100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 21: Bizmark



“Apa kau yakin tempatnya di sini?”


“Aku sangat yakin, tunggulah sebentar lagi...”


Suryadi mulai memasang wajah masam karena telah menunggu cukup lama tapi sesuatu yang ditunggu tak kunjung tiba.


Kini dia bersama teman masa kecilnya berada di luar sekolah, tepatnya di luar pagar beton sekolah. Jika bukan karena kondisi kota yang sedang kacau, mungkin akan banyak orang yang melihat mereka dan menduga kalau mereka hendak bolos sekolah.


Bagaimana Suryadi tidak memasang wajah masam, sudah 5 menit dia berdiri di sana dan terus bertanya kepada Knighto, namun kawannya hanya menjawab tunggu, tunggu, dan menunggu. Seandainya pemuda itu punya jam tangan, dia pasti akan terus melirik jam tangannya.


Kesabaran Suryadi mulai mencapai batas sebelum pada akhirnya ia melihat sesuatu di belakangnya.


“Sebenarnya mobil warna apa yang sedang kita tunggu?” tanya Suryadi.


“Mobil sedan berwarna putih—”


Selagi Knighto menjawab, Suryadi sontak menunjuk ke arah belakang dengan wajah terkesan sedikit datar.


Layaknya dipandu oleh jari telunjuk temannya, Knighto pun perlahan-lahan menoleh ke belakang. Sebuah mobil sedan berwarna putih persis seperti deskripsi mobil yang ia jelaskan sebelumnya terparkir di sana.


Entah sejak kapan mobil itu berada di sana, yang pasti mobil itu sudah terparkir cukup lama.


Knighto pun membalas pendek dengan wajah bodoh nan polosnya.


“Oh....”


Tanpa basa-basi, ia mendatangi mobil itu. Nampak di dalam kendaraan seorang pria tua dengan warna rambut, alis, dan kumis nyaris putih semua sedang menundukkan kepala sampai-sampai menempel pada setir mobil.


*Tuk! Tuk! Tuk!*


Cukup beberapa ketukan pada jendela mobil, pria tua itu langsung tersentak kaget dan kebingungan. Melihat responnya yang seperti itu, bisa diduga kalau pria tua itu sedang berada di alam mimpi sebelumnya.


Dengan setengah sadar ia pun bertanya, “Ya? Siapa itu?”


“Ini aku,” jawab samar-samar Knighto mendekatkan wajahnya dengan jendela mobil.


Pria tua itu memicingkan mata ke arah sumber suara, kemudian mengenakan kacamata miliknya untuk memastikan wajah dari si pemilik suara.


“Ah rupanya anda, Tuan Muda.”


Begitu tahu kalau yang memanggilnya adalah Knighto, dia langsung menurunkan jendela mobil serta membuka kunci pintu mobil.


Sebenarnya pria tua itu hendak turun dari mobil, tapi Knighto segera mencegatnya.


“Anda tidak perlu turun dari mobil, Pak Patron. Aku akan langsung mengambil senjataku dan pergi, setelah itu segeralah kembali dan berlindung di tempat yang aman.”


Pria tua yang bernama Pak Patron itu membalas dengan satu anggukan, disusul oleh Knighto yang membuka pintu mobil dan mengambil claymore miliknya. Kemudian pemuda itu langsung berpamitan kepada orang kepercayaannya dan berbalik badan.


Tapi sebelum dia hendak melangkah, Pak Patron kembali memanggilnya.


“Eh... Tuan Muda?”


Knighto berbalik badan dan dengan wajah bertanya-tanya dia merespon, “Huh?”


“Maaf, mungkin terdengar sedikit tidak sopan jika saya bertanya tentang hal ini, tapi apa yang membuat anda sampai melakukan sejauh ini?”


“Huh? Apa maksud Pak Patron?”


Pak Patron termenung sejenak menatap ke arah claymore milik Knighto, kemudian kembali bertanya, “Saya melihat akhir-akhir ini anda lebih sering menyentuh pedang anda dan berlatih, apa telah terjadi sesuatu yang membuat anda mulai mempelajari ilmu pedang lebih dalam?”


Knighto melihat wajah Pak Patron beberapa saat, ekspresinya menunjukkan kekhawatiran yang terlihat jelas. Pengabdian pria tua itu kepada Knighto memang patut diacungi jempol. Sang tuan muda pun mencoba menenangkan pria tua itu dengan tersenyum dan tertawa pelan.


“Haha... aku baik-baik saja, Pak Patron. Aku melakukan semua ini atas dasar keinginanku sendiri....”


“Tapi anda tidak perlu melakukan sampai sejauh ini, Tuan. Anda bisa saja terbunuh jika tetap nekat untuk pergi, lagipula Keluarga Darce sudah tidak perlu melakukan tugas mereka setelah HSO berdiri....”


“Ini bukan masalah meneruskan tugas keluarga atau semacamnya, aku hanya tersadarkan oleh kalimat seseorang....”


“Seseorang?”


Knighto terdiam beberapa saat, tak lama setelahnya dia menggenggam senjatanya erat-erat lalu mengumpulkan tekad untuk mengungkapkan sesuatu yang sudah dia rahasiakan dari keluarganya dan orang kepercayaannya sejak awal.


“Sebenarnya aku menjadi korban perundungan di sekolah...” ungkapnya.


Pak Patron tergemap saat mendengar pernyataan itu. Sebenarnya dia sudah menyadari sikap Knighto yang lebih sering murung beberapa tahun terakhir, tapi dirinya bingung harus melakukan apa mengingat posisinya hanyalah seorang pengabdi suatu keluarga ternama.


“Jadi semuanya karena itu... saya pikir karena anda telah kehilangan—”


“Aku rasa kita tidak perlu membahas bagian itu....”


“M-maafkan saya, Tuan....”


Pak Patron menundukkan kepala sebagai bentuk minta maaf, sedangkan Knighto sendiri kembali melanjutkan kalimatnya tanpa mempermasalahkan hal tadi.


“Papa dan mama sering berpesan kepadaku agar selalu bersikap baik kepada semua orang, oleh sebab itu aku tidak pernah membalas perbuatan mereka yang berbuat jahat kepadaku... memang itu adalah hal yang tepat dan benar, tapi mau sampai kapan aku terus seperti ini?


“Aku tidak bisa terus mengelak dan beralasan... tapi aku merasa ketakutan saat menghadapi orang-orang itu padahal kami sama-sama manusia...


“Oleh karena itu, aku ingin mencoba melawan ketakutan dengan cara menghadapi ketakutan terbesar manusia, yakni teror monster. Memang kedengaran konyol karena aku berani menghadapi monster tapi justru ketakutan saat melawan manusia, tapi begitulah diriku dan setidaknya aku harap bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian...” tutup Knighto.


“Begitu... baiklah, jika Tuan memang sudah membulatkan tekad, maka saya tidak bisa menahan anda lebih lama lagi,” balas Pak Patron dan dengan rasa hormat ia menundukkan kepala untuk kesekian kalinya, “berhati-hatilah, Tuan Muda....”


“Terima kasih atas pengertiannya.”


Setelah berhasil meyakinkan abdinya, Knighto pun melambaikan tangan lalu pergi mendatangi Suryadi yang masih berdiri di tempat yang sama sebelumnya.


Dengan wajah bosan, Suryadi melipatkan tangan di depan dada serta kaki mengetuk-ngetuk tanah, sekilas mirip seperti atasan yang kesal karena pegawainya datang terlambat.


“Bentar sekali!” sindir Suryadi.


Knighto menggaruk kepala dan tersenyum ceroboh, “Maaf....”


Suryadi menghela napas panjang, mencoba melupakan hal barusan. Tanpa disengaja tatapannya mengarah ke claymore milik Knighto, dan dalam beberapa detik dia menyadari sesuatu yang janggal.


Claymore itu berwarna hitam dengan corak garis berwarna merah menyala di bagian pangkal dan batang silangnya. Serta sebuah simbol api yang menjadi pusat corak-corak merah tadi.


Suryadi pun bertanya, “Ini perasaanku atau memang senjatamu kali ini berbeda dengan 2 hari yang lalu?”


“Ah, ini senjata milikku yang sebenarnya, aku tidak pernah membawa senjata ini ke dalam mobil. Sedangkan senjata 2 hari yang lalu itu sebenarnya adalah senjata milik abdi keluargaku,” ungkap Knighto sembari mengangkat senjatanya.


“Jadi apa kau selalu menyimpan pedangmu yang ini di dalam mobil?”


“Tidak, hanya kali ini saja.”


Menyadari ada yang aneh dengan kalimat temannya, Suryadi balik bertanya, “Kali ini?”


Knighto mulai bercerita bahwa sebenarnya kemarin malam dirinya menerima pesan dari Yoz. Pesannya bertuliskan 'Jika besok kau mendengar suara sirine peringatan, segera berlindung di tempat shelter dan jangan pernah mencoba untuk keluar sampai matahari berada tepat di atas kepala!'.


Oleh sebab itu dirinya berkata 'hanya kali ini' karena dirinya merasa akan ada firasat buruk. Ia pun meminta Pak Patron untuk kembali ke sekolah secepat mungkin jika mendengar suara sirine serta membawakan claymore miliknya.


Di sisi lain Suryadi pun mulai paham mengapa ekspresi Knighto tidak seheboh seperti yang dia kira saat menjelaskan kondisi kota saat ini, lebih tepatnya saat mengungkapkan kebenaran tentang Yoz.


“Tunggu dulu, kenapa aku tidak menerima pesan darinya?” tanya Suryadi, “Ini tidak adil!”


“Bukannya kamu tidak pernah memasang sosmed apapun di handphone-mu?” sanggah Knighto.


“Siapa yang bilang?”


“Yoz.”


“Ah, iya juga....” Suryadi tertegun karena kata-kata Knighto ada benarnya.


Tak mau waktu terus terbuang karena membahas hal tidak penting seperti tadi, Knighto pun menyeletuk, “Baiklah, ayo kita pergi!”


Kemudian dirinya pergi sambil membawa claymore menggunakan kedua tangannya. Disusul oleh Suryadi yang mengekor di belakang tanpa berkata apa-apa setelahnya.


Sedangkan itu, Pak Patron sudah bersiap-siap menyala mesin mobil saat punggung Knighto menghilang dari pandangannya.


Apa yang telah Knighto ceritakan tidak bisa lepas dari pikiran pria tua itu dan membuatnya termenung sangat lama hingga pada akhirnya sebuah ledakan membuyarkan lamunannya.


“Apa pilihanku membiarkan Tuan Muda pergi adalah pilihan yang tepat? Tapi jika seandainya aku terus menghalanginya, maka Tuan Muda tidak akan berkembang...” gumam Pak Patron sendirian, “semoga Tuan Muda baik-baik saja....”


Pak Patron mulai menginjak pedal gas mobil dan pergi dari lokasi. Pria tua itu tersenyum untuk beberapa saat lalu berubah menjadi serius, karena cerita barusan mengingatkan dia pada sebuah kalimat.


'Manusia memang menjadi musuh bagi monster tapi di sisi lain monster juga berasal dari manusia. Terkadang, manusia bisa jadi lebih mengerikan dan kejam daripada monster itu sendiri.’


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


*JLEB! BUMM!!! BUMM!!!*


Beberapa orang yang berpenampilan mencolok terlempar jauh akibat terkena beberapa ledakan kecil. Tapi itu tak membuat orang-orang itu menyerah begitu saja, mereka semua berusaha bangkit kembali seraya memegang luka masing-masing.


Kondisi sekitar mereka benar-benar kacau. Bangunan-bangunan yang hancur, mobil-mobil yang hangus terbakar, dan asap-asap hitam yang nyaris menutupi langit. Serta di hadapan mereka berdiri sesosok monster mirip seperti ulat raksasa yang menjadi pelaku dari kekacauan lokasi sekitar.


Jika yang menjadi dalang dari kekacauan adalah monster, maka bisa dikatakan bahwa orang-orang yang kini sedang berhadapan dengan monster itu adalah para pahlawan.


“Ugh... monster ini kuat sekali!” rintih salah satu pahlawan sembari memegang lengan kirinya yang terluka.


“Tcih! Untuk saat ini lebih baik kita mundur dulu!” saran yang lain.


“Jangan menyerah! Kita hadapi sekali lagi, kali ini kita pasti bisa meraihnya!” seru lagi yang lain sambil menodongkan senjatanya.


Suasana pun semakin menegang karena monster itu mulai berjalan mendekat. Beberapa pahlawan memilih untuk mundur, sedangkan yang lain memilih bertahan untuk terus menghadapi monster itu. Tekad mereka yang kuat mungkin akan membuat orang-orang kagum melihatnya.


“Ayo kita pertaruhkan nyawa kita dalam pertarungan ini!”


“YA!” seru serentak para pahlawan yang masih bertahan.


Dengan sorakan bersemangat, mereka mulai memasang kuda-kuda dan kembali menodongkan senjata masing-masing untuk menyerang makhluk yang ukurannya hampir menyerupai sebuah rumah itu.


Suara langkah kaki mekanik terdengar jelas di telinga masing-masing pahlawan mengakibatkan semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara.


“I-itu....”


“Bizmark?”


Semuanya terkesiap saat salah satu pahlawan terkuat HSO yakni Bizmark muncul di hadapan mereka dalam mode tempurnya. Sosok itu mengenakan armor berwarna hitam pekat dari kaki hingga kepala, serta beberapa pelindung dengan model mirip seperti kapal tempur terpasang di kedua bahu. Sekilas penampilannya mirip seperti komandan kapal perang.


Sosok berarmor itu berjalan santai melewati pahlawan yang lain sambil mengeluarkan pedangnya yang bercahaya seperti pedang laser. Dengan tatapan dingin dan serius, dia berdiri tepat di hadapan monster ulat itu.


*Blub... Blub... Blub...*


Adapun monster tadi mulai membuka mulut lebar-lebar, lalu mengeluarkan beberapa gelembung lendir dari mulutnya. Tak memakan waktu cukup lama, puluhan gelembung sudah melayang mengepung Bizmark dari segala arah.


Para pahlawan lain yang melihat hal itu hanya bisa menelan ludah, entah seberapa berbahaya bola-bola berisi udara itu sehingga membuat mereka takut. Salah satu dari mereka langsung berteriak memperingati.


“BIZMARK, HATI-HATI! GELEMBUNG-GELEMBUNG ITU BISA—”


“Berisik!” potong Bizmark.


*SYUU! SYUU! SYUU!*


Gelembung-gelembung tadi pun mulai melesat ke arah si pahlawan terkuat secara bersamaan. Pahlawan lain yang melihatnya dengan panik buru-buru mundur menjaga jarak.


Saat jarak bola-bola lendir itu dengan si pahlawan hanya beberapa meter, artileri yang terpasang pada pelindung bahu Bizmark menembak seluruh benda itu hingga meletus.


Letusan yang terlihat sebenarnya tidak jauh berbeda dengan gelembung sabun, namun ternyata efek letusannya hampir menyerupai ledakan sebuah granat. Bahkan beberapa pahlawan yang sudah berada cukup jauh dari posisi Bizmark tetap terkena dampaknya terhempas hebat akibat efek letusan itu.


Lagi-lagi mereka kembali dalam posisi tersungkur, rasa sakit pada tubuh masing-masing pun tak terhindarkan lagi. Tapi yang paling menarik perhatian mereka adalah kondisi Bizmark, mengingat pahlawan itu berjarak sangat dekat dengan ledakan gelembung barusan maka tentunya luka yang ia terima akan lebih parah dibandingkan mereka.


Tapi saat dilihat, sosok Bizmark sudah menghilang dari posisinya. Bisa diasumsikan bahwa Bizmark mungkin telah hancur oleh ledakan hebat barusan, tapi hal itu terpatahkan saat salah satu pahlawan menunjuk ke langit.


“Lihat di sana!”


Semuanya termasuk si monster mendongak ke atas. Dari langit, Bizmark muncul membelah asap-asap dan awan. Para pahlawan yang awalnya terbelalak tak percaya nan putus asa berubah menjadi tersenyum kemenangan.


Bizmark mengangkat kedua tangannya ke atas. Ia melesat terjun ke bawah layaknya meteor yang akan jatuh menghantam bumi. Gesekan dengan udara membuat tubuhnya secara perlahan berubah warna menjadi merah bata.


“Musnahlah, makhluk menjijikkan!”



Energi kuat dari bilah pedang Bizmark mulai bersinar terang dan membesar hampir menyerupai ukuran si monster, hingga membuat mulut semua orang yang menyaksikannya menganga lebar.


*SLASH!!!*


Dengan satu tebasan, tubuh si monster dipotong hingga terbelah menjadi dua layaknya puding, disusul dengan percikan listrik yang menyelimuti tubuh si monster.


Bizmark mendarat dengan santai meskipun tanah yang dia pijak retak hebat akibat pendaratannya, lalu berjalan membelakangi musuhnya sambil memperagakan gaya memasukkan pedang ke dalam sarung.


Tepat setelah seluruh bagian pedang masuk ke dalam sarung, sebuah ledakan hebat muncul dari tubuh si monster.


Bisa dibilang ledakan itu jauh lebih kuat dibandingkan letusan gelembung-gelembung sebelumnya. Bahkan kali ini tidak hanya beberapa pahlawan saja yang terhempas melainkan semua objek yang berada di sekitar ledakan seperti mobil dan puing-puing bangunan pun ikut terhempas, menyisakan Bizmark yang tetap berdiri sendirian berkat pengait pada kakinya.


Setelah ledakan berakhir, cahaya pada matanya pun mulai meredup dengan diikuti suara mekanisme yang berbunyi.


「Mode tempur dinonaktifkan!」


Semuanya terkagum-kagum melihat kemampuan pahlawan kelas Thaumiel tersebut meskipun kondisi mereka kacau akibat terhempas kesekian kalinya selama pertarungan berlangsung, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mencoba untuk kembali berdiri dan mendatangi Bizmark.


“Itu benar-benar hebat, Bizmark!”


“Dia sangat kuat!”


“Menyingkirlah! Pahlawan kelas rendahan seperti kalian seharusnya mengurus para penduduk untuk evakuasi, bukannya berlagak menghadapi monster seperti tadi!” balas sinis Bizmark sembari melewati mereka semua begitu saja.


Beberapa orang ada yang merasa kecewa setelah mendengar penyataan Bizmark barusan, sedangkan sisanya sudah menduga kalau hal ini pasti akan terjadi. Sebab Bizmark memang dikenal sebagai pahlawan yang sedikit angkuh dan dingin.


Tidak ada satu orang pun yang mau membuka mulut untuk membalas setelah melihat secara langsung kemampuan mengerikan pahlawan tersebut dan memilih untuk diam.


“Monster tingkat D+ yang berada di bagian timur kota berhasil dikalahkan!”


「Terima kasih karena sudah mau turun ke kota untuk menghadapi monster-monster yang bermunculan, Bizmark....」


“Jangan salah paham, aku melakukannya karena aku menginginkannya, bukan karena permintaan kalian. Lagipula ini jauh lebih baik daripada harus mengawasi bocah itu!”


「Ah, berbicara tentang itu, apakah kamu mendapatkan informasi penting tentangnya?」


“Berdasarkan gambar yang berhasil aku ambil di pusat kota, tidak ada satu pun bukti kalau dia terlibat”


「Lalu bagaimana dengan monster ancaman tingkat E yang kita utus? Jika bukan dia yang menghadapinya, lantas siapa?」


“Itu adalah ulah dari putra keluarga Darce, terlihat pada bekas sayatan yang memotong jalanan serta kediaman keluarga Darce yang dekat dengan lokasi kejadian. Bukankah seharusnya kalian bisa melihatnya dari rekaman CCTV?”


「Justru karena hal itu, kami memintamu untuk datang ke lokasi. CCTV pada saat itu tiba-tiba tidak berfungsi, kami sangat yakin kalau Turpin merupakan dalang dibalik semua ini!」


“Turpin, ya? Berikan aku lokasi bocah itu, Marva!”


「Hah? Untuk apa?」


“Kinerja kalian yang mengulur-ulur waktu seperti ini tidak akan bisa menangkap Turpin dengan cepat! Aku akan langsung menangkap bocah itu dan membuatnya buka mulut tentang Turpin!”


「Tapi kami sudah mengutus para polisi untuk menangkapnya, jadi kamu tidak perlu turun tangan untuk menangkap target.」


“Jangan bercanda! Apa kalian pikir bisa menangkap kriminal kelas B hanya dengan polisi? Langsung berikan data lokasinya dan jangan banyak protes!”


「Baiklah... tolong tunggu sebentar, aku akan segera mengirimkan data-data target kepadamu secepatnya.」


Fokus Bizmark pada pembicaraan teralihkan oleh kehadiran tiga monster yang berjarak 40 meter dari posisinya berada. Tiga sosok monster yang berpenampilan serupa, mirip seperti hyena yang mengalami mutasi genetik hampir di seluruh tubuh.


“Ada tiga monster di sini, aku akan menghubungimu lagi nanti!”


Setelah memutuskan komunikasi, Bizmark kembali menarik pedangnya lalu memasuki mode tempurnya seperti pertarungan sebelumnya. Tapi tiba-tiba ia tertegun saat melihat kemunculan monster lain dari sisi lain jalanan.


Monster berwujud singa humanoid dengan surai dan ujung ekor yang lebat dengan bulu sedangkan bagian tubuh yang lain hanya diselimuti bulu yang tipis. Tingginya pun hampir sama seperti monster humanoid yang lainnya, yakni 2,5 meter.


Hal yang janggal pun mulai terjadi. Ketiga monster hyena yang menyadari kehadiran monster humanoid itu mulai mengeluarkan suara ejekan yang mirip nada tertawa, beserta membuka mulut lebar-lebar menunjukkan taring-taring mereka yang tajam sampai meneteskan liur, seolah-olah menemukan mangsa untuk disantap.


Salah satu monster hyena langsung berlari menghampiri monster humanoid itu dengan kecepatan tinggi.


Sang singa humanoid hanya mengangkat tangan, tapi beberapa detik kemudian tangan besar itu terayun ke bawah memotong kepala musuhnya dengan cakar tepat sebelum makhluk mutasi itu berhasil menyerang.


Dua monster hyena yang tersisa pun mulai bergerak cepat menghampiri lokasinya dan memutarinya. Sontak monster humanoid itu dibuat bingung harus melakukan apa.


Salah satu monster hyena pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menerkam tangannya.


Terkaman itu berhasil dengan tangan dari monster humanoid yang tergigit sangat kuat hingga darah merembes ke mana-mana. Ditambah oleh monster hyena satunya menerkam kepalanya hingga ia terjatuh.


Pertarungan brutal itu disaksikan langsung oleh Bizmark, bahkan dia tidak bisa memalingkan pandangannya pada kejadian itu.


Sang monster humanoid itu mulai terpojok dengan tangan serta kepala yang dijepit oleh taring-taring kuat nan tajam, bahkan kedua makhluk buas itu menggeleng-gelengkan kepala berusaha merobek tubuh mangsanya.


Tapi sang monster humanoid berusaha membalikkan keadaan dengan mencekik monster hyena yang mengigit kepalanya lalu melemparnya dengan tenaga penuh. Kemudian berdiri dan melakukan hal yang serupa terhadap monster hyena yang satunya.


Setelah kedua monster hyena itu terlempar hebat sampai-sampai memuntahkan darah dari mulut, sedangkan sang monster humanoid melompat tinggi dan mendarat tepat di atas salah satu kepala mereka hingga bola mata dan otaknya keluar.


Adapun monster hyena yang terakhir mencoba kabur terhuyung-huyung dari sosok yang berhasil membunuh kedua temannya.


Menyadari musuhnya melarikan diri, sang monster humanoid itu menurunkan badan seperti melakukan posisi start jongkok. Kemudian dengan tenaga penuh pada kakinya, dia melesat dengan cepat hingga menyusul mamalia mutasi itu dan meraih kepalanya menggunakan tangan.


Sang pemenang pun menggenggam kepala monster hyena itu dan mengangkatnya ke atas. Sementara monster hyena tadi meringik berusaha melepaskan diri sambil menyakar tangan berotot milik singa humanoid tapi hasilnya nihil.


Dengan wajah setengah hancur, sang monster singa humanoid itu tersenyum menunjukkan taring-taring sebagai tanda kemenangannya.


“Kalian bukanlah tandingan kami, dasar makhluk ciptaan gagal!” ucapnya dengan suara berat dan mengerikan.


Setelahnya, dia meremas kepala hyena itu seperti memeras jeruk hingga hancur mirip seperti kedua monster sebelumnya, kemudian melemparnya jauh-jauh. Pertarungan pun usai dengan kemenangan berada di pihak sang monster humanoid.


Bizmark dibuat terbelalak terkejut melihat pertarungan brutal makhluk-makhluk itu hingga tidak sadar kalau Marva kembali menghubungi dirinya melalui intercom.


*SRRTTT*


「Bizmark, aku sudah mengirimkan data lokasi target kepadamu.」


“....”


「Bizmark?」


“....”


「Bizmark! Apa kamu mendengarku?」


“Ah—y-ya, aku mendengarmu...” sahut Bizmark akhirnya tersadarkan lalu melirik ke arah intercom di telinganya setelah beberapa kali dipanggil oleh Marva.


「Ada apa? Apa terjadi sesuatu?」


Mendengar pertanyaan itu, Bizmark kembali melemparkan pandangan kepada lokasi pertarungan monster-monster sebelumnya tapi hanya ada tiga mayat monster di sana sedangkan sosok monster humanoid itu menghilang.


“Nothing...” ucapnya.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 22: Chase