
Yo, Ero, bagaimana kabarmu? Baik-baik saja, bukan?
Jika kau sudah membaca surat ini, maknanya aku dan Ito sudah bebas dari penjara. Kau seharusnya sempat dengar kalau kami berdua juga ikut dipenjara karena diduga terlibat bersama denganmu, bukan? Apalagi Ito bilang sempat menendang salah satu polisi yang justru memperkuat dugaan tersebut. Beruntungnya Arda berhasil mengumpulkan beberapa bukti yang kuat bahwa kami tidak bersalah sehingga dalam waktu kurun satu minggu saja kami langsung dibebaskan.
Berita tentang dirimu, aku, dan juga Ito langsung tersebar luas termasuk sekolah kita. Jujur, aku awalnya ragu untuk turun sekolah karena takut akan dimusuhi seluruh orang tapi siapa duga seluruh sekolah menganggapku dan Ito sebagai pahlawan kota. Benar-benar hal yang mengejutkan, bukan? Popularitas kami seketika naik seperti seorang idol.
Apa kau tahu? Akibat hal itu juga yang membuat Ito nampaknya mulai disegani oleh beberapa temannya. Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja dari ekspresinya yang jauh lebih ceria dibandingkan dulu.
Meskipun sebenarnya aku terkadang masih melihat dirinya dipaksa teman-teman kelasnya untuk menyerahkan uang dan dengan bodohnya anak itu memberikan uangnya, tapi beruntungnya aku tidak melihat para pemalak itu melakukan kekerasan kepadanya. Sekarang kau sudah tidak perlu turun tangan sampai masuk ke BK.
Kau mungkin ingin tahu bagaimana respon orang-orang terhadap dirimu. Sebenarnya itu bukan hal yang bagus dan aku rasa tidak perlu untuk menjabarkannya karena kau pasti sudah tahu jawabannya. Tapi tenang saja karena Nia, Pami, dan Shela mengetahui cerita yang sebenarnya, Tripu dan Riki juga sempat menguping. Jika ditotalkan ada 7 orang yang mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Aku sengaja hanya memberitahu mereka saja karena aku sadar hanya mereka yang menerimamu apa adanya. Sekarang aku paham mengapa kau seringkali memperhatikan mereka saat sedang sendirian, takdir benar-benar tidak bisa ditebak.
Berita mengenai Turpin pun juga tidak kalah cepat menyebarnya, hanya dalam satu hari setelah penyerangan kota saja beritanya sudah disiarkan melalui TV. Dia sudah dimasukkan ke dalam penjara khusus di bawah pengawasan pihak HSO. Teror akan sosok itu sudah berakhir dan orang-orang bernapas lega mengetahuinya.
Ah, iya… mengenai ibu dan pamanmu… aku turut berdukacita atas kematian mereka, maaf karena aku tidak bisa membantu menyelamatkan ibumu padahal aku mendengar dengan jelas teriakanmu yang meminta tolong, sekali lagi aku minta maaf.
Jasad mereka beserta beberapa korban lainnya sudah dimakamkan dengan layak oleh pihak HSO. Aku, Ito serta Arda turut hadir dalam upacara pemakaman. Diriku sempat melihat wajah Arda yang begitu menyesal entah karena apa.
Dia juga berkata kepadaku bahwa akan melakukan semaksimal mungkin agar kau tidak dihukum mati, bahkan dia sampai berjanji dengan wajah serius bahwa kau akan bebas dari penjara. Aku pun berharap kau bisa secepat mungkin bebas dari penjara dan kembali ke sekolah seperti biasanya.
Baiklah, mungkin hanya itu saja yang bisa aku tulis dalam surat ini. Aku tidak tahu butuh waktu berapa lama agar surat ini bisa sampai ke tanganmu, tapi setidaknya jika kau sudah membaca surat ini maka berjanjilah bahwa kau juga akan berjuang untuk bebas. Ingatlah satu hal, kami akan selalu menunggu kedatanganmu.
Dari temanmu, Suryadi.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
“Dasar….”
Yoz tertawa pelan saat kedua matanya sampai di akhir kata. Pemuda itu melipatkan kembali kertas di tangannya dengan rapi dan memasukannya ke dalam surat yang sudah robek bagian tepinya, lalu menimpa surat tersebut dengan sebuah batu agar tidak terbang tertiup angin.
‘Aku sudah berada di sini selama tiga minggu, itu berarti dia sudah bebas dua minggu yang lalu. Pantas saja banyak hal yang dia tulis di surat itu…’ gumamnya.
Dengan pakaian berwarna serba orange, pemuda itu berjalan pelan menuju jendela yang terpasang jeruji besi, melewati beberapa tahanan satu sel yang menatapnya bertanya-tanya tapi tidak ada satu pun yang mau membuka suara. Yoz menengadah menatap langit terus membuang napas panjang.
“Sudah bebas, ya? Bikin iri saja….” gerutunya dengan nada kecewa, “Maaf, Di… rasanya mustahil aku bisa bebas setelah apa yang telah aku lakukan terhadap kota ini….”
Tak berselang lama, salah satu petugas datang menghampiri sel dan memeriksa sesuatu di dalamnya. Begitu menemukan yang ia cari, petugas itu segera mengambil kunci dan membuka pintu sel. Seluruh tahanan yang ada di dalam langsung melemparkan pandangan ke petugas tersebut ketika mendengar suara pintu terbuka, kecuali Yoz yang tak tertarik sama sekali.
Meskipun rata-rata dari para tahanan didominasi oleh pria berbadan kekar, tapi tidak ada satu pun yang berniat memanfaat kesempatan tersebut untuk kabur karena sadar mereka berada di penjara yang berada dalam pengawasan HSO. Suasana dalam ruangan menjadi sunyi, semuanya saling bertukar pandang penasaran nama siapakah yang akan disebut oleh petugas tersebut.
“Tahanan nomor 406, anda dipanggil menuju ruangan pengadilan!” panggil si petugas menatap Yoz.
Pemuda yang disebut namanya pun berbalik badan, membalas menatap dengan lesu petugas tersebut seraya menjawab, “Jadi hukumannya sudah ditentukan? Baiklah, saatnya bersiap-siap….”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
‘Tidak banyak yang berubah di sini, ya?’
Seorang pemuda berjaket hitam dengan tas yang diselempangkan di bahu melirik sekeliling. Berjalan melewati tempat yang nampak seperti lorong sekolah, beberapa siswa yang melihatnya langsung berbisik membicarakan pemuda itu.
Setelah menaiki tangga dan berjalan beberapa langkah setelahnya, tibalah dia di depan sebuah kelas yang bertuliskan 2-D, tanpa ragu-ragu pemuda itu pun masuk dan membuat seisi kelas kaget. Hampir seluruh siswa yang ia kenal memasang wajah masam dan ngeri akan kehadirannya.
‘Tentu saja tidak banyak yang berubah di sini. Mereka masih tetap sama seperti dulu, menatapku dengan penuh kebencian…’ pikir pemuda itu membatin sembari tersenyum, lalu melirik ke arah bangkunya dan milik Suryadi yang masih kosong, hanya terdapat tas berwarna hijau gelap yang tersandar di punggung kursi.
“Ero!?”
Dua gadis yang berada di pojok kelas tiba-tiba berdiri dari bangkunya dan buru-buru menghampiri Yoz, hendak memberikan sambutan hangat, sementara satu pemuda lagi menyusul di belakang dengan berjalan kaku layaknya robot. Saking bersemangatnya kedua gadis itu, salah satu dari mereka pun sampai terjatuh.
“K-kalian?”
“Nia!? Kau baik-baik saja?”
“I-iya….”
“Eh!? Kacamatamu?”
“….”
Yoz hanya terdiam melihat kejadian barusan tak tahu harus melakukan apa terhadap Nia yang baru saja menerima kenyataan alat bantu penglihatan satu-satunya kini telah rusak. Dia menatap bertanya-tanya kepada Pami tapi pemuda bongsor itu yang seakan paham segera menggelengkan kepala mengisyaratkan dia tidak sendiri bingung harus melakukan apa.
Yoz pun mendeham lalu menggaruk kepala, “Maaf gara-gara aku, kacamatamu jadi rusak….”
“Tidak, ini bukan salahmu, kok,” sahut Shela sambil membantu Nia berdiri.
Setelah berhasil berdiri, Shela pelan-pelan melepaskan tangannya dari tubuh temannya. Nia masih belum berdiri tegak sehingga ekspresinya tak dapat dilihat. Begitu wajahnya terlihat, hanya satu kalimat yang muncul di benak Yoz.
‘Wajahnya tidak begitu buruk juga tanpa kacamata.’
“Ero?” Shela memiringkan kepala bingung dengan ekspresi Yoz yang sedikit berbeda ketika menatap teman sebangkunya itu.
“Ah… aku ingin berterima kasih kepada kalian,” ucap Yoz tergesa-gesa berusaha mengalihkan perhatian.
Upaya pengalihan Yoz rupanya berhasil meskipun ada satu orang yang tidak terpengaruh yakni Pami, tapi dia rasa orang yang satu ini tidak akan peduli dengan hal sepele seperti barusan.
“Untuk apa?” tanya Nia dan Shela bersamaan.
Dia pun menghela napas lega sebelum kembali menjawab, “Untuk cermin yang waktu itu kalian berikan kepadaku, benda itu benar-benar menyelamatkan nyawaku. Terima kasih banyak.”
Nia dan Shela bertukar pandangan sejenak tak mengerti maksudnya, butuh hampir setengah menit bagi mereka untuk menangkap maksudnya. Berikutnya mereka berdua saling berbisik, tampak seperti sedang merahasiakan sesuatu tapi memutuskan untuk mengungkapkannya sekarang.
“Sebenarnya itu bukan dari kami,” ungkap Shela.
Yoz menaikkan sebelah alis heran, “Maksudnya?”
“Satu hari sebelum kota diserang oleh monster, ada pria dewasa berkacamata hitam dengan setelan jas hitam rapi yang mendatangi kami saat baru saja pulang sekolah. Dia tiba-tiba saja menyodorkan sebuah cermin kepadaku dan berpesan untuk memberikannya kepadamu, dia juga meminta untuk merahasiakan nama pengirimnya,’ terang Nia.
“Apa kau bisa mengatakan siapa nama pengirimnya?”
Nia memegang dagu berpikir terlihat ragu untuk menjawab tapi Shela memegang pundaknya, meminta kepadanya untuk memberitahu saja, “Kalau tidak salah pria itu bilang pengirimnya atas nama Lightning Warrior.”
Yoz langsung terdiam lalu menundukkan kepala hingga poninya menutupi wajah, tapi meski begitu suara tertawa pelan dapat terdengar dari pemuda tersebut. Tak lama setelahnya Yoz mengangkat kepala lalu menoleh ke arah bangunan menjulang tinggi pada bagian utara kota.
‘Jadi kau sudah menduga bahwa aku akan menghadapinya, ya? Arda? Sekarang semua mulai masuk akal, alasan mengapa cermin itu bisa menahan tembakan energi milik Turpin.’
“Intinya, aku tetap harus berterima kasih. Sebab tanpa kalian yang menjadi perantara, aku mungkin tidak akan menerima cermin itu. Terima kasih.”
Yoz berterima kasih dengan hati terdalam sampai-sampai melakukan posisi ojigi persis seperti yang Suryadi pernah lakukan kepada para polisi dan pahlawan. Entah apa sebab dia tiba-tiba melakukan hal seperti itu padahal dulu ia sangat enggan untuk melakukannya, yang jelas Nia dan Shela hanya bisa membalas dengan tersenyum.
Yoz kembali berdiri tegak lalu membalas dengan suara datar, “Baiklah, hanya itu yang ingin aku katakan, kalian bisa kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.”
“Ayo!”
“Tolong menjauhlah dariku atau kalian akan ikut dibenci oleh yang lain,” pinta Yoz dingin.
Pami menguap bosan hendak kembali ke mejanya, tapi Nia segera menyambar tangannya dan menahan pemuda itu untuk kabur sambil memberikan tatapan mengancam. Pami dengan terpaksa mengurungkan niatnya dengan wajah cemberut.
“Maaf jika permintaanku terdengar kasar, tapi ini demi kebaikan kalian!”
Sempat terjadi ketegangan di tempat itu, terutama ucapan Yoz yang terdengar oleh banyak orang di dalam kelas. Rasanya orang-orang itu bisa meledak kapan saja tapi masih mencoba untuk menahan diri sebab sadar pemuda itu adalah salah satu orang yang pernah terlibat dalam rencana penghancuran kota.
Shela yang menyadari situasi krusial tersebut berinisiatif mengajak Yoz untuk keluar kelas. Pemuda itu entah mengapa mendadak mau menurut saat tangannya ditarik oleh gadis berambut cepol di depannya. Nia beserta Pami pun turut ikut keluar kelas.
Meskipun mereka hanya berpindah 1-2 meter yakni di depan pintu kelas, yang terpenting orang-orang di dalam kelas tidak mendengar perbincangan mereka berempat. Nia serta Shela bersama-sama melepaskan genggaman masing-masing dari tangan Pami dan Yoz.
“Suryadi sudah menceritakan hal yang sebenarnya. Kami tahu ini semua bukan karena kesalahanmu, kamu hanya terpaksa melakukannya,” terang Nia dengan wajah iba, “kami tidak masalah jika harus dibenci oleh banyak orang, itu masih jauh lebih baik ketimbang kami ikut membencimu tanpa mengetahui hal yang sebenarnya.”
Shela menganggukkan kepala pertanda setuju dengan ucapan temannya, “Benar, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya selama masih ada kesempatan. Pasti ada cara untuk mengubah pandangan semua orang suatu saat nanti.”
Hati Yoz tersentuh mendengar kalimat dari mereka, dia tak menyangka orang-orang yang dapat menerimanya dirinya justru adalah yang orang-orang yang berusaha ia hindari. Rasanya takdir seolah-olah memang sengaja mempertemukannya dengan mereka untuk suatu alasan tertentu.
“Kini kau sudah tahu, bukan? Bahwa mereka berdua tidak seperti orang-orang yang kau sebut ‘berteman hanya karena merasa kasihan atau iba kepadamu’,” celetuk Pami akhirnya buka suara sambil menggerakkan jari telunjuk dan tengah pada masing-masing tangan seperti memperagakan gaya tanda kutip.
Mendengar hal itu, Yoz memasang wajah sinis, “Kau masih saja mengungkit percakapan saat terakhir kali kita bertemu hari itu….”
Shela pun berpaling ke belakang dan bertanya penasaran, “Kalian berbicara tentang apa?”
Pami semula enggan untuk bercerita tapi melihat wajah sinis Yoz memberinya sebuah ide. Senyuman usil yang pertama kali Yoz lihat menghiasi wajah Pami.
“Baiklah akan aku ceritakan. Jadi seperti ini, di suatu hari yang mendung aku hendak mengeluarkan payungku sebelum hujan turun. Namun mendadak muncul seseorang dengan wajah datar datang kepadaku dan berkata―”
“Yo, semuanya! Riki kembali!”
Cerita Pami terpotong oleh kemunculan Riki dan juga Tripu yang baru saja keluar dari kelas, Shela sempat melambaikan tangan kepada mereka berdua sebelum kembali fokus kepada Pami, bersama dengan Nia meminta untuk melanjutkan cerita tadi. Sedangkan Yoz langsung menutup kedua kuping berpura-pura tak mendengar sembari pergi menjauh.
“Hei! Kau mau ke mana?” tanya Riki namun tidak direspon oleh pemuda berjaket hitam itu.
Cerita pun sengaja diakhiri begitu saja setelah Pami tersenyum puas berhasil mengusili Yoz. Nia dan Shela yang masih penasaran dengan kelanjutannya hanya bisa menggerutu kecewa terus memutuskan untuk menyusul Yoz, diikuti oleh Tripu yang mengekor dari belakang.
Pami juga ikut menyusul teman-temannya barangkali bisa menemukan celah untuk mengusili Yoz lagi. Riki pun melakukan hal yang sama, dirinya berjalan di samping Pami kemudian merangkul tanpa memikirkan konsekuensi yang akan ia dapatkan setelah melakukan hal itu.
‘Menjaga dan melindungi mereka…’ pikir Yoz memperhatikan kalung indah berwarna biru safir di tangannya.
Pemuda itu berdiri sendirian di ujung lorong, terus berada di sana seraya fokus pada satu-satunya barang pemberian ibunya dengan perasaan sedih saat mengingat kenangannya. Suara yang familiar dibenaknya pun tiba-tiba saja terdengar di belakangnya.
“Jadi kau sudah bebas, ya? Arda benar-benar menepati janjinya, dia memang bisa dipercaya.”
Yoz pun memasukkan kalung milik ibunya ke saku lalu menyeka air mata yang masih menggantung di sudut matanya sebelum dilihat oleh si pemilik suara, “Tapi tetap saja ada konsekuensi yang harus kuterima dari kebebasan ini.”
Dia berbalik badan kemudian memandang tanpa ekspresi kepada sosok yang sudah sangat ia kenal itu. Di sana sudah ada Suryadi yang baru saja selesai menaiki anak tangga dengan penampilan yang sedikit berubah.
Dengan kaos lengan panjang yang diperpadukan dengan kaos lengan pendek sebagai lapisan luar yang ia kenakan membuat Yoz sedikit bereaksi karena tak menduga teman sebangkunya juga ikut merubah penampilan seperti yang lain.
“Setidaknya tidak dibayar dengan nyawamu,” respon Suryadi berjalan mendekat, “apa kau sudah membaca suratku?”
“Belum,” jawab Yoz enteng.
“Jahat sekali… apa kau tidak tahu seberapa susahnya diriku saat membuat surat it―”
“Tripu!”
Belum saja Suryadi menyelesaikan kalimatnya, perhatiannya serta Yoz teralihkan oleh suara teriakan Shela yang nyaris jatuh akibat Tripu yang secara sengaja meluncur mengenai kakinya. Beruntungnya Nia segera bergerak cepat menangkap temannya sebelum gadis itu terjatuh ke lantai.
“Tolong berhenti melakukan hal itu, Tripu!” pesan Nia.
“Hehe… maaf,” sahut Tripu tersenyum ceroboh.
Sementara di samping ketiga gadis itu, Riki dengan asik sendiri masih merangkul Pami tanpa menyadari apa yang dia lakukan justru membuat Pami merasa jengkel.
“Aku memiliki satu teori yang mungkin ingin kau deng―Ugh!”
“Singkirkan tanganmu dari leherku!”
Tanpa ragu-ragu Pami menyikut perut teman di sampingnya dengan keras. Alhasil Riki melepaskan rangkulannya lalu memegangi perut kesakitan, rasanya seluruh makanan yang sudah ia santap tadi pagi akan keluar dari mulutnya.
“S-sakit!”
Bersamaan dengan protes yang dilemparkan Riki kepada Pami, Knighto muncul di tengah-tengah kelima orang itu. Dia memberikan senyuman kepada Nia dan Shela sebelum mendahului mereka berlima menuju ujung lorong sekolah.
Rasa sakit pada perut Riki tiba-tiba menghilang menghilang begitu saja saat dia menyadari kehadiran Knighto, protes yang ingin dia lancarkan kepada Pami pun juga langsung dilupakan dalam sekejap. “Oi? Eto!? Tunggu sebentar, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu!”
“NAMANYA I-T-O, ITO!” teriak Suryadi sambil menempatkan kedua tangan di terbuka di mulut.
“Di?”
“Huh?”
Saat Suryadi memenuhi panggilan teman di sebelahnya, ia terkejut sebab Yoz sudah mengangkat lengan kirinya dengan tangan yang sudah dikepalkan, sekilas seperti hendak melakukan adu kepalan tangan.
Yoz tanpa menoleh sedikit pun hanya berkata, “Terima kasih banyak….”
Suryadi dibuat terperangah melihat hal itu, setelah beberapa detik dia akhirnya tertawa berikutnya turut mengangkat kepala dan mengadukan kepalan tangannya dengan sahabatnya. Tiga kata sederhana tapi penuh makna itu membuat Suryadi tersenyum berseri-seri.
‘Inilah kehidupanku, jalan yang kupilih, serta takdir yang kuterima. Setelah kehilangan sosok ibu dan paman, kini aku tahu perasaan mereka yang kehilangan orang-orang berharga, kehilangan ambisi, dan kehilangan tekad.’
Yoz memandangi satu-satu temannya mulai dari Nia kemudian berpindah ke Shela, Tripu, Pami, Riki, Knighto dan diakhiri oleh Suryadi yang tersenyum kepadanya.
‘Tapi bukan berarti mengakhiri hidupku akan mengakhiri penderitaan ini. Kehidupanku yang sebenarnya baru saja di mulai.’
Entah mengapa Yoz merasakan perasaan yang berbeda, perasaan yang sangat berbeda ketimbang saat dirinya hanya menghabiskan waktu sendirian.
Hal itu membuatnya tersenyum, tapi kali ini bukan sekedar tersenyum tipis melainkan tersenyum bahagia yang sudah lama hilang semenjak 5 bulan yang lalu. Kini dia memiliki satu tujuan yang ibu dan pamannya serahkan kepadanya.
‘*Kota yang menyimpan kenangan dan harapan semua orang, kini menjadi sesuatu harus kulindung*i!’
...\=> Arc Hero : End <\=...
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 37: ???