100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 22: Chase



“Apa yang kalian lakukan? Segera keluar dari bangunan ini dan berlindung ke shelter!”


Di sebuah ruangan laboratorium terlihat dua pihak saling berseteru. Kedua pihak itu adalah para polisi serta para ilmuwan.


Para ilmuwan terlihat kalang kabut mengamankan beberapa barang seperti sampel penelitian mereka ke dalam sebuah koper besi meskipun sudah mendengar ledakan dan sirine peringatan. Hal itu membuat para polisi mulai merasa kesal.


Salah satu ilmuwan yang menyadari para polisi mulai merasa kesal segera mendekati mereka dengan wajah memelas.


“Tolong tunggu sebentar, beri kami waktu untuk mengamankan beberapa penemuan kami...” ucapnya.


“Kami tidak mau membuang waktu kami hanya untuk mengurus kalian!” balas salah satu polisi yang merasa jijik dengan wajah melas si ilmuwan.


“Kami mohon, tunggulah sebentar lagi....”


Si ilmuwan bersikeras meminta untuk diberi waktu, bahkan sampai menarik baju salah satu polisi layaknya anak kecil yang merengek minta dibelikan mainan.


“Dasar... cepatlah! Waktu kita tidak banyak!” kata si polisi sambil menggeleng-geleng kepala.


Pada akhirnya, para polisi lah yang mengalah. Sedangkan si ilmuwan yang memelas barusan langsung memanfaatkan kesempatan yang diberikan untuk membantu mengamankan sesuatu yang menurutnya penting.


Saat kondisi di ruangan itu mereda, tiba-tiba saja dari arah jendela muncul seseorang yang menerobos masuk ke dalam bahkan sampai menghancurkan kaca jendela.


Dengan tertawa jahat yang khas, sosok itu mendarat dengan penuh gaya. Kemudian berdiri secara perlahan sambil membenarkan posisi topi yang ia kenakan.


Semuanya dibuat terkejut dengan kehadirannya. Tidak ada satu pun ilmuwan yang mengenal sosok itu, namun para polisi mengenalnya dengan jelas.


“S-siapa dia?” tanya salah seorang ilmuwan.


“Kau lagi!” Salah satu polisi mulai mengeluarkan pistolnya dan ditodongkan ke arah sosok itu, disusul dengan polisi lainnya yang melakukan hal serupa.


“Oh, halo?” sahut sosok itu menoleh ke arah para polisi, “Senang rasanya bisa bertemu lagi untuk yang ke empat kalinya~”


“Jangan harap kau akan berhasil kali ini, Turpin!”


“Oh, ya? Mari kita lihat, apakah aku akan 'Win Streak' lagi atau tidak?”


“MENUNDUK!”


Suara teriakan tiba-tiba terdengar di tengah-tengah ruangan. Para ilmuwan yang mendengarnya langsung paham dan merunduk memegangi kepala masing-masing, bahkan tidak sedikit dari mereka ada yang tiarap.


Segera setelah itu, puluhan atau bahkan ratusan peluru melesat ke arah Turpin dan menghujani tubuhnya tanpa ampun, tapi Turpin tak bergeming sedikit pun akan serangan itu.


Peluru-peluru itu tidak berdampak apa-apa terhadap armor keras milik Turpin, hanya meninggalkan lecet, kecuali jubahnya yang robek dan bolong karena memang pada dasarnya jubah itu hanyalah kain biasa.


“Hei! Permainan belum dimulai dan aku langsung disambut dengan hujan peluru? Benar-benar....”


Turpin menggeleng-geleng kepala lalu memasang kuda-kuda, dalam beberapa detik dirinya tiba-tiba saja sudah berdiri tepat di hadapan para polisi lalu melancarkan beberapa pukulan dan tendangan tepat pada titik vital masing-masing polisi.


Hal itu terjadi sangat singkat, sampai-sampai hujan peluru tiba-tiba saja berhenti. Hampir seluruh polisi tumbang, menyisakan hanya beberapa polisi yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.


Selagi Turpin menghampiri satu per satu polisi yang tersisa, ternyata seorang polisi sedang bersembunyi di balik meja sambil berusaha menghubungi bala bantuan melalui walkie talkie.


“Lapor! Kirimkan bantuan ke sini—UGGHHH!!!!”


“Dasar pengadu~”


Belum sempat polisi itu meminta bantuan, Turpin ternyata sudah berada di sampingnya dan menendang kepalanya tanpa ampun sampai menghantam dinding. Suara seperti tulang yang retak pun muncul setelah kepala si polisi bersentuhan dengan dinding.


Hanya dalam kurun waktu kurang dari 3 menit, seluruh polisi berhasil ditumbangkan oleh Turpin. Walaupun darah tak terlihat di ruangan itu, tidak ada satu pun polisi yang bangkit setelah menerima serangan di titik vital. Mengindikasikan bahwa mereka semua telah tewas begitu saja.


Setelah selesai mengurus para polisi itu, Turpin berbalik badan kemudian mendatangi para ilmuwan yang ketakutan. Saking ketakutannya mereka ampai-sampai menyeret tubuh masing-masing ke belakang dan mentok pada dinding.


Salah satu ilmuwan yang paling dekat Turpin mencoba menyiramnya menggunakan sebuah cairan dari botol. Cairan senyawa itu berhasil mengenai badan Turpin tapi tidak terjadi apa-apa.


Turpin langsung menyambar tangan ilmuwan tersebut lalu memelintirnya sampai patah. Suara tulang-tulang patah itu terdengar seperti lantunan lagu yang indah bagi Turpin, tapi bagi orang lain itu adalah suara yang sangat membuat ngilu dan mengakibatkan beberapa dari mereka pingsan begitu saja.


Ilmuwan yang tangannya patah itu merintih kesakitan sampai jatuh, dia pun berteriak histeris sambil menangis, “Hiiihh! T-tolong jangan sakiti aku! Jangan bunuh aku!”


Turpin pun berjongkok lalu mencengkeram mulut ilmuwan tadi hingga mirip seperti mulut ikan, tak ada perlawanan yang diberikan dari pria berjas putih itu karena saking ketakutan dan kesakitannya dia.


“Jawab pertanyaanku! Apakah kalian bekerja untuk HSO?” tanya Turpin, “Aku mengharapkan jawaban yang sejujur-jujurnya atau kau akan merasakan akibatnya!”


“Ti-tidak! Tidak! Ka-kami tidak bekerja untuk HSO! Kami bersumpah!” jawab si ilmuwan dengan suara aneh nan gagap sampai-sampai tanpa sadar ia pipis di celana dan membasahi lantai.


Turpin terkikik pelan kemudian berdiri sambil terus terkikik yang secara perlahan berubah menjadi tertawa terbahak-bahak. Semua orang semakin merasa ketakutan dan merinding ketika mendengar suara tertawa jahat itu. Tidak ada yang tahu apa isi pikiran Turpin sekarang, semuanya berpikir mungkin ini akan menjadi akhir hidup mereka.


“Hahahaha!!! Aku suka wajah ketakutan kalian! Baiklah aku percaya, tapi sebagai ganti nyawa kalian...” Turpin pun meraih koper besi yang berada tidak jauh dari lokasinya berada lalu merogoh sesuatu di dalamnya.


“Sebagai ganti nyawa kalian, aku ambil kotak ini?”


Dia memperlihatkan barang yang ia maksud kepada ilmuwan-ilmuwan itu, sebuah kotak kecil berwarna hitam yang bertuliskan 'Nitrogliserin’ di tengah-tengahnya.


Entah benda apa sebenarnya di dalam kotak itu, tapi yang jelas hal itu membuat para ilmuwan seakan berat hati untuk memberikannya kepada Turpin.


“Ta-tapi i-itu—”


“Keberatan?”


Turpin menghentakkan kaki ke lantai dengan keras, mengakibatkan ruangan sedikit bergoncang seperti terjadi gempa. Gertakan itu benar-benar membuat para ilmuwan semakin panik dan langsung menerima kesepakatan tanpa berpikir panjang.


“T-t-tidak! K-kami tidak k-keberatan!”


“Bagus!” Turpin menurunkan topinya lalu memasukkan kotak yang ia peroleh ke dalamnya.


Merasa urusannya sudah selesai, dia pun pergi dari ruangan itu dengan jalan lain yakni dengan melalui pintu, bukan melalui jendela yang dia hancurkan sebelumnya.


Entah apa alasannya keluar melalui pintu, tapi yang jelas bantuan sepertinya sudah tiba dan meringkus bangunan dari segala penjuru, termasuk Turpin yang kini tengah dikepung oleh puluhan polisi.


Tapi sosok berarmor itu merasa tidak masalah atau menyesal sudah keluar melalui pintu, malah justru senang dan mulai mengeluarkan sebuah katana dari topinya.


“Kalian datang terlambat, teman-teman kalian sudah aku habisi. Tapi jika kalian mau menyusul, maka akan aku kabulkan dengan senang hati!”


*BANG! BANG! SLASH! BANG!*


Dalam beberapa menit, suara tembakan dan sayatan saling beradu dahsyat, disusul suara rintihan orang-orang dan beberapa barang yang hancur. Lampu-lampu pada bangunan mulai padam satu per satu dari lantai atas hingga lantai bawah.


Dengan satu kibasan pada katananya saja sudah membuat seluruh darah yang menempel pada bilahnya hilang. Kemudian Turpin mengganti jubahnya yang rusak bolong dengan jubah baru yang dia ambil dari topinya.


“Baiklah, apa yang bisa kudapatkan dari alat ini?” ucapnya sambil mengotak-atik walkie talkie di tangannya yang dia rampas dari polisi.


Karena usahanya tak membuahkan hasil meskipun sudah mengotak-atik alat komunikasi itu, dia kembali mengambil sesuatu dari topinya. Lantas dia menempelkan sebuah chip yang ia peroleh dari topinya ke dalam walkie talkie itu.


Tak lama setelah chip itu berhasil dimasukkan, suara frekuensi pun muncul. Turpin langsung menempatkan alat itu tepat di samping telinganya sambil berjalan menjauh dari bangunan.


*Bzztt! Bzztt! Bzztt!*


“Target?” ucapnya tertarik dengan apa yang sudah dia dengar dari walkie talkie barusan.


Dia pun mencerna siapa ‘target' yang dimaksud dalam walkie talkie sebelum pada akhirnya ia sadar dan langsung mengambil sebuah radar dari topinya.


“Dasar, anak itu.... mau sampai kapan dia berdiam di sana?”


Dia berdecak kesal saat melihat radar menampilkan peta Kota Machina di layar, serta ikon huruf 'V' yang berada di bagian selatan kota. Dia mematikan radar begitu saja kemudian menekan sebuah tombol yang terpasang di telinga kirinya.


“Chaker, perintahkan salah satu pengawal untuk langsung menjemput 'Vassal' kita!” perintahnya melalui tombol tersebut.


Semua alat yang sudah dia ambil seperti walkie talkie, chip, radar, serta katana dimasukkannya ke dalam topi setelah memberikan perintah melalui alat di telinganya.


Seusai memasukkan semua barangnya, angin tiba-tiba berhembus kencang menerbangkan debu disekitar beserta darah yang menempel pada armornya. Turpin pun mendongak dan menatapi helikopter miliknya yang menjadi penyebab hembusan angin muncul.


Dia pun menggapai anak tangga yang diturunkan oleh helikopter sambil berteriak kepada pilot di dalam kendaraan baling-baling raksasa tersebut.


“Perhentian kita selanjutnya—Pusat Shelter!”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Kondisi kota bisa dikatakan sangat kacau pasca beberapa menit setelah ledakan besar muncul, apalagi setelah monster-monster yang entah berasal darimana muncul ke permukaan menampakkan diri.


Meskipun tidak ada satu pun manusia yang menampakkan diri, makhluk-makhluk itu terus saja menghancurkan semua yang mereka lihat berharap ada satu atau dua manusia yang keluar dari persembunyian.Makhluk-makhluk itu hampir memenuhi sepanjang jalan di kota.


Tapi pemandangan itu berubah saat dua sosok berlari dan melibas semua monster yang berdiri di sepanjang jalan. Meskipun hanya dua orang, ternyata mereka bisa lewat dengan mudah seolah-olah monster dihadapan mereka bukanlah masalah besar.


Faktor terbesar sesungguhnya adalah salah satu dari mereka yang membawa claymore di genggamannya dan menebas makhluk-makhluk itu tanpa ampun. Kedua orang itu adalah Knighto dan Suryadi.


Sebenarnya mereka berdua terhitung beruntung karena monster-monster yang mereka temui sejauh ini adalah monster-monster non humanoid, yang notabennya makhluk tanpa akal dan tidak sekuat monster humanoid.


Suryadi berperan sebagai pemandu jalan sehingga posisinya berada di depan, sedangkan Knighto diibaratkan sebagai 'Guardian' yang mengekor di belakang. Saat monster muncul, maka Knighto akan bertukar posisi dengan Suryadi untuk melibas monster-monster yang menghalangi jalan.


“Setelah simpangan, kita belok ke kanan!” arah Suryadi.


Saat ini mereka berdua sudah hampir sampai di tempat tujuan, tentu saja monster yang muncul pun semakin bertambah banyak. Beruntungnya kemampuan berpedang Knighto bukan hanya hisapan jempol semata.


Pasalnya, tidak ada satu pun monster yang berhasil hidup setelah badannya terbelah akibat tebasan Knighto. Keluarga Darce memang sangat hebat jika berbicara tentang ilmu berpedang, bahkan seluruh kota pun akan mengakui hal itu.


“Kita hampir sampai!”


“Apa kamu benar-benar yakin ini jalan yang benar menuju ke rumahnya?”


Putra Darce memperhatikan dengan seksama jalanan sekitar yang mereka lalui. Meskipun ingatannya samar-samar karena sudah lama ia tidak berkunjung ke rumah temannya, tapi firasatnya mengatakan kalau jalan yang mereka lalui bukanlah jalan yang benar.


“Itu dia!” ucap Suryadi berhenti dan menunjuk sedikit ke atas, Knighto pun ikut berhenti lalu menengadah ke arah yang ditunjuk oleh temannya.


Setelah perjalanan yang membuat kaki terasa sangat sakit dan napas yang hampir habis karena terus berlari, mereka berdua akhirnya bisa melihat atap dari rumah yang mereka tuju. Knighto semakin bingung pasca melihatnya karena terlihat berbeda dengan ingatan samar-samarnya.


“Tidak terlihat seperti rumahnya...” komentar Knighto ragu.


Suryadi menggaruk-garuk kepala kesal karena temannya terus menanyakan hal yang sama. Sontak dia menunjuk berkali-kali atap rumah sebelumnya seolah menegaskan bahwa memang itulah rumah Yoz. Perdebatan antara mereka berdua pun sudah sudah tidak bisa dihindari lagi.


“Kenapa kau sama sekali tidak percaya kepadaku? Sudah aku bilang kalau itu adalah rumahnya!” lontar Suryadi muak.


“Aku memang sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya, tapi bukan berarti aku lupa dengan lokasi rumahnya!” sanggah Knighto.


“Bagaimana kau bisa yakin kita salah jalan sedangkan dirimu saja sudah lama tidak mengunjungi rumahnya?”


“Karena rumah Yoz seharusnya berada di kota bagian timur, bukan bagian selatan!”


“Begini saja, bagaimana kalau kita langsung tanyakan kepada dia?!”


‘Dia mulai melantur tidak karuan lagi....’


Knighto menepuk jidat kepala kepala frustasi usai mendengarkan saran bodoh Suryadi. Sejak awal dia sudah menduga kalau dirinya dan temannya memang tidak akan bisa akur dan sepemikiran meskipun dalam kondisi seperti sekarang.


Dia menarik napas dalam-dalam memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengucapkan kalimat selanjutnya. Tapi saat hendak membuka mulut, suara sirine polisi tiba-tiba terdengar membuat perdebatan mereka harus berhenti untuk sementara waktu.


“Polisi?” tanya Suryadi melirik ke sana kemari mencari sumber suara.


Wajah Knighto berubah menjadi serius, dia langsung menyambar tangan Suryadi dan menariknya kasar ke samping salah satu rumah. Sontak saja Suryadi terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh temannya sekaligus semakin kesal setelah tangannya ditarik secara kasar.


“Hei! Apa yang kau lakukan!?”


“Ssstttt!!”


Knighto menempatkan jari telunjuknya di depan bibir sebagai sinyal bagi Suryadi untuk diam. Suryadi yang paham dengan refleks langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.


Sikap Knighto benar-benar berbeda dibandingkan sebelumnya, dia terus fokus mendengarkan suara sirine polisi yang semakin lama semakin mendekat. Bahkan Suryadi berani bersumpah kalau dia melihat telinga pemuda itu sedikit bergerak ke atas ke bawah layaknya kucing.


Setelah beberapa saat, suara sirine polisi tiba-tiba menghilang. Knighto pun mencoba mengintip keluar, diikuti oleh Suryadi yang melakukan hal serupa dari belakang saking penasarannya dia dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Saat mengintip, mata mereka berdua sama-sama terbelalak terkejut. Hal itu sekaligus mengakhiri perdebatan mereka berdua sebelumnya karena jawaban yang dibutuhkan sudah ada di depan mata.


“Yoz?!” ucap mereka bersamaan.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 23: Nyaris