
Saat Yoz membuka pintu kamarnya, udara dingin yang berasal dari dalam mulai menyerang dan menusuk kulitnya. Keadaan kamarnya sedikit gelap namun ia masih bisa melihat jendela yang belum tertutup menjadi penyebab mengapa udara di dalam kamarnya begitu dingin.
Dia meletakkan tangannya pada saklar yang ada di samping pintu dan seketika ruangan menjadi terang, setelah itu buru-buru menutup jendela sebelum udara semakin bertambah dingin.
Melepaskan semua lelahnya sejak tadi, dia berbaring di kasur dalam kondisi yang berantakan. Wajahnya terlihat letih karena kejadian yang sudah dia alami hari ini. Memandangi bola lampu yang terang menyilaukan mata, mengingatkannya kembali pada kenangan masa lalu.
Masa-masa di mana dia masih hidup bersama ibunya, tetapi semuanya berubah 4 bulan yang lalu sejak ibunya menghilang tanpa jejak.
Meskipun polisi sudah turun tangan untuk mencari keberadaan ibunya, tetap saja tak membuahkan hasil. Oleh karena itulah Yoz tinggal bersama pamannya.
Dia tinggal bersama pamannya satu minggu setelah ibunya menghilang. Awalnya, Paman Hans merupakan orang yang sangat baik dan ramah. Bahkan Yoz sudah menganggap pamannya seperti ayah sendiri.
Akan tetapi saat 3 bulan yang lalu, sifat pamannya berubah drastis dari yang ia kenal, menjadi sosok yang kejam dan tidak memiliki belas kasih. Itulah yang menjadi alasan Yoz begitu dingin terhadap pamannya.
Mengingat hal itu membuatnya nyaris meneteskan air mata. Tapi karena tak ingin terus terlarut dalam kesedihan, dia bangun dari kasurnya dan pergi untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia mencuci wajahnya yang kotor.
Ketika dia memandang ke arah cermin, rambut poni yang selalu menutupi mata kanannya tampak basah terkena air. Ia langsung mengangkat poninya yang basah ke arah atas, terlihat sebuah mata dengan pupil berbentuk bintang dan warnanya emas.
Bagaimana bisa manusia normal seperti dia memiliki mata seperti itu?
Setelah membersihkan wajahnya, dia melepaskan jaket kemudian direndam ke dalam air. Terlihat darah yang menempel pada jaket mulai berbaur dengan air dan berubah menjadi warna merah.
Kemudian dia kembali membaringkan tubuhnya ke kasur, matanya yang dari tadi menahan kantuk dan lelah sudah tak bisa ditahan lagi. Dengan harapan bisa melupakan apa yang sudah dialaminya sepanjang hari ini, dia pun tenggelam dalam tidur yang lelap.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Pada keesokan paginya, Yoz pergi ke sekolahnya seperti biasa dengan berjalan kaki melewati jalan setapak.
Terlihat orang-orang tampak melakukan aktivitas mereka dengan normal seakan tidak terjadi apa-apa, bahkan penyerangan monster di pusat kota kemarin seakan hanya menjadi salah satu berita yang biasa mereka dengar di TV.
Hal ini wajar karena manusia sudah terbiasa akan kehadiran monster semenjak ribuan tahun yang lalu. Terutama setelah berdirinya organisasi pahlawan yang siap menghadapi para monster.
Setelah perjalanan yang sedikit memakan waktu, akhirnya dia tiba di sekolah dan segera memasuki kelasnya. Nampak semua orang sedang asyik berkumpul dengan kelompok-kelompok mereka sendiri, bahkan Suryadi sendiri terlihat sedang asyik berkumpul dengan teman-teman yang lain, mengabaikan Yoz yang sudah datang.
Untuk beberapa hal, sebenarnya Suryadi merupakan siswa yang cukup populer di sekolah, jadi Yoz memaklumi jika kawannya itu tidak punya waktu untuk terus meladeninya.
Karena itu, dia pun kembali melakukan rutinitas yang sering dilakukannya yaitu duduk di mejanya dan berdiam diri sama seperti kemarin.
Kelas 2-D sendiri merupakan kelas yang memiliki jumlah siswa sebanyak 40 siswa, jumlah yang terhitung cukup banyak dibandingkan kelas-kelas yang lain.
Dengan jumlah siswa yang sebanyak itu, mereka terbagi menjadi beberapa jenis kubu. Di antaranya yaitu kubu anak-anak berandalan, kubu para kutu buku, kubu gamers, kubu penggemar boyband, dan bahkan ada kubu penggemar anime.
Namun dari semua jenis kubu-kubu itu, Yoz sama sekali tidak bergabung dengan satu kelompok pun. Sikapnya yang dingin dan cuek terhadap orang-orang mengakibatkan teman sekelasnya tidak ada yang ingin berteman dengannya.
Tidak ada yang tahu latar belakang seperti apa yang membuat ia dijauhi teman-temannya, tapi yang jelas pemuda berjaket merah tersebut terlihat tak peduli dengan hal itu. Baginya, berteman dengan Suryadi lebih dari kata cukup.
*Bum!*
Di tengah-tengah ributnya kelas, tiba-tiba terdengar suara suara meja yang dipukul cukup keras yang membuat suasana kelas yang awalnya ramai menjadi hening. Semua orang langsung terpancing melihat ke arah sumber suara.
Mereka semua langsung mengetahui siapa tersangka di balik suara yang keras itu dan menoleh ke arah bangku pojok belakang kiri. Bahkan Yoz yang biasanya bersikap tidak peduli pun juga ikut terpancing akan suara itu.
‘Apa itu ulah dari ketiga murid pindahan?’ tebak Yoz dalam hati.
Sesuai dengan perkiraannya, pelaku yang memukul meja itu adalah salah satu dari ketiga siswa pindahan kelas 1-A.
Siswa yang memukul meja sehingga menimbulkan suara yang keras bernama Pami Jayawan, yang menunjukkan rasa kesal terhadap teman yang yang menjahilinya. Dia memiliki badan yang besar dan rambut hitam berantakan. Dengan gaya berjalannya yang kaku, teman-teman di kelas suka meledek gaya berjalannya yang mirip seperti robot.
Kemudian siswi yang menjadi pelaku kejahilan bernama Khania Dara, yang menunjukkan ekspresi tertawanya seperti tidak merasa bersalah atas perbuatannya. Seorang siswi yang memiliki sifat pendiam dan tidak banyak berbicara. Berpenampilan sedikit gemuk, warna kulit yang sedikit putih, memiliki rambut pendek sebahu bergelombang, serta mengenakan kacamata berwarna kuning.
Yang terakhir adalah seorang gadis bernama Shela Gekou, siswa satu meja dengan Nia yang hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua temannya. Di antara semua siswi yang ada di kelas, mungkin dia yang paling mencolok dalam hal penampilan. Seorang gadis yang memiliki warna kulit putih dan rambut cepol yang rapi. Memiliki sifat yang feminim, ceria, dan ramah. Karena penampilan dan sifatnya yang demikian, tidak jarang ada laki-laki yang berusaha mendekatinya dan menggodanya.
Semua orang langsung mencela dan mengutuk perbuatan Pami yang memukul meja tersebut padahal hanya hal yang sepele, lalu kembali melakukan urusan mereka masing-masing setelahnya.
Tapi berbeda dengan Yoz, dia terus memandangi mereka bertiga dan mengabaikan rutinitas mematungnya tadi. Entah kenapa ketiga siswa itu terasa familiar di matanya.
Sebenarnya dia sering memperhatikan ketiga siswa itu tanpa ada alasan yang jelas. Seperti ada kekuatan mistis yang menariknya untuk terus melakukannya, tapi dirinya tak tahu mengapa hal itu bisa terjadi.
*Pok!*
Di saat masih terpesona akan pemandangan ketiga orang itu, lamunannya terpecah oleh sebuah pukulan yang mendarat di punggungnnya. Yoz pun kaget dan secepat kilat menoleh ke arah pelaku yang memukulnya, di situ berdiri orang yang sangat dia kenali yang tidak lain adalah Suryadi.
Suryadi langsung menarik kursinya dan duduk di samping Yoz dengan perasaan tak bersalah terhadap korban yang dia pukul barusan. Ekspresinya terlihat senang seakan-akan sedang membawa kabar yang baik dan menggembirakan.
Seolah mengetahui sesuatu, dia meletakkan lengannya ke bahu kiri Yoz dengan niatan usil.
“Hei, kenapa kau terus memperhatikan mereka bertiga tadi?”
“Tidak apa-apa…” jawab Yoz.
Melihat perubahan raut wajah Yoz seperti membenarkan pernyataan tadi meskipun ucapannya berbanding terbalik membuat Suryadi tersenyum meledek, “Jujur saja, kau pasti merasa merasa bosan karena tidak ada teman bicara, kan?”
“Tidak—aku memandangi mereka karena suara tadi memecahkan fokusku, lagipula tadi semua orang termasuk kau juga melihat ke arah mereka bertiga, bukan?” sanggah Yoz masih bersikeras tak mau mengakuinya.
“Tapi aku dan yang lainnya hanya sebentar saja, sedangkan kau—”
“Singkirkan tanganmu!”
Alih-alih mengalihkan topik untuk mencairkan suasana.
“Ngomong-ngomong, kenapa kelihatannya kau terlihat senang hari ini?”
Seperti sudah menunggu pertanyaan itu keluar dari mulut temannya, Suryadi seketika memasang senyum terbaiknya, “Hari ini orderanku banyak! Aku bakal dapat banyak uang hari ini~”
Yoz yang paham maksud temannya terlihat lesu untuk menjawab, “Huh… jadi kacung lagi?”
“Yap~” balas Suryadi lalu menyodorkan kedua jarinya tepat di depan wajah Yoz, “lumayan, loh… sekali antar bisa dapat uang 2 Buro per orang~”
‘Anak yang malang…’ ucap Yoz dalam hati sambil memandangi wajah Suryadi di antara kedua jari yang menutupi pandangannya.
Setelah itu, Suryadi segera menarik tangannya dan kembali duduk dengan normal, namun tetap mempertahankan semangat yang masih membara di dalam dirinya.
Sedangkan Yoz melipat kedua tangannya di dada sambil menatap serius Suryadi yang sedang menghitung sesuatu dengan jarinya, seperti sedang menghitung nominal uang yang akan dia dapatkan hari ini.
Dia menatap kasihan terhadap temannya yang sering bolak-balik dari kantin menuju ke kelas dan sebaliknya hanya untuk mengantarkan pesanan teman-temannya yang malas berjalan ke kantin. Meskipun dia dibayar setiap kali melakukan pekerjaan itu, tapi tetap saja itu merupakan tugas yang melelahkan.
Selain itu, dia juga mengkhawatirkan Suryadi tentang hal lain yang jauh lebih penting yakni perihal kejadian kemarin. Karena dalam kejadian itu, Suryadi adalah satu-satunya orang yang menyaksikan kebenarannya.
Pamannya tentu tidak akan membiarkan saksi mata yang mengetahui kebenaran tersebut terus berkeliaran dan kemungkinan membeberkan semuanya. Terlihat dari ekspresi terkejut Yoz sewaktu ditanya pamannya perihal saksi mata pada kemarin malam.
Bisa dikatakan, Suryadi sedang berada dalam bahaya dan terancam oleh pamannya sendiri.
“Di—” panggil Yoz.
Suryadi yang sebelumnya sibuk menghitung pun merespon pendek, “Hah?”
Yoz pun terdiam sesaat seperti ragu untuk mengatakannya, namun dia membulatkan tekadnya untuk berbicara, “Tolong, jangan beritahu soal kejadian kemarin kepada siapa pun!”
Seketika wajah Suryadi berubah murung sama seperti kemarin, namun berubah kembali menjadi riang lalu memberikan senyum.
“Tenang saja, rahasiamu akan aman,” katanya sambil mengacungkan jempol seperti menjamin rahasia itu akan aman dengannya.
‘Entah mengapa aku merasa tidak yakin dengan ucapanmu…’ pikir Yoz menatap lesu Suryadi karena ragu, namun di sisi lain dia juga merasa sedikit lega.
Tidak lama setelah percakapan itu, bel masukan pun berbunyi. Siswa-siswa yang menyebar berangsur-angsur kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Setelah beberapa menit yang membosankan menunggu kedatangan pengajar, guru yang bertugas mengajar pun akhirnya masuk ke ruangan kelas, tapi guru itu tidak masuk ke kelas seorang diri.
Dari pintu kelas, muncul seorang anak dengan tatapan misterius memasuki kelas.
Semua murid terlihat heboh akan kemunculan murid baru tersebut. Tapi Yoz dan Suryadi menunjukkan ekspresi yang lebih dibandingkan siswa yang lain.
Sederhananya, karena mereka berdua terlihat seperti mengetahui sesuatu. Bahkan mata Suryadi menjadi terbelalak kaget saat melihat wajah murid baru itu.
“Di-dia bukannya….”
Sedangkan Yoz hanya diam dan mengamati murid baru tersebut, sambil mengingat-ingat kembali di mana dia pernah melihatnya. Ketika dia berhasil menemukan yang dicarinya, mulutnya pun mulai bergerak membalas sama seperti ucapan Suryadi.
“Di-dia….”
Seorang pemuda yang memiliki rambut dan sepasang bola mata berwarna abu-abu gelap, dan rompi yang mirip jaket rompi samurai berwarna hitam.
Semua ciri-ciri itu persis dengan ciri-ciri pahlawan yang pernah Yoz dan Suryadi temui kemarin, bahkan bisa dibilang kalau mereka berdua adalah orang yang sama.
“Baiklah, selamat pagi anak-anak. Sebelum kita memulai pelajaran kita hari ini, saya akan mengumumkan sesuatu terlebih dahulu,” ucap si guru sambil tersenyum ramah, “Mulai hari ini, kalian akan mendapatkan teman baru.”
Murid-murid lain mulai berbisik heboh begitu mendengar ucapan dari guru mereka. Ada yang menunjukkan ekspresi senang dan ada juga yang menunjukkan ekspresi tidak suka akan kehadiran murid baru tersebut.
“Nah, anda bisa memperkenalkan diri kepada yang lain,” lanjut si guru memberi kesempatan kepada murid baru tersebut untuk memperkenalkan diri.
Murid baru tersebut dengan sigap berdiri tegak dan memperkenalkan diri dengan suara yang lantang di hadapan murid-murid yang lain.
“Perkenalkan, nama saya adalah Arda Gavis, kalian semua bisa memanggil saya Arda. Mohon kerjasama dari kalian semua,” ucapnya lalu sedikit menundukkan badan seperti memberikan rasa hormat layaknya seorang prajurit, beberapa murid ada yang menatap kagum melihatnya dan ada beberapa murid ada yang menatap jengkel melihatnya.
“Baiklah Arda, kamu boleh duduk di meja kosong yang ada di sebelah sana.”
Guru pun mempersilahkan Arda untuk duduk sambil menunjuk ke bangku kosong yang ada di belakang, lebih tepatnya di samping bangku ketiga siswa pindahan kelas 1-A. Sekaligus menandakan berakhirnya perkenalan tersebut.
“Baik!” jawab Arda lalu berjalan menuju meja kosong yang dimaksud oleh guru. Tapi di tengah perjalanan, dia berhenti di samping Yoz dan berbicara pelan kepadanya.
“Istirahat nanti, aku ingin berbicara denganmu, Yozhero.”
Yoz sontak terkejut mendengar apa yang Arda katakan, tapi dia berusaha bersikap normal lalu juga membalas dengan suara kecil, “Bagaimana kau bisa mengetahui namaku?”
Namun Arda tidak mengucapkan maupun membalas apapun setelahnya dan langsung menuju mejanya sambil dipandangi oleh siswa lain yang kebingungan, lalu duduk di kursinya seakan-akan tidak terjadi sesuatu.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 5: Serangan