100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 6: One Hundred Impact



Yoz dan Pison pun saling berhadapan di tengah lapangan, sedangkan Arda dan Suryadi hanya memperhatikan dari kejauhan.


Penampilan keduanya nampak kontras sebab Yoz adalah manusia sedangkan Pison adalah monster. Mau dilihat bagaimana pun, manusia tidak akan bisa menang melawan monster.


Tatapan tajam menusuk di antara keduanya saling bertemu seakan kedua pihak saling berusaha mengintimidasi. Si monster mulai menunjukkan semangatnya setelah melihat ekspresi Yoz yang mulai serius untuk menghadapinya.


“Hahahaha—akhirnya kau mulai serius menghadapiku. Mari kita lihat seperti apa ancaman yang ada pada dirimu sampai-sampai aku ditugaskan untuk membunuhmu…” seru si monster yang mulai bersemangat.


“Langsung ke intinya saja! Katakan, siapa yang menciptakanmu? Apakah yang menciptakanmu adalah seorang manusia?” tanya Yoz penasaran.


“Aku juga tidak tahu pasti soal itu. Yang aku tahu, dia merupakan sosok yang kuat. Bahkan jika kalian dan seluruh dunia bersatu untuk melawannya, kalian semua tetap tidak memiliki sedikit pun kesempatan untuk menang,” cetus monster itu tertawa.


Pada waktu yang bersamaan, dua orang yang berada cukup jauh lokasi ternyata masih bisa mendengar percakapan tersebut. Rasa terkejut mereka muncul begitu mendengar ucapan dari si monster. Bagaimana tidak, sosok yang diceritakan oleh monster itu sepertinya merupakan sebuah ancaman yang serius dan mungkin akan mereka hadapi suatu saat.


Namun berbeda dengan Yoz yang merasa keheranan akan ucapan monster itu seakan ingin berkata ‘Hah?’ dan menaikkan sebelah alisnya. Dia pun menghela napas dan menggaruk kepala seakan sulit mencerna cerita tak masuk akal dari si monster.


“Jika dia memang kuat seperti yang kau jelaskan barusan, lantas mengapa dia harus memerintahkanmu untuk membunuhku? Kenapa tidak dia saja yang langsung turun tangan melakukannya?”


“Untuk apa seorang dewa harus mengotori tangannya sendiri hanya untuk mengurusi makhluk rendahan sepertimu?” jawab si monster.


“Lantas—apa ‘Aura' yang kau maksud itu?” tanya Yoz mengingat kembali salah satu kata aneh yang diucapkan oleh monster itu sebelumnya.


“Apa yang ada di dalam dirimu akan menjadi sebuah ancaman baginya. Oleh sebab itu…” balas si monster bernama Pison mulai membuka tangannya dan mengeluarkan cairan yang sama seperti sebelumnya, lalu mengarahkannya kepada Yoz sambil berteriak, “KAU HARUS DIBUNUH!!!!”


“Apa yang ada di dalam diriku?—“ tanya Yoz yang langsung bersiaga membuka kedua kakinya sejajar dengan bahu lalu sedikit membungkukkan badan.


Suara teriakan mengerikan monster itu seakan menjadi tanda bahwa pertarungan dimulai. Monster itu langsung meluncurkan banyak cairan aneh ke arah Yoz seperti peluru artileri yang ditembakkan ke targetnya.


Yoz dengan sigap berlari menghindari serangan-serangan luncuran tersebut dengan gesit. Sembari menghindar, dia berusaha mendekati si monster namun cairan-cairan yang terus ditembakkan membatasi pergerakannya sehingga dirinya terlihat kesulitan meraih si monster.


Memanfaatkan musuhnya yang semakin mendekat, Pison menghentikan tembakannya lalu mengubah pola serangan dengan mengayunkan lengannya memutar secara brutal, benda-benda sekitar yang terkena efek serangan itu seketika hancur tak tersisa.


Melihat serangan mematikan yang membabi buta itu, Yoz dengan cepat mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dan menjauh sampai keluar dari efek jangkauan serangan Pison. Serangan tanpa arah itu pada akhirnya menjadi menjadi sia-sia.


Merasa kesal karena serangannya tak berhasil, monster hijau itu menancapkan kedua lengannya ke tanah. Kedua tangan dari monster itu terlihat bergetar seakan sedang menabrak sesuatu di dalam tanah.


Yoz menyadari sesuatu mulai melihat ke arah tanah yang dia pijak. Retakan tanah yang ditimbulkan akibat pergerakan tangan Pison di dalam tanah membuat Yoz mengetahui kalau makhluk itu berusaha menyerang dari bawah, dia dengan mudah berlari menghindari semua serangan itu sehingga panjang tangan Pison mencapai batasnya.


Setelah beberapa menit berlalu, monster itu pun mulai kehabisan tenaga dengan nafas yang terengah-engah. Berbagai serangan sudah dilancarkan olehnya baik serangan fisik maupun serangan dari jarak jauh menggunakan cairan, tapi semuanya bisa diatasi dengan mudah oleh Yoz.


Sedangkan Yoz terlihat masih memiliki banyak sekali tenaga karena dia hanya terus-terusan menghindar, tentu hal itu bukanlah pekerjaan yang sulit.


Yoz pun tersenyum meledek ke arah Pison seperti memprovokasi.


“Sudah selesai?”


“Erhk…. Arrrgggghhhhhh…!!!!”


Pison menggeram penuh amarah lalu berlari sembari merubah tangan kanannya menjadi cakar-cakar besar yang tajam, siap menusuk apa pun yang ada di hadapannya.


Retakan tanah yang ditimbulkan oleh pijakan monster itu membekas cukup dalam seakan menandakan kalau monster itu berlari dengan tenaga yang besar.


Sedangkan Yoz kali ini hanya berdiri diam dengan posisi menundukkan kepala sambil tersenyum aneh, persis seperti kemarin.


“Hehe… setelah ini, aku pasti bakal berurusan dengan paman lagi….”


Suara langkah kaki dan teriakan dari monster itu semakin mendekat. Wajahnya yang awalnya menatap ke bawah tersentak ke depan memandangi monster yang berlari dan sudah mulai mendekatinya dengan tatapan serius.


“Tapi… untuk apa aku khawatir soal itu jika aku punya sebuah ide!” ucapnya.


“KALI INI HABISLAH KAU!!!!” geram monster itu sambil mengayunkan tangan runcingnya ke arah kepala Yoz.


Ketika tangan runcing itu sudah sangat dengan beberapa inci dari kepalanya, dengan sangat cepat Yoz menghindar dan melangkah berputar ke samping monster itu.


Kemudian kembali memasang kuda-kuda yang sempurna dan mengepalkan tangan siap melancarkan sebuah serangan ke arah si monster.


“Inilah cara teman jelekmu itu mati!”



Setelah nama teknik itu diucapkan, tiba-tiba saja Pison terkena serangan beruntun di seluruh tubuhnya, seakan menerima banyak hantaman yang tak terlihat saking cepatnya serangan itu.


“GHHAARRRHHHH!!!!!”


Teriakan monster yang kesakitan itu terdengar cukup keras ke seluruh area sekolah dengan disusulnya suara seperti ledakan yang juga terdengar sama kerasnya.


*Blam!*


Dampak serangan tadi benar-benar kuat sehingga menimbulkan tekanan angin yang sangat kencang menerbangkan debu-debu di sekitarnya.


Tubuh monster itu seketika hancur dengan menyisakan tangan runcing yang terlempar jauh beserta kaki yang masih berada di posisinya akibat tidak terkena efek serangan tadi.


Arda yang menyaksikan hal itu menatap dengan ekspresi terkejut tak percaya, matanya terbelalak lebar dan hampir tidak bisa berkata apa-apa.


“A—apa-apaan itu!?”


“Heh? Apa yang sudah terjadi? Aku tak bisa melihat apa-apa karena angin yang bertiup kencang,” sahut Suryadi menempatkan kedua tangan di wajahnya untuk berlindung dari debu-debu yang beterbangan akibat hembusan angin.


Setelah angin yang berhembus kuat itu mereda secara perlahan, pelaku dari efek serangan berjalan pelan menuju ke arah Arda dan Suryadi melewati debu-debu yang berterbangan akibat hembusan angin yang dibuatnya sembari menyeka bercak darah yang menempel di wajahnya.


“Arda!” panggil Yoz.


Sambil memegang lengannya yang terluka Arda membalas, “Hah?”


“Bisakah aku minta tolong padamu?”


Suryadi yang mendengar hal itu langsung menyipitkan mata ke arah temannya sembari membantu Arda untuk berdiri, dan seperti biasa dia mulai mengoceh kembali. “Hei, Yoz! Kau malah berkata seperti meskipun sudah melihat Arda yang sedang terluka. Sifatmu memang selalu begitu, ya?”


“Tidak apa-apa,” balas Arda ke Suryadi lalu melepaskan rangkulannya dan berjalan ke arah Yoz. “Kau ingin meminta tolong apa?”


Yoz langsung mendekati Arda dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Ketika Arda mendengar bisikan tersebut, wajahnya langsung terkejut keheranan dan bertanya-tanya, tapi dia memenuhi permintaan Yoz dan membalasnya dengan satu anggukan.


“Baiklah, akan aku lakukan….”


“—Tapi, bukan berarti urusan kita berdua berakhir sampai di sini!” tambah Arda.


“Ya, tentu saja. Masalah tidak akan terselesaikan hanya dengan rasa terima kasih.”


Suryadi yang merasa terabaikan mulai angkat bicara menyela percakapan mereka berdua tanpa mengetahui apa yang sedang mereka berdua bicarakan.


“Hei! Aku ada di sini! Apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?”


“Lebih baik kau tidak mengetahuinya,” sahut Yoz.


“Lagi-lagi kau berkata seperti itu!”


Suryadi terus-terusan mengomel membuat Yoz menggunakan tangannya untuk menutupi kedua telinganya yang terasa panas saat mendengar ocehan itu.


Sedangkan Arda yang melihatnya hanya bisa tertawa seakan telah melupakan kejadian barusan.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


‘Baiklah, semoga berhasil!’


Langit sudah berwarna jingga menandakan hari sudah semakin sore. Saat ini, Yoz sudah berada di depan pintu rumahnya.


Ketika menoleh ke arah kanan, sudah ada mobil mewah yang terparkir di depan garasi, menandakan Paman Hans pulang lebih cepat sama seperti kemarin.


Namun, kali ini tidak ada keraguan di dalam hatinya seakan sudah merencanakan sesuatu untuk mengantisipasi kejadian yang sama terulang kembali.


Yoz tanpa banyak pikir langsung memutar gagang pintu dan mendorongnya. Keadaan di dalam rumahnya sama persis seperti kemarin, semua ruangan nampak gelap kecuali ruangan tamu.


Ketika menuju ke ruang tamu, dia mendapati pamannya sudah ada di sana dan sedang duduk di sofa sambil menonton acara berita di TV, dan lagi-lagi persis seperti kemarin. Yang berbeda hanyalah siaran TV yang tidak terganggu sehingga kali ini bisa terlihat jelas berita yang sedang menyiarkan tentang penyerangan monster di SMP Gampat.


Ternyata rencananya berhasil, acara berita yang pamannya tonton menyiarkan sebuah berita palsu tentang Arda yang mengalahkan monster itu sendirian.


Semua kebohongan itu sebenarnya itu berawal dari ide Yoz untuk mengelabui pamannya.


Setelah kejadian penyerangan monster, para siswa terpaksa dipulangkan lebih awal oleh pihak sekolah untuk mengantisipasi hal buruk terjadi.


Pihak polisi dan pahlawan tiba di sekolah setelah seluruh siswa serta guru termasuk Yoz dan Suryadi kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan Arda segera pergi bersama pihak polisi dan pahlawan untuk membuat laporan palsu sesuai dengan permintaan Yoz.


Melihat ekspresi pamannya yang seperti percaya dengan berita palsu tersebut membuatnya langsung bernapas lega dan senang.


Setelah siaran berita itu berakhir, Paman Hans langsung mematikan TV dan menyadari Yoz sudah berada di belakangnya berkat pantulan layar TV yang hitam. Tanpa basa-basi seperti menanyakan kabar atau sejenisnya, pria tua itu langsung membalikkan kepala dan bertanya, “Tadi ada monster yang menyerang sekolahmu, bukan?”


“Ya, begitulah…” balas dingin Yoz.


“Apa kau terlibat dalam tragedi itu?” tanya Paman Hans dengan tatapan tajam mengancam.


“Tentu saja tidak. Paman bisa melihatnya, bukan? Berita tadi menyiarkan bahwa salah satu seorang pahlawan bernama Arda yang mengalahkan monster itu,” terang Yoz.


“Begitu, ya… baiklah, aku percaya dengan ucapanmu. Tapi, bisakah kau ke sini sebentar?”


Seraya tersenyum, pria tua itu langsung menunjuk ke arah sofa yang di samping kanannya seusai mengatakan kalimatnya, seperti mengisyaratkan Yoz untuk duduk.


Yoz menelengkan kepala sembari memasang wajah kebingungan. Tanpa mengajukan protes atau bertanya alasannya, dia segera duduk di sofa yang ditunjuk oleh pamannya.


“Semua persiapan kita sudah hampir selesai. Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya,” kata Paman Hans segera setelah Yoz duduk di sofa.


“Eh!? W-waktu yang tepat?” tanya Yoz terkejut karena tiba-tiba pamannya membahas hal itu tanpa dia duga.


“Ya—aku sudah memperhitungkan semuanya.”


Paman Hans terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan penjelasannya.


“Kita harus berterima kasih kepada pelaku yang telah menciptakan para monster itu. Jika seandainya semua monster menyerang kota secara bersamaan, maka sistem keamanan kota akan difokuskan untuk menangani serangan dadakan para monster. Hal itu tentu membuat pergerakan kita tidak akan dicurigai oleh pihak kepolisian maupun pahlawan sewaktu melaksanakan rencana kita.”


“A-apa? Dicurigai?” tanya Yoz menyadari ada yang menjanggal dari penjelasan pamannya.


“Kau tidak menyadarinya? Kemarin ada seseorang yang mengikutimu sampai ke rumah dan terus memantau rumah kita selama beberapa menit,” jelas pendek Paman Hans.


“Begitu….”


Yoz terlihat sudah menduga kalau ada yang mengikutinya kemarin sore namun saat itu dia tak mempedulikannya karena berpikir mungkin hanya kucing lewat. Dengan badan yang disandarkan ke punggung sofa dan mata yang menatap ke langit-langit, dia terus memikirkan siapa pelaku tersebut.


Melihat wajah Yoz yang bertanya-tanya, Paman Hans tersenyum tipis lalu mengatakan sesuatu yang bisa menjawab rasa penasarannya.


“—Dia bahkan sampai harus pergi ke sekolah dan menyamar jadi murid hanya untuk mengawasimu.”


“A-apa? Jadi Arda yang me—” Yoz langsung menahan mulutnya dan tidak melanjutkan kalimatnya takut Paman Hans menyadari sesuatu.


Namun sayangnya Paman Hans terlihat seperti sudah mengetahui apa yang ingin Yoz katakan tadi lanjut mengatakan sesuatu yang membuat Yoz lebih terkejut lagi.


“—Tentu saja, bahkan aku juga mengetahui bahwa sebenarnya yang menghabisi monster hijau itu adalah kau bukan?”


Langsung saja mata Yoz terbelalak terkejut seakan tidak percaya pamannya bisa mengetahui hal itu meskipun dirinya sudah membuat berita palsu. Dia hanya bisa terdiam membeku tak memiliki alasan untuk mengelak lagi di depan pamannya.


“Tapi setelah dipikir-pikir, apa yang sudah kau lakukan tadi justru membuat rencana ini berpotensi besar untuk berhasil,” ungkap Paman Hans lalu menyilangkan kaki.


“A-apa maksud Paman?”


“Singkatnya, berkat dirimu yang membunuh monster-monster itu, para monster lain akan lebih banyak bermunculan untuk mencari pelaku yang telah membunuh teman-teman mereka. Kita tidak perlu bersusah payah memancing monster-monster itu satu per satu untuk muncul, mereka semua akan datang dengan sendirinya untuk membalas dendam.”


“Jadi, kira-kira berapa hari lagi rencana itu akan dilakukan?” tanya Yoz mencoba kembali ke topik awal sebelum pembicaraan melenceng lebih jauh.


Paman Hans langsung memasang wajah seringai tersenyum liciknya setelah mendengar pertanyaan itu.


“Mungkin… dalam 8 hari lagi.”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 7: Turpin X