100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 18: Virus



Kurang lebih empat jam telah berlalu. Suara indah yang selalu ingin didengar oleh seluruh siswa sekolah secara tiba-tiba berbunyi, membuat murid-murid yang tidak tahu apa-apa terkejut karena bel terakhir sekolah berbunyi lebih cepat dari waktu biasanya.


Sejumlah murid ada yang bingung, sedangkan yang lain langsung bergegas mengemaskan barang-barang mereka ke dalam tas namun tak berani mengambil langkah selanjutnya karena merasa sedikit ragu untuk pulang. Hingga beberapa menit kemudian, suara mekanisme yang berasal dari sirine sekolah menjawab semua keraguan mereka.


「Kepada seluruh siswa siswi SMP Gampat, sehubungan akan diadakannya rapat guru, maka diperkenankan agar siswa-siswi untuk pulang lebih awal.... Saya ulangi, sehubungan akan diadakannya rapat guru, maka diperkenankan agar siswa-siswi untuk pulang lebih awal....」


Tak menunggu waktu lama, lorong sekolah langsung dipenuhi oleh puluhan atau bahkan ratusan murid. Namun, ada salah satu orang yang bergerak berlawanan arah.


“Huft... membantu guru-guru selama sehari penuh ternyata cukup melelahkan... beruntungnya hari ini bisa pulang lebih cepat dari biasanya, aku ingin segera pulang ke rumah dan berbaring di kasur...” ucap Suryadi dengan wajah lesu lelah berjalan menuju ke kelas seraya melakukan gerakan peregangan.


Saat sudah hampir mencapai pintu kelas, tiba-tiba Yoz muncul di sana dengan tatapan dingin nan datar.


Suryadi langsung menyapa dan melambaikan tangan akrab tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi dengan temannya di saat dia sedang tidak ada di kelas. Namun, pemuda berjaket merah itu mengabaikannya dan berjalan melewatinya seolah-olah dia tidak melihat siapa pun di sana.


Suryadi pun sedikit heran akan hal itu sehingga dia buru-buru masuk ke dalam kelas untuk mengambil tasnya dan melesat menyusul temannya yang masih terus berjalan.


“Hei! Tunggu aku—”


“Berhenti mengikutiku!” Yoz berhenti sejenak hanya untuk mengatakan hal itu, lalu kembali berjalan tanpa mengatakan apa-apa setelahnya.


Kebingungan, Suryadi memiringkan kepala tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan temannya lalu mencoba kembali menyusul seraya bertanya.


“Kau kenapa? Ayolah—”


“Sekali lagi kau mendekat, aku pastikan akan ada luka memar di wajahmu!” ancam Yoz berbalik badan.


“...”


Karena tidak ingin ancaman itu menjadi kenyataan, Suryadi menghentikan langkahnya dan berdiri di tempat melihat temannya yang berjalan semakin menjauh. Saking bingungnya, dia sampai menggaruk-garuk kepala yang padahal tidak gatal sama sekali.


“Dia itu kenapa, sih?” Apa dia marah karena aku berada di luar kelas selama seharian?” ucapnya heran memegang dagu lalu mengangkat bahu masa bodoh. “Ya, sudahlah... dia pasti akan membaik pada esok hari.”


Sedangkan itu, Yoz sudah berada di gerbang sekolah, pembatas antara wilayah sekolah dengan dunia luar yang bebas tanpa terikat aturan guru.


Di antara kerumunan siswa yang berjalan melewati gerbang sekolah, Yoz sekilas bisa melihat Pami yang berdiri di tepi jalan sibuk mengeluarkan payung dari tasnya.


Perlu diakui, menggunakan payung di saat seperti sekarang adalah pilihan yang tepat karena secara kebetulan langit terlihat mendung.


Namun tetap saja, pemuda bongsor itu terlihat sangat tidak cocok mengenakan payung yang ia gunakan.


Tepat sebelum Yoz berjalan melewati Pami, dia menghentikan langkahnya dan berhenti tepat di depan Pami. Tetap dengan tatapan dingin, pemuda berjaket merah melirik ke arah Pami.


“Kenapa kalian membelaku? Apa karena kalian merasa iba denganku? Apa kalian menerima kehadiranku hanya karena merasa kasihan kepadaku?”


“Huh?”


Respon Pami membuat Yoz bingung harus membalas apa, tapi Yoz tahu dari matanya menunjukkan bahwa ia tidak tahu apa-apa atau bahkan sama sekali tidak peduli tentang kejadian sebelumnya. Oleh karena itu, dia langsung pergi meninggalkan Pami karena merasa sudah tidak ada hal yang bisa dibicarakan.


Tak lama kemudian, tetesan air dari langit mulai berjatuhan, membuat orang-orang yang awalnya berjalan santai berubah menjadi panik mencari tempat berteduh meskipun hanya gerimis.


“Dasar aneh...” umpat Pami lalu membuka payung dan berjalan pulang.


Di saat orang-orang bersicepat mencari tempat untuk berteduh, Yoz justru terus berjalan pulang dengan santai, mengabaikan tetesan air hujan yang semakin lama semakin deras. Hingga langkahnya terhenti karena melihat sebuah mobil terparkir tidak jauh dari posisinya berada.


Sebuah penampakan mobil mewah yang terasa familiar di ingatan Yoz. Hanya ada beberapa orang yang bisa memiliki mobil mewah itu jadi wajar jika orang seperti Yoz menghentikan langkahnya karena terpukau dengan kemewahannya.


Namun bukan hal itu yang menjadi sebab Yoz berhenti, melainkan karena mobil itu adalah milik Paman Hans. Pelat nomor yang terpasang di kendaraan itu menjadi bukti kalau mobil itu memang milik pamannya.


Benar saja, tak lama setelah Yoz melihat pelat nomornya, jendela depan mobil terbuka dan memperlihatkan Paman Hans di dalamnya. Ekspresi dari pria tua itu menunjukkan seolah-olah dia sudah menunggu Yoz sedari tadi di sana.


“Masuk!” perintah Paman Hans.


“Paman?”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Gemercik air hujan semakin deras, disertai suara guntur yang bergemuruh di seluruh pelosok kota. Mereka yang tidak melihat waktu pada jam mereka akan berpikir kalau hari sudah malam saking gelapnya langit pada saat itu.


Sebagian orang memilih untuk berteduh hingga tangisan langit mereda. Hanya beberapa orang yang bertahan saat diri mereka diguyur hujan, itu pun karena mereka menggunakan payung atau jas hujan. Sedangkan sisanya hanya pasrah menerima baju dan barang-barang bawaan mereka basah kuyup.


Beruntung bagi Yoz karena dia berhasil masuk ke dalam mobil tepat sebelum hujan turun jauh lebih deras. Di sampingnya sudah ada Paman Hans yang bersiap-siap menghidupkan mesin mobil segera setelah Yoz masuk.


Namun ada hal yang janggal dengan pria tua itu, penampilannya terlihat sedikit berbeda dibandingkan terakhir kali dia pergi untuk urusan pekerjaan.


Warna kulitnya menjadi putih pucat serta penampilan yang sedikit lebih kurus, sekilas dia terlihat mirip seperti mayat. Yoz sendiri menyadari perubahan pada pamannya lalu bertanya memastikan.


“Apa Paman... baik-baik... saja?”


“Paman baik-baik saja, hanya mengalami sedikit mumifikasi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan...” jawab Paman Hans sembari memasukkan persneling lalu menjalankan kendaraan besi miliknya.


“Tapi Paman terlihat sedikit berbe—”


“Berhentilah bertanya, Yoz!”


“Baiklah...” jawab Yoz lalu menatap jendela mobil yang dihiasi banyak tetesan air hujan.


Yoz memilih untuk tidak memikirkan kondisi pamannya, terutama setelah sikap pria tua itu yang terkesan sama dingin dengan dirinya serta apa yang telah dia alami di sekolah tadi pagi membuatnya mulai berhenti bersikap terlalu peduli terhadap orang.


Sempat terjadi keheningan di antara keduanya, hanya gemercik air hujanlah yang mengisi kekosongan di mobil itu hingga Yoz pada akhirnya membuka mulut


“Kita ingin pergi ke mana?”


“Kau akan segera mengetahuinya.”


Dengan mobil mewah itu, mereka melaju menuju arah selatan kota dengan lancar tanpa ada hambatan seperti perbaikan jalan atau bahkan serangan monster. Memang jalan yang mereka lalui merupakan arah jalan pulang, namun Yoz yakin jika tujuan mereka bukanlah ke rumah.


Di perjalanan, Yoz bisa melihat tebing yang telah mengelilingi kota selama puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan tahun lamanya. Begitu besar dan tinggi, bahkan ini untuk pertama kalinya bagi Yoz melihat bebatuan raksasa itu sedekat ini karena dia selama hidupnya lebih sering menghabiskan waktu di rumah.


Mobil mereka terus melaju hingga melewati sela-sela tebing. Tidak ada satu pun bangunan tinggi yang terlihat setelah mereka melewati sela-sela tebing tersebut, hanya terlihat pepohonan dan beberapa rumah penduduk.


Satu kali melihat saja, Yoz menyadari bahwa sekarang dia berada di luar Kota Machina. Pemuda itu pun menoleh dan menatap bertanya wajah pamannya beberapa saat, akan tetapi mata pria tua itu terus tertuju ke depan dan mengabaikan dirinya.


Perjalanan itu memakan hampir satu jam, tanpa disadari mereka telah sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah sakit sederhana yang berlokasi cukup jauh dari kota.


Dilihat dari kondisi bangunan yang mulai rusak di beberapa bagian, sepertinya rumah sakit ini sudah ada sejak lama.


Mereka berdua bersiap-siap turun dari mobil. Tapi sebelum itu, Paman Hans menggunakan sesuatu yang mirip seperti parfum ke tubuhnya, membuat Yoz heran dengan apa yang dilakukan oleh pamannya.


“Kenapa Paman menggunakan parfum? Kita hanya akan masuk ke dalam rumah sakit itu, bukan?”


“Ini hanya untuk formalitas.”


Benar-benar hal yang aneh menurut Yoz, namun tidak ada gunanya dipermasalahkan. Hal yang lebih penting untuk dipikirkan sekarang ialah, mengapa dia dibawa ke tempat yang jauh dari kota seperti rumah sakit ini?


Yoz dan pamannya langsung turun dari mobil, ternyata hujan sudah mulai reda menyisakan beberapa tetes air terakhir dan genangan air di permukaan.


Di dalam bangunan itu, penuh dengan perawat dan dokter yang lalu lalang melakukan tugas mereka.


Kemudian Paman Hans mendatangi salah satu perawat yang bertugas di meja resepsionis dan menanyakan sesuatu. Yoz sempat mendengar apa yang pamannya tanyakan yakni menanyakan nomor ruangan, namun dia tidak begitu peduli akan hal itu.


Sesudah itu, Paman Hans mengajak Yoz untuk menuju ke ruangan yang diberitahu oleh perawat tadi. Berjalan beberapa langkah, mereka berdua akhirnya sampai di ruangan bernomor 25. Namun, Paman Hans tiba-tiba berhenti tepat di depan pintu ruangan itu dan menoleh ke arah Yoz.


“Masuk!” perintah Paman Hans.


Dengan hati-hati dia menutup pintu takut ada pasien yang beristirahat di dalam. Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang terbaring di ranjang pasien.


Di sana terbaring seorang wanita paruh baya dengan rambut pirang lurus. Meskipun tidak mengenakan kacamata seperti saat terakhir kali Yoz melihatnya, namun tak bisa dipungkiri lagi sosok itu adalah orang yang selama ini dia rindukan.


“Ibu!?”


Setengah tak percaya dengan apa yang telah dia lihat, Yoz berjalan mendekat dengan badan yang gemetar. Matanya terbelalak lebar serta ekspresi wajah yang tak pernah dia tunjukkan kepada orang-orang bahkan pamannya sendiri tidak pernah melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu.


Luapan emosinya sudah tak terbendung lagi, pemuda itu langsung memeluk erat-erat ibunya meskipun dia tahu kalau ibunya masih belum sadar. Tanpa disadari, air mata jatuh membasahi pipinya. Kini dia terlihat seperti bocah cengeng dan manja, yang tidak mau lepas dari ibunya.


Itu mungkin adalah momen yang membahagiakan, namun sayang harus terhenti ketika Yoz melihat patient monitor yang menampilkan garis-garis indikator berwarna merah. Yoz mungkin bukan orang yang ahli dalam hal medis, namun dia tahu apa yang ditampilkan dalam monitor itu mungkin menandakan sesuatu yang buruk.


Apalagi ibunya masih belum sadar, jelas dia semakin gelisah. Buru-buru dia keluar dari ruangan itu dan bertanya dengan pamannya tentang hal tadi. Tapi hasilnya nihil, Paman Hans sendiri juga sama sekali tidak tahu apa-apa sehingga satu-satunya cara ialah bertanya langsung kepada dokter.


Secara kebetulan, salah satu perawat mendatangi mereka dan meminta untuk menemui dokter, sehingga mereka tidak perlu bertanya kepada perawat lain.


Mengikuti arahan dari perawat, Yoz dan Paman Hans pun masuk ke ruangan. Di dalamnya sudah ada seorang dokter yang menunggu kedatangan mereka berdua sedari tadi.


“Silahkan duduk,” sambut si dokter.


Paman dan keponakan itu bersama-sama mengambil kursi mereka lalu duduk. Sempat terjadi ketegangan di ruangan itu, Yoz adalah yang orang paling tegang dibandingkan yang lain.


“Apakah kalian merupakan keluarga dari pasien bernama Annariel Albert?” tanya si dokter.


“Ya, benar!” sahut Paman Hans membenarkan.


Sang dokter pun mulai menjelaskan bagaimana Annariel Albert alias ibu Yoz bisa berada di rumah sakit ini.


Wanita paruh baya itu ditemukan tergeletak di depan pintu rumah sakit oleh salah satu perawat yang baru saja tiba di sana saat pagi-pagi buta.


Yoz memasang baik-baik telinganya, dia tak ingin satu informasi pun terlewatkan dari telinganya. Setelah dokter selesai menjelaskan, Yoz langsung bertanya perihal apa yang dia lihat pada layar monitor sebelumnya.


Si dokter terdiam sebentar karena sedikit ragu, sepertinya alasan sang dokter memanggil mereka berdua tidak lain dan tidak bukan ialah untuk membahas hal itu.


Dia pun mengungkapkan bahwa setelah pasien berhasil diberikan pertolongan medis, pihak rumah sakit langsung melakukan pengecekan guna mengetahui apa yang telah terjadi dengan pasien.


Tapi betapa terkejutnya mereka karena yang mereka temukan di dalam tubuh pasien adalah sebuah virus. Tidak ada satupun dari mereka baik itu perawat atau bahkan dokter yang mengetahui virus apa itu. Sehingga tidak ada tindakan lanjut yang bisa dilakukan terhadap pasien hingga sekarang.


Informasi barusan seakan menghantam wajah Yoz dengan keras, pantas saja dirinya merasakan firasat buruk saat melihat indikator di monitor sebelumnya.


“A-apa kalian tidak bisa melakukan operasi atau pengobatan lainnya untuk menyembuhkan ibuku?” tanyanya gelisah.


“Maaf, tapi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pihak rumah sakit tidak bisa sembarangan bertindak selama penyakit yang diderita pasien masih belum diketahui,” jawab dokter dengan berat hati.


“S-sial...!” Yoz menggertakan gigi dan mengepal kuat-kuat tangannya.


Sang dokter langsung berdiri dari kursi lalu pergi meninggalkan ruangan karena salah seorang perawat muncul dan mengabarkan ada pasien yang membutuhkan pertolongan medis. Tapi sebelum pergi, dia berbicara kepada Yoz.


“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan ibumu. Jadi tolong bersabarlah dan berharap ada keajaiban yang datang....” katanya lalu berjalan menyusul si perawat.


Yoz hanya terdiam membeku di kursi, wajahnya kehilangan warna setelah mendengar kenyataan pahit barusan. Sedangkan Paman Hans sendiri hanya bisa menunduk pasrah, sebelum pada akhirnya sebuah panggilan masuk ke handphone miliknya.


Saat mengecek siapakah yang menelepon, Paman Hans melihat sejenak wajah Yoz kemudian menyodorkan handphone miliknya kepada Yoz.


Pemuda berjaket merah itu langsung mengangkat telepon tanpa memeriksa nama dari pemilik panggilan, karena dia tahu pelakunya adalah orang yang sama, yaitu Turpin.


「Yo~ bagaimana hadiah dariku? Apa kau senang?」


“Sialan! Apa yang sudah kau lakukan terhadap ibuku!” celetuk Yoz geram.


「Dasar tidak tahu berterima kasih! Aku sudah mempertemukan dirimu dengan ibumu dan ini cara kau membalasnya?」


“Aku akan membuatmu membayarnya!”


「Jaga ucapanmu terhadap orang yang memegang hidup dan mati ibumu!」


“Apa maksudmu?”


「Hahaha... sepertinya kau sudah mulai jinak, ya? Dengar! Aku punya serum itu... kau seharusnya sudah tahu serum apa yang aku maksud, dan aku yakin kau pasti sudah mengetahui sesuatu dari dokter, bukan?」


“Serum? Jangan-jangan kau—”


「Hahahaha.... Tepat sekali! Aku menyuntikkan virus monster ke dalam tubuhnya! Sebenarnya dia bisa saja bertahan jika tubuhnya kuat, tapi sayang sekali...」


Terdengar gelak tawa dari Turpin seolah-olah dia tidak merasa bersalah sedikit pun. Hal itu tentu membuat Yoz naik pitam sampai-sampai menggertakan gigi hebat.


“Tcih! BR*NGSEK KAU!”


「Aku bisa saja memberikan serum itu kepadamu, tapi dengan syarat yang tentu sudah kau pahami, bukan?」


“TUTUP MULUTMU, DASAR PENGECUT! AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MENURUTI SEMUA KEINGINANMU!”


「Terserahmu! Semuanya ada di tanganmu! Ingin ibu kesayanganmu selamat atau tetap mempertahankan kota bodoh yang bahkan tidak peduli denganmu! Lagipula, sepertinya ibumu tidak akan bisa bertahan lebih lama melawan virus itu, berharaplah agar ibumu masih bisa melihat rembulan esok untuk ke terakhir kalinya dan manfaatkan sisa-sisa waktu itu sebaik-baiknya~」


“APA MAKSUDM—”


Panggilan tiba-tiba terputus sehingga Yoz gagal menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya berubah gelap dan tubuhnya gemetar hebat, kemudian dia mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat.


Semua emosinya langsung dilampiaskan dengan memukul dinding.


Mungkin tidak ada bekas pada dinding tersebut, namun suara yang dihasilkan cukup keras. Bahkan akibat perbuatannya, sebuah luka memar menghiasi tangan kirinya mirip seperti tangan kanannya. Paman Hans sendiri hanya terdiam menatap Yoz yang bisa kembali meledak kapan saja.


“Kita tidak punya pilihan lain, Yoz. Aku sendiri akan merasa kebingungan saat berada di posisimu... tapi kita tetap harus memilih!” ucap Paman Hans setelah terdiam cukup lama.


“Lantas, Paman akan memilih yang mana?” tanya Yoz.


“Tentu saja ibumu!”


“Lalu... bagaimana dengan nasib mereka yang ada di kota? Apa Paman tega menghabisi ratusan nyawa tak bersalah itu?”


“Huh... mungkin sudah saatnya aku menjelaskan semua rencana itu secara rinci. Ini mungkin akan mengubah pikiranmu....” Paman Hans beranjak dari kursi lalu berjalan menuju pintu. “Bawa barang-barangmu, kita akan membicarakannya di rumah!”


“Lalu, bagaimana dengan ibu?” tanya Yoz menahan langkah Pamannya yang sudah membuka pintu.


“Ibumu akan tetap berada di rumah sakit ini. Tidak peduli berapa lama dia bisa bertahan, kita akan menyelamatkannya secepat mungkin dan kita pasti berhasil. Lagipula....” Paman Hans berhenti sejenak dan menoleh. “Turpin tidak sekejam seperti yang kau pikirkan!”


Setelah itu, dirinya berjalan keluar dari bangunan itu. Sedangkan Yoz menyempatkan diri untuk melihat ibunya sebelum pergi meninggalkannya, berharap semuanya akan baik-baik saja selama dia pergi.


Kemudian dia berjalan keluar menyusul pamannya yang sudah menyalakan mesin mobil. Mengetahui rencana itu secara rinci mungkin adalah satu-satunya pilihan, jadi mau tidak mau dia harus mengikuti perintah pamannya karena dirinya kini sedang berlomba-lomba dengan waktu.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 19: Armachina (1)