
“Hoaammm….”
Terdengar suara seseorang menguap setelah terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Terlihat jam weker menunjukkan pukul 5.30 pagi, namun cahaya mentari pagi masih belum muncul dan memasuki kamarnya.
Sambil mengusap matanya yang masih mengantuk, pemuda itu mengeluh pendek.
“Huh… lagi-lagi pergi ke sekolah, merepotkan saja!”
Lalu dia pun segera mengambil handuk dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat. Setelah selesai mandi, dia langsung mengenakan pakaian khasnya berupa kaos berwarna putih, jaket berwarna merah gelap, dan celana berwarna hitam.
Sembari memasang jam tangan berwarna hitam jingga di tangan kirinya, dia melangkah ke depan cermin dan melihat pantulan bayangannya. Di depan cermin itu, terlihat seorang remaja laki-laki dengan wajah pemalas dan kondisi rambut hitam yang berantakan.
Namanya adalah Yozhero, tanpa ada tambahan marga maupun kata di belakang namanya sedikit pun. Dia sendiri juga heran mengapa dirinya diberi nama seperti itu, apalagi nama itu pasti terkesan aneh di telinga setiap orang yang mendengarnya. Ditambah lagi dengan poni panjang yang menutupi mata kanannya membuat dirinya terlihat jauh lebih aneh.
Menyadari rambutnya masih berantakan, dia langsung merapikannya menggunakan tangan. Setelah merasa dirinya sudah rapi dan siap, dia bergegas keluar dari kamar dan menuruni anak tangga sambil menyelempangkan tas di pundak kanannya.
Ketika menuruni tangga, dia melihat sekeliling isi rumahnya yang tak pernah berubah di ingatannya. Sebuah rumah yang cukup luas yang terbagi menjadi beberapa ruangan disertai perabotan rumah tangga yang tertata rapi pada tempatnya.
Tidak hanya itu, terlihat pelayan yang berjumlah cukup banyak tersebar di berbagai pelosok ruangan dan sedang melakukan tugas mereka masing-masing. Sangat terlihat jelas kalau pemuda berjaket merah itu hidup dalam kehidupan yang cukup mewah.
Dia berjalan melewati para pelayan menuju ke ruang makan dengan santai. Sedangkan para pelayan yang menyadari kehadirannya segera berdiri tegak.
“Selamat pagi, Tuan Muda,” sapa ramah para pelayan bersamaan.
Pemuda itu pun membalas balik sapaan tersebut dengan wajah dan suaranya terkesan datar dan dingin.
“… Hum?”
Ketika dia sampai di ruang makan, pemandangan yang ada di meja makan terlihat berbeda dibandingkan hari-hari biasanya.
Tidak seperti biasanya, di meja makan terlihat seseorang sedang duduk di sana dan sedang menikmati sarapannya. Seorang laki-laki paruh baya dengan rambut dan kumis yang mulai memutih, serta mengenakan setelah jas kerja berwarna hitam. Pria tua itu merupakan paman dari Yoz bernama Hans Albert.
Alasan mengapa dikatakan sebagai pemandangan yang berbeda karena biasanya Paman Hans sudah langsung berangkat sangat pagi untuk urusan pekerjaan. Hal itu bisa terlihat dari pakaian jas yang sudah dia kenakan padahal hari masih begitu pagi.
Menyadari keponakannya ada di depannya, Paman Hans langsung mengajak Yoz untuk sarapan bersama dengan ramah.
Yoz juga tanpa berpikir panjang langsung menarik kursi dihadapannya dan duduk. Pelayan yang ada di ruangan itu dengan siaga segera menyiapkan roti dan juga air untuk Yoz.
“Tumben sekali Paman masih belum berangkat kerja?” tanya Yoz.
“Ya… kebetulan hari ini jadwal Paman tidak begitu sibuk, jadi Paman gak perlu pergi berangkat cepat-cepat.”
“Begitu…” balas datar Yoz lalu mengambil roti yang telah disediakan.
Saat mereka sedang menikmati sarapan, Paman Hans menyalakan TV yang ada di samping meja makan dan menonton siaran berita yang membosankan. Program TV yang paling sering ditonton oleh seluruh orang tua seperti Paman Hans.
「—Pagi ini, di Pusat Kota Machina terjadi penyerangan para monster yang menyebabkan kerusakan yang cukup parah, bahkan beberapa orang di sekitar lokasi menjadi korban akibat tragedi ini—」
Paman Hans terlihat cukup terkejut begitu mendengar siaran berita tersebut. Alasannya sederhana, dari suara jernih sang pembawa acara terdengar nama kota yang tidak asing di ingatannya.
Namun berbeda dengan keponakannya, Yoz yang sama sekali tidak memberi reaksi apapun seperti tidak mendengarkan siaran TV tadi. Dia hanya terlihat asik menikmati rotinya sambil melihat ke arah luar jendela.
Wajah Paman Hans yang tegang secara perlahan-lahan rileks kembali, lalu melepaskan nafas yang ditahannya akibat terkejut tadi.
“Akhir-akhir ini monster-monster lebih sering bermunculan ya…” kata Paman Hans yang masih menatap ke arah TV.
“Ya—“ jawab pendek Yoz yang sudah menyelesaikan sarapannya lalu bergegas mengambil tasnya untuk berangkat ke sekolah.
“Sudah mau pergi sekolah ya? Mau Paman antarin?” tawar Paman Hans.
“Tidak perlu, aku udah terbiasa jalan kaki.”
Tanpa ekspresi tertentu dengan nada yang datar, Yoz menolak tawaran pamannya dan langsung keluar dari ruang makan.
Ketika ia akan mengambil sepatunya yang ada di rak, tanpa sengaja dirinya melihat foto sesosok wanita yang terpajang di dinding ruangan tamu. Ekspresinya yang awalnya datar seketika berubah, raut wajah sedih terpampang pada wajahnya ketika melihat foto tersebut.
Namun tak berselang lama, dia langsung mengalihkan pandangannya agar tidak terlarut ke dalam kesedihan lebih mendalam. Dia langsung mengambil sepatu dan mengikat tali sepatunya dengan pola simpul pita, lalu keluar dari rumah tanpa berpamitan dengan pamannya.
Paman Hans pun hanya bisa memaklumi hal itu seakan sudah terbiasa dengan sikap anak itu terhadapnya. Sepertinya hubungan antara keduanya kurang begitu baik, namun tidak diketahui alasannya.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Suasana kota terlihat cukup ramai, terdengar suara burung-burung yang berkicau, anak-anak yang berlarian ke sana kemari, orang-orang dewasa yang membawa koper, dan beberapa kendaraan yang berbaris menunggu lampu hijau menyala. Semua suasana itu cukup menggambarkan kota modern yang ditempati oleh Yoz sekarang, Kota Machina.
Semenjak kehadiran monster ribuan tahun yang lalu, kota ini sudah banyak membangun tempat evakuasi untuk meminimalisir timbulnya korban apabila ada monster yang menyerang, bahkan hampir di setiap bagian Kota Machina setidaknya memiliki satu tempat evakuasi.
Selain tempat evakuasi, di bagian utara Kota Machina terdapat bangunan yang besar dan menjulang tinggi. Bahkan Yoz yang berada di bagian selatan masih bisa melihat bangunan tersebut.
Dengan dipersenjatai artileri yang mengelilingi bangunan tersebut, sangat mustahil bagi musuh untuk menyusup ke dalam dengan mudah. Bangunan yang besar dan tinggi itu tidak lain adalah markas utama dari organisasi pahlawan, organisasi yang bertanggung jawab atas keamanan kota dari para monster.
Sekitar jam 6.50 pagi, akhirnya ia tiba di gedung sekolah. Pemuda berjaket merah itu langsung menuju ke ruangan kelas yang di mana sudah selama hampir setahun lamanya dia menghabiskan waktu belajarnya di ruangan itu, kelas 2-D yang terletak di lantai dua.
Dikarenakan pembelajaran sudah mendekati akhir semester, semua sekolah sedang melakukan persiapannya menjelang ujian akhir semester, sekolah negeri di mana Yoz belajar bernama SMP Gampat adalah salah satu contohnya.
SMP Gampat sendiri merupakan sekolah yang berlokasi di bagian Barat Kota Machina dan terletak di pinggir jalan. Sekolah itu menggunakan sistem zona (wilayah) dalam penerimaan para siswa-siswi, jadi sangat wajar jika sekolah itu diisi oleh beberapa siswa yang nakal.
Selain itu, SMP Gampat memiliki peraturan yang cukup longgar untuk urusan pakaian dan rambut, hal itu membuat para murid bisa bebas dalam berpenampilan namun tetap dengan sistem bebas pantas.
Meskipun terkesan seperti sekolah yang kurang tegas terhadap para siswa, nyatanya SMP Gampat mampu mempertahankan predikat mereka di nilai B, nilai yang cukup bagus untuk predikat sebuah sekolah negeri.
Sambil bergumam kecil, Yoz memeriksa keadaan kelas.
“Hmmm….”
Padahal masih ada sedikit waktu sebelum bel pelajaran berbunyi, namun sudah banyak murid yang berkumpul di dalam kelas. Ada yang bergembira saat saling bertemu seperti sudah lama tak berjumpa, ada yang duduk sendirian dan merasa bosan, bahkan ada yang menyibukkan diri dengan membaca buku.
Yoz pun berjalan menuju ke tempat duduknya dan menaruh tas di mejanya yang berada di dua baris dari arah pintu. Setelah duduk, dia menyandarkan tubuhnya dengan sikap sempurna ke punggung kursi, lalu melipat tangan dan memejamkan matanya. Dia terus mempertahankan posisi itu dan hanya berdiam diri seperti patung, layaknya introvert.
“Hei, Yoz, apa kamu sudah kerjakan PR hal 56?”
Tak lama setelahnya, tiba-tiba saja muncul suara dengan nada riang datang dari samping kiri Yoz.
Mendengar dari suaranya saja, Yoz langsung bisa menebak pemilik dari suara itu. Dengan membuka mata secara perlahan, dia menoleh ke kiri untuk memastikan tebakannya benar.
Sesuai dugaannya, pemilik suara itu adalah seorang laki-laki berpakaian kemeja panjang jingga yang bernama Suryadi Gunwan. Dia memiliki postur tubuh yang kecil, kepala yang sedikit besar, rambut poni hitam, dan warna kulit Asia. Tapi yang paling mencolok darinya adalah giginya yang tonggos.
“Kalau sudah kerjakan boleh lihat dong?” lanjutnya.
Sambil tersenyum lebar, pemuda itu langsung menarik kursi yang ada di sebelah kiri Yoz dan duduk di sana. Kebetulan dia dan Yoz merupakan teman sebangku selama dua tahun, jadi kursi di mana Suryadi duduki sekarang merupakan kursinya sendiri.
“Dasar pemalas! Memangnya semalam kau ngapain aja?” Yoz membalas sinis lalu mengambil buku yang dimaksud dari tasnya dan diberikan kepada Suryadi.
“Aku mana ngerti sama tugasnya, jadinya ya… gak kukerjakan,” jawab Suryadi sambil mengambil buku temannya tanpa ada rasa bersalah.
“Dasar….”
Tidak lama setelah itu, bel pelajaran pun berbunyi menandakan pembelajaran akan segera dimulai, seluruh murid berangsur-angsur masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing.
Terlihat murid-murid di dalam kelas itu sibuk dengan urusan mereka masing-masing sembari menunggu kemunculan guru dari balik pintu kelas, tak terkecuali dengan teman sebangku Yoz.
Suryadi yang selalu bersemangat mulai membisikkan sesuatu ke telinga teman di sebangkunya.
“Selesai sekolah nanti, kita pergi ke kafe dekat sekolah, yok?”
“Maaf, tapi sehabis pulang sekolah ada hal yang harus aku lakukan.”
“Huh… ayolah… tidak bisakah kau sesekali menikmati masa-masa mudamu selain belajar?” bujuk Suryadi sembari menabrakkan sikutnya ke lengan temannya.
“…”
Yoz pun pada akhirnya menganggukkan kepala sebagai jawaban ‘iya’ atas ajakan Suryadi, menurutnya menolak permintaan anak itu hanya akan membuat situasi jadi semakin rumit dan menguras tenaganya.
Sedangkan Suryadi yang melihat anggukkan Yoz langsung tersenyum dan memukul pundak temannya sambil berkata, “Begitu dong!”
Yoz tak memberikan reaksi apapun setelahnya dan hanya mengelus pundaknya. Tapi dia juga sedikit penasaran dengan apa yang mau anak itu bicarakan di kafe, mungkin ingin membahas sesuatu yang penting?
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 2: Hari Sial