
“Maksudnya ini semua bukan karena keinginanmu?”
Suryadi menyadari hanya ada satu kemungkinan atas apa yang tengah dihadapi oleh temannya, yaitu ada pihak ketiga di balik semua ini. Terutama setelah melihat tatapan Yoz yang mengindikasikan keseriusan pemuda itu.
Tapi ia mencoba menolak kemungkinan tersebut karena berpikir tidak mungkin seseorang bisa menghancurkan kota hanya karena keterpaksaan saja, semua perbuatan pasti dilandasi atas keinginan atau tujuan pribadi termasuk Yoz.
Dia pun mendekat lalu menarik jaket Yoz kuat-kuat. Tidak puas dengan apa yang sudah didengarnya, ia kembali bertanya dengan suara lantang, “Jawab dengan benar, sialan! Tidak mungkin kau melakukan semua ini jika kau tidak menginginkannya!”
Yoz tidak berkomentar lebih panjang, ia hanya membalas dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya dengan wajah penuh kepasrahan, “Lantas… apa yang harus aku lakukan?”
“Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaan itu jika kau saja tidak menjelaskan maksudmu!” balas Suryadi sedikit kesal.
Yoz tersenyum tipis, tidak diketahui apa makna dari ekspresi itu tapi yang jelas dia berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.
“Semua yang aku lakukan ini atas dasar untuk menyelamatkan nyawa ibuku!” ungkapnya.
Suryadi terbelalak terkejut mendengarnya, dia pun langsung melepas cengkeramannya dari jaket temannya dan mundur beberapa senti. Emosinya secara perlahan padam dan justru timbul perasaan bersalah dalam diri.
“Ibu… mu…?” Suryadi memastikan.
“Aku sebenarnya juga tidak ingin melakukan semua ini… tapi aku tidak menemukan jalan keluar!” balas Yoz memegang kepala frustasi.
“Lalu… apa yang terjadi dengan ibumu…?”
Yoz terdiam sejenak, dalam keheningan itu ia melepaskan intercom dari telinganya lalu menatap alat itu cukup lama, setelahnya mengalihkan pandangan ke kota. Dia memperhatikan Kota Machina cukup lama sebelum pada akhirnya memutuskan untuk duduk.
Suryadi awalnya kebingungan melihat temannya tiba-tiba duduk, tapi ia pun juga memutuskan untuk melakukan hal yang serupa.
Yoz menghela napas cukup lama sembari mencari kata atau kalimat yang tepat untuk memulai kisahnya. Melalui hal itu saja, bisa dikatakan bahwa ini akan menjadi cerita yang cukup panjang.
“Ini mungkin akan menjadi cerita yang cukup panjang, Di…” ucapnya.
Suryadi tersenyum ramah seolah berusaha menyampaikan bahwa ia tidak keberatan akan hal itu dan membalas, “Ceritakan saja, aku akan mendengarkan.”
Yoz menghela napas sembari menatap ke bawah, menunjukkan betapa beratnya ia akan bercerita. Setelah menemukan kalimat yang tepat untuk memulai cerita, ia akhirnya buka suara.
"Jadi seperti ini ceritanya...."
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Cerita dimulai saat aku masih hidup bersama ibuku, satu-satunya orang yang selalu berada di sisiku. Sosok wanita yang begitu ramah dan lembut, apalagi dengan rambut pirang serta kacamata bulatnya yang menambah kesan kuat betapa sempurnanya ia sebagai seorang ibu.
Aku merasa beruntung memiliki sosok ibu seperti dia. Bagiku, dia adalah segalanya dan satu-satunya yang berharga dalam hidup.
Aku hidup tanpa seorang ayah, bahkan aku sama sekali tidak mengetahui nama atau siapa ayahku. Diriku sudah sering bertanya tentang ayah kepada ibu tapi sama sekali tak jawaban, aku hanya menerima wajah sedihnya setiap kali aku bertanya mengenai hal itu.
Jadi aku memutuskan untuk berhenti bertanya dan mencari tahu sendiri meskipun tidak memiliki satu petunjuk pun untuk ditelusuri, tapi aku yakin suatu hari nanti akan menemukan hal tak terduga yang akan menjawab rasa penasaran itu.
Meskipun tumbuh dan berkembang tanpa kasih sayang seorang ayah, aku beruntung memiliki seorang paman, yaitu Hans Albert.
Dia selalu memperlakukanku seperti anaknya sendiri dan aku pun menganggapnya seperti seorang ayah. Aku bisa merasakan cintanya tulus kepadaku meskipun kami jarang bertemu. Jujur, aku merasa bahagia pada saat itu sampai-sampai melupakan rasa penasaranku tentang ayahku.
Benar-benar menyenangkan saat menceritakan kisah barusan. Tanpa sadar, diriku tersenyum bahagia seolah-olah melihat kembali momen ketika aku menerima hadiah mainan dari Paman Hans, rasanya aku ingin kembali ke masa-masa seperti itu.
Saat hendak melanjutkan, ingatan indah itu seolah pecah seperti cermin. Senyuman di wajahku mulai memudar dan berubah menjadi wajah serius.
“Tapi…” ucapku.
“Tapi…?” ulang Suryadi penasaran.
Aku melihat Suryadi tak mengucapkan sepatah kata pun setelahnya, ia hanya duduk dan memasang telinga baik-baik layaknya bocah yang mendengarkan dongeng sebelum tidur. Memilih untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum melemparkan protes.
Aku paham dia sangat penasaran dengan cerita selanjutnya, tapi aku sedikit kesulitan untuk meneruskan karena ini adalah kejadian yang cukup membekas di hatiku. Aku menatap intercom di telapak tangan lalu lalu kugenggam kuat-kuat dengan penuh emosi.
Lantas aku kembali melanjutkan ceritaku sebelum Suryadi memberikan komentar pedasnya. Kehidupanku yang bahagia itu mulai berubah setelah suatu kejadian tak terduga. Semuanya berawal dari empat bulan yang lalu.
Saat itu aku pulang dari sekolah seperti biasanya, berjalan menelusuri gang sambil tertawa kecil karena mengingat lelucon Suryadi di sekolah sebelumnya. Mengabaikan tatapan dingin orang-orang yang kulewati karena mereka hanya orang-orang pengangguran yang sibuk mengurusi orang lain.
Setelah sampai di rumah, aku langsung mengetuk pintu rumah berharap ibu membuka pintu, berdiri di depan kayu berat itu dan menunggu selama beberapa menit tapi tetap tak kunjung dibukakan pintu.
Awalnya aku berpikir ibu sedang sibuk memasak atau mandi, tapi aku mendapatkan firasat buruk setelah mengetahui pintu yang bergeser begitu saja saat aku memutar gagangnya. Pintu rumah sama sekali tidak dikunci, sangat berlawanan dengan kebiasaan ibu yang selalu mengunci pintu rumah agar tidak ada orang asing yang masuk.
Saat membukanya, aku melihat isi dalam rumah kacau dan berantakan. Perabotan rumah yang biasanya tersusun rapi kini tergeletak tak beraturan bahkan ada yang hancur dan pecah. Aku sangat panik saat itu sampai-sampai berlari menelusuri seluruh ruangan seraya meneriaki ibu tapi tak berhasil menemukan apa-apa selain kalung safir milik ibu yang tergeletak di dapur.
“Jadi ibumu… diculik?” celetuk tiba-tiba Suryadi menatapku dengan wajah iba.
Lantas aku angguk membenarkan dan menjawab, “Benar, tapi saat itu aku tidak berpikir demikian….”
Aku saat itu hanya menduga bahwa mungkin telah terjadi sesuatu yang buruk terhadap ibu, hanya itu saja tanpa mengetahui kejadian buruk seperti apa yang terjadi. Dengan secepat kilat berlari keluar rumah menuju ke rumah pamanku.
Aku tidak menggunakan uang sepeser pun saat di sekolah sehingga bisa digunakan untuk memesan taksi, tapi tetap saja uangnya tidak cukup dikarenakan jarak rumah pamanku yang cukup jauh dan tentu tarif yang juga tinggi.
Beruntungnya sang supir dengan senang hati menerima uangku dan mengantarkanku sampai tempat tujuan tanpa mempermasalahkan tarif yang seharusnya ia terima, aku berhutang budi terhadap orang tua itu tapi tidak tahu harus membalas seperti apa.
Sesampainya di rumah yang megah itu, aku langsung menceritakan apa yang telah terjadi sambil menangis kepada pamanku. Paman Hans terkejut mendengarnya lalu memelukku berusaha menenangkan. Setelah kondisiku membaik, dia memerintahkan salah satu pelayan untuk menghubungi polisi sedangkan dirinya menghubungi organisasi pahlawan.
Pencarian pun dilakukan tapi tidak ada kemajuan sedikit pun padahal sudah satu minggu sejak ibuku menghilang. Sejak saat itu, aku tinggal bersama pamanku di rumahnya. Seluruh biaya hidup termasuk biaya sekolah dan kebutuhan yang lainnya ditanggung oleh pamanku, dia tidak ingin musibah ini mengganggu sekolahku sehingga ia memintaku untuk kembali sekolah seperti biasanya.
“Ah, aku ingat! Pantas saja waktu itu kau berubah drastis menjadi pemurung setelah satu minggu tidak turun sekolah…” timpal Suryadi seraya menjentikkan jari mengingat kejadian itu.
“Bukan hanya aku saja yang berubah, Di…” balasku.
“Maksudmu?”
“Hah... bagaimana cara menjelaskannya?”
Aku memegang kepala frustasi, karena cerita selanjutnya benar-benar memberikan trauma yang cukup mendalam. Mengingatnya saja sudah sangat memuakkan, apalagi dengan menceritakannya? Tapi suka tidak suka aku harus melanjutkan.
Seperti yang aku katakan bahwa tidak hanya aku saja yang berubah, Paman Hans pun juga berubah. Hal ini terjadi pada suatu malam ketika dia menerima sebuah panggilan tak dikenal.
Waktu itu aku terbangun dari tidurku dan tak sengaja melihat pamanku tengah berbicara dengan seseorang di balik telepon, tapi sayangnya aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Setelah menutup panggilan, Paman Hans langsung mengambil koper dan pergi tanpa memberitahu kepadaku hendak pergi ke mana. Saat aku bertanya, dia memegang kedua bahuku erat-erat beserta dengan tatapan sedih seolah-olah tidak tega meninggalkan keponakannya begitu saja.
Dia hanya menyampaikan satu pesan sebelum berangkat. “Sekolahlah yang rajin dan jadilah anak yang baik selama Paman pergi! Paman janji akan menemukan ibumu dan membawanya kembali!”
Aku hanya mengangguk sambil berusaha menahan air mata, setelah menyampaikan pesan itu dia bergegas berangkat, meninggalkan diriku di rumah mewahnya bersama beberapa pelayan.
Setiap hari aku menatap luar jendela, menunggu kepulangannya dan berharap agar ibuku bisa kembali. Penantianku pun berakhir setelah satu minggu kemudian, tepatnya pada jam sembilan malam.
Di tengah derasnya hujan aku melihat Paman Hans yang telah pulang dengan mobilnya. Awalnya aku sangat bersemangat hingga buru-buru berlari ke depan pintu dan menyambut kepulangan pamanku dengan penuh harapan.
Tapi siapa sangka, bukannya bertemu dengan ibuku, aku justru mendapati pamanku yang berubah drastis.
Kulitnya yang menjadi pucat seperti orang yang mengalami anemia dan badan yang terlihat sedikit kurus dibandingkan satu minggu yang lalu. Wajah cerianya yang dulu sudah tak terlihat lagi, yang terpasang di sana hanyalah ekspresi serius dan sinis.
Saat pertama kali bertemu denganku setelah berpisah selama satu minggu, dia hanya mengucapkan satu kalimat.
“Mulai sekarang, kau adalah bidakku!”
Dia mulai seperti orang yang kehilangan akal, terutama ketika ia menjabarkan mengenai rencananya yang ingin menghancurkan kota. Aku sempat merasa ketakutan saat melihat ekspresi pada wajahnya.
Diriku yang merupakan seolah pelajar SMP biasa tentu akan menolak hal gila semacam itu, tapi dia justru mengikatku dengan rantai dan memukulku dengan tongkat kayu. Dia tidak akan berhenti memukul sampai aku menuruti perintahnya.
Setelah semua yang terjadi, aku merasa diriku berubah secara perlahan. Wajah ceriaku berubah menjadi datar dan tatapan penuh harapan yang berubah menjadi tatapan dingin. Aku menyadari perubahan tersebut tapi memilih untuk tidak menghiraukannya karena bagiku itu semua sudah tidak penting lagi.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Yoz terus melanjutkan kisahnya yang dimulai dari penyerangan monster di pusat kota hingga berakhir dengan dirinya yang berdiri di puncak tebing. Hal itu memakan waktu hampir setengah jam.
“Dan seperti yang kau lihat diriku yang sekarang…” tutup Yoz lalu menghela napas kecil setelah menyelesaikan ceritanya.
Secara perlahan rasa penasaran Suryadi selama ini terjawab. Dia tak pernah menyangka bahwa temannya mengalami hal seperti itu empat bulan yang lalu. Tapi tetap ada beberapa pertanyaan yang ingin ia sampaikan.
“Jadi kau mengalami hal seperti itu selama ini?” tanya Suryadi.
Yoz tak merespon pertanyaan itu, ia justru membuang muka. Meskipun begitu, Suryadi bisa memahami dari ekspresi dari temannya yang seolah membenarkan pertanyaannya.
Ekspresi iba kembali terukir di wajah Suryadi, dia pun kembali bertanya pelan, “Kenapa? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya?”
“Untuk apa? Apa kalian akan peduli terhadapku? Tidak, bukan?” jawab Yoz dengan wajah tidak senang.
Suryadi meletakkan tangannya ke dada, seperti menunjuk diri sebagai orang yang bersedia melakukannya, “Setidaknya kau bisa ceritakan kepadaku—”
“OMONG KOSONG!” potong Yoz dengan nada tinggi, “Cerita kau bilang? Jangan bercanda! Bahkan aku tidak pernah dihargai meskipun sudah bersikap baik!”
Yoz seakan terkejut karena temannya mengetahui hal itu padahal tidak berada di sana kemarin. Ia bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa Suryadi mengetahuinya.
Suryadi yang menyadari wajah bertanya-tanya temannya menjawab dengan wajah menyesal dan menggaruk-garuk kepala, “Aku sudah mendengar hal itu dari Nia dan Shela. Maaf karena aku tidak ada di sana waktu itu….”
Yoz mengalihkan pandangannya ke kota, meskipun sudah mendengar permintaan maaf temannya tetap saja ia merasa kesal, “Waktu itu? Tidak! Ini sudah kesekian kalinya!”
“Ya… kau benar. Sekarang aku menyesalinya….”
Yoz pun berdiri kembali, dengan wajah penuh kepasrahan ia berbicara, “Percuma saja! Semua sudah berlalu… kini sudah tidak ada lagi tempatku di kota ini!”
Sementara Suryadi sendiri juga ikut berdiri, melihat punggung temannya yang seperti sudah sangat lelah memikul banyak beban, “Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Yoz terdiam cukup lama, hanya memejam mata dan menghembuskan napas panjang. Angin bertiup cukup kencang di puncak tebing mengiringi hembusan napas Yoz. Temannya menunggu dengan penasaran sebelum pada akhirnya ia menjawab dengan lesu.
“Entahlah… aku juga tidak tahu. Mungkin setelah ini aku akan langsung menuju rumah sakit di mana ibuku dirawat, menghabiskan waktu yang tersisa bersamanya untuk terakhir kali, kemudian menyerahkan diri kepada HSO dan menerima hukuman atas perbuatanku….”
Setelah mengatakannya, Yoz pun berbalik dan berjalan lesu melewati Suryadi begitu saja. Tetapi sebelum pemuda berjaket merah itu pergi menjauh, Suryadi buru-buru mencegat dengan memegang bahunya erat-erat.
“Hei! Jangan kehilangan harapan begitu saja!” cegat Suryadi.
Yoz pun melepas paksa bahunya dari genggaman Suryadi, tanpa menoleh ia membalas, “Aku sudah tak memiliki apa-apa lagi, lantas apa yang bisa diharapkan? Aku kehilangan harapan… hatiku kini hampa….”
Suryadi masih belum menyerah begitu saja, dia langsung membantah ucapan penuh putus asa temannya, “Tidak, kau salah! Kau salah besar!”
Yoz pun bertanya, “Lalu… apa yang bisa menerangi kekosongan di hati ini? Apa aku harus berteriak hingga cahaya harapan tiba?”
“Kau hanya perlu mengulurkan tangan untuk menggapai cahaya itu!”
“Mustahil! Semuanya sudah terlambat!”
“Tentu saja masih ada kesempatan! Meskipun kau jatuh melalui retakan dan masuk ke kegelapan, aku tak akan pernah melepaskan tanganmu!”
“Bagaimana caramu melakukannya? Kau bahkan tidak bisa memahamiku!”
“Sekarang katakan padaku apa yang kau pikirkan? Apakah mimpi yang tak berujung? Kita akan mengejarnya tanpa pernah menyerah!” Suryadi terus melanjutkan kata-katanya, “Saat menghadapi hidup tanpa jawaban dan membuatmu putus asa…. Jangan menyerah! Terus berjuang! Buat keadaan berbalik!”
Yoz yang tersulut emosi karena muak mendengar ocehan Suryadi menyambar dan menarik kerah baju temannya, “Sadarlah dengan posisimu, sialan! Apa yang bisa kau lakukan, hah!? Kita mungkin tidak akan bisa bertemu lagi, jadi berhentilah berharap!”
Suryadi tak berusaha melawan atau melepaskan diri, hanya membalas dengan sebuah senyuman. “Kita akan selalu terhubung, meskipun sejauh apapun itu. Oleh sebab itu, mari kita hadapi bersama!”
Yoz yang semula tersulut api amarah tidak tahu harus berkomentar apa setelah memperhatikan keteguhan tekad Suryadi. Gambaran dirinya sewaktu kecil dulu yang selalu pantang menyerah sebelum mencapai tujuan seolah-olah berada di dalam diri temannya. Secara perlahan ia melepaskan genggamannya dari kerah baju Suryadi
“Aku mungkin tidak bisa berbuat banyak untuk membantu menyelamatkan ibumu, tapi aku bisa memberikan solusi…” ungkap Suryadi seraya membenarkan bajunya.
Yoz menghela napas dan mengeluh pelan, sedari awal memang tidak mungkin ia bisa melawan tekad Suryadi yang seperti itu. Dirinya memilih untuk mengalah dan mendengarkan saran temannya meskipun tidak berharap banyak darinya. “Solusi seperti apa?”
Suryadi memutar badan, kemudian mengangkat tangan dan menunjuk ke arah bangunan menjulang tinggi yang berada di bagian utara kota.
“HSO,” jawabnya singkat.
Yoz berjalan pelan menuju ujung tebing dan memperhatikan baik-baik ke arah yang dimaksud oleh Suryadi. Dirinya tak mengerti dengan jawaban singkat dari temannya sebelum pada akhirnya menyadari sesuatu. Matanya langsung terbelalak lebar beserta jari-jari pada tangan yang bergetar seperti tak menyangka.
“Sepertinya kau mulai menyadarinya. Dirimu yang tenang pasti akan menyadarinya sejak awal,” celetuk Suryadi, “kau hanya terlalu banyak pikiran dan sangat mudah dimanipulasi oleh Turpin sehingga tidak berpikir demikian.”
“Benar juga! Bagaimana bisa aku melupakan hal itu!” sesal Yoz.
Yoz merasa sangat bodoh karena telah mengambil keputusan yang salah. Jika seandainya kemarin ia berpikir lebih panjang dan matang, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Padahal ia dan Suryadi sempat membaca artikel dari perpustakaan kota mengenai HSO yang menunjukkan penemuan terbaru mereka di bidang medis bernama ‘Nitrogliserin’. Itu berarti Yoz seharusnya bisa meminta tolong kepada HSO untuk menyembuhkan ibunya.
Tapi apa daya, semuanya sudah berlalu. Ibarat pepatah ‘nasi sudah menjadi bubur’ sebab kota sudah terlanjur kacau meskipun rencana utama berhasil digagalkan. Yoz menundukkan kepala menyesal sedalam-dalamnya, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaikinya.
“Tapi percuma saja, Di…” balas Yoz kecewa, “apakah mereka mau menyelamatkan ibuku setelah apa yang terjadi dengan kota?”
“Sudah kubilang, bukan? Kita akan menghadapinya bersama, percayalah kepadaku!” jawab Suryadi optimis, “Tenang saja, selama kau menyerahkan diri baik-baik, maka ada kemungkinan mereka mau berbelas kasih. Kau masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”
Awalnya Yoz tidak yakin dengan ungkapan Suryadi, tapi melihat keseriusan dari pemuda itu membuatnya memilih untuk kembali percaya dan menaruh harapannya kali ini. Warna pada wajahnya kembali terlihat, dia memegang dadanya seraya bernapas lega.
Suryadi yang bisa merasakan Yoz kembali menjadi dirinya lagi akhirnya tersenyum bahagia. Dengan bangga dirinya berkacak pinggang hingga tangan kanannya menyenggol sesuatu yang berada di dalam kantong celananya. Suryadi langsung mengingat suatu hal kemudian merogoh kantongnya.
“Ah, iya, ada sesuatu untukmu,” kata Suryadi sambil berjalan mendekati Yoz.
“Huh?”
“Saat bercerita tentang kejadian kemarin, Nia menitipkan ini kepadaku,” kata Suryadi sambil menyodorkan sesuatu.
“Cermin?”
Pemuda berjaket merah itu kebingungan saat menerima benda tersebut. Ia memutar cermin yang berukuran setelapak tangan tersebut dan menemukan sebuah surat yang ditempel menggunakan selotip.
Pandangan bertanya-tanya Yoz berpindah kepada si pengirim, namun Suryadi menaikkan kedua bahu seperti ingin menyampaikan bahwa ia tidak tahu apa-apa.
Karena penasaran, Yoz pun langsung mencabut surat tersebut lalu membacanya dengan seksama. Bertanya-tanya siapakah yang menulis surat tersebut.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Untuk Ero,
Maaf karena kemarin kami ikut campur masalahmu, kami tidak berniat untuk terlibat dan memperburuk keadaan, kami hanya ingin membantu saja. Kami tahu, kok, kamu meminta kami untuk diam dan tidak ikut campur itu supaya kami tidak dimusuhi oleh teman-teman lainnya, bukan?
Terima kasih untuk hal itu, tapi kamu tidak perlu menanggung semua beban itu sendirian. Kami sudah mengganggapmu sebagai salah satu teman kami, jadi kamu tidak perlu menjaga jarak terhadap kami. Mari kita hadapi semua bersama-sama, Ero!
Ngomong-ngomong, tolong terima cermin ini, ya! Ini bukan barter untuk yang kemarin, kami tahu kalau kamu berikan penggaris ungu kemarin dengan ikhlas, jadi anggap aja itu hadiah dari kami bertiga (meskipun kelihatannya cermin itu tidak cocok dengan dirimu, tapi cuma itu saja yang bisa kami peroleh saat datang ke toko dengan uang patungan yang terbatas).
Dari teman-temanmu: Nia, Shela, dan Pami
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
‘Mereka….’
Nampaknya isi surat tersebut berhasil menyentuh hati si Pesimis, hal itu bisa terlihat dari wajah Yoz saat membaca yang awalnya datar menjadi sedikit berekspresi. Suryadi sendiri tidak mengetahui isi dari surat itu, tapi cukup dengan melihat ekspresi Yoz saja ia paham bahwa ketiga serangkai sedang berusaha menyemangati dan menghibur Yoz.
“Kau tidak sendiri, Yoz. Kau masih memiliki orang-orang yang peduli di sekitarmu,” ucap Suryadi.
Usai membaca surat tersebut, Yoz menempelkannya kembali ke cermin lalu ia simpan ke dalam saku. Bersamaan dengan itu, Suryadi mengulurkan tangannya kepada Yoz.
“Ayo kita hadapi semua bersama-sama, termasuk Turpin!” ajak Suryadi seraya tersenyum.
Kejadian itu persis seperti saat Paman Hans mengajaknya untuk kembali bergabung ke dalam rencana gila dahulu. Akan tetapi yang membedakannya dengan yang dulu adalah kali ini Yoz tersenyum tipis. Tanpa ada perasaan berat hati atau paksaan, ia membalas dengan suara penuh antusias dan percaya diri sambil berusaha meraih tangan temannya.
“Ya.”
*BOOMMM!!!!*
Sebelum Yoz berhasil meraih uluran tangan Suryadi, sebuah ledakan dahsyat muncul di kota. Ledakan kali ini jauh lebih besar ketimbang ledakan-ledakan sebelumnya, bahkan cukup menggetarkan tebing kota tempat di mana Yoz dan Suryadi berpijak.
Keduanya sama-sama terkejut bukan main hingga melemparkan pandangan ke sumber ledakan. Masing-masing tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi barusan sebab terhalang oleh asap-asap tebal bekas ledakan.
“Apa itu?” tanya Yoz.
Suryadi awalnya secara naluri mencurigai Yoz, tapi setelah melihat detonator yang masih berada di posisinya membuatnya berpikir bahwa ada pihak lain yang memicu ledakannya. Setelah asap menghilang, terlihat puluhan bangunan kini rata dengan tanah. Suryadi memperhatikan dengan teliti titik awal lokasi ledakan dan menyadari sesuatu.
“Lokasi ledakannya… Yoz, bukannya itu….”
Yoz pun memiliki pemikiran yang sama dengan temannya. Ledakan dahsyat itu terjadi di antara bagian pusat dengan selatan kota, lebih tepatnya di rumah Paman Hans berada. Berbeda dari rencana Turpin yang seharusnya berlokasi di bagian utara kota.
Intercom Yoz yang tergeletak di tanah tiba-tiba bergetar, menandakan ada seseorang yang menyambungkan komunikasinya kepada alat itu. Yoz dengan firasat buruknya mulai mengambil alat tersebut dengan gemetar. Saat memasangnya di telinga, ia langsung mendengar suara ibunya yang berteriak memperingati.
「Yoz! Larila—Agh!!!」
Sontak Yoz memanggil ibunya khawatir, terutama setelah mendengar suara rintihan kesakitan. Suryadi yang berada di sampingnya tidak bisa mendengar apa-apa, tapi ia menduga telah terjadi sesuatu yang buruk.
Mimpi buruk Yoz pada akhirnya kembali menjadi kenyataan. Sosok yang ia pikir sudah ditangkap atau bahkan tewas rupanya masih hidup dan kini sedang menyandera ibunya kembali. Suara kesal Turpin kembali terdengar dan langsung menyampaikan pesan kepada Yoz.
「Kau hancurkan segalanya dan kau harus membayarnya! Sekarang kuberi kesempatan terakhir untukmu…. Datanglah ke sini dan serahkan dirimu, Bocah Amalgam Sialan!」
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 28: Larilah!