
15 menit setelah ledakan pertama muncul di pusat kota, Yoz keluar dari kegelapan ruangan dan memandangi jendela yang kacanya terlihat retak. Pemandangan dari luar jendela memperlihatkan langit yang hampir dipenuhi oleh asap-asap hitam serta burung-burung yang berterbangan.
Tiba-tiba saja sebuah kalimat yang pernah ia dengar terlintas di pikirannya saat melihat pemandangan mengerikan tersebut.
‘Coba kau bayangkan, jika seandainya ada monster yang benar-benar kuat atau monster yang berukuran sangat besar dan mempunyai kemampuan untuk menghancurkan satu kota… itu pasti akan sangat mengerikan….’
Dia terkikik sejenak mengingat kalimat itu padahal tidak ada bagian yang lucu di sana, “Kau memang punya insting yang kuat, Di... meskipun sebenarnya tebakanmu sedikit meleset….”
Tak lama setelahnya, wajah pemuda itu berubah menjadi sangat serius kemudian menoleh ke arah foto seorang wanita rambut pirang yang sudah pasti adalah foto ibunya. Dia mengepal tangannya kuat-kuat.
“Bertahanlah sedikit lagi, ibu….”
Sedangkan itu, Paman Hans pun masuk ke dalam ruangan dengan sesuatu yang tergenggam di tangan kanannya.
“Apa kau sudah siap?” tanya Paman Hans.
“Ya,” jawab singkat Yoz.
*— —!*
Mereka berdua dikejutkan dengan suara sirine yang tiba-tiba terdengar tak jauh dari rumah mereka berada. Suara sirine ambulan, mobil polisi, serta pemadam memang nyaris serupa, tapi Yoz dan pamannya punya satu pikiran.
“Suara ini…”
“Polisi…” sambung Paman Hans melirik ke arah jendela kemudian memalingkan wajahnya kepada Yoz, “lebih baik kau segera pergi dari sini!”
“Lalu bagaimana dengan Paman?”
“Aku akan tetap di sini untuk menahan polisi-polisi itu. Keluarlah lewat pintu belakang, sudah ada salah satu pengawal yang menjemputmu menggunakan mobil.”
“Jika para polisi itu datang kemari di saat kota sedang kacau balau, bukankah itu berarti kita sudah ketahuan? Paman tentu tahu kalau kita mungkin akan ditangkap, bukan? Bagaimana cara Paman akan menahan mereka?”
Bukannya menjawab pertanyaan Yoz, Paman Hans justru melemparkan barang yang dia pegang sebelumnya kepada pemuda itu. Dengan refleks, pemuda itu menangkapnya dengan tangkapan sempurna.
“Simpanlah baik-baik, komunikasi kita akan sangat bergantung dengan alat itu,” papar Paman Hans.
Yoz memeriksa benda apakah yang berhasil dia tangkap, ternyata benda itu adalah sebuah intercom yang berukuran cukup kecil. Tanpa banyak kata, dia langsung memasang alat itu di telinga kanannya.
Suara sirine pun semakin mendekat, membuat Yoz tidak punya waktu untuk terus bertanya dan memutuskan untuk segera berangkat. Tapi sebelum pergi, dia berpesan kepada pamannya.
“Jangan sampai tertangkap, Paman…”
Usai pemuda itu menghilang, Paman Hans pun keluar dari ruangan dan menuruni tangga dengan santainya padahal sudah banyak suara langkah banyak kaki yang terdengar di luar.
“Berpencar ke segala sudut bangunan, jangan biarkan seorang pun lolos!” Salah satu polisi yang sepertinya merupakan seorang pemimpin memberikan perintah kepada polisi yang lain.
Sang pemimpin bersama kedua polisi lainnya mulai mendekati pintu depan sedangkan sisanya mulai berpencar mengelilingi bangunan, tidak lupa dengan pistol yang menjadi senjata utama mereka.
Saat mereka hendak mendobrak, sebuah aroma mulai menusuk hidung masing-masing polisi. Membuat beberapa dari mereka terpaksa harus menutup hidung menggunakan tangan.
“B-Bau ini… busuk sekali!”
“Ini seperti bau mayat?”
Beberapa polisi ada yang mulai menaruh curiga kalau sudah terjadi pembunuhan di lokasi kejadian, namun sang pemimpin langsung mengingatkan yang lain untuk fokus dengan misi utama mereka.
Sang pemimpin mulai menempatkan bahunya di depan pintu lalu mundur beberapa langkah melakukan ancang-ancang menerobos.
“Tiga… dua… satu!”
*Bruak!*
Cukup dengan satu kali dobrakan, pintu tersebut langsung terbuka. Polisi yang lain melakukan hal yang serupa dengan pintu belakang serta jendela, kemudian segera masuk ke dalam rumah dan memeriksa setiap sudut ruangan.
Sedangkan di pintu depan, pemimpin polisi beserta dua polisi lainnya menahan langkah untuk masuk ke dalam karena disambut oleh pemandangan Paman Hans yang tengah berdiri beberapa meter dari pintu.
Seluruh polisi yang telah memeriksa semua ruangan mulai berkumpul ke tengah bangunan dan mengepung si pemilik rumah, lalu menodongkan pistol ke arahnya. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukan target selain Paman Hans, mengindikasikan kalau Yoz berhasil lolos tepat sebelum para polisi tiba.
Meskipun dikepung oleh puluhan pasukan bersenjata, pria tua itu tidak merasa takut sedikit pun. Dia justru bertepuk tangan seakan menyambut kehadiran mereka semua.
“Wah… wah… sepertinya saya kedatangan tamu tak diundang. Ada keperluan apa sehingga para polisi berkunjung?”
“Tuan Albert, anda kami tangkap atas perintah dari HSO!”
“Huh? Ditangkap? Apakah salah saya?”
“Jangan berpura-pura tidak tahu! Jika anda tidak ingin terluka maka angkat tangan dan tiarap!”
“Maaf, tapi saya tidak bisa mematuhi mereka yang masuk dan menghancurkan rumah saya begitu saja, akan memerlukan waktu dan uang untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan ini!”
Paman Hans perlahan-lahan mulai mendekati pintu depan, sontak membuat semua polisi mulai melakukan ancang-ancang untuk menembak.
“JANGAN BERGERAK!” gertak sang pemimpin polisi mulai menarik pelatuknya.
“Saya adalah salah satu anggota eksekutif HSO, apakah orang seperti saya pantas ditodong senjata seperti itu?”
“Jangan membuat kami menembak anda, Tuan Albert!” ancam polisi yang lain.
Mendengar ancaman itu, Paman Hans berhenti lalu terkikik sejenak. Para polisi seketika dibuat bingung, tidak mengerti apa yang lucu dari ancaman itu.
Perhatian dari si pemimpin polisi nyaris teralihkan oleh tertawa bercekikikan Paman Hans, tapi untungnya dia menyadari sebuah pergerakan yang mencurigakan dari tangan si pelaku.
“Begitu, jadi kalian tidak ingin menembakku, ya...?”
Paman Hans cepat-cepat meraih saku celananya lalu mengeluarkan sebuah pistol dari sana. Dengan tersenyum gila dia menodongkan pistol miliknya ke arah pemimpin polisi lalu berteriak, “BAIKLAH! AKULAH YANG AKAN MENEMBAK LEBIH DULU—”
*DOR!*
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
‘Suara tembakan?’
Yoz yang sudah pergi cukup jauh dari rumah menggunakan mobil tiba-tiba tersentak kaget mendengar suara tembakan dari belakang.
Dia pun mulai khawatir dengan pamannya kemudian memegang bahu si pengawal yang fokus mengendarai mobil.
“Kita harus kembali!” pintanya.
Namun si pengawal tidak mengindahkan permintaannya dan justru semakin mempercepat laju mobil. Membuat Yoz merasa kesal lalu memegang bahu si pengawal dengan lebih keras.
Secara tiba-tiba, si pengawal menginjak pedal rem hingga Yoz nyaris terhempas ke depan. Hal itu semakin membuat Yoz kesal, tapi sebelum dia mulai menghardik, si pengawal langsung menyela.
“Apa Tuan Muda tidak mengerti? Tuan Albert sudah mengorbankan dirinya agar anda bisa lolos dari sini, jangan membuat pengorbanannya menjadi sia-sia,” ungkap si pengawal.
Mendengar ungkapan barusan, Yoz hanya bisa mengepal kuat-kuat tangannya. Jika dipikir-pikir lagi memang ada benarnya. Jika seandainya dia kembali ke rumah, sama saja ia menyerahkan diri kepada para polisi.
Memang keberhasilan terkadang hanya bisa dicapai dengan mengorbankan hal yang berharga, termasuk orang-orang terdekat. Tapi tidak peduli sekejam apapun pamannya, hatinya tetap merasa sakit saat mengetahui pamannya mungkin sudah tertangkap atau bahkan tewas tertembak.
Karena tidak ada pilihan lain lagi, Yoz kembali fokus dan membulatkan tekadnya lalu meminta si pengawal kembali melanjutkan perjalanan.
“Kita lanjutkan perjalanannya!”
Si pengawal memberikan satu anggukan sebagai jawaban 'iya', laku perlahan menginjak pedal gas dan memperlaju kecepatan mobil.
Baru beberapa ratus meter mobil berjalan, si pengawal kembali menginjak rem sama seperti sebelumnya, yang berbeda ialah Yoz kali ini tidak terhempas ke depan karena dia memegang hand grip.
Saat melihat penyebab si pengawal menginjak pedal rem, ternyata sesosok monster yang lagi-lagi berwujud humanoid menghadang jalan mereka.
‘Monster yang sama lagi!?’
Yoz benar-benar heran karena ini untuk ketiga kalinya dia melihat monster dengan wujud yang sama. Ketiga monster yang sudah dia lihat seperti Rogiant, Pison, serta yang satu ini memiliki wujud humanoid yang persis satu sama lain.
Tapi yang paling membekas di ingatannya adalah, setiap monster yang sudah dia hadapi sejauh ini terdapat corak bintang pada mata kanan mereka.
“Tuan, bisakah anda turun dari mobil?”
Selagi Yoz terheran dengan wujud monster itu, si pengawal mendadak meminta dia untuk turun dari mobil tanpa alasan yang jelas.
Yoz yang merasa paham pun menjawab, “Huh? Baiklah…”
‘Aku berniat untuk menyimpan tenagaku di saat terdesak, tapi sepertinya memang harus aku gunakan sekarang….' pikirnya.
Dia pun keluar dari mobil sambil melakukan peregangan pada leher, bahu, dan lengannya. Di saat hendak maju untuk melancarkan teknik pamungkas miliknya kepada monster humanoid itu, si pengawal tiba-tiba melakukan hal yang benar-benar mengejutkan.
“Tempat tujuan anda sudah dekat, Tuan Muda hanya perlu sedikit berjalan kaki. Setelah berada di puncak, tunggulah instruksi dari Tuan Turpin!”
“A-apa?”
Dengan spontan, si pengawal menginjak pedal gas hingga mobil melaju sangat kencang dan menabrak monster dihadapannya tanpa ampun. Suara gemuruh dari gesekan ban dan aspal terdengar saat kendaraan besi itu melaju kencang. Bahkan saking kencangnya, mobil dan monster yang ditabraknya menghantam hebat bangunan di depannya.
*BRUAK!!!*
Akibatnya, baik mobil maupun si monster, kondisi keduanya sama-sama bisa dikatakan kritis.
Bagian depan mobil nampak hancur dan rusak total hingga mengeluarkan asap serta percikan api, sedangkan tubuh monster yang tertabrak tadi terbelah menjadi dua bagian sampai-sampai jeroannya berceceran ke mana-mana.
Meskipun bagian depan kendaraan besi itu sudah hancur parah, ternyata si pengawal masih selamat. Bisa terlihat saat dia mengangkat kepala meskipun banyak darah yang merembes deras dari telinga, mata, hidung, dan dahi.
Saat Yoz hendak menyelamatkannya, monster yang terbelah tadi rupanya masih hidup lalu membuka mulut lebar-lebar.
Dari dalam mulut monster itu, meluncur sebuah lidah dengan kecepatan yang tak masuk akal menusuk tepat di tengah-tengah dahi si pengawal, disusul dengan sebuah ledakan hebat dari mesin mobil membakar si pengawal, mobil, beserta monster hingga hangus. Kedua pihak pun sama-sama tewas dalam kobaran api.
“D-dia….” Yoz terbelalak kaget tak percaya dengan apa yang sudah dia lihat barusan, bahkan tidak tahu harus berkata apa saking tak menduga kalau si pengawal akan melakukan aksi segila itu.
“Sial… dunia ini memang sudah gila…” decaknya menggertakan gigi dan mengepalkan tangan kuat-kuat.
Memang terlihat mengerikan, tapi tidak ada waktu untuk hanya berdiri dan meratapi kematian dari si pengawal. Ada kemungkinan kalau monster atau bahkan pahlawan datang karena suara ledakan tadi.
Seusai menenangkan diri, dia mendongak melihat ujung dari bebatuan raksasa yang mengitari kota, lebih tepatnya puncak tebing selatan kota.
“Dia bilang di puncak itu, bukan?” ucapnya kemudian bergegas melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Koridor sekolah telah dipenuhi murid-murid yang sedang berbaris dan berjalan menuju tempat evakuasi atau yang biasa disebut juga shelter.
Ini semua berkat usaha dari para guru dan beberapa siswa yang berhasil mengendalikan situasi. Walaupun situasi dikatakan sudah terkendali, tetap saja ada beberapa murid yang masih merasa ketakuan dan panik.
Salah satunya adalah Tripu, yang berjalan menuruni tangga bersama keempat kawan baiknya. Gadis itu tidak henti-hentinya menoleh ke sana ke sini, membuat Nia dan Shela sedikit kewalahan untuk menenangkannya.
Bahkan Pami berani bersumpah melihat ada sedikit air mata yang muncul dari mata gadis itu. Namun beruntungnya ada Riki yang bersama dengan mereka, pemuda itu bertingkah konyol meskipun tahu kalau bukan waktu yang tepat untuk bercanda, tapi setidaknya itu membuat Tripu merasa sedikit lebih tenang sekarang.
Di sisi lain koridor, seorang pemuda berkacamata biru berjalan mengikuti barisannya seraya memperhatikan langit yang penuh dengan asap dan burung-burung yang tak terhitung jumlahnya terbang.
Dengan wajah gelisah dirinya bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Semua terjadi secara tiba-tiba, dan siapapun tidak akan menduga hal ini akan terjadi di hari biasa seperti seperti sekarang, termasuk Knighto.
Saat pandangannya kembali tertuju ke kerumunan barisan, Knighto mengernyitkan alis.
Ada seseorang yang berjalan berlawanan dari barisan. Seorang siswa yang badannya sedikit pendek berjalan menuju ke arahnya.
“Suryadi...?”
Benar, yang berjalan berlawanan arah hingga menabrak beberapa pundak murid-murid adalah Suryadi Gunawan.
Knighto menghentikan langkah setelah menyadari ternyata teman lamanya itu menatap ke arahnya.
Barisan kelas Knighto merupakan barisan paling belakang, sehingga di saat pemuda itu menghentikan langkah, tidak ada lagi barisan lain di belakangnya.
Para guru yang berada di depan barisan untuk mengarahkan para murid menuju shelter merasa sangat yakin tidak akan ada murid yang nekat untuk keluar dari barisan karena kondisi yang gawat seperti sekarang, tanpa menyadari bahwa ternyata ada dua orang yang tertinggal jauh dari barisan.
Koridor pun menjadi sepi menyisakan dua orang yang sudah saling mengenal sejak lama, bahkan sebelum memasuki sekolah dasar. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Knighto Darce serta Suryadi Gunwan.
Wajah Suryadi terlihat serius, bahkan ini untuk pertama kalinya Knighto melihat wajah temannya yang seserius itu, karena biasanya Suryadi lebih sering memasang wajah bersemangat dibandingkan serius seperti Yoz.
Suryadi menghembuskan napas, mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepada seseorang yang sebenarnya sangat tidak dia sukai bahkan selama bertahun-tahun.
“Ito, aku butuh bantuanmu!”
“A-apa?”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 21: Bizmark