100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 19: Armachina (1)



“Suryadi, apa kamu sudah selesai mengerjakan tugas Matematika minggu lalu?”


Seorang gadis mendatangi meja Suryadi seraya menggandeng sebuah buku tulis di tangannya lalu memperlihatkan isi bukunya kepada Suryadi.


“Tugas… Mate... mati… ka…?” Suryadi melihat isi buku itu dengan seksama sambil mengingat-ingat sesuatu.


“Celaka! Aku lupa kalau Matematika ada tugas!”


Dengan panik dia langsung merebut buku dari tangan gadis itu, kemudian membolak-balikan lembaran kertas dengan cepat. Dirinya merasa kesal karena bisa seceroboh itu melupakan tugas yang ternyata harus dikumpulkan hari ini juga. Saking kesalnya dia mengacak-ngacak rambut, apalagi dia lupa membawa buku tulisnya yang membuat situasi semakin memburuk.


Sedangkan gadis tadi langsung mengambil bukunya kembali lalu memeriksa memastikan tidak ada yang rusak dengan barang miliknya. Merasa bukunya baik-baik saja, gadis itu menghela napas lega.


“Jadi kamu belum mengerjakan juga, ya…? Ngomong-ngomong di mana Yoz?” tanya gadis itu menoleh ke sana kemari mencari orang yang dimaksud.


“Yoz? Sepertinya dia belum datang,” jawab Suryadi melirik kursi di sampingnya yang masih kosong.


“Begitu, ya? Kalau nanti dia sudah tiba, bisakah kamu menyalin jawabannya?”


Sontak saja Suryadi agak terkejut akan permintaan itu. Sebab tanpa disuruh oleh gadis itu pun, dia sudah pasti akan langsung melakukan hal yang serupa. Jadi kemungkinan ada maksud lain dari permintaan gadis itu.


“Baiklah… tapi kenapa kamu minta aku menyalin jawabannya?”


“Tentu saja agar nanti aku bisa menyalinnya dari milikmu, aku yakin dia pasti sudah selesai mengerjakan tugas.”


Suryadi pun menggaruk-garuk kepala karena dugaannya ternyata benar. Menyadari ada yang janggal, dia kembali bertanya, “Kenapa kamu tidak langsung melihat tugasnya daripada menunggu salinan jawabanku?”


“Kamu tidak tahu? Kemarin sudah terjadi sesuatu dengannya, oleh karena itu aku jadi agak ragu untuk berbicara dengannya.”


“Huh? Apa yang sudah terjadi dengannya?”


“Aku kurang begitu tahu, aku rasa kamu harus langsung bertanya kepadanya. Lagi pula kamu teman baiknya Yoz, bukan? Jadi dia tidak akan masalah kalau kamu yang menyalin jawabannya.”


“Eh… t-tapi—”


“Tolong, ya, Suryadi!”


Gadis itu langsung meninggalkan Suryadi tanpa membiarkan pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Adapun Suryadi yang sedikit berat hati memasang wajah lesu sembari bergumam dalam hati.


‘Yang benar saja? Aku saja merasa sedikit kesulitan saat ingin melihat tugasnya. Bahkan aku bisa menebak respon apa yang akan dia berikan ketika aku ingin melihat jawabannya, antara dia akan menolak mentah-mentah permintaanku atau akan mengabaikan aku.’


“Hmm… tapi aneh sekali, kenapa dia masih belum datang juga, ya?” Dia pun melihat ke arah jam dinding kelas yang ternyata sudah menunjukkan pukul 7 lewat 15 menit. “Dia seharusnya sudah datang sebelum jam 7….”


Kemudian dia beranjak dari kursinya dan berkata, “Baiklah, aku akan pergi ke koperasi sekolah untuk membeli buku tulis terlebih dahulu, barangkali dia sudah tiba di kelas setelah aku kembali…”


Merasa semuanya sudah siap baik itu tenaga, niat, serta uang, dia pun mulai berjalan. Tapi ketika dia hendak pergi, langkahnya terhenti oleh panggilan seorang gadis.


“Di?”


Suryadi pun sedikit terkejut karena tidak fokus dengan sekitarnya. Menduga kalau yang memanggilnya adalah gadis tadi, dia langsung menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan lesu dan tidak bersahabat. Tapi ternyata dugaannya salah, di sana berdiri dua orang gadis serta seorang pemuda yang dia kenal.


“Sel? Nia? Pami? Ada apa?” Wajah Suryadi seketika berubah dari yang awalnya lesu dan tidak bersahabat menjadi ramah begitu mengetahui yang memanggil namanya adalah tiga serangkai.


“Bisa bicara sebentar?” pinta Shela menunjuk ke luar kelas, mengindikasikan kalau pembicaraan ingin dilakukan di tempat lain.


Suryadi yang paham maksud dari Shela kembali bertanya dengan keheranan, “Di luar kelas? Kenapa tidak langsung di sini saja?”


Pami yang sedari tadi memasang wajah tidak senang mulai merasa kesal mendengar pertanyaan Suryadi, langsung saja dia menarik kerah baju pemuda itu dan menyeretnya keluar kelas seraya menyeletuk dengan kesal.


“Banyak bicara!”


Alhasil Suryadi harus mengikuti langkah Pami atau bajunya akan robek jika berhenti, ia tidak bisa melawan karena pada dasarnya Pami jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dirinya.


Nia dan Shela sendiri hanya menonton sambil menggaruk kepala secara bersamaan, tanpa ada niatan untuk menghentikan sahabat mereka yang bisa saja merobek baju orang.


‘Yoz… apa yang membuat dirimu tertarik dengan ketiga orang ini?!‘ pikir Suryadi memasang wajah pasrah.


Mereka pun tiba di ujung lorong sekolah, tempat yang biasa Yoz dan Knighto gunakan untuk berbincang empat mata. Pami segera melepaskan tangannya dari Suryadi, sedangkan si korban hanya bisa mengelus-elus bagian tengkuknya sambil mengumpat dalam hati.


Adapun Nia dan Shela sibuk merogoh kantong masing-masing sambil saling bertanya satu sama lain, entah apa yang mereka berdua sedang lakukan.


“Kau hampir merobek bajuku!” protes Suryadi kesal.


Namun si pelaku hanya melipat tangan dan membuang muka seolah tidak peduli dengan protes korbannya.


“Salahmu sendiri kenapa banyak bertanya tadi?” elak Pami.


Hal itu membuat Suryadi mulai naik pitam, tapi apa daya takdir berkata lain. Pada akhirnya dia mengelus dada sembari berkata dalam hati. ‘Sabar, Di… Pami menang badan, jadi dirimu harus tabah….'


Setelah berhasil mengontrol emosinya, dia menoleh ke arah kedua gadis yang sudah tidak sibuk merogoh kantong masing-masing. Sekilas Suryadi bisa melihat Nia memegang sesuatu di tangannya, dia menduga mungkin yang Nia pegang adalah kacamatanya karena gadis itu ternyata sedang tidak memakai dua buah lensa miliknya.


“Jadi, kenapa kalian mengajakku di tempat seperti ini?” tanya Suryadi.


“Jadi ceritanya seperti ini….”


Nia pun mulai menjelaskan alasan mengapa mereka bertiga mengajaknya untuk berbicara di ujung lorong. Pembicaraan itu berlangsung kurang dari 3 menit. Setelah selesai, ketiga serangkai itu langsung kembali ke dalam kelas, sedangkan Suryadi masih berada di tempat berusaha mencerna semua pembicaraan tadi.


“Sebenarnya aku melewatkan hal penting seperti apa, sih?”


Dia menggaruk kepala untuk kesekian kalinya, sebab saking banyaknya hal penting yang tidak dia ketahui selama ini. Kepalanya terasa mau meledak memikirkannya. Mengabaikannya pun sangat sulit karena pemuda ini adalah Suryadi yang selalu penasaran, bukanlah Yoz yang dingin nan tak peduli.


“Ahh, iya… aku baru ingat… kemarin sikapnya sangat aneh, apa dia jadi seperti itu karena ulah Gluck, ya?” ucapnya setelah mengingat bagaimana sikap temannya saat terakhir kali mereka bertemu.


Secara perlahan dia mulai paham dan mengetahui apa yang telah terjadi. Kemudian menyandarkan kedua tangan pada pagar beton koridor dan menatap langit dengan penuh harapan.


“Huh... aku harap semoga saja dia bisa segera membaik—”


*BOOMMM!!!!*


Tanpa diduga oleh semua orang, sebuah ledakan yang cukup besar secara tiba-tiba muncul di pusat kota. Bahkan dampak tiupan angin dan suara dari ledakan menyebar ke seluruh kota. Membuat beberapa orang yang mendengarnya kaget, termasuk Suryadi.


Pemuda itu merintih kesakitan sambil menepuk-tepuk telinga kanannya yang berdengung akibat suara ledakan tadi, “Argh! Telingaku rasanya mau pecah! Suara apa itu?”


Ketika dia melihat ke arah datangnya suara dan angin barusan, wajahnya langsung memucat. Asap hitam mulai menampakkan diri beberapa detik pasca ledakan terjadi dan mungkin masih akan terus membesar. Oleh karena itu Suryadi bisa melihat dengan jelas asap itu meskipun dia berada di bagian barat kota.


Tak lama setelah itu, suara mekanisme dari sirine berbunyi. Meskipun suara yang terdengar kurang jelas karena efek ledakan tadi membuat beberapa jaringan komunikasi terganggu, Suryadi masih bisa menangkap apa yang ingin disampaikan oleh sirine peringatan.


「Peri---ngatan! Ratusan monster mun--- hampir di seluruh titik ko---ta Machina, kepada ---ruh warga Kota Machina diha---kan untuk me---kan evakua----! Level bencana te--- ditentukan, yai---tu tingkat A!」


“A-ancaman tingkat A !? Yang benar saja!?”


Suryadi terbelalak terkejut bukan main mendengar peringatan itu. Pasalnya, ancaman tingkat A merupakan hal yang jarang terjadi dan merupakan tingkatan bencana tertinggi ketiga. Orang awam yang hidup di Kota Machina pun paham seberapa mengerikan ancaman tingkat A. Namun bukan berarti tingkatan yang telah ditetapkan benar-benar akurat.


“Ledakan… bencana… monster… kota….” Suryadi mulai menyadari sesuatu setelah merangkai beberapa rentetan hal yang dia dengar dari peringatan barusan. Dalam benaknya muncul sekilas ingatan tentang Arda yang menyampaikan informasi kepadanya pada hari lalu. “Jangan-jangan—”


Bergegas dia berlari kencang menuju ke kelas seperti orang yang dikejar anjing. Melewati siswa-siswa lain yang masih kebingungan dengan kemunculan ledakan sebelumnya.


‘Padahal aku sudah mengetahui semuanya dari Arda. Tapi entah kenapa, sejak aku melihat Yoz yang mulai akrab dengan Nia, Pami, dan Shela… aku pikir semua itu hanyalah kebohongan. Hingga mengalihkan perhatianku, dari kemungkinan itu…!’


Dengan napas terengah-engah, dia pun memegangi pintu kelas guna membantunya menghentikan larinya yang terlalu kencang, lalu menatap ke dalam kelas dengan wajah panik dan berteriak.


“SEMUANYA, SEGERA EVAKUASI—”


*BOOMMM!!!! BOOMMM!!!!*


Beberapa ledakan kecil kembali muncul di beberapa titik kota, salah satu ledakan berada cukup dekat dengan sekolah sehingga membuat lebih banyak siswa melemparkan perhatian ke arah sumber suara. Bahkan Suryadi berani bersumpah jika seandainya sekali lagi muncul ledakan, gendang telinganya mungkin akan pecah.


Suara sirine kembali berbunyi namun kini terdengar lebih jelas. Kalimat dari peringatannya hampir serupa dengan yang Suryadi dengar sebelumnya.


Saat mereka semua mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi, lantas seluruh pelosok sekolah diisi dengan suara terkejut dan panik para murid.


Gluck langsung mengarahkan teman-temannya untuk membentuk barisan, sama seperti yang seluruh penduduk Machina lakukan di saat muncul bencana seperti saat ini. Memang dia adalah siswa berandalan yang suka mencari masalah, namun sifat kepemimpinannya patut diacungi jempol.


Suryadi pun mengikuti arahan Gluck dan mulai membentuk barisan bersama teman-temannya. Saat ia melihat ke belakang, ternyata murid-murid dari kelas lain juga mulai membentuk barisan masing-masing melalui arahan guru dan siswa. Dirinya merasa sedikit lebih tenang sekarang karena kondisi mulai terkendali, namun tetap ada beban yang masih dia pikul di punggungnya.


‘Tenanglah, Suryadi! Panik tidak membuat masalah terselesaikan. Sekarang yang harus aku lakukan adalah menghentikan dia. Tapi apa yang aku harus lakukan? Tidak mungkin aku menghentikan dia seorang diri….'


Dia memegang kepala frustasi, usai berpikir jauh lebih keras dibandingkan murid-murid lain, sebuah ide akhirnya muncul di benaknya.


‘Benar juga! Aku harus menemui dia!'


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Seorang wanita berlari kencang menuju ruangan khusus dan menerobos pintu. Seluruh orang yang ada di dalam ruangan dibuat kaget akan kehadiran wanita itu, namun itu hanya berlangsung sejenak lalu semuanya kembali melanjutkan kesibukan mereka masing-masing.


Wanita yang napasnya terengah-engah itu berusaha menenangkan diri dan kembali berdiri tegak meskipun wajahnya masih terlihat sangat panik. Setelah berhasil mengatur napasnya, wanita itu mulai angkat suara.


“Tuan Baylor! Kondisi kota—”


“Tenanglah, Scife, kami semua sudah mengetahuinya,” potong Baylor yang sudah tahu alasan Scife terlihat panik seperti itu.


Semuanya terlihat sangat sibuk dengan tugas mereka masing-masing, termasuk Baylor. Pria jangkung itu tidak mau melepaskan pandangannya dari monitor, begitu pula dengan para eksekutif yang lain.


Pasca ledakan pertama muncul, semuanya langsung memeriksa kondisi kota melalui CCTV yang terpasang di setiap lokasi kota. Keadaannya cukup mengerikan dengan kondisi bangunan, jalanan, dan fasilitas yang rusak serta para monster yang datang entah darimana.


“Aku tak menyangka bencananya akan datang secepat ini…” celetuk Marva.


Redle bertanya kepada sang pemimpin, “Apa yang harus kita lakukan sekarang, Baylor?”


“….”


Baylor tidak membalas dan hanya menundukkan kepala. Meskipun dia adalah seorang pemimpin, ini adalah pengalaman pertamanya dalam menangani bencana yang berskala besar. Seorang pemimpin muda yang kurang pengalaman seperti dia tentu akan merasa kebingungan harus melakukan apa.


Scife serta para eksekutif lain mulai merasa khawatir dengan pemimpin mereka yang terus-terusan diam. Seketika ruangan menjadi hening, semua mata tertuju kepada Baylor dan masih menunggu arahan dari si pemimpin.


“Baylor…?” tanya Baerd khawatir.


Baylor memijit-mijit kepalanya sejenak, lalu menghela napas panjang-panjang sebelum akhirnya berbalik badan menghadap kelima rekan seperjuangannya.


“Tuan Redle, tolong kerahkan seluruh pahlawan kelas Euclid dan Keter untuk melakukan evakuasi warga kota!” perintahnya.


“Siap!” Redle dengan lantang menjawab lalu mendekati monitor miliknya untuk mengkoordinasi semua pahlawan kelas Euclid dan Keter yang bisa dihubungi.


“Scife, perintahkan para polisi untuk meringkus tempat kediaman Tuan Albert” perintah Baylor kepada sekretaris andalannya.


Scife pun menjawab kalimat yang serupa seperti Redle lalu melangkah keluar dari ruangan sembari menghubungi pihak kepolisian menggunakan handphonenya.


Setelah wanita itu menghilang dari pandangan, Baylor melemparkan pandangan kepada rekan kacamatanya.


“Tuan Marva, tolong hubungi pahlawan kelas Thaumiel untuk turun tangan menghadapi para monster yang bermunculan.”


“Akan kulakukan!” jawab Marva sigap.


Setelah memberikan perintah terakhir, Baylor berjalan kembali ke monitornya guna kembali memantau kondisi kota. Hampir semuanya kembali sibuk dengan tugas mereka masing-masing, menyisakan Carel yang terlihat tak peduli serta Baerd yang mengekor di belakang si pemimpin.


“Baylor, apa kamu benar-benar yakin akan menangkap Tuan Albert tanpa mengumpulkan bukti yang kuat terlebih dahulu?” tanya Baerd.


“Kita tidak punya pilihan lain, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menangkap semua yang terlibat meskipun hanya sebatas dugaan, waktu kita tidak banyak!”


“Senior, apa kita harus menghubungi Bizmark?” tanya Marva tanpa mengalihkan pandangan dan jari-jarinya dari keyboard.


Dengan tegas Baylor menolak untuk menghubungi salah satu pahlawan andalan HSO, mengingat Bizmark saat ini masih menjalankan misi yang penting. Baylor tidak berani mengambil resiko memerintahkan Bizmark begitu saja, karena pahlawan yang satu ini tidak begitu suka diperintah seenaknya.


Saat Baylor, Redle, dan Marva sibuk memperhatikan monitor masing-masing, layar monitor mereka secara tiba-tiba terganggu seperti ada yang berusaha meretas. Tak memakan waktu cukup lama, layar monitor mereka tiba-tiba tergantikan oleh siaran seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Turpin X.


Semuanya dengan refleks menoleh ke arah layar monitor milik Baylor yang merupakan monitor utama nan besar. Beberapa dari mereka ada yang sudah mengenal sosok dalam layar itu, sedangkan sisanya masih menatap bertanya-tanya.


「Halo, para eksekutif HSO~」


“S-siapa kau?!” tanya Baerd terkejut.


「Kejam sekali… padahal aku sudah melancarkan aksiku beberapa kali dan kalian masih belum mengingat namaku?」


“Turpin X ...” sebut Baylor dengan wajah seriusnya.


「Huh? Aku tak menyangka kalau pemimpin HSO ternyata mengingat namaku dengan baik. Sungguh suatu kehormatan bisa mendengarnya secara langsung dari anda…」


“Katakan apa mau mu, dasar penjahat!” celetuk Carel menunjuk-nunjuk layar.


「Aku penjahat? Apa tidak terbalik? Ya, sudahlah… lupakan saja! Aku akan langsung ke intinya….」


Semuanya mulai menelan ludah masing-masing begitu mendengar musuh mereka langsung ke inti pembicaraan. Seluruh orang membisu menunggu apa yang ingin dikatakan oleh Turpin, tapi mereka semua tahu kalau itu pasti adalah sesuatu yang tidak bagus.


「Jika kalian ingin Kota Machina selamat dari kehancuran, maka kalian para eksekutif harus menyerahkan diri dalam kurun waktu 4 jam dari sekarang!」


Sontak semuanya terkejut mendengar ultimatum tersebut. Wajar saja, orang bodoh mana yang akan menyerahkan dirinya kepada musuh, itu sama saja dengan bunuh diri. Tapi jika yang dipertaruhkan adalah keselamatan kota, tentu itu akan menjadi pilihan yang sulit terutama batas waktunya telah ditentukan.


Tak ada satu pun yang berani membuka mulut termasuk Baylor, hingga Redle pada akhirnya berdiri dari kursinya dan secara terang-terangan menolak.


“Ancamanmu itu tidak akan berpengaruh apa-apa! Kami pihak HSO akan menurunkan pasukan kami untuk menangkapmu secepatnya!”


「Terserah kalian ingin memilih yang mana! Lagi pula, apa kalian tidak belajar dari tewasnya 3 pahlawan kalian beberapa hari yang lalu? Apa kalian yakin bisa menangkapku?」


Turpin tertawa lepas mendengar ancaman dari Redle, menurutnya ancaman itu tidak ada apa-apanya. Tak membuatnya gentar atau takut sedikit pun, bahkan menganggapnya seperti bocah cengeng yang mengadu kepada orang tuanya. Sesudah tertawa cukup puas, layar monitor kembali terganggu sama seperti tadi.


「Waktu kalian tidaklah banyak… pikirkan sebaik-sebaiknya sebelum terlambat!」


Berakhirnya kalimat Turpin disusul dengan layar monitor yang kembali menjadi seperti sedia kala. Baerd dan Redle dengan lesu langsung duduk karena tak menyangka musuh mereka mungkin adalah sosok yang berbahaya.


Tak lama kemudian, dari arah pintu muncul dua orang asing yang masuk ke dalam ruangan dengan gaya berjalan yang terkesan sangat tidak sopan dihadapan para eksekutif. Carel yang berada paling belakang adalah yang paling pertama memprotesnya, tapi sayang dia diabaikan oleh kedua orang itu.


“Komandan, aku mendengar kota sedang diserang banyak monster, ya?” ucap salah satu dari mereka.


Baylor yang terkejut dengan secepat kilat menoleh ke arah kedua orang itu, begitu pula dengan tiga eksekutif lainnya.


“Kalian? Bukankah sudah aku peringatkan agar tidak keluar dari ruangan sampai kondisi kalian pulih sepenuhnya?” tanya Baylor.


“Maaf, tapi kami tidak bisa hanya menonton TV di saat yang lain sedang mati-matian bertarung untuk kota…” sambung yang satunya lagi, “tenang saja, kami tidak akan kalah seperti ketiga orang itu!”


Kemudian kedua orang itu melirik ke arah pintu, ternyata di sana masih ada satu orang lagi yang tengah berdiri di sana, namun wajah dari sosok itu tak terlihat begitu jelas karena dia berpaling.


“Ayo berangkat!” ucap sosok itu lalu menghilang dalam satu kedipan mata, disusul oleh dua orang tadi juga ikut menghilang dengan cepat.


“Dasar… kenapa mereka selalu saja keras kepala?”


Baylor memegang kepala pusing serta heran dengan ketiga orang barusan. Setelah itu dirinya kembali menoleh ke arah monitor yang sudah benar-benar kembali seperti sedia kala.


Sosok Turpin serta kalimat ultimatumnya terbayang-bayang dipikiran Baylor. Membuat sang pemimpin terpaksa harus segera memutuskan sesuatu tidak peduli bagaimana pun resikonya.


“Marva, tolong hubungi Bizmark untuk turun ke kota!”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 20: Armachina (2)