
‘Sial! Apa yang harus aku lakukan?’
Yoz yang terlambat menyadari kehadiran monster trenggiling di belakangnya terpaksa menahan serangan makhluk itu menggunakan kedua lengannya. Darah segar merembes keluar dari luka akibat cakaran monster tersebut.
Si Trenggiling melompat mundur, menggulungkan diri seperti bola raksasa dan berputar maju layaknya ban kendaraan. Makhluk itu berputar dengan cepat sampai-sampai Yoz tidak sempat menghindar.
*Bruak!!!*
“Argghhh!!!!”
Pemuda berjaket merah itu memuntahkan darah cukup banyak saat terhempas beberapa meter, sedangkan si monster terus berputar mengelilingi Yoz tanpa menunjukan tanda-tanda akan menyerang kembali. Yoz berusaha bangkit kembali tapi terasa sulit, dirinya hanya bisa bertekuk lutut seraya batuk-batuk, hanya bisa menunggu monster itu menyerangnya kembali.
Annariel tak kuasa menahan tangisnya saat melihat anaknya yang yang lemah tak berdaya di sana, terus meronta-ronta berusaha melepaskan diri namun musuh di belakang terus menahannya dengan rantai.
Turpin hanya menonton sembari memperagakan gaya menguap, perasaan bosan muncul ketika dirinya menunggu sesuatu namun tak kunjung muncul. Dia pun akhirnya mengarahkan pedang katananya di leher sandera dan berteriak mendesak kepada Yoz.
“MAU SAMPAI KAPAN KAU AKAN MENAHAN DIRI, HAH?”
Yoz tak berpaling sedikit pun namun tahu dirinya tengah diapit oleh banyak desakan dari berbagai arah. Ia memejamkan mata, pasrah dengan dirinya yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Menyalahkan diri karena terlalu lemah.
‘Menghadapi monster di hadapanku saja aku sudah tidak berdaya, apalagi melawan Turpin? Mengapa aku begitu lemah, sialan…!’
Saat pikirannya mulai tenggelam dalam lautan keputusasaan, tiba-tiba saja suara yang entah berasal dari mana berbisik kecil kepadanya.
‘Kau ingin membunuh pengecut itu, bukan? Aku bisa melakukannya, serahkan saja kepadaku.’
Yoz pun kembali tersadar hingga membuka mata, ia mendapati monster trenggiling sebelumnya kembali melesat ke arahnya dengan kecepatan yang sedikit meningkat. Suara bisikan tersebut terus mendesak secara bertubi-tubi memenuhi pikirannya, Turpin pun melakukan hal demikian.
“MENYERAH SAJA!”
‘Serahkan kepadaku....’
Suara-suara itu membuatnya frustasi hingga memegang kepala, dirinya menatap ke bawah tak tahan dengan semua desakan tersebut sebelum pada akhirnya menemukan sesuatu di balik bongkahan bangunan yang memberikan secercah harapan baginya untuk membalikkan keadaan.
“TUTUP MULUT KALIAN!”
Yoz berteriak kesal seraya menarik sebuah pedang dari balik bongkahan bangunan, lalu ditancapkan cukup dalam mengenai si monster. Mutasi trenggiling itu langsung berhenti memutar saat bilah pedang ternyata menusuk bagian lehernya yang tak terlapisi oleh cangkang.
Segera setelah itu, sebuah aura hitam transparan tiba-tiba muncul menyelimuti tubuh Yoz dan mengalir menuju pedang tersebut.
“A-apa itu?”
Mata Turpin melebar saat melihat hal tersebut. Pandangannya terkunci kepada energi hitam transparan itu seolah pernah melihatnya. Ada perasaan aneh yang saat merasakan hawa dari energi itu, membuatnya terheran-heran dengan diri sendiri tapi memilih untuk mengabaikan perasaan itu.
Setelah seluruh aura hitam tersebut tersedot ke dalam pedang, aliran listrik yang dahsyat mengalir pada bilah pedang dan menyetrum si monster tanpa ampun. Yoz memperhatikan pedang tersebut dengan seksama dan menyadari senjata tersebut adalah katana milik Arda yang ia temukan beberapa hari lalu.
Serangan Yoz sedikit menggetarkan tanah dalam radius beberapa meter, menunjukkan seberapa hebat aliran listrik tersebut menyetrum si monster. Dalam beberapa detik, monster tersebut langsung terhempas hebat dengan tubuh yang sudah gosong.
“SIAL! BAGAIMANA BISA?”
Turpin yang kesal menggenggam rantai hingga nyaris hancur, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Sedangkan ibu Yoz sendiri merasa sedikit lega, tapi entah kenapa firasat buruknya masih ia rasakan.
Yoz pun mencoba berdiri kembali lalu menatap serius Turpin, tapi tatapan tersebut tak membuat Turpin bergeming sedikit pun dan justru membuatnya yang awal merasa kesal menjadi tertawa sendiri.
“Kau pikir sudah berhasil mengalahkan monster itu?” ucapnya seraya menjentikkan jari.
Tanpa diduga, sesosok monster berwujud tikus tanah muncul dari tanah dan menahan kedua tangan Yoz erat-erat. Seketika pemuda berjaket merah itu tidak dapat bergerak, bahkan senjata Arda terlepas dari tangannya.
Turpin tertawa lepas seperti orang gila, mengakibatkan perhatian Yoz dan ibunya tertuju kepada pria tersebut.
“Ekspresi pada wajahmu tadi benar-benar membuatku tertawa, kau berpikir dengan pedang itu saja cukup untuk menghadapiku?” cibirnya kembali menjentikkan jari ke arah tubuh monster trenggiling.
Monster trenggiling yang gosong sebelumnya ternyata masih bertahan hidup dan mampu bergerak meskipun hanya dapat menggerakkan bagian kepalanya saja, tapi bagi Turpin itu sudah lebih dari cukup.
“Apa kau masih berniat untuk menahan diri? Serangan selanjutnya mungkin akan langsung membunuhmu…” desak Turpin.
Makhluk tersebut meluruskan moncongnya lalu mengeluarkan lidahnya yang sangat panjang. Lidah panjang tersebut melingkar seperti pegas lalu didorong ke depan menuju dada Yoz.
Bersamaan dengan itu, Annariel dengan insting seorang ibu langsung berlari sekuat tenaga meskipun tahu rantai yang mengikat dirinya sangat kuat. Saat rantai itu menegang, bagian yang digenggam oleh Turpin tiba-tiba saja terputus sehingga wanita tersebut terlepas.
“HEI! BERHENTI!”
*SYUU!! CRATT!!!*
“T-tidak….”
Yoz melihat sosok wanita yang berusaha ia selamatkan kini justru menyelamatkannya. Ibunya berdiri dalam diam, dengan sebuah sesuatu meruncing yang menembus punggungnya. Tubuh ibunya melemas, tapi tangannya masih berusaha menahan benda runcing itu menusuk lebih dalam, menyisakan jarak dengan dada Yoz hanya dalam beberapa senti.
“Sial, apa yang terlintas di pikirannya hingga melakukan hal bodoh seperti itu?” cela Turpin menepuk jidat.
Si monster menarik kembali lidahnya, disusul dengan Annariel yang terjatuh. Yoz membelalakkan matanya melihat pemandangan itu, kemudian berubah menjadi tatapan penuh kebencian dan amarah.
Dia langsung menarik monster tikus tanah di belakangnya hingga wajahnya memerah dan penuh dengan urat, diiringi dengan teriakan keras. Kemudian melemparnya ke monster trenggiling sambil berlari mendekat untuk melepaskan serangan pamungkasnya.
*BLAM!!!*
Kedua monster itu langsung musnah tanpa menyisakan apapun, bahkan hembusan angin akibat dampak pukulan yang begitu kencang. Menjadikan serangan kali ini sebagai pukulan terkuat Yoz sejauh ini.
“Benar-benar teknik yang menakjubkan,” puji Turpin seraya melindungi matanya dari hembusan angin.
Meski begitu, serangan yang kuat tentu memiliki konsekuensi yang kuat juga. Usai melepaskan pukulan beruntun tersebut, Yoz lagi-lagi bertekuk lutut dengan napas yang terengah-engah. Dia memuntahkan cukup banyak darah dari mulutnya.
Bisikan sebelumnya kembali terdengar, ‘Jika kau menggunakan serangan itu sekali lagi, mungkin tubuhmu akan hancur! Baru melancarkannya beberapa kali saja sudah lebih dari cukup untuk menyiksa dirimu, jangan berharap kau akan menang melawan Besi Karatan itu!’
Meskipun terdengar menyakitkan, kalimat tersebut adalah sebuah fakta bagi Yoz. Darah yang mengalir keluar dari mulutnya menjadi bukti nyata. Dia pun menoleh ke arah ibunya yang tergeletak lemas.
Wajah wanita itu nampak pucat, tapi masih memberikan senyuman kepada anaknya. Ia tak bisa mengeluarkan suara, tapi mulutnya bergerak seolah ingin menyampaikan sesuatu sebelum pada akhirnya menutup mata.
Yoz mengingat dengan jelas kalimat tanpa suara tersebut yakni ‘Teruslah hidup, putraku…’, membuat tubuhnya bergetar dan mental yang terguncang. Ia merasa semua usahanya kini sia-sia, harapannya telah sirna dan ia mulai terjatuh ke dalam jurang keputusasaan.
‘Kau ingin membalas dendam, bukan? Aku bisa melakukannya untukmu....’
‘Habisi dia…!’
‘BAGUS! SERAHKAN SEMUA PADAKU!’
“ARGGHHHHH!!!”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Energi aneh memancar keluar dari tubuh Yoz, mengakibatkan hembusan angin kembali muncul dan menghempaskan semua objek yang berada di dekatnya. Suara erangan Yoz secara perlahan menjadi berat, memberi kesan horror tersendiri bagi yang mendengarnya.
Udara di sekitar seketika berubah drastis, tapi suasana mencekam tersebut justru membuat Turpin antusias melihatnya hingga membentangkan kedua tangan.
“Akhirnya!”
Suara tertawanya kembali terdengar, membuat suasana di tempat itu semakin mencekam. Memperhatikan Yoz yang mulai mengalami perubahan pada tubuhnya seraya melakukan komunikasi melalui alat di telinga kirinya.
「Bagaimana?」
“Vassal sudah menunjukan reaksinya, sekarang sedang dalam tahap perubahan.”
「Bagus! Setelah perubahannya selesai, seret dia ke luar kubah!」
“Oke.”
Usai menjawab, Turpin melepaskan jarinya dari tombol lalu kembali menyaksikan perubahan pada tubuh Yoz
Garis-garis emas dari mata kanan Yoz muncul kembali, menjalar ke seluruh tubuh dan mulai melebar membungkus tubuhnya. Energi emas tersebut melahap Yoz sedikit demi sedikit, menutupi seluruh tubuhnya hingga mata kiri yang menjadi bagian terakhir.
Wujudnya sekarang mirip seperti siluet, seluruh energi emas telah menelan seluruh tubuhnya menyisakan mata kanan yang membentuk pola bintang seperti pupil mata kanan Yoz. Pola bintang tersebut mulai membesar dan bergeser menuju tengah-tengah wajah.
Raungan seperti makhluk buas menggema ke seluruh pelosok kubah, bahkan Turpin memasang posisi siaga saat mendengar suaranya.
“Jadi itu wujud dari Vassal Amalgam? Aku pikir akan jauh lebih mengerikan…” ucapnya merasa sedikit kecewa.
Yoz yang berubah menjadi sosok makhluk emas yang dinamai Turpin sebagai Amalgam tersebut merangkak layaknya hewan, lalu menoleh ke arah Turpin dengan suara seperti geraman.
‘Ya, sudahlah… setidaknya dia berhasil terbangun,’ pikir Turpin lalu melihat tubuh sanderanya, ‘Meskipun wanita itu menjadi korbannya….’
Amalgam pun kembali meraung kepada Turpin seolah mengincar pria berarmor itu sebagai mangsanya. Tapi Turpin langsung menyerang terlebih dahulu, hanya dalam beberapa detik dirinya sudah berada di samping Amalgam dengan tangan kanan yang memegang kepala makhluk tersebut.
Setelah itu, Turpin merogoh sesuatu dari topinya seraya melihat Annariel. Sebuah bola transparan kecil yang wujudnya mirip seperti kubah raksasa dilemparkan ke arah Annariel, dalam sekejap benda itu membesar dan membungkus targetnya.
Begitu berhasil mengamankan target di dalam bola transparan tersebut, Turpin mengalihkan pandangan ke arah di mana ia melempar Amalgam sebelumnya tapi ternyata makhluk emas itu sedang berada di hadapannya dengan tinju yang meluncur ke wajah Turpin.
Turpin langsung terpental puluhan meter jauhnya tapi masih bisa mempertahankan posisinya untuk berdiri. Baru saja ia hendak mengumpat atas serangan tiba-tiba itu, perasaan aneh mengarahkannya untuk menoleh ke samping.
Entah sejak kapan, Amalgam sudah berada di sampingnya hendak melancarkan pukulan balasan. Turpin dengan cepat menahan pukulan tersebut menggunakan tangan kirinya dengan jarak terpisah hanya beberapa senti.
“Jika kau ingin mengamuk, maka lakukan saja di luar sana!”
Turpin mendaratkan pukulannya ke dagu Amalgam kuat-kuat hingga mementalkan makhluk tersebut atas dan menabrak langit-langit kubah, lalu mengambil sebuah tongkat emas dari topinya.
Amalgam yang terjun langsung melipat kedua tangannya dan diayunkan menuju musuhnya, tapi Turpin dengan sigap melesat mundur. Pukulan makhluk tersebut membuat benda-benda di sekitar melayang beberapa saat sebelum pada akhirnya kembali terjatuh.
Saat dia mencari keberadaan musuhnya, Turpin sudah menodongkan tongkat emasnya pada perut Amalgam kemudian berteriak.
Tongkat yang awalnya sepanjang 1,3 meter tersebut tiba-tiba semakin memanjang dengan laju yang menyamai kecepatan kuda, mendorong Amalgam hingga menghantam dinding kubah.
Amalgam nampak menjerit kesakitan tapi itu tak membuat Turpin mengurungkan niatnya untuk terus memanjangkan tongkat walaupun sudah mencapai dinding kubah. Ia justru menahan tongkat tersebut menggunakan tangan kanan sementara tangan kirinya berusaha menekan tombol pada lengan kanannya.
“Cukup membuka sedikit celah supaya dia bisa keluar dari kubah dan aku bisa bersan—”
Saat jari Turpin sudah nyaris menyentuh tombol tersebut, Amalgam menggunakan kedua tangan untuk mengayunkan tongkat emas yang menahannya sekaligus menyeret pemilik senjata tersebut untuk ikut menghantam dinding.
Ujung dari tongkat emas tersebut langsung tertarik kembali menuju panjang awalnya dengan kecepatan yang persis seperti sebelumnya, menarik Amalgam yang masih menahan benda itu menuju posisi Turpin dan mendaratkan pukulan tepat di dada.
“Ughhh!!”
Turpin nampak seperti memuntahkan darah usai menerima pukulan tersebut, ditambah suara rentetan seperti tulang retak terdengar di dadanya. Dia mengepal tangan kesal, lalu mengambil belasan kartu remi dari topinya.
“BAIKLAH JIKA ITU MAUMU, AKAN KULAYANI!” ucapnya kesal lalu melemparkan kartu-kartu tersebut.
Belasan monster yang muncul langsung mengepung Amalgam tanpa memberikan satu celah pun bagi makhluk emas itu untuk menghindar. Runtutan serangan dari para monster terus dilancarkan, Amalgam langsung berputar layaknya gasing mengakibatkan belasan monster terlempar ke berbagai arah.
Amalgam menghilang dari posisinya dan menghabisi satu per satu monster hanya dalam kurun waktu 18 detik. Seluruh makhluk tersebut langsung tewas dengan kondisi kepala masing-masing yang sudah tak berbentuk.
Usai menghabisi monster-monster itu, Amalgam menggeram murka sebelum melesat maju ke arah Turpin menggunakan kedua kaki dan tangannya seperti hewan pemburu sedangkan Turpin hanya berdiri di posisinya tanpa bergeming sedikit pun.
Saat kedua tangan Amalgam sudah nyaris menyentuh Turpin, hembusan angin tiba-tiba muncul hingga membuat makhluk itu sulit untuk meraih musuhnya.
Turpin nampak tertawa meskipun jaraknya dengan Amalgam hanya sejauh satu meter. “Kau pikir bisa menyentuhku dengan mudah?”
Dia mengangkat tangan kanannya lalu menempatkan telapak tepat di depan wajah Amalgam. Di telapaknya terpasang sebuah batu kecil berwarna merah muda mengkilap yang mulai bersinar terang.
Saat mengucapkan kata-kata itu, hembusan angin yang kuat seperti angin topan tiba-tiba muncul di depan jalur Turpin, mengakibatkan Amalgam terdorong hebat sebab berada di jalur hembusan.
Sang Amalgam mencoba menahannya menggunakan jari-jari tapi kuatnya hembusan angin terus mendorongnya secara perlahan. Merasa sudah tak dapat bertahan lebih lama lagi, Amalgam mencoba untuk keluar dari jalur hembusan dan berhasil.
Turpin yang menyadarinya langsung menghentikan serangan, makhluk emas itu kini sedang memutarinya ke sana kemari. Instingnya mengatakan untuk terus waspada terhadap kemungkinan di mana Amalgam akan menyerang.
Setelah beberapa detik, sang Amalgam pada akhirnya berhenti memutar dan langsung melesat tapi Turpin sudah lebih dulu mengetahuinya sehingga langsung melancarkan hembusan angin dahsyat sebelumnya.
Kali ini Amalgam berhasil menahannya dalam jarak yang sangat dekat, secara perlahan ia maju mendekati lawannya.
Turpin yang tak membiarkan makhluk itu semakin dekat segera memperkuat hembusan angin. Akibatnya, Amalgam terhempas dan terbang. Benda sekitar yang berada di jalur juga ikut terhempas seperti mengalami bencana badai.
Tapi siapa yang menduga, dari punggung makhluk emas itu muncul energi berwarna gelap berbentuk tentakel melesat menuju tangan Turpin. Amalgam menggunakan tentakel-tentakel itu untuk kembali mendekat secara perlahan.
“A-apa? Bagaimana bisa?”
Turpin berdecak tidak percaya, hembusan angin tersebut seharusnya tidak bisa ditahan menggunakan apapun tapi tentakel itu seolah-olah sangat kuat untuk bertahan dari takdir putusnya. Jaraknya dengan makhluk tersebut sudah berjarak kurang dari satu meter.
Kedua pihak bisa melihat dengan jelas wajah dari masing-masing musuhnya. Turpin mulai berkeringat dingin saat makhluk tersebut sudah begitu dekat dan memegang kepalanya, untuk pertama kalinya ia memiliki perasaan merinding seperti saat ini.
‘Jadi seperti rasanya berhadapan dengan monster sesungguhnya?’
Amalgam mulai mengangkat tangannya ke atas, bersiap-siap untuk melancarkan pukulan yang jauh lebih kuat. Sebelum pukulan kuat sempat dilepaskan, Turpin semakin memperkuat hembusan hingga mencapai batas maksimal.
Seluruh isi di dalam kubah termasuk Amalgam langsung beterbangan hebat tanpa arah, kecuali Turpin yang terus mempertahankan posisi berdirinya sekuat tenaga. Makhluk emas itu kembali menghantam dinding kubah untuk kesekian kalinya, yang membedakan adalah sedikit retakan muncul di sana.
Orang-orang yang menyaksikan dari luar kubah pasti akan menduga sedang terjadi badai besar di bagian Selatan Kota Machina karena saking dahsyatnya angin yang dilepaskan Turpin.
Tapi perlu diketahui, hembusan angin yang dahsyat itu bukan karena Turpin memperkuatnya hingga di batas maksimal melainkan karena kristal yang di telapak tangannya pecah karena energi yang berlebihan.
Saat kekacauan itu telah mereda, Turpin bisa menemukan Amalgam yang ternyata masih bisa bertahan seakan kejadian hebat sebelumnya bukanlah apa-apa. Turpin mulai paham mengapa Yoz terpilih menjadi alat dalam rencananya setelah melihat ketahanan Amalgam yang berada di luar dugaan.
“Tcih! Sebenarnya makhluk jenis apa dia ini?” ucapnya heran sekaligus kagum.
Kini ia bingung harus melakukan apa untuk menyeret Amalgam keluar dari kubah sebab makhluk tersebut akan terus mendekatinya bagaimana pun caranya. Di tengah kerasnya ia berpikir, makhluk tersebut kembali maju tapi perhatiannya teralihkan oleh sebuah bola transparan yang berada cukup dekat darinya.
Amalgam yang merasakan ada makhluk hidup di dalam bola transparan itu langsung mengganti targetnya, mengabaikan Turpin yang sudah bersiap siaga menyambut serangannya.
“Dia mengincar ibunya sendiri? Sepertinya dia sudah di bawah kendali penuh makhluk itu!”
Turpin bergegas berlari menuju bola transparan tersebut dan menghadang Amalgam, tapi dengan mudahnya disingkirkan dengan satu ayunan tangan. Dia pun mencoba bangkit kembali untuk menghentikan Amalgam yang akan menghancurkan bola transparan tersebut.
Mau bagaimana pun Turpin mencoba untuk memisahkan makhluk itu dari bola transparan, tetap saja hasilnya nihil. Bahkan ia sampai terengah-engah setelah terlempar untuk kesekian kalinya, tapi dirinya pantang menyerah.
“Sial! Kekuatannya mulai meningkat, seharusnya aku tidak bermain-main dengannya sedari tadi. Sekarang dia sangat sulit untuk ditangani….”
Saat Turpin tengah sibuk mengeluarkan keluh kesah dan sesalnya, sosok yang menghubungi sebelumnya kembali menyambungkan komunikasi.
「Ada apa?」
“Tidak ada, aku hanya sedikit kesulitan untuk menyeret Amalgam ini ke luar kubah…” balas Turpin.
「Gunakan saja tiruan teknik Bocah Esper itu untuk menahannya sementara waktu lalu giring dia keluar kubah!」
Turpin terbelalak terkejut mendengar perintah itu, dia langsung melemparkan protesnya kepada sosok di balik komunikasi.
“Tapi makhluk itu sedang berada dekat dengan seseora—”
「Mengapa kau jadi lembek seperti ini? Apa karena merasa iba? Ingat, apa yang kau alami jauh lebih menyakitkan dibandingkan bocah itu!」
“Hah… kau ada benarnya…” jawab Turpin lalu menghela napas panjang.
Setelah itu, tanpa pikir panjang ia merogoh kembali sesuatu dari topinya, dari top hat tersebut ia peroleh sebuah lencana dengan simbol huruf ‘G’ yang memancarkan cahaya hijau. Kemudian ia kembali mendekat dan sempat memasang lencana itu ke punggung Amalgam sebelum dilempar kembali.
Alat itu pun mulai bersinar dan tersebar menyelimuti seluruh tubuh Amalgam persis seperti saat Turpin menghadapi Kidman. Turpin cepat-cepat menjaga jarak lalu menyatukan kedua tangan seraya berseru dengan suara lantang.
Puing-puing bangunan, kendaraan, dan benda sekitar Amalgam lainnya mulai diselimuti oleh cahaya hijau. Tubuh makhluk emas itu seolah menjadi pusat gravitasi yang kuat, seluruh objek yang berada dalam radius 15 meter termasuk bola transparan di dekatnya langsung tertarik dan menciptakan bola batu raksasa dengan diameter sepanjang 6 meter.
Jika dibandingkan dengan milik Kidman yang dua kali lebih besar, tentu bola raksasa ciptaan Turpin itu tidak bisa menahan Amalgam lebih lama. Namun mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
Amalgam yang terkubur di dalamnya hanya bisa melihat sosok wanita yang masih terbungkus aman di dalam bola transparan tersebut. Makhluk emas itu sudah sangat mirip seperti hewan buas, bahkan ia tak mengingat wajah dari wanita di depan matanya.
Annariel rupanya masih hidup, meskipun tidak membuka mata, mulutnya bergerak pelan memanggil nama putranya. Suara lemah tersebut merambat menuju indera pendengaran Amalgam.
“Yoz…”
Pupil pada mata Amalgam sedikit bereaksi saat mendengar panggilan kecil tersebut, badannya pun bergetar kecil seakan merespon suara barusan. Makhluk itu menggerakkan tangannya seakan ingin menyentuh Annariel tapi terhalang oleh bola transparan, berikutnya mengeluarkan suara berat memanggil.
“I…BU….”
Sementara itu, Turpin mengatur napasnya setelah mengeluarkan banyak tenaga untuk teknik tiruan milik Kidman. Tidak heran jika bocah tersebut menjadi salah satu dari 20 Pahlawan Besar HSO setelah tahu berapa banyak tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan teknik itu.
Turpin menurunkan tangannya, lalu membenarkan posisi topinya seraya berkata, “Benar-benar merepotkan….”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 30: Aura