100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 14: BlackJack 21 (2)



Waktu menunjukkan pukul 5.15 sore, bersamaan dengan selesainya tugas kelompok. Nia, Pami, dan Yoz pun langsung pamit kepada Shela dan pulang dengan cara mereka masing-masing.


Nia pulang dijemput oleh ayahnya, Pami pulang dengan mengendarai motor pribadinya, sedangkan Yoz pulang dengan berjalan kaki.


Pemandangan kota sore itu terlihat sedikit berbeda, tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, bahkan hanya sedikit orang yang terlihat. Membuat Yoz berpikir apakah sedang ada perbaikan jalan.


Dia pun memutuskan untuk pergi ke suatu tempat sebelum pulang karena ingin membeli sesuatu. Sesampainya di tempat tujuan yaitu sebuah toko buku dan alat belajar, dia segera masuk dan membeli beberapa barang yang dijual di tempat itu.


Tak memakan waktu sampai 2 menit, dia pun keluar dari toko sambil menenteng sebuah kantong plastik hitam di tangannya, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


Di tengah perjalanan, dia menghentikan langkahnya karena melihat para polisi yang sedang melakukan investigasi. Nampak pemandangan gedung yang hancur beserta jalanan yang berwarna hitam pekat melebihi aspal seperti habis terbakar menghiasi tempat para polisi itu berada.


Yoz pun akhirnya paham mengapa ada perasaan yang berbeda dengan pemandangan kota yang dia lihat saat hendak menuju ke rumah Shela, sekaligus menjawab mengapa sama sekali tidak terlihat kendaraan yang melintas.


Dirinya mau tidak mau harus mengambil rute lain karena hal itu.


‘Apakah gedung itu hancur karena ulah monster yang diceritakan oleh Suryadi tadi pagi?’


*Bruak!*


Di saat Yoz sedang berpikir, tiba-tiba saja ia tersandung oleh sesuatu dan terjatuh. Cepat-cepat dia memeriksa plastik hitam yang dibawanya takut ada yang hilang atau rusak, dia terlihat lebih khawatir dengan barang bawaannya dibandingkan dirinya sendiri.


Setelah merasa barang bawaannya baik-baik saja, kemudian dia menoleh ke arah sesuatu yang membuat dirinya terjatuh. Terlihat sebuah benda yang terasa familiar membuat Yoz terbelalak kaget.


“Itu…?!”


Sebuah pedang mirip katana yang tanpa dilapisi sarung dan setengah hangus tergeletak di pinggir jalan. Yoz langsung mengambil pedang itu dan memeriksa seluruh bagian untuk memastikan dugaannya.


Tidak salah lagi, pedang itu adalah pedang milik Arda yang pernah ia lihat saat dirinya hampir bertarung dengan pahlawan itu, bahkan di gagang pedang tersebut tertulis nama ‘Arda Gavis’ yang semakin memperkuat dugaannya.


Ia pun berniat untuk memberikan pedang itu kepada polisi, namun langkahnya terhenti di saat sebuah ide terlintas di pikirannya.


‘Tunggu sebentar… jika seandainya Arda memang kehilangan pedangnya, berarti aku bisa menjadikan pedang ini sebagai sandera agar bisa memaksanya menghapus semua rekaman aksiku waktu itu,’ pikir Yoz sambil tersenyum licik.


Dia pun mencoba memasukkan seluruh bagian pedang itu ke dalam tas tapi sepertinya senjata itu tidak muat untuk masuk ke dalam, apalagi mata pedang yang tajam akan merusak tasnya jika dia bersikeras untuk memasukkannya.


Tak kehabisan ide begitu saja, Yoz segera mengambil sesuatu di dalam plastik hitam yang sudah dia beli di toko sebelumnya. Terlihat sebuah karton tebal berwarna putih digunakannya untuk melapisi mata pedang yang tajam, setidaknya karton itu mampu menahan tajamnya pedang milik Arda untuk beberapa saat.


Setelah selesai melapisi, dia langsung memasukkan separuh bilah pedang dan gagangnya ke dalam, sedangkan sisanya berada di luar tas.


Berkat idenya tersebut, kini dia terlihat seperti seorang pelajar yang membawa tas dengan gulungan karton yang menjulur keluar. Merasa semuanya sudah beres, dia pun buru-buru pulang sebelum hari semakin gelap.


Sebenarnya Yoz tak perlu khawatir pulang larut malam, karena pamannya sudah berpesan kalau dirinya sedang ada urusan di luar kota. Yoz bebas untuk melakukan apa pun untuk beberapa hari ke depan, tapi meskipun begitu, dirinya tetap berusaha secepat mungkin untuk kembali ke rumah karena hendak melakukan sesuatu.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


“Tiga… dua… satu!”


Entah mengapa sejak 30 menit terakhir setelah bel sekolah berbunyi, Yoz sudah beberapa kali melihat ke arah jam tangannya seperti sedang menghitung waktu.


Suryadi yang menyadari hal itu menatap bingung temannya, apalagi barusan dia melihat Yoz menghitung mundur waktu.


“Sudah saatnya…” desis Yoz dengan wajah seriusnya.


“Ekspresi serius itu… jangan-jangan…!” Suryadi yang melihat ekspresi Yoz mulai merasakan firasat buruk, terutama setelah ia mengingat kembali cerita Arda saat itu.


Yoz pun langsung berdiri sambil menggenggam sebuah kotak berwarna hitam di tangannya, Suryadi yang melihat kotak itu mulai merasa aneh seolah-olah jantungnya sedang diremas kuat-kuat.


‘K-kotak hitam itu…?!’ batin Suryadi berkeringat dingin.


“Di, ini sudah 30 menit, kau tidak mau melakukan pekerjaanmu?” celetuk Yoz tiba-tiba. seraya menoleh.


“A-apa?” sahut Suryadi kaget.


Mendengar kalimat itu, Suryadi pun baru menyadari sesuatu. Yoz terkadang mempunyai kebiasaan untuk menekan stopwatch di jam tangannya setelah bel sekolah berbunyi. Jika seandainya setelah 30 menit guru yang mengajar masih belum muncul, biasa dia akan tidur di bangkunya atau melakukan kesibukan lainnya. Kesimpulannya, kelasnya sekarang sedang jam kosong.


Setelah menyadarinya, wajah tegang Suryadi perlahan-lahan menjadi rileks, dirinya merasa bersalah karena sudah berburuk sangka tadi tapi tak berani untuk mengucapkan sesuatu kepada temannya.


Dia pun berdiri dari kursinya dan berbalik badan, lalu menyerukan dirinya yang siap melakukan pekerjaan kepada teman-temannya.


Tentu saja banyak siswa yang langsung mendatangi Suryadi setelah suara menyerukan itu terdengar sambil menyodorkan uang mereka kepada pemuda tersebut.


Yoz yang melihat temannya dikerumuni oleh banyak orang pun berbalik badan meninggalkan temannya tanpa sepatah kata apapun lalu berjalan mendatangi Nia, Pami, dan Shela.


Sedangkan Suryadi langsung melakukan pekerjaannya yaitu kacung tanpa menyadari kalau temannya sudah beranjak dari bangkunya karena terlalu sibuk menerima pesanan.


Kondisi kantin yang masih sepi membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah karena tidak perlu capek-capek mengantri. Entah ilmu apa yang pemuda itu pakai, keberadaannya yang suka bolak-balik ke kantin sama sekali tidak diketahui oleh guru-guru.


Sebenarnya dia pernah sekali atau dua kali kepergok oleh guru sewaktu melakukan pekerjaannya, namun hal itu tidak membuatnya jera dan justru kembali melanjutkan pekerjaan.


Kembali ke sisi kelas, ketiga siswa yang didatangi oleh Yoz menatap bingung ke arah kotak hitam yang dipegang olehnya. Pemuda berjaket merah itu pun mulai membuka isi kotak yang dia pegang lalu meletakkannya ke meja.


“I-ini…!?” ucap Nia dan Shela serentak saat melihat karton putih yang telah dipotong membentuk kartu sebanyak sebelas buah terasa familiar di ingatan mereka.


“BlackJack 21…” sambung Pami menjawab.


BlackJack 21 sendiri adalah sebuah permainan dengan kartu-kartu yang berjumlah sebelas buah dengan masing-masing kartu bertuliskan angka 1 hingga 11. Permainan ini biasanya dimainkan oleh dua orang dan memiliki tujuan untuk mendekati atau mencapai angka 21.


Masing-masing pihak akan mendapatkan dua buah kartu secara acak pada awal-awal permainan dan biasanya kedua pihak wajib menunjukkan salah satu kartu sedangkan sisanya tidak perlu diperlihatkan.


Cara bermainnya sendiri adalah dengan cara menarik kartu yang sudah diacak dan mengumpulkannya hingga mendekati atau mencapai angka 21, jika ingin menarik kartu maka katakan ‘Hit Me’.


Diusahakan untuk mendekati atau mencapai angka 21 karena jika seandainya pemain mendapatkan jumlah angka lebih dari 21, maka akan dinyatakan ‘Bust’ dan peluang untuk menang akan menjadi kecil.


Jika merasa kartu yang dikumpulkan sudah mendekati atau mencapai angka 21, maka katakan ‘I Will Stay’ hingga pemain lawan juga berkata demikian.


Setelah kedua pemain sudah siap, maka keduanya harus memperlihatkan seluruh kartu mereka untuk menentukan pemenangnya, siapa pun yang lebih mendekati atau bahkan mencapai angka 21 maka dinyatakan sebagai pemenang.


Ketiga serangkai itu sudah cukup paham dengan permainan itu sehingga Yoz tidak perlu menjelaskan, tanpa basa-basi mereka pun langsung mencoba memainkan permainan itu.


Dalam video yang Yoz dan ketiga serangkai tonton, pemain yang kalah akan menerima hukuman berupa siksaan yang sadis dan mengerikan seperti memotong jari.


Namun mereka berempat memutuskan untuk mengganti hukuman sadis tersebut menjadi mencoret tangan menggunakan pulpen kepada pihak yang kalah.


Permainan pun dimulai dengan Nia melawan Pami sedangkan Shela menjadi penengah.


Kedua pihak sudah menarik beberapa kartu dan masing-masing merasa yakin dengan kartu mereka. Setelah kedua pihak menyebutkan 'I Will Stay', Shela pun meminta Nia dan Pami menunjukkan isi kartu mereka.


Karena jumlah kartu yang Pami miliki lebih mendekati angka 21, maka dia menjadi pemenangnya dan berhak mencoret tangan Nia.


Nia yang tidak terima akan kekalahannya meminta permainan untuk diulang. Permainan kedua pun ternyata dimenangkan oleh Nia dan berhak mencoret tangan Pami.


Gadis berkacamata itu terlihat senang saat akan mencoret tangan temannya sampai-sampai dirinya tanpa sengaja mencoret tangan Pami terlalu banyak, Pami yang yang tidak terima akan hal itu langsung mengambil pulpen miliknya dan terjadilah perang coret-mencoret.


Shela hanya tertawa memaklumi tingkah kedua temannya sedangkan Yoz hanya menatap datar karena sudah menduga hal itu akan terjadi.


Di saat perang itu berlangsung, ternyata siswa 2-E dengan kekuatan seperti orang gila yang tidak lain adalah Riki tiba-tiba sudah ada di belakang Yoz sambil melipat kedua tangannya mengamati mereka berempat sedari tadi.


Dirinya terlihat penasaran dengan permainan kartu yang sedang dimainkan oleh Nia dan Pami barusan.


Sepertinya kelas 2-E juga tidak ada guru yang mengajar sehingga pemuda itu bisa keluar kelas dengan bebas dan berada di sini.


Yoz sendiri sebenarnya cukup kaget begitu mengetahui Riki ternyata sudah ada di belakangnya sedari tadi karena dirinya sama sekali tak mendengar langkah kaki siswa itu, kemampuan menyelinap orang ini bisa menyaingi kemampuan Suryadi yang menyelinap ke kantin tanpa sepengetahuan guru.


Jika dipikir-pikir lagi, bagaimana bisa pemuda itu masuk ke kelas ini dengan mudah? Bukankah seharusnya ada yang menghadangnya? Atau apa semuanya sudah jera berurusan dengan siswa berkekuatan seperti orang gila ini?


“Kalian sedang melakukan apa?” tanya Riki.


“Main BlackJack 21,” jawab Shela, “kamu mau ikut main?”


“Boleh, tapi aku gak tau cara mainnya…” jawab Riki sambil menggaruk-garuk pipinya.


“Tenang, aku akan jelasin cara mainnya.”


Shela pun mulai menjelaskan permainan tersebut kepada Riki dengan kalimat yang cukup sederhana tapi mudah dimengerti. Setelah paham akan permainannya, Riki langsung menantang Shela bertanding dengan percaya diri meskipun ini untuk pertama kali dirinya bermain permainan itu.


Shela pun menerima tantangan itu dengan senang hati, sedangkan Yoz menjadi penengah dalam pertandingan mereka berdua.


Beberapa permainan pun berlalu dengan kemenangan berturut-turut Riki, seolah-olah pemuda itu menggunakan cheat. Nia dan Pami yang awalnya bertengkar akhirnya berhenti karena melihat Riki yang terus-terusan menang.


“Ro, kamu nggak ikut main?” tanya Shela setelah menyadari pemuda berjaket merah itu hanya jadi penonton.


“Huh!?” respon Yoz.


Sebenarnya pemuda berjaket merah itu ingin menjawab ‘tidak’ namun ucapannya tiba-tiba tertahan di tenggorokan begitu melihat wajah kekalahan Shela yang seperti meminta untuk digantikan, dirinya pun akhirnya memutuskan untuk menggantikan posisi gadis itu dengan tujuan memutuskan rantai kekalahan. “—Ah… baiklah….”


Yoz dan Shela pun bertukar posisi sehingga Yoz kini berhadapan langsung dengan Riki, sedangkan Shela berdiri di antara mereka berdua sebagai wasit.


“Jangan sampai kalah, Ro,” komentar Nia menyemangati.


“Sejak kapan anak ini ikutan main sama kita?” tanya Pami melihat Riki yang duduk di sampingnya.


“Riki itu ada di mana-mana, Jay,” jawab Riki sambil menempatkan kedua tangannya di pinggang.


“Sudahi teori-teori anehmu itu dan langsung bermain!” bentak Pami kesal.


Di tengah perdebatan Pami dan Riki, Yoz berdesis pelan kepada Nia, “Hei, ‘Jay’ itu nama aslinya?”


“Itu nama panggilan,” jawab singkat Nia.


“Ah—Begitu…”


Pertandingan antara Riki dan Yoz pun di mulai dengan penonton yang hanya berjumlah tiga orang. Riki memang benar-benar hebat dalam permainan ini seakan-akan dirinya adalah raja dalam permainan itu, terbukti dari pertandingan pertama yang dimenangkan oleh Riki dengan mudah dan Yoz mau tidak mau harus menerima tangannya dicoret oleh Riki menggunakan pulpen.


Bahkan yang lebih buruknya lagi, tinta pulpen yang menghiasi tangannya sangat susah untuk dihapus, ia mulai paham mengapa Shela berusaha untuk menyerah sebelumnya.


Riki yang mendominasi permainan mulai besar kepala dan meminta permainan diulang sama seperti saat dia menghadapi Shela, bahkan ia mengusulkan untuk meningkatkan hukumannya menjadi dua coretan, namun Yoz dengan santai menerima usulan itu meskipun ia mengetahui kalau dirinya akan menerima hukuman ganda jika sampai kalah.


‘Kau mungkin memang hebat dalam permainan BlackJack 21 ini, tapi ada hal yang perlu kau ketahui. Aku sudah mempelajari permainan ini lebih dulu sebelum kau mengetahuinya, bahkan yang membuat kartu-kartu ini adalah aku….’


Yoz menundukkan kepala sambil tersenyum tipis sehingga tidak ada seorang pun yang melihat ekspresinya. ‘Itu berarti… akulah yang mendominasi permainan ini!’


Dia pun berhasil membalikkan keadaan dengan mengalahkan Riki berkali-kali dalam pertandingan tersebut.


Karena sebelumnya Riki mengusulkan untuk meningkatkan hukuman menjadi dua coretan, kini tangan pemuda itu penuh dengan coretan melebihi coretan di tangan Shela, membuat dirinya meronta-ronta tidak ingin melanjutkan permainan namun Yoz tetap memaksanya untuk bermain.


Bahkan Nia dan Pami turut membantu untuk menahan pundak Riki agar pemuda itu tak beranjak dari kursi dan kabur, sedangkan Shela tertawa puas melihat Riki merasakan apa yang dia rasakan sebelumnya.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Bel istirahat pun terdengar 30 menit setelah Suryadi keluar dari kelas. Segera setelah bel istirahat berbunyi, seluruh pelosok kantin pun dipenuhi oleh siswa-siswa yang mengantri untuk membeli makanan dan minuman.


Beruntungnya, Suryadi berhasil membeli semua pesanan teman-temannya tepat sebelum kantin menjadi lebih ramai, dia pun buru-buru membawa pesanan terakhir itu ke kelas.


Ketika ia tiba di dalam kelas, teman-temannya yang sudah lama menunggu pesanan sejak tadi langsung mengerumuninya seperti ibu-ibu yang berebutan barang diskonan.


Setelah semua pesanan diberikan, Suryadi pun mengantongi banyak uang yang dia peroleh dari pekerjaan tadi lalu mencari Yoz di bangku namun tak menemukan temannya di sana.


Alangkah terkejutnya dia saat menemukan teman sebangkunya yang suka menyendiri itu justru sedang asyik berkumpul bersama keempat siswa lain di pojok kelas.


Namun dirinya tak ambil pusing akan hal itu dan menganggap mungkin Yoz sedang membahas tugas, mengingat kemarin temannya baru saja mendapatkan kelompok belajar.


“Yoz, ke kantin, kah?” ajaknya.


“Huh!? Kau menghabiskan waktu 30 menit berada di kantin dan tidak membeli apa pun untuk dimakan?” tanya Yoz heran.


Tiba-tiba saja Suryadi menendang kursi Yoz hingga berguncang, seperti mengisyaratkan untuk tidak banyak bertanya. Yoz sendiri nyaris jatuh ke lantai akibat guncangan itu namun dirinya berhasil mempertahankan posisi kursinya sebelum benar-benar jatuh.


“Baiklah-baiklah ayo ke kantin dan berhentilah menendang…!” balas Yoz lalu beranjak dari kursinya dan mengikuti Suryadi.


Baru saja berjalan sejauh empat langkah, ia tiba-tiba berhenti lalu menoleh kepada empat siswa di belakangnya, Suryadi pun juga ikutan berhenti dan menatap bingung temannya.


“Kalian berempat mau ikut bareng ke kantin?” ajak Yoz.


“Boleh,” jawab Nia dan Shela bersamaan sedangkan Pami hanya menganggukkan kepala.


Ketiga orang itu menerima ajakan Yoz dengan senang hati tanpa merasakan ada hal yang aneh, mungkin hanya Suryadi saja yang merasakan hal aneh tesebut.


Lantaran untuk pertama kalinya dia melihat pemandangan langka seperti ini dengan mata kepalanya sendiri, sebab ia tak pernah melihat Yoz mengajak orang lain selain dirinya untuk pergi ke kantin.


Namun berbeda dengan kali ini, dengan santainya Yoz mengajak ketiga orang itu untuk ke kantin, sampai-sampai membuat Suryadi berpikir apakah pemuda ini benar-benar teman yang dia kenal atau jangan-jangan pemuda itu sedang kemasukan sesuatu?


“Kalau begitu, kalian aja, ya. Aku mau balik ke kelasku dulu,” celetuk Riki lalu beranjak dari kursi dan keluar dari kelas.


Sebelum Riki menghilang dari pandangan, dia terlihat menggosok tangannya seperti berusaha menghapus coretan tinta yang menghiasinya. Nia, Pami, dan Shela pun langsung melakukan hal yang serupa seperti Riki sedangkan Yoz sendiri memilih untuk membiarkan tangannya penuh dengan coretan.


Setelah ketiga serangkai berhasil membersihkan tinta-tinta itu dengan susah payah, mereka berlima pun pergi ke kantin bersama-sama.


Yoz berjalan lebih dulu di depan dengan keempat temannya yang mengekor di belakang, seolah-olah menjadi pemandu bagi mereka berempat.


“Oh tidak, ini buruk,” ucap Suryadi saat melihat salah satu kelas yang akan mereka lewati.


“Kenapa?” tanya Nia sembari mengikuti arah pandangan Suryadi, diikuti oleh Pami dan Shela yang sama penasarannya.


Ketika mereka berlima melewati salah satu kelas, nampak beberapa siswa yang sedang asyik berkumpul di depan kelas tersebut memandangi Yoz dengan tatapan meremehkan.


Salah satu dari mereka pun dengan sengaja mengatakan sesuatu dengan lantang berharap pemuda berjaket itu mendengar apa yang dia ucapkan.


“Hei, lihat ada si Mata Aneh! Lihat tangannya! Sepertinya dia sudah gila sampai-sampai mencoret tangannya sendiri!” ucapnya kepada teman-temannya.


“Apakah kau ingin aku menghajar dia?” balas yang lain.


“Jangan! Bisa-bisa dia mati jika kau memukulnya,” timpal lagi yang lain.


Suara tertawa pun terdengar jelas seperti menertawakan orang yang mereka maksud. Yoz yang mendengar cercaan itu hanya menundukkan kepala sampai-sampai mata kirinya tertutup oleh poninya, lalu kembali berjalan tanpa mempedulikan semua hinaan itu seakan-akan tak pernah mendengarnya.


Keempat siswa di belakang Yoz yang menyaksikan hal itu hanya terdiam seribu bahasa. Tak ada satu pun dari mereka yang berani berkata takut membuat Yoz tersinggung.


“Mata Aneh?” bisik Nia kebingungan kepada Suryadi.


“Eto… agak susah ngejelasinnya…” balas Suryadi berbicara pelan agar Yoz tidak mendengarnya.


“Tapi kenapa mereka melakukan hal itu ke dia…?” Shela bertanya juga.


“Eh… aku juga gak terlalu tau, sih… tapi intinya Yoz ada konflik dengan mereka,” terang Suryadi sambil menggaruk-garuk kepalanya berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjelaskan.


“Untuk apa kita ambil pusing? Dia sendiri gak ambil pusing sama masalah itu,” sela Pami dengan sikap acuh tak acuh.


“Kamu itu memang masa bodoh sama orang lain, makanya gak heran kalau kamu dipanggil ‘Robot’ sama orang-orang,” sahut Nia dengan tatapan meledek.


“Mau aku tendang, kah?” balas Pami kesal.


“Kamu yakin?”


Ketika mendengar hal itu, Pami langsung menatap lengannya yang penuh dengan bekas cakaran. Nia yang menjadi pelaku atas luka-luka itu mulai menunjukkan kuku-kukunya yang panjang seperti ingin mengintimidasi temannya.


Pami pun akhirnya memilih untuk diam karena tidak ingin muncul koleksi baru di tangannya.


“Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian bertiga cukup akrab dengan Yoz? Orang itu sangat susah untuk didekatin, loh…?” tanya Suryadi.


“Entahlah… dia mendadak saja muncul di hadapanku,” jawab malas Pami.


“Mungkin sejak kita kerja kelompok kemarin?” jawab Shela.


“Atau mungkin sejak dia bantuin kerjakan PR, ya?” jawab Nia sambil menempatkan jari telunjuknya di dagu.


“Eh? Sepertinya aku melewatkan banyak hal, ya…?” kata Suryadi sambil tersenyum penasaran dan menatap Yoz yang masih berjalan sendirian di depan.


'Tidak ada hal yang mencurigakan dari Yoz, apa yang dikatakan Arda hanya kebohongan belaka?'


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 15: Pertemuan dan Takdir