100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 13: BlackJack 21 (1)



“—Hei! Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kelas orang seenaknya?!”


Di pagi hari yang cerah, rupanya sedang terjadi keributan kecil di kelas 2-D.


Yoz yang sedang sibuk melakukan rutinitasnya yakni mematung mulai merasa terganggu akibat keributan tersebut, dia pun menghela napas panjang lalu memberikan perhatian tertarik ke arah sumber suara.


Di saat menoleh, terlihat beberapa siswa yang Yoz kenal sedang berkumpul di dekat pintu dan menahan salah satu siswa yang memberontak ingin masuk ke dalam kelas. Situasinya mirip seperti para dokter dan perawat yang sedang menangani pasien lepas kendali.


Sepertinya makhluk-makhluk penghuni kelas 2-D tidak suka saat batas teritori mereka ditembus oleh siswa asing tanpa seizin mereka, bisa terlihat dari suara siswa yang sedang ditahan itu terdengar asing di telinga Yoz dan beberapa murid lainnya. Mungkin hal itulah yang menjadi penyebab timbulnya keributan kecil tersebut.


Yoz terus menatap penasaran ke arah pemandangan berusaha melihat wajah siswa asing tersebut namun hasilnya nihil karena pandangannya terhalangi oleh badan murid-murid yang terlibat dalam keributan, bahkan orang-orang yang berkerumun semakin bertambah banyak.


“Lepaskan aku! Biarkan aku masuk ke dalam!”


Siswa asing yang ditahan itu semakin memberontak hebat bahkan membuat orang-orang yang sedang menahannya menjadi terguncang, Yoz sendiri dibuat terkejut melihat hal itu.


Bagaimana tidak, orang-orang yang sedang menahan siswa asing itu didominasi oleh murid-murid berbadan besar dan kuat, tapi mereka semua dibuat terguncang dengan mudahnya.


*Blam!*


Suara pukulan pun terdengar setelah siswa asing itu mendaratkan beberapa tinju ke wajah orang-orang yang menahannya tanpa pandang bulu, beberapa dari mereka juga ada yang menerima sebuah tendangan dan cakaran di tubuhnya.


Seisi kelas yang melihat kejadian itu langsung menatap ngeri terhadap keberingasan siswa asing itu, sedangkan Yoz sendiri terlihat senang dan menikmati kejadian itu seolah sedang menonton sebuah pertunjukkan yang menghibur.


‘Ternyata memang benar kata ibu, orang gila memiliki tenaga yang besar,’ pikirnya.


Dengan luka-luka yang terlihat di tubuh, seluruh siswa yang terlibat dalam keributan memutuskan untuk menyerah dan melepaskan siswa asing yang mereka tahan sebelumnya.


Tubuh orang-orang yang menghalangi pandangan Yoz mulai berpergian sehingga memperlihat wajah seseorang yang sudah terbebas dari penahanannya.


Seorang pemuda laki-laki yang memiliki tinggi seperti Yoz, rambutnya pendek hitam tegang, serta memiliki warna kulit yang cukup putih.


Dengan percaya diri, pemuda itu melangkah masuk ke dalam kelas melewati orang-orang menuju ke tempat Pami dan Shela berada.


Nampak bet kelas yang terpasang di lengan bajunya bertuliskan ‘XIII E’ serta bet nama yang terpasang di dekat sakunya bertuliskan nama dari siswa tersebut, Riki Putra.


Karena keributan telah usai, Yoz pun hendak kembali melanjutkan rutinitasnya namun tiba-tiba dirinya melihat ada pemandangan yang aneh dari luar kelas. Terlihat seorang siswi yang berperawakan seperti orang timur, memiliki tinggi seperti Nia, dan rambut hitam terurai sebahu bersembunyi di balik pintu kelas.


Bet kelas yang terpasang di lengan bajunya bertuliskan sama persis seperti milik Riki yang mengindikasikan bahwa mereka berdua adalah sekelas, beserta bet nama yang terpasang di bajunya bertuliskan nama dari siswi tersebut, Tripu Aurela.


Dengan malu-malu, gadis itu melirik ke dalam kelas seperti sedang mencari sesuatu, Yoz yang penasaran mengikuti ke arah mana siswi itu menatap dan mendapatkan tatapan itu menuju ke arah ketiga siswa di pojok belakang yang tidak lain adalah Pami, Shela, dan Riki.


Dirinya pun langsung paham kalau gadis itu memiliki hubungan dengan mereka bertiga.


Sambil membuat gaya memanggil menggunakan tangan, dengan malu-malu siswi itu bersuara kecil menyebutkan nama Shela dan Pami. Yoz bisa mendengar panggilan kecil tersebut di telinganya namun tidak demikian dengan para pemilik nama.


Tiba-tiba muncul sebuah keinginan dalam dirinya untuk membantu siswi itu, tapi gravitasi di kursinya sangat kuat sampai-sampai pemuda itu enggan untuk beranjak. Sebenarnya dia bisa saja langsung memanggil Shela dan Pami, tapi hal itu akan menarik perhatian orang-orang dan dia membenci hal itu.


Pada akhirnya, Yoz hanya menyaksikan dan berharap siswi itu mampu memanggil nama ketiga temannya lebih keras.


Gadis itu tidak seperti Riki yang langsung menerobos masuk ke dalam kelas lain, apalagi dirinya sudah diperingatkan sejak awal oleh murid-murid kelas 2-D untuk tidak masuk ke dalam. Bahkan setelah melihat Riki yang dihadang saat hendak melangkah masuk membuatnya semakin ragu untuk melakukannya.


Dia pun kembali mencoba memanggil Pami dan Shela yang sedang sibuk berbincang dengan Riki, namun tak membuahkan hasil.


Menyadari panggilan kecilnya tidak direspon, gadis itu pun menundukkan kepala lalu berjalan lesu kembali ke kelasnya dengan perasaan kecewa.


‘Bagaimana mereka bisa mendengar panggilanmu jika suaramu saja terlalu kecil?’ pikir Yoz heran sambil menempelkan tangannya di kepala.


Tak lama setelah gadis itu kembali ke kelasnya, Suryadi pun muncul tapi dengan penampilan yang sedikit berbeda. Ekspresi wajah yang biasanya penuh dengan semangat dan ceria kali ini tak terlihat, Yoz yang menyadari perubahan pada sikap temannya menatap bingung dan heran.


Meskipun bukan dirinya yang menyadari hal itu, siapa pun yang melihatnya juga akan memberikan kesan yang sama. Karena biasanya Suryadi selalu menunjukkan wajah berserinya di depan orang-orang dan akan mengganggu Yoz seperti meledek, menepuk keras, atau gangguan lain yang biasanya dia lancarkan ke teman sebangkunya.


Namun kali ini pemuda itu hanya berjalan menuju ke kursinya dengan ekspresi murung sambil melihat sekilas ke arah Yoz dengan tatapan aneh, kemudian duduk di kursinya dan mengabaikan Yoz yang sedang menatapnya bertanya-tanya. Setelah beberapa saat, dirinya pun menghela napas dalam-dalam lalu bertanya kepada pemuda berjaket merah itu.


“Yoz, apakah kau kemarin bertemu dengan Arda?”


“Eh?! Ah—Aku sempat bertemu dengannya kemarin, saat aku hendak pulang,” jawab Yoz terkejut karena pertanyaan tiba-tiba Suryadi, “memangnya kenapa?”


“Ah… tidak ada apa-apa, cuma penasaran saja karena aku belum melihatnya hari ini.”


“Kalau soal itu, sebenarnya dia sudah tak terlihat di sekolah sejak kemarin karena ada urusan…. Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak masuk sekolah kemarin?”


“Aku trauma dengan kejadian tiga hari yang lalu sampai-sampai sakit, makanya kemarin aku tidak masuk sekolah. Apalagi kemarin juga muncul monster di dekat rumahku.”


“Begitu…” balas datar Yoz lalu merogoh tasnya untuk mengambil buku dan alat tulis. Ketika ia sedang mengambil salah satu buku, tiba-tiba dirinya teringat akan sesuatu dan langsung bertanya kepada Suryadi.


“Ah iya, apa kau sudah dapat kelompok buat pelajaran Sosial?” tanyanya.


“Eh… kemarin aku sempat diajak sama Alvin buat masuk ke kelompoknya, sih… sebenarnya aku mau mengajak kamu juga, tapi kelompoknya ternyata sudah penuh,” jawab Suryadi sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Ekspresi murungnya sudah tak terlihat lagi setelah Yoz bertanya soal kelompok tugas, kini yang terlihat di wajahnya adalah wajah yang penuh semangat dan ceria seperti biasanya. Yoz yang menyadarinya pun tidak mengambil pusing hal itu, tapi ada satu hal yang membuat dirinya kesal.


“Dan kau tetap masuk ke kelompoknya meskipun sudah tahu aku belum mendapatkan kelompok?” tanya Yoz dengan wajah malasnya.


Suryadi yang tak menyadari kalau temannya sedang kesal hanya membalas dengan polosnya, “Iya, memangnya kenapa?"


“Lalu bagaimana denganku?”


“Ya, maaf… mau bagaimana lagi? Aku mana mungkin menolak tawaran Alvin. Bagaimana kalau kucarikan kelompok untuk—”


“Tidak perlu!” potong Yoz, “Lantas kenapa kau tidak berkumpul bersama Alvin saja daripada duduk di sini?”


“Hei! Kau tidak perlu sampai marah seperti itu hanya karena tidak dapat kelompok—Ya, sudahlah!” balas Suryadi kesal lalu membuang muka.


Saat itu bisa dikatakan situasi yang kritis, Yoz berada dalam situasi di mana setiap ucapan yang dia katakan dapat membuat pertengkaran tersebut kembali berlanjut. Dia pun akhirnya memilih untuk diam meskipun sebenarnya dia juga merasa kesal.


Di sisi lain, Pami dan Shela beranjak dari kursi masing-masing dan mendatangi Yoz tanpa mengetahui bahwa sedang terjadi ketegangan di tempat itu. Siswa asing yang bernama Riki tadi langsung meninggalkan kelas sambil melambaikan tangan ke arah mereka berdua, Shela pun membalasnya dengan lambaian kecil sedangkan Pami mendatangi Yoz.


“Ro, surat yang kamu pegang tadi surat milik siapa?” tanya Pami.


“Huh?! Kurasa kau harus memeriksanya sendiri,” jawab Yoz lalu menoleh ke arah meja guru.


Pami pun langsung pergi menuju ke meja guru untuk memeriksa surat yang ternyata berasal dari Nia. Kebetulan surat itu tidak tersegel oleh lem maupun selotip sehingga tidak perlu merobek bagian tepinya.


Tanpa bersusah payah, Pami langsung membuka surat itu lalu membaca isinya. Seketika wajahnya berubah setelah selesai membaca isi surat tersebut, membuat Shela, Yoz, bahkan Suryadi menatapnya heran.


“Pffttt—hahahaha…” tawa Pami terbahak-bahak.


“Kenapa orang itu ketawa seperti orang gila?” celetuk Suryadi.


“Iya, ada apa?” sambung Shela.


“Orang aneh…” timpal Yoz.


“Men… cret…” jawab Pami pelan kemudian kembali tertawa.


Shela pun ikut tertawa sambil menutupi mulutnya dengan tangan setelah mengerti maksudnya.


Yoz yang juga paham berusaha menahan ekspresinya, namun mulut dan matanya bergetar seolah ingin ikutan tertawa membuat wajahnya terlihat seperti orang bodoh.


Sedangkan Suryadi hanya terdiam sembari kebingungan melihat ketiga orang di sekitarnya tertawa. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Suryadi. Dirinya pun langsung memanggil Yoz tanpa mempedulikan konflik yang terjadi di antara mereka berdua sebelumnya.


“Yoz!”


“—Aku tidak tertawa,” balas Yoz kaget sambil membuang muka agar Suryadi tak melihat wajah bodohnya barusan.


“Hah?”


“Lupakan, apa yang ingin kau katakan?”


“Aku ada ide! Kenapa kau tidak masuk ke kelompok Nia saja? Seingatku kelompoknya Nia baru tiga orang, berarti masih tersisa satu orang lagi, bukan?” saran Suryadi.


“Ah… mungkin akan kupikirkan lagi…” balas Yoz yang terlihat seperti menolak saran itu.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


“Jadi bagaimana perasaanmu, Bapak Yoz yang terhormat?”


Suryadi berkata setelah akhirnya menahan napasnya dari tertawa terlalu banyak. Dirinya kini sedang berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama temannya setelah bel terakhir sekolah berbunyi.


Tanpa sadar, Yoz memasang wajah cemberut lalu menatap ke arah secarik kertas yang ada di tangannya.


“Gang Kresion 2? Rumah berwarna biru?” ucap Yoz membaca tulisan yang ada di kertas tersebut sambil mengernyitkan alis.


“Humm… rumahnya Shela ternyata cukup dekat dengan sekolah, ya?” celetuk Suryadi mengintip tulisan kertas yang dipegang oleh temannya.


Yoz mendapatkan kertas itu dari Shela setelah dirinya setuju untuk kerja kelompok di rumah gadis itu.


Sebenarnya terdengar cukup konyol, padahal Yoz sudah menolak saran Suryadi namun saran itu justru menjadi sebuah kenyataan. Inilah yang membuat Suryadi terus-terusan tertawa sebelumnya.


Hal itu terjadi karena seluruh siswa sudah mendapatkan kelompok mereka masing-masing. Bahkan seluruh kelompok sudah terisi penuh kecuali kelompok Nia, oleh karena itu guru meminta Yoz untuk masuk ke dalam kelompok Nia.


Dirinya mau tidak mau harus menuruti ucapan gurunya dan masuk ke dalam kelompok Nia meskipun dia tidak terlalu keberatan dengan hal itu.


“Semoga kau tidak tersesat saat mencari rumahnya,” ucap Suryadi sambil tersenyum meledek.


“Huh… merepotkan saja…” balas Yoz setelah menghela napas.


“Jika denganku, kau bisa saja bersikap acuh tak acuh, tapi jangan lakukan hal itu terhadap dua gadis ramah dan juga si Robot, ya!” komentar Suryadi sambil memukul pelan pundak Yoz.


“Apa maksudmu?” tanya Yoz lesu.


“Maksudku, janganlah terlalu kaku dengan mereka bertiga. Lebih terbukalah terhadap orang lain selain keluargamu dan juga aku—kalau begitu, sampai jumpa!” kata Suryadi sambil menjauh dan melambaikan tangan pada Yoz.


Saat dia sudah berjalan cukup jauh, dirinya berhenti sejenak dan menoleh ke arah temannya dengan wajah serius, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya meninggalkan Yoz yang masih sibuk menatap kertas di tangannya.


Sedangkan Yoz pun langsung berjalan berlawanan arah dengan Suryadi untuk menuju ke rumah Shela, mengikuti petunjuk yang ada di kertas sambil melihat papan nama jalan memastikan agar dirinya tak tersesat.


Sesekali dia melihat ke arah jalan raya dan gedung-gedung di depannya, entah mengapa dirinya merasa ada yang berbeda dengan pemandangan di hadapannya namun tak mengetahui apa yang berbeda.


Ketika Yoz tiba di depan salah satu gang sempit, dia kembali memastikan arah jalannya dengan melihat papan nama jalan dan ternyata dia berada lokasi yang tepat. Tanpa mengulur waktu, ia langsung memasuki gang tersebut seraya menyebutkan warna rumah Shela berkali-kali.


Pada akhirnya, dia menemukan tempat tujuannya yang tidak lain adalah rumahnya Shela, sebuah rumah sederhana berwarna biru persis seperti yang tertulis di kertas.


Entah mengapa Yoz merasa tidak asing dengan rumah itu dan sekitarnya, seakan pernah mengunjungi tempat itu tapi ia tak bisa mengingat kapan.


Dengan pintu yang terbuka, Yoz bisa melihat sudah ada tiga orang di dalamnya. Salah dari mereka adalah pemuda besar dengan hoodie lengan pendek berwarna biru sedang termenung yang tidak lain adalah Pami.


Kemudian gadis berkacamata yang mengenakan sweater berwarna merah jambu adalah Nia.


Terakhir, gadis dengan model rambut cepol rapi serta mengenakan kaos panjang berwarna putih adalah Shela.


Melihat Yoz yang sudah tiba, Shela pun segera menyambutnya dengan hangat dan mengajaknya untuk masuk ke dalam. Meskipun berhadapan dengan orang seperti Yoz, gadis itu tetap bersikap baik dan ramah terhadapnya.


Sepertinya hati si Pesimis itu mulai sedikit tergerak oleh hal sikap Shela. Sesampainya di dalam, sang tuan rumah mempersilahkan Yoz untuk duduk sedangkan dirinya pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu.


Yoz pun duduk bersila mengikuti kedua temannya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Nia terlihat hanya duduk terdiam sambil menatap ke bawah, dirinya beberapa kali menoleh ke arah dapur seperti menunggu Shela keluar, sedangkan Pami hanya termenung sama seperti tadi.


Yoz pun berusaha mencoba membuka pembicaraan karena teringat nasihat Suryadi sebelum mereka berdua berpisah.


“Bagaimana dengan kondisimu?” tanya Yoz ke Nia.


Nia yang kaget karena ditanya tiba-tiba langsung mendongak ke depan dan memberikan senyumnya sembari menjawab, “Sudah agak mendingan, kok.”


“Syukurlah… ada baiknya kau jangan terlalu sering memakan makanan pedas,” saran Yoz sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum yang hasilnya malah membuat wajahnya terlihat seram.


Seketika wajah Nia memerah malu, dirinya kembali menatap ke bawah seperti tak berani menatap lawan bicaranya, membuat Yoz terkejut dan berpikir apakah ada yang salah dengan ucapannya.


“K-kau m-membaca s-surat itu?” tanya Nia tergagap.


Yoz tidak membalas apa pun setelah itu dan hanya menunjuk Pami yang masih termenung di sampingnya seolah hendak memberitahukan kalau pemuda itu adalah pelaku yang membaca surat miliknya.


Nia yang paham langsung menatap tajam Pami, namun pemuda itu tak memberikan respon apa pun seolah jiwanya sedang tidak berada di sana, membuat Nia berubah menjadi menatap heran sedangkan Yoz menatapnya dengan sikap acuh tak acuh.


Tak lama setelah itu, Shela pun keluar dari dapur sambil membawa beberapa cemilan ke meja, perhatian Nia dan Yoz kepada Pami pun teralihkan oleh kemunculannya.


Sang tuan rumah langsung mengambil posisi di samping Nia sambil meletakkan cemilan yang telah dia ambil di meja, lalu melemparkan pandangan ke yang lain. Gadis itu pun menepuk tangan meminta perhatian semuanya.


“Baik, ayo kita mulai!”


Nia membalas antusias dengan mengangkat tangannya sambil bersuara lantang, Yoz hanya menjawab ‘ya’ dengan nada yang sangat datar, dan Pami masih termenung sama seperti tadi sampai-sampai Yoz berpikir apakah ada jenis monster dengan wujud roh yang mampu merasuki seseorang dalam kondisi termenung.


Mereka semua kecuali Pami langsung mengeluarkan buku masing-masing dan diletakkan ke meja, lalu memulai tugas kelompok mereka sambil menikmati cemilan yang sudah tersedia.


Meskipun disebut sebagai kerja kelompok, nyatanya yang berdiskusi hanyalah Nia dan Shela, sedangkan Yoz hanya mengamati mereka berdua dengan wajah bosannya.


Bukan tanpa alasan, kedua gadis itu saling berbincang akrab namun membahas topik yang berada di luar konteks topik yang sebenarnya.


Inilah yang menbuat Yoz sangat membenci tugas yang berkaitan dengan kerja kelompok, sebab pada akhirnya yang mengerjakan semua tugas itu adalah Yoz sendiri.


“Eh… kamu sudah nonton video terbaru Kak MiauChese belum? Yang permainan kartu itu, loh!” tanya Shela.


“Aku ada nonton, sih… sepertinya permainan kartunya kelihatan seru. Seandainya saja kita bisa main permainan itu, ya…” jawab Nia sambil menatap ke atas berandai-andai.


‘Mereka berdua juga menonton video MiauChese?’


Yoz yang mendengar pembicaraan mereka berdua pun menjadi tertarik. Pasalnya, dia adalah salah satu orang yang sering menonton video-video dari streamer terkenal yang Nia dan Shela sebut barusan, MiawChese.


Bahkan kebetulan Yoz sempat menonton salah satu video yang isinya persis seperti yang kedua gadis itu bicarakan.


Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba saja dia mendapatkan suatu ide di kepalanya. Tanpa disadari, sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya, namun senyuman itu kembali menghilang ketika dirinya menoleh ke arah Pami yang masih termenung hingga sekarang.


Dia pun mencoba memudarkan lamunan Pami dengan cara memegang bahunya, namun tidak ada respon dari pemuda tersebut.


Perbincangan Nia dan Shela juga terhenti karena menyadari teman mereka terus-terusan termenung, bahkan mereka berdua sampai harus turun tangan untuk menyadarkannya.


“Jay, Kamu kenapa?” tanya Shela panik.


‘Jay?’ Yoz bertanya dalam hati sambil mengangkat sebelah alisnya.


Nia dan Shela terus berusaha menyadarkan temannya, berselang satu menit Pami pun akhirnya membalas dengan suara terbata-bata.


‘A-aku….”


“Ceritakan saja ada masalah apa?” sahut Nia.


“Kalian coba bayangkan, pada saat kalian duduk santai di teras rumah, tiba-tiba ada ojek online lewat di depanmu sambil membawa HP dengan ringtone lagu Doraemon…” jelas Pami dengan wajah traumanya seakan-akan tak bisa melupakan kejadian itu.


‘Cerita bodoh macam apa itu…?’ pikir Yoz menatap sinis.


“Pffttt… sungguh hal yang tak pernah terlukis di benakku…” balas Nia yang bersusah payah menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya.


Shela hanya memasang wajah senyumnya kepada Pami. Meskipun yang terlihat di wajahnya adalah sebuah senyuman, Yoz bisa merasakan seperti ada hawa membunuh pada gadis itu.


Sedangkan itu, Nia yang sudah tak bisa membendung tawanya karena terus memikirkan cerita Pami akhirnya melepaskan gelaknya, bahkan suara tawa dari gadis berkacamata itu membuat Shela yang awalnya kesal dan Pami yang trauma mulai ikutan tertawa bersamanya.


‘Hei! Hei! Bagaimana bisa kalian bertiga sebahagia ini hanya karena mendengar cerita bodoh itu?’


Yoz menatap heran melihat ketiga orang itu tertawa bersama-sama, padahal dirinya tidak merasakan ada yang lucu dari cerita itu, dirinya terlihat seperti figuran di antara ketiga orang tersebut.


Dia pun hanya bisa menyandarkan kepalanya ke tangan dengan ekspresi wajah malas, menunggu ketiga orang itu berhenti tertawa.


Setelah puas tertawa, mereka bertiga pun akhirnya kembali melanjutkan tugas kelompok dengan serius, bahkan mereka berdiskusi dengan baik meskipun diselingi dengan canda gurau.


Membuat Yoz merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk terhadap mereka bertiga sebelumnya, menurutnya ini untuk pertama kali ia merasakan arti dari kerja kelompok yang sebenarnya setelah melihat keseriusan ketiga serangkai itu.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 14: BlackJack 21 (2)