
Ketegangan di pusat kota tiba-tiba terjatuh ke dalam kesunyian setelah monster yang menyerang berhasil dikalahkan oleh seorang pelajar SMP.
Pada saat kejadian itu, hanya ada satu saksi mata yang melihat meskipun dirinya tidak benar-benar melihat semuanya, orang itu bernama Suryadi Gunwan.
Suryadi yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya berjalan mendekati temannya yang menjadi pelaku dari kejadian, Yozhero.
“A-apa yang sudah kau lakukan?”
Namun Yoz sama sekali tidak memberi jawaban dan hanya diam sambil membersihkan wajahnya yang bersimbah darah dengan santau, membuat Suryadi bertambah bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Tak lama kemudian dari arah jalan menuju pusat kota, muncul sekelompok orang berseragam yang berjalan menuju ke arah mereka berdua. Rupanya orang-orang itu adalah para polisi dan pahlawan yang ditugaskan untuk menangani monster yang dilaporkan masih menyerang di pusat kota.
Setibanya di lokasi, betapa terkejut dan kebingungannya mereka dengan apa yang mereka lihat. Tubuh monster yang mereka maksud sudah tak berbentuk dengan menyisakan dua potongan kaki bergeletakan tak beraturan di tanah, bahkan kebingungan mereka bertambah saat melihat Yoz dan Suryadi yang berada tepat di lokasi kejadian.
Salah satu polisi pun bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Apa kalian tidak tahu kalau lokasi ini sedang ada monster yang berkeliaran?”
‘Tapi monsternya sudah mati…’ batin Yoz sambil melirik ke tubuh monster.
“Maaf, Pak Polisi, kami sama sekali tidak tahu kalau lokasi ini sedang ada monster yang sedang berkeliaran,” jawab Suryadi.
‘Monsternya sudah mati!’ Yoz membatin kembali.
Sesaat setelah menjawab pertanyaan polisi, Suryadi melakukan posisi ojigi kepada polisi sebagai bentuk permintaan maaf.
Teman yang ada di samping kanannya pun juga dipaksa untuk melakukan hal serupa, tangannya segera meraih kepala Yoz dan mendorongnya ke arah bawah persis seperti posisi ojigi yang sedang ia lakukan sekarang.
Tapi Yoz menolak untuk melakukannya dan memberontak berusaha menyingkirkan tangan Suryadi. Hal itu membuat mereka berdua bertengkar karena mempermasalahkan tata cara meminta maaf, mengabaikan kehadiran para polisi dan pahlawan yang ada di hadapan mereka.
Perdebatan itu bahkan mengakibatkan para polisi saling bertukar pandangan bingung harus berbuat apa.
Di sisi lain, para pahlawan yang mengamati tubuh monster yang sudah hancur dengan menyisakan potongan kaki itu masih kebingungan dan heran, karena monster itu sudah dibereskan tanpa ada laporan dari organisasi pahlawan.
Salah satu dari mereka langsung melaporkan apa yang ia lihat kepada pihak organisasi pahlawan, sedangkan yang lainnya mulai memeriksa potongan kaki monster tersebut dengan seksama.
Adapun dua orang tadi ternyata masih terus bertengkar hebat tentang perihal ojigi sebagai tanda minta maaf. Masing-masing dari mereka terus-terusan melontarkan agrumen mereka masing-masing tanpa henti, bahkan perdebatan semakin memanas.
“Apa-apaan kau ini, dasar sialan! Kau pikir kita tinggal di negeri matahari terbit yang sering kau tonton di TV itu?!” hardik Yoz kesal.
Suryadi yang masih terus mempertahankan argumennya pun juga ikut membalas, “Bukan tentang itu, bodoh! Ini tentang bagaimana kita harus minta maaf sama polisi dan pahlawan!”
Di tengah keributan hebat kedua orang itu, ternyata ada salah satu pahlawan sedang memperhatikan mereka dengan serius. Pahlawan itu kira-kira seumuran dengan mereka berdua, atau mungkin lebih tua. Memiliki rambut berwarna abu-abu gelap, mengenakan rompi seperti jaket rompi samurai berwarna hitam, dan sebuah pedang di samping kanan yang tertutup oleh rompinya.
“—Apakah tadi kalian melihat kejadian yang terjadi di lokasi ini?” sela Pahlawan itu memotong perdebatan Suryadi dan Yoz, membuat pertengkaran akhirnya usai.
Suryadi pun menjawab dengan mata yang melirik ke arah Yoz, “Ehh… eto… sebenarnya yang mengalahkan monster itu adalah—”
“—Kami sama sekali tidak melihat kejadian tadi,” Yoz memotong, “yang kami tahu, monster tersebut sudah dikalahkan oleh seseorang begitu saja.”
“Eh… i-iya….” Suryadi langsung membenarkan jawaban temannya tanpa berkomentar apa-apa.
Melihat Suryadi yang tidak menyelesaikan kalimatnya, pahlawan itu pun menaruh rasa curiga kepadanya.
“Nnn? apa yang ingin kau katakan tadi?”
“Eh….”
Pemuda kemeja jingga itu mulai panik dan kebingungan untuk menjawab, matanya terus-terusan memandangi Yoz seperti meminta bantuan tekannya
‘Huh… dasar…’ Yoz menghela napas. “—Yang dia maksud adalah bahwa ada pahlawan lain yang mengalahkan monster tersebut.”
“Hmm? Jadi begitu… apakah kalian mengetahui siapa pahlawan itu?” tanya si pahlawan.
“Entahlah… kami tidak begitu mengetahuinya, wujud pahlawan itu tidak terlihat begitu jelas. Setelah mengalahkan monster ini dan melihat kami, dia langsung pergi begitu saja,” terang Yoz.
“Hmm…” gumam pahlawan itu sambil memegang dagunya.
Polisi pun mulai mengajukan beberapa pertanyaan umum kepada mereka berdua seperti nama, tempat tinggal, dan sebagainya. Setelah selesai mengajukan pertanyaan, mereka berdua diminta untuk segera kembali ke rumah masing-masing.
Kedua pemuda itu tanpa pikir panjang langsung menuruti perintah dari polisi dan pergi dari lokasi tanpa berkata apa-apa.
Namun, pahlawan yang bertanya tadi masih tidak percaya akan informasi yang Yoz berikan, dia berpikir bahwa sepertinya ada sesuatu yang kedua orang itu sembunyikan dari mereka.
Ketika kembali melirik ke arah kedua pemuda itu, ia menyadari kalau terdapat sedikit bercak darah menempel di tangan kanan Yoz yang ternyata tidak disadari oleh pemuda berjaket merah itu.
“Ada yang tidak beres…” desis pahlawan itu menaruh curiga.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Dalam perjalanan pulang, Yoz dan Suryadi sama sekali tak saling berbicara. Mereka berdua hanya berjalan diam dan tak mengucapkan satu kata pun.
Jalan setapak yang mereka lewati benar-benar sunyi akibat kejadian penyerangan monster tadi. Terlihat di langit, matahari mulai tenggelam menandakan hari sudah senja, warna dari langit yang jingga perlahan-lahan berganti menjadi warna malam.
Suryadi pun akhirnya memutuskan untuk membuka percakapan sekaligus untuk menanyakan sesuatu yang terus mengganjal di kepalanya sedari tadi.
“Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?”
“….”
Namun Yoz tak membalas pertanyaannya dan hanya terdiam seperti sedang termenung.
“Hei, aku lagi ngomong! Bukan kumur-kumur!” hardik Suryadi mulai kesal.
“Huh… biar aku jelaskan pun sepertinya kau tetap tidak akan paham…” balas Yoz akhirnya membuka mulut.
“Lalu kenapa kau tidak mengatakan hal yang sebenarnya saja kepada mereka? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Apakah memang kau yang menghabisi monster tadi?”
“Bisakah kau diam, Gigi Besar! Kau sama sekali tak perlu mengetahuinya!” bentak Yoz yang mulai pusing mendengar ocehan temannya.
Tapi Suryadi tak mau kalah dan justru ketus membalas, “Jelas aku harus mengetahuinya! Kita sudah berteman selama setahun lebih, jadi setidaknya biarkan aku tahu sedikit tentangmu! Terkadang kau mengatakan hal-hal yang aneh, tetapi tidak menjelaskan apa yang kau maksud! Ditambah lagi apa yang aku lihat hari ini sangat sulit untuk dicerna dengan akal sehat!”
Ucapan Suryadi barusan seolah menampar keras wajah Yoz dan membuatnya kembali terdiam sebelum pada akhirnya menghela napas dan membalas dengan suara yang pelan, “Suatu saat nanti... kau juga akan mengetahuinya, Di....”
“Ya sudah, jika kau memang tidak mau mengatakannya… aku juga nggak akan memaksamu untuk menceritakannya….” Suryadi pun pada akhirnya pasrah karena temannya itu tetap bersikeras untuk menutup mulut.
Mereka berdua kembali terdiam sama seperti sebelumnya. Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka tiba di depan rumah Suryadi yang berlokasi di bagian barat Kota Machina. Bahkan ternyata rumah dua tingkat itu berjarak cukup dekat dengan SMP Gampat.
“Kalau begitu, sampai ketemu besok, ya!” ucap Suryadi yang seperti sudah melupakan kejadian tadi, bahkan tingkahnya kembali seperti saat pagi tadi.
Sesaat dia akan menarik pintu, Yoz kembali memanggil namanya.
“Di?”
“Apa?” sahut Suryadi berbalik badan.
“Tolong jangan beritahu apa yang kau lihat hari ini kepada siapa pun!”
Mendengar hal itu, Suryadi termurung sejenak lalu membalas, “Ya, aku paham, kok. Aku tidak akan memberitahu siapa pun.”
Kemudian Suryadi langsung masuk ke dalam rumahnya. Pintu secara perlahan menutup diikuti suara gesekan sebelum pada akhirnya benar-benar tertutup rapat.
Sedangkan Yoz yang melihatnya temannya sudah tak terlihat mulai menghela napas sedalam-dalamnya.
‘Baiklah… persiapkan dirimu,’ ucap Yoz menyemangati dirinya sendiri di dalam hati kemudian lanjut berjalan.
Lampu yang ada di tepi jalan mulai menyala satu per satu menyinari gelapnya malam. Yoz berjalan melintasi rumah-rumah dengan santai. Kedua tangannya bersembunyi di balik kantong celana seperti mencari kehangatan dari dinginnya udara malam. Bahkan saking dinginnya, setiap hembusan napas yang dia buang akan terlihat seperti embun dan memudar di udara.
Pandangannya terus menatap ke bawah dan tidak memperhatikan jalannya, seakan bisa saja menabrak apapun yang ada di hadapannya. Dirinya terlihat termenung seperti sedang memikirkan sesuatu sejak tadi.
Bersamaan dengan itu, rupanya ada seseorang yang mengikutinya dari belakang dan bersembunyi di balik salah satu sisi rumah.
Yoz yang merasa ada seseorang sedang mengikutinya kembali tersadar dan secepat kilat menoleh ke arah belakang, namun sama sekali tak melihat seorang pun.
Dia pun kembali melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan siapa yang mengikutinya, karena menurutnya hal itu hanyalah kucing yang lewat.
Merasa kondisi sudah aman, pengintai itu segera keluar dari persembunyiannya dan berpindah posisi ke belakang mobil hitam yang terparkir di dekatnya. Sambil terus memperhatikan targetnya dengan hati-hati, dia memegangi telinganya dan menatap tajam Yoz.
“Aku sudah menemukan target.”
「Terus ikuti dia!」
“Siap, laksanakan!”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Akhirnya Yoz tiba di rumahnya, sebuah rumah besar yang mirip seperti villa dengan halaman yang cukup luas. Tapi anehnya lampu-lampu yang ada di dalam rumah mewah itu terlihat tidak menyala padahal hari sudah gelap.
Yoz pun mencoba melirik ke arah garasi yang ada di samping kanan rumahnya. Terlihat sebuah mobil mewah terparkir di sana tapi belum dimasukkan ke garasi.
Tidak salah lagi, mobil mewah itu adalah mobil milik Paman Hans, yang berarti pria tua itu sekarang sedang berada di dalam rumah.
Yoz pun menelan ludah dan mencoba mengatur pernapasannya yang mulai tidak stabil karena merasakan firasat yang buruk, kemudian dengan sedikit keberanian mencoba untuk membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
Saat kayu berat tersebut terbuka, dia dengan ragu-ragu perlahan masuk ke dalam. Firasat buruk mulai ia rasakan jelas ketika melihat semua ruangan gelap tanpa pencahayaan.
Pemuda itu buru-buru pergi menuju ke kamarnya secara diam-diam sambil terus memperhatikan sekitar, seperti berusaha menghindari sesuatu.
Firasatnya buruknya pun semakin kuat ketika mengetahui bahwa tidak ada satu pelayan pun di dalam rumah, membuatnya cemas dan mempercepat jalan.
Namun, langkahnya terhenti begitu mendengar sebuah suara yang berasal dari ruang tamu. Ia pun mencoba menoleh ke sumber suara, terlihat sebuah cahaya muncul dari TV disertai suara yang berdengung timbul dari elektronik tersebut.
Saat diperiksa lebih dalam, rupanya sudah ada Paman Hans yang duduk di sofa sedang menonton siaran TV yang gangguan tersebut.
Yoz yang melihat pamannya hanya duduk terdiam memandangi TV memanfaatkan kesempatan itu untuk segera naik ke lantai atas. Sepertinya dia berusaha menghindari pamannya, entah apa alasannya.
Malangnya, tiba-tiba Paman Hans yang seperti menyadari kehadiran seseorang langsung menoleh ke belakang dan menatap tajam pemuda yang berusaha kabur darinya.
“Yoz!”
“!”
Yoz langsung diam membeku layaknya patung begitu mendengar suara pamannya yang memanggilnya. Jantungnya berdegup kencang terasa seakan-akan mau copot.
Tanpa basa-basi Paman Hans langsung bertanya seperti mengetahui sesuatu, “Apa yang sudah kau lakukan hari ini?’’
“Eh… a-aku sama sekali tidak melakukan apapun hari ini….”
Dengan suara yang terbata-bata, Yoz mulai merasakan kakinya gemetaran seiring dengan waktu. Pemuda itu terlihat ketakutan setengah mati seakan bertemu dengan hantu.
Sedangkan pamannya langsung berdiri dari sofa dan berjalan mendekati Yoz dengan tatapan yang berubah drastis.
“Sama sekali tidak melakukan apapun, ya? Bagaimana dengan siaran berita hari ini? Sepertinya berita yang kudengar tadi sore cukup menarik.” ucapnya.
“A-apa maksud Paman?”
“Kau tak bisa membohongiku, Yoz….”
Sifat asli dari pria tua ini pun mulai terlihat. Wajah ramahnya yang terlihat di pagi hari berubah secara drastis dan menatap Yoz dengan sinis.
Secara tiba-tiba, salah satu tangannya menyambar leher Yoz kemudian memojokkannya ke dinding. Sementara Yoz tidak melakukan perlawanan dan hanya memegang tangan pamannya untuk menahan tubuhnya yang mulai terangkat ke atas.
“Katakan! apa yang sebenarnya sudah kau lakukan hari ini?” tanya Paman Hans dengan hawa intimidasinya.
“Uhhk….”
Sulit bagi Yoz untuk menjawab karena lehernya yang tercekik tapi pria tua itu seakan tak peduli dan justru menambah tekanan pada tangannya.
Pada akhirnya, Yoz sekuat tenaga mencoba menjawab dengan suara yang serak sebelum kesadarannya mulai menghilang secara perlahan.
“Uhk… uhhk… a-aku hanya... mencoba menyelamatkan… a-anak kecil yang… diserang oleh monster….”
“Begitu?”
Paman Hans pun melepaskan cengkramannya sehingga membuat Yoz terjatuh, kemudian ia berjongkok di hadapan keponakannya yang masih berusaha mengambil napas.
“Perlu kau ingat, kau ada bidakku! Aku merawatmu bukan untuk melihatmu menentang perintahku! Apa kau paham dengan kesalahanmu?”
“P-paham… ma-maafkan a-aku…” balas Yoz dengan suara serak meskipun napasnya mulai kembali teratur.
Paman Hans kembali berdiri sambil membenarkan jas dan dasinya, lalu kembali bertanya.
“Apakah ada orang yang melihat aksimu?”
Seketika mata Yoz terbelalak kaget begitu mendengar pertanyaan tersebut, wajahnya seperti orang yang tersambar petir. Alasannya sederhana, karena pada kejadian tadi, satu-satunya saksi mata yang melihat kejadian itu adalah temannya, Suryadi.
“A-aku tidak memberitahu siapa pun dan juga tidak ada saksi mata di sana. Aku membuat laporan palsu kepada pihak polisi dan mereka semua percaya akan hal itu,” terang Yoz mencoba berbohong.
“Lalu bagaimana dengan para pahlawan?”
“—Mereka juga percaya dengan laporanku.”
Seketika wajah orang tua itu berubah kembali menjadi ramah yang biasa dia tunjukkan kepada orang-orang, dia pun kembali berbicara dengan suara yang halus sembari mengelus rambut keponakannya.
“Bagus—kemampuanmu akan sangat berguna dalam rencana besar kita. Oleh karena itu, jangan sampai ada orang yang mengetahuinya. Apa kau mengerti?”
“Aku mengerti….”
Setelah mendengar balasan itu, Paman Hans langsung pergi menuju ke ruangannya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun setelahnya. Sedangkan Yoz sendiri mencoba kembali berdiri lalu pergi menuju ke kamarnya dengan keadaan lesu nan lelah.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 4: Kehadiran Siswa Baru