
Sedikit perubahan fisik pada Yoz nyatanya memberikan efek yang besar kepadanya secara internal. Penglihatannya terasa sangat aneh, dia seolah menatap dunia tanpa warna persis seperti orang yang memiliki penyakit buta warna.
Sebenarnya hal ini sudah ia alami saat aura hitam di tubuhnya pertama kali muncul, tapi tidak separah kali ini sebab dia masih mampu melihat beberapa warna. Meskipun buta warna, ia bisa melihat dengan jelas setiap bayangan benda, makhluk hidup, Turpin, bahkan dirinya sendiri yang diselimuti gas hitam pekat dan berkilau.
Ia juga terkejut menyadari betapa ringan fisiknya, rasanya ia dapat bergerak dengan sangat cepat tanpa masalah sedikit pun, apalagi didukung dengan peningkatan fisik yang ia peroleh.
Aura hitam itu seakan telah menjadi bagian dari tubuhnya, setiap kali otaknya mengirimkan sinyal perintah maka aura tersebut juga akan bereaksi. Contoh sederhananya adalah seperti pedang di genggaman yang kini selimuti oleh aura hitam setelah dirinya berpikir untuk melapisinya.
*SYUU!!!*
Dengan kecepatan yang hampir dua kali lipat dari kecepatan kuda pada umumnya, Turpin yang menunggangi Black Bess berlari sambil menggenggam sebuah revolver yang telah terisi enam peluru di dalamnya. Dia menodongkan senjata itu ke arah Yoz dan langsung menarik pelatuknya sebanyak dua kali.
Yoz tak bergeming meskipun melihat peluru-peluru Turpin tengah melesat ke arahnya, bahkan ekspresi wajahnya tidak berubah sedikit pun. Tubuhnya kembali menjadi transparan, disusul dengan bayangannya yang menghilang.
Dalam satu kali melihat saja, Turpin sadar bahwa serangannya kali ini juga akan gagal. Sesuai dengan dugaan, dua peluru yang ia tembakkan menembus Yoz begitu saja.
Walaupun sudah mengetahuinya, ia dibuat sedikit terkejut saat pedang digenggaman Yoz masih bertahan di sana. Padahal dirinya yakin sudah membidik senjata lawannya dengan akurat, hanya ada satu jawaban pasti mengenai hal itu.
‘Jadi dia sudah bisa membuat benda yang disentuhnya ikut menembus? Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!’ pikirnya seraya memperhatikan.
Merasa itu adalah hal yang buruk, Turpin mempercepat lajunya dan memutari Yoz. Hentakan kaki Black Bess begitu kuat hingga menimbulkan retakan dan suara setiap kali makhluk tersebut menginjak tanah, seolah tak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk keluar dari lingkaran tersebut.
“Jika kau terus mempertahankan wujud itu, kau tidak akan bisa merebut topiku dan menghancurkan topeng ini!” tantang Turpin kemudian berhenti dan langsung melompat ke udara.
Lompatan Black Bess setinggi tiga meter, kemudian mendarat tepat di mana Yoz berada dan mengakibatkan tanah dipijaknya hancur. Tapi sayang, serangan sekuat itu nyatanya tidak berhasil mengenai lawannya.
Turpin berdecak kesal sebab Yoz menghilang dari pandangannya. Suara pemuda itu kembali berbisik di telinganya.
“Jika itu yang kau mau, maka―Ugh!”
Begitu bisikan Yoz terdengar, Black Bess nampak bereaksi dan langsung melakukan tendangan menggunakan kaki belakang. Entah apa yang terjadi, tendangan makhluk tersebut rupanya mengenai Yoz, alhasil pemuda itu terhempas cukup jauh.
Yoz mencoba bangkit kembali sembari memegangi perut, rasanya darah segar hendak kembali keluar dari mulut tapi berhasil ia tahan. Dirinya tidak menduga akan menerima serangan dari makhluk yang ditunggangi oleh Turpin.
‘Bagaimana bisa makhluk itu menyadari keberadaanku?’ Yoz membatin terheran-heran.
Turpin pun tertawa kemudian berkata, “Tidak peduli secepat apa atau sehebat apa kemampuanmu itu, kau tetap tidak akan bisa menandingi insting dan reflek dari makhluk hidup. Dia dapat dengan mudah mengetahui posisimu meskipun kau muncul dan menghilang dalam waktu singkat!”
Dirinya merasa ceroboh karena terpancing oleh tantangan Turpin barusan. Tatapan Yoz kini terkunci pada kuda hitam tersebut yang tengah meringkik seakan menghina dirinya.
Sekarang semuanya jadi masuk akal, alasan mengapa Turpin memanggil makhluk tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah untuk melawan balik kemampuannya.
Namun Yoz masih belum yakin dengan spekulasinya sendiri sehingga memutuskan untuk kembali mencoba memastikan. Kedua tangannya memegang pedang erat-erat, dia menatap makhluk itu dengan penuh siaga sambil berdesis pelan.
“Mungkin aku sedikit lengah tadi….”
Yoz lagi-lagi menghilang dari pandangan lalu muncul di tempat yang sulit untuk ditebak, tapi tetap saja Black Bess menyadarinya lebih dulu sehingga Turpin bisa mengantisipasi dengan mudah tepat sebelum Yoz sempat melancarkan serangannya.
Tidak peduli berapa kali Yoz mencoba, semua usahanya hanya berujung pada babak belur. Dia terpaksa untuk mundur atau dirinya akan menerima lebih banyak serangan dari Turpin dan Black Bess, setidaknya kali ini ia percaya bahwa kuda itu memang memiliki reflek dan insting yang kuat.
‘Kuda itu mirip seperti radar Turpin. Tidak, mungkin lebih cocok disebut indera tambahannya!’ gumam Yoz.
“Kau bahkan jauh lebih lemah ketimbang saat dirimu dikendalikan oleh Amalgam, mengapa kau masih berharap dapat mengalahkanku?” ledek Turpin.
Hinaan itu menampar keras wajah Yoz, dirinya tidak terima dibandingkan oleh mahkluk emas tersebut. Tapi hal itu juga yang membuatnya sedikit tertantang untuk lebih serius. Senyuman tipis pun menghiasi wajahnya.
“Amalgam, ya? Jika diingat-ingat lagi, makhluk itu sempat memunculkan tentakelnya di punggungku, bukan?” kata Yoz sembari meraba-raba punggungnya yang ternyata terdapat banyak lubang di belakang jaketnya.
Dia memejamkan mata, lalu memfokuskan konsentrasi ke punggungnya. Rasanya sebuah energi kini sedang mengalir menuju ke bagian belakang tubuhnya, bahkan terasa seperti ada yang menggeliat di dalam kulitnya, mengakibatkan konsentrasinya sedikit terganggu.
Dalam usaha keras, energi berwarna hitam berbentuk tentakel akhirnya timbul dari punggungnya persis seperti yang dimiliki Amalgam. Meskipun tidak sebanyak milik mahkluk emas itu, yang terpenting adalah Yoz berhasil melakukannya.
Turpin yang menyaksikannya tidak tinggal diam. Tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh pemuda itu, tapi dia merasa harus mengakhiri semuanya sesegera mungkin sebelum terlambat. Tanpa basa-basi dirinya berlari sambil menodongkan revolvernya.
Sedangkan Yoz sendiri hanya berdiri di posisinya, lalu melancarkan tentakel di punggungnya untuk menyambut musuh yang mendekat.
Empat peluru terakhir ditembakkan Turpin guna menghadapi masing-masing tentakel yang datang. Berkat akurasinya yang bisa dikatakan cukup baik, ke seluruh tentakel itu langsung putus. Turpin semakin mempercepat lajunya sambil mengganti senjata ke katana.
Yoz tak bereaksi apa-apa meskipun tahu tentakel-tentakelnya ditembak hingga putus. Dia tetap dalam posisi bersiap sebelum pada akhirnya sedikit membungkukkan badan.
Tiba-tiba saja Black Bess berhenti hingga hampir membuat penunggangnya terpental ke depan karena perhentian mendadak itu. Turpin hendak bertanya terhadap makhluk itu tapi pemandangan di hadapannya langsung menjawab kebingungan tersebut.
Tentakel-tentakel yang berhasil ditembak oleh Turpin sampai putus sebelumnya kembali tersambung seperti semula. Energi hitam memanjang itu kembali melesat dan langsung menyambar kedua tangan Turpin serta kaki Black Bess.
Saat momen itu lah Yoz akhirnya bergerak. Dia memperkuat pijakannya dan memegang dua tentakel yang mengikat tangan Turpin, kemudian mengayunkan memutar layaknya melakukan lontar martil.
Turpin yang tangannya terikat tersebut langsung ikut terlempar, meninggalkan kudanya yang tidak dapat bergerak karena kaki yang juga terikat oleh tentakel Yoz. Dia berputar di udara selama beberapa saat sebelum pada akhirnya mendarat dan menghantam permukaan.
Usai melempar Turpin, Yoz melemparkan perhatiannya kepada Black Bess. Memanfaatkan tentakelnya yang mengunci pergerakan makhluk itu untuk mendekat kemudian melancarkan beberapa tebasan memotong seluruh kaki Black Bess.
Kuda hitam tersebut yang awalnya meronta hendak melepaskan diri langsung tergeletak lemas setelah keempat kakinya telah terpisah dari tubuh. Cairan berwarna merah gelap bercampur kuning keputihan seharusnya adalah darah yang keluar dari bekas potongan kaki Black Bess.
“Kuda merepotkan ini berhasil disingkirkan, sekarang tersisa dia saja,” ucap Yoz berbalik dan mendapati Turpin yang baru saja bangkit.
Sosok berarmor itu maju beberapa sambil membenarkan posisi topinya. Mata kirinya berkedut menatap Yoz yang sudah selesai berurusan dengan Black Bess.
Dia menancapkan senjatanya ke tanah, berikutnya melakukan beberapa gerakan sederhana yang cukup untuk meregangkan tulang-tulangnya yang sedikit tergeser setelah beberapa kali menghantam tana
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
“Hhmmm?” Turpin menatap tanpa ekspresi makhluk tunggangannya yang sudah ditebas oleh Yoz hingga kondisinya mengenaskan.
“Sekarang giliranmu!” kata Yoz dengan tentakel yang memanjang siap untuk menyerang.
Turpin pun membalas, “Coba saja jika kau bisa!”
Yoz langsung menggerakkan tentakel miliknya ke depan, mencambuk dan menusuk semua yang ada di jalurnya meskipun hanya mengenai angin dan juga tanah sebab Turpin menghindari semua serangan brutal itu dengan mudah.
Turpin sedikit demi sedikit mulai mendekat meskipun energi hitam memanjang itu menghujaninya dengan cambukan dan tusukan. Bahkan dia justru menggunakan tentakel-tentakel itu sebagai pijakan untuk bergerak menghindar.
Gerakannya yang begitu luwes mengantarkannya berada tepat di hadapan Yoz hanya dalam belasan detik. Langsung saja ia melancarkan hunusan pedang kepada lawannya tapi gagal dikarenakan Yoz yang buru-buru menghilang.
“Sialan!”
Turpin langsung bersiaga untuk kemunculan Yoz yang bisa dari mana saja sebab kini ia tak memiliki partner yang dapat mendeteksi kemunculan pemuda tersebut. Kemunculan kembali bisikan-bisikan aneh Yoz dari berbagai sisi membuatnya semakin kebingungan.
Berbagai prediksi tentang titik di mana saja Yoz akan muncul sudah memenuhi benaknya, matanya melirik ke sana kemari dengan sangat cepat saking waspadanya dia. Tapi siapa sangka musuhnya muncul di tempat yang tidak ia duga yakni di depannya.
Turpin terkesiap dengan kehadiran tak terduga itu sehingga gagal menghindari tendangan lutut Yoz, mengakibatkan dirinya terlempar ke atas.
Yoz rupanya tak berhenti sampai di situ saja, dia memperhatikan satu per satu tentakelnya dengan ekspresi sedang berpikir keras.
Tentakel-tentakelnya mulai melingkar seperti pegas kemudian mendorong Yoz ke atas menyusul Turpin. Energi gelap miliknya dijalarkan untuk meraih Turpin sembari menghunuskan pedangnya ke atas.
Nahasnya, Turpin menangkap keempat tentakel itu sekaligus lalu mengayunkannya ke atas hingga Yoz ikut terseret dan menghantam langit-langit kubah.
Tapi lemparan tersebut tak berarti apa-apa. Yoz memposisikan dirinya secara terbalik lalu menjadikan dinding transparan itu sebagai pijakan. Dalam satu dorongan pada kaki, dirinya melesat kembali menuju Turpin.
Turpin sontak memposisikan tangannya untuk bertahan tapi digagalkan oleh tentakel Yoz. Pukulan berhasil didaratkan Yoz menuju dada Turpin, disusul oleh bunyi yang bisa membuat siapa pun yang mendengar merasa ngilu.
“Arrgghh!”
Yoz berusaha untuk tidak merintih namun gagal saat jari-jarinya patah usai meninju armor besi Turpin yang keras. Air mata nyaris keluar di sudut matanya saking sakitnya. Tapi pengorbanan tangannya setimpal dengan Turpin yang terpental ke permukaan.
Lagi pula, alasan mengapa dia berani mengambil resiko seperti itu adalah karena tahu tangannya akan pulih berkat salah satu kemampuan dari aura hitam. Benar saja, setelah mendarat dengan aman dengan bantuan tentakelnya, ia dapat melihat tangan kirinya mulai pulih meskipun prosesnya lamban.
“Kau nekat meninju armorku dengan tangan kosong?” celetuk Turpin.
Turpin kembali bangkit setelah susah payah melepaskan diri dari kawah buatannya. Armor pada dada kali ini benar-benar hancur, memperlihatkan tubuhnya yang tak terlindung dan penuh celah. Dia mengumpat gusar akan hal itu kemudian kembali fokus kepada Yoz.
Pemuda itu kini sedang bertekuk lutut entah apa alasannya, tapi tak membuat Turpin lengah begitu saja. Dia memperhatikan dengan seksama dan tanpa mengetahui tentakel-tentakel Yoz yang rupanya menancap ke bawah sebab terhalang oleh tubuh lawannya.
Turpin terlambat menyadari kemunculan tentakel-tentakel yang keluar dari tanah tempat ia berpijak. Saat hendak menebasnya, energi gelap itu sudah terlanjur mengikat masing-masing kaki dan tangannya. Disusul dengan Yoz yang tengah berlari mendekat.
Ketika jarak keduanya sudah sangat dekat, Yoz langsung meraih topi Turpin dengan tangan kiri. Sama sekali tak terlihat wujud transparannya sehingga bisa dipastikan kali ini Yoz akan dapat merebut topi tersebut.
‘Apakah ini akhirnya?’
Turpin pasrah dengan keadaan, rasanya waktu begitu lambat saat matanya menyaksikan detik-detik Yoz meraih topinya. Baginya, tidak ada lagi perlawanan yang bisa dilakukan apalagi kaki tangannya yang terikat.
Sekilas dirinya mengingat peristiwa masa lalu dengan jelas. Saat itu dia tengah berlari bersama seorang wanita, menelusuri lorong yang gelap dengan suara yang ricuh dari arah belakang mereka. Suara erangan dan rintihan yang memekik benar-benar membuatnya ketakutan setengah mati.
Wanita di depannya terus menggenggam tangannya tanpa memalingkan wajah, membawanya ke sebuah ruangan yang mirip seperti gudang. Wanita itu menggeser salah satu meja yang rupanya menyembunyikan sebuah pintu rahasia kemudian memintanya untuk bersembunyi di balik pintu tersebut.
“Jangan pergi…!”
Namun Turpin memegang erat tangan wanita itu seolah-olah tidak ingin berpisah. Wanita itu tersenyum sejenak lalu memberikan kecupan di kening, sebelum pada akhirnya menutup pintu rahasia tersebut rapat-rapat dan pergi.
Dia berusaha untuk membuka pintu tapi usahanya sia-sia, dirinya kini hanya bisa mengintip melalui sela pintu dan menyaksikan langsung wanita itu yang tengah melambaikan kedua tangannya ke salah satu sisi lorong, lalu berlari ke sisi sebaliknya seakan memancing sesuatu untuk mengejarnya.
Tak lama setelah itu, muncul segerombolan orang berseragam beserta sosok dengan aura hitam yang mengejar wanita tersebut. Sosok dengan aura hitam itu menatap ke dalam ruangan sejenak memeriksa sebelum lanjut mengejar wanita tadi.
Napasnya memburu saat sosok itu menatap ke dalam ruangan. Dia merasakan hawa mengerikan terbentuk pada aura hitam yang menyelimuti sosok tersebut. Ia merasa ketakutan tapi juga menyimpan rasa amarah dan dendam terhadap sosok itu.
Ingatannya berakhir di sana dan dia kembali tersadar. Ia merasakan kembali amarah dan dendam yang telah terpendam cukup lama tersebut saat melihat aura hitam milik Yoz yang sama persis seperti aura hitam milik sosok menakutkan itu. Jiwanya seakan menolak untuk menyerah dan pasrah untuk beberapa saat.
“AKU TIDAK SUDI KALAH DARIMU!!!” teriak Turpin dengan energi putih yang berkumpul ke pusat mata kanannya bersiap menembak tangan Yoz.
Yoz yang menyadarinya langsung menarik tangan guna menghindar tembakan energi tiba-tiba Turpin, serta dengan reflek mengaktifkan wujud transparannya untuk berjaga-jaga.
Tembakan Turpin pun meleset dan hanya mengenai salah satu tentakel Yoz, membuatnya berdecak kesal sebab kegagalan tersebut walaupun berkat hal itu juga dia memiliki kesempatan untuk meloloskan diri. Berikutnya ia melompat mundur sebab tahu lawannya berada dalam wujud menembusnya.
Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang karena merasa tidak memiliki peluang untuk menang, kemampuan bocah itu benar-benar membuatnya kewalahan. Terbesit di pikirannya untuk melarikan diri saja, tapi Yoz pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.
Apalagi jika ia membuka kubah raksasa sekarang, maka ada kemungkinan pahlawan lain akan langsung masuk dan mengepungnya. Yoz pun juga tidak akan memberinya kesempatan untuk mendekati sandera. Semua kondisi itu membuatnya mengacak rambut frustasi.
Di tengah keputusasaannya, dia menatap ekspresi Yoz yang sedikit berbeda. Pemuda nampak risih, dia menatap waspada Turpin sembari beberapa kali melirik salah satu tentakel yang terkena tembakan energi Turpin sebelumnya.
Turpin tertawa pelan ketika sadar tentakel yang putus setelah ditembak dengan energi tadi tidak tersambung kembali dan justru hancur seperti abu. Hal itu menjadi secercah harapan baginya saat sudah hampir menyerah.
“Mengapa aku merasakan sakit di―!”
Yoz gagal menyelesaikan kalimatnya karena harus menghindari sesuatu dari arah belakang. Black Bess rupanya masih hidup dan kini berlari menuju tuannya. Lebih mengejutkannya lagi, wujud kuda hitam itu kembali seperti sedia kala.
Nampak kaki-kaki Black Bess yang sudah tersambung ke tubuhnya tanpa ada kesalahan struktur di sana. Meskipun makhluk itu terlihat pincang ketika berlari sebelumnya, serta terdapat luka pada kulitnya yang merupakan bekas potongan Yoz.
“Aku tahu kau tidak akan mati semudah itu….” Turpin mengelus-elus Black Bess beberapa kali lalu menaikinya kembali tanpa mempedulikan kondisi makhluk tunggangannya yang belum pulih seutuhnya.
Yoz mengabaikan beberapa pertanyaan yang memenuhi pikirannya sebab tak memiliki cukup waktu untuk mengurusi hal itu. Posisinya kini bersiaga, dengan pedang yang digenggam erat dia menghilang dari pandangan.
Black Bess kembali bereaksi akan kemunculan Yoz dari berbagai arah, tapi Turpin kembali mengelus kuda itu dan berbicara, “Tahan dirimu, kawan… tunggu aba-aba dariku….”
Tebasan demi tebasan dilancarkan Yoz tanpa henti, terutama setelah tahu monster mutasi itu tidak bereaksi apa-apa meskipun sudah diserang membuatnya semakin menjadi-jadi.
Black Bess menggertakkan gigi menahan sakit pada tubuhnya yang terus menerus ditebas tanpa ampun, sedangkan Turpin menoleh ke sana kemari berusaha menemukan lawannya sambil melindungi celah pada tubuhnya dari tebasan.
“Sekarang!”
Begitu Black Bess sudah nyaris tumbang karena luka yang sangat parah, Turpin langsung memberikan tanda sehingga makhluk tersebut meringkik keras dan menendang tepat waktu ke arah Yoz. Seperti dipandu oleh Black Bess, Turpin dengan cepat menoleh ke arah mana kuda itu menendang dan menemukan Yoz yang tengah menahan tendangan itu menggunakan pedang.
Energi putih kembali terkumpul di mata Turpin dan tanpa ragu ditembakkan. Yoz buru-buru menelengkan kepala seraya mengaktifkan wujud menembusnya. Tembakan energi tersebut meleset melewati leher Yoz dengan jarak yang sudah sangat dekat atau bahkan nyaris mengenainya.
Kali ini Turpin tidak mengumpat saat serangannya meleset, mungkin karena pria itu merencanakan sesuatu. Sementara Yoz memberikan ekspresi kesakitan setelah tembakan itu melesat melewati lehernya, memaksanya untuk melompat mundur seraya memegangi leher.
Darah segar mengalir keluar di sana, padahal Yoz sangat yakin berada dalam wujud menembusnya tadi. Dia melihat tangannya yang dilumuri darah dengan tatapan terheran-heran hingga pada akhirnya mendongak ke depan dengan wajah serius.
Turpin tertawa lepas layaknya orang gila. Dia mengambil topinya lalu diangkat ke atas dalam posisi terbalik. Kemudian dia berkata, “Sekarang aku mengerti, kau lemah terhadap plasma. Ini menjadi sangat menarik!”
“Apa maksudmu?” tanya Yoz menaikkan sebelah alisnya.
“Kau lihat saja sendiri!”
Drone sebanyak empat buah keluar dari topi Turpin dan terbang mengelilinginya. Masing-masing dibekali dengan enam buat misil yang terpasang di landing skid. Sekilas drone-drone itu persis seperti drone yang pernah digunakan Turpin untuk mengejar Arda.
Yoz meneguk ludah menyaksikan pesawat-pesawat kecil tanpa awak tersebut bersiap melepaskan misil. Entah mengapa dia merasakan firasat buruk saat melihatnya, terutama suara tertawa bengis Turpin yang membuatnya semakin yakin dengan firasat buruk tersebut.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Usai Turpin memberikan menjentikkan tangan, salah satu drone melepaskan misilnya dan menargetkan Yoz. Buru-buru Yoz memasuki wujud menembusnya untuk menghindari misil tersebut, tapi instingnya berkata untuk menjauh saja dari misil tersebut.
Dia bingung sejenak karena diapit dua pilihan tersebut hingga pada akhirnya memilih untuk menuruti instingnya. Buru-buru dia berlari menjauh, akan tetapi misil tersebut terus mengejarnya ke mana pun dia berlari.
Begitu misil itu sudah hampir mengenainya, Yoz langsung menghilang tanpa jejak. Alhasil misil tersebut kehilangan targetnya dan menabrak salah satu bongkahan. Peluru kendali itu pun meledak bersamaan dengan Yoz yang tiba-tiba muncul dan terlempar tanpa sebab.
“P-panas!” rintih Yoz bertekuk lutut.
“Bangunlah! Masih ada 23 misil lagi yang harus kau tangani di sana!” celetuk Turpin sambil menunjuk.
Kalimat Turpin barusan memaksa Yoz untuk bangkit. Pasalnya, misil-misil lainnya sudah dilepaskan dan kini tengah melesat ke arah pemuda tersebut. Dengan panik, dia berjuang keras untuk menghindari satu demi satu misil tersebut.
Meskipun sudah memasuki mode menembusnya, dampak ledakan yang berhasil dihindari tetap dapat ia rasakan. Hanya dalam puluhan detik saja, dirinya kembali bertekuk lutut saking kewalahannya dia menghindari semua misil tersebut.
Turpin sendiri hanya berdiri di samping Black Bess, menonton kejadian tersebut layaknya menonton sebuah atraksi. Dia merasa sedikit kecewa sebab sudah berekspektasi pemuda itu bisa memberikan perlawanan lebih menghadapi drone miliknya seperti Arda, namun rupanya tidak sesuai dengan harapan.
Masing-masing drone kini hanya menyisakan tiga misil, tapi itu lebih dari cukup untuk memojokkan Yoz. Bagaimana tidak, separuh dari total misil saja sudah membuat Yoz sampai kewalahan seperti itu. Keempat alat itu kini mengepung Yoz dari arah kanan, kiri, depan, maupun belakang.
“Percuma saja, kemampuan menembusmu tidak akan bisa menghindari plasma seperti ledakan! Ini sudah berakhir…” ucap Turpin.
Seluruh drone langsung melepaskan misilnya, membuat Yoz terpojok dari berbagai arah. Pemuda itu terpaksa merelakan ketiga tentakelnya untuk menahan sebelas misil tersebut, tapi itu masih belum dapat menghentikan sisanya.
Yoz yang kehabisan akal hanya bisa melemparkan pedangnya ke arah Turpin, tapi serangannya dengan mudah ditangkis oleh musuh. Berbekal satu ayunan tangan, pedang tersebut terlempar ke belakang dan menancap ke tanah.
Pemuda berjaket merah itu menatap Turpin dengan ekspresi kesal sekaligus pasrah. Segera setelahnya, delapan misil langsung menabrak ke dirinya dan meledak hebat mengakibatkan kobaran api yang besar.
Turpin mengangkat tangan dan menatap salah satu drone yang ternyata masih menyimpan satu misil terakhir. Dia memicingkan mata untuk melihat apakah Yoz masih bertahan di sana, dengan tangan yang berada dalam posisi siap menjentikkan.
Dia merasa sedikit kesulitan akibat tebalnya asap hitam dari kobaran tersebut, beberapa saat setelahnya baru terlihat siluet Yoz di balik kobaran yang nampak menggeliat kesakitan.
Turpin tertawa terbahak-bahak melihat lawannya yang mulai lenyap di makan api. Sensasi yang ia rasakan sekarang benar-benar tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, dia merasa begitu puas setelah pada akhirnya berhasil mengalahkan Yoz.
“Akhirnya kau mati juga!” ucap Turpin berbicara sendiri menyaksikan kobaran api.
Black Bess sendiri nampaknya sudah mulai pulih, kulit-kulitnya yang terbelah akibat tebasan kembali menyatu seolah tak pernah terputus sama sekali. Makhluk itu terus menatap siluet Yoz persis seperti anjing yang menatap waspada saat ada yang memasuki teritorinya.
“Maaf mengecewakanmu, tapi aku masih belum mati!”
Celetukan suara itu membuat Turpin kaget dan secepat kilat menoleh ke arah belakang. Di sana berdiri Yoz yang tengah mencabut pedangnya dari tanah dengan napas terengah-engah.
Turpin terbelalak terkejut tak percaya, “B-bagaimana bisa kau―”
“Selamat? Mengapa kau tidak cari tahu sendiri?” jawab Yoz.
Napas Turpin tertahan sesaat, dia menoleh kembali ke kobaran api untuk memastikan apakah benar-benar ada seseorang di dalamnya. Saat diperhatikan, siluet Yoz masih berada di dalam kobaran api namun langsung menghilang beberapa detik setelahnya.
Turpin heran terhadap Black Bess yang tidak menyadari keberadaan Yoz di belakangnya, tapi ia langsung mengerti begitu kuda hitam tersebut baru bereaksi usai siluet barusan menghilang.
Sekarang yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa Yoz tiba-tiba muncul di belakangnya dalam waktu singkat? Turpin menilik kembali kejadian sebelumnya yang mungkin dapat menjawab pertanyaan tersebut sampai akhirnya menyadari sesuatu.
‘Benar juga, dia sempat muncul dari bayang-bayang untuk menahan kakiku saat aku hendak mendekati ibunya….’
Tentu hal itu membuatnya kesal, pasalnya ia merasa selalu gagal setiap kali sudah nyaris bisa menghabisi pemuda itu. Dia menghentakkan kedua kaki sedikit ke perut Black Bess, si kuda hitam yang paham sontak langsung bergerak.
“KENAPA KAU TIDAK MATI SAJA!!??” hardik Turpin kesal langsung menerjang Yoz.
Yoz melemparkan pedangnya cukup jauh dan kuat sampai menancap di salah satu bongkahan bangunan. Setelahnya menunjuk ke arah belakang Turpin sembari berkata, “Kau melupakan sobat di belakangmu!”
Usai mengatakan kalimat itu, sebuah misil muncul membelah kobaran api melesat menuju ke arah Yoz. Wajah Turpin memucat layaknya susu basi saat memalingkan wajah dan menyadari dirinya berada di jalur misil itu.
Sementara Yoz memperlihatkan bagaimana cara ia dapat lolos dari serangan misil sebelumnya. Wujud pemuda itu mulai berubah menjadi kepulan asap hitam dan masuk ke dalam bayangan batu besar di dekatnya, kemudian keluar melalui bayangan dari pedang yang ia tancapkan sebelumnya.
Beberapa detik sebelum dirinya berpindah, ia meninggalkan sebuah entitas gelap yang mirip persis seperti dirinya di dekat batu besar tadi. Misil barusan secara otomatis menargetkan wujud tersebut begitu saja tanpa mempertanyakan keaslian entitas tersebut.
Yoz memperkuat pijakan sebab tahu akan ada ledakan yang datang, sambil menyaksikan musuhnya yang melakukan reuni dengan peluru kendali miliknya.
“Kau tidak seharusnya menyisakan satu misil itu, Turpin…” ucap Yoz.
*BOOMMM!!!!*
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 33: Who Are You?