100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 12: Pertarungan Belum Berakhir!



“Permainan Hide & Seek-mu sudah berakhir sampai di sini! Sekarang apa yang akan kau lakukan?”


Sang pahlawan, Arda Gavis, saat ini dijepit oleh dua kondisi yang tidak menguntungkan. Di belakangnya terdapat sebuah drone yang siap menembakkan misil jikalau ia bergerak, sedangkan di depannya berdiri sosok dari pemilik drone yakni Turpin X.


Hanya ada dua pilihan yang bisa dia lakukan, pasrah atau terus melangkah ke depan menghadapi sosok Turpin.


“Tcih! Permainan memang sudah berakhir, tetapi tidak dengan pertarungan kita!” seru Arda.


Kata-kata sejati dari seorang pahlawan tentu akan membuat semua orang terkagum-kagum mendengarnya, namun tidak dengan musuh yang dihadapi Arda kali ini. Mendengar kalimat itu, Turpin tertawa keras meremehkan semangat Arda yang kembali berkobar.


“Baiklah, jika itu maumu! Kali ini aku tidak akan turun tangan, tapi drone milikku yang akan menghabisimu!”


Mendengar pernyataan Turpin, Arda langsung menarik pisau dari sarung yang terpasang di pahanya, senjata satu-satunya yang dia miliki sekarang. Lalu memperhatikan drone di belakang yang siap meluncurkan misil jika dia bergerak meskipun hanya berjalan selangkah saja.


Dirinya cukup yakin kalau Turpin memang tidak akan ikut campur kali ini, karena sejak awal orang itu memang tidak pernah serius dan hanya bermain-main saat menghadapi Arda maupun dua rekannya.


Sehingga dia bisa berfokus terhadap drone di belakangnya tanpa mengambil pusing Turpin yang ada di sisi sebaliknya, dia pun mulai memikirkan sebuah rencana untuk menghadapi drone milik Turpin.


‘Tadi aku sudah melihat drone itu hanya memiliki tiga buah misil yang terpasang di masing-masing kakinya, berarti total jumlah misilnya ada enam buah. Ledakan akan terpicu jika misil tersebut menabrak sesuatu.


'Aku tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk meluncurkan misil selanjutnya. Namun yang pasti, satu buah misil sudah dia luncurkan dan mengenai monster sebelumnya sehingga hanya tersisa lima misil. Baiklah, aku pasti bisa melakukannya!’


Sebuah rencana pun mulai tersusun di dalam pikiran Arda. Setelah berpikir sejenak menenangkan diri, dia pun memegang erat pisau di tangannya lalu langsung berlari menuju ke arah drone tersebut.


Sebuah misil pun langsung meluncurkan dan mengejar Arda segera setelah ia melangkah.


Sedangkan Turpin hanya berdiri memperhatikan Arda dan merasa penasaran dengan apa yang direncanakan oleh si pahlawan.


“Sekarang apa yang dia rencanakan?” tanya Turpin penasaran.


Arda yang dikejar oleh misil berlari ke arah pohon yang tertanam di depan salah satu rumah, lalu dengan cepat memutari pohon itu.


*BOOMMM!!!!*


Alhasil, misil itu justru menabrak pohon tersebut dan ledakan hebat pun membakar habis pohon itu tanpa ada yang tersisa.


Di saat drone tersebut hendak memindahkan posisi misil ketiga ke tengah untuk diluncurkan, rupanya Arda sedang memperhatikan proses tersebut dengan seksama.


“Pemindahannya memakan waktu sekitar empat sampai lima detik! Dan tersisa empat misil lagi!” desis Arda.


Tanpa memberi waktu untuk beristirahat sejenak, drone itu mulai meluncurkan misil ketiganya. Arda yang sudah menduganya lagi-lagi harus berlari dari kejaran itu sambil berpikir keras mencari cara meloloskan diri lari misil.


Ketika dia menoleh ke arah kiri, terlihat setumpukan plastik yang berisikan sampah tergeletak di depan salah satu rumah. Dia dengan cepat berlari menuju ke tumpukan itu dan menyambar salah satu plastik dengan tangan kirinya, lalu dilemparkan kuat ke arah misil ketiga.


Ternyata taktiknya berhasil, misil ketiga itu meledak di udara setelah menabrak plastik sampah yang Arda lempar tadi.


“Tiga!”


“Huh!?”


Turpin pun terkejut sekaligus takjub melihat apa yang Arda lakukan, namun dia tetap hanya berdiam diri dan kembali memperhatikan rencana Arda selanjutnya. Sepertinya orang ini benar-benar memegang perkataannya.


Di saat misil ketiga telah meledak, rupanya misil keempat sudah diluncurkan dan muncul di tengah-tengah melewati kabut asap ledakan.


Arda dengan terpaksa langsung melemparkan pisaunya ke arah misil yang sudah hampir dekat dengannya sambil melompat mundur.


Hasilnya sudah bisa ditebak, misil keempat pun meledak setelah menabrak pisau yang dilempar oleh Arda.


“Dua!”


“Jadi begitu… dia melemparkan sesuatu ke arah misil itu agar meledak tepat sebelum mengenai dirinya, mengagumkan….”


Turpin yang menyadari strategi Arda segera mengambil sebuah granat dari topinya, lalu menarik tuas dengan jarinya dan dilemparkan ke arah Arda. Sepertinya kali ini dia mengingkari ucapannya yang mengatakan kalau dirinya tidak akan ikut campur.


“Tapi, apakah setelah ini kau masih bisa bertahan?” ucapnya dengan nada licik.


Arda pun menyadari Turpin melempar sebuah granat ke arahnya, ia dengan kesal hendak mencela musuhnya, namun di saat bersamaan misil ke lima sudah diluncurkan di hadapannya, membuat si pahlawan diapit oleh dua benda yang akan meledak dari dua sisi.


Dengan kondisi dan waktu yang menghimpit dirinya, Arda langsung melepaskan rompi yang dia kenakan lalu melemparkannya ke arah misil kelima itu.


Setelah melemparkan rompinya, Arda segera berlari melompat ke samping menghindari misil yang akan menabrak rompinya dan granat yang akan menyentuh permukaan tanah.


Memprioritaskan misil terlebih dahulu merupakan keputusan yang tepat karena pada dasarkan granat di belakangnya tidak akan mengejarnya namun misil di depannya akan terus mengejarnya.


*BOOMMM!!!?*


Seketika kedua benda itu meledak secara bersamaan, menimbulkan tekanan angin yang kuat sehingga Arda tetap menerima dampaknya dan terlempar.


Berkat cara berpikirnya yang cepat, Arda berhasil selamat dari ledakan itu. Namun tak berselang lama, kondisi tubuhnya pun semakin melemah karena terkena dampak ledakan tadi, bahkan tenaga untuk berdiri saja sudah tidak ada. Dia hanya bisa bertekuk lutut di hadapan musuh yang berjarak 10 meter darinya.


Sedangkan itu, Turpin langsung bertepuk tangan sebagai bentuk takjub dan kagumnya kepada Arda yang telah bertahan sejauh ini.


“Aku tak menyangka jika kau akan memberikan perlawanan sehebat ini kepadaku, tidak salah pihak HSO menjadikanmu sebagai salah satu dari 20 pahlawan besar dalam daftarnya. Tapi, semuanya sudah berakhir!”


Setelah mengucapkan kalimat itu, dari belakang Arda sudah meluncur misil ke terakhir mengarah kepadanya. Sudah tidak ada lagi cara untuk menghindari misil tersebut karena tubuhnya sudah mencapai batas maksimal.


Dia pun hanya bisa tersenyum pasrah sambil menghembuskan napas lalu menghadap ke langit yang biru dan indah untuk terakhir kalinya.


'Suryadi, aku serahkan sisanya kepadamu....'


*WOOOSSSHHH!*


“!”


“Apa?”


Tanpa diduga, bukannya mengenai Arda dan meledak, misil itu justru melewati si pahlawan begitu saja dan terus melesat ke target selanjutnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Turpin.


Membuat kedua orang di sana sama-sama terkejut bukan main melihat hal itu.


Singkatnya, misil itu langsung menabrak Turpin yang lambat menyadarinya, disusul dengan sebuah ledakan hebat yang menggetarkan jendela-jendela rumah di sekitarnya.


Kobaran api besar mulai muncul dengan Turpin yang terbakar dalamnya, sedangkan drone yang menembakkan misil itu mendadak jatuh seperti kehabisan tenaga.


“A—apa!?” suara parau Arda kebingungan melihat pemandangan api yang berkobar itu.


Bersamaan dengan kebingungannya, wajahnya menjadi pucat dan mulai memuntahkan darah cukup banyak di mulutnya. Secara perlahan, Arda mulai tak sadarkan diri dan langsung tumbang di hadapan kobaran api yang masih membakar hebat pasca ledakan tadi.


Setelah beberapa saat, langit mulai berubah mendung. Di tengah-tengah pemandangan itu, muncul sosok di tengah kobaran seperti tidak terbakar oleh panasnya api.


Kabut asap pun minggir seakan ingin memperlihatkan sosok tersebut yang tidak lain adalah Turpin dengan kondisi seluruh armor yang retak parah dan sebagian topeng yang hancur memperlihatkan mata kanannya.


Seperti tidak terjadi apa-apa setelah menerima ledakan tadi, Turpin berjalan melewati kobaran api dengan santai dan mendatangi Arda yang tumbang lalu berdiri di hadapannya.


“Tcih! Untuk pertama kalinya, seseorang bisa membuat topengku pecah hingga seperti ini. Meskipun sebenarnya bukan dirimu yang melakukannya, tapi tetap saja…” ucap Turpin lalu mengeluarkan sebuah pedang ramping dari topinya dan di arahkan tepat di samping leher Arda.


“Kau adalah lawan yang tangguh!”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Setetes air dari atas jatuh menimpa bahu Turpin. Seperti sudah menyadarinya, sosok itu mengangkat tangan kirinya dan mendongak menatap langit yang hitam untuk memastikan dugaannya benar.


“Hujan?”


*crik-crik*


Tetesan air dari langit jatuh ke bumi sedikit demi sedikit dan semakin deras membasahi seluruh permukaan kota Machina.


Genangan air pun timbul akibat hujan dan membaur dengan darah Arda sehingga terlihat seperti genangan darah.


Turpin lalu mengalihkan kembali pandangannya ke pahlawan di bawahnya yang tergeletak basah karena hujan. Dia hanya terdiam tanpa menggerakkan pedang yang sudah sangat dekat dengan leher Arda.


“—Kondisimu benar-benar kacau, ya?”


Di tengah hujan deras yang mengguyur Turpin dan Arda, tiba-tiba muncul dua suara secara bersamaan di balik embun hujan.


Turpin segera menoleh ke arah sumber suara dan menatap tajam sosok di balik embun hujan itu. Pemilik suara perlahan-lahan mulai berjalan menampakkan dirinya kepada Turpin. Hentakan sepatunya ketika melangkah menimbulkan gelombang kecil pada genangan air di tanah.


Suaranya terdengar berat sehingga dapat dipastikan kalau dia adalah seorang pria.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Turpin berbicara seakan sudah mengenali sosok itu, bisa terlihat dari sikapnya yang tidak menunjukan reaksi kebingungan atau bahkan waspada terhadap sosok di hadapannya.


Sosok itu adalah seorang pria tua dengan rambut dan kumis berwarna putih, serta mengenakan setelan jas kerja berwarna hitam.


Tapi anehnya, orang itu menutup kedua matanya seperti tidak ada tanda kehidupan di wajahnya. Satu hal yang pasti adalah, pria tua dengan pakaian rapi dan formal yang basah kuyup karena diguyur hujan itu adalah paman dari Yozhero, Hans Albert.


“Kerusuhan yang terjadi di kota sampai-sampai sirine peringatan berbunyi keras benar-benar membuatku penasaran. Dari yang bisa kutebak, sepertinya sudah terjadi pertarungan yang hebat di sini,” ucap Hans sembari mengarahkan kepala ke arah kobaran api yang belum padam meskipun sudah diguyur oleh air hujan.


Suara pria tua itu terdengar sangat berbeda jika dibandingkan pada saat dirinya bersama Yoz, terdengar saling tindih seolah-olah ada dua orang yang berbicara secara bersamaan.


Mungkin inilah yang menjadi alasan mengapa sebelumnya terdengar ada dua suara yang mengucapkan kalimat secara bersamaan.


Tidak diketahui dengan pasti apa yang telah terjadi dengannya, tapi ada hal jauh lebih penting untuk dipertanyakan. Apa yang sebenarnya dia lakukan di tempat seperti ini?


“Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan armormu sampai-sampai mengalami retak parah seperti ini?” sambungnya bertanya.


“Kau harusnya sudah tahu, bukan? jawabannya tetap pada masalah yang sama!” jawab Turpin menatap sinis.


“Hei! Hei! Itu bukan salahku jika alat-alat itu terkadang tidak berfungsi dengan semestinya.” Hans menyanggah protes Turpin sambil memegang kepala.


“Kau bilang armor ini memiliki pertahanan yang kuat, tapi nyatanya justru mengalami kerusakan hanya dengan dua kali serangan—”


“Bukankah itu karena efek ledakannya yang terlalu kuat?” Hans memotong.


“Tcih!”


“Hei, ayolah… armor itu hanya perlu diperbaiki dan masalah akan selesai.”


“….”


Turpin sama sekali tidak membalas dan hanya memalingkan wajahnya dari Hans, mereka berdua saling terdiam cukup lama di sana.


Suara ribut dari derasnya hujan serta suara gemuruh dari langit mengisi kekosongan selagi percakapan mereka berhenti. Tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba membuka percakapan untuk memecahkan kesunyian.


Tidak lama setelah itu, muncul sebuah kilatan hebat dengan suara gemuruh yang menyusul, hujan bahkan turun semakin deras seakan-akan langit sedang menangis histeris sejadi-jadinya.


Membuat kobaran api yang sebelumnya membakar hebat akhirnya semakin lama semakin mengecil dan mulai padam.


Pandangan kosong Turpin terus-menerus menatap tubuh Arda yang tergeletak, membuat Hans keheranan terhadapnya yang tidak langsung menghabisi pemuda itu.


“Lantas, apa yang akan kau lakukan terhadap orang ini?” tanya Hans.



“Entahlah… aku juga tidak tahu.”


“Kenapa kau tidak langsung habisi saja dia? Dia ini pahlawan, bukan?”


“Pahlawan pada dasarnya hanyalah sebuah nama untuk menyembunyikan jati diri mereka yang sebenarnya. Mereka hanyalah orang munafik yang memakai julukan itu untuk kepentingan diri mereka sendiri.


“Orang ini dengan mudah meninggalkan kedua temannya tanpa merasa bersalah akan perbuatannya. Itu yang membuatku semakin membenci mereka semua.”


Lalu Turpin memutar pedangnya dengan mata pedang mengarah ke bawah, setelah itu dirinya mengangkat pedang itu dengan kedua tangannya seperti akan melakukan eksekusi dengan satu tusukan.


“Melihat mereka bersandiwara di depan orang-orang benar-benar membuatku muak, dasar sialan! Sampah seperti mereka tidak layak menyebut diri mereka sebagai pahlawan!”


Turpin menatap Arda dengan penuh kebencian.


Dia pun mulai menghunuskan pedangnya menargetkan punggung kanan Arda tepat di mana posisi jantungnya berada. Namun, tiba-tiba saja dia meleset sehingga pedangnya justru menancap ke tanah di samping badan korban.


Hans yang menyadarinya pun bergumam kebingungan, bertanya-tanya apa yang sebenarnya Turpin sedang lakukan.


“Hhm?”


“S-sial!—Arrgghhh!!!”


Tiba-tiba Turpin memegang kepalanya dan membungkukkan badan seperti merintih kesakitan yang luar biasa di kepalanya.


Sedangkan pria tua di belakangnya hanya memperhatikan Turpin dengan santai dan tidak memberikan respon apa-apa seolah sudah terbiasa melihat kejadian tersebut.


Setelah beberapa saat, rasa sakit di kepalanya secara perlahan mulai menghilang. Kemudian Turpin segera mencabut pedangnya yang tertancap di tanah dan menyimpannya ke dalam topinya, lalu berbalik badan dan pergi meninggalkan Arda yang tergeletak dalam kondisi kritis begitu saja.


Dia berjalan melewati Hans sembari berkata, “Lebih baik kita kembali! Aku ingin semuanya segera diperbaiki sebelum hari yang sudah direncanakan dimulai!”


“Huh?”


Seketika Hans dibuat bingung dengan Turpin yang mengurungkan niatnya untuk menghabisi pahlawan. Namun, Turpin terus berjalan seolah tidak peduli dengan pria tua yang menolehnya heran.


“—Lalu, bagaimana dengan orang ini? Apakah kau benar-benar yakin untuk meninggalkannya begitu saja?” tanya Hans.


Di saat Turpin sudah berjalan cukup jauh, tiba-tiba dia berhenti dan menoleh kepada Hans sambil berkata dengan wajah serius.


“Dia akan mati dengan sendirinya karena kehabisan darah, aku ingin dia merasakan sakit yang luar biasa sebelum menemui ajalnya. Lagipula aku sudah benar-benar muak berurusan dengannya!”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Turpin kembali berjalan menjauh dan mulai tak terlihat karena embun hujan yang semakin tebal meninggalkan Hans bersama tubuh Arda yang tergeletak tak berdaya.


Sedangkan Hans hanya terdiam di tempatnya lalu mulai membuka matanya yang dari tadi terpejam. Terlihat di matanya hanya ada tatapan kosong tanpa ada tanda kehidupan di baliknya seakan orang itu bukannya Hans yang biasa dikenal orang-orang.


Setelah sosok Turpin sudah tidak terlihat dari dari pandangannya, dia menoleh ke arah tubuh Arda dengan tatapan datar tapi tersenyum licik.


“Sungguh mengecewakan….”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 13: BlackJack 21 (1)