100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 8: Pertunjukan



Tragedi penyerangan monster di SMP Gampat menjadi berita sorotan di Kota Machina, tapi beruntungnya tidak ada korban jiwa yang timbul akibat kejadian tersebut.


Meski begitu, pihak sekolah terpaksa harus menunda kegiatan belajar selama satu hari untuk dilakukannya investigasi oleh pihak kepolisian, hal itu juga berlaku di pusat kota beberapa hari yang lalu.


Setelah satu hari berlalu, kegiatan pelajaran pun kembali dilaksanakan. Terlihat Yoz sudah mempersiapkan dirinya dan segera pergi ke sekolah lebih awal dibandingkan hari-hari sebelumnya, tentu saja berangkat menuju ke sekolah dengan berjalan kaki yang memakan waktu kisaran 20 menit.


Setibanya di sekolah, terlihat ada beberapa pekerja yang melakukan perbaikan terhadap lapangan yang rusak, sehingga untuk sementara lapangan tidak bisa dipakai untuk aktivitas sekolah hingga perbaikan selesai.


Beberapa siswa yang seharusnya memiliki jadwal mata pelajaran olahraga terlihat lesu, bahkan ada yang kesal dan mengutuk pelaku yang telah merusak lapangan. Tidak hanya itu, bahkan di sekitar lingkungan sekolah terlihat beberapa polisi yang sedang berjaga guna menghadapi kemungkinan kemunculan monster yang secara tiba-tiba.


Namun Yoz nampak seolah tak peduli dengan hal itu padahal bisa dikatakan bahwa dia juga salah satu penyebab rusaknya lapangan.


Sebagai informasi tambahan, tidak ada satu pun murid atau guru yang tahu kalau Yoz terlibat dalam kejadian itu, yang mereka ketahui adalah bahwa Arda lah yang menghabisi monster yang muncul.


Hal itu bisa dilihat dari beberapa siswa dan guru yang membicarakan Arda serta membangga-banggakan pahlawan. Suryadi sendiri dipaksa untuk menutup mulut tentang hal yang sebenarnya atau dia akan menerima bogeman dari Yoz.


Si pemuda berjaket merah pun buru-buru masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya. Satu per satu murid berdatangan, mengisi kelas yang awalnya kosong dan sepi menjadi kelas yang cukup ramai.


Namun anehnya, Suryadi masih belum menunjukkan batang hidungnya, padahal biasanya orang itu sudah datang ke sekolah sekitar pukul 6.30 sampai 6.50 atau bahkan bisa lebih awal.


Tidak hanya Suryadi saja, Arda bahkan beberapa siswa lainnya juga terlihat belum menampakkan diri masing-masing.


Ketika Yoz berjalan ke meja guru untuk memeriksa surat-surat yang bertebaran, dia menemukan salah satu surat yang bertuliskan nama Suryadi. Pemuda itu pun hanya bisa menerka-nerka alasan temannya dan yang lain tidak turun ke sekolah karena tidak berani mengambil resiko untuk membuka surat yang tersegel rapat itu.


Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjadi alasan oleh murid yang tidak datang ke sekolah. Mungkin seperti jatuh sakit, trauma akibat kejadian dua hari yang lalu, atau bahkan ada yang hanya sekedar bolos sekolah.


Hal itu membuat Yoz nampak kebingungan harus melakukan apa tanpa ada Suryadi yang biasanya menjadi teman bicaranya.


Pasalnya, Suryadi yang banyak bicara akan memulai percakapan dengan Yoz yang terkesan tidak banyak bicara, kedua sifat yang kontras itu menjadikan mereka berdua cukup akrab.


Bahkan Yoz pernah mendengar desas-desus dari guru yang mengatakan bahwa dirinya dan Suryadi sudah seperti dua sejoli yang tidak akan bisa dilepaskan.


Dengan kondisinya yang kebingungan tak tahu harus berbuat apa, dia dengan malas kembali ke bangkunya dan melakukan rutinitasnya setiap pagi, yaitu mematung berdiam diri di bangkunya.


Di saat dia melakukan rutinitasnya yang membosankan itu, lagi-lagi seperti ada kekuatan mistis yang memberinya jawaban atas kebosanan dan kebingungannya.


Dengan panduan dari kekuatan mistis yang entah berasal dari mana, dia tanpa sadar menoleh ke arah ketiga siswa pindahan yang ada di belakangnya.


Penasaran karena terus-menerus mengalami hal itu, dia pada akhirnya mencoba berjalan mendatangi Pami, Nia, dan Shela.


Mereka bertiga terlihat sedang mengerjakan PR yang diberikan oleh guru seminggu yang lalu dan seperti kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas itu.


Ketika salah satu dari mereka yaitu Nia melihat Yoz, seketika wajahnya terlihat bahagia seperti mendapatkan sebuah harapan, seakan-akan di depannya sudah ada penolong yang datang di saat yang tepat.


Jika bertanya alasannya mengapa, hal itu wajar karena Yoz merupakan salah satu anak yang cukup jenius dalam beberapa pelajaran di kelasnya, kecuali pelajaran angka dan bahasa asing. Jangankan Nia, seluruh siswa pun akan melakukan hal yang serupa jika kesulitan dalam mengerjakan PR.


Awalnya, Nia sedikit ragu untuk meminta tolong, namun dengan membulatkan tekadnya akhirnya dia meminta tolong sambil memberikan ekspresi memohon dan memainkan jari-jarinya malu.


Yoz terlihat tidak tega untuk menolak permintaan itu, terutama setelah melihat ekspresi memohon Nia yang sulit untuk ditolak.


Akhirnya dia menerima permintaan tersebut dengan menganggukkan kepala. Meskipun sebenarnya dia merasa aneh karena sudah melawan moto hidupnya yakni bersikap tidak peduli terhadap sekitar.


Ekspresi yang dikeluarkan oleh Nia dan Shela terlihat senang, bahkan mereka berdua saling mengadukan kepalan tangan. Namun tidak dengan Pami, sedari tadi pria berbadan besar itu terus menatap Yoz dengan serius seperti melihat musuh.


Merasa tidak nyaman ditatap seperti itu membuat Yoz mulai berbicara, “Ada apa dengan robot ini?”


Tiba-tiba saja Pami berdiri dan melancarkan sebuah pukulan yang cukup keras di bagian perut Yoz. Membuat korbannya terjatuh cukup keras ke lantai, bahkan menarik perhatian orang-orang yang di dalam kelas.


Yoz pun memegangi perutnya, merasa mungkin ada luka memar di sana. Tapi bukannya marah atau membalas, dia justru tertawa senang.


Hal itu bukan berarti dia seorang masokis. Melainkan karena Pami ada orang kedua yang berani memukul Yoz setelah Suryadi yang memukul punggungnya menggunakan tongkat pramuka.


Karena semua orang selalu bersikap baik kepada Yoz, tapi di balik sikap baik itu ada tujuan yang terselubung dan hal itu membuat Yoz sangat muak. Oleh sebab itu dia bersikap dingin terhadap semua orang dan memilih untuk menyendiri.


Dia berteman dengan Suryadi dan Knighto karena hanya mereka berdua yang bisa menerima Yoz apa adanya tanpa ada maksud terselubung (meskipun sebenarnya Suryadi juga sering menyontek tugasnya).


Sedangkan di sisi Pami, alasannya hampir sama seperti yang Yoz alami, di mana orang-orang hanya datang kepadanya hanya karena ada maunya lalu pergi begitu saja ketika sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.


Ditambah lagi dia sudah begitu jengkel dengan julukan ‘Robot’ yang orang-orang berikan kepadanya, membuat pemuda berbadan besar itu seperti bom berjalan yang akan meledak kapan saja dan sialnya justru Yoz yang menerima ledakan itu.


Awalnya mereka bertiga melihat keheranan karena Yoz justru tertawa setelah menerima pukulan di perutnya, sampai pada akhirnya Nia dan Shela ikutan tertawa untuk meredakan ketegangan yang sedang terjadi.


Sedangkan Pami hanya terdiam setelah melihat korban yang dia pukul tertawa, tidak ada yang tahu apa isi dari kepalanya tapi nampaknya dia merasa sedikit bersalah atas perbuatannya barusan.


Tanpa mempermasalahkan hal tadi, Yoz pun tetap membantu mereka bertiga dalam mengerjakan tugas-tugas itu.


Kemudian secara tak terduga, seorang siswa dari kelas lain masuk ke dalam kelas dan membawa secarik kertas berisikan daftar kehadiran siswa, menandakan kemungkinan tidak akan ada satu guru pun yang memasuki kelas untuk mengajar.


Mungkin disebabkan oleh pembelajaran yang sudah mendekati akhir semester membuat semua guru terlihat sibuk dan mengadakan rapat.


Seluruh siswa yang mengetahui hal itu mendadak memiliki satu pikiran yang sama, yakni mengabaikan semua tugas dan menikmati jam kosong, tak terkecuali dengan keempat siswa yang ada di pojok kelas itu.


Yoz pun memutuskan untuk bergabung dengan Nia, Pami, dan Shela daripada tidak melakukan apa pun, bahkan dirinya tanpa sadar ternyata telah menghabiskan waktu sehariannya bersama mereka bertiga.


Semenjak kejadian itu, hubungan Yoz dengan ketiga murid pindahan mulai terbentuk. Apakah kekuatan mistis itu memang mengarahkan Yoz untuk hal ini?


Setelah beberapa jam berlalu, bel terakhir sekolah berbunyi menandakan pembelajaran pada hari ini telah selesai. Semua siswa buru-buru keluar dari kelas dan pulang ke rumah masing-masing, tak terkecuali dengan Yoz.


Sambil menyelempangkan tas ke bahu dan memasukkan tangan kiri ke kantong celana, dia berjalan santai keluar dari sekolah dan pulang sama seperti hari-hari biasanya.


Namun, selama di tengah perjalanan, dia mulai merasakan ada seseorang yang terus mengikutinya sejak keluar dari sekolah.


Seperti sudah bisa menduga siapa yang mengikutinya berkat informasi dari pamannya, Yoz pun menoleh ke arah mobil hijau yang ada di belakangnya.


“Tunjukkan dirimu, Arda!”


Segera setelah itu, dari balik mobil hijau yang terparkir di pinggir jalan keluar seseorang dari persembunyiannya dan berjalan ke arah Yoz.


Pelaku yang tidak lain dan tidak bukan adalah Arda tersenyum kagum sambil bertepuk tangan.


“Jadi kau sudah tahu, ya?” balas Arda kagum.


Tanpa menjawab pertanyaan Arda, Yoz langsung bertanya hal lain. “Kenapa kau tidak turun sekolah hari ini? Lalu kenapa kau terus mengikutiku secara diam-diam?”


“Hal itu sama sekali tidak penting untuk kita bahas. Ada sesuatu yang lebih penting ingin kukatakan padamu....”


“Nnn?” guman Yoz kebingungan.


“Aku sudah melihat rekaman CCTV yang terpasang di pusat kota dan sekolah tadi pagi. Tepatnya rekaman saat terjadinya penyerangan monster di kedua lokasi tersebut—”


“Tunggu dulu… jangan-jangan…” Yoz memotong.


“Ya, sesuai dengan dugaanmu. Tapi tenang saja, aku sudah mengambil semua rekaman itu sebelum petugas melihatnya. Aku paham dengan alasanmu membuat laporan palsu pada saat itu dan juga memintaku untuk membuat berita palsu dua hari yang lalu. Kau tidak perlu khawatir, rekaman itu aman bersamaku.”


‘Justru itu yang aku khawatirkan, kau bisa saja membeberkan rekaman itu kapan pun kau mau,’ pikir Yoz.


Arda pun melanjutkan kalimatnya, “Melalui rekaman itu, ternyata memang benar kalau yang membunuh monster di pusat kota itu pada saat itu adalah kau, apalagi setelah melihat secara langsung caramu menghabisi monster yang muncul di sekolah pada saat itu.


“Sangat disayangkan, karena kemampuan kamera tidak bisa menangkap pergerakan seranganmu yang cepat, aku jadi tidak bisa melihat lebih detail caramu melakukannya.


“Tapi, jika aku boleh berspekulasi, seranganmu yang bernama ‘One Hundred Impact’ itu adalah sebuah pukulan beruntun yang kau luncurkan sebanyak seratus kali dalam jangka waktu yang sangat singkat, bukan?” tutup Arda.


“Tcih! Jadi itu alasan mengapa kau tidak turun sekolah hari ini?” ucapnya.


Arda pun membalas dengan tersenyum membenarkan pernyataan Yoz. Setelah itu wajahnya kembali serius dan lanjut berkata, “Kemampuan yang hebat seperti itu sangat dibutuhkan, oleh sebab itu aku ingin mengajakmu untuk bergabung ke dalam HSO.”


“HSO?” balas Yoz yang merasa asing dengan nama itu.


“HSO adalah singkatan dari Heroes Squad Organization. HSO merupakan sebuah organisasi resmi yang menaungi para pahlawan dalam menangani serangan para monster maupun tindakan kriminal yang tak bisa diatasi oleh kepolisian.”


Yoz terdiam sejenak untuk berpikir, setelah itu dia menghela napas dan berkata, “Aku hargai semua usaha yang sudah kau lakukan. Tapi maaf, aku tidak tertarik untuk bergabung.”


“Mengapa?” tanya Arda penuh kekecewaan mendengar tolakan itu.


“Tidak ada alasan bagiku untuk bergabung dengan kalian.”


‘Lagipula, tidak ada seseorang yang harus kulindungin di kota ini,’ Yoz meneruskan dalam hati lalu berbalik meninggalkan Arya. Berusaha menghindari lebih banyak pertanyaan yang dilontarkan kepadanya setelah menolak tawaran tersebut, karena merasa kemungkinan akan ada paksaan dari Arda untuk bergabung jika terus meladeninnya.


Arda secara naluri mulai mencurigai Yoz yang menolak tawarannya tanpa alasan yang jelas. Segera dia berbicara selagi Yoz belum pergi terlalu jauh darinya.


“Apa karena ini ada kaitannya dengan Freed Clowen?”


Mendengar hal itu, seketika Yoz berhenti berjalan dan teringat kembali alasan dia pergi ke sekolah lebih awal.


Menghabiskan waktunya bersama ketiga murid pindahan itu benar-benar membuat dia lupa akan tujuannya. Dengan bermodalkan informasi dari pamannya, Yoz pun berbalik dengan harapan Arda mengetahui sesuatu dengan yang akan dia tanyakan.


“Ah, iya! Arda, apakah kau mengenal orang yang bernama Turpin X?”


Arda menaikkan sebelah alisnya mengindikasikan dia tak mengetahui maupun mengenali nama itu.


“Turpin X? Siapa dia?” ucapnya.


“Jadi kau tidak tahu ya…. Lupakan saja dengan apa yang aku katakan barusan…” ucap Yoz lalu kembali berbalik meninggalkan Arda.


Baru saja Yoz hendak melangkah, suara di belakangnya lagi-lagi berusaha menahannya.


“Tunggu! Kumohon bergabunglah dengan kami!”


Yoz lagi-lagi berhenti lalu menolehkan kepalanya kepada Arda sambil berkata dengan wajah serius. “Jangan terus-terusan bergantung terhadap orang lain dalam segala hal. Akan ada saat di mana kau sendirian dan hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, kali ini Yoz benar-benar pergi meninggalkan Arda yang bingung tentang tentang apa yang dikatakan oleh pemuda itu kepadanya.


*— —!*


Tiba-tiba di saat si pahlawan sedang berpikir, suara seperti nada dering ponsel berbunyi di sakunya. Arda yang kembali tersadar segera mengambil alat itu dari sakunya, kemudian menatap alat yang mirip seperti radar itu dengan seksama.


Rupanya alat itu merupakan sebuah alat pendeteksi yang berhasil melacak seseorang di suatu tempat. Terlihat di tengah-tengah layar alat itu menampilkan sebuah titik merah yang melambangkan lokasi Arda, sedangkan di samping titik merah juga ada titik berwarna hijau yang mengindikasikan lokasi seseorang berhasil dilacak tidak jauh dari lokasi dia berada sekarang.


“A-apa? Lokasinya tidak jauh dari lokasiku sekarang?” ucapnya terkejut.


Kemudian dia langsung memasukkan radarnya ke dalam saku dan segera menghubungi beberapa kontak menggunakan ponselnya.


“Kalian berdua, segera datang ke lokasi ini!”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Di sebuah bangunan tinggi menjulang tak berpenghuni Kota Machina bagian barat, tepatnya di lantai paling atas (Top Floor), nampak seseorang sedang berdiri di tepi puncak bangunan sambil melihat pemandangan kota yang padat oleh kendaraan dan orang-orang seorang diri.


Wujud orang itu akhirnya terlihat jelas dengan bantuan sinar matahari yang berada di posisi tepat di atas kepalanya. Dari arah belakang bisa terlihat jubah berwarna hitam dan top hat berwarna putih bergaris merah.


Dengan kedua ciri-ciri itu, sudah bisa dipastikan kalau sosok itu adalah pelaku yang berbicara dengan Yoz melalui telepon sekaligus dalang dari penculikan Annariel Albert, Turpin X.


Jubah hitamnya bergerak tertiup angin seperti gerakan mengombak memperlihatkan postur tubuhnya yang gagah. Salah satu burung yang terbang di langit mulai mendarat dan bertengger di tangan sosok itu sambil berkicau merdu seakan menjadikan jari-jari pria itu sebagai dahannya.


Namun, tak berselang lama, burung itu terbang meninggalkannya seperti mengisyaratkan kalau ada orang yang datang menghampirinya.


Dari belakangnya, sudah ada tiga orang yang berdiri tegak dan gagah berani layaknya seorang prajurit menatap serius dirinya. Ketiga orang itu adalah Arda bersama dua rekannya yang pernah bersama-sama pergi ke Pusat Kota Machina tiga hari yang lalu.


Salah satu dari rekan Arda adalah seorang anak kecil dengan pakaian seragam berwarna hijau. Sedangkan yang satunya adalah seorang pria dewasa berperawakan separuh singa, bisa terlihat dari kuping dan ekor yang timbul dari tubuhnya, serta sebuah palu yang berukuran besar menghiasi tangan kanannya.


Sosok itu pun berbalik ke arah ketiga pahlawan yang ada di belakangnya, bahkan sosok misterius tersebut semakin terlihat dengan jelas ketika berbalik.


Sosok itu adalah robot humanoid yang dikendalikan dari dalam oleh seseorang, terlihat dari tubuh besi yang hampir menyelimuti seluruh badannya. Dia langsung bertepuk tangan menyambut kehadiran ketiga pahlawan itu.


“Wah… wah… sepertinya aku kedatangan tamu tak diundang. Lightning Warrior, Arda Gavis; The Hammer of Jungle, Leon Daos; dan Psychic Boy, Kidman Prasino; apa yang kalian lakukan di sini?”


“Tidak perlu basa basi, Freed Clowen! Menyerahlah tanpa perlawanan, maka kami tidak akan menyakitimu!” gertak Arda percaya diri.


“Huh? Freed? Siapa itu Freed? Namaku adalah Turpin X!” balas sosok itu yang ternyata bernama Turpin mengelak sambil membentangkan tangannya membentuk huruf ‘v’ seperti melakukan Roll Call.


“Apakah robot yang melakukan pose ksatria baja hitam ini memang Freed Clowen? Sangat jauh berbeda dari informasi yang kita dapatkan…” celetuk anak kecil bernama Kidman yang terlihat lesu setelah melihat Turpin melakukan pose bodoh.


“Bagaimana bisa robot konyol seperti dia menjadi buronan HSO?” sambung pria setengah singa bernama Leon menatap sinis.


“Hei, jangan menganggap remeh orang ini, terkadang penampilan bisa menipu,” tegas Arda memperingatkan sambil terus menatap tajam lawannya.


“Hei! Hei! Jadi kalian tidak percaya kalau aku adalah manusia? Baiklah…” balas Turpin yang mendengar lalu dia sedikit membuka topeng memperlihatkan wajahnya di balik topeng besi itu kepada mereka bertiga.


Benar saja, di balik topeng yang sedikit terbuka itu, terlihat mata yang sudah bisa dipastikan kalau mata itu adalah mata manusia. Membuat dugaan Kidman dan Leon sebelumya terpatahkan.


Setelah menunjukkannya, Turpin mengembalikan posisi topengnya seperti semula. Arda yang melihat hal itu semakin yakin dengan dugaannya. Diikuti dengan dua rekannya yang memberikan ekspresi terkejut.


“Jadi begitu… yang kita lihat sekarang adalah armornya,” ucap Leon.


Tiba-tiba Kidman mengibaskan tangannya ke depan, menggertak tanpa mempedulikan hal yang dilihatnya tadi, “Menyerahlah jika kau tidak ingin terluka, Freed!”


“Sudah kubilang kalau aku ini Turpin X!”


Turpin dengan kesal menginjak-injak tanah lalu menunjuk mereka satu per satu seakan hendak memproteskan sesuatu.


“Lagipula apa-apaan ini? Tiga lawan satu? Itu sama sekali tidak adil!” protesnya.


“Kau pikir kami bertiga tidak mengetahui dirimu? Jika seandainya aku menghadapimu sendirian, sudah pasti aku akan kalah telak,” ucap Arda tersenyum, “ini pertarungan yang setimpal. Tiga lawan satu bagimu tidak masalah bukan?”


“Huh… baiklah….”


Tiba-tiba suara dari pria itu menjadi berubah menjadi berat. Hawa dingin mulai menyelimuti tempat itu membuat bulu kuduk ketiga pahlawan merinding karena merasakan hasrat membunuh dari Turpin, mereka bertiga mulai bersiaga di tempat sambil menatap serius lawan di hadapannya.


“Cukup dengan perkenalannya! Mari kita langsung ke pertunjukkannya saja!” balas Turpin segera menurunkan topi yang terpasang di kepalanya.


“Jangan pernah menganggap remeh kami! Kami bertiga ini adalah salah satu dari 20 pahlawan besar HSO, tahu!” balas Kidman menyombongkan diri.


“Oh begitu… mari kita lihat seberapa hebat kemampuan kalian bertiga, 'Pahlawan'!” balas Turpin langsung mengambil lima buah kartu remi dari topinya lalu dilemparkan ke arah ketiga pahlawan itu.


“Pertunjukan—dimulai!” ucapnya.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 9: Heroes vs Villain