
“Hah… jadi itu kata-kata terakhirmu? Baiklah, mari kita akhiri semua ini!”
Babak terakhir penentuan pun dimulai, Yoz tanpa basa-basi langsung berlari dengan sisa tenaga terakhir. Sementara Turpin melemparkan eye loop miliknya ke atas lalu menangkapnya dengan mudah seperti menangkap koin.
“Ini sudah berakhir! Menyerahlah!!!”
*SYUUU!!!!*
Tembakan energi langsung melesat cepat menuju kepada Yoz, tapi pemuda itu nampak seolah tak khawatir melihat serangan yang tengah menargetkan kepalanya. Dia justru dengan tenang memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong celana sebelum kejadian selanjutnya membuat Freed terkejut tak percaya.
Tepat sebelum energi itu mengenai dahinya, Yoz terus maju tanpa mengubah arah seraya melindungi kepalanya menggunakan tangan kanan. Terdengar sangat mustahil, tapi siapa sangka tembakan sinar itu benar-benar berhasil ia tahan dengan tangannya dan dibelokkan ke langit.
Kedua mata Freed terbuka lebar, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana serangannya bisa ditahan. Sebuah cermin berukuran kepalan tangan menjadi penyebab Yoz bisa menahan tembakannya dan dibelokkan ke langit.
“Tcih! Yang benar saja!! JANGAN BERCANDA!!!” hardik Turpin sambil terus menembak.
Walaupun demikian, cermin yang digunakan Yoz sudah hampir tidak mampu untuk menahan serangan Freed lebih lama lagi. Hanya dalam beberapa detik, cermin itu akhirnya pecah sehingga arah belokan atau lebih cocok disebut pantulannya menyebar ke segala arah.
Seketika langit kota dilintasi oleh banyaknya garis-garis cahaya, bahkan tidak sedikit yang mengenai beberapa bangunan. Perban pada tangan Yoz pun mulai hancur layaknya abu, kulitnya terasa terbakar akibat efek tembakan energi itu.
“JUSTRU KAU SAJA YANG MENYERAH! MENGAPA KAU MASIH SAJA BERSIKERAS MELAWAN? PADAHAL KAU SUDAH TAHU YANG MENANTI DIRIMU ADALAH KEKALAHAN DAN KEGAGALAN!”
Yoz terus bergerak maju memangkas jaraknya sedikit demi sedikit. Begitu tiba di hadapan Freed, langsung saja dia menghantam eye loop musuhnya menggunakan tangan kiri sampai alat itu hancur.
“OLEH KARENA ITU SADARLAH, SIALAAAAAAAAAANNNNN!!!”
*Blam! BUAKH! KRAKK!!!*
Seraya berteriak keras, Yoz mengayunkan tangan dan melancarkan satu pukulan mutlak di wajah Freed, diikuti suara tulang retak atau patah. Alhasil Freed terpental sampai menabrak bongkahan bangunan, meskipun tidak begitu jauh tapi kelihatannya serangan itu lebih dari cukup untuk menumbangkannya.
“K-kalah hanya dalam… s-satu…. pukulan…?”
Freed dalam posisi duduk bersandar pada bongkahan bangunan langsung menunduk kepala tak sadarkan diri. Yoz sendiri sepertinya sudah mencapai batasnya, dia mengambil napas lega karena semua sudah berakhir, tapi tak berselang lama dirinya mulai kehilangan keseimbangan dan bertekuk lutut.
“Sudah… berakhir…” desisnya sembari melihat tangan kanannya yang memar dan bergelantungan lemas.
Yoz dapat merasakan sekujur tangannya mulai dari jari sampai bahu remuk akibat pukulan tadi, dengan tenaga yang tersisa dia memaksa diri bangkit terus berbalik badan dan berjalan terhuyung-huyung menuju ibunya. Setelah sampai, dia pun berlutut lemas di samping ibunya.
Melihat kondisi putranya yang babak belur seperti itu mengakibatkan Annariel meneteskan air mata. Yoz yang sadar ibunya menangis pun segera tersenyum seakan ingin berkata bahwa ini semua sudah berakhir dan dirinya baik-baik saja meskipun dalam hatinya justru sebaliknya.
Pemuda itu tanpa pikir panjang menarik tangan ibunya hendak merangkul wanita tersebut tapi gagal. Jangankan untuk merangkul, berdiri saja ia sudah tak mampu. Napasnya semakin cepat karena panik, menoleh ke sana kemari berharap ada secercah harapan yang dapat menolong.
Sesekali dirinya menoleh ke arah serum 'Nitrogliserin' yang sebelumnya ia pegang sudah pecah akibat kelengahan tak menyadari serangan. Dia pun menyesali kecerobohannya sendiri.
Ibunya yang lemas memegang pipi sang buah hati seraya memberikan senyuman, Yoz untuk sejenak membeku saat pipinya disentuh terus secara perlahan menoleh ke bawah. Dia tak kuasa menahan air matanya lebih lama lagi begitu melihat ibunya menggeleng-gelengkan kepala. Dia sangat mengerti makna dari hal itu, suara tangisan memilukan pun langsung terdengar.
“Maaf… maafkan aku… maafkan aku… maaf… maaf…” lirih Yoz dengan suara tergagap.
“Justru Ibu yang harus meminta maaf kepadamu… karena Ibu lah kamu sampai jadi seperti ini… maaf karena sudah membiarkanmu sendirian dan ketakutan selama berbulan-bulan… maafkan Ibu…” balas Annariel seraya menyeka air mata yang terus menetes di wajah Yoz.
“Seandainya saja bukan karena Ibu… pamanmu tidak akan meninggal… kamu juga tidak akan menanggung beban seberat ini di pundakmu… maafkan Ibu… maaf….”
Perasaan menyesal yang dalam membuat Annariel ikut menangis tersedu-sedu. Beberapa kali dia mengucapkan kata maaf kepada anaknya, Yoz sendiri tidak bisa berkomentar apa-apa melihat ibunya yang seperti itu.
“Ibu bisa mendengar dan juga melihat perjuanganmu melawan Turpin seorang diri… Ibu merasa sangat bersalah sebab tidak dapat melindungimu dari bahaya….”
“Tidak… ini bukan karena kesalahan Ibu… ini adalah keputusan dan kesalahanku sebab lebih memilih untuk berkerja sama dengannya ketimbang meminta bantuan kepada para pahlawan…” sahut Yoz akhirnya.
Bukannya membaik, kalimat itu justru membuat Annariel semakin merasa bersalah, “Kamu mengambil keputusan demikian karena Ibu… Ibu lah yang selalu melarangmu untuk berhubungan dengan apapun yang berkaitan dengan pahlawan sehingga membentuk kebencian di dalam hatimu terhadap mereka….”
Annariel kembali melanjutkan, “Tapi sekarang Ibu sadar… sejauh apapun Ibu berusaha melarangmu, Ibu tidak bisa menghapus apa yang telah diwariskan ayah kepadamu, yaitu tekad….”
“Tekad…?” ulang Yoz.
“Jadilah anak yang baik, ikutilah ke arah mana tekad itu menuntunmu dan jangan biarkan siapapun menghalanginya… kamu tidak sendirian, kamu masih memiliki kota ini dan juga orang-orang di sekitar yang peduli terhadapmu, jaga dan lindungi apa yang berharga bagimu dengan kekuatanmu….”
“A-apa yang I-Ibu katakan…?”
Annariel tak membalas pertanyaan Yoz, dia hanya mengelus rambut pemuda tersebut dengan penuh kasih sayang. Melihat dengan jelas wajah putranya hingga tertawa lemas tapi nampak bahagia.
“Yoz… bayi kecilku…” ungkap Annariel yang mendengar suara bayi di kepalanya, “tidak peduli jika kamu bukan darah dagingku….”
Annariel mengangkat kepalanya dengan gemetar hebat, kemudian menempelkan dahinya pada kepala Yoz. Sekali lagi ia tersenyum kepada putranya, mengucapkan kalimat yang sangat menyentuh dan bermakna.
“Ibu… akan tetap selalu menyayangimu….”
Usai mengatakan kalimat itu Annariel pun akhirnya memejamkan mata, tangan dan kepalanya jatuh ke tanah tak bertenaga. Tertidur untuk selamanya dengan wajah tersenyum lega.
“Ibu…? Ibu…? Ibu?”
Yoz beberapa kali sedikit menggoyangkan tubuh ibunya tapi wanita itu tidak kunjung bangun. Mentalnya terguncang saat menyadari apa yang terjadi bahkan sampai menggoncang-goncang tubuh ibunya berharap ini hanyalah sebuah kebohongan.
Lantas dia mengangkat kepala, sekali lagi melirik sekelilingnya dengan wajah yang menyedihkan, sampai dia akhirnya menarik napas dalam-dalam.
“SESEORANG!!! TOLONG AKU!!! POLISI! PAHLAWAN! SIAPAPUN KUMOHON DATANGLAH KEMARI! TOLONG DATANGLAH KE SINI!!!”
Yoz berteriak sekuat tenaga sampai-sampai suaranya serak dan nyaris hilang, tapi tetap tidak ada seorang pun yang muncul di pandangannya. Wajahnya nampak kecewa dan kehilangan warna, harapannya pun sirna mengetahui semua sudah terlambat.
“Tolong… selamatkan... ibuku….”
Tanpa Yoz sadari, di belakangnya sudah ada Freed yang ternyata masih bisa berjalan terhuyung-huyung mendekat. Sosok itu benar-benar pantang menyerah, rasanya ia tidak akan pernah hidup tenang sampai bisa benar-benar menghabisi pemuda di hadapannya dan sekarang adalah kesempatan satu-satunya.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
‘Bocah sialan! Kali ini kau tidak akan bisa lolos dari kematianmu!!!’ gumamnya kesal.
Begitu besi tajam yang menancap dalam dadanya berhasil dikeluarkan, Freed bertekuk lutut sambil muntah darah yang cukup banyak sebelum kembali bangkit dan lanjut berjalan. Dia menggenggam bilah pedang itu kuat-kuat sampai tangannya berdarah.
“Sekarang kau sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang berharga di depan matamu, bukan?” celetuk Freed kepada Yoz, “Ini adalah kenyataan pahit… kau yakin dapat melindungi semuanya tapi pada kenyataannya kau gagal. Kau memang berhasil menyelamatkan kota, tapi kau gagal menyelamatkan ibumu!”
Pria berambut putih itu memutar bilah pedangnya hingga terbalik lalu diangkat ke atas hendak melakukan serangan penghabisan. Dengan hasrat membunuh yang kuat, dia mengayunkan tangan seraya bersuara lantang.
“Apa yang kau rasakan sekarang masih tidak sebanding dengan apa yang sudah aku alami selama ini! Namun aku dengan senang hati akan mengantarkanmu ikut menyusul ibumu!!!”
“Ya… ini adalah kemenanganmu…” ucap Yoz sudah tak berniat untuk melawan.
*KRAK!!!*
“Arggh!!!”
Nyaris saja ujung bilahnya berhasil mengenai leher Yoz, tiba-tiba saja serangannya ditahan oleh tangan seseorang. Freed terpaku oleh tangan itu sesaat lalu secepat kilat mengangkat kepala dan menemukan sang Lightning Warrior tengah menatap tajam kepadanya.
Arda tanpa basa-basi langsung mematahkan tangan Freed tanpa ampun kemudian menendangnya cukup jauh ke belakang, tak memberi kesempatan bagi musuhnya untuk berbicara atau terkejut.
“A-Ar... da…? Kau m-masih hi… dup…?” tanya Yoz yang mulai kehilangan kesadaran dan tumbang.
Freed pun hendak bangkit kembali tapi segera ditahan oleh sebuah palu raksasa yang ditodongkan ke lehernya. Di sampingnya sudah berdiri pria dewasa berperawakan separuh singa yang menjadi pelakunya, Hammer of Jungle atau yang biasa disebut Leon Daos.
“Silahkan bergerak dan akan langsung aku hancurkan kedua kakimu dengan palu ini!” ancam Leon diiringi suara geraman miliknya.
“K-kalian…? B-bagaimana bisa k-kalia―”
“Kesalahan fatal yang telah kau lakukan hanyalah satu…” celetuk Arda berjalan santai mendekat, “Kau tidak langsung membunuh lawanmu saat ada kesempatan.”
“J-jangan-jangan maksudmu―”
“Ya, sebenarnya aku dan teman kecilku nyaris saja tewas terbakar tapi beruntungnya para pahlawan lain berhasil tiba tepat waktu dan menyelamatkan kami, beberapa dari mereka juga ada yang pergi untuk menolongnya,” potong Leon menjabarkan lalu menunjuk Arda.
Arda pun berpaling ke belakang lalu bertanya, “Bagaimana?”
Terlihat Kidman sedang mengecek satu per satu detak jantung kedua orang yang tergeletak tersebut. Awalnya dia biasa saja saat memeriksa detak jantung Yoz, tapi begitu giliran Annariel wajahnya berubah murung dan dia menggelengkan kepala.
“Begitu… kita terlambat…” ucap Arda dengan raut wajah menyesal, ia mengepalkan tangan kuat-kuat.
Freed tertawa pelan yang terkesan meledek, membuat perhatian ketiga pahlawan tertuju kepadanya. “Hahahaha! Kalian para pahlawan memang sampah! Memang benar pahlawan selalu datang terlambat dan itu dibuktikan oleh kalian yang baru tiba saat wanita itu sudah pergi. Meskipun kalian masih hidup, kalian tetap tidak bisa menyelamatkan apapun, dasar orang-orang busuk!”
Ketiga orang yang dimaksud Freed tak dapat berkata apa-apa, mereka hanya membuang muka pertanda membenarkan ucapan musuh mereka.
Freed pun kembali berkata dengan suara dingin, “Setelah kematian ibunya, apakah bocah itu akan baik-baik saja?”
“Tutup mulutmu!” hardik Leon mulai kesal.
Arda pun akhirnya angkat bicara, “Kau benar, kami memang terlambat dan aku tahu pasti ada rasa kekecewaan di dalam dirinya, tapi aku yakin dia tidak akan menyimpan dendam terhadap kami dan dapat memilih jalan yang berbeda.”
Freed mengangkat sebelah alisnya bertanya, “Apa yang membuatmu sebegitu yakin?”
“Sebab dia tidak seperti dirimu!”
Sindiran Arda membuat Freed berdecak kesal, pria itu menatap dengan penuh benci pahlawan di hadapannya. Ia berandai jika saja dia masih dapat bertarung, maka dia pasti akan mencabut rahang pemuda berambut abu-abu itu tanpa ampun.
Arda mengeluh keras-keras menyadari tatapan itu ditujukan kepadanya lalu menggaruk-garuk kepala. “Baiklah, mari kita sudahi perbincangan ini!”
Kedua rekannya mengangguk pertanda setuju. Leon pun menarik senjatanya dari leher Freed kemudian melemparkan pandangan kepada sang Lightning Warrior. Sementara Arda langsung mengeluarkan pedang barunya dan diarahkan kepada musuh.
“Freed Clowen, kau ditangkap atas dugaan sebagai dalang dari operasi penghancuran Kota Machina yang disebut sebagai ‘Armachina’. Sekaligus dugaan sebagai satu-satunya pelaku yang berhasil lolos dari penangkapan kelompok Criminal Clowen!”
“Kriminal? T-tunggu apa maksudmu?”
Freed yang menyadari ada yang janggal dari kalimat itu segera bertanya tapi tidak ada satu pun yang merespon, mengakibatkan dirinya kesal dan bertanya kembali dengan nada membentak.
“JAWAB PERTANYAANKU!!! APA MAKSUDMU DARI KRIMINAL ITU?!! ARGGHHHH!!!!”
Belum sempat dia dapat mengetahui jawabannya, tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menggerogoti kepalanya. Matanya seketika merah, urat-urat di leher dan wajahnya pun menegang. Alhasil dirinya menjerit kesakitan sampai-sampai tak sadarkan diri.
“Ternyata apa yang kau katakan benar… identitas asli dari Turpin X adalah orang yang dicari-cari HSO sejak lama, dia benar-benar Freed Clowen yang kita cari-cari selama ini” kata Leon kepada Arda.
Sementara Kidman mendatangi mereka berdua sambil merangkul Yoz, “Dampak pertarungan mereka benar-benar membuat tempat ini hancur….”
Arda dan Leon melihat ke sekeliling yang kacau balau. Bangunan-bangunan yang hancur sampai rata dengan tanah, beberapa area yang hangus terbakar, serta kendaraan dan jasad para korban yang bergeletakan membentuk lingkaran besar.
“Ini tidak sepenuhnya akibat pertarungan mereka, tapi…” sanggah Arda lalu memperhatikan beberapa bangunan yang bagian atasnya terpotong rapi akibat tembakan Freed sebelumnya, “jika berbicara tentang dampaknya, mereka bisa saja menjadikan seluruh kota sebagai arena bertarung semisalnya kubah transparan sebelumnya tidak pernah ada….”
“Benar-benar tidak bisa dipercaya bocah seperti dia bisa mengalahkan Turpin, padahal kita bertiga saja dikalahkan dengan mudah….”
“Bukankah kau juga masih bocah?”
“Bisakah kau berhenti mengomentari kata-kataku?”
Arda hanya bisa menepuk jidat mendengar kedua temannya bertikai, dirinya berusaha mengabaikan tapi rasanya sangat sulit jadi dia buru-buru memotong percakapan kedua rekannya.
“Leon, bawa Freed kepada HSO! Sedangkan Kidman, bawa Yoz menuju rumah sakit terdekat untuk diberikan pertolongan pertama! Aku akan tetap di sini untuk melakukan investigasi sambil menunggu yang lainnya tiba.”
Leon dan Kidman mau tidak mau menuruti perkataan teman mereka sebab perintah itu. Terutama Kidman yang langsung panik saat melihat wajah pemuda yang ia rangkul semakin memucat layaknya susu basi.
Mereka berdua langsung pergi meninggalkan pemuda berambut abu-abu itu sendirian. Segera setelah itu, langit pun kembali cerah. Sinar mata mulai menerobos melalui sela-sela awan hitam dan menyinari Kota Machina.
‘Setelah kematian ibunya, apakah bocah itu akan baik-baik saja?’
Kalimat itu menghantui pikiran Arda, meskipun sempat membantah ucapan Freed sebelumnya tapi ia merasa ada kemungkinan Yoz bisa menyimpan dendam terhadap dirinya dan yang lain. Apalagi dirinya sempat mendengar suara teriakan permintaan tolong Yoz.
“Ini masih belum berakhir, akan ada kemungkinan dia memilih jalan yang salah,” tutur Arda berbicara sendiri, “jika memang hal itu akan terjadi, maka aku yang harus menghadapinya. Ini adalah kesalahanku yang tidak bisa tiba tepat waktu.”
Saat dirinya melamun, beberapa pahlawan dan polisi sudah tiba di lokasi dan memanggil namanya. Arda pun yang tersadarkan langsung menggeleng-gelengkan kepala berusaha menghilangkan pikiran itu jauh-jauh dari kepalanya.
Sebelum menghampiri mereka, Arda memasukkan pedangnya secara perlahan seraya melihat kearah cakrawala.
‘Namun, badai yang dianggap sebagai bencana tidak selamanya membawa kehancuran.’
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 36: Farewell and After