100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 9: Heroes vs Villain



“Pertunjukan—dimulai!”


Dengan sebuah gerakan kecil, Turpin memulai pertarungan dengan melemparkan lima buah kartu remi yang dia ambil dari topinya.


Dengan sigap ketiga pahlawan di hadapannya mundur beberapa langkah menghindari serangan kejutan tersebut.


Kartu-kartu itu pun gagal mengenai targetnya dan mulai kehilangan kekuatan melesatnya lalu terjatuh ke bawah secara perlahan tanpa mengeluarkan reaksi apapun.


Kidman yang melihat hal itu langsung meledek Turpin, “Hah? Begitu doang?”


“Kau yakin?” balas Turpin.


Ternyata serangan yang sebenarnya baru saja di mulai. Segera setelah Turpin berkata, dari kartu-kartu itu muncul sebuah lubang dimensi yang mengeluarkan kelima monster dengan wujud yang mengerikan yang mirip seperti mutasi beberapa hewan.


Leon nampak terkejut setelah melihat hal itu dengan mata kepalanya sendiri lalu berkata, “Jadi dia pelaku di balik kemunculan monster-monster di kota?!”


“Aku juga berpikir demikian,” sambung Kidman.


Tiba-tiba Arda maju membelakangi Leon dan Kidman dengan tangan kanan yang memegang gagang pedang miliknya, dia menatap para monster dengan serius seraya mencabut pedangnya secara perlahan.


“Biar aku yang tangani!” ucapnya kepada Leon dan Kidman.


Sesaat setelah dia mencabut pedang katana andalannya yang dari sarung, keluar aliran listrik yang kuat menyelimuti bilah pedangnya. Bahkan angin yang ada di sekitar mereka tiba-tiba berhembus kencang, persis seperti saat dia mencabut pedangnya di hadapan Yoz.


Dengan cepat dirinya berlari menuju ke arah lima monster itu, lalu mengayunkan pedangnya dengan kemampuan tebasan layaknya kemampuan seorang samurai sejati. Dengan gerakan yang tak bisa diikuti oleh mata manusia biasa, tiba-tiba saja Arda sudah memunggungi kelima monster itu lalu memasukkan pedangnya ke sarung secara perlahan.


Tepat setelah seluruh bilah pedang memasuki sarungnya, kelima monster di belakangnya tiba-tiba terpotong menjadi beberapa bagian dan mati sebelum menyadari apa yang terjadi pada diri mereka.


“AWAS DI BELAKANGMU!” teriak Leon tiba-tiba.


“Apa!?” Arda yang menyadarinya langsung secepat kilat mengalihkan pandangan ke arah posisi Turpin berdiri sebelumnya.


Di sana, musuh yang seharusnya berada di tepi bangunan sudah menghilang begitu saja menyisakan bekas pijakannya.


Turpin yang menjadikan monster-monster itu sebagai pengalih perhatian ternyata sudah berada di belakangnya dengan posisi tangan sudah berada samping perut hendak melancarkan sebuah pukulan kepada Arda.


Arda pun dengan sigap menghindari serangan itu dengan gerakan kecil memutar, lalu kembali mencabut pedangnya dan dihunuskan ke perut Turpin dengan kecepatan yang tinggi.


Namun, baju besi yang dikenakan Turpin sangat kuat membuat pedang Arda tidak berefek apa-apa. Menyadari pedangnya tidak bisa menembus armor yang keras itu, Arda mengalirkan listrik di pedangnya memanfaatkan baju besi sebagai konduktor untuk menghantarkan sengatan listrik ke orang yang ada di dalam armor besi itu.


Seluruh badan Turpin langsung diselimuti oleh aliran listrik namun dia tidak memberi reaksi apapun seakan tak terjadi apa-apa pada dirinya dan justru hendak menyambar leher Arda.


Arda yang menyadari serangan keduanya juga tidak memberikan efek apa-apa segera menarik pedangnya lalu mundur ke belakang dengan kecepatan yang juga sulit diikuti oleh mata, bahkan Turpin sendiri sangat kesulitan untuk mengikuti kecepatan Arda.


Setelah itu, Arda kembali bergerak melompat dan memberikan serangan lanjutan berupa tendangan keras yang mengenai kepala Turpin.


Serangannya kali ini bisa dikatakan berhasil, Turpin yang ditendang kepalanya terdorong cukup jauh hingga berada di bagian tepi gedung, menyisakan separuh telapak kakinya yang berusaha menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh dari ketinggian.


Tanpa memberi waktu, Arda kembali melakukan serangan lanjutan dengan menerjang sambil menghunuskan pedangnya. Hunusan yang dilancarkan bukan bertujuan untuk menembus zirah keras milik Turpin, namun untuk mendorongnya jatuh dari ketinggian.


Turpin dihadapkan pada posisi yang sama sekali tidak menguntungkan dirinya. Dua pilihan yang akan menjerumuskannya ke dalam satu tujuan, di mana dia harus terjatuh karena kehilangan keseimbangan atau terjatuh karena terkena serangan Arda.


Ketika Arda sudah sangat dekat dengannya. Turpin mulai melancarkan sebuah serangan dadakan memanfaatkan jarak musuh yang dekat.


Dari mata kanannya, mulai muncul energi yang memancarkan sinar putih dan terkumpul seperti tersedot ke pusat, terlihat akan menembakkan laser ke arah kepala pahlawan berpedang itu.


Arda yang menyadari serangan dadakan itu segera menghentakkan kaki ke depan untuk menghentikan terjangannya lalu menelengkan kepala tepat sebelum sinar putih yang itu dilepaskan.


Benar saja, dari mata Turpin meluncur sebuah tembakan cahaya melewati samping kanan kepala Arda yang berjarak sudah sangat tipis.


Sang pahlawan berhasil menghindari serangan itu meskipun harus merelakan satu helai rambut yang hangus tak bersisa terkena tembakan itu. Dengan kondisi yang masih terkejut, dia menoleh ke arah kanan melihat sedikit asap yang keluar akibat sehelai rambutnya yang terbakar.


Jika seandainya dia tidak dengan cepat menghindarinya, mungkin dahinya sudah menjadi sasaran dari serangan mematikan itu.


Memanfaatkan keterkejutan Arda, Turpin segera menjauh dari tepi gedung dan bergerak cepat memutarinya.


Tanpa diduga, dirinya sudah berada di samping Arda dan langsung menyambar lehernya. Setelah berhasil meraih leher si pahlawan, Turpin pun mulai mengangkat tubuh Arda mirip seperti cara Paman Hans mengangkat tubuh Yoz.


Dengan kepercayaan diri yang tinggi karena merasa sudah memenangkan pertarungan, Turpin berkata dengan nada penuh ledekan, “Kau terlalu terburu-buru ingin menyelesaikan pertarungan ini, Pahlawan….”


“LEPASKAN DIA!”


Kidman yang tubuhnya tiba-tiba diselimuti oleh cahaya kehijauan pun hendak pergi menolong Arda namun Leon segera menangkap bahunya sebelum bocah itu bertindak lebih jauh, membuat langkah bocah itu terhenti dan menatap Leon kebingungan.


“Tahan sebentar! Jika kita melakukan kesalahan kecil dengan gegabah, maka kita semua akan kalah,” kata Leon, “jangan menganggap remeh Arda, percayalah kepadanya dan tunggu aba-abanya!”


Kidman pun mau tidak mau mendengarkan perkataan temannya itu, seketika cahaya yang tadi menyelimuti tubuhnya menghilang tak tersisa. Dia hanya bisa menonton berharap keadaan bisa berbalik.


Bersamaan dengan itu, Arda berhasil membalikkan keadaan dengan cara memberikan tendangan lutut pada dagu Turpin yang cukup keras.


Sontak Turpin melepaskan cekikannya akibat serangan itu.


Tanpa mengulur waktu lebih lama, Arda mengambil pedangnya yang terjatuh sebelumnya dan menebas Turpin sebanyak mungkin dengan harapan baju besi itu bisa tergores meskipun hanya sedikit, setidaknya memastikan bahwa armor itu juga tetap bisa diberi kerusakan, sekaligus mendorongnya dengan tebasan demi tebasan hingga musuhnya lagi-lagi berada di tepi bangunan.


Usahanya untuk menggores armor Turpin tidak berhasil, armor besi itu sama sekali tidak mengalami kerusakan apapun seperti merupakan baju pertahanan terkuat di dunia.


Meskipun begitu, dia berhasil memojokkan Turpin di tepi bangunan lalu segera mundur beberapa langkah dari Turpin yang masih memegang dagunya, lalu memberi aba-aba dengan tangan kepada Leon.


Leon yang melihat aba-abanya langsung berlari maju dan melompat sambil mengayunkan palu besarnya ke arah Turpin.


“RASAKAN INI!” serunya.


Turpin yang tak sempat menghindar langsung menerima serangan mutlak Leon dan terpental jatuh dari atas gedung yang kira-kira memiliki ketinggian sekitar 24 meter. Tubuhnya terlontar dari langit ke permukaan tanah dengan kecepatan melesat yang tinggi dan menghantam jalanan hingga membuat kawah yang cukup dalam.


Setelah terjatuh dan menghantam permukaan, Turpin hanya terbaring diam tak bergerak di kawah itu.


Sedangkan ketiga pahlawan yang masih berada di atas gedung berjalan ke tepi bangunan lalu memandangi musuhnya yang tidak bergerak.


“Apa kita berhasil?” tanya Kidman.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


“Sudah berakhir… segera laporkan hal ini kepada pihak HSO!”


“Segera kulakukan!”


Kidman segera mengeluarkan ponselnya setelah mendapat perintah dari Arda. Sedangkan Leon langsung bernapas lega dan melakukan peregangan pada badan karena mengetahui musuh yang mereka kalahkan hanya terbaring tak bergeming di kawah buatan itu.


Mereka segera turun ke bawah untuk meringkus pelaku yang sepertinya sudah tak sadarkan diri. Namun tiba-tiba terdengar suara mekanik yang aneh.


*— —!*


Di saat ketiga pahlawan itu hendak turun, tiba-tiba saja Turpin menggerakkan kepalanya seakan menolak dianggap sudah kalah. Dia langsung mengarahkan tangannya ke atas gedung tempat di mana ketiga lawannya berada dan mengeluarkan sebuah missile launcher di lengannya.


Dari senjata mematikan itu, enam buah misil meluncur dan menargetkan bagian atas gedung tua beserta tiga orang yang ada di sana.


Arda yang menyadarinya langsung memberi peringatan.


“MENGHINDAR!!!”


Mereka bertiga segera berlari ke sisi lain gedung untuk menghindari misil yang melesat.


*BOOMMM!!!!*


Ketika enam misil itu menghantam gedung secara bersamaan, sebuah ledakan dengan daya yang cukup besar muncul dan membuat bangunan yang mereka pijak hancur.


Seketika ketiga pahlawan itu kehilangan pijakan mereka dan terjatuh ke bawah. Berada di udara membuat mereka tidak bisa bergerak bebas, sehingga mereka tidak bisa menghindari reruntuhan yang berada di atas dan terkubur olehnya.


Suara runtuh itu terdengar sangat keras sampai-sampai masih bisa terdengar dalam radius 1 kilometer. Orang-orang sekitar yang mendengarnya menjadi penasaran dan mulai berdatangan secara berkerumun untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Beberapa orang ada yang mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka, ada yang menelepon pihak kepolisian untuk melaporkan kejadian itu, bahkan ada yang merasakan firasat buruk lalu buru-buru pergi dari lokasi itu.


Di tengah keramaian orang-orang yang semakin lama semakin bertambah jumlahnya, Turpin yang ternyata ikutan terkubur oleh reruntuhan muncul ke permukaan dan menatap khalayak ramai.


“Apa yang kalian lihat? Kalian pikir ini pertunjukan?” ucapnya.


Setelah itu dia memukul tanah menggunakan tangan dengan kuat sehingga menyebabkan gempa kecil dan bangunan di sekitarnya bergetar.


Orang-orang pun langsung panik ketakutan dan berlari menyelamatkan diri, beberapa dari mereka berusaha keras menghubungi pihak polisi dan pahlawan sambil pergi sejauh mungkin dari lokasi Turpin berada.


Kekacauan itu juga membuat kemacetan terjadi di mana-mana karena kerumunan orang yang memenuhi jalanan.


“Ah iya—padahal tadi aku sendiri yang bilang kalau ini adalah pertunjukan.”


Turpin berbicara sendiri sambil menunduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal seperti mengakui kesalahannya dalam berucap.


Di sisi lain, ketiga pahlawan yang terkubur oleh reruntuhan bangunan sebelumnya ternyata berhasil selamat entah bagaimana caranya.


“Terima kasih, Kidman.”


Setelah mengungkapkan rasa terima kasihnya, Arda segera mengintip melalui celah runtuhan bangunan.


Begitu mengetahui Turpin sedang berbicara sendiri, dia mengambil kesempatan itu untuk keluar dan menerjang dari belakang.


Turpin yang menyadarinya segera berbalik dan memasang posisi kuda-kuda menyambut Arda.


“Kalian masih hidup? Baiklah, majulah!” ucap Turpin.


Sang pahlawan pun menyerang Turpin dengan tebasannya yang bertubi-tubi. Namun, semua serangannya berhasil ditangkis oleh Turpin dengan mudah menggunakan tangannya.


“Mau sampai kapan kau terus mengulangi serangan itu?” ledek Turpin.


“Justru memang itu tujuanku.” Arda tersenyum tipis lalu melirik ke atas.


Tanpa disadari oleh Turpin, ternyata dari arah atas sudah ada Leon yang mengayunkan palu ke arahnya. Turpin yang melihatnya Leon muncul tiba-tiba segera menahan pedang tangan Arda menggunakan tangan kirinya kemudian mengangkat tangan kanannya untuk menahan palu Leon.


Membuat kedua pahlawan itu terkejut karena musuhnya bisa mengatasi kedua serangan mereka dengan mudah.


“Perlu kuakui, kalian memang cukup kompak sebagai sebuah tim. Tapi… ini saja tidak akan cukup untuk mengalahkanku!”


Turpin langsung melempar Arda dan Leon dengan mengayunkan masing-masing senjata yang dia tahan menggunakan kedua tangannya.


Arda dan Leon terlempar cukup jauh tapi masih bisa mempertahankan posisi berdiri mereka dengan senjata masing-masing. Segera setelah itu, Arda langsung memberikan aba-aba kepada rekannya yang masih belum terlibat dalam pertarungan sedari tadi.


“SEKARANG, KIDMAN!!!”


“Nnn!?” gumam Turpin bingung.


Ketika menyadari kalau dia baru menghadapi dua pahlawan saja dari tadi, Turpin menoleh ke arah belakang dan mendapati sudah ada Kidman yang membentangkan tangannya.


Psychic Boy pun mulai menunjukan taringnya di hadapan musuh. Tubuhnya perlahan-lahan diselimuti oleh cahaya hijau menyala sama seperti sebelumnya, diikuti oleh kakinya yang mulai terangkat melayang.


Tidak hanya itu, puing-puing bangunan yang ada di sekitarnya pun juga mulai diselimuti cahaya hijau sama seperti dirinya dan terangkat ke atas dengan sendirinya.


Dalam satu kali melihat saja sudah bisa diketahui kalau bocah itu memiliki kemampuan telekinesis yang bisa menggerakkan benda-benda sekitar sesuai keinginannya.


“—Jadi kau benar-benar seorang Esper?!” Turpin yang menyaksikannya secara langsung begitu terkejut karena lawan yang dia hadapi kali ini berbeda dibandingkan dua pahlawan sebelumnya.


“TERIMALAH INI!!!” balas Kidman lalu mengayunkan tangannya ke depan seperti gaya melempar.


Segera setelah sang Esper mengayunkan tangannya, puing-puing bangunan yang ada di belakangnya pun melesat ke arah Turpin dengan sangat cepat.


Tidak tinggal diam, Turpin langsung mengambil sesuatu dari topinya guna menghadapi serangan tersebut.


Sebuah revolver yang telah dimodifikasi sedemikian rupa keluar dari topinya lalu diarahkan ke puing-puing yang sedang melesat menuju ke arahnya.


Beberapa puing bangunan pun berhasil dihancurkan oleh daya hebat peluru revolver yang telah dimodifikasi itu. Namun, hal yang tak terduga tiba-tiba terjadi.


Saat dia akan menarik pelatuk untuk menembakkan peluru keenam, senjata tersebut mendadak tidak bisa menembakkan peluru lagi.


Dia pun segera memeriksa isi peluru dari tabung revolver dan memandanginya dengan pasrah.


“—Ah… pelurunya habis, dan aku juga lupa bawa peluru cadangan….”


Setelah suara penuh kepasrahan itu terdengar, salah satu puing bangunan segera menabrak Turpin yang disusul oleh puing-puing bangunan lain.


Tidak hanya satu puing bangunan saja yang menyusul, ada dua atau bahkan lebih banyak puing bangunan datang menghantamnya, sehingga membuat dirinya terpental mundur sangat jauh dari posisi sebelumnya.


Serangan itu cukup efektif membuat Turpin kewalahan meskipun masih belum terlihat kerusakan pada armornya.


Tidak hanya berakhir di situ, kemudian sang Esper melakukan serangan lanjutan yang jauh lebih mengagumkan. Kidman menyatukan kedua tangannya seraya berseru.



Seperti membuat tubuh Turpin menjadi pusat gravitasi yang kuat, puing-puing bangunan yang sebelumnya menghantam tubuh Turpin tiba-tiba bergerak berkumpul ke arahnya menjadi satu dan menguburnya menjadi sebuah bola batu raksasa.


Kemudian Arda segera berlari ke arah bola raksasa itu lalu melompat dan menancapkan pedangnya sambil mengaliri senjata itu dengan listrik.


*SZZTTT!!! BOOOOMMMMM!*


Efek aliran yang menyelimuti benda raksasa itu sangat kuat sampai-sampai membuatnya terbakar dan meledak dahsyat.


Arda yang berada sangat dekat dengan bola batu raksasa itu mulai diselimuti oleh pelindung hijau transparan milik Kidman sebelum pada akhirnya dia terhempas cukup jauh akibat ledakan yang dibuatnya.


Meskipun tubuhnya sudah dilindungi oleh kekuatan Kidman, ia tetap menerima luka bakar yang cukup parah.


Sementara Leon dan Kidman yang hanya menerima sedikit luka dari ledakan barusan segera menolong Arda.


“Bertahanlah!” ucap Leon sambil merangkul Arda.


“Aku baik-baik saja, semuanya sudah berakhir…” sahut lemah Arda.


“Ya! Kita berhasil mengalahkannya!” sambung Kidman senang.


“Berhasil?”


Di tengah kesenangan ketiga pahlawan karena merasa yakin kali ini mereka berhasil mengalahkan musuhnya, tiba-tiba di balik kobaran api yang semakin menyebar muncul suara yang menghancurkan semua kesenangan itu.


“A-apa!?” sahur Arda terkejut tak percaya.


“Ba…bagaimana bisa dia masih bertahan setelah menerima ledakan tadi?!” sambung Leon.


“Aku tak menyangka kalau kalian memiliki kombinasi serangan sehebat ini… sekarang jadi semakin menarik!” Suara samar-samar di balik kobaran api itu kembali terdengar.


Leon pun segera menurunkan Arda yang melemah ke tanah dengan hati-hati, lalu dirinya bersama Kidman dengan sigap melangkah ke depan untuk melindungi Arda.


Dengan sikap waspada, mereka berdua terus memperhatikan area sekitar yang dikelilingi oleh kobaran api, bersiap-siap untuk menghadapi kemunculan Turpin yang entah akan datang dari mana.


“!”


“Di sebelah sana!” ucap mereka berdua refleks serentak dan langsung mengarahkan pandangan ke arah kanan secara bersamaan.


Benar saja, tiba-tiba dari arah kanan mereka, muncul Turpin yang melesat cepat membelah api berkat bantuan alat yang mirip seperti Arc Reactor terpasang di kakinya.


Dengan cepat Kidman mengangkat puing-puing bangunan yang tersisa dengan kemampuan telekinesisnya, sedangkan Leon langsung memukul puing-puing itu dengan palunya untuk meningkatkan daya melesatnya.


Namun, Turpin yang sudah mengetahui kemampuan kedua pahlawan itu berhasil menghindari semua serangan itu dengan mudah dan langsung tiba tepat di hadapan mereka berdua.


“Sialan!” ucap mereka bersamaan.


“LEON! KIDMAN!” teriak Arda.


“Berakhir!” desis Turpin.


Usaha mereka berdua pada akhirnya sia-sia. Turpin yang sudah berada di depan mereka berdua langsung mendaratkan sebuah pukulan masing-masing di kedua tangannya dan tepat mengenai perut kedua pahlawan itu.


Leon dan Kidman langsung terlempar tanpa ampun dan menghantam salah satu dinding bangunan. Setelah menerima serangan itu, keduanya pun mulai tidak sadarkan diri dan pingsan di sana.


Sedangkan wajah Arda kehilangan warnanya setelah melihat dua rekannya yang kalah hanya dengan serangan itu.


Turpin yang selesai menyingkirkan kedua pahlawan itu segera mendatangi Arda dengan berjalan santai. Akan tetapi, secara mengejutkan terlihat armor yang dikenakan Turpin ternyata mengalami kerusakan, sebuah retakan-retakan kecil timbul dari baju besi itu yang mungkin akibat dari ledakan dahsyat tadi. Membuktikan jika armor milik Turpin juga memiliki batasan dalam pertahanannya.


“Kalian benar-benar hebat dalam hal kekompakan, wajar saja jika kalian berada dalam 20 pahlawan besar…. Tapi, kerjasama saja tidak akan cukup untuk mengalahkanku! Ini baru sedikit dari kemampuan yang aku keluarkan dan mereka berdua kalah hanya dengan satu serangan… benar-benar mengecewakan!” celetuk Turpin berjalan sembari menepuk baju besinya yang kotor karena abu dan debu.


“Padahal aku sudah berharap lebih dengan kalian…” sambungnya.


Next Chapter:


Chapter 10: Bala Bantuan