100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 7: Turpin X



“—Hmpf?”


Gumam seseorang yang mengenakan jas berwarna putih, top hat berwarna putih dengan garis merah di tengahnya, serta jubah berwarna hitam di sisi luar dan warna merah di sisi dalam.


Sambil mengencangkan dasi pita merah yang terpasang di lehernya, sosok itu berdiri memandangi layar yang ada di hadapannya seperti mengamati sesuatu di balik layar.


“—Huh? Kelihatannya rencanaku tidak akan berjalan sesuai dengan yang aku harapkan….”


Dengan nada yang sedikit kecewa, sosok itu memanggil salah satu pengawal yang ada di belakangnya lalu mengangkat tangan kanannya dengan kelima jari terangkat lurus seperti meminta sesuatu.


Pengawal yang mengenakan pakaian jas serba hitam itu dengan sigap mengeluarkan sebuah remot dari sakunya. Lalu dengan sedikit membungkuk hormat, dia menyodorkan benda itu dengan posisi yang sempurna.


Sosok tersebut segera mengambil remot yang disodorkan kemudian mengarahkannya ke layar. Dengan satu kali dorongan pada tombol merah, seketika layar yang ada di hadapannya mati.


Setelah itu, dia meletakkan remot ke meja yang ada di sampingnya dan menggaruk kepala.


“Seharusnya aku tahu, menggunakan pak tua itu sebagai boneka bukanlah pilihan yang bagus….”


Sosok itu segera meninggalkan ruangannya yang gelap dan melangkah melewati lorong yang mirip dungeon. Lorong itu begitu sunyi dan gelap, yang terdengar di tempat itu hanyalah suara hentakan kakinya yang bergema.


Setelah beberapa saat perjalanan, akhirnya dia tiba di sebuah ruangan memanjang yang terlihat seperti ruangan penjara. Di dalam penjara-penjara tersebut, terdapat berbagai macam monster mengerikan yang terkurung di dalamnya.


Sosok itu lantas melewati penjara yang berisikan makhluk-makhluk mengerikan itu dengan santai. Sedangkan para monster yang ada di dalamnya menggeram sambil berusaha meraih jubah milik sosok itu namun sia-sia.


Dia terus berjalan di ruangan memanjang itu hingga pada akhirnya sampai di penjara paling ujung dan yang paling berbeda dengan penjara-penjara sebelumnya.


Jika penjara-penjara sebelumnya berisikan monster-monster, maka penjara yang satu ini berisikan seorang wanita paruh baya berambut pirang.


Sambil memegang jeruji besi yang dingin, dia menatap seorang wanita paruh baya yang hanya duduk terdiam itu.


“Halo? Lama tidak berjumpa? Apa kau sehat-sehat saja?” sapanya.


Wanita yang terlihat lesu dan tak berdaya itu hanya menatap ke bawah seperti tidak tertarik untuk melihat ke orang yang mengajaknya berbicara.


Dengan nada yang pelan dan monoton dia berkata, “Apa yang kau inginkan?”


“—Kau sangat menyayangi anak itu bukan?” balas sosok itu.


Sontak si wanita yang awalnya menatap ke bawah tiba-tiba tersentak ke atas menatap sosok tersebut dengan mata terbelalak seusai mendengar kalimat tadi.


“A-apa yang ingin kau lakukan!?”


Tapi sosok itu tak merespon dan segera mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya, lalu melakukan sebuah panggilan ke nomor yang tak dikenal dengan ponsel tersebut.


*— —!*


Alat itu mengeluarkan bunyi yang khas memenuhi ruangan penjara, menunggu nomor yang dituju menerima panggilannya.


Ketika bunyi khas itu menghilang, sosok itu langsung berbicara sebentar kepada si penerima panggilan sebelum pada akhirnya dia menyodorkan ponselnya ke arah wanita di hadapannya.


“Jika kau ingin dia baik-baik saja, maka bersuaralah!”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Di sisi lain, pembicaraan serius antara paman dengan keponakan di sebuah ruangan tamu yang sedikit gelap masih terus berlanjut. Suasana pun menjadi tegang begitu sebuah kalimat terucap dari mulut si pria tua.


“Mungkin… dalam 8 hari lagi,” ungkap Paman Hans dengan wajah seringai liciknya.


Mendengar kalimat itu, sontak Yoz begitu kaget karena waktu yang telah ditentukan sudah dekat.


Sebenarnya dia dan pamannya sudah sering berbicara tentang rencana yang sedang mereka bahas sekarang. Namun, masih belum diketahui sebenarnya rencana seperti yang dimaksud. Tapi yang jelas, rencana itu akan membunuh ratusan nyawa yang tak bersalah akibat dampaknya.


Ketika dia mengingat kembali tentang rencana gila itu, tiba-tiba saja dirinya mulai teringat Suryadi, Knighto, dan orang-orang tak bersalah di kota yang mungkin akan terkena dampak dari rencana itu. Apalagi jika seandainya ada kemungkinan ibunya masih berada di kota itu, bisa saja orang yang sangat disayanginya juga akan terkena dampaknya.


Setelah mengatakan waktu yang telah ditentukan, Paman Hans menyandarkan badannya ke punggung sofa dan terus menjelaskan rencananya.


“Semuanya akan berjalan lancar jika kau melaku—”


“—Tcih!”


Tiba-tiba saja Yoz memotong penjelasan pamannya dengan suara yang kecil namun masih bisa terdengar, nadanya terdengar tegas seperti nada yang jengkel.


Wajah Paman Hans setelah mendengar suara itu langsung berubah drastis menjadi cemberut persis seperti kemarin, dia langsung memandangi Yoz dengan tatapan sinis dan tajam.


“Tcih?” Paman Hans mengulang kembali suara yang didengarnya barusan.


Suasana di ruangan tersebut mendadak menjadi semakin tegang. Yoz segera berdiri dari sofa dan membalas tatapan pamannya dengan tatapan serius. Tidak seperti kemarin, dia kini terlihat seperti sudah tidak bisa menahan lagi mendengar ocehan pamannya sedari tadi tanpa ada rasa takut sedikit pun dalam dirinya.


“Bisakah kita menghentikan semua rencana bodoh itu? Aku sudah benar-benar cukup muak mendengarnya!” celetuk Yoz.


Paman Hans pun memejamkan mata dan menghela napas, setelah itu dia juga berdiri dari sofa lalu mendekati Yoz yang ada di sampingnya dengan tatapan yang mengintimidasi.


“Apa kau tidak pernah belajar dari kesalahan?”


Segera setelah mengatakannya, tangan pria tua itu dengan cepat menyambar menargetkan leher Yoz sama seperti yang dia lakukan kemarin menggunakan tangan kanannya.


Namun, seperti sudah bisa membaca pergerakan dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Yoz dengan cepat menahan tangan pamannya yang sudah sangat dekat dengan lehernya menggunakan tangan kirinya.


Dengan wajah yang serius dan tanpa terlihat ketakutan seperti waktu dirinya yang kemarin, mulutnya mulai bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu yang sudah dia tahan sejak dulu dengan nada penuh kekecewaan.


“Apa kau benar-benar Paman Hans yang kukenal selama ini?”


Bukannya tersadarkan oleh kalimat itu, Paman Hans justru membalas dengan sebuah kalimat yang membuat Yoz semakin kecewa dan geram mendengarnya.


“Rupanya kau telah tumbuh menjadi anak yang membangkang!”


Pria tua itu lagi-lagi berusaha menyambar ke leher Yoz menggunakan tangan kirinya, namun Yoz kembali menahannya menggunakan tangan kanannya.


“Jangan pikir kalau aku akan terus takut dan tunduk kepada Paman! Aku akan melawan meskipun kau adalah pamanku!” ucap Yoz.


Terlihat tangan dari kedua orang itu saling beradu mempertahankan posisi mereka masing-masing. Mereka berdua berada di dalam kondisi di mana jika salah satu dari mereka lengah, maka yang lain akan memenangkan pertarungan.


Tak menunggu waktu cukup lama, Paman Hans terlihat seperti sudah tidak bisa mempertahankan posisinya lebih lama lagi karena tubuhnya yang sudah menua.


Menyadari dirinya mulai terdesak, dia pun mulai terkikik jahat membuat Yoz menatap heran. Apa yang kini pria tua itu rencanakan?


“Melihat dirimu yang tumbuh menjadi seperti ini, ibumu akan sangat—”


“TCIH! APA YANG KAU TAU TENTANG IBUKU, HAH!!?”


Dengan penuh emosi, Yoz langsung membentur kepalanya tepat di kening pamannya.


Membuat pria tua itu pun langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sambil memegang kepalanya yang terbentur, Paman Hans berkata dengan penuh kekesalan, “KAU!!!!”


Kemudian dia berusaha berdiri kembali dari lantai dengan bantuan kedua tangannya. Setelah sudah bisa berdiri dengan baik, dia membuang napasnya dengan hembusan yang cukup lama sambil menenangkan diri.


“Baiklah kalau begitu, sekarang akan kuberi dua pilihan untukmu.”


Paman Hans segera menegakkan kedua jarinya melambangkan dua pilihan tersebut.


“Pertama, kau menuruti semua perintahku dan tetap tinggal di rumah ini dengan segala kemewahan yang ada. Atau yang kedua, pergi dari rumah ini dan tinggalkan segalanya yang telah kuberikan kepadamu!”


Sembari menjelaskan pilihan kedua, tangan kirinya segera menunjuk ke arah di mana pintu keluar berada.


“Apa katamu? Rumah? Aku lebih suka menyebutnya sebagai neraka!” balas Yoz lalu segera melangkah keluar ruangan dan menuju ke pintu keluar. Mengindikasikan bahwa dia lebih memilih pilihan ke dua.


Paman Hans yang awalnya tersenyum licik berpikir semua akan berjalan sesuatu rencananya menjadi terkejut karena jawaban yang dilontarkan berbeda dari yang dia duga.


Tanpa mengulur waktu, dia segera menyusul Yoz dari belakang guna mencegatnya untuk menyentuh gagang pintu.


“Kau akan menyesal dengan keputusanmu!” ucapnya.


Yoz pun kembali menoleh ke belakang menatap pamannya dengan penuh kekesalan. Bahkan tangannya yang mengepal sudah gemetar hebat seakan ingin memukul pria tua itu, tapi dirinya berhasil menahan emosinya.


“Menyesal? Untuk apa aku menyesal karena tidak melakukan hal gila semacam itu? Jika kau ingin mempengaruhi otakku, maka kembalilah seratus tahun lagi!”


Setelah itu, Yoz segera memutar gagang pintu yang tidak terkunci dan lalu membukanya. Sesaat sebelum kakinya melangkah keluar dunia malam yang dingin, Paman Hans kembali berusaha menahannya.


“Jika ini semua demi menyelamatkan ibumu, apa kau akan tetap pergi?”


Sebuah kalimat yang mengatasnamakan orang yang berharga baginya membuat langkah kaki Yoz berhenti seketika, dengan tangan yang masih memegang gagang pintu, dia berbalik lalu membalas.


“A-apa? Ibuku? Apa aku tidak salah dengar dengan apa yang kau katakan barusan?”


Pria tua itu hanya terdiam seribu kata mendengar ucapan Yoz, seperti tidak ada sesuatu yang bisa membuktikan perkataannya. Sedangkan Yoz yang terus menunggu jawaban mulai merasa bosan.


Ke orang itu terdiam beberapa saat sebelum pada akhirnya muncul suara ponsel yang berbunyi memecahkan kesunyian tersebut.


Paman Hans yang menyadari jika suara itu berasal dari ponselnya segera mengeluarkannya dari kantong celana.


Ekspresi Paman Hans terlihat sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya pada layar ponsel. Karena bagaimana pun juga, dia terlihat seperti mengenali nomor tersebut. Tanpa membiarkan si penelepon menunggu lama, dia segera mengangkat panggilan tersebut.


“Sekarang apa maumu?”


Setelah itu, Paman Hans menunjukkan ekspresi kebingungan setelah mendengar beberapa kalimat dari pemilik suara di balik ponselnya.


Kemudian dengan tiba-tiba pria tua memberikan ponselnya kepada Yoz, seolah dirinya diperintahkan oleh si penelepon untuk melakukannya.


Yoz juga tanpa berpikir panjang langsung menerima ponsel tersebut. Matanya tertuju memandangi layar ponsel yang menampilkan nomor tak dikenal sejenak lalu meletakkannya tepat di samping telinga.


Dengan rasa penasaran, dia mencoba berbicara ke arah pemanggil dengan suara datar.


“Siapa ini?”


「— —」


Sontak ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat setelah mendengar suara dari ponsel tersebut, matanya terbelalak lebar dan alisnya naik seperti ekspresi terkejut yang tidak pernah terlihat sebelumnya.


Ekspresinya yang berubah itu terjadi karena dia terlihat seperti mengenali suara di balik ponsel yang dia dengar. Dengan mulut gagap tak percaya, dia bersuara dengan penuh kesedihan.


“I-Ibu…?!”


Seperti dipertemukan oleh takdir, seorang anak yang hidup bersama pamannya tanpa mengetahui keberadaan orang yang dia sayangi selama 4 bulan akhirnya dipertemukan kembali oleh ibunya.


Tidak peduli jika orang-orang tidak melihatnya secara langsung, suara itu tidak diragukan lagi adalah suara dari ibunya yang menghilang 4 bulan lalu, dan Yoz merasa yakin akan hal itu karena dia jauh lebih mengenal ibunya.


Saat akan lanjut mengatakan semua kerinduannya, sesuatu yang terduga tiba-tiba terjadi.


「—Eh? Apa sedang ada reuni antara ibu dan anak? Sungguh pertemuan yang mengharukan….」


Tiba-tiba saja muncul suara lain seperti suara pria yang berbicara kepada Yoz dengan nada penuh ledekan dari panggilan tersebut.


Yoz yang terkejut mendengarnya segera bertanya, “S-siapa kau?”


「Kau tidak akan bisa melawan takdir….」


“A-apa maksudmu?!”


「Lakukan semua instruksi dengan baik, maka semuanya akan berjalan lancar—」


“JAWAB!!” bentak Yoz emosi.


「Hei… hei… tenanglah… aku hanya ingin kau juga menyampaikan pesan yang kukatakan tadi kepada Pak Tua itu. Kalau begitu sampai jumpa~」


Seketika telepon terputus setelah kalimat itu selesai diucapkan tanpa memberi kesempatan bagi Yoz untuk mendapatkan jawaban.


Yoz pun menutup ponsel tanpa mengembalikan layar ke keadaan semula dan memegang erat benda itu. Dia terdiam sejenak seperti sedang mencerna apa yang sebenarnya terjadi, namun tak menemukan jawabannya. Kemudian, dia memandangi pamannya dengan penuh kebingungan.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi aku mendengar suara ibu, tapi tiba-tiba saja ada orang lain yang berbicara. Dari ucapannya barusan, apakah Paman dan orang itu saling mengenal?”


“….”


Paman Hans terdiam sejenak mendengar pertanyaan Yoz. Kemudian mengambil napas dalam dan menjelaskan semua yang diketahuinya.


Paman Hans pun mulai bercerita kalau sebenarnya setelah 1 bulan sejak ibu Yoz menghilang, dia menerima sebuah telepon dari nomor yang misterius. Pemilik dari nomor misterius itu adalah orang yang menelpon barusan. Orang itu mengaku bahwa dirinya adalah dalang dari tragedi penculikan ibu Yoz. Orang itu menjadikan ibu Yoz sebagai sandera agar Paman Hans melakukan sesuatu untuk dirinya.


Yoz yang mendengar hal itu sedikit kurang percaya, tapi setelah mendengar suara ibunya di balik telepon, bisa saja cerita itu benar apa adanya. Dia pun mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.


“Jadi semua ini adalah rencana orang itu?” tanya Yoz.


“Bisa dikatakan, begitulah…” balas Paman Hans dengan penuh kepasrahan.


Sesaat setelah mendengar kenyataan itu, emosi yang awalnya menyelimuti pemuda itu mulai menghilang bahkan dia terlihat lebih tenang dibandingkan sebelumnya karena mengetahui bahwa semua rencana itu bukan berasal oleh pamannya.


“Apa Paman tahu siapa nama orang itu?”


“Orang itu menyebut dirinya sebagai Turpin X.”


“Turpin... X...?” Yoz mengulangi nama yang diucapkan oleh pamannya. Terdengar seperti nama yang aneh dan asing di telinganya.


Pemuda itu mengepal kuat tangannya seolah mulai membenci pemilik nama itu. Dia pun mulai mengusulkan dengan meminta bantuan para polisi untuk melacak keberadaan orang yang menyebut dirinya Turpin X kepada pamannya.


Terdengar seperti usulan yang bagus, namun Paman Hans dengan wajah lesu menjelaskan bahwa dirinya sudah melakukan hal tersebut, tapi sepertinya orang itu sangat cerdik sehingga pihak kepolisian tidak bisa melacak keberadaannya.


Mendengar pernyataan itu, harapan Yoz menjadi sirna dan membuat dirinya jadi termenung. Dia hanya bisa terdiam sambil memikirkan apa yang sudah dia dengar sejauh ini.


'Sebenarnya siapa Turpin X itu? Mengapa orang itu menyandera ibu? Mengapa dia harus melakukan rencana gila itu dengan melibatkan keluargaku?'


Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengelilingi dan membanjiri benaknya. Membuatnya tidak lagi memperhatikan sekitar karena kesadarannya sudah tenggelam oleh pertanyaan yang banyak itu.


“—Yoz!”


Pemuda yang dipanggil namanya segera tersadar dan mulai mengembalikan fokus pandangannya, di hadapannya sudah ada tangan Paman Hans yang terulur ke arahnya seperti mengajaknya untuk kembali bergabung ke dalam rencana gila itu.


“Jadi… apa kau mau melakukannya?” ajak Paman Hans.


Dengan berat hati Yoz menghela napas berat kembali melangkah masuk ke dalam rumah sembari berkata dengan suara malas.


“Baiklah!” ucapnya menyetujui.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 8: Pertunjukan