100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 33: Who Are You?



*BOOMMM!!!!*


Misil terakhir dari salah satu drone yang sengaja disimpan oleh Turpin guna berjaga-jaga semisal lawannya masih hidup langsung melesat ganas mengincar Yoz begitu si pemuda menampakkan diri, tapi disengaja justru mengenai Turpin beserta Black Bess.


Ibarat salah satu peribahasa yang berbunyi ‘senjata makan tuan’, Turpin yang sejak awal menyiapkan misil itu mencelakakan Yoz kini malah berbalik mencelakakan dirinya sendiri.


Sebelum ledakan terjadi, Turpin buru-buru mengambil Athena untuk melindungi dirinya dari misil yang datang namun tetap tak kuasa menahan dahsyatnya ledakan dari jarak sedekat itu, mengakibatkan dirinya terhempas diikuti beberapa senjata yang terlempar ke segala arah.


Wujud Yoz kembali seperti sedia kala setelah sebelumnya keluar dari bayangan pedang dalam wujud kepulan asap hitam. Dia menghela napas lega terus mencabut pedangnya yang menancap pada bongkahan bangunan.


Menurutnya, mustahil Turpin bisa selamat dari ledakan tersebut, terutama keempat drone milik sosok itu jatuh begitu saja ke tanah seolah dinonaktifkan. Sayangnya hal itu dipatahkan sebab secara mengejutkan Turpin muncul sambil menggenggam pedang dan tameng pada masing-masing tangannya.


Mengetahui musuhnya masih bertahan hingga sejauh ini membuatnya terkejut bukan main. Jujur saja, ia berpikir jika seandainya Turpin mau meladeninya saat di atap rumah kemarin, mungkin dirinya akan kalah mutlak dan bisa saja terbunuh.


Turpin pun berhenti secara tiba-tiba lalu menoleh ke kobaran api bekas ledakan barusan. Setelah beberapa saat, dirinya berteriak dengan suara lantang ke arah kobaran api tersebut.


“BLACK BESS!!!”


Si pemilik nama datang memenuhi panggilan tuannya. Suara meringkiknya terdengar jauh lebih berat dan memekik telinga, seseorang yang tidak mengetahui entitas Black Bess pasti akan mengira itu adalah suara singa ketika pertama kali mendengarnya.


Black Bess mendatangi Turpin dengan ukuran tubuh yang sedikit lebih besar. Sebagian kulit di beberapa bagian tubuhnya nampak mengelupas, menunjukkan darah yang merembes dan daging berwarna merah gelap yang berdenyut layaknya jantung berdetak. Serta api yang membakar bagian surai, kaki, ekornya dan beberapa bagian tubuhnya.


“Tcih! Yang benar saja!?”


Yoz nyaris tak percaya melihat Black Bess masih hidup setelah ledakan sebelumnya. Makhluk itu seolah-olah menentang hukum alam yang berlaku.


Bagaimana tidak, Black Bess muncul di antara kobaran api dalam kondisi tubuh yang telah bermutasi dan terbakar tapi masih tetap bisa bergerak leluasa tanpa masalah. Intinya, kuda hitam itu berada di tingkatan yang berbeda di antara monster-monster yang pernah ditemui Yoz sejauh ini.


“Kenapa? Apa kau terkejut karena dia masih hidup meskipun terbakar seperti ini?” tanya Turpin sembari mengelus Black Bess.


Yoz tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kuda hitam milik Turpin. Tebasan yang sudah diberikan tidak berpengaruh terhadap Black Bess yang memiliki kemampuan regenerasi yang cukup baik. Sekarang diketahui api yang dikatakan dapat menghentikan efek regenerasi suatu makhluk hidup pun juga tidak berdampak apa-apa.


Kini Yoz sadar, satu-satunya yang harus ia waspadai sekarang adalah mutasi kuda hitam tersebut. Dia memperhatikan seluruh tubuh makhluk tersebut barangkali menemukan sesuatu seperti kelemahan atau sejenisnya tapi hasilnya nihil.


“Black Bess adalah salah satu eksperimen terbaik. Dia unggul dalam segala aspek dibandingkan monster-monster eksperimen lainnya, bahkan dia bisa sejajar dengan para monster pupil bintang itu―” Turpin berhenti mengoceh sesaat sambil memegang dagu, nampak sedang memikirkan sesuatu sebelum kembali melanjutkan, “kita sebut saja para monster pupil bintang itu juga sebagai Amalgam.”


Turpin memposisikan pedangnya secara horizontal, dengan bilah pedang yang mengarah ke Black Bess. Entah apa yang dipikirkannya, Turpin tiba-tiba menusuk tubuh makhluk tunggangannya lalu mencabutnya dengan santai. Black Bess sendiri hanya merintih saat tubuhnya ditusuk oleh pedang.


“Apa kau tahu alasannya?” tanya Turpin sambil menunjukkan bilah pedangnya yang sudah berlumuran darah Black Bess, “Karena dia ini abadi!”


Setelah menyatakan hal itu, luka di badan Black Bess kembali jauh lebih cepat ketimbang yang sebelumnya. Sementara darah yang melumuri bilah pedang Turpin nampak bergerak sendiri, seolah-olah cairan merah tersebut adalah gabungan saraf yang memiliki kesadaran tersendiri.


Turpin mengarahkan bilah pedangnya ke api yang membakar tubuh Black Bess. Dalam sepersekian detik, bilah pedang tersebut juga ikut terbakar namun tidak menghanguskan besi tersebut.


Tidak diketahui bagaimana caranya, yang jelas efek regenerasi Black Bess tetap akan ada meskipun telah terpisah dari tubuhnya dan berkat kemampuan itu juga api terus berkobar tanpa padam sedikit pun. Keduanya bersama-sama maju menuju Yoz, dengan api membara yang siap diberikan kepada pemuda tersebut.


Yoz merasakan dengan jelas ancaman yang berasal dari kedua musuhnya. Terutama setelah diketahui kemampuan menembusnya tidak berarti apa-apa terhadap plasma seperti ledakan dan api, jelas dia merasa terancam. Tapi ada satu hal yang ingin dia sangkal, yang menurutnya sangat tidak masuk akal.


“Tidak ada satu pun makhluk hidup yang abadi!”


Kalimat itu menjadi permulaan dari pertarungan kedua pihak. Turpin dan partnernya mengambil posisi masing-masing untuk mengepung Yoz dari kedua sisi. Sang sosok berarmor maju menyerang terlebih dahulu sedangkan Black Bess masih tetap di posisinya.


Tentu kali ini Yoz tidak dapat menggunakan kemampuan menembusnya sebab Turpin menyerang menggunakan pedangnya yang telah diselimuti api pada bilahnya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang adalah menghindar dan menangkis sebisa mungkin setiap tebasan yang dilancarkan.


Yoz tidak tahu taktik seperti apa yang direncanakan oleh Turpin bersama kuda hitam itu. Black Bess yang hanya berdiam di posisinya justru membuat Yoz semakin was-was. Begitu jarak antara dirinya dengan Turpin sudah cukup jauh, Yoz pun cepat-cepat menghilang.


Begitu Yoz menghilang, Black Bess pun akhirnya mulai beraksi. Makhluk tersebut meringkik dengan frekuensi yang tinggi, disertai hembusan angin kencang yang keluar dari mulutnya.


Dalam jalur hembusan tersebut, Yoz mendadak muncul dalam posisi bertahan dari dorongan angin yang diakibatkan oleh Black Bess. Wajahnya dibanjiri oleh keringat, entah apa karena berusaha sekuat tenaga menahan hembusan atau karena angin yang terasa panas.


‘Gawat! Bahkan hawa panas pun juga bisa?!’ pikir Yoz.


Kala pemuda itu makin memperkuat pijakannya, sosok Turpin muncul di sampingnya bersiap mengayunkan pedang. Jantungnya nyaris berhenti berdetak akan kemunculan mendadak pria tersebut.


Turpin sengaja memanfaat momen ini untuk menggempur Yoz yang penuh dengan celah seperti sekarang, apalagi Yoz berada dalam posisi menahan serangan Black Bess.


Sayangnya, serangan barusan tak berhasil mengenai lawannya. Hal itu dikarenakan Yoz yang langsung melepaskan kekuatan di pijakannya dan membiarkan diri terhempas oleh hembusan angin. Alhasil dirinya dapat lolos dari tebasan Turpin yang hampir mengenainya.


Meskipun serangan barusan gagal, kesempatan berikutnya tidak disia-siakan oleh Turpin. Selagi Yoz terhempas, dia melesat mendekati sambil menghunuskan pedang. Hembusan Black Bess sendiri sudah berhenti setelah Yoz terhempas.


Yoz yang bersusah payah menyeimbangkan tubuhnya langsung mendapati kedua musuhnya yang kini tengah menuju ke arahnya. Buru-buru dia menghilang kembali untuk kesekian kalinya guna menghindari hunusan Turpin.


Tetapi saat wujudnya sudah terlihat di posisi yang jauh dari Turpin, Black Bess rupanya mengikutinya sedari tadi. Makhluk itu mengangkat kedua kakinya, kemudian dihentakkan di atasnya. Dia segera menahan kaki-kaki besar kuda itu dengan pedangnya.


Mustahil bagi Yoz untuk memasuki wujud menembusnya pada saat itu. Hawa panas yang keluar dari tubuh makhluk itu seakan memblokirnya melakukan kemampuan itu. Satu-satunya yang dapat ia lakukan kini hanyalah menahan sebisa mungkin.


Walaupun begitu, nyatanya tekanan dari Black Bess semakin lama semakin bertambah, mengakibatkan Yoz mulai tak bisa menahannya lebih lama lagi. Memaksanya untuk berpikir keras atau tubuhnya akan dihancurkan oleh kaki makhluk itu.


Di tengah ambang keterpurukannya, muncul satu cara untuk melepaskan diri dari kondisi tersebut. Dari balik kedua kuku hitam dan besar itu, Yoz mengayunkan pedangnya dengan cepat. Saking cepatnya gerakan Yoz, mungkin mata manusia biasa tidak akan dapat mengikutinya.


Dalam satu tebasan tersebut, kaki-kaki Black Bess terbelah menjadi dua. Makhluk itu langsung kehilangan keseimbangan akibatnya, Yoz langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dan mundur beberapa langkah.


Black Bess langsung tumbang sebab kedua kaki depannya yang terbelah, tapi ia masih berusaha menggapai Yoz menggunakan gigi-giginya. Yoz tanpa ampun langsung menusukkan pedangnya tepat di tengkorak kuda tersebut dan menembus otaknya.


Turpin yang semula tengah berlari mendekat menjadi berhenti dan terdiam setelah menyaksikan kudanya tak bergerak usai menerima serangan fatal di otak. Berikutnya ia tertawa sendiri tanpa alasan.


Yoz menaikkan sebelah alisnya terheran-heran sembari bertanya, “Apa yang lucu?”


“Sudah aku katakan, bukan? Dia itu abadi…” balas Turpin.


Suara meringkik Black Bess terdengar kembali. Yoz yang terkejut secepat kilat menoleh ke belakang. Dia buru-buru menghindar dari gigi-gigi Black Bess nyaris memutuskan kakinya. Turpin sendiri kembali melesat ke arah Yoz, tak memberi napas kepada pemuda itu sejenak.


Keduanya saling beradu pedang, masing-masing melancarkan hunusan, tebasan, dan menangkis tanpa jeda sedetik pun. Adu pedang tersebut dimenangkan oleh Turpin yang sukses memberikan luka cukup dalam pada paha Yoz.


Yoz pun kembali mundur dan menghilang, kemudian muncul posisi yang cukup jauh. Dia pun bertekuk lutut sebab luka tusukan yang menghiasi pahanya. Baik dirinya maupun Black Bess, keduanya sama-sama memulihkan diri, tapi nampaknya kemampuan Black Bess jauh lebih cepat.


“Pasti… pasti ada satu hal… yang dapat dilakukan untuk mengalahkan monster itu….”


Yoz dalam kondisi terengah-engah memperhatikan musuhnya, nampaknya ia menemukan sesuatu yang membuat ekspresinya sedikit berubah. Setelah luka di pahanya sudah pulih, dia pun mengatur napasnya kemudian kembali berdiri.


Dirinya segera mengambil posisi di hadapan Turpin, memberikan pandangan kepada masing-masing lawannya sebelum kembali berlari maju. Ia tidak melakukan gerakan mencurigakan, hanya berlari seraya membawa pedangnya seolah maju tanpa persiapan apa-apa.


“Bocah ini… dia tidak pernah belajar untuk menyerah….” Turpin menggeleng-geleng kepala sejenak lalu maju bersama partnernya.


Saat keduanya hendak melakukan langkah pertama, Yoz kembali menghilang dari pandangan mereka. Turpin pun menghentikan langkahnya yang diikuti oleh Black Bess di samping.


Turpin tertawa akan hal itu, baginya melakukan teknik sama yang telah terbongkar berulang kali adalah tindakan bodoh. Dia melirik ke samping seakan menyerahkan urusan ini kepada Black Bess. Dalam waktu singkat, Black Bess berhasil menemukan lawannya berkat insting dan reflek yang tinggi. Makhluk itu langsung menendang ke belakang tepat posisi Yoz muncul.


Tetapi Yoz masih sempat menggeser badannya dan hanya membuat usaha makhluk itu berujung dengan menendang angin. Pemuda itu kini mengangkat pedang dengan kedua tangannya, kemudian diayunkan hingga memotong kedua kaki belakang si monster.


Sang mutasi kuda hitam itu kembali tumbang. Turpin dibuat terkejut dengan tindakan Yoz yang bisa dibilang tak tertebak tersebut. Yoz memandangi sekilas musuhnya sebelum bergerak memangkas jarak antara mereka hanya dalam beberapa detik.


Keduanya sama-sama mengayunkan pedang dengan sekuat tenaga. Hasilnya, kedua besi tersebut terlepas dari genggaman masing-masing pemiliknya. Yoz sendiri kembali melakukan serangan balasan yakni menendang tangan kiri Turpin, memaksa Turpin untuk melepaskan tamengnya.


Kini keduanya berhadapan dengan tangan kosong. Pertarungan dilanjutkan dengan kemampuan fisik masing-masing. Turpin sangat yakin dirinya dapat dengan mudah unggul, tapi ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya.


‘Mengapa dia tidak menggunakan wujud menembusnya dan memilih untuk berhadapan langsung denganku?’ pikirnya.


Yoz mengingat kembali beberapa gerakan karate yang sering digunakan oleh Suryadi kepadanya kemudian menirunya sedemikian rupa. Meskipun tidak sesempurna milik temannya, tapi dia dapat mendominasi pertarungan. Setelah berhasil mendaratkan satu pukulan di wajah musuhnya, Yoz memberikan satu tendangan kuat yang membuat Turpin terdorong mundur.


Pemuda berjaket merah itu bergegas mengambil pedang milik Turpin terus memberi tendangan lanjutan. Kini posisinya berada di antara kedua musuh, Black Bess yang nampak berhasil menyambungkan kakinya maju menyerang dan disusul oleh Turpin.


Yoz dikepung dari dua sisi, masing-masing musuhnya mulai menunjukkan niat membunuh. Black Bess mulai menumbuhkan tanduk runcing di tengah-tengah kepalanya, sedangkan Turpin menerjang menggunakan kaki kirinya.


“KEMBALIKAN SENJATAKU!” teriak Turpin kesal.


Meskipun diserang dari dua arah, Yoz tidak berusaha untuk menghindar. Dia menoleh ke kanan dan kiri layaknya orang bingung, lalu memposisikan pedang di genggaman secara horizontal.


Tidak diketahui apa yang Yoz pikirkan atau rencanakan, tapi yang jelas kedua musuhnya sudah diselimuti amarah dan mengabaikan segalanya sebab dipikiran mereka sekarang hanyalah berniat untuk menghabisi pemuda itu.


Kejadian berikutnya terjadi begitu cepat, wujud Yoz tiba-tiba menjadi transparan yang disusul dengan pedang di genggaman yang menembus jari-jarinya. Tanpa disengaja, tendangan Turpin justru mengenai gagang pedang dan mendorongnya terus ke depan.


Besi tajam tersebut langsung menembus dada Black Bess meskipun telah dilapisi oleh besi, mengakibatkan mahluk itu merintih kesakitan dan tanpa sadar menyeruduk tangan Turpin dengan sangat keras hingga terpental mundur.


Tak berselang lama, Yoz muncul dari samping Black Bess seraya menggenggam pedang miliknya. Pemuda itu mengayunkan pedangnya ke atas memotong separuh leher si monster, setelahnya melesat mundur.


Turpin bangkit lalu melihat tangan kirinya yang sudah terpisah dari tubuhnya masih bergelantungan di tanduk Black Bess. Banyak darah yang merembes dari setengah lengannya yang telah hancur, tapi ia tak terlihat kesakitan seperti yang semestinya, entah apa karena terlalu syok atau ada alasan lainnya.


Kemudian pria itu menoleh ke arah Black Bess yang merintih dengan suara aneh sebab pita suaranya terpotong lalu berpindah menoleh ke dada makhluk itu. Matanya terbelalak, dengan badan gemetar ia mencoba meraih kepala kuda hitam tersebut tapi didahului oleh Black Bess yang menempelkan moncongnya ke dahi Turpin.


Di tengah-tengah tarikan napasnya yang semakin berat, ia meneteskan air mata. Muncul sekilas gambaran seorang panita berambut putih dan pupil merah yang mengecup keningnya.


“K-kakak?!” ucapnya pelan tergagap.


Dia mengepal tangan kuat-kuat, berikutnya menarik pedangnya dari dada Black Bess dengan berat hati. Urat-urat yang terdapat pada dada makhluk itu pun mulai menegang dan bengkak. Kemampuan regenerasi Black Bess menurun drastis, bahkan mencapai titik di mana dia tidak dapat memulihkan luka di lehernya sama sekali. Suara ledakan terdengar dari dalam tubuhnya, lalu disusul dengan tumbangnya kuda hitam itu.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


‘Sudah kuduga titik tengah dadanya yang menjadi pusat dari urat-urat itu adalah intinya!’


Yoz melirik tubuh Black Bess yang mulai mengeras seperti batu, kobaran api yang membakar tubuhnya secara perlahan padam termasuk api di pedang Turpin. Dari ekspresi musuhnya, Yoz paham dengan situasi yang terjadi.


Namun Turpin tak membalas, dia hanya menatap Black Bess cukup lama sebelum pada akhirnya mengaliri bilah pedangnya dengan darah miliknya, lalu di dekatkan dengan api di jasad Black Bess yang nyaris padam. Api di pedangnya mendadak kembali berkobar seperti sedia kala.


“Beristirahatlah dengan tenang… kawan…” desis Turpin dengan mental nampak terguncang sesaat.


“Darah di pedangnya… jangan-jangan―” Yoz terbelalak kaget menyaksikan hal itu sebab menyadari sesuatu, “K-kau… sebenarnya siapa kau!? Tidak, sebenarnya kau ini apa?!”


“Siapa atau apa aku itu tidak penting, yang aku inginkan membalas dendam!” balas Turpin sambil menjentikkan jari. “Varos! Athena! Thaosgenes! Toya! Ruckkehr!”


Keempat drone sebelumnya kembali aktif kemudian membawa masing-masing senjata Turpin yang meliputi palu besar, perisai kuno, sarung tinju canggih, tongkat emas, dan bumerang. Keempat drone yang membawa lima atribut itu melayang mengelilingi pemiliknya.


“Ruckkehr!’ Turpin menancapkan pedangnya di tanah, lalu menangkap bumerang yang diturunkan oleh salah satu drone. Tatapan penuh kebencian di arahkan kepada Yoz.


“AKAN KUBUAT KAU MEMBAYAR ATAS APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN!” teriak Turpin lalu melemparkan bumerang sekuat tenaga.


Lemparannya kali ini terasa sangat kuat sampai-sampai senjata lempar khusus tersebut melesat dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan yang sebelum-sebelumnya. Tetapi Yoz hanya perlu mengubah wujudnya dan membiarkan senjata itu melewati tubuhnya beberapa kali dari berbagai arah.


Turpin terus berada dalam posisi bersiaga seraya memperhatikan arah melesat bumerangnya. Berbanding terbalik dengan Yoz yang berjalan mendekat tanpa perlu khawatir bumerang yang terus menembus tubuhnya seolah tidak terjadi apa-apa.


Turpin tersulut emosi karena merasa diremehkan, tanpa pikir panjang dirinya langsung maju sambil mengangkat senjata tinggi-tinggi. Bilah pedang yang terbakar tersebut siap menebas apapun yang ada di hadapannya.


Melihat hal itu, Yoz ikut mengangkat pedangnya guna menahan tebasan tersebut terus mendorongnya ke atas. Turpin yang hanya menyisakan satu tangan jelas tidak dapat menahan dorong Yoz. Pemuda berjaket merah itu bergerak memutar dan dalam waktu singkat sudah berada di punggung musuhnya.


Kini yang Turpin ketahui adalah pergerakannya telah dikunci dari belakang. Dia semula hendak melepaskan diri namun bumerang yang melesat membelah udara menuju kepadanya memaksa Turpin untuk berada dalam posisi bertahan.


*Crack! Prang!*


Besi tajam milik Turpin pun patah disebabkan daya melesat bumerang yang sangat cepat, bahkan Turpin serta Yoz terpental ke belakang akibatnya. Yoz pun segera bangun lalu menciptakan jarak sejauh mungkin sambil memicingkan mata untuk memastikan pedang Turpin benar-benar hancur.


Sosok berarmor tersebut bangkit lalu menatap senjatanya yang telah patah menyisakan separuh bilah yang masih terbakar. Turpin pun menjatuhkannya ke bawah lalu mengangkat tangan kanan ke atas bersamaan dengan salah drone yang terbang di atasnya.


“Thaosgenes!”


Usai mengucapkan nama itu, sarung tinju canggih bagian kanan terpasang sempurna di tangannya. Dia kemudian melumuri sarung tinju itu dengan darah dan mendekatkannya dengan gagang pedang yang masih terbakar.


“Dia melakukan cara yang sama lagi…!” decak Yoz akhirnya bersiaga.


“KEMARI KAU!” Turpin menggeram sebelum maju secara membabi buta.


Sosok tersebut memukul apapun yang ada di hadapannya secara brutal layaknya hewan buas, tidak peduli apa yang menghalangi pasti ia hancurkan dengan tinju berapinya. Meskipun hanya menggunakan satu tangan, Yoz dibuat kesusahan untuk menghindari setiap pukulannya.


‘Tcih! Meskipun aku bisa saja merebut topinya dari jarak seperti ini, tapi ia tak memberiku kesempatan untuk melakukannya!’


Pemuda itu mengubah niatnya menjadi mengambil Ruckkehr yang tergeletak cukup dekat dengan dari posisinya, tapi Turpin yang menyadarinya tak membiarkan lawan untuk melancarkan aksinya.


Kini Yoz tengah bersembunyi di balik bongkahan, sayangnya Turpin dapat dengan mudah menghancurkannya dengan satu pukulan. Tanpa pria itu sadari, dari balik bongkahan yang hancur Yoz muncul sembari menghunuskan pedang.


Turpin terperangah sejenak melihat kemunculan musuhnya sebelum dengan mudah menangkap bilah pedang Yoz bermodalkan tangan.


“Apa kau masih bisa bertarung setelah aku menghancurkan senjatamu?” ucap Turpin terus menggenggam dengan sangat kuat bilah pedang Yoz hingga menimbulkan suara retak.


‘Celaka!’


Otot Yoz menegang berusaha menarik pedangnya dari Turpin tapi genggaman pria itu begitu kuat, bahkan ia merasa mulai nampak retakan pada tengah-tengah bilah besinya. Jika ia tidak melakukan sesuatu, maka katana peninggalan Arda tersebut akan bernasib sama dengan senjata Turpin.


Belum sempat Turpin menghancurkan senjata Yoz, sarung tinju miliknya tiba-tiba mengeluarkan listrik dan asap berikutnya menyusul suara ledakan kecil berasal dari alat tersebut. Mungkin karena hal itu genggaman Turpin tiba-tiba melemah.


Yoz tak menyia-nyiakan hal itu untuk melepaskan senjatanya dan menjauh. Beberapa meter dari posisinya dia menemukan Ruckkehr yang tergeletak, langsung saja dia berinisiatif untuk mengambil senjata lempar khusus tersebut kemudian memperhatikan drone di langit.


“Setelah ini dia pasti akan mengambil senjatanya lagi… aku harus merebutnya terlebih dahulu sebelum dia!” kata Yoz lalu melemparkan bumerang menggunakan kedua tangannya.


Lemparan Yoz memang terlihat tidak sekuat Turpin, tapi senjata itu berhasil mengenai dua drone sekaligus hingga menjatuhkan palu besar dan perisai kuno ke tanah. Yoz pun menangkap bumerang tersebut dengan mudah berkat daya melesatnya yang tidak begitu cepat, lalu meninggalkan bumerang beserta pedangnya yang retak di tempat untuk berlari merebut palu besar tersebut.


Sementara Turpin yang baru selesai dengan sarung tinjunya melihat Yoz kini tengah berlari menuju salah satu senjatanya. Urat sarafnya menegang pertanda murka, dirinya pun juga ikut menyusul sehingga menjadi ajang siapa yang terlebih dahulu mendapatkan Varos.


Ketika Yoz sudah nyaris menyentuh gagang palu tersebut, di belakang rupanya sudah ada Turpin yang hendak menariknya. Yoz dengan reflek memasuki mode menembusnya mengakibatkan Turpin melewati dirinya begitu saja.


Dalam detik berikutnya, Turpin sudah memunggungi Yoz. Pemuda berjaket merah itu segera mengembalikan wujudnya kemudian meraih Varos, dia melakukan satu ayunan memutar menggunakan palu besar tersebut tapi Turpin dengan mudah menahannya.


“Kau bahkan tidak mengetahui kemampuan dari Varos…” celetuk Turpin setelah menghela napas panjang, “lima ratus!”


Sepersekian detik usai dia menyebutkan angka, nominal yang terpasang pada palu tersebut berubah. Yoz sangat kaget dengan perubahan berat yang terjadi pada senjata di genggamannya, tanpa tahu apa-apa dia berusaha menarik sekuat tenaga palu tersebut.


“Toya!”


Perhatian Yoz yang awal berusaha menarik palu teralihkan oleh suara Turpin, secepat kilat dia menoleh ke sumber suara.


Satu ayunan tongkat emas menghantam wajahnya tepat sebelum dia menyadari apa yang terjadi, yang ia sadari setelahnya adalah dia menerima banyak pukulan dari senjata serupa di berbagai titik dan diakhiri dengan satu pukulan keras hingga terpental.


“Arghhh!”


*Bruakh!*


“Apa kau masih hidup, bocah? Jika itu belum cukup untuk membunuhmu, maka serangan kali ini akan langsung mengakhirinya!” Turpin menancapkan Toya ke tanah dengan keras kemudian menyentuh gagang Varos, “Satu!”


Yoz berdecak kesal sembari menyeka darah di mulutnya. Meskipun tulang di seluruh tubuhnya serasa mau patah, ia tidak bisa beristirahat sekarang sebab Turpin sudah melemparkan Varos tinggi-tinggi di langit.


Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan sekarang adalah mengambil salah satu senjata yang sempat Turpin gunakan untuk bertahan dari ledakan misil.


Sebenarnya ia bisa saja selamat dari serangan selanjutnya dengan wujud menembusnya, tapi hal itu akan sia-sia jika ia tidak dapat mendekati Turpin dan merebut topinya. Terutama ia merasa Nerous sudah mulai mendekat, suara dari pesawat itu mulai bisa terdengar dari arah timur.


“Sekarang atau tidak sama sekali!”


Dia pun berlari sebisa mungkin mendekati Tameng Athena. Walaupun luka yang ia dapatkan dari serangan Turpin sebelumnya membuatnya batuk darah apalagi ketika memaksa diri berlari, dia tetap bersikeras untuk meraih perisai kuno yang baginya menjadi satu-satunya pilihan.


“SEMUA YANG KAU LAKUKAN TIDAK ADA GUNANYA!”


Turpin pun membuka kakinya hingga selebar bahu dan menekukkan kaki, kemudian melakukan dorongan kuat pada kaki layaknya pegas hingga membuatnya melompat sangat tinggi, cukup untuk mencapai Varos.


“SERIBU!” teriak Turpin di dekat Varos kemudian memukul palu tersebut menggunakan tongkat emasnya.


Palu besar tersebut langsung melesat ke arah Yoz berada. Kecepatan melesat serta perubahan berat yang drastis pada Varos menjadikannya sebagai kombinasi serangan yang cukup dahsyat sampai bisa membuat monster berukuran raksasa sekali pun akan hancur begitu menerima senjata seberat satu ton tersebut.


Yoz sendiri sudah menggenggam perisai kuno di tangannya, tapi ia bingung bagaimana cara menggunakan senjata itu. Lantas ia mengulang kembali beberapa nama yang sempat disebutkan oleh Turpin setiap kali berganti senjata.


“Varos? Toya? Tosgenes? Rukkher? Athena?”


*BANGG!! BRUAKH!!!*


Suara hantaman keras terdengar di segala penjuru, bahkan suaranya masih bisa terdengar di luar kubah. Turpin mendarat dengan napas terengah-engah sesudah melancarkan kombinasi serangan hebat barusan.


“Rasakan itu!” ucap Turpin seraya melihat kepulan debu yang dihasilkan dari serangan barusan, ketika akhirnya semua pemandangan mulai terlihat jelas dia terbelalak tak percaya, “B-bagaimana bisa?”


Dari balik kepulan asap, nampak Varos dan Athena yang sama-sama hancur. Sepertinya Yoz berhasil mengaktifkan perisai kuno tersebut saat menyebutkan nama terakhir. Tapi yang membuat Turpin terkejut adalah Athena mampu mengimbangi serangan kombinasi Varos yang mengakibatkan kedua senjata itu sama-sama hancur karena seimbang.


“TIDAK! TIDAK! TIDAK!!!” Turpin nampaknya tidak dapat mencerna apa yang ia lihat, dia menggeram kesal untuk kesekian kalinya dan tanpa basa-basi mengarahkan tongkat emasnya ke depan dengan wajah merah padam.



Tongkat emas tersebut langsung memanjang dengan kecepatan tinggi dan melesat ke arah Yoz. Pemuda berjaket merah tersebut menoleh ke belakang sebentar sebelum pada akhirnya fokus dengan apa yang ada di hadapannya dengan kedua tangan dilentangkan.


Ujung dari tombak itu tanpa ampun mendorong targetnya hingga berpuluh-puluh meter, Yoz terus menahan senjata tersebut menggunakan kedua tangannya dengan urat-urat yang timbul di tangan yang menunjukkan seberapa keras dia berusaha.


Meski begitu, kecepatan Toya tidak menurun sama sekali seakan usahanya sia-sia. Yoz tak menyerah begitu saja, dua tentakel pun muncul di punggungnya dan turut membantu menahan lajunya.


Secara perlahan laju dari memanjangnya tongkat emas tersebut mulai melambat hingga berada di titik di mana senjata tersebut berhenti. Posisi Yoz kini berada di ujung kubah, lebih tepatnya membelakangi bola transparan tempat ibunya berada. Kedua tentakelnya nampak hancur usai bergesekan dengan tanah.


Pemuda itu mengeluarkan banyak keringat karena masih terus menahannya, tak lama setelahnya dia membelokkan arah lajunya ke samping sampai ujung tongkat tersebut menghantam dinding kubah. Pemuda itu terlihat mulai kehabisan napas, tapi itu tak membuatnya tumbang dan justru semangat bertarung menghiasi matanya.


Turpin tertegun menyaksikan secara langsung serangan terakhirnya dapat dibelokkan oleh Yoz. Mulutnya benar-benar dibuat bungkam tak tahu harus berkomentar apa. Tongkat emas di tangannya pun bergetar dan disusul dengan ujungnya yang tertarik menuju panjang semula.


Yoz menggunakan peluang tersebut untuk meraih ujung tongkat dan ikut tertarik. Saat jaraknya sudah mencapai separuh, dia pun melepaskan pegangan kemudian berlari menuju bumerang dan pedangnya berada.


Usai mendapatkan dua senjata itu, Yoz melemparkan bumerang menuju Turpin terus dirinya menghilang bagaikan asap hitam yang tertiup angin.


Turpin pun hendak menyambut bumerang tersebut dengan tangannya, tapi fokusnya teralihkan oleh serangan rentetan Yoz dari berbagai arah tanpa henti lalu diselesaikan dengan kemunculan Yoz di hadapannya.


“Aku akan menang, tidak peduli bagaimana pun caranya!”


Tatapan serius Yoz bertemu dengan tatapan kebencian Turpin. Semuanya saling menatap satu sama lain selama beberapa saat sebelum Yoz mengakhirinya dengan satu tusukan pedang yang menembus dada Turpin.


“UGGHHH!!!!”


*SRATT!*


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 34: Sosok di Balik Topeng