100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 25: Hancurlah Kota Machina!



“Ini sudah berakhir!”


Semua orang bersorak kemenangan saat melihat Turpin yang akan dieksekusi oleh Kartu AS HSO, Bizmark. Meskipun banyak yang tidak senang dengan sikap angkuh Bizmark, tapi jika berbicara soal mengalahkan musuh kuat maka dia sangat bisa diandalkan.


“Bagaimana bisa? Bagaimana ini bisa terjadi!?” hardik Turpin tak menerima kekalahannya.


“Tentang apa? Mengenai pukulan tadi?” sahut Bizmark dengan nada meledek, “Kau seharusnya tahu bahwa informasi dari saksi mata bisa menjadi salah satu senjata dalam pertempuran.”


Bizmark kembali mengingat kejadian saat dirinya menerima pukulan mutlak dari Turpin hingga menghantam permukaan. Saat itu dirinya sama sekali tidak bergerak karena sedang mendengarkan informasi Marva melalui intercom.


Selain memberikan informasi mengenai senjata Turpin yang merupakan barang dari Museum Magi, Marva juga memberikan informasi yang mungkin akan berguna bagi Bizmark.


Informasi tersebut dia peroleh setelah mengutus beberapa pahlawan ke labolatorium. Seluruh pelosok bangunan dipenuhi dengan mayat polisi dan yang berhasil selamat hanya para ilmuwan. Beberapa pertanyaan langsung diajukan kepada para korban yang selamat, salah satu informasi yang menarik perhatian Marva adalah mengenai seorang ilmuwan yang sempat menyiramkan cairan ke dada Turpin.


Informasi tersebut lah yang membuat Bizmark sebelumnya memilih untuk melancarkan pukulan ke dada musuhnya ketimbang mengambil kembali senjatanya. Apalagi pada saat itu Turpin tak menyadari armor pada dadanya mengalami korosi.


Turpin yang menyadari apa yang dimaksud oleh Bizmark pun mulai menaruh dendam terhadap para ilmuwan yang ia temui tadi.


“Ada kalimat terakhir!?” celetuk tiba-tiba si pahlawan.


Turpin tak berkutik saat melihat partikel energi yang mulai berkumpul di moncong senjata sniper milik Bizmark mengarah kepadanya. Posisinya kini sangat buruk dan tidak menguntungkan karena selain ditodong sniper oleh Bizmark, para pahlawan dan polisi yang sudah berhasil membereskan monster-monster mulai mengepung dirinya. Keadaan pun semakin diperburuk setelah dirinya menerima pukulan telak tepat di dada hingga muntah darah.


Sebenarnya sosok berjubah itu bisa saja terbang menggunakan arc reactor-nya, tapi dia sama sekali tidak melakukan hal itu entah apa alasannya. Dirinya hanya bisa memegang dada sambil mengepalkan kedua tangan kuat-kuat, dari balik topeng besi itu mungkin dia menatap benci pahlawan di hadapannya.


Energi pada moncong sniper Bizmark terlihat semakin memadat, bersamaan dengan suara mekanisme yang menginformasikan proses pengisian akan berakhir.


「Charge sudah mencapai 93%, bersiap untuk melepaskan energi….」


“Tidak ada? Baiklah, selamat tinggal—”


*Crack!*


Saat Bizmark hendak menarik pelatuk seraya mengucapkan salam perpisahan kepada musuhnya, tanah di belakangnya tiba-tiba saja retak, demikian juga dengan tanah di belakang Turpin.


Keduanya sontak melemparkan pandangan kepada sumber suara dan mendapati kemunculan sosok monster humanoid yang hendak menyerang mereka menggunakan rantai berduri. Wujud monster-monster itu mirip seperti mayat hidup Prajurit Sparta.


Bizmark mau tidak mau harus menggunakan bayonet pada snipernya untuk menebas tangan dan menusuk perut monster tersebut.


“Menyingkirlah!”


Dengan perasaan kesal, Bizmark langsung menarik pelatuknya dan menembak monster tersebut dengan energi yang sudah ia kumpulkan. Energi yang memadat itu langsung meledak dan menghancurkan tubuh si monster sampai tak tersisa.


Semua orang yang menyaksikan hal itu meneguk ludah karena kedahsyatannya. Mereka pun sangat yakin untuk tidak akan pernah berurusan dengan sosok pahlawan itu atau diri mereka mungkin akan bernasib sama dengan monster tadi.


Di sisi lain, Turpin yang tak memegang senjata apapun selain sarung tinju hanya bisa menahan rantai-rantai berduri tersebut agar tidak melilit dirinya. Dirinya melihat sekilas pupil mata dari monster tersebut lalu berdecak kesal sekaligus heran.


“Kalian lagi!?”


Turpin pun sama kesalnya dengan Bizmark, dengan seluruh tenaga ia menggenggam rantai berduri itu lalu melempar senjata itu sekaligus dengan pemiliknya ke arah Bizmark. Alhasil, perhatian musuhnya teralihkan kepada monster yang ia lempar, bahkan seluruh perhatian pahlawan dan polisi pun juga teralihkan oleh hal itu.


Sosok berjubah itu langsung mengambil kesempatannya untuk menyimpan sarung tinjunya ke dalam topi lalu melemparkan tujuh buah kartu remi. Beberapa monster yang muncul dari kartu tersebut segera melesat menuju senjata Turpin dan masing-masing membawa senjata tersebut kembali ke pemiliknya, sedangkan sisanya menerjang ke arah Bizmark yang sudah selesai memenggal monster humanoid sebelumnya.


Meskipun diserang oleh empat monster sekaligus, Bizmark dengan sangat mudah menebas semuanya sekaligus dalam satu tebasan horizontal. Masing-masing monster langsung kehilangan nyawa sebelum menyadari tubuh mereka telah terbelah menjadi dua.


Setelah beres menghabisi monster-monster itu, ia kembali fokus pada Turpin tapi sosok itu ternyata sudah tidak ada di posisinya. Sebelumnya dia sempat mendengar beberapa orang berusaha memberitahu dirinya tentang Turpin yang hendak kabur bahkan tidak sedikit tembakan terdengar, tapi ia memilih untuk mengabaikan bunyi-bunyi itu karena yakin musuhnya tidak akan bisa lolos.


Ia melirik ke sana kemari mencari keberadaan Turpin tapi tak menemukan sosok berjubah itu, saat mendongak ke atas ternyata Turpin yang berusaha lari menggunakan salah satu monsternya yang berwujud mutasi burung.


Bizmark yang tak membiarkan musuhnya lolos menggunakan monster itu mulai mengarahkan artileri di bahunya ke arah monster burung Turpin, tapi rupanya masih ada dua monster yang tiba-tiba muncul berusaha mengulur waktu bagi tuannya untuk kabur.


Monster burung tersebut terus mengangkat tuannya hingga mencapai puncak shelter. Turpin sedikit bernapas lega karena merasa berhasil lolos, namun momen itu tak berlangsung lama karena monster yang dia pegang tiba-tiba saja kehilangan tenaga untuk mengepakkan sayapnya.


Buru-buru sosok berjubah itu mendaratkan kaki ke puncak tebing, lalu menoleh penasaran terhadap monsternya yang tiba-tiba terjatuh lemas. Lubang beserta darah nampak dari tubuh monster tersebut yang mengindikasikan ia tertembak.


Pahlawan yang menggunakan sniper bernama HIT menjadi pelaku dari penembakan tersebut. Tanpa memberi napas bagi musuhnya, dia mengganti peluru lalu kembali menembakkan peluru selanjutnya ke arah Turpin.


Kecepatan melesatnya peluru sangat tinggi, membuat Turpin yang terlambat menyadarinya langsung tertembak tepat di bagian wajah kiri. Beruntungnya topeng besi Turpin sangat kuat membuat peluru sniper HIT tidak menembus kepalanya, hanya mengakibatkan retak yang menjalar ke seluruh topeng. Meskipun demikian, dia tetap berdecak kesal sambil memegang wajahnya.


Bizmark terlihat seolah menatap sinis HIT karena ikut campur pertarungannya dengan Turpin. Pemilik sniper yang menyadari tatapan itu mengarah kepadanya langsung menurunkan senjata dan membuang muka ke belakang sebelum sesuatu yang buruk menimpa dirinya.


Penampilan Turpin cukup berantakan, armor dadanya berkarat dan hancur, jubahnya dipenuhi dengan lubang bekas tembakan, dan topengnya retak. Dengan kondisinya yang seperti itu, sangat kecil peluang baginya untuk menghadapi musuh-musuh di permukaan. Dia pun menghela napas seraya menyesali sesuatu di dalam hati.


‘Berurusan dengan pahlawan bernama Bizmark itu benar-benar membuatku lupa dengan tujuan awal aku datang kemari… jika seandainya aku fokus dengan tujuan awal, mungkin sekarang kondisiku tidak akan seperti ini….’


Turpin menatap sejenak matahari yang posisinya sudah berada tepat di atas sebelum pada akhirnya mengalihkan pandangan ke sumber suara yang tiba-tiba terdengar dari langit. Helikopter jemputannya kini tengah terbang menuju ke arahnya.


‘Ya, sudahlah… setidaknya aku sudah memastikan seluruh penduduk telah dievakuasi. Sebentar lagi semuanya akan berakhir!’


Bizmark paling pertama menyadari kehadiran helikopter itu segera mengisi energi pada moncong snipernya, pandangannya terus-menerus tertuju ke puncak shelter.


“Aku akan menghancurkanmu dalam satu serangan!” ucapnya.


Suara baling-baling helikopter mulai merambat memenuhi telinga semua orang, hanya Fluarite lah yang menyadari sesuatu melalui pendengarannya.


*Bip! Bip! Bip!*


“Ini… suara bom?”


Suara itu memang nyaris tak terdengar karena tertutupi oleh suara baling-baling helikopter, tapi entah bagaimana Fluarite bisa menyadarinya dan langsung memberi peringatan kepada seluruh rekannya. Semuanya langsung panik bukan main mendengar peringatan tersebut tapi tak tahu harus berbuat apa.


Sementara Turpin langsung meraih tangga tali yang diturunkan dari helikopter sambil terkikik jahat, dirinya mulai terangkat ke atas dan menjauh, menatap seluruh musuhnya yang terlihat panik di bawah sana. Kemudian sosok berjubah itu menekan intercom yang terpasang di telinganya dan berkomunikasi kepada seseorang dengan alat itu.


“Apa kau dengar aku, Yoz? Lakukan!”


Suara bom sebelumnya mulai terdengar keras sehingga para pahlawan dan polisi kini bisa mendengar dengan jelas. Anemos langsung tahu bahwa hitungan mundurnya sudah semakin dekat meskipun sama sekali tak terdengar hitungan angka mundur. Turpin sendiri mulai menghitung mundur mengikuti suara bom.


“TIGA!”


“DUA!”


‘Sial!’ Ignis mengumpat kesal dalam hati.


“SATU!”


*— —!*


Saat hitungan mundur Turpin berada di angka satu, suara bom tiba-tiba terdengar memanjang tapi tidak terjadi apa-apa setelah itu. Semuanya mulai kebingungan dengan suara memanjang itu, tapi tetap mempertahankan kewaspadaan mereka.


“Apa yang—”


Berbanding terbalik dengan Turpin yang justru sadar bahwa bomnya sama sekali tidak meledak. Secepat kilat ia menatap ke arah tebing bagian selatan kota sambil mengepal tangan geram. Dari sikapnya saja, bisa dikatakan bahwa rencananya mungkin telah gagal.


“Bocah sialan! Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan, hah!?”


「Charge sudah mencapai 100%, energi sudah siap untuk dilepaskan!」


Sementara Bizmark yang sedari tadi mencoba membidik helikopter Turpin hingga mengabaikan peringatan Fluarite langsung menarik pelatuk snipernya.


“Kena kau!”


*SYUUUU!*


“Celaka!”


*BOOOOMMM!!*


Bola energi yang sudah Bizmark kumpulkan langsung melesat ke arah target dan meledak hebat di cakrawala, menghancurkan helikopter beserta semua orang yang berada di dekatnya. Fenomena itu hanya berlangsung sementara layaknya kembang api dan diakhiri dengan hujan abu.


Semuanya terkesiap dengan apa yang mereka lihat, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena pandangan yang terhalang oleh abu tapi mereka tahu bahwa semuanya sudah berakhir. Bahkan suara bom sebelumnya ikut menghilang setelah ledakan di langit. Semuanya kembali menyorakkan kemenangan seraya menyebutkan nama Bizmark berulang kali.


“Misi selesai!” ucap Bizmark lalu menopang snipernya di bahu.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Setelah perjalanan yang menguras tenaga dan waktu, Yoz akhirnya tiba di tempat tujuan dan berdiri tepat pada puncak tebing bagian Selatan Kota Machina. Kondisi keseluruhan kota bisa terlihat dari posisi ia berdiri.


Terlihat sungai yang mengalir di bagian tenggara kota, hutan-hutan yang menghiasi barat daya kota, tebing-tebing tinggi yang dibangun di pusat kota, serta beberapa fasilitas lainnya yang menjadi poin-poin penting dari keindahan dari kota Machina. Namun nahasnya, pemandangan indah kota tak bisa dirasakan sekarang karena malapetaka yang menimpa kota tesebut.


Asap-asap hitam menghiasi hampir di seluruh sisi kota akibat ledakan dan serangan para monster, tapi yang terkena dampak paling parah adalah bagian utara dan pusat kota. Bahkan Yoz sempat melihat hampir seluruh monster dari penjuru kota berlari menuju bagian utara kota Machina. Satu kata saja cukup untuk menggambarkan kondisi Kota Machina saat ini.


“Mengerikan…” ucap Yoz.


Jeritan memilukan orang-orang yang ada di kota terbawa oleh udara dan sampai di telinga, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding termasuk Yoz. Tubuhnya terasa mati rasa saat melihat pemandangan mengerikan itu dari kejauhan, bahkan wajahnya hampir tak bisa mengekspresikan apapun pada saat itu. Tanpa disadari sebulir keringat menetes di wajahnya, padahal cuaca pada saat itu tidak terik.


Kemudian dia mengambil sesuatu dari kantong celananya dan menatap kosong ke benda yang dipegangnya. Benda itu adalah sebuah kalung indah berwarna biru safir, serta sebuah nama yang bertuliskan nama ‘Annariel’ terukir di sana.


Tidak ada satu pun yang tahu apa isi dari kepalanya sekarang, tapi nampaknya ada sesuatu menjanggal pikirannya.


“Apakah keputusanku sudah tepat?” ucapnya sendiri ragu-ragu.


Bisa dikatakan, di dalam dirinya sedang terjadi pergolakan hebat antara hati nurani dan keegoisannya. Bahkan keraguannya semakin menjadi-jadi setelah mendengar suara pilu orang-orang, hingga pada akhirnya suara bisik entah darimana asalnya membuyarkan lamunannya.


「Lakukan!」 bisik suara misterius itu di telinganya.


Yoz pun tersadar dan melirik ke arah intercom yang dia peroleh dari Paman Hans sebelumnya. Ekspresinya sedikit berubah ketika mendengar suara barusan, seolah tidak senang mendengar perintah itu namun dia harus menurutinya demi mencapai tujuannya.


“Huh… kenapa aku ragu untuk melakukannya? Aku adalah bidak yang harus menuruti perintahnya, bukan?” ucapnya berusaha menyakinkan diri sendiri seolah-olah terpengaruh oleh suara bisikan itu.


Sesudah mengucapkan kalimat itu, dia memejamkan mata lalu mengatur pernapasannya. Siluet Arda, Nia, Pami, Shela, Knighto, Suryadi, Paman Hans dan ibunya tiba-tiba terlintas di benaknya. Setelah berpikir sejenak, dia membuka mata dan menghela napas sedalam-dalamnya.


“Baiklah, sudah aku putuskan…” sahutnya kemudian menekan tombol pada intercom untuk membalas suara tadi, “aku siap, Turpin! Berikan aba-abamu!”


「TIGA!」


Beriringan dengan hitungan mundur dari Turpin, Yoz menatap kota itu dengan penuh keseriusan. Tangan kanannya memegang erat kalung safir miliknya, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah detonator berwarna hitam dengan tombol merah di tengahnya lalu diangkat ke atas.


「DUA!」


Detik-detik dimana seluruh penderitaannya selama ini mungkin akan berakhir. Tujuan utama dari rencana yang ia ikuti selama ini. Kini hanya ada satu hal di benaknya.


‘Hancurlah, wahai Kota Machina! Rata lah dengan tanah! Dan terimalah balasan yang setimpal dengan apa yang telah kalian perbuat selama ini, pahlawan!’


「SATU!」


“YOZ!”


Saat kota yang telah berdiri selama beratus-ratus tahun ini nyaris hancur, lebih tepatnya di saat jempol Yoz nyaris menekan tombol detonator, tiba-tiba suara yang berasal dari belakang meneriaki namanya.


Aksi Yoz tertahan karena suara yang ia dengar adalah suara yang sangat ia ingat. Dia pun menurunkan tangan kirinya dan menoleh ke belakang memastikan sumber suara. Di sana berdiri seorang pemuda yang napasnya terengah-engah serta dengan tatapan yang serius. Orang itu adalah teman sebangku Yoz atau mungkin bisa dikatakan sahabat satu-satunya, Suryadi Gunwan.


“Sur... ya... di...?” ucap Yoz tak menduga akan kehadiran pemuda itu.


Pemuda berkemeja orange itu mulai mengatur napasnya lalu berjalan mendekati Yoz, tapi langkahnya terhenti ketika menyadari tatapan temannya yang kosong seolah-olah itu bukanlah sahabat yang dia kenal.


Sontak saja matanya melebar saat melihat hal itu, tapi hanya berlangsung sementara sebelum pada akhirnya matanya kembali serius karena ia sadar ada hal yang lebih penting untuk dikatakan.


“Yoz, hentikan semua ini!”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 26: Terlalu Lemah