Arawinda Adinda

Arawinda Adinda
30



"yang, udah siap belum. cepetan sayang, udah telat ini" ucap Ray yang berada diruang tamu mansion Bagaskara


"iya ini udah kak. Ayo lah" ucap Ara mendahului Ray yang melongo melihat Ara mendahului nya yang dari tadi sudah menunggu nya lama


"kamu kenapa Ray, ayo katanya udah telat" teriak Ara dari luar


seketika Ray tersadar kaget mendengar teriakan Ara dan dengan cepat menyusul Ara kedekat mobil dan membukakan pintu mobil untuk Ara. kemudian memutari dan mengikuti masuk untuk menyetir mobil menuju mansion milik keluarga William.


setelah mobil melaju dijalan raya dengan kecepatan sedang. sebelum sampai di mansion William, mereka menyempatkan singgah di toko kue untuk mama, papa dan Amel adiknya Rayyan.


sekitar 30 menit mereka akhirnya sampai disebuah mansion yang hampir sama besarnya dengan mansion Bagaskara itu


"udah sampai, yuk keluar" ucap Rayyan setelah mencium punggung tangan Ara lembut


"ayo," ucap A tersenyum manis


saat ini mereka sudah berada di depan pintu besar itu dan tak lama seorang pelayan membuka pintu dan menyuruh mereka masuk. biarpun Ray tuan muda dirumah itu, tapi dia masih cukup sopan sehingga masih menyempatkan untuk mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah nya.


"assalamualaikum, mama mana bi" tanya Ray setelah masuk kedalam mansion nya


"ada didalam mas, di ruang keluarga." ucap pelayanan itu


"ayo sayang, kita ke tempat mama" ucap Ray menggenggam tangan Ara dan menariknya pelan ke arah ruang keluarga. Ara hanya mengangguk dan tersenyum


"assalamualaikum mama, ada kejutan ini" ucap Rayyan


"waalaikumsalam, Ray kejut..."


"aghkkk Anak mama Araaaaa" pekik mama Dina setelah tadi tidak menyelesaikan omongan nya dan memekik melihat seorang gadis yang dianggapnya anak itu.


"assalamualaikum mama, apa kabar" ucap Ara seraya memeluk mama Dina itu


"mama baik sayang. kau apa kabar. kemari pas Ray bilang kamu masih hidup mama seneng banget, bahagia banget akhirnya calon mantu mama kembali" ucap mama Dian setelah melepas pelukan nya


"ck, mentang-mentang calon mantu datang, yang anak kandung dilupakan" ucap Ray manyun


"gak cocok kamu manyun gitu Ray. jelek tambah jelek" ejek mama Dina terkikik


"ih orang ganteng ini kok dibilang jelek. mama Udah rabun atau gimana sih" tanya Ray juga ikut meledek mamanya


"udah sih kak Ray, gak boleh ngomong gitu sama mama" ucap Ara menengahi


"ini ma, ada kue" ucap Ara lagi seraya menyerahkan bingkisan kepada mama Dina


"kenapa repot sih Ra, padahal gak usah bawa apa apa juga mama udah seneng banget. tapi makasih ya nak" ucap mama Dina tersenyum


"adek kemana ma, kok sepi" tanya Ray mendudukkan dirinya disofa


"sini sayang duduk" lanjutnya lagi menyuruh Ara duduk disampingnya


"eh iya nak, silahkan duduk dulu. mama mau pindahin kue ke piring dulu" ucap mama Dina dan melangkah menuju meja makan


Ara mendudukkan dirinya disofa tak jauh dari Ray. tak lama setelah itu terdengar teriakan seorang gadis dari luar.


"Hallo everyone. i'm coming home yuhuuuuu" teriak Amelia dari ruang tamu


setelah berada diruang keluarga Amel berhenti dan terkejut melihat seseorang yang dikenalnya.


"Miss Dinda" ucapnya pelan tapi masih bisa didengar oleh Ray dan Ara


"wait wait. Miss Dinda? siapa Miss Dinda" tanya Ray heran


"ini, gadis cantik disebelah kakak" ucap Amel masih memperhatikan Ara yang tersenyum kepadanya


"namanya bukan Dinda mel" ucap Ray masih bingung


"eh ini tuh dosen Amel kak, dosen hukum ekonomi di fakultas Amel dan juga kemarin yang jadi panitia inti dalam acara reunian Akbar itu" jelas Amel panjang lebar


"bener sayang" tanya Ray memastikan


"kenapa kakak panggil Miss Dinda sayang, kakak udah move on dari kak Ara" tanya Amel sinis


"eh, ya enggak lah, Ara masih selalu dan selamanya menetap di hati kakak" ucap Ray lantang


"ini trus kenapa panggil Miss Dinda sayang?.. kak, meskipun kak Ara udah meninggal. Amel tetap masih belum bisa ikhlas kalau kakak cari pengganti kak Ara secepat ini" ucap Amel berkaca-kaca


"loh, Amel kenapa mukanya sedih gitu" ucap mama Dina yang dari dapur


"ini kak Ray, udah move on dari kak Ara"


"loh kenapa harus move on, ini Ara nya udah didepan kamu" jawab mama Dina heran


"hah" Amel hanya melongo dengan mata berkedip


"ini tuh Miss Dinda, dosen Amel ma"


"Arawinda Adinda, nama kakak Dek, cuman kalau jadi dosen dipanggil Miss Dinda." ucap Ara tersenyum


"tapikan kak Ara kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu" ucap Amel berkaca-kaca


"hei, kamu lupa wajah kakak dek,? wajar sih kamu dulu masih kecil, dan kita juga jarang ketemu jadi kamu mungkin gak terlalu mengingat wajah kakak" jelas Ara seraya mendekat ke Amel


"jadi bener kak Ara" tanya Amel dengan suara bergetar


Ara hanya mengangguk dan sedetik kemudian Amel memeluk nya erat sambil menangis


"kenapa menangis mel" tanya Ara mengusap rambut gadis imut itu


"Amel kangen kak Ara, Amel kehilangan kakak perempuan Amel ketika tau kabar kak Ara meninggal dunia hisk hisk" ucap Amel sesegukan


"udah dong nangisnya, kan sekarang kak Ara masih hidup dan masih sehat" bujuk Ara dan melepas pelukan nya mengusap air mata dipipi Amel


"Amel sayang kakak" ucap Amel tersenyum dan bergelayut di lengan Ara.


"hey, kak Ara itu milik kakak ya Mel" sanggah Ray


"enak aja, milik Amel ya kak Ray. sana sana hus hus" ucap Amel dan mengusir Ray yang akan mendekat


mama Dina hanya tersenyum melihat adegan itu, dan selanjutnya mereka mengobrol ringan dengan cemilan kue dari Ara dan jus jeruk yang baru disajikan oleh pelayan


"assalamualaikum" ucap seorang laki-laki paruh baya yang baru masuk kedalam rumah


"waalaikumsalam pa, sini sini, ada calon mantu kita" ucap mama Dina girang


"siapa sih" tanya papa Riko William


"assalamualaikum pa" ucap Ara seraya mencium punggung tangan Riko


"A..a..Ra, bener Ara" ucap papa Riko terkejut


"iya pa, ini Ara" ucap Ara tersenyum


"yaAllah kamu masih hidup sayang." tanya papa Riko kemudian memeluk Ara


"ck, papa gak usah lama peluk nya.." ucap Ray kesal


"kenapa sih Ray, peluk anak papa juga kok" tanya papa heran


"Ara itu milik Ray ya pa. papa peluk mama aja" ucap Ray langsung meraih pinggang Ara memeluknya posesif


"kamu itu ya, posesif banget sih" ucap papa melangkah menuju sofa dan duduk


"kayak papa gak gitu aja" kata mama Dina dan dibalas tawa oleh anak anak mereka


"ya udah yuk makan malam, papa mandi gih, kita tunggu dimeja makan" ucap mama Dina dan diangguki oleh papa Riko yang berjalan menuju kamar mereka.