
Arda berlari terhuyung-huyung dalam suasana yang mencekam, dirinya bisa mendengar langkah kaki Turpin yang mengejar dirinya.
Napasnya mulai tidak teratur karena perasaan paniknya, dia berlari tanpa arah tujuan karena tak mampu berpikir jernih. Mulai dari kaki, tangan, bahkan badannya merasakan sakit yang luar biasa, bahkan terdengar sedikit suara tulang yang retak. Tapi, dia tetap memaksakan tubuhnya untuk terus berlari dengan napas terengah-engah.
Arda berhenti sejenak untuk mengambil napas, terlihat di jalan raya dipadati oleh kendaraan yang berbaris namun tanpa ada pengemudi di dalamnya, tempat itu benar-benar tidak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya sendiri dan sosok di belakangnya.
Bahkan pintu dan jendela bangunan-bangunan di sekitarnya tertutup rapat seperti terkunci dari dalam. Arda mencoba berteriak kepada orang-orang yang mungkin masih berada di dalamnya, namun tidak ada siapa pun yang merespon seakan kehadirannya tidak diterima di tempat itu.
Mengetahui dirinya tak direspon, Arda kembali berlari sambil memegang lengannya yang terlihat lemas dan kesakitan. Dia sudah tak peduli apakah jaraknya dengan Turpin semakin dekat atau semakin jauh. Yang dia lakukan hanyalah menatap teliti sekitarnya berusaha mencari tempat untuk bersembunyi, setidaknya bisa memberi dirinya waktu untuk beristirahat sejenak.
Jauh di hadapannya, terlihat sebuah bangunan yang terasa familiar di ingatannya. Setelah mengingat-ingat dengan keras, sebuah jawaban segera terucapkan di mulutnya.
“SMP Gampat!?”
Sepercik harapan pun muncul ketika ia melihat bangunan itu. Mengingat insiden penyerangan monster di sekolah sebelumnya membuat polisi melakukan penjagaan di sekitaran lokasi, dia langsung menambah kecepatan lajunya meskipun tak meningkat drastis, namun yang dia dapati hanyalah tempat yang kosong tanpa ada siapa pun di sana.
Dari kejauhan di belakangnya, sosok yang mengejarnya kembali meneriakkan kalimat yang membuat dirinya kembali kehilangan harapan.
“JIKA KAU INGIN MEMINTA BANTUAN KEPADA PARA POLISI YANG BERJAGA DI SANA, MUNGKIN KAU HARUS MENDATANGI MAYAT-MAYAT MEREKA YANG SUDAH MATI TERBAKAR TADI!”
Menyadari bahwa polisi yang ditugaskan untuk berjaga di sekitar sekolah adalah polisi yang datang membantunya tadi, suara lirih keputusasaan Arda kembali terdengar.
“T-tidak... mungkin….”
Mungkin sudah tidak ada lagi harapan untuknya, namun dia tetap pantang menyerah. Dia buru-buru memasuki gang kecil yang ada di samping sekolah itu, memanfaatkan keuntungan gang yang berbelok-belok seperti labirin untuk mengecoh musuhnya.
Tidak hanya di jalan raya, bahkan gang kecil yang dimasukinya juga sepi tanpa ada satu orang pun yang lewat. Membuat dirinya berpikir apakah tidak ada satu pahlawan pun yang datang untuk membantunya?
Dia melirik ke arah rumah-rumah yang dilaluinya, terlihat ada orang-orang melihat Arda dari balik jendela. Akan tetapi, begitu mereka menyadari diri mereka dilihat oleh Arda, orang-orang itu langsung menutup tirai tak mempedulikan kondisi Arda yang kini sedang berjuang menghadapi kematian yang mengejarnya.
Hal itu membuat Arda mulai merasa bahwa tidak ada siapa pun yang peduli dengan nasib mereka yang tengah berjuang demi kedamaian, bahkan ucapan Yoz sebelum mereka berpisah mulai mempengaruhi pikirannya.
Namun, dia berusaha melawan pengaruh buruk yang menyerang pikirannya dengan terus berpikir optimis terhadap orang-orang yang mengabaikannya barusan.
Sedangkan itu, Turpin yang baru memasuki gang ternyata kehilangan jejak Arda dan mulai kebingungan mencari keberadaannya. Meski begitu, dia seakan tidak menyesal terhadap kecerobohannya.
Bahkan kali ini dia mulai melakukan sesuatu yang mungkin bisa menjawab alasannya tetap santai meskipun telah melakukan kesalahan tersebut.
Dia kembali mengambil topinya lalu mencari sesuatu di dalam benda putih itu. Tak memakan waktu cukup lama, dia mengeluarkan sebuah drone berukuran kecil lalu dilepaskan melayang di udara.
Alasan alat itu diterbangkan ke langit tidak lain adalah untuk melacak keberadaan Arda dari atas.
Kembali kepada Arda yang masih berlari hendak mencari bantuan, tapi sayang tidak ada satu pun hal yang dapat menjawab harapannya. Jika seandainya dia berteriak untuk meminta bantuan, tentu saja keberadaannya akan langsung diketahui oleh Turpin. Hal itu sama saja seperti menyerahkan diri kepada musuh atau sederhananya sama saja seperti bunuh diri.
“!”
Di tengah-tengah pelariannya, tiba-tiba Arda mendeteksi keberadaan dari sesuatu yang sedang mendekatinya dari belakang.
Sebagai informasi, sebenarnya Arda memiliki insting yang kuat untuk mendeteksi keberadaan entitas yang mendekatinya. Oleh sebab itu, dia bisa merasakan keberadaan monster bernama Pison beberapa hari yang lalu yang muncul di sekolah meskipun makhluk itu muncul secara diam-diam dari dalam tanah.
Arda mulai bersikap waspada karena mengira entitas yang mendekatinya adalah Turpin. Di saat menoleh ke belakang, yang dia lihat justru sebuah drone yang terbang di atasnya dan kini sedang menuju ke arahnya.
Menduga kalau drone itu mungkin adalah bantuan dari HSO yang telah tiba dan ingin menurunkan airdrop, dia segera mendatangi drone tersebut dengan perasaan lega.
「Ketemu kau!」
Namun secara tiba-tiba, sebuah misil muncul dari landing skid drone tersebut dan dilepaskan meluncur ke Arda. Arda yang menyadari drone itu bukan berasal dari HSO terkejut bukan main dan langsung kembali berlari dari misil yang melesat ke arahnya.
Bahkan yang lebih buruk lagi, tenyata misil tersebut mampu mengejar Arda ke mana pun dia pergi seakan mempunyai kesadaran sendiri.
Penderitaannya tak berhenti hanya sampai di situ. Setelah Turpin yang sedang memburunya, lalu drone yang mengejarnya dengan tembakan misil, sekarang di hadapannya muncul sesosok monster yang menyerupai manusia tumbuhan berukuran raksasa yang ukurannya hampir menyamai sebuah rumah.
Monster itu sedang berjalan lamban seperti sedang mencari makhluk hidup untuk diburu, terutama manusia. Mungkin keberadaan monster itulah yang menjadi alasan mengapa pada kejadian sebelumnya sirine peringatan berbunyi.
Bahkan juga menjawab alasan mengapa orang-orang justru lebih memilih bersembunyi di dalam rumah dibanding pergi ke ruang evakuasi meskipun mengetahui kalau monster muncul.
Karena rupanya makhluk itu memiliki pergerakan yang lamban dan tidak terlalu agresif, tidak seperti monster-monster lainnya yang akan merusak bangunan dan fasilitas untuk mencari manusia yang bersembunyi.
Monster tersebut yang menyadari Arda sedang berlari menuju mendekatinya langsung berjalan ke arah si pahlawan dengan lamban sembari melebarkan lengannya, seakan siap menangkap pahlawan itu dengan tangannya.
Jelas Arda tidak bisa berbalik arah karena misil yang ada di belakangnya memaksa dia untuk terus berlari lurus ke depan. Sambil berpikir keras dalam kondisi yang sedang terpojok, dalam sepersekian detik tiba-tiba dia mendapatkan sebuah ide untuk menghadapi masalah tersebut.
Dia pun mulai melaksanakan rencananya dengan meningkatkan laju larinya sembari melakukan gerakan kecil yang memancing makhluk raksasa di hadapannya semakin mendekat.
Saat monster itu akan menangkapnya, Arda dengan cepat meluncur melewati celah di antara dua kaki monster tersebut. Sementara misil yang berada di belakang menabrak monster itu lalu meledak.
Rencananya berhasil dengan monster di belakangnya yang terbakar hebat, Arda pun mengambil napas sejenak lalu kembali berdiri karena masih ada drone yang mencari keberadaannya.
Tapi beruntungnya, drone tersebut ternyata kehilangan keberadaan Arda akibat kabut yang timbul dari terbakarnya mayat monster besar tadi. Membuat benda itu menelusuri gang dari atas tanpa arah dan menjauh.
Arda yang menyadari hal itu bernapas lega senang dan berjalan pelan karena dirinya mulai mencapai batas.
Setelah beberapa langkah, dia pun terjatuh lemah karena terlalu memaksakan tubuhnya yang sedang terluka parah.
Dengan sisa-sisa tenaganya, dia menggerakkan matanya memandangi kabut dibelakangnya yang semakin memudar. Berpikir cepat atau lambat dirinya pasti akan ditemukan oleh musuh.
Dengan suara parau, dia tersenyum lemah lalu berkata, “Sepertinya aku tidak akan lolos kali ini….”
Setelah mengatakan hal itu, pandangannya mulai berubah menjadi gelap. Sesaat sebelum kesadarannya mulai menghilang, terdengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekatinya dan meraih dirinya.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
“—Arda! Arda! Bangun! Bangunlah…!”
Si pemilik nama masih belum bisa melihat apa-apa, namun suara itu bisa terdengar di telinganya. Bahkan semakin lama suara yang terus memanggil namanya semakin terdengar jelas.
‘Apakah aku berada di alam lain?’
Bergumam dengan suara pelan, Arda yang masih setengah sadar perlahan-lahan mulai membuka mata. Wajahnya yang menatap ke bawah mulai tersentak ke atas begitu menyadari dirinya sedang bersandar di tembok.
Dia berusaha memusatkan fokus pandangannya yang masih kabur untuk melihat sosok yang terus memanggil namanya.
Sedangkan pelaku dari suara itu terus memanggil Arda sambil memegang bahunya yang masih lemas.
Saat pandangannya mulai membaik, wajah orang itu mulai terlihat jelas. Dengan ingatan samar-samar, Arda berusaha mengingat kembali wajah orang yang terlihat familiar di ingatannya.
“Syukurlah…” ucap orang itu bernapas lega begitu melihat Arda sudah siuman.
“—Suryadi?!”
Arda terkejut begitu melihat orang di hadapannya adalah Suryadi. Segera dia memperhatikan sekelilingnya dan mendapati dirinya terbangun di halaman rumah tempat tinggal Suryadi, tempat yang pernah dia lihat ketika sedang mengikuti Yoz secara diam-diam beberapa hari yang lalu.
Sang pahlawan nampak masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi sebelumnya, mungkin karena baru saja bangun dari pingsannya.
Dia tidak bisa berpikir jernih untuk sesaat, namun ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Mengapa Suryadi berada di luar rumah meskipun sudah mendengar suara sirine peringatan berbunyi?
“Ugh… a-apa yang telah terjadi?”
“Beberapa menit yang lalu aku mendengar suara ledakan yang cukup keras. Saat aku keluar rumah untuk memeriksa, secara tidak sengaja aku melihat kau tersungkur, jadi aku membawamu ke halaman rumahku…
“Maaf karena tidak bisa membawamu masuk ke dalam rumahku, karena aku tidak boleh membawa orang sembarang masuk ke rumah…” balas Suryadi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Begitu….”
Melihat Arda yang sudah bisa membalasnya membuat Suryadi kembali bernapas lega sambil mengelus dada, dia langsung bertanya hal yang terus mengganggu pikirannya sedari tadi.
“Ngomong-ngomong… mengapa kau bisa pingsan di depan rumahku? Apa kau habis bertarung dengan monster?”
Ketika mendengar ucapan Suryadi, seketika wajah Arya seperti orang yang baru saja tersambar petir. Dirinya baru mengingat jika Turpin masih mencari dirinya. Ekspresi serius Arda membuat Suryadi menjadi tegang dan kebingungan.
“Eh? Ada apa? Apakah pertanyaanku salah?”
“—Suryadi, apa kau sedang bersama Yoz sekarang?”
“Heh!? Tidak… memangnya kenapa?”
Warna pada wajah Arda segera hilang kembali setelah dirinya mendengar jawaban itu. Dia kembali menunduk lesu begitu mengetahui bahwa Yoz sedang tidak bersama dengan Suryadi, padahal dirinya sangat berharap untuk bertemu dengan pemuda itu.
“Sial! Tidak tidak ada waktu lagi!”
“Hah?” Suryadi memiringkan kepala heran.
“Mau bagaimana lagi… akan aku jelaskan semuanya….”
Arda segera menjelaskan alasan dia bisa pingsan di depan rumah Suryadi sekaligus menceritakan semua informasi yang dia peroleh dari Turpin dengan singkat, padat, dan jelas.
Suryadi yang mendengar hal itu terkejut bukan main, seluruh pertanyaan dalam benaknya tentang apa yang Yoz sembunyikan darinya selama ini sudah dijawab oleh cerita Arda.
Cerita barusan seolah menampar keras wajahnya, menyebabkan dirinya mulai memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Begitu rupanya…” balas Suryadi paham.
“—Aku serahkan semuanya kepadamu! Tolong hentikan dia!” pinta Arda.
Suryadi pun hanya menganggukkan kepala seperti berkata ‘iya’ kepada Arda, meskipun wajahnya terlihat sedikit ragu.
“Terima kasih… aku mengandalkan dirimu!” Arda tersenyum lega.
Setelah berterimakasih, dia segera bangkit berdiri dengan tubuh yang masih gemetar.
Sedangkan Suryadi sama sekali tidak membantu Arda untuk berdiri meskipun dirinya melihat jelas si pahlawan berusaha setengah mati untuk berdiri, seolah jiwanya sedang tidak berada di sana. Dia hanya diam termenung di seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Tapi… kenapa harus aku?” tanya Suryadi tiba-tiba dengan ragu.
Arda yang hendak pergi meninggalkan tempat itu seketika menghentikan langkahnya begitu mendengar pertanyaan Suryadi.
“Karena kau temannya, bukan? Meskipun dirimu melaporkan semua informasi itu kepada kepolisian maupun kepada pihak pahlawan, mereka semua tak akan percaya begitu saja.”
“Lalu—kenapa tidak kau saja?”
“Aku tak bisa melakukannya karena sekarang aku sedang dikejar oleh—”
“Ada apa?”
Belum Arda menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja dari ujung langit muncul drone yang sebelumnya mengejar dirinya dan sedang terbang menuju ke lokasi mereka berdua.
“Drone itu…. Tcih!—Segera masuk ke rumah!” perintah Arda
“A-apa? Apa ada monster?!” tanya Suryadi terkejut lalu melihat sekelilingnya dengan waspada.
“Ada musuh yang sedang menuju ke sini. Cepatlah!” desak Arda.
“T-tapi… bagaimana dengan—”
Tiba-tiba Arda memegang bahu Suryadi dengan erat lalu menatapnya dengan serius sebelum pemuda berkemeja jingga itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Di, jika dirimu tertangkap, maka semuanya akan berakhir! Untuk sekarang, hanya kau satu-satunya yang bisa aku andalkan sekarang!”
Suryadi yang mendengar kalimat itu akhirnya sadar bahwa ada sebuah harapan yang terukir di wajah Arda. Bahkan kali ini dia terlihat bersemangat dan antusias seraya tersenyum.
“Baiklah! Kau juga segera pergi dari sini dan berhati-hatilah!”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Suryadi masuk ke dalam rumah meninggalkan Arda.
Sedangkan Arda yang melihat antusias dari orang itu tanpa sadar menunjukkan senyum terbaiknya, seketika tekadnya kembali berkobar hebat.
“Tentu saja!” ucap Arya lalu langsung pergi.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Suara baling-baling dari drone yang sedang terbang merambat di udara dan sampai di telinganya. Arda yang sudah berlari cukup jauh dari rumah Suryadi kini sedang dikejar oleh drone milik Turpin.
Tapi anehnya, pesawat kecil itu hanya mengejar Arda tanpa menembakkan misil seperti sebelumnya. Entah kenapa firasat buruk tiba-tiba muncul di benak Arda.
Tapi apa pedulinya? Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah terus memancing benda itu menjauh dari lokasi rumah Suryadi berada.
Jauh di depannya, sudah terlihat ujung dari gang yang akan menembus ke arah jalan raya. Akan tetapi, dia tidak berniat untuk keluar dari dalam gang karena akan membuat dirinya lebih mudah terlihat, dia justru berencana untuk berbelok guna mengecoh drone di belakangnya.
Sayangnya, ketika dia hendak berbelok ke arah kiri, mimpi buruk yang sebenarnya telah muncul. Ternyata di belokan itu muncul Turpin yang berjalan santai menghadangnya.
Arda yang panik setelah melihat Turpin segera memutar balik pelariannya, namun langkahnya terhenti karena drone yang ada di belakangnya langsung mengeluarkan misil dan siap menembak jika dia bergerak.
Arda yang merasa sudah terpojok hampir tidak bisa berpikir jernih. Sebenarnya dia sudah cukup tenang karena telah menyerahkan sisanya kepada Suryadi, namun dia kurang yakin apakah anak itu akan berhasil? Mau bagaimana pun juga, bertahan hidup merupakan hal yang mendasar dalam sebuah pertarungan.
‘Jangan terus-terusan bergantung terhadap orang lain dalam segala hal. Akan ada saat di mana kau sendirian dan hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri’
Lagi-lagi kalimat yang sama kembali terlintas lagi di benaknya di saat situasinya yang seperti ini. Dengan kondisi yang semakin melemah dan posisi terpojok, Arda tersenyum tipis sembari berbicara pelan sendiri.
“Sial! Kau mengatakan hal itu sebelum kita berpisah…. Kau ini semacam penerawang atau apa? Seakan-akan mengetahui kalau aku benar-benar akan terpojok seperti ini?”
“Permainan Hide & Seek-mu sudah berakhir sampai di sini! Sekarang apa yang akan kau lakukan?” Turpin menyeletuk.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 12: Pertarungan Belum Berakhir!