
“…”
Yoz duduk dalam posisi tangan memeluk lutut, wajahnya tak terlihat sebab tertutup oleh kedua kaki dan tangan. Terdiam di tempat yang gelap tak berujung, tidak ada apapun di sana selain kehampaan. Tempat itu seperti menggambarkan hatinya sekarang, kosong dan juga gelap.
Entah sudah berapa lama ia di sana, yang jelas tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam diri. Sebab yang menemaninya hanyalah rantai-rantai yang mengekang pergelangan tangan dan kakinya.
Tanpa ia sadari, tiba-tiba seseorang yang entah dari mana muncul di hadapannya dan berjalan mendekat dengan santai. Saat sudah sampai di depan Yoz, sosok itu mengelus lembut kepalanya.
Kegelapan tak berujung di sekitar mereka perlahan menghilang dan digantikan oleh tempat putih bersih. Rantai-rantai yang mengekang Yoz juga secara tiba-tiba pecah dan lenyap seperti abu.
Yoz yang menyadari semua kejadian tiba-tiba itu mendongak ke atas. Matanya melebar saat melihat wajah sosok yang mengelusnya, bahkan air matanya mulai keluar dari sudut mata tapi masih tertahan di sana tanpa ada setetes pun yang jatuh membasahi pipi.
“Kamu tidak banyak berubah selama 3 bulan terakhir, ya?”
“Pa… man…?”
Meskipun sempat melihat pria tua itu beberapa jam yang lalu, tapi perasaan kali ini sangat berbeda. Paman Hans yang dilihatnya kali ini terasa seperti sosok yang ia cari-cari selama ini.
Paman Hans hanya memberikan senyuman seraya mengulurkan tangan untuk membantu Yoz berdiri. Tawaran tersebut langsung diterima oleh pemuda itu dengan wajah yang sedikit berseri-seri. Tangan besar itu terasa hangat saat Yoz memegangnya.
Setelah itu, keduanya hanya berdiri dan saling menatap satu sama lain sebelum pada akhirnya Paman Hans membentangkan tangan seakan menawarkan sebuah pelukan. Yoz tanpa pikir panjang memeluk erat pria tua tersebut erat-erat, takut akan kehilangan kembali sosok pamannya tersebut.
Yoz benar-benar tidak mengatakan apa-apa saat itu, hanya napas yang diiringi isak tangis yang keluar dari mulutnya. Paman Hans mengelus rambut keponakannya dengan lembut selama beberapa saat kemudian mengatakan sesuatu dengan wajah sedih.
“Maaf karena Paman tidak bisa membawa pulang ibumu kepadamu…” ucapnya menyesal.
Yoz menghela napas panjang lalu melepaskan pelukan pamannya, tatapan pasrahnya diberikan kepada pria itu sambil berkata, “Paman sudah melakukan yang terbaik untukku, justru akulah yang seharusnya berterima kasih atas apa yang sudah Paman lakukan selama ini.”
Paman Hans merasa terharu mendengar kalimat itu dari Yoz, ia merasa seperti melihat anak kandungnya sendiri. Tapi wajahnya berubah sedikit serius karena tujuannya mendatangi Yoz bukan hanya untuk reuni mengharukan seperti tadi.
“Paman beruntung karena bisa menemuimu di saat yang tepat seperti sekarang….”
“Apa maksud Paman?”
“Kamu sudah mengetahui mata kananmu itu, bukan?”
Yoz menundukkan kepala dan memberikan satu anggukan membenarkan kemudian menjawab, “Ya, aku mengetahuinya.”
“Kesadaranmu sudah nyaris diambil alih oleh makhluk yang bersemayam di dalam matamu, apa kamu tidak menyadarinya?” tanya Paman Hans heran.
“Untuk apa? Aku tidak memiliki alasan untuk kembali, tidak ada orang yang harus kulindungi. Paman sudah lama meninggalkanku, sekarang aku melihat secara langsung ibuku tewas oleh monster….”
Paman Hans mematung sejenak, kemudian memalingkan wajah seraya menggaruk-garuk kepala bingung ingin berkata apa meskipun bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
“Mungkin aku akan menyusul kalian berdua setelah ini…” imbuh Yoz.
Di tengah-tengah percakapan mereka berdua, tiba-tiba suara ibu Yoz yang memanggil nama anaknya bergema di tempat itu, mengejutkan kedua orang yang mendengarnya terutama Yoz. Pemuda itu menoleh ke sana kemari setelah mendengar suara barusan, bingung dengan apa yang didengarnya tadi.
Sedangkan Paman Hans hanya tersenyum kepada keponakannya, nampaknya ia sudah mendapatkan kata-kata yang tepat untuk membalas kalimat Yoz sebelumnya.
“Apa kamu dengar suara itu? Ibumu masih hidup dan dia memanggil namamu. Seseorang harus menolongnya dan satu-satunya yang bisa melakukannya adalah dirimu,” ucapnya seraya menempatkan jari telunjuk di dada Yoz.
Yoz tersadarkan oleh kalimat itu, tapi dirinya bingung harus melakukan apa. Pamannya yang seperti mengetahui akan kebingungan Yoz langsung memegang bahu keponakannya, mengakibatkan Yoz menatap wajah pamannya dan mendapati wajah serius di sana.
“Kamu mengingat apa yang menjadi pemicu dari semua ini?” tanya Paman Hans dengan penuh harapan.
Yoz berpikir sekuat tenaga untuk mengingat apa yang membuat tubuhnya diambil alih. Setelah usaha keras menjelajahi seluruh ingatannya, ia akhirnya menyadari sesuatu. Setiap kali ia merasakan amarah dan dendam, maka akan muncul suara bisikan yang entah dari mana akan menghasut dirinya.
Beberapa ingatan yang bisa menjadi buktinya adalah seperti saat dia dicemooh oleh teman-teman kelas kemarin, saat dia berkelahi dengan Suryadi di puncak tebing, serta saat dia melihat ibunya yang terluka karena berusaha melindungi dirinya dari monster. Ketiga hal itu memiliki kemiripan yang serupa satu sama lain.
“Amarah dan dendam,” jawab Yoz.
Paman Hans pun membalas, “Kau sudah tahu apa yang harus dilakukan, bukan?”
“Tapi… aku tidak bisa memaafkan Turpin! Dia yang sudah membunuh Paman bahkan melukai ibu! Aku tidak mungkin bisa menghapus amarah dan dendamku terhadapnya!” ungkap Yoz kesal hingga mengepal tangan.
Pandangan Paman Hans ke bawah, merenung sejenak sebelum pada akhirnya membalas, “Ada satu hal yang perlu kamu ketahui, Turpin bukan pelaku dari kematian Paman.”
Yoz terheran mendengar pernyataan barusan, padahal dia sudah sangat yakin dalang dari semua yang terjadi adalah Turpin tapi pamannya seakan menyangkal semua itu begitu saja.
“Apa maksud Paman?”
“Dia tidak sejahat seperti yang kamu pikirkan. Sebenarnya Paman tidak ingin mengakuinya, tapi apa yang ia katakan tentang sistem pahlawan ada benarnya….”
Setelah mengatakan hal itu, jarak di antara keduanya tiba-tiba terasa semakin menjauh. Yoz yang tidak puas dengan jawaban itu hendak meraih pamannya tapi tangannya justru menembus tubuh pria tua itu seolah-olah yang ia lihat sekarang adalah sebatas roh tanpa wujud fisik.
“Meskipun begitu, cara yang ia lakukan tetaplah salah, ada yang harus menghentikannya sebelum dia menghancurkan dirinya sendiri,” ucap Paman Hans yang semakin menjauh serta memudar.
Yoz pun masih bersikeras untuk menangkap pamannya meskipun hasilnya tetap sama yakni menembus. “Kumohon jangan pergi dulu, Paman! Apa maksud dari ucapan Paman barusan? Apa yang harus aku lakukan?”
“Suatu saat kamu akan mendapatkan jawabannya, Yoz….”
Bersamaan dengan kalimat itu, wujud Paman Hans menghilang seperti asap yang tertiup angin tapi kata-kata terakhirnya masih merambat memasuki telinga Yoz.
“―karena Paman yakin kamu bisa mengalahkannya….”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
“Benar-benar merepotkan!”
Usai mengeluh, Turpin berjalan mendekati bola batu raksasa ciptaannya. Sebuah lubang dengan diameter sepanjang 8 meter muncul pada dinding kubah saat Turpin menekan tombol di tangannya. Berikutnya Turpin mengambil sebuah kartu remi dan dilemparkan dekat bola batu raksasa tersebut.
Sosok monster raksasa mirip seperti mutasi gajah muncul dari kartu remi dan menatap tuannya menunggu perintah. Turpin menjentikkan jari dan langsung direspon oleh monster tersebut yang mendorong bola batu raksasa menuju lubang kubah.
Saat sudah hampir melewati batas antara di dalam dan di luar kubah, tentakel-tentakel hitam milik Amalgam tiba-tiba keluar dan mencekik si monster dengan kuat. Saking kuatnya cekikan Amalgam, makhluk meronta-ronta kesakitan dan menarik Amalgam keluar dari batu raksasa.
Hanya dalam belasan detik saja, makhluk besar itu akhirnya tumbang tak bernyawa. Amalgam menginjak makhluk tersebut seraya meraung kencang. Ia kini dapat berdiri menggunakan kedua kakinya, membuat Turpin bergidik pelan karena merasakan firasat buruk.
‘Dia sudah berhenti merangkak?’ pikirnya.
Amalgam yang merasa benda aneh menempel pada punggungnya menggunakan salah satu tentakel untuk mencabut lencana yang dipasang oleh Turpin sebelumnya. Bola batu raksasa di belakangnya seketika hancur dan memperlihatkan bola transparan yang ternyata baik-baik saja.
Makhluk emas itu menatap kedua tangannya selama beberapa detik, kemudian menoleh ke arah Turpin sambil menunjuk. Mengindikasikan targetnya telah berubah kembali ke Turpin. Dia berjalan perlahan mendekati musuhnya, dengan tangan kanan yang mengepal.
Turpin memasang posisi siaga, ia juga mengepalkan tangan kanannya lalu berjalan mendekati lawan. Saat jarak keduanya hanya tersisa satu meter, masing-masing pihak secara bersamaan melancarkan tinju. Efek dari dua kepalan tangan yang beradu tersebut menggetarkan tanah sekitar.
Saat tinju Amalgam beradu dengan tinju lawannya, kulit emas dari tangan makhluk itu seolah-olah pecah dan berubah menjadi kulit manusia. Pecahan itu terus menyebar dari pergelangan tangan hingga kaki, bahkan wajah Amalgam ikut pecah tak bersisa.
Turpin terkejut saat mendapati wajah makhluk emas itu sudah menghilang dan digantikan oleh wajah Yoz yang sudah sadar sepenuhnya. Sekilas ia melihat pupil mata kiri dari pemuda itu yang sangat hitam seakan menggambarkan kegelapan dan kehampaan di dalamnya.
“Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Turpin.
Yoz pun menjawab, “Entahlah, aku hanya mencoba mengendalikan emosiku….”
Segera setelah jawaban itu, sebuah aura hitam tiba-tiba muncul menyelimuti Yoz. Mata Turpin melotot tak percaya melihat energi hitam itu langsung di hadapannya, perasaan aneh kembali menghantui pikirannya mengakibatkan jantungnya berdegup kencang.
‘Ke-kenapa a-aku???’
Buru-buru Turpin melesat mundur, napasnya terengah-engah serta keringat yang nampak menghiasi wajah kirinya. Perasaan aneh itu semakin menjadi-jadi, saat dia melihat wajah Yoz muncul sekilas siluet pria dewasa yang berdiri di atas tumpukan mayat.
‘I-ingatan ini?’
Kilasan siluet itu terus bermunculan dalam waktu sepersekian detik di benaknya, sampai-sampai ia memegang kepala dan mengerang kesakitan.
Yoz yang kebingungan terhadap apa yang terjadi dengan musuhnya kembali menatap kedua tangan. Ekspresi terkejut yang serupa menghiasi wajah Yoz, ia sendiri baru menyadari aura yang melapisi tubuhnya. Pantas saja respon Turpin begitu heboh.
“Energi apa ini?” tanya Yoz terheran-heran.
Setelah rasa sakit pada kepala hilang, Turpin kembali berdiri tegak dan bertanya kepada Yoz, “Sebenarnya siapa kau ini?”
Namun pertanyaan Turpin diacuhkan oleh Yoz, pemuda berjaket merah itu justru sibuk melihat ke arah bola transparan yang membungkus aman ibunya. Pemuda berjaket merah mengelus dada dengan wajah lega.
“Syukurlah ibu tidak terluka….”
Urat pelipis timbul di wajah Turpin, dia langsung melesat ke arah Yoz dan mendaratkan pukulan di kepala lawannya.
“Lebih baik kau tidur kembali dan biarkan Amalgam mengambil alih tubuhmu!”
*Bruak!*
“Apa?”
Turpin bingung sebab melihat tangannya justru menghantam tanah, dirinya membelakangi Yoz begitu saja seakan tidak terjadi apa-apa sedari tadi, padahal dirinya sangat yakin mendaratkan pukulan ke dahi lawannya tapi langsung tertembus begitu saja layaknya memukul angin.
Tak menyerah begitu saja, Turpin kembali berdiri dan bergerak cepat meluruskan jari-jarinya, kemudian mengayunkan tangannya menargetkan tengkuk Yoz tapi hasilnya tetap sama. Jari-jarinya tumpang justru tumpang tindih dengan tengkuk Yoz dan lewat begitu saja, tubuh pemuda itu seakan tidak berwujud sama sekali.
Turpin membatin, ‘Jadi aku tidak salah lihat? Tubuhku benar-benar menembusnya begitu saja!’
Meskipun serangan Turpin tidak berkesan, nyatanya Yoz terkesiap akan serangan tiba-tiba barusan. Keduanya memberikan ekspresi yang serupa, namun Turpin menganggap ekspresi Yoz sebagai hal lain.
“Tcih! Jangan mengejekku, bocah sialan!”
Luapan emosi itu memancing Turpin untuk menggunakan sarung tinjunya dan melancarkan pukulan di wajah lawannya. Wajah Yoz berubah menjadi serius, dirinya menelengkan kepala guna menghindari serangan itu, lalu membalasnya dengan pukulan serupa ke arah area wajah kiri Turpin yang tak terlindung oleh topeng besi.
*Blam!*
“Uggh!”
Pukulan mutlak itu membuat Turpin mundur beberapa meter, rasa sakit pada wajah pun tak dapat terhindarkan. Dirinya memegangi wajahnya, mengumpat dalam hati sembari menatap sinis Yoz.
‘Dia menembus seranganku kemudian memberikan serangan balasan? Bagaimana bisa dia melakukannya di waktu bersamaan?’
Yoz kembali melihat kedua tangannya dengan ekspresi wajah terkagum-kagum dengan apa yang ia lakukan barusan. Sebenarnya sewaktu mencoba melancarkan pukulan, dirinya cukup terkejut tubuhnya terasa berbeda.
Serangan yang dilancarkan jauh lebih besar, otot-otot yang terasa lebih kuat, serta tenaga dalam tubuh yang pulih padahal sudah melancarkan serangan pamungkas andalannya yang sangat menguras tenaga. Kekaguman Yoz terhadap peningkatan pada tubuhnya sayang harus terhentikan oleh celetukan Turpin.
“Mengapa kau bisa mendapatkan kekuatan seperti itu? Dari mana kau mendapatkannya?”
Yoz mengangkat bahunya kemudian menunjuk, “Aku pun juga tidak tahu, tapi yang jelas aku akan mengalahkanmu dengan kekuatan ini!”
Turpin tertegun saat mendengar ucapan tersebut, perasaan déjà vu menjadikan Turpin mengambil satu kesimpulan. Tatapannya kini berubah menjadi amarah dan dendam, tanpa menunggu lama ia menyimpan sarung tinjunya dan menarik pedang katana dari topinya.
“Sekarang aku mengerti… kau adalah pelaku dari tragedi itu!” ucapnya.
Yoz tak memberikan respon atau ekspresi apapun, ia tak mengerti maksud dari kalimat singkat Turpin barusan. Ucapan Turpin terkesan konyol bagi Yoz, sebab selama ini ia tidak pernah terlibat dengan kejadian apapun yang berkaitan dengan Turpin atau pun orang lain.
“Lalu kau bilang ingin mengalahkanku dengan kekuatan itu? Kau hanyalah sebuah wadah dari Amalgam, jangan pernah berpikir kau bisa melakukan sejauh ini tanpa bantuan dari makhluk itu!”
Ucapan barusan cukup menusuk Yoz, bisikan yang sama kembali menghasut dirinya tapi kali ini ia bisa mengabaikan bisikan tersebut dan melontarkan kembali ucapan Turpin dengan kalimat yang sama pedasnya.
“Lalu apa kau berpikir bisa melakukan sejauh ini tanpa bantuan dari besi rongsokan yang menempel di tubuhmu itu?”
Kalimat balasan Yoz membuat Turpin tersulut emosi, dia berbicara dengan suara halus tapi penuh dengan hasrat membunuh, “Akan kubuat kau membayarnya!”
“Meskipun kau bisa mengalahkanku, apa yang akan kau lakukan setelahnya? Rencanamu sudah gagal, aku tidak akan membiarkan makhluk di dalam diriku mengambil alih tubuhku. Saat kubah raksasa ini berhasil dihancurkan, maka kau sudah kalah mutlak!” komentar Yoz.
“Rencanaku gagal? Apa kau yakin?” Turpin mengangkat tangannya lalu menunjuk ke langit, “Dari arah timur, sebuah pesawat dengan codename ‘Nerous’ sedang menuju ke sini.”
Seperti dipandu oleh Turpin, Yoz menatap ke arah mana musuhnya menunjuk. Meskipun tak menemukan apa-apa, Yoz merasa kalimat itu bukanlah tipuan atau gertakan semata.
“Apa kau tahu berapa berat dari Nerous? Beratnya bisa mencapai 200 ton,” kata Turpin dengan antusias, “Pesawat itu membawa bahan peledak yang cukup banyak di dalamnya.”
Yoz terbelalak terkejut karena mulai memahami maksud Turpin, dia meneguk ludah dan tubuhnya menegang. Dirinya sangat yakin Turpin berkata yang sebenarnya, tatapan dari pupil merah pria itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi buktinya.
“Jika Nerous beserta isinya terjatuh dari ketinggian 35.000 kaki, maka dampaknya akan cukup untuk meledakkan kota!” Kemudian Turpin menunjukan sebuah alat yang mirip seperti ponsel kepada Yoz, “Sebagai buktinya, ini adalah terminal kendali Nerous. Sekarang apa kau masih yakin aku sudah kalah?”
Yoz menatap ke sana kemari bingung harus melakukan apa, banyak hal yang harus ia lakukan. Ibunya harus diselamatkan secepat mungkin tapi kubah raksasa itu membuatnya tidak bisa keluar, sekarang pesawat Nerous sedang menuju kemari dan berpotensi untuk menghancurkan kota.
Dirinya memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas panjang. Kini hanya ada satu jawaban yang bisa ia lakukan. Pemuda itu berjalan ke samping beberapa langkah mengabaikan Turpin yang memperhatikannya dalam keheranan.
Setelah beberapa meter melangkah, Yoz segera menunduk dan memungut pedang milik Arda yang sebelumnya terhempas akibat hembusan angin ciptaan Turpin.
“Turpin… sebelumnya kau bilang di dunia ini sudah tidak ada satu pun manusia yang bersedia melindungi orang-orang dengan tulus, bukan?” Yoz berbicara dengan suara penuh percaya diri, tanpa ragu-ragu dia mengarahkan bilah katana ke arah Turpin dengan wajah serius.
“Kalau begitu aku akan menjadi yang pertama, akan kulindungi kota ini!”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 31: Adaptasi