
Setelah kurang lebih tiga jam berlalu, pelajaran pertama telah usai dengan ditandai berbunyinya suara bel yang terpasang di setiap kelas.
Bagaikan suara yang sangat indah, hampir semua siswa terlihat sangat senang dan buru-buru keluar dari kelas untuk bergegas pergi ke kantin, termasuk Suryadi yang kini membawa banyak uang.
Sesuai dengan perkataannya kepada temannya sebelum pelajaran pertama dimulai, dengan uang yang cukup banyak di sakunya, dia bergegas pergi menuju ke kantin lalu kembali ke kelas berulang kali layaknya delivery driver.
Perlu diakui, semangat yang dimilikinya serta kemampuannya dalam menyela antrian menjadikan dia cukup layak dalam menjalankan pekerjaan ini.
Sedangkan itu, di sisi lain sekolah tepatnya di bagian belakang halaman sekolah yang sepi. Berdasarkan kesepakatan antara kedua pihak untuk, Yoz dan Arda saling berhadapan seperti dua koboi yang ada di kebanyakan film barat.
Arda begitu waspada dengan orang yang ada di hadapannya seakan sedang berhadapan dengan musuh. Tangan kanannya terus-terusan berada di samping rompi seperti akan menarik gagang pedang yang disembunyikannya dengan sempurna, matanya dengan serius dan tajam menatap lawan dihadapannya.
Sedangkan Yoz hanya berdiri tegak dan menatap Arda dengan datar tapi juga serius. Kemudian dia mengangkat tangan kirinya dan memandang bosan jam tangannya.
Merasa kalau mereka akan saling berhadapan lebih lama lagi jika terus saling berdiam diri, Yoz pun memulai percakapan dengan perasaan sedikit malas.
“Huh… apa yang ingin kau bicarakan? Sebenarnya apa tujuanmu berada di sekolah ini?”
“Ada banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu dan kuharap kau menjawabnya dengan jujur, Yoz,” jawab Arda.
“Bagaimana kau bisa mengetahui namaku? Kita tidak pernah berkenalan sebelumnya?”
“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya terlebih dahulu,” balas Arda lalu segera mengambil sesuatu di balik rompinya lalu diarahkan ke Yoz.
Terlihat tangannya memegang sebuah kertas yang tertempel sebuah foto seseorang disertai tulisan di bawahnya seperti poster buronan yang sedang dicari.
Yoz pun menyerngitkan alisnya saat melihat foto yang ditunjukkan oleh Arda dengan seksama. Sedangkan, Arda langsung mengajukan pertanyaan setelah mengeluarkan kertas itu.
“Apa kau mengenal orang bernama Freed Clowen yang ada di poster ini?”
Namun Yoz yang seperti tidak mengenali wajah di poster itu membalas dengan malas, “Apa maksudmu? Siapa Freed Clowen itu?”
“Begitu… kau sama sekali tidak ingin memberitahu, ya…” Arda tersenyum sinis lalu kembali memasukkan foto itu ke sakunya, setelah itu memasang kuda-kuda seperti akan bersiaga memulai pertarungan, “baiklah, tidak ada pilihan lain selain memaksamu membuka mulut!”
Tiba-tiba angin yang ada di sekitar bertiup dengan kencang mengelilingi mereka berdua, seolah-olah kekuatan besar telah muncul dari tubuh sang pahlawan.
Arda langsung menarik gagang pedang yang ada di balik rompinya layaknya seorang samurai. Sebuah pedang yang panjang dan ramping mirip katana mulai diselimuti oleh aliran listrik dari bagian atas hingga ke bagian bawah bilahnya.
Dengan cepat pemilik pedang mengayunkan pedangnya ke arah samping, sehingga angin-angin bertiup semakin kencang mengintimidasi lawannya.
Sedangkan Yoz juga langsung bersiaga setelah melihat Arda mengeluarkan pedangnya, dirinya hanya berbekalkan tangan kosong untuk menghadapi lawannya, terkesan seperti sebuah pertarungan yang berat sebelah.
Dia mengepalkan tangan dan menambahkan kekuatan pada kakinya untuk menahan hembusan angin yang kencang.
“Kau sama sekali tidak mengenal tempat, hah? Bukan saatnya untuk bertarung di tempat seperti ini!” Yoz memperingati sembari menutupi wajahnya dari hembusan angin menggunakan kedua tangannya.
Arda yang tak peduli akan peringatan itu justru semakin mendesaknya, “Jika kau tidak ingin bertarung, maka katakan yang sebenarnya!”
“Sial! Jadi kau benar-benar berniat untuk bertarung di sini, ya?”
“Bersiaplah!”
Sang pahlawan mulai melangkah maju dan mengayunkan pedangnya ke arah Yoz. Pemuda berjaket merah itu terkejut dengan kecepatan gerakan si pahlawan sehingga tidak sempat untuk menghindari.
“Hei!”
“!”
Saat bilah berlistrik itu nyaris mengenai tangan Yoz, tiba-tiba terdengar suara seseorang di sisi lain belakang sekolah.
Terkejut karena suara itu, Arda dengan reflek menahan ayunan pedangnya dan seketika angin-angin yang sebelumnya bertiup kencang mendadak menghilang seolah diperintah olehnya.
Dari arah belakangnya, pelaku dari suara tadi adalah seorang siswa yang menenteng banyak kantong plastik berisi makanan di tangannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Suryadi.
Arda langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati pemuda itu sudah ada di belakangnya. Dengan wajah yang kesal, dia memasukkan pedang miliknya ke dalam sarung sembari berdecak dengan suara jengkel, “Tcih! Mengganggu saja!”
‘Nice timing, Suryadi!’ Yoz tersenyum tipis.
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” tanya Suryadi lalu mendatangi mereka berdua sambil melambaikan tangan dengan sok akrab.
Melihat Suryadi yang sedang menuju ke mereka berdua, Arda pun menoleh kembali ke arah Yoz lalu berkata, “Urusan kita masih belum selesai!”
Setelah mengucapkan kalimatnya, pahlawan itu pun berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Yoz.
Suryadi yang melambaikan tangan ke arah Arda diabaikan dan dilewati begitu saja, membuatnya menjadi bingung melihat sikap Arda yang mengabaikan dirinya dan langsung mendatangi Yoz untuk bertanya berharap menemukan jawabannya.
“Hei, Yoz, apa yang kalian berdua lakukan tadi?”
“Ah… dia hanya bertanya soal PR,” jawab Yoz ragu.
Melihat ekspresi teman yang ragu saat menjawab, Suryadi langsung mengetahui kalau temannya sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Ekspresinya pun seketika berubah.
“Jawab yang serius! Mana mungkin kalian berdua berbincang di tempat sepi hanya untuk menanyakan PR.”
Kemudian dia melipat kedua tangannya dan mulai mengetuk-ngetuk tanah dengan kakinya. Dengan sedikit menyerngitkan alisnya, dia melanjutkan kalimatnya dengan suara penuh kejenuhan.
‘Oke, dia mulai mengoceh lagi,’ keluh Yoz dalam hati.
“—Dia itu anak baru di sekolah ini, tidak logis kalau dia bertanya soal PR. Lagipula, ini sudah mendekati akhir semester, bagaimana bisa pihak sekolah menerima anak baru padahal ujian sebentar lagi akan dilaksanakan?”
“Huh… lupakan saja masalah itu, lebih baik kita kembali ke kelas,” balas Yoz setelah menggaruk kepala seakan tidak mendengarkan ocehan temannya lalu dengan cepat melesat pergi untuk menghindari ocehan lebih lanjut.
“Hei! Jawab dulu pertanyaanku!” sahut Suryadi kesal.
Yoz segera melangkah menuju ke kelas tanpa mempedulikan suara di belakangnya, disusul oleh Suryadi yang mengekor di belakang dan menggerutu sendiri karena diabaikan.
Pada akhirnya Suryadi pun menyerah untuk terus bertanya, karena meskipun dia selalu bertanya dengan panjang lebar pada akhirnya Yoz tidak akan pernah mau menjawab pertanyaannya sama seperti kemarin.
Dalam perjalanan ke kelas, mereka berdua berjalan melewati lorong yang ramai akan siswa dan guru. Suryadi terlihat sibuk menyapa setiap siswa yang ditemuinya, sedangkan Yoz seolah tak peduli akan hal itu dan hanya menatap lurus.
‘Pesanan terakhir?’ ucap Yoz dalam hati ketika melihat Suryadi hanya membawa beberapa kantong plastik di tangannya, sepertinya itu merupakan pesanan terakhir yang hendak diantarkan ke kelas.
Di saat mereka sudah hampir sampai ke kelas, jauh di depan mereka ada seseorang yang terasa familiar berjalan berlawanan dan seperti menghalangi jalur mereka berdua. Namun karena masih jauh, mereka berdua tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas.
Ketika jarak mereka dengan orang itu sudah cukup dekat, orang itu melambaikan tangan seperti menyapa. Namun bukannya melambai ke arah Suryadi, orang itu justru melambai ke arah Yoz.
Orang itu adalah teman Yoz dan Suryadi, Knighto Darce. Anak kelas 2-G yang berpenampilan sedikit tinggi dari Yoz, memiliki rambut pendek berwarna hitam, warna kulit yang putih, serta kacamata minus berwarna biru yand dikenakannya. Dari cara dia menyapa, terlihat kalau dia adalah orang yang ramah dan baik terhadap semua orang.
Sekedar informasi tambahan, Knighto merupakan kerabat jauh dari Yoz dan sudah saling mengenal sejak kelas 2 SD. Selain itu, dia juga merupakan teman Suryadi sejak TK, jadi Suryadi jauh lebih mengenal Knighto dibandingkan Yoz. Namun, sepertinya hubungan mereka berdua tidak begitu baik sekarang. Hal itu bisa dilihat dari Knighto yang hanya menyapa Yoz serta ekspresi Suryadi yang seperti tidak senang ketika melihatnya.
“Yoz, bisa bicara berdua sebentar?” pinta Knighto setelah melambaikan tangan.
Mendengar permintaan itu, Yoz menoleh ke arah Suryadi. “Di, kamu pergi ke kelas duluan, aku mau berbincang dulu dengannya. Tidak masalah, bukan?”
“Ya udah!” balas pendek Suryadi menyipitkan mata ke Knighto lalu membuang muka sambil berjalan ke kelas meninggalkan mereka berdua, tingkahnya benar-benar terlihat sangat kekanak-kanakan.
“Dasar…” keluh pendek Yoz.
Knighto pun hanya tertawa kecil lalu berbicara, “Kalau begitu, bagaimana kalau kita bicara di ujung lorong saja seperti biasanya?”
“Baiklah....”
Mereka berdua pun berjalan lurus menuju ke lokasi ujung lorong yang berdekatan dengan ruang TU dan tangga.
Sebenarnya Yoz dan Knighto sering menggunakan tempat itu untuk berbincang empat mata karena tempatnya cukup sepi dan hanya dilalui oleh siswa lain.
Ketika telah sampai di lokasi yang dimaksud, pria berkacamata itu mulai membuka pembicaraan.
Knighto bercerita tentang keluhan yang sering dia alami ketika berada di sekolah. Setiap hari, dirinya selalu menjadi korban bully di kelasnya karena dianggap lemah dan penakut, terutama penampilannya yang mengenakan kacamata membuat orang-orang semakin terpancing untuk melakukannya.
Yoz pun sudah berusaha beberapa kali mengingatkannya agar melawan mereka yang menindasnya, bahkan pernah berurusan dengan guru BK (Bimbingan Konseling) hanya karena membelanya. Tapi Knighto selalu menolak saran Yoz untuk melawan karena alasan tertentu.
Semenjak berurusan dengan guru BK, Yoz pun akhirnya menyerah untuk menasehatinya karena hasilnya tetap nihil. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menjadi pendengar yang baik sampai temannya itu selesai menceritakan masalahnya.
Setelah berbincang cukup lama, mereka berdua pun mengakhiri percakapan dan kembali ke kelas masing-masing.
Yoz yang tiba dikelas langsung disambut dengan pemandangan Suryadi yang terlihat masih sibuk memberikan sisa pesanan kepada teman-temannya.
Suryadi yang melihat Yoz sudah kembali buru-buru mendatanginya untuk meminta bantuan.
“Yoz, tolong bantu aku! Kasih pesanan ini ke mereka bertiga, ya!” pinta Suryadi sambil menyodorkan kantong plastik yang berisikan tiga buah kantong plastik berisi makanan lalu menunjuk ke arah Nia, Pami, dan Shela.
Setelah mengeluh, dia mengambil kantong plastik tersebut lalu berjalan menuju ke meja tempat Nia, Pami, dan Shela berada. Dengan sikap yang dingin dan terlihat tidak sopan, dia langsung menaruh pesanan itu ke meja mereka.
“Ini pesanan kalian.”
Shela yang melihat pesanannya sudah sampai langsung tersenyum ramah dan membalas, “Ah iya, terima kasih, ya~”
Yoz begitu terkejut ketika Shela tersenyum ke arahnya. Namun, dia yang masih menjaga image-nya langsung membuang muka lalu berkata, “Langsung berikan saja uangnya!”
Tanpa mempedulikan sikap Yoz yang dingin, mereka bertiga pun sepakat untuk masing-masing menempatkan uang mereka di tengah meja.
Setelah uang itu terkumpul dengan nilai nominal yang sepertinya sesuai dengan harga kerja keras Suryadi, Nia langsung memberikannya kepada Yoz seraya mengucapkan rasa terima kasihnya. Kemudian Shela langsung mengambil pesanan itu dan membagikannya kepada dua temannya. Sedangkan Pami menatap Yoz dengan serius seperti hewan yang tidak suka melihat kawasannya dimasuki oleh makhluk lain.
‘Dasar aneh,’ cela Yoz di dalam hati karena terusik dengan tatapan itu kemudian pergi menghampiri Suryadi untuk memberikan uang yang telah dia terima tadi.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Bel sekolah pun berbunyi menandakan berakhirnya waktu istirahat pertama. Seluruh siswa berangsur-angsur kembali ke kelas mereka masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya dengan lesu.
Namun berbeda dengan kelas 2-D, murid-murid yang ada di kelas itu justru keluar dari ruangan kelas dengan bersemangat sambil membawa sesuatu di tangan mereka.
Ada yang membawa tas kain berisikan pakaian olaharaga, ada yang membawa kantong plastik dengan isi yang serupa, bahkan ada yang hanya membawa pakaian tanpa dilapisi apapun.
Mereka semua pergi menuju ruangan ganti yang tentunya terbagi menjadi ruangan laki-laki di sebelah kiri dan ruangan perempuan di sebelah kanan.
Sepertinya pelajaran mereka hari ini adalah pelajaran olahraga sehingga mereka semua harus mengganti seragam terlebih dahulu sebelum menuju ke lapangan.
Setelah beberapa saat kemudian, satu per satu murid yang sudah selesai mengganti pakaiannya segera keluar dari ruang ganti dan bergegas menuju ke lapangan.
Terlihat Suryadi baru sampai di lapangan dengan seragam yang longgar melebihi tubuhnya, sambil mengantongi uang yang cukup banyak di celananya, seakan-akan uang itu bisa saja jatuh atau diambil oleh orang lain tanpa sepengetahuannya.
Uang yang ada di dalam kantong bergoncang hebat dan menimbulkan suara gesekan karena pemuda itu sedang berjalan menghampiri teman sebangkunya yang ternyata sudah berada di lapangan terlebih dahulu dan nampak sedang menyendiri di tepi lapangan.
“Hei, Yoz, coba kau lihat si murid baru itu!” ucap Suryadi sambil memegangi kantong celananya takut seluruh uangnya terjatuh.
“Maksudmu Arda?”
“Iya—tingkahnya aneh betul, dari tadi dia cuma berdiri di sana sambil memperhatikan sekitar seperti polisi lagi patroli,” ucap Suryadi lalu menatap ke arah Arda.
Seperti dipandu olehnya, Yoz juga ikut melihat ke arah Arda yang ternyata tidak memakai baju olahraga. Dengan sikap acuh tak acuh, Yoz tetap merespon dengan suara malas.
“Entahlah….”
“Apa mungkin karena dia nggak memakai baju olahraga, ya?” duga Suryadi.
“Mungkin....”
Sedangkan itu, pemuda yang sedang dibicarakan oleh Suryadi dan Yoz ternyata memang berdiam diri di posisinya tanpa bergerak satu inci pun dari titik ia berdiri.
Matanya terus memperhatikan sekitar sama seperti yang dikatakan oleh Suryadi. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa akan ada bahaya yang datang mengancam.
“!”
Benar saja, tak berselang lama tiba-tiba dirinya merasakan sesuatu sedang mendekat ke arahnya dengan pergerakan yang cukup cepat dari dalam tanah. Ia langsung berteriak memberi peringatan kepada semua orang yang ada di lapangan.
“SEMUANYA SEGERA PERGI DARI SINI!!!!”
*Crack! Crack!*
Setelah Arda berteriak, dari permukaan tanah muncul sebuah retakan yang semakin lama semakin membesar. Sesosok monster pun muncul dari retakan tersebut dan berdiri tepat di depan Arda.
Wujud makhluk itu hampir mirip seperti monster yang pernah dihadapi oleh Yoz kemarin, namun memiliki postur badan yang kurus dan lengan yang panjang, serta memiliki warna kulit berwarna hijau pucat.
Melihat monster muncul di hadapannya, Arda langsung melompat dan melancarkan sebuah tendangan yang cukup keras mengenai kepala makhluk itu.
Serangannya membuat si monster termundur cukup jauh dan sepertinya memberikan sedikit efek membekas di kepala.
Namun monster itu dengan cepat langsung membalas dengan mengayunkan lengannya yang panjang, bahkan panjangnya mampu menjangkau Arda yang padahal jarak antara mereka berdua berkisar tiga meter.
Serangan itu begitu cepat sampai-sampai Arda telat menyadari, membuatnya terpental jauh dan menabrak dinding sekolah. Dia langsung tak sadarkan diri setelah menerima serangan itu.
Guru pengajar yang melihat kejadian itu segera memerintah para siswa untuk pergi ke ruang evakuasi. Bahkan seluruh siswa dan guru yang ada di dalam kelas juga langsung menuju ke tempat evakuasi begitu mendengar bunyi peringatan.
Suryadi dengan reflek menarik tangan Yoz, mengajaknya untuk menjauh dari lapangan itu, meskipun dia pernah melihat temannya membunuh salah satu monster dengan mudah.
Sedangkan Yoz pun juga mengikuti ajakan Suryadi tanpa banyak protes. Bukan karena takut, hanya saja dia merasa menghindari monster itu merupakan pilihan yang tepat karena sudah ada pahlawan yang mengurusnya yaitu Arda, apalagi dia tidak ingin berurusan dengan pamannya sama seperti kemarin.
Monster yang melihat mereka berdua berlari langsung bergerak cepat menghadang tepat di depan kedua orang yang hendak menyelamatkan diri itu, seakan sedang mengincar salah satu dari mereka.
“Mo-monster a-apalagi ini…” ucap Suryadi yang ketakutan setengah mati ketika melihat monster yang begitu dekat dengannya.
Bersamaan dengan itu, Arda kembali tersadar dari pingsannya dan berdiri kembali menggunakan kedua tangannya yang gemetar. Dengan pandangan yang sedikit kabur, dia mengumpulkan fokus pada matanya dan mendapati ada dua siswa yang dihadang oleh makhluk mengerikan tersebut.
Monster itu pun mulai menjawab, “Namaku adalah—”
“Tunggu! Biar ku tebak…” Yoz memotong dengan santainya, “tumbuhan hijau yang menolak mati? Marah karena manusia memakan kalian? Dan kau diperintahkan oleh dewa bodoh kalian untuk membasmi manusia?”
“Tidak, kau salah!”
“Oke…” balas Yoz tersenyum canggung berusaha menahan malunya setelah bersikap sok tahu di hadapan makhluk mengerikan tersebut.
“Namaku adalah Pison. Makhluk yang tercipta dari limbah-limbah dan racun yang ada di bumi. Aku diperintahkan ke sini untuk membunuhmu, bocah ‘Aura’,” ungkap monster bernama Pison itu.
“Heh? Aura?” ulang Yoz kebingungan mendengar penjelasan monster itu.
Di tengah pembicaraan antara Yoz dengan monster itu, Arda dari kejauhan meneriaki mereka berdua sambil berjalan terhuyung-huyung.
“KALIAN BERDUA SEGERA PERGI DARI SINI! HEI MONSTER HIJAU, LAWANMU ADALAH AKU!”
Mendengar teriakan Arda yang terkesan menantang, Pison menoleh ke arahnya lalu berkata, “Aku sama sekali tidak punya urusan dengan bocah berambut perak sepertimu!”
‘Sepertinya monster ini buta warna...’ batin Yoz.
Monster itu langsung mengangkat tangan kanannya ke arah atas. Dari tangannya yang panjang itu, keluar sebuah cairan yang aneh terkumpul di tengah-tengah telapak tangannya.
Dilihat dari manapun, cairan itu terlihat cukup berbahaya terutama setelah terlihat gelembung-gelembung yang muncul di permukaannya seperti buih air yang mendidih.
Tanpa ada aba-aba, Pison langsung meluncurkan cairannya ke segala arah, membuat Yoz, Suryadi, dan Arda terkejut.
Arda dengan cepat berlari dan mendorong mereka berdua menghindari cairan itu, namun cipratan dari salah satu cairan yang menetes ke tanah mengenai lengan Arda hingga kulitnya melepuh hebat.
“Sial!” rintih Arda yang kesakitan sambil memegang lengannya.
Melihat Arda yang terluka membuat hati Yoz sedikit tergerak. Mungkin sudah tidak ada pilihan lain lagi selain menggantikan posisi Arda untuk bertarung atau mereka bertiga akan mati tanpa perlawanan.
Apalagi ternyata Arda sama sekali tidak membawa katananya. Dia pun segera berdiri dan berjalan maju ke arah monster itu untuk menggantikan posisi Arda sekaligus bertanggung jawab atas penyebab monster itu bisa muncul.
Tapi sebelum melangkah lebih jauh, ia kembali menoleh pada Arda.
“Aku tidak tahu apa alasan pahlawan sepertimu mencurigaiku tapi akan aku buktikan kalau semua dugaanmu itu salah!”
“A-apa?” balas Arda dengan ekspresi terkejut.
Lagi-lagi sebuah pertarungan dengan resiko yang besar tak bisa dihindari lagi. Namun, tidak ada pilihan lain selain menyelesaikan semuanya di tempat itu dan di saat itu juga.
Tanpa keraguan dan ketakutan di dalam dirinya, Yoz berdiri di hadapan monster itu dengan gagah berani.
Suryadi segera merangkul Arda dan membawanya pergi menjauh dari lokasi sambil berusaha mencari cara untuk mengobati luka Arda yang melepuh.
Beruntungnya, dia melihat sebuah wastafel tidak jauh dari lokasi mereka berdua, dia buru-buru membawa Arda menuju dekat wastafel dan dengan hati-hati mengalirkan luka Arda menggunakan air dingin untuk mencegah panas masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam.
Sedangkan Arda hanya bisa memandangi pasrah Yoz dari kejauhan sambil menahan rasa sakit di lengannya, merasa menyesal karena telah meninggalkan senjatanya begitu saja di dalam kelas.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 6: One Hundred Impact