100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 17: Gift



“Ugh...”


Seorang pemuda merintih kesakitan dalam kondisi tangan dan kaki yang terikat dengan rantai besi, serta tubuh yang dipenuhi luka memar. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan, tak tahu mengapa hal ini terjadi kepadanya.


Menangis sekeras-kerasnya di hadapan seorang pria tua berkulit pucat yang wajahnya tidak terlihat sebagian karena tertutup oleh gelapnya ruangan. Meskipun ekspresinya tidak dapat dilihat, bisa dipastikan kalau dia tersenyum bengis.


“Apa kau tetap tidak mau patuh?” tanya pria tua itu.


“Kumohon berhenti, Paman... lepaskan aku....” lirih si pemuda.


Mendengar jawaban itu, pria tua tadi langsung mengambil sebuah tongkat kayu yang tidak jauh dari posisinya berdiri, lalu mengangkatnya ke atas dengan kedua tangannya.


“Aku tak akan berhenti sampai kau paham dan mau melakukannya!”


Setelah mengatakannya, pria tua itu langsung mengayunkan tongkat kayunya ke arah pemuda yang tak berdaya itu.


*Crack!*


“ARGGH...!!!” teriak Yoz kencang.


Suara teriakannya terdengar cukup keras, bahkan mungkin akan membangunkan seluruh orang yang ada di dalam rumah. Tapi beruntungnya dia hanya tinggal sendirian di rumah yang megah nan mewah itu. Tidak ada pamannya maupun para pelayan.


Paman Hans masih belum selesai dengan urusan pekerjaannya tiga hari yang lalu, atau lebih tepatnya setelah menerima panggilan dari Turpin.


Sedangkan untuk para pelayan sendiri juga tak terlihat satu hari setelah Paman Hans pergi untuk urusan pekerjaan.


Sesudah berteriak cukup keras, napasnya mulai terengah-engah seperti orang yang telah berlari mengelilingi kota tanpa henti. Bahkan keringat yang mengalir di wajahnya cukup banyak.


Ekspresinya sendiri terlihat seperti orang yang mengalami trauma berat.


“Mi-mimpi? Tcih! Padahal aku tidak ingin mengingatnya, tapi kenapa malah muncul di dalam mimpiku, sialan!” decaknya lalu segera beranjak dari kasur menuju ke arah jendela untuk membuka tirai.


Di saat tirai terbuka, sinar mentari pagi langsung memasuki ruangan dan menyinarinya. Nampak langit yang biru dan cerah seolah-olah dunia sedang bersukacita pada saat itu. Namun bukan hal itu yang Yoz lihat pertama kali saat membuka tirai.


“Siapa... itu...?” tanyanya.


Di antara pemandangan atap-atap rumah, terlihat seseorang tengah berdiri di sana. Orang itu menatap ke arah Yoz sambil melambaikan tangan sok kenal, dengan jubah merah hitam yang tertiup pelan oleh angin.


“Hola~” sapa orang itu.


“Su-suara ini... kau...”


Yoz mengingat dengan jelas pernah mendengar suara itu beberapa hari yang lalu, tepatnya saat ia menerima sebuah panggilan dari ponsel milik Paman Hans. Hal itu sangat membekas baginya sebab suara barusan sama persis seperti suara dari pelaku yang menculik ibunya.


“Kau benar, ini adalah aku!”


“Turpin!”


Langsung saja jendela dibuka secara paksa hingga kacanya retak. Pemuda yang sudah tak bisa menahan emosi itu langsung melompat dari jendela dan mengepalkan tangan kuat-kuat ke arah lawannya. Kehadiran Turpin nampaknya benar-benar memicu amarah Yoz.


Sedangkan Turpin dengan santai hanya melihat Yoz yang menerjang ke arahnya dengan penuh amarah, sebelum pada akhirnya pukulan pemuda itu berhasil ia tahan dengan mudah menggunakan tangan.


Terlihat dengan jelas perbandingan kekuatan antara mereka berdua sangatlah jauh. Turpin memang bukanlah lawan yang bisa dikalahkan dengan mudah oleh Yoz. Bahkan dengan entengnya Yoz dilempar hingga nyaris terjatuh dari ketinggian.


“Jangan membuang tenagamu untuk melawanku, lebih baik kau menyimpannya untuk hari esok...” ujar Turpin.


“Untuk apa aku menuruti perintahmu!!!” balas Yoz lalu kembali menerjang.


Tapi lagi dan lagi, Turpin dengan sangat mudah kembali menahan serangan Yoz seraya memperagakan gaya menguap menggunakan tangan kiri. Yoz benar-benar diperlakukan seperti anak kecil yang lemah di hadapannya.


“Hoam... kau ini benar-benar orang yang plin-plan... tapi aku sudah menduga hal ini akan terjadi.”


*Crack!*


“ARGHH!!”


Secara mengejutkan, Turpin tiba-tiba saja meremas kuat tangan Yoz hingga menimbulkan suara seperti tulang-tulang yang retak, membuat si pemuda merasakan kesakitan hebat hingga tidak sanggup mengangkat kepalanya.


Setelah itu Turpin menjambak rambut Yoz agar pandangan pemuda itu tetap tertuju kepadanya.


“Dengarlah! Kita berdua pada dasarnya adalah sama! Kita membenci pihak yang sama! Membenci hal yang sama! Bahkan penderitaan kita disebabkan oleh pihak dan hal yang sama!” ungkapnya.


“Tcih! Aku berbeda denganmu, dasar pengecut! Jangan lupa kalau hidupku jadi seperti ini dikarenakan ulahmu, dasar sialan!” sanggah Yoz.


“Justru kau yang pengecut! Tidakkah kau menyadarinya? Kota ini sudah dipenuhi dan dikuasai oleh mereka yang rakus dan serakah! Oleh karena itu kita harus menghancurkannya dan menata ulang kota ini agar menjadi lebih baik!”


“Tcih! Menghancurkan untuk menata ulang? Maaf, aku tidak tertarik dengan hal itu!”


Turpin menghela napas panjang lalu berkata, “Huh... sebenarnya apa yang ingin kau pertahankan dari kota ini? Orang-orang tetap akan membencimu meskipun kau berbuat baik, semua yang kau lakukan hanyalah sia-sia!”


“Apa yang kau katakan memang ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya mereka semua seperti itu! Masih ada orang-orang baik yang sudah kutemui sejauh ini, dan aku tidak ingin mereka ikut terbunuh dalam rencana bodohmu!”


“Apa kau yakin? Wajahmu terlihat ragu saat mengatakannya? Lagipula aku tak peduli siapa mereka yang kau maksud.... Tapi percayalah, mereka semua pada akhirnya akan mengkhianatimu!”


“...”


Yoz terlihat hanya terdiam setelah mendengar ungkapan itu. Tidak ada argumen yang tepat untuk membalas kalimat barusan, bahkan niatan untuk melepaskan diri dari cengkraman saja tidak ada. Sebelum pada akhirnya dia mulai membuka mulut.


“Teruslah berbicara, dasar tumpukan besi sampah! Kalimat-kalimat bodohmu tidak akan bisa mempengaruhiku!”


“Ingatlah, Yoz... aku masih menyandra wanita tua itu! Apa kau yakin dengan keputusanmu?”


“Kalau begitu, aku akan langsung menghentikanmu di sini sekarang juga, tidak peduli seberapa kuat dirimu! Kita akan selesaikan juga di sini!”


“Aku tidak punya waktu untuk hal ini... jika kau memang bersikeras untuk menolak, maka aku akan memberimu sebuah hadiah!”


Setelah mengatakan kalimat itu, angin yang ada di sekitar mereka secara tiba-tiba berhembus kencang disusul suara misterius dari cakrawala. Turpin memandang ke arah langit seraya melepaskan cengkraman dan jambakannya.


Sedangkan Yoz sendiri langsung memegang tangannya yang memar dan bengkak akibat cengkeraman kuat tadi. Selain itu, ia bisa melihat dengan jelas ada beberapa rambut yang rontok seusai Turpin melepaskan jambakannya.


Suara misterius dari langit itu semakin terdengar jelas. Bahkan Yoz sendiri bisa langsung mengetahui dari mana suara itu berasal lalu melempar pandangan ke arah sumber gelombang akustik misterius tersebut. Suaranya terdengar seperti suara baling-baling yang berputar kencang.


Di saat menoleh, terlihat sebuah helikopter terbang melesat dan berhenti tepat di atas mereka berdua. Hembusan angin yang dihasilkan oleh putaran baling-baling helikopter tersebut bisa dikatakan cukup kuat, mengakibatkan atap-atap rumah bergetar.


Yoz sendiri bersusah payah untuk mempertahankan posisinya atau ia akan terhempas jauh.


Kemudian helikopter tersebut menurunkan sebuah tangga tali kepada Turpin. Cukup dengan satu kali melihat saja, semuanya akan tahu kalau helikopter itu berada di pihak si Turpin. Langsung saja sosok ber-armor itu menginjak salah satu anak tangga lalu menarik-narik talinya seperti memberi tanda untuk pergi kepada si pilot.


“Baiklah, kita akhiri pertemuan kita kali ini, nantikan hadiah dariku!” pamit Turpin lalu secara perlahan terangkat ke atas ditarik oleh helikopter.


“HEI, TUNGGU! JANGAN LARI!!” teriak Yoz lalu mencoba mengejar Turpin namun tidak bisa karena hembusan dari baling-baling helikopter begitu kencang.


“Adios!” ucap Turpin sembari melambaikan tangan.


Ia bersama helikopter itu terbang semakin tinggi dan menjauh hingga tidak terlihat oleh mata, diikuti oleh hembusan angin dan suara ribut yang mulai menghilang. Suasana pun kembali jatuh dalam keheningan.


“...”


Yoz yang gagal mengejar musuhnya hanya bisa berdecak kesal dalam hati, kemudian menundukkan kepala dengan wajah murung seraya mengepalkan tangan kiri.


“Hadiah? Apa maksudnya?”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


‘Nantikan hadiah dariku!’


Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Yoz. Dengan tangan kanan yang berbalut perban, ia berjalan menuju ke kelas tanpa memperhatikan langkahnya yang bisa saja menabrak orang-orang.


‘Tidak! Dia hanya menggertak dirimu, jangan terlalu memikirkannya!’ pikirnya optimis seraya menggeleng-gelengkan kepala.


Setibanya di kelas, ia merasakan pemandangan yang sedikit berbeda di dalam ruangan. Orang-orang nampak sibuk mengecek setiap meja yang ada di dalam kelas entah apa alasannya.


Tak mau ambil pusing akan hal itu, Yoz langsung duduk di bangkunya namun dia juga merasa ada yang sedikit berbeda dengan mejanya. Ia rasa mejanya terlalu rendah untuk dijadikan sebagai alas saat tidur.


Dia pun mengecek laci meja dan langsung tahu kalau meja ini bukanlah mejanya. Laci itu terlalu bersih dan rapi jika dibandingkan laci milik Yoz yang penuh dengan sampah makanan.


Lagipula ini bukanlah akhir pekan, hari dimana Yoz membawa seluruh sampah yang dia tumpuk selama 6 hari untuk dibuang sekaligus ke tempat sampah.


Akhirnya ia paham mengapa orang-orang terlihat sibuk dengan meja-meja itu. Hanya ada satu dugaan untuk menjawab pertanyaan mengapa semua meja kelas tiba-tiba berpindah tempat, sepertinya kemarin para anggota OSIS menggunakan kelasnya untuk rapat.


Meskipun terbilang bersih dan rapi, ternyata di laci meja itu terdapat sebuah kertas yang lecek dan kusut. Karena penasaran, Yoz mengambil kertas itu lalu membaca isinya dengan seksama.


Ketika kedua matanya sampai di akhir kata, ia mengembalikan kertas itu ke posisinya semula lalu melamun.


‘Dia....’


“Ero....”


‘Itu berarti meja ini milik....’


“Ero?”


‘Dan surat ini....’


“ERO!”


Yoz langsung tersadarkan dari lamunannya dan secepat kilat menoleh ke arah si pemanggil. Di sampingnya sudah ada Nia yang berdiri menunggu dengan ekspresi menggembungkan pipi kesal. Yoz yang tidak menyadari kesalahannya hanya menatap bingung lalu melirik-lirik sekitar.


Dia hanya mendapati dua orang sedang duduk di bangku mereka masing-masing. Pami sibuk mencoret-coret bukunya, sedangkan Shela sedang mengikat rambutnya. Selain mereka berdua tidak ada lagi orang lain yang mungkin memanggil dia dengan sebutan aneh kecuali Nia yang menunggu dengan bosan.


“Apa kau memanggilku?”


Nia mengatur napasnya menenangkan diri lalu sedikit mengangguk.


“Ya... apa kau punya penggaris?”


“Huh? Penggaris? Sepertinya aku membawanya...” jawab Yoz paham maksud dari Nia lalu merogoh isi tasnya mencari benda yang dimaksud.


Untungnya dia memang membawa penggaris dan langsung memberikannya kepada Nia.


Nia yang bermoral lantas meminta izin untuk meminjam meskipun Yoz sudah lebih dulu mengizinkannya untuk meminjam alat itu, tepat sebelum gadis berkacamata itu mengatakan maksudnya.


Sesudah meminta izin disertai ucapan terima kasih, Nia kembali ke mejanya dan melakukan kegiatannya.


Adapun Yoz yang setelah meminjamkan penggarisnya kembali melakukan rutinitasnya, yakni memanfaatkan waktu yang tersisa dengan tidur sejenak.


Untuk Suryadi sendiri, sebenarnya sudah bisa dipastikan kalau dia hadir ke sekolah karena tasnya berada di dalam kelas, namun si pemilik tas tidak diketahui sedang berada di mana.


Pemuda itu mulai dilema dengan posisinya sekarang, sebab dia bingung harus melakukan apa terhadap Turpin.


'Jika seandainya saja aku mengetahui markasnya, mungkin aku bisa langsung menyelamatkan ibu... tapi tidak mungkin aku melakukannya seorang diri... mengharapkan pemerintah dan polisi pun tidak ada gunanya... apa aku harus meminta bantuan Arda?'


Di saat Yoz hampir terlelap dalam tidurnya karena terus melamun, tiba-tiba suara yang sama kembali memanggil namanya.


“Ero?”


“...”


Yoz terkejut dengar suara itu, dia pun segera mengangkat kepala dengan malas lalu menoleh ke arah si pemanggil. Sesuai dengan dugaannya, yang memanggil dirinya ialah Nia. Namun kali ini sedikit berbeda karena gadis itu bersama dengan Shela di sampingnya.


‘Hmm?’ batin Yoz kebingungan.


“Ero, di mana kamu membeli... penggaris ini...?” tanya pelan Nia sambil menunjukkan penggaris yang dia pinjam tadi.


“Huh?”


Nia terdiam dengan menundukkan kepala dan memegang erat penggaris itu di dadanya, nampaknya ia sedang mempersiapkan diri untuk menjawab alasannya namun bibirnya menolak untuk angkat suara.


Menyadari temannya kesulitan untuk menjawab, Shela pun mewakili Nia untuk berbicara. Shela menjelaskan kalau Nia sangat suka dengan penggaris itu setelah menggunakannya. Dia terlihat seperti wali yang mewakili anaknya untuk berbicara.


Yoz sendiri paham mengapa Nia langsung menyukai penggaris itu padahal baru beberapa menit menggunakannya.


Penggaris itu memang cukup bagus dan lengkap dengan pola-pola seperti burung, sepeda, dan masih banyak pola lainnya. Alat itu memang sangat cocok untuk digunakan saat menggambar, apalagi Nia memang memiliki hobi yang serupa.


“Hmm... Aku juga tidak tahu di mana penggaris model seperti itu dijual,” jawabnya sembari memalingkan wajah dari kedua gadis itu.


Yoz menghela napas sejenak lalu berkata, “Ambil saja!”


“Eh?” respon terkejut Nia dan Shela bersamaan.


“Ambil saja penggaris itu, lagi pula aku juga jarang menggunakannya,” tegas Yoz.


“Apa kamu yakin?” tanya Nia.


“Ya.”


Mendengar jawaban itu, wajah berseri menghiasi gadis berkacamata itu. Dia menatap penggaris yang kini sudah menjadi miliknya dengan senyuman terbaik, terlihat seperti anak kecil yang gembira saat dibelikan permen oleh orang tuanya.


“Terima kasih, Erooo...” ungkap Nia sambil memberikan senyuman kepada pemuda berjaket merah itu.


Shela sendiri juga ikut tersenyum kepadanya seolah-olah juga ingin berterima kasih karena telah memberikan penggaris itu kepada sahabatnya secara cuma-cuma.


Suara serta tingkah Nia yang terlalu bergembira ternyata menarik perhatian beberapa orang yang ada di dalam kelas. Membuat si introvert merasa risih karena diperhatikan orang-orang.


Baiklah, baiklah! Pelankan suaramu! Dan tolong berhenti memanggilku dengan sebutan itu...” ucap Yoz menutupi sebelah wajahnya dari tatapan orang-orang dengan tangan.


Sambil tertawa usil karena berhasil memancing pemuda tanpa ekspresi menunjukkan sedikit sifatnya, dia menggaruk kepala sambil menjawab, “Hehehe... maaf....”


“Eh? Tanganmu kenapa?” tanya Shela yang yang baru menyadari perban di tangan Yoz.


Nia sendiri juga baru menyadarinya karena lengan jaket Yoz yang cukup panjang untuk menutupi perban itu. Jika bukan karena ketelitian Shela, mungkin tidak ada seorang pun yang akan menyadarinya.


“Ah, ini... hanya terkilir....”


Tanpa banyak kata, Shela langsung mendekat lalu melakukan sesuatu dengan perban di tangan Yoz. Pemuda berjaket merah sendiri cukup terkejut lalu melemparkan pandangan ke arah perban dengan kebingungan.


Ternyata gadis berambut cepol itu sedang memperbaiki perban dengan cara melepaskan ikatannya lalu mengikatnya kembali dengan benar. Nia yang sekali melihat langsung paham kalau perban di tangan Yoz tidak diikat dengan benar sebelumnya.


Jika dipikir-pikir lagi, tidak mungkin Yoz meminta salah satu pelayan untuk mengobati tangannya mengingat mereka semua sudah berhenti bekerja, oleh karena itu kemungkinan terbesar ialah dia sendirilah yang mengobati tangannya dan mengikatnya dengan perban, tentu hal itu sulit untuk dilakukan jika hanya dengan satu tangan.


Sekilas Yoz bisa melihat pandangan mata gadis di hadapannya yang nampak serius mengikat perbannya.


Setelah beberapa saat, Shela dengan puas berdiri tegak lalu tersenyum seraya menepuk tangan seolah-olah ingin memperagakan pose yang bermakna 'Sudah selesai'.


Hasilnya tidak terlalu buruk, perban di tangannya kini terlihat jauh lebih rapi dan bagus dibandingkan sebelumnya. Tanpa mengalihkan pandangan pada pembalut luka itu, wajahnya sedikit memerah.


“Terima... kasih....”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Segera setelahnya, bel peringatan yang para murid sudah biasa mendengarnya sejak tahun pertama pun berbunyi. Nia dan Shela pun buru-buru kembali ke bangku masing-masing sambil melambaikan tangan seperti akan berpisah, padahal mereka hanya tidak akan berbicara selama beberapa jam.


“Huft... seharusnya aku bisa bertahan selama dua jam menggunakan meja ini...”


Jika dipikir-pikir lagi, Yoz belum sempat mengembalikan meja yang ada di hadapannya kepada pemilik yang sebenarnya. Namun berkat petunjuk dari kertas yang ada di laci sebelumnya, Yoz bisa langsung mengetahui pemilik dari meja ini dan melirik ke arahnya.


Terlihat seorang gadis dengan rambut terurai panjang tengah berbincang bersama teman-temannya. Hampir semua siswa di kelas mengenalinya karena dia adalah mantan ketua kelas, gadis itu bernama Tariun.


Namun bukan gadis itu yang menarik perhatian Yoz, melainkan meja yang gadis itu gunakan mirip persis seperti meja miliknya. Tariun terlihat biasa saja dengan meja yang ia gunakan sekarang tanpa merasa ada yang berbeda, atau mungkin ada alasan lain.


‘Sepertinya itu meja milikku? Baiklah, aku nanti akan menukar mejanya setelah kelas lumayan sepi,’ gumam Yoz lalu melanjutkan rutinitas biasanya yakni tidur.


Setengah jam pun berlalu, namun kesadaran Yoz tetap terjaga sehingga dia tidak bisa tertidur seperti tadi. Pada akhirnya dia hanya duduk dan menyangga kepala menggunakan tangan, dengan bosan menunggu guru yang tak kunjung datang mengajar. Bahkan Suryadi sendiri belum terlihat batang hidungnya padahal bel sekolah telah berbunyi setengah jam yang lalu.


‘Apa karena sudah mendekati akhir semester membuat para guru tidak datang mengajar, ya?’ pikirnya sambil melihat waktu di jam tangannya.


Waktu terus berjalan, namun tetap saja tidak ada satu pun guru yang datang. Hal itu mengakibatkan hampir semua siswa memanfaat jam kosong itu dengan berbondong-bondong keluar dari kelas sambil membawa uang di saku dan tangan mereka.


Tentu sudah bisa ditebak mereka semua ingin pergi ke mana? Tempat favorit seluruh siswa sekolah, kantin.


Karena hal itu, kini kelas menjadi sepi dengan menyisakan beberapa orang di dalamnya. Bahkan orang-orang pemalas yang biasanya mengandalkan Suryadi untuk masalah membeli makanan pun juga pergi ke kantin, karena Drive Delivery andalan mereka saat ini tidak diketahui sedang berada di mana.


Salah satu orang yang masih berada di dalam kelas adalah si mantan ketua kelas, Tariun. Dia terlihat hanya duduk di kursinya sedari tadi tanpa sedikit pun berpindah posisi. Entah apa alasan dia hanya duduk di kursinya dan berdiam diri di dalam kelas padahal teman-temannya yang lain sudah keluar kelas, hanya para wanita yang mengetahuinya.


Melihat kelas sepi, Yoz memutuskan untuk melancarkan aksinya yakni menukarkan meja. Dengan susah payah dia menggeser meja itu hingga sampai di tempat tujuan. Si mantan ketua kelas cukup terkejut saat melihat meja miliknya ternyata bersama Yoz.


“Ini meja milikmu, bukan?” tanya Yoz.


“Iya, kupikir meja ini sudah hilang, ternyata ada bersamamu,” jawab Tariun.


“Kalau begitu mari bertukar, kebetulan meja yang ada di hadapanmu itu adalah mejaku.”


“Oke!”


Dengan kesepakatan antara kedua belah pihak, mereka berdua saling menukar meja masing-masing. Tentu yang memindahkan mejanya adalah Yoz karena Tariun enggan untuk membantu, bahkan beranjak dari kursi saja ia menolak. Beruntungnya pemuda itu tak ambil pusing akan sikap Tariun meskipun ia sedikit kerepotan saat akan memindahkan mejanya.


Seusai menukar meja-meja itu, Yoz mulai membawa meja miliknya ke tempat asalnya. Tapi ketika dia hendak mendorong mejanya, ia teringat akan surat kusut yang sudah ia baca sebelumnya.


“Tar, sebelumnya aku minta maaf karena tidak sengaja membaca surat yang ada di lacimu...”


“Surat?”


“Ya, aku membaca isi surat milikmu... aku merasakan apa yang kau rasakan, bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu...” ungkap Yoz dengan menunduk menatap meja miliknya. “Aku harap kau tidak memikirkan perkataan dan cercaan mereka—”


“Sebenarnya kamu ini bicara apa, sih?” sela Tariun dengan nada membentak.


“Huh!?” Yoz terkejut saat gadis itu tiba-tiba menaikkan nada bicaranya. ‘Apa aku ada salah kata?’


“Kenapa kau tiba-ti—”


“Hei, ada apa?”


Belum sempat Yoz menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba seorang siswa jangkung menyela pembicaraan mereka sembari membawa kantong plastik berisi makanan, siswa itu bernama Gluck.


Tidak hanya Gluck, teman-teman yang lain pun ternyata sudah kembali dari kantin sambil menenteng makanan masing-masing di tangannya.


Seusai menyela percakapan Yoz dan Tariun, Gluck yang penasaran berjalan mendekati mereka berdua. Tatapan Gluck terus tertuju ke arah Yoz, begitu pula dengan sebaliknya. Semua orang di dalam kelas menyaksikan dengan jelas, kedua orang itu saling menatap penuh benci.


Sebenarnya kedua orang itu sudah bertikai sejak pertemuan pertama mereka. Jadi jika terjadi keributan antara mereka berdua, itu merupakan hal yang lumrah bagi orang-orang.


Sekedar informasi, Gluck sendiri merupakan siswa berandalan yang bisa dikatakan mendominasi kelas 2-D, bahkan tidak ada satu orang pun yang ingin berurusan dengannya kecuali Yoz seorang.


Karena Yoz tidak menjawab pertanyaan tadi, Gluck melemparkan pandangan ke arah Tariun berharap gadis itu mau menjawab pertanyaannya.


“Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan apa yang dia katakan...” ketus kesal Tariun.


“Hei, Mata Aneh! Kau mencari perhatian, ya?” tanya Gluck lalu mendorong Yoz dengan kasar.


“Tariun, jelaskan kepada orang aneh ini hal yang sebenarnya!” pinta Yoz.


“Maaf... tapi sedari tadi yang bersikap aneh itu adalah kau... aku sendiri tidak paham dengan apa yang kau bahas dari tadi...” sanggah Tariun sambil menatap sinis kepada Yoz.


Tidak hanya Tariun dan Gluck, beberapa orang yang melihat kejadian itu memberikan tatapan yang sama, beberapa orang juga ada yang bersikap tak peduli dan memalingkan wajah.


Yoz tak mampu untuk membalas karena orang-orang di kelas lebih berpihak kepada Gluck Dan Tariun. Pemuda itu hanya terdiam dan memilih untuk kembali ke bangkunya sambil mendorong mejanya.


‘Apa-apaan ini... padahal aku hanya mencoba peduli... apa semua yang aku lakukan sejak dulu selalu salah di mata mereka?’ pikirnya.


“Hei, lihatlah! Orang aneh ini berpura-pura membalut tangannya agar diperhatikan!” cibir Gluck menunjuk-nunjuk perban di tangan Yoz. Pemuda itu terlihat sangat ingin menyudutkan Yoz dengan segala cara.


Tidak berakhir sampai di situ, orang-orang yang tidak senang terhadap Yoz juga ikut menyerangnya dengan berbagai cercaan.


“Dasar tukang cari perhatian!”


“Si aneh itu... sejak dulu memang suka mencari masalah!”


“Dasar pengacau!”


“Mau di dunia nyata maupun di dunia maya, dia memang selalu menyebalkan! Sepertinya lain kali aku tidak perlu mengundang dia ke dalam grup apapun!”


“Menyedihkan...”


Cacian-cacian itu terus dilontarkan kepada Yoz, bahkan tidak sedikit dari mereka yang membicarakan keburukannya dari belakang. Yoz sendiri hanya tertunduk mendengarkan semua kalimat-kalimat itu sembari terus menggeser mejanya hingga sampai di bangkunya.


Yoz yang mulai sedikit muak mendengar cercaan itu mengepalkan tangan kuat-kuat, bahkan mata kanannya mulai bergetar-getar sendiri diikuti dengan tatapannya yang mulai kosong seperti tanpa jiwa.


'Habisi mereka semua...!' bisik suara yang entah datang darimana.


“Tolong berhenti mencela dia!”


Situasi yang awalnya panas tiba-tiba jatuh ke dalam kesunyian di saat terdengarnya suara gadis yang meminta untuk menghentikan semua keributan itu. Yoz yang nyaris meledak pun kembali tersadarkan oleh suara barusan.


Semua orang langsung melemparkan pandangan ke arah pemilik suara. Begitu juga dengan Yoz, matanya membesar saat mendengar suara yang membela dirinya, terlebih lagi suara itu terdengar familiar di benaknya.


Di depan pintu kelas, seorang gadis dengan rambut cepol menjadi pelaku dari suara tadi, ditemani kedua temannya yang berdiri di belakangnya.


‘Shela?’ batin Yoz.


“Hei, kamu tidak perlu membela orang aneh seperti dia!” balas Gluck kepada Shela.


Tatapan sinis orang-orang mulai berpindah kepada gadis polos itu. Salah satu teman di belakangnya yaitu Pami mulai merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika temannya terus angkat bicara, namun belum ada momen yang tepat untuk menghentikan aksi temannya.


‘Kenapa dia membelaku? Padahal aku hanya memanfaatkan dia, Nia, dan Jay. Seharusnya mereka membenci dan mengabaikanku... tapi kenapa mereka justru berada di pihakku?’ Yoz menundukkan kepala sampai-sampai matanya tertutup oleh poni.


Perasaannya tercampur aduk, bingung harus merespon seperti apa. Terutama setelah Shela ikut campur dengan urusannya, ada kemungkinan kalau gadis itu akan dijauhi dan dikucilkan oleh orang-orang.


Tidak ingin Shela menghadapinya sendirian, Nia pun ikut andil dengan angkat bicara.


“Jangan mengatakan sesuatu yang tidak kalian ketahui! Yoz menggunakan perban itu bukan untuk mencari perhatian! Tapi karena—”


“Kalian berdua, berhenti...!” Yoz berhenti sejenak menelan ludah, lalu menatap mereka bertiga dengan tatapan dingin. “Kalian tidak perlu ikut campur urusanku!”


Setelah itu, dia berjalan keluar dari kelas melewati ketiga serangkai itu, tentu dengan tetap mempertahankan tatapan dinginnya. Mengabaikan semua orang yang melihatnya dengan berbagai tatapan.


“Kamu dengar, bukan? Bahkan dia tidak tahu terima kasih meskipun kamu membelanya! Sampah seperti dia memang layak diperlakukan seperti tadi!” celetuk Gluck.


Nia dan Shela buru-buru mengejar Yoz, namun Pami langsung menahan mereka dengan tangannya. Tanpa kata-kata, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala seolah menentang apa yang kedua temannya ingin lakukan.


Tidak tahu harus pergi ke mana setelah keluar dari kelas, Yoz memutuskan untuk merenung di ujung lorong sekolah, tempat yang sering dia gunakan untuk berbicara bersama Knighto.


Emosinya benar-benar tercampur aduk, perasaan gusar dan perasaan bersalah terus terbayang-bayang di pikirannya. Satu-satunya cara untuk menenangkan dirinya ialah dengan menatap langit, setidaknya hanya itulah yang bisa dia lakukan sekarang.


“Yoz?”


Lamunan Yoz buyar oleh celetukan dari suara seseorang. Dia pun menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Knig sudah ada di belakangnya.


“Ah... kau...” sahutnya lemas.


“Ada apa? Kali ini kau terlihat kurang baik?” tanya Knig.


“Tidak apa-apa....”


“Ceritakan saja ada masalah apa, aku akan mendengarkan,” tawar pemuda ramah itu berjalan lebih dekat hingga berada di samping Yoz. Sekilas dia bisa melihat wajah murung temannya secara keseluruhan.


Namun Yoz tak membalas dan hanya diam, hingga akhirnya dia menyeletuk dengan nada yang terkesan dingin menusuk.


“Bisa beri aku waktu sendirian?”


“Eh!? B-baiklah....”


Sebenarnya Knig sangat ingin mengetahui apa yang sudah terjadi dengan kawannya itu, namun pertanyaannya tertahan di tenggorokan. Dengan raut wajah yang sedikit cemas, dia mengindahkan permintaan temannya lalu berjalan kembali ke kelasnya.


Wajah Yoz kosong tanpa ekspresi, mengabaikan sekitar seolah-olah jiwanya sedang tidak ada di sana, diperhatikan oleh orang-orang yang lalu lalang dengan tatapan bingung dan heran karena pemuda itu terus-terusan berdiri diam sangat lama.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 18: Virus