr. Aldo dengan pandangan lurus. tak lama dr. Aldo mendongak dan seketika terkejut melihat seorang gadis yang selama ini sangat dirindukan nya
"Ara.!!" sapa dr.Aldo
"eh om Al"pekik Ara setelah mengetahui siapa dihadapan nya itu
"kamu apa kabar sayang.? kemana aja. kemarin om ke rumah kamu. katanya udah lama gak tinggal disana. kamu tinggal dimana" tanya dr. Aldo
"sejak ibu sama bapak wafat, Ara memilih tinggal di panti om. karna bingung juga mau kemana diusia 10 itu. trus ada sebuah keluarga yang mengadopsi Ara. akhirnya Ara tinggal sama mereka deh" jelas Ara kemudian berjalan mendekat ke Om nya dan memeluk seraya menangis
"kenapa menangis sayang" tanya dr. Aldo
"om jahat, kenapa gak pernah temuin Ara selama ini" ucap Ara sesugukan
"om aja baru tiga bulan pindah sini Ara. waktu ibumu wafat om lagi gak bisa pulang, di kampus om lagi ada masalah. maaf ya Ra." ucap dr. Aldo membalas pelukan Ara
"sekarang kamu ngapain di sini" tanya dr Aldo
setelah melepas pelukan, kemudian Ara menceritakan tentang kesehatan nya dan ternyata dokter yang di rujukkan oleh dokter Hendra adalah Om nya sendiri. adik dari Ibu kandung Ara yang selama ini berada di luar negeri.
"yaAllah, kamu yang sabar ya Ra. biar om yang rawat kamu. jangan lupa makan yang sehat dan jangan capek capek." ucap dr. Aldo langsung memeluk Ara
Ara hanya mengangguk dan menangis menumpahkan keluh kesah nya kepada Om nya itu.
di sebuah mansion saat ini seorang wanita paruh baya sedang sibuk memasak makanan kesukaan anak gadisnya yang sudah lama tidak pulang ke rumah mereka.
setelah mendengar sang anak akan datang dan menginap di mansion nya. bunda Ira langsung memasak makanan kesukaan Ara. dan dibantu oleh pelayan yang ada disana.
terlihat raut bahagia dari wanita itu, mengingat ini ada lah kali pertama anak nya yang sudah lama menghilang akan kembali kerumahnya.
"bunda sibuk bener, gak usah capek-capek bund"di ucap Ayah Bagas melihat sang istri sedang sibuk memasak
"gak ada capek untuk anak ayah" ucap bunda tersenyum
"jam berapa sih Ara ke sininya. ayah udah kangen sama anak gadis ayah"
"anak kita udah pada sukses ya bund. gak nyangka ayah. rasanya baru kemarin mereka pada berantem rebutan mainan" ucap ayah
"ayah jangan melow melow, nanti bunda nangis, nanti gak selesai ini masaknya" ucap bunda hampir menangis
"iya bunda, masak gih. gak usah sedih. tapi jangan capek-capek ya bund" ucap Ayah mengelus kepala yang berhijab itu
"ayah ke ruang kerja dulu" sambungnya lagi dan berlalu menuju ruang kerjanya
jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. sebentar lagi Ara akan segera sampai di mansion Bagaskara, saat ini dia sedang berada di toko buah yang tidak jauh dari kompleks perumahan mewah tersebut.
setelah membeli buah. kemudian Ara menjalankan mobilnya menuju mansion Bagaskara.
mobil memasuki halaman mansion mewah itu dan ternyata didepan pintu besar sudah berada Sepasang suami istri yang sedang menunggunya.
"ya Allah anak bunda" pekik bunda Ira setelah melihat sang anak keluar dari mobil dan menghampiri nya.
"Ara Kangen bunda" ucap Ara memeluk bunda Ira erat. entah mengapa melihat wajah wanita yang sudah dianggap ibu kandung nya ini Ara menjadi sedih dan terlihat lemah
"sama ayah gak kangen nak?" tanya ayah Bagas
melepas pelukan dari sang ibu, Ara beralih memeluk Ayah Bagas tak kalah erat dan menangis
"Ara juga kangen ayah.hisk hisk" ucap Ara sesugukan
"kenapa jadi nangis sih nak. baru aja Minggu lalu ketemu kan" tanya ayah setelah melepas pelukan mereka
"gak tau, pengen nangis aja" jawab Ara
"sini peluk bunda lagi. biar mbak nya bawa tas Ara ke kamar" ucap bunda langsung memeluk sang anak dan membawa Ara masuk dengan tangan masih mengandeng Ara
sesampai di ruang keluarga, mereka memilih untuk duduk di sofa dan mengobrol ringan diselingi canda tawa
"yaAllah, gimana ini.. rasanya berat banget buat pisah selamanya sama bunda dan ayah"
"udah cukup aku kehilangan ibu sama bapak, dan sekarang aku yang harus pergi. aku gak sanggup"
"mereka udah seperti orang tua kandung aku, aku harus gimana" ucap Ara dalam Hati menjerit*
"kenapa melamun sayang" tanya bunda Ira melihat sang anak melamun
"ah, nggak Bun, Ara cuman lagi capek aja ini, tadi di kampus banyak kerjaan" jawab Ara tersenyum manis
"ya udah, kamu istirahat dulu gih. nanti bunda bangunkan kalau mau makan ya nak" ucap bunda dan di angguki oleh Ara.
sesampai nya di kamar, Ara langsung berbaring di ranjang dan memejamkan mata nya yang lelah.