Arawinda Adinda

Arawinda Adinda
17



Derap langkah kaki terdengar disepanjang lorong kampus xx, banyak pasang mata yang memperhatikan seorang gadis cantik dengan setelan baju semi formal sedang mengarah pada ruangan yang bertuliskan nama prof. Nina.



Arawinda Adinda, ya gadis itu kini sudah berada di depan pintu ruangan tersebut, ruangan yang dulu sering dia datangi hanya sekedar untuk konsultasi tentang tugas kuliahnya atau hanya memenuhi panggilan dari si pemilik ruangan itu.


Ara dengan wajah tenang nya kemudian mengetuk pintu dan mengucap kan salam dengan sopan


tok


tok


tok


"assalamualaikum"


terdengar suara dari dalam dan segera Ara masuk setelah dipersilahkan


"assalamualaikum prof Nina ku yang masih cantik" ucap Ara lagi dengan nada menggoda


"waalaikumsalam, terima kasih Miss Ara, anda juga tambah cantik dan waw sudah menjadi dosen ya sekarang" ucap prof Nina dengan terkekeh membalas godaan Ara dan kemudian memeluk Ara sebentar


ya, memang mereka sudah sangat akrab semenjak Ara mengikuti usul nya untuk mengikuti program beasiswa tersebut.


setiap beberapa bulan sekali mereka selalu bertemu dan menghabiskan . ya karna prof Nina memang tidak memiliki anak maka dari itu Ara sudah di anggap nya sebagai anaknya sendiri.


"apa kabar sayang" tanya prof setelah melepas pelukan nya


"kabar baik ibu, ibu apa kabar dan bagai mana kabar pak Adnan suami tersayang ibu" ucap Ara dengan senyuman manis


"kenapa menanyakan ayah?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang baru saja masuk


sontak membuat mereka mengalihkan perhatian pada orang yang mengagetkan mereka.


"bagaimana kabar mu Ara" tanya pak Adnan


"Ara baik ayah, dan terimakasih atas bantuannya selama ini" ucap Ara kemudian memeluk pak Adnan sekilas


"kenapa berterima kasih sayang. itu semua telah menjadi rezeki mu dan kamu berhak mendapatkan nya karna memang prestasi mu tidak diragukan" ucap ibu Nina


"dan ya, sekarang kamu adalah dosen tetap di kampus ini Ara, jadi manfaat kan ilmu pengetahuan yang sudah kamu dapatkan selama ini" ucap pak Adnan


"iya ayah, InsyaAllah Ara akan menjalan kan amanah ini" ucap Ara seraya tersenyum


"bagaimana dengan keluarga mu Ara, sudah kamu temui mereka?" tanya ibu Nina


"rencana nanti siang ibu, Ara hanya akan bertemu dengan bunda dan ayah Bagas saja. dan nanti saat reuni Ara akan memberikan kejutan untuk teman teman. tapi kemarin bang Kevin sudah tahu tentang Ara yang masih hidup." ucap Ara tenang


"bagus lah kalau begitu, kasihan mereka. dari dulu ibu selalu ingin memberi tahukan keberadaan mu pada mereka, tapi selalu kamu larang" kata ibu Nina


" biar mereka bisa merasakan bagaimana pentingnya sebuah kepercayaan ibu, lagian masalah itu memang udah selesai tapi Ara masih gak bisa lupa, mereka seakan gak percaya sama Ara. jadi Ara lebih baik menjauh sementara, supaya mereka bisa merasakan arti kehadiran Ara diantara mereka, dan Ara udah nulis pada surat yang Ara kirim buat bang Kevin, bunda sama Ray, bahwa mereka harus sukses agar bisa ketemu Ara. dan terbukti mereka semua sekarang sukses kan ibu" ucap Ara sambil terkikik geli


"kamu tidak sadar Ara telah membodohi dan membohongi mereka dengan sangat kejam dengan kabar kematian itu" ucap pal Adnan


"iya ayah, tapi ini untuk kebaikan semua nya.. yang tentang kabar kematian itu sama sekali diluar rencana Ara sama ibu, kan Bu?. Ara cuma pernah bilang mau lanjut S2 di Kalimantan sama ayah sama bunda, eh gak taunya Ara plin-plan banget, pas ibu nyaranin buat ke Malaysia aja, jadi Ara setuju tanpa ngabarin ayah dan bunda" ucap Ara sambil menatap ibu Nina


flash back


sebelum kejadian Rayyan dijebak dengan foto nya yang tidur bersama Gisel. sesuatu terjadi pada Ara. sesuatu yang menjatuhkan kepercayaan teman teman nya kepada Ara hanya karna sebuah hasutan dari Gisel dkk.


saat itu Ara sedang berada di sebuah pusat belanja yang tidak jauh dari rumahnya.


saat Ara sedang asyik memilih beberapa barang yang akan di beli, seseorang datang menepuk bahunya


"Arawinda Adinda" ucap seorang pemuda


sontak Ara berbalik dan mendapati seorang yang sangat dia kenal dan di rindukannya


"vino, YaAllah sepupu gue yang paling lucknut" ucap Ara kemudian memeluk laki laki yang bernama vino itu


vino merupakan saudara jauh dari Ara, anak dari sepupu ayah kandung Ara dari malang. ya memang semenjak kematian orang tuanya Ara lebih memilih untuk tinggal di panti asuhan sebelum diadopsi oleh keluarga Bagaskara dulu meski pun masih ada Tante kerabat jauh yang lumayan akrab dengan Ara.


"kamu kenapa gak pernah ke rumah Ara, oh ya ibu sama bapak ada di kota ini Ara, Lo gak mau ketemu" kata Vino


"oh ya, dimana paman dan bibi, dan kenapa kalian berada di kota ini" tanya Ara


" mereka ada di hotel sekarang, karna bapak ada pekerjaan di sini Ara, tapi mereka besok sudah akan pulang" jawab vino


"lalu Lo kapan balik" tanya Ara lagi


"gue mungkin Minggu depan baru pulang Ra, gue ada kerjaan juga di sini, biasa buat penelitian skripsi gue" ucap vino


"waw bagus kalau gitu, ayo sekarang kita ketemu bibi dan paman" ajak Ara semangat


"eh, Lo gak jadi belanja" tanya vino


"gak, gue mau ketemu paman sama bibi aja" jawab Ara dan segera berlalu keluar dari pusat perbelanjaan itu




kini mereka telah sampai di sebuah hotel mewah tempat menginap by paman, bibi sama sepupu nya itu.



mereka berdua berjalan berdampingan dengan sengaja vino yang jahil sesekali mengandeng Ara sedikit mesra dan kemudian mengecup puncak kepala Ara. dan tentu itu adalah kebiasaan mereka sejak kecil.



Ara bahkan tidak risih sedikit pun tapi sesekali Ara membalas kejahilan vino dengan menggelitik hidung mancung vino yang membuat pria itu bersin bersin.



perlakuan mereka dilihat oleh orang yang berada disana. ada yang memuji dan ada juga yang nampak tidak suka. tanpa di sadari Ara, ada seorang tengah menyeringai jahat dan setelah melihat itu.



"pertunjukan akan dimulai Ara" gumamnya sambil tersenyum dan melangkah menuju mobil BMW nya.