
「Peringatan! Monster dengan ancaman tingkat E muncul di pusat kota. Diharapkan masyarakat untuk tidak mendekat di sekitar lokasi sampai situasi bisa teratasi!」
“Hei, Yoz! Kau mau ke mana? Apa kau tidak mendengar sirine peringatan barusan?”
Suara sirine peringatan bergaung keras setelah bel sekolah terakhir berbunyi. Yoz yang mendengar suara peringatan itu buru-buru keluar dari sekolah sambil membawa gulungan karton di tasnya. Suryadi yang melihat temannya pergi ke arah yang salah atau lebih tepatnya ke arah pusat kota tanpa pikir panjang langsung mengejarnya karena penasaran.
“Aku ingin menemui Arda, dia mungkin sedang berada di pusat kota untuk menghadapi monster itu,” jawab Yoz setelah berhenti dan berbalik.
“Untuk apa kau menemuinya?”
“Bukan urusanmu!”
‘Jadi dia tidak tahu kalau telah terjadi sesuatu terhadap Arda? Apa yang dikatakan Arda itu bohong?’ Suryadi membatin.
“Huh? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Yoz melihat wajah murung Suryadi.
“Ah… tidak apa-apa!”
“Dasar aneh…”
Yoz pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan Suryadi yang mengekor di belakang tanpa berkata apa-apa. Pemuda berjaket merah itu heran mengapa temannya terus membuntuti dirinya, tapi ia malas untuk bertanya atau mencegatnya karena menurutnya hanya akan membuang tenaga dan waktu.
Suasana di sekitar pusat kota terlihat cukup sepi, namun hawanya tidak begitu mengerikan jika dibandingkan pada saat penyerangan Rogiant beberapa hari yang lalu.
Bahkan masih nampak beberapa orang berjalan santai di sana seakan-akan tidak merasa takut sedikit pun akan kemunculan monster yang sudah diumumkan sebelumnya.
Setelah beberapa saat terdiam, Suryadi akhirnya kembali membuka percakapan sambil meneruskan perjalanan.
“Yoz,”
“Hmm?” sahut Yoz tanpa memalingkan wajahnya.
“Aku masih bingung denganmu, kenapa kemarin kau tiba-tiba bisa sedekat itu dengan tiga serangkai? Aku sudah mengenalmu cukup lama, tidak mungkin orang seperti dirimu bisa akrab dengan orang lain dalam waktu yang singkat. Apa kau sedang merencanakan sesuatu?”
“Berhentilah bertanya hal tak penting seperti itu!”
“Huh..?” Suryadi menelengkan kepala kebingungan karena tidak puas dengan jawaban temannya. Tak berselang lama, sebuah senyuman meledek menghiasi wajahnya. Sepertinya dia mengetahui sesuatu.
“Sekarang apa?” Yoz melirik sinis.
“Kau ingin balas dendam kepadaku untuk kelompok Sosial waktu itu, bukan?” tanya Suryadi dengan usil menyikut temannya.
“Tidak,” sanggah Yoz.
“Ayolah… mengaku saja! Jangan remehkan instingku yang kuat ini!”
“Baiklah akan kukatakan yang sebenarnya….”
“Saatnya untuk mendengarkan pengakuan seseorang~” Suryadi kembali tersenyum bangga sembari berkacak pinggang.
“Aku hanya memanfaatkan mereka….”
Suryadi memasang wajah sombongnya sambil bergumam bangga, “Benarkan apa yang aku kata—Eh?! Apa!?”
“Apa kau tidak dengar? Aku hanya memanfaatkan mereka!” Yoz sedikit menegaskan suaranya agar Suryadi mendengarkan pernyataannya dengan jelas.
“Me-memanfaatkan? Apa maksudmu?”
“Kau tahu kalau mereka bertiga mendapatkan nilai tertinggi dalam pelajaran bahasa Asing, bukan?”
“Lalu?”
“Menggunakan buku kamus untuk membantuku mengerjakan soal-soal bahasa Asing itu sedikit merepotkan, bahkan aku harus menghabiskan 2 jam di perpustakaan hanya untuk hal itu. Kau seharusnya sudah bisa menebak apa yang aku maksud…?”
“Jadi itu alasanmu selalu memperhatikan mereka?”
“Ya,” balas Yoz kemudian menguap.
“Kurang meyakinkan… tapi apa tidak terlalu kejam memanfaatkan mereka bertiga?”
“Apakah aku terlihat peduli akan hal itu?”
“Padahal kau sangat marah saat mengetahui teman-teman kelas ternyata hanya memanfaatkanmu, tapi sekarang kau tidak ada bedanya dengan mereka!” Suryadi mengernyitkan alis karena merasa sedikit kesal setelah mendengar ungkapan kejam barusan.
“Aku tidak sudi disamakan oleh orang-orang itu! Aku memang memanfaatkan mereka bertiga tapi bukan berarti aku tidak tahu terima kasih.”
“Lalu caramu berterima kasih kepada mereka seperti apa?”
“Permainan BlackJack 21 kemarin. Saat sedang kerja kelompok, aku dengar mereka sangat ingin memainkan permainan itu, jadi aku mengabulkan keinginan mereka.”
“Ya, sudahlah… lagi pula aku juga tak bisa melarangmu—Tunggu dulu! Kenapa aku mengikutimu sampai di sini!?”
Tanpa sadar, ternyata Suryadi sudah mengikuti Yoz sampai ke pusat kota. Dirinya yang kebingungan langsung menatap temannya seperti ingin menimpakan kesalahan kepada orang itu.
‘Jangan menatapku seperti itu! Ini adalah salahmu sendiri karena mengikutiku sampai di sini!’ sanggah Yoz di dalam hati. “Lebih baik kau langsung pulang!”
Suryadi pun langsung berbalik badan sambil berkata, “Tanpa kau suruh pun aku pasti akan langsung pu—”
*!*
Kalimat Suryadi terhenti ketika melihat sesuatu di hadapannya, sedangkan Yoz pun juga ikut melirik ke arah mana Suryadi menatap.
Sebuah tutup selokan yang ada di dekat mereka tiba-tiba terdobrak sendiri seolah-olah ada sesuatu yang meronta-ronta ingin keluar dari gelapnya saluran air itu. Karena tak mampu bertahan lebih lama lagi, selokan tersebut akhirnya terbuka. Terlihat sebuah cairan keruh keluar dalam jumlah yang besar.
“B-banjir?” tanya Suryadi.
“Huft—Untung kamarku berada di lantai dua,” Yoz menghela napas.
“Aku juga.”
Cairan yang keluar semakin bertambah banyak, namun ada yang janggal. Cairan tersebut tidak mengalir ke wilayah yang lebih rendah layaknya sifat air pada umumnya namun justru menggumpal dan bergerak aneh seperti sebuah entitas yang memiliki kesadaran. Ditambah lagi dengan munculnya dua bola transparan yang mirip seperti mata di dalam cairan tersebut.
“Monster slime? Untung saja ada kau di sini.”
Suryadi langsung mendorong Yoz menuju ke arah monster itu seperti menyerahkan urusan bertarung kepada temannya sambil berkata, “Karena kau ada di sini, maka kau harus mengalahkannya dengan teknik pamungkasmu yang bernama ‘wan handret impek’ itu!”
Adapun Yoz yang kesal langsung melepaskan diri dari Suryadi. “Kau pikir aku ini bodygua—”
Belum saja Yoz menyelesaikan kalimatnya, sebuah tentakel langsung menyambar kakinya dan mengangkatnya ke atas hingga dirinya menggelantung terbalik. Jika ditelusuri dari mana tentakel itu berasal, maka jawaban yang tepat adalah berasal dari entitas yang baru saja muncul dari selokan tadi.
Orang-orang yang melihat monster itu muncul dan menyerang Yoz langsung pergi menjauh dari lokasi, sedangkan Suryadi dibuat panik harus melakukan apa untuk membantu temannya.
Yoz bisa merasakan seluruh aliran darah mengalir ke kepalanya seperti saat melakukan yoga headstand, namun bukan berarti kemampuan berpikirnya akan meningkat pesat. Justru yang dia lakukan ialah pasrah dalam posisinya yang sekarang tanpa bisa melakukan apa-apa.
Hanya ada satu kalimat yang terlintas di pikirannya ketika melihat monster itu di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat.
‘Jadi monster tingkat B yang dimaksud itu adalah makhluk lendir ini?’
“Yoz, tangkap ini!”
Suryadi yang cepat tanggap langsung melemparkan sesuatu kepada temannya. Yoz pun dengan sigap menangkapnya lalu melihat apa yang temannya berikan. Ternyata yang ia dapatkan adalah sebuah gunting, meskipun cuma peralatan biasa tapi sepertinya benda itu sangat berguna apalagi di kondisi seperti saat ini.
Tanpa membiarkan waktu berjalan lebih lama, Yoz langsung meraih kakinya lalu memotong tentakel yang melilitnya. Dengan satu potongan saja, tentakel itu terputus dan ia berhasil terlepas namun terjatuh dengan pendaratan tidak begitu bagus.
Kabar buruknya adalah kepalanya mendarat terlebih dahulu ke tanah, sedangkan untuk kabar baiknya ialah tidak ada pergeseran pada tulang tengkuknya. Meskipun luka yang diterima tidak begitu parah, tetap saja akan terasa sakit di saat kepala membentur ke tanah tanpa mengenakan pelindung apapun.
Kini dia berusaha berdiri sambil mengelus-elus kepalanya yang memar. Sedangkan monster slime tersebut hanya terdiam seraya melihat bagian tubuhnya yang baru saja terpotong.
Adapun Suryadi buru-buru berlari ke arah Yoz setelah melihat temannya terjatuh dengan pendaratan yang kurang bagus.
“Kau tidak apa-apa?”
“Ya” balas datar Yoz sambil menatap serius slime di hadapannya.
“Tunggu apa lagi? Habisi monster itu!” desak Suryadi sambil memperagakan gaya meninju.
“Aku tidak bisa melakukannya….” Yoz memejamkan mata dan menundukkan kepala menyesal.
“A-apa?!”
“Apa kau ingat karakter fiksi manusia karet yang tidak bisa dilukai dengan pukulan?”
“Iya, memangnya kenapa?”
“Monster ini memang terlihat seperti cairan, tapi sewaktu tentakelnya melilit kakiku, kepadatan tubuhnya mirip seperti sebuah karet. Makhluk ini mungkin hanya bisa dilukai dengan cara dibakar atau ditebas menggunakan senjata tajam,” ungkap panjang Yoz.
“Darimana kau bisa tahu?” Suryadi menelengkan dan menggaruk-garuk kepala terheran-heran terhadap penjelasan Yoz.
Tanpa sebuah kalimat atau satu kata untuk menjawab pertanyaan itu, Yoz hanya menoleh ke arah bekas potongan tentakel slime yang barusan dia potong.
Seperti dipandu olehnya, Suryadi pun juga ikut menoleh ke arah potongan tersebut dan langsung memahaminya.
“Begitu, ya… bagaimana kalau kita menamainya ‘Mutan Slime Karet’?”
“INI BUKAN SAATNYA UNTUK MEMBERI NAMA, DASAR BODOH!”
Di tengah pembicaraan mereka berdua, potongan tentakel slime tersebut tiba-tiba bergerak sendiri lalu memunculkan dua bola transparan di dalamnya mirip seperti slime sebelumnya namun berukuran lebih kecil.
Langsung saja makhluk itu menerjang ke arah Suryadi yang notabennya berjarak sedikit lebih dekat dibandingkan dengan Yoz.
Buru-buru Yoz berlari untuk menghadang monster slime kecil itu sebelum terjadi sesuatu yang buruk. “Menjauh dari sana Surya—"
*Boing! Boing!*
Bukannya pemandangan keberingasan monster, yang Yoz dapati justru pemandangan slime kecil yang melompat-lompat berusaha menggapai tangan Suryadi. Bahkan makhluk kecil itu lebih terlihat seperti peliharaan yang manja terhadap majikannya. Suryadi yang melihatnya pun langsung mengangkat makhluk itu lalu memainkannya.
“Makhluk ini ternyata imut juga, ya… aku jadi ingin memeliharanya,” ungkap Suryadi sambil mengelus-elus slime tersebut dengan tangannya.
“…”
‘Orang ini… sama sekali tak berguna….' Yoz menatap malas kepada temannya yang malah asik mengelus makhluk kecil itu di saat kondisi seperti ini.
Sedangkan itu, slime yang asli mulai mencoba melancarkan serangan tentakelnya ke arah mereka berdua. Yoz pun dengan sigap mengambil ancang-ancang menghadapi serangan tersebut dengan bermodalkan gunting di tangannya. Sedangkan Suryadi juga ikut mengambil ancang-ancang namun tiba-tiba fokusnya teralihkan ketika ia menatap ke arah tas yang dibawa oleh temannya.
“Eh… Yoz, aku baru sadar… kenapa kau membawa gulungan karton? Bukannya hari ini tidak ada pelajaran Seni?”
Langsung saja Yoz merubah posisi ancang-ancangnya menjadi menarik gulungan karton yang isi sebenarnya adalah pedang milik Arda, sedangkan tentakel slime tersebut langsung meluncur dengan cepat mendekati mereka berdua.
‘Arda, aku pinjam sebentar pedangmu!’
*Sing!*
Saat Yoz hendak mencabut gulungan karton miliknya, tiba-tiba saja muncul sebuah tebasan dari atas yang memotong tentakel slime tersebut. Suryadi dan Yoz yang melihatnya berpikir kalau pahlawan telah tiba di lokasi, namun alangkah terkejutnya mereka saat melihat sosok dari pelaku dari tebasan itu mendarat tepat di hadapan mereka.
Sosok itu mengenakan pakaian kemeja pendek merah, serta di tangan kanannya memegang sebuah claymore yang berukuran cukup besar.
Alasan mengapa mereka berdua terkejut adalah karena mereka sangat mengenali sosok itu.
“Ito!?”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Suryadi dan Yoz sama-sama mengenal dengan jelas wajah dari sosok yang baru saja tiba di hadapan mereka.
Di saat sosok itu menolehkan wajahnya, mereka berdua bisa langsung mengingat namanya meskipun orang itu tidak mengenakan sebuah kacamata atau aksesoris apapun di kepalanya.
“Ito!?” ucap Suryadi terkejut.
“Kalian baik-baik saja?” tanya Knighto yang memiliki nama panggilan Ito.
“Bukan saatnya untuk menanyakan kabar, To,” balas datar Yoz.
Knig tertawa sejenak, “Hahaha, kamu selalu saja begitu….”
“Langsung ke intinya saja, makhluk yang ada di hadapanmu sekarang tidak bisa dilukai dengan serangan fisik seperti pukulan, dia hanya bisa dilukai dengan cara dibakar atau ditebas sama seperti yang kau lakukan sebelumnya.
Tapi, masalahnya ialah makhluk itu dapat membentuk kesadaran baru setelah terpisah dari tubuh aslinya. Aku rasa akan lebih baik jika membakar makhluk itu sampai hangus tak tersisa menggunakan api,” tutup Yoz.
“Baiklah, aku paham, terima kasih atas informasinya,” jawab Knig lalu langsung menerjang ke arah slime itu.
Monster slime itu pun juga langsung melancarkan puluhan tentakel untuk menyerang Knighto, tapi dengan cepat sang ksatria mengayunkan pedangnya dan menebas semua tentakel itu hingga terpotong menjadi beberapa bagian.
Meskipun membawa senjata yang cukup besar dan berat, Knig seperti tidak mengalami kesulitan sama sekali akan hal itu. Kekuatan ayunannya begitu kuat, bahkan efek tebasannya membuat jalanan di sekitar hancur saking kuatnya ayunan dari Knig.
‘Apa tidak terlalu berlebihan menebas makhluk lendir itu dengan kekuatan penuh? Lagi pula aku sudah bilang kalau membakarnya akan jauh lebih efektif…’ batin Yoz.
“A-aku masih tidak paham… bukankah kita ini pelajar SMP? Tapi kenapa kita justru berada di sini dan berhadapan dengan monster? Kemarin aku melihat seorang pelajar yang menghabisi monster dengan seratus pukulan dan sekarang pelajar yang membawa pedang besar. Aku merasa semua kejadian ini benar-benar tidak masuk akal… apa jangan-jangan nanti kita akan bertemu dengan para pengendali elemen?”
“Memangnya kau ini sedang membahas dunia era kapan? Dan juga 'Impact' bukanlah sebuah pukulan!”
“Ya, sudahlah! Aku semakin bingung memikirkannya!” Suryadi mengacak-ngacak rambutnya karena tidak bisa mencerna semua pertanyaan tadi. “Ngomong-ngomong, sejak kapan dia ahli dalam menggunakan pedang besar itu?”
“Huh? Padahal kau sudah mengenalnya sejak TK dan SD, tapi kau tidak tahu kalau dia sudah belajar teknik berpedang setelah lulus TK….”
“Oh… lalu kenapa kau tidak membantunya?”
“Aku tak mau tubuhku terpotong-potong karena ayunan pedangnya yang tanpa arah itu!”
Sedangkan itu, Knighto dan monster slime rupanya masih saling melancarkan serangan masing-masing. Si slime terus melancarkan serangan tentakel-tentakelnya tanpa henti, tapi Knig dengan mudah menebas tentakel-tentakel itu meskipun senjata yang dia gunakan cukup besar dan berat.
“Huh!?” guman kebingungan Knig, Suryadi, dan Yoz serentak.
Mereka bertiga menyadari sesuatu tentang slime itu. Entah perasaan mereka saja atau memang slime itu semakin menyusut setiap kali tubuhnya ditebas? Sepertinya tentakel-tentakel yang makhluk itu keluarkan mengonsumsi massa dan ukuran tubuhnya. Bahkan makhluk itu semakin mengecil hingga hampir seukuran ban sepeda.
Sambil meraungkan suara kemenangan, Knig mengangkat claymore-nya ke atas lalu melakukan satu tebasan super kuat hingga slime itu terbelah menjadi dua. Suara dari tebasan itu terdengar cukup keras oleh Suryadi dan Yoz meskipun jarak mereka dengan Knig cukup jauh.
“Sudah berakhir…” ucap Knig dengan napas terengah-engah.
“Tidak,” balas Suryadi dan Yoz serentak.
Slime berukuran besar tadi mungkin sudah menghilang, namun masalah baru kembali muncul. Potongan-potongan tubuh slime yang berantakan setelah ditebas oleh Knighto berubah menjadi slime berukuran kecil sama seperti slime yang dipegang oleh Suryadi, kemudian mereka semua menyerang Knighto secara bersamaan sehingga dia tidak bisa bergerak dan terjatuh.
Apalagi Knig terlihat sudah kehabisan tenaga setelah melancarkan serangan terakhir barusan sehingga dia tak bisa melakukan apa-apa saat dikerumuni oleh monster-monster kecil itu. Bahkan saking banyaknya slime-slime tersebut, Knig terlihat seperti tenggelam di lautan slime.
“Yoz, dia dikepung!” Suryadi mendesak dan menarik jaket Yoz.
“Memangnya kenapa? Makhluk-makhluk kecil itu sudah tidak berbahaya, bukan?”
“Apa kau tidak pernah dengar berita tentang seseorang yang nyaris tewas saat bermain wahana mandi bola?”
‘Inilah sebabnya aku tidak suka menonton berita…’ Yoz memasang wajah sinis setelah mendengar pernyataan barusan. Jelas hal itu adalah cara mati paling tidak lazim jika memang benar-benar terjadi. Tapi jika dipikir lagi, kasusnya mungkin sama seperti korban yang tenggelam dalam sungai atau tertimbun longsor.
Tak mau apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan, Yoz mengeluh keras-keras lalu bertanya, “Apa kau membawa korek?”
“Tidak...”
Yoz menepuk jidatnya lalu menyodorkan tangan, “Huh... baiklah, berikan slime tersebut kepadaku!”
“Eh?! Untuk apa?” tanya Suryadi sambil terus mengelus-elus slime di tangannya.
“Aku ingin memastikan kalau slime ini tetap bisa dihancurkan jika dipukul dengan sangat kuat.”
Yoz mencoba mengambil slime yang ada di tangan Suryadi. Namun di saat dia hendak meraih makhluk itu, Suryadi tiba-tiba mundur beberapa langkah sambil memegang erat-erat slime tersebut lalu memasang tatapan mengancam.
“Maju selangkah saja dan kau akan merasakan akibatnya!” ucapnya sambil menjauhkan sobat kecilnya dari Yoz.
“Sebenarnya kau ini ada di pihak siapa?”
“Masih banyak cara selain menghancurkan slime kecil ini!”
“Kalau begitu, kau saja yang menghadapi makhluk-makhluk itu!” protes Yoz kesal.
“Ya, sudahlah… sekarang adalah giliranku!” Suryadi menegakkan badan setelah itu berjalan dengan gagah berani mendekati para slime.
“Huh?!”
Ekspresi terkejut terlihat dengan jelas di wajah Yoz. Bagaimana tidak, seorang siswa populer yang mengabdikan dirinya pada pekerjaan kacung tersebut kini akan menghadapi monster yang banyak seorang diri.
Yoz tahu kalau temannya itu pernah belajar ilmu beladiri karate dan pernah menghajarnya dengan teknik karate tersebut, tapi apakah itu akan berhasil terhadap puluhan atau bahkan ratusan slime?
Sambil menarik napas dalam-dalam, Suryadi mengangkat ke atas slime di tangannya lalu berteriak sekeras mungkin, “HEI! LIHATLAH! AKU MEMBAWA SALAH SATU DARI TEMAN KALIAN DI TANGANKU!”
Para slime yang awalnya mengerumuni Knighto ternyata terpancing oleh suara Suryadi kemudian pergi menuju ke arahnya. Bahkan ekspresi terkejut Yoz semakin menjadi-jadi setelah melihat hal itu.
'Orang ini benar-benar sudah gila! Apa dia ingin bunuh diri!?’ Yoz buru-buru berlari untuk menyelamatkan temannya yang mungkin sudah kehilangan akal sehat.
Ketika para slime itu sudah sangat dekat, Suryadi mengucapkan sesuatu sehingga baik itu para slime maupun Yoz berhenti seketika.
“Yoz, apa kau punya plastik atau karung?” pintanya.
“Hah!?” balas Yoz menghentikan langkahnya lalu kembali menatap sinis. “Sepertinya penyakit gilamu memang mulai kambuh lagi....”
Tanpa mempedulikan umpatan temannya, Suryadi kembali melanjutkan kalimatnya—
“Sayang sekali tidak ada plastik atau karung di sini, padahal kalau kita menjual slime-slime ini pasti akan sangat menguntungkan, apalagi kalau jumlahnya ada sebanyak ini,” ucap Suryadi seraya melirik-lirik para slime yang ternyata memang benar-benar berhenti tepat di depannya.
“Hah…!?” respon yang sama dari Knighto namun dengan ekspresi diam membeku tak bisa berkata apa-apa setelahnya.
“Baiklah, karena tidak ada karung, aku mau pinjam tas kalian saja untuk membawa slime-slime ini, lalu menjual semuanya kepada orang-orang.”
Tidak seperti hari-hari sebelumnya di mana Suryadi gemetar hebat saat berhadapan dengan Rogiant maupun Pison, kali ini dia terlihat sangat berani menghadapi puluhan ratusan slime. Bahkan tanpa ragu memasang wajah menyeringai ke arah makhluk-makhluk kecil itu setelah mengucapkan kalimat barusan.
Malah sebaliknya, slime-slime itulah yang gemetar hebat setelah mendengar apa yang sudah Suryadi ucapkan sebelumnya. Entah apa karena paham akan ucapannya atau karena ekspresi menakutkannya. Langsung saja semua slime itu terbirit-birit ketakutan ke arah selokan tempat di mana mereka muncul sebelumnya, termasuk slime yang ada di tangan Suryadi.
“Hei, tunggu! Kau mau lari kemana!? Aku tadi hanya bercanda!” Suryadi berlari mengejar slime yang melompat dari tangannya dan menuju ke dalam selokan.
“Lupakan saja makhluk itu, Di!” cegah Yoz sambil berjalan ke arah mereka berdua.
“Huh…” gerutu Suryadi pasrah melihat kepergian sobat slime tersebut.
Adapun Knighto hanya bisa terbengong sejenak dengan mulut yang terbuka saat melihat hal tak terduga seperti itu, kemudian dirinya mencoba untuk kembali berdiri dengan bantuan senjatanya sebagai penyangga.
“Aku tidak menyangkau kalau kau bisa berguna juga di saat terdesak seperti tadi,” kata Yoz bertepuk tangan malas sembari berjalan ke arah mereka berdua.
“Hei! Aku merasa ada ledekan di kalimat itu!” balas Suryadi dengan wajah kesal.
“Ito, kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Yoz kepada Knighto.
Knighto pun tersenyum sambil menjawab, “Apa kamu tidak ingat? Rumahku berada di pusat kota. Melihat kalian diserang oleh monster, bagaimana mungkin aku hanya akan berdiam diri?”
“Ah… aku lupa…” ucap Yoz lalu melewati Knig berjalan mendekati selokan.
Sesampainya di selokan tersebut, Yoz berjongkok sambil melirik ke dalam saluran air yang sangat bau itu.
‘Jika makhluk-makhluk lendir itu lari karena perkataan Suryadi, apakah itu berarti mereka memiliki kecerdasan tinggi? Kalau memang benar, siapa yang menciptakannya?’ pikir Yoz sembari memegang dagu.
“Hei! Apa yang kau lakukan di sana? Selokan itu cukup bau, loh!” teriak Suryadi dari kejauhan kepada Yoz.
Yoz tidak membalas sejenak, dia hanya berdiri sambil menarik napas sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya sepanjang mungkin. 'Aku rasa lain kali saja menemui Arda, para pahlawan dan polisi mungkin sebentar lagi akan tiba di sini...'
“Lebih baik kita pergi sebelum para pahlawan datang!” jawabnya lalu melirik sekeliling.
'Bagus, sama sekali tidak ada CCTV di sini!'
“Lalu bagaimana dengan Arda? Kau tidak jadi menemuinya?” tanya Suryadi berpura-pura tidak tahu.
“Aku akan menemuinya di lain hari, aku tidak ingin menjawab banyak pertanyaan lagi dari polisi jika mereka tiba di sini!”
Yoz pun pergi meninggalkan lokasi tersebut mengabaikan kedua temannya yang berada di belakang. Kemudian disusul oleh Knighto, tapi sebelum pergi ia memberikan senyuman ramah kepada teman lamanya. Sedangkan Suryadi pun segera ikut menyusul setelah diberi senyuman ramah dari Knig, wajahnya terlihat kesal karena merasa senyuman itu terkesan meledek.
Setelah mereka bertiga pergi dari lokasi, ternyata seseorang telah tiba di sana sambil melirik-lirik jalanan yang terlihat jelas adanya bekas pertarungan di tempat itu.
Kemudian mengeluarkan sebuah kamera dari tasnya dan memotret bekas pertarungan tersebut seraya berkata, “Huh… kenapa aku harus memata-matai bocah rendahan seperti dia?”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 17: Gift