
*Bruk!*
Sebuah pintu besi tiba-tiba terbuka dengan kasar hingga menabrak dinding di sampingnya.
Seorang laki-laki muda dengan seragam petugas yang menjadi pelakunya nampak terengah-engah kehabisan napas, ia menatap ke dalam ruangan yang sudah diisi oleh lima orang dengan pakaian setelan jas rapi.
Terlihat kelima orang itu tengah duduk mengelilingi sebuah meja bundar seperti hendak melakukan rapat, namun rapat mereka terhenti begitu laki-laki itu membuka pintu.
Mereka semua langsung menatap kebingungan ke arah pelaku yang terengah-engah tersebut.
“Laporan terbaru….! Beberapa koleksi… milik… Museum Magi… telah dicuri…!” ucap si pembawa pesan dengan napas yang masih terengah-engah.
“A-apa!? Pencurian lagi?” komentar salah satu pria berjanggut putih terkejut.
Kelima orang itu mulai saling memandangi satu sama lain kemudian berbisik membicarakan apa yang mereka dengar barusan. Segera setelah itu, muncul dari belakang seorang wanita dengan pakaian setelan jas rapi berwarna ungu berjalan melewati si pembawa pesan dan memasuki ruangan dengan santai.
Salah satu dari mereka yakni seorang pria jangkung dengan rambut hitam pendek bertanya kepada wanita itu, “Apakah itu benar, Scife?”
“Benar, berdasarkan saksi mata yang melihat kejadian, pelakunya merupakan orang yang sama dengan kasus sebelumnya,” balas formal wanita bernama Scife tersebut.
Adapun seorang laki-laki muda berkacamata memegang dagunya, “Sudah kuduga… pertama pusat penelitian, kedua gudang persenjataan, sekarang museum….”
“Bagaimana dengan hasil investigasi hari ini?” tanya lagi pria jangkung tersebut kepada Scife.
“Total korban yang berhasil ditemukan oleh tim gabungan sejauh ini berjumlah 19 orang, sedangkan untuk barang bukti hanya ditemukan 5 buah peluru revolver beserta sebuah drone. Meskipun begitu, kami berhasil mendapatkan informasi bahwa keenam barang bukti ini diduga merupakan benda-benda yang dicuri dari gudang persenjataan.”
“Huh… padahal kita sudah menurunkan tiga pahlawan hebat untuk menghadapinya, tapi tetap tidak membuahkan hasil…. Seandainya saja pada saat itu Bizmark ikut serta, mungkin tidak akan ada korban jiwa yang berjatuhan seperti sekarang,” tutur seorang pria tua dengan kulit yang mulai mengeriput menyandarkan badannya ke punggung kursi.
“Terima kasih atas laporannya, kalian berdua bisa kembali melakukan tugas kalian masing-masing,” perintah pria jangkung itu.
“Baik!” jawab Scife dan pembawa pesan bersamaan lalu pergi meninggalkan ruangan.
Setelah kedua orang itu pergi, si pria jangkung langsung melemparkan pandangan serius ke yang lain. “Baiklah, mari kita lanjutkan rapat pertemuan hari ini. Tapi sebelumnya, perkenalkan nama saya adalah Baylor Vicrous, pemimpin dari Heroes Squad Oganization.”
“Cukup basa-basinya, Baylor! Kita langsung ke inti permasalahannya saja!” celetuk seorang pria gemuk berambut pirang menyandarkan kepala menggunakan tangannya.
“Perkenalan yang formal adalah hal yang penting dalam rapat penting seperti saat ini. Seharusnya anda juga mengetahuinya, Tuan Carel?” balas laki-laki berkacamata kepada pria gemuk barusan.
“Tutup mulutmu, Marva!” balas pria gemuk bernama Carel tersebut kesal.
Sementara itu, Baylor kembali melanjutkan kalimatnya tanpa mempedulikan pertengkaran kedua orang tadi. Ia langsung menjelaskan alasan dirinya mengumpulkan mereka semua di sini yang tidak lain ialah untuk membahas tentang pelaku yang telah melakukan beberapa kasus pencurian barang berbahaya sekaligus pelaku dari kericuhan yang terjadi di Machina Bagian Barat dua hari yang lalu.
Ekspresi dari para peserta yang mendengar hal itu terlihat biasa saja, mengingat mereka semua tadi sudah mendengarnya dari si pembawa pesan dan Scife.
“Aku paham, memang hal itu sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan para pahlawan lain dan bahkan masyarakat. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Ini sudah ketiga kalinya dia melakukan aksinya dan sudah ketiga kalinya juga kita gagal menangkapnya…” tanya pria berjanggut putih.
“Dia sudah melakukan pencurian pada tiga lokasi berbeda, aku merasa kalau dia mungkin sedang merencanakan sesuatu…” ujar si pria tua keriput.
“Ucapan kalian ada benarnya, Tuan Baerd dan Tuan Redle, oleh sebab itu kita akan meningkatkan pertahanan di kota dengan menugaskan beberapa pahlawan untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi,” balas Baylor.
“Cih! Memangnya kau sudah memperoleh informasi tentang orang itu?”
“Tidak, Tuan Carel, saya tidak memperoleh informasi apapun tentang orang itu, tapi saya berhasil menemukan pelaku yang diduga memiliki hubungan dengannya,” jawab Baylor kemudian menekan sebuah tombol yang ada di meja bundar tersebut.
Sebuah proyeksi hologram yang menampilkan seorang pemuda berjaket muncul setelah Baylor menekan tombol tersebut.
“A-anak ini terlibat dalam kriminal!? Yang benar saja!? Apa yang akan Tuan Albert lakukan jika mengetahui hal ini,” kata Baerd terkejut seraya menatap ke arah salah satu kursi yang kosong.
“Apa kau berencana untuk menangkapnya, Tuan Baylor?” Marva memandangi proyeksi tersebut dengan seksama sembari membenarkan posisi kacamatanya.
“Benar, tapi saya akan mencari bukti yang lebih kuat sebelum benar-benar menangkapnya.”
“Apa katamu? Bukti yang lebih kuat? Apa kau bodoh? Kenapa kau tidak langsung menangkapnya saja jika dia memang mencurigakan?” lontar Carel geram sambil memukul meja.
“Mohon jaga sikapmu, Tuan Carel! Kita tidak bisa menangkap pemuda ini secara sembarangan karena dia masih memiliki hubungan dengan Tuan Albert. Jika seandainya dia memang terlibat, Lightning Warrior pasti akan langsung menangkapnya atau melaporkannya kepadaku. Lagipula, pemuda ini pernah mengalahkan monster dengan tingkat C hanya untuk menyelamatkan seorang gadis kecil.”
“Pfftt—yang benar saja? Bocah seperti ini mengalahkan monster tingkat C?” cibir Carel seolah tak percaya sambil menunjuk-nunjuk proyeksi yang ada di hadapannya.
Beberapa orang yang ada di dalam ruangan terlihat sudah sangat kesal menghadapi sikap dari pria gemuk tersebut, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengajukan protesnya. Mereka semua pada akhirnya menghiraukan pria gemuk itu berbicara sendiri.
“Monster tingkat C? Jika hal itu memang benar apa adanya, dia mungkin tidak akan mudah untuk ditangkap…” ucap Baerd setengah tidak percaya.
“—Lalu, bagaimana cara anda mengumpulkan bukti yang lebih kuat sebelum menangkap orang ini?” tanya Marva kepada Baylor.
“Untuk hal itu, saya sudah menugaskan Bizmark untuk memata-matai pemuda ini. Sejujurnya saya sedikit kerepotan sewaktu menghubunginya karena dia menolak untuk melakukan tugas tersebut, tapi pada akhirnya dia mau melakukannya setelah beberapa kali dibujuk.”
“Bizmark, ya? Aku rasa kita tidak perlu mengkhawatirkan apa pun jika yang turun tangan adalah dia,” ucap Redle sambil menyandarkan badannya ke punggung kursi dan tersenyum.
“Saya juga berharap demikian…” jawab Baylor formal lalu mengalihkan pandangan ke arah proyeksi di depannya.
‘Yozhero…? Entah kenapa wajah pemuda ini terasa familiar di ingatanku….’
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
“Kenapa kau masih mau diperintah oleh mereka?” tanya Yoz geram.
Saat ini, dia sedang berada di ujung lorong sekolah bersama temannya. Pemuda berjaket merah itu menunggu dengan bosan jawaban dari temannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Knighto.
Topik yang sedang Yoz dan Knighto bahas pun merupakan hal yang sama seperti hari-hari lalu, yakni Knighto yang selalu menjadi korban bullying di kelasnya.
Siswa yang mengenakan kacamata berwarna biru tersebut terdiam sejenak mendengar pertanyaan Yoz sebelum pada akhirnya menjawab dengan polos. “Ya… karena mereka meminta tolong kepadaku.”
‘Si payah ini…’ Yoz sedikit menggacak-ngacak rambutnya lalu mengeluh pendek mendengar jawaban itu. “Apa kau tidak bisa membedakan antara perintah dan meminta tolong? Yang aku maksud adalah mengapa kau mau menuruti keinginan mereka begitu saja? Memangnya mereka itu teman-temanmu?”
“…”
Mendengar hal itu, Knighto menundukkan kepala dengan wajah yang murung lalu menjawab dengan suara yang lesu, “Sepertinya tidak ada seorang pun di kelasku yang ingin berteman denganku….”
“Ternyata kau bisa sadar juga akan hal itu, tapi dengan mudahnya kau menuruti setiap kemauan mereka, kau terlalu penakut untuk mencoba melawan mereka!”
“Sebenarnya aku sudah pernah mencoba untuk melawan, tetapi mereka semua langsung menghajar dan menendangku….”
“Kau sudah pernah menceritakan hal itu kepadaku. Mengingatnya kembali membuatku sangat kesal!” Kegeraman Yoz semakin bertambah dan bahkan tangannya mengepal dengan sangat kuat ketika mengingat hal itu.
Knig yang melihat emosi Yoz mulai berada di ujung tanduk berusaha menenangkan temannya dengan mengatakan sesuatu berharap pemuda itu bisa memahaminya.
“Yoz, kita tidak perlu membalas kejahatan mereka dengan kejahatan. Jika kita membalas mereka dengan kejahatan, apa bedanya kita dengan mereka? Yang perlu kita lakukan adalah berharap agar mereka bisa berubah.”
Apa yang dilakukan oleh pemuda itu ternyata berhasil. Begitu mendengar pernyataan pemuda itu tadi, Yoz pun mulai menenangkan dirinya lalu memukul dinding yang ada di sampingnya.
Meskipun pukulan yang dilancarkan tidak begitu kuat, namun setidaknya semua kekesalannya berhasil dilampiaskan dengan cara itu.
Setelah memukul dinding, Yoz menatap lesu Knighto seraya berkata, “Apa yang kau katakan barusan memang ada benarnya, tapi mau sampai kapan?”
Sementara itu di sisi lain lorong sekolah, dari kejauhan terlihat Suryadi bersama ketiga serangkai yang tidak lain adalah Nia, Pami, dan Shela berjalan mendatangi mereka berdua.
Yoz yang menyadari hal itu mulai memasang wajah sinis seakan tidak senang dengan kehadiran mereka berempat.
Nia berjalan dengan wajah cerianya sambil melambaikan tangannya kepada Yoz, namun pemuda berjaket merah itu tidak membalas lambaian itu dan justru menatap sinis kepadanya.
Berikutnya adalah Pami yang berjalan sambil memasukkan tangannya di kantong celana, terlihat cara berjalannya yang kaku serta wajah tanpa mengekspresikan apapun membuat dirinya semakin pantas untuk menyandang julukan 'Robot'.
Sedangkan Shela berjalan dengan gaya feminimnya, cara berjalan dan penampilan yang seperti itu membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa terpukau, salah satunya adalah Knighto.
Terakhir adalah Suryadi, dengan cara berjalannya yang berbeda dibandingkan yang lain membuat Yoz semakin menatap sinis. Bagaimana tidak, pemuda itu berjalan ke arah temannya dengan gaya yang mirip seperti cara seekor penguin berjalan tanpa ada rasa malu sedikit pun.
Bahkan orang-orang yang melihat cara berjalannya pun mulai menertawakan mereka berempat.
Nia dan Shela terlihat biasa saja dengan tingkah Suryadi walaupun diri mereka ditertawakan oleh orang ramai, namun ada satu orang yang merasa terusik akan hal itu.
“APA KAU TIDAK BISA BERHENTI BERJALAN DENGAN GAYA SEPERTI PENGUIN KENA PENYAKIT REMATIK SEPERTI ITU, HAH!?” teriak Pami kesal lalu melancarkan sebuah tendangan ke arah bokong Suryadi.
“Jangan seperti itu, Jay. Kasihan anak orang kamu siksa…” bujuk Nia berusaha menenangkan Pami, meskipun sebenarnya dia tersenyum seperti merasa senang dengan apa yang Pami lakukan barusan.
“Jangan sakiti aku, Om…” ledek Suryadi memasang tatapan mengejek kepada Pami sambil menggosok-gosok bokongnya yang terasa sakit.
Pami yang sudah kehilangan kesabarannya langsung mengejar Suryadi dengan gaya seperti banteng yang hendak menyeruduk targetnya. Suryadi yang menyadari hal itu pun langsung berlari ke arah Yoz dan bersembunyi di belakang punggung temannya.
“Yoz, tolong aku!”
“Jangan libatkan aku dengan urusan kali—Ugh!!!”
*Bruak!*
Suara tubuh menabrak dinding terdengar keras sampai-sampai menarik perhatian orang yang mendengarnya.
Yoz terjatuh dengan memegang dadanya yang sakit setelah menerima serudukan Pami. Suryadi yang sebelumnya bersembunyi di belakang Yoz rupanya berhasil lolos dari serangan mematikan tersebut. Knighto yang berada sangat dekat dengan mereka hanya terbengong melihatnya. Sedangkan Nia dan Shela terus-terusan tertawa tanpa henti setelah melihat kejadian barusan.
“KALAU MAU JADI BANTENG JANGAN DI SINI, SIALAN!” lontar Yoz kesal kepada Pami.
Namun, bukannya merasa bersalah atau meminta maaf, Pami justru membuang muka lalu menjawab, “Ya… salahkan si Penguin Rematik itu!”
“Lah? Kenapa malah aku yang disalahkan?” sahut Suryadi heran.
Mengetahui ketiga orang itu mulai bertengkar, Shela buru-buru menengahi mereka untuk meredakan konflik yang akan terjadi. Gadis itu bersusah payah untuk menghentikan pertengkaran ketiga temannya, tapi Nia justru membuat suasana menjadi semakin panas dengan memprovokasi Pami. Sedangkan Knighto sendiri hanya diam menyimak karena tidak ingin terlibat.
Tanpa disadari oleh keenam orang itu, siswa berkekuatan orang gila dan siswi pemalu pun tiba-tiba muncul di belakang mereka yang membuat suasana semakin memburuk, terutama untuk Yoz.
“Yo, semuanya! Riki kembali!” seru Riki sambil membentangkan tangannya seperti hendak memeluk mereka semua.
Belum saja Riki berjalan lebih dekat, Pami langsung menendang perutnya hingga dia terjatuh dan tersungkur sambil memegang perutnya.
“Pe-perutku…” rintih Riki sambil berusaha bangun.
“Sudah Penguin Rematik, sekarang muncul si Genit dan si Kumis!” celetuk Pami.
‘Genit? Kumis?’ batin Yoz.
Tripu terkikik sejenak, “Siapa si Kumis?”
“Ya… kamulah,” jawab Nia.
“Kok, aku?”
‘Gadis pemalu seperti dia dipanggil Kumis? Yang benar saja?’
Yoz menyerngitkan alis lalu memperhatikan dengan seksama untuk mencari tahu apa alasan yang membuat gadis pemalu seperti dia mendapat nama panggilan setidak masuk akal itu.
Tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan jawabannya, Yoz dengan cepat langsung mendapatkan satu kesimpulan yang logis.
‘Begitu rupanya… alis dan bulu matanya memang lebat… bahkan jika diperhatikan lebih teliti, dia memang benar-benar memiliki kumis tipis di sana… apa dia benar-benar seorang perempuan?’
“Loh? Rupanya ada Suryadi, lalu ada si Ero, dan yang satunya lagi… aku gak kenal,” komentar Riki sambil melihat satu per satu wajah orang-orang yang tidak begitu dia kenal.
“Kamu mengenal mereka?” tanya Shela.
“Memangnya siapa di sekolah ini yang tidak kenal dengan Suryadi? Kalau yang pakai jaket merah ini… kemarin kita pernah main bareng dan kalian memanggilnya dengan Ero, bukan?—”
“Ero? Pffttt—” cibir Suryadi lalu tertawa, membuat Yoz ingin memukulnya.
“Sepertinya aku mengingat sesuatu tentangmu…” ucap Yoz lalu berusaha memaksakan otaknya untuk mengingat sesuatu, “ah—sekarang aku mengingatnya, kau orang yang waktu itu pernah mengajariku untuk menonton film tak senonoh, bukan?”
“Eh… itu bukan aku… sepertinya kamu salah orang…” sanggah Riki lalu memalingkan wajahnya dari Yoz. Meskipun dia berkata kalau apa yang Yoz ucapkan tadi tidak benar, nyatanya banyak keringat yang keluar dari wajahnya seolah-olah dia sedang berusaha berbohong.
“Film? Film apa?” tanya Shela dengan tampang polosnya.
“Ah—hal itu tidak penting, lupakan saja!!!” Nia berusaha menyelamatkan temannya yang polos dari sisi gelap dunia, dibantu oleh Pami yang langsung menutup telinga gadis itu agar tidak mendengar lebih banyak.
“Huh… menghabiskan dua tahun di sekolah ini bersama satu orang gila saja sudah cukup merepotkan, sekarang malah bertambah lima orang,”
Pami pun membalas, “Terima kasih kamu juga, kok—”
“Tunggu dulu! Satu tambah empat… lima…” sela Suryadi sambil menunjuk mereka satu per satu kecuali Yoz dan Knighto seperti sedang menghitung, “jadi kau menyebutku gila?!”
Bukannya menjawab, Yoz justru pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa sambil memasang wajah datarnya seolah-olah tidak menganggap keberadaan mereka semua, diikuti oleh Knighto yang memberikan senyum canggung kepada yang lain sebelum pergi menyusul Yoz.
“Dasar... saat aku melihatmu bermain kartu bersama yang lain, kupikir kau mulai kembali ke dirimu yang dulu… tapi sepertinya itu hanya kebetulan saja…” ucap pelan Suryadi menatap kepergian teman sebangkunya.
“Ero yang dulu?” tanya Riki.
“Iya, tepatnya 4 bulan yang lalu sebelum sifatnya berubah…” jawabnya.
Adapun Shela ikut bertanya, “Memangnya saat 4 bulan yang lalu, dia seperti apa?”
“Itu adalah rahasia dan hanya aku yang mengetahuinya~” Suryadi tersenyum bangga sembari berkacak pinggang. Tapi senyuman itu hanya sementara kemudian wajahnya berubah menjadi serius.
'Yoz sama sekali tidak melakukan pergerakan yang mencurigakan... apa aku harus mengikutinya sampai ke rumah untuk mencari tahu?'
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 16: Ksatria Penakut