
Seorang pemuda tengah serius memandangi Tab nya. mebaca berbagai laporan dari email yang di kirim oleh sekertaris yang berada di kantor cabang nya di Amerika.
tumpukan berkas dan beberapa dokumen penting berjajar rapi di meja kerjanya. pemuda yang tiga tahun ini selalu menghabiskan waktu nya di kantor dan bertekad untuk memajukan dua perusahaan yaitu perusahan RE Grup dan perusahaan ayah nya yang juga kini dikelola oleh nya, Williams company.
Rayyan Evanza William. pemuda yang selalu menampilkan wajah dingin dan datar nya selama tiga tahun belakangan sejak kepergian sang kekasih, sikapnya berubah drastis, dari yang dingin semakin dingin. tapi akan hangat dan menyebalkan jika berkumpul bersama keluarga atau para sahabatnya.
perusahaan yang dikelola nya juga kini sudah sangat maju, dan termasuk perusahaan yang besar dengan kerja kerasnya dan tekadnya.
suara ketukan pintu sekilas menggangu atensinya.
"masuk" ucap nya
"woooo assalamualaikum bro" ucap Dion
"tumben pakai ketuk pintu segala, biasa juga kayak orang mau demo" tanya Ray tanpa melihat para sahabatnya
"ngapain?" tanya nya lagi
"eh Lo mah gak ada sopan nya sama tamu, di kasih minum kek, memang keterlaluan" ucap Andrea mendramatisir
"Lo yang gak sopan jadi tamu" ujar Sam
dan Andrea hanya menampilkan cengiran khas nya.
"Ray, Lo Dateng gak acaranya Kevin tar malam" tanya sam
"InsyaAllah datang, mungkin agak telat" jawab Ray singkat dan masih membaca emailnya
"oo ya, reunian katanya gak dibatasi, kemarin kan 500 peserta, tapi ini udah dibebaskan, katanya sih ini saran dari dosen muda baru disana.. dan itu juga disetujui oleh pemilik kampus yang punya resort, " kata dion
"iya bagus dong, yang namanya reuni Akbar seharusnya memang gak ada batas" jawab Sam seraya meminum kopi yang disuguhkan oleh sekertaris Rayyan
"itu kemarin yang punya ide panitia pelaksana yang masih mahasiswa Sam, kemarin kita daftar juga bocil bocil yang terima" ucap Dion
"tapi cantik cantik woy, yakan Yon. nanti kita gebet satu satu" sambung Andrea
"oke, remakan sudah selesai" ucap Ray seraya tersenyum miring
"maksudnya rekaman apa Ray" tanya Sam
"rekaman buat di kirim ke Lala" ucap Ray dan langsung membuat Andrea tersedak
khuk khuk
"maksud Lo rekaman yang mana" tanya randrea waswas
"rekaman yang Lo lagi ngomong buat ngebet mahasiswi cantik" jawab Sam memanasi
"wah kamp**t Lo bedua ah" ucap Andrea seraya mengusap wajahnya kasar
"jangan dong, bisa perang dunia ituh ah, Ray hapus tuh" pinta nya
"sorry bro, tapi udah terlanjur" ucap Ray dengan wajah serius
dan Andrea hanya menampilkan wajah suram nya kemudian mengambil ponsel yang ada di sakunya
mengetik beberapa angka kemudian langsung menelpon sang kekasih
"*hallo kak" ucap Lala di seberang
"yang, kakak bisa jelasin masalah rekaman yang Ray kirim" ucap Andrea tanpa basa-basi dan dia juga tidak melihat wajah Ray dan Sam yang sedang menahan tawanya
"hah, maksudnya rekaman apa" tanya Lala bingung. pasalnya dia tidak menerima pesan atau rekaman apapun di ponselnya
"itu rekaman yang aku lagi bilang kalau mahasiswi kemarin pas kita lagi daftar buat reunian cantik cantik itu Lo" tanya Andrea tanpa sadar
"hah*, oh jadi gitu ya dibelakang aku. oke gak usah lagi ketemu" pekik Lala
*setelah mendengar pekikan sang kekasih, Andrea baru sadar bahwa dia sedang dikerjai oleh sahabat nya dan dipandanginya wajah yang ketawa tanpa dosa di hadapan nya.
"sayang, bukan gitu maksudnya, aku bisa jelasin" ucap Andrea dan langsung di putuskan sepihak panggilan oleh Lala. dan itu semakin membuat para sahabatnya terbahak*.
"jahat Lo pada" ucapnya
"sore Dre, canda doang" ucap Ray tanpa dosa
"gimana dong ini" ucap Andrea frustasi
"nanti kita jelasin ke Lala" sambung Sam menenangkan
"ya udah deh, gue mau pulang, sampai ketemu nanti malam" ucap Andrea seraya bangkit dari duduknya dan menuju pintu
"ya udah, kita juga. sampai ketemu Ray, assalamualaikum" ucap Dion dan Sam hanya mengangguk
"oke, waalaikumsalam" jawab Ray
malam tiba, disebuah ballroom hotel milik keluarga Anderson sudah di rias dengan indah untuk acara pertunangan dari anak pemilik hotel.
para tamu sudah memenuhi ruangan, berbagai hidangan tersaji, acara dihadiri oleh para kolega dari kedua keluarga Anderson dan Bagaskara.
sepasang kekasih yang baru saja bertukar cincin kini sedang bercengkrama dengan para sahabatnya di sebuah meja yang memang disiapkan untuk para tamu.
"Ray kemana sih" tanya Kevin
"gak tahu, katanya.." belum sempat Dion melanjutkan omongannya sebuah suara menghentikan
"makasih Ray" ucap Tania
kemudian mereka melanjutkan pembicaraan ringan dan Ray serta Sam menjelaskan kejadian tadi siang kepada Lala dan itu membuat para sahabatnya tertawa terbahak-bahak.
"permisi mbak Tania, ini ada titipan" kata seorang pelayan
"oh, makasih ya kak" ucap Tania
"dari siapa yang" tanya Kevin
"gak tau, coba kita buka ya" kata Tania
sebuah jam tangan couple bermerk terpampang dan ada sepucuk surat. Tania dan Kevin saling menatap dan kemudian membac surat tersebut
\- \*\*\*untuk bang Kevin dan kak Nia-
selamat atas pertunangan kalian, semoga lancar sampai hari H nya ya, maaf gue gak bisa hadir dan jam ini sebagai pengganti kehadiran gue. semoga suka ya.
\-salam rindu AA\*\*\*-
setelah membaca suarat itu, Kevin dan Tania langsung tersenyum dan itu membuat sahabatnya penasaran
"dari siapa Nia" tanya Sam..
"dari keluarga nya Kevin" jawab Tania seraya tersenyum
"oh gitu" ucap Vera
kemudian acara berlanjut, mereka saling menggoda dan bercanda hingga bunda datang dengan ponsel di tangannya.
"Vin, ini ada yang mau ngomong" ucap bunda
"oh, iya bund, sebentar ya " ucap Kevin setelah meraih ponsel dan mengucapkan permisi ke sahabatnya
"eh bunda, cantik banget" ucap Ray
"bisa aja kamu Ray, ini yang di bilang CEO super dingin itu. kok di depan bunda dan lainnya gak ada dingin dingin nya" tanya bunda Ira
"bunglon dia bund" ucap Andrea asal
"eh sarap" kata Ray menoyor kepala Andrea
dan semua tertawa. begitu lah mereka jika sudah berkumpul. melupakan citra yang mereka buat dilingkungan kantor
"kamu gak cari jodoh Ray, teman teman mu semua udah ada pasangan" tanya bunda
"gak deh bund, enak juga sendiri" jawab Ray tersenyum
"yakin enak sendiri, cari lah Ray. usia kamu juga udah cukup. mamah kamu juga pengen punya mantu katanya" sambung bunda Ira
"nanti deh kalau ada reinkarnasi Ara" ucap Ray asal
dan hanya mendapat gelengan kepala oleh bunda dan para sahabatnya.