
Suryadi dan Knighto terkejut saat Yoz ada di depan mata. Pemuda berjaket merah itu terlihat sangat buru-buru masuk ke dalam mobil dengan alasan yang sudah diketahui oleh mereka berdua.
Sontak Suryadi tidak mau membuang kesempatan kecil itu untuk menghentikannya.
“Itu benar-benar Yoz! Cegah dia!” seru Suryadi segera mengejar Yoz yang mulai menutup pintu mobil.
“Yo—”
Saat suaranya sudah hampir meraih daun telinga Yoz, tiba-tiba saja Knighto menarik kerah bajunya hingga ia terjatuh lalu mulutnya ditutup menggunakan tangan. Hal itu membuat ia gagal melakukan aksinya dan hanya bisa meratapi mobil beserta Yoz yang mulai melaju pergi.
Urat pelipis nampak timbul di dahi karena kegagalan itu diakibatkan oleh teman di belakangnya, apalagi ini untuk kedua kalinya ia ditarik secara tiba-tiba seperti tadi. Sontak dia melepaskan mulutnya dari tangan Knighto dan kembali berdiri dengan emosi.
“SEKARANG APA LAGI?!” geram Suryadi sambil menarik kerah Knighto dengan sangat kuat.
Knighto tak melakukan pergerakan untuk melepaskan diri seolah-olah mengaku salah atas perbuatannya barusan dan hanya membalas, “Apa kamu tidak lihat para polisi itu?!”
“Lantas memangnya kenapa? Kita bukanlah kriminal, lagipula mungkin tujuan kita sejalan dengan para polisi datang ke sini!”
“Jikalau memang tujuan kita dengan para polisi itu sama yakni menghentikan Yoz, apa kamu benar-benar yakin kalau kita semua akan baik-baik saja setelah itu?”
“Apa maksudmu?”
“Jika para polisi tahu kita memiliki hubungan dengan Yoz, kita pasti akan ditangkap dan ditahan! Lagipula....” Knighto terdiam sejenak dengan mata memandang ke bawah serta raut wajah yang sedih sebelum pada akhirnya kembali melanjutkan.
“Ada kemungkinan kalau Yoz akan dijatuhi hukuman mati setelah kekacauan di kota ini berhasil diredakan....”
Suryadi seolah menerima tamparan keras mendengarnya karena dia tidak berpikir sampai sejauh itu, selama ini ia terlalu fokus untuk menghentikan Yoz hingga mengalihkan pikirannya dari kemungkinan nasib Yoz setelahnya.
“Lalu... apa yang harus kita lakukan?” tanya Suryadi dengan wajah bersalahnya setelah tahu bahwa semua yang dilakukan Knighto bukan tanpa dasar.
“Aku sendiri juga tidak tahu harus bagaimana... untuk sekarang kita harus mencari rute lain untuk mengejar Yoz, sebisa mungkin jangan sampai terlihat oleh polisi dan pahlawan atau kita akan gagal!”
Suryadi sekilas mengingat kembali bagian kecil dari informasi yang disampaikan oleh Arda.
'Para pahlawan, polisi, dan seluruh kota mungkin bisa memberi dia kesempatan untuk hidup dan menebus kesalahannya, tapi bukan berarti mereka bisa menyingkirkan kegelapan yang ada di dalam hatinya. Oleh karena itu, aku mempercayakan tanggung jawab ini kepadamu karena hanya kau yang bisa menyingkirkan kegelapan itu!’
Pemuda itu mulai sedikit lebih tenang dibandingkan beberapa detik sebelumnya, lalu mencoba berdiri sambil menatap serius temannya.
“Aku mengerti, ayo kita cari rute lain!” ucapnya lalu berbalik arah dan berlari.
Knighto menghela napas sejenak karena sedikit kewalahan untuk meladeni temannya yang naik pitam tadi. Meski begitu, ia nampak tersenyum tipis kemudian mulai menyusul sebelum tertinggal jauh.
Mereka berdua pun melewati rute lain dengan memutari sekitar komplek rumah Yoz berada. Mungkin sedikit memakan waktu, namun mereka berhasil melewati lokasi yang dipenuhi oleh para polisi tanpa ketahuan dan kembali ke jalan utama di mana Yoz lalui.
*DOR!*
Bersamaan dengan mereka yang kembali ke jalan utama, terdengar suara tembakan yang menarik perhatian Knighto hingga membuatnya berhenti berlari lalu menoleh ke belakang.
Perasaan bingung dan cemas menimpa dirinya saat tahu kalau suara tembakan itu berasal dari rumah Yoz, bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi di lokasi sumber suara berasal.
“Suara apa itu?” tanyanya.
“Ito!”
Sedangkan Suryadi sendiri sebenarnya masa bodoh dengan suara tadi dan terus melanjutkan pengejaran, tapi mau tidak mau ia harus berhenti karena Knighto. Temannya itu sama sekali tidak merespon panggilannya, jadi ia memutuskan untuk menendang kaki Knighto untuk menyadarkan.
“Ugh!”
“Abaikan saja suara itu! Waktu kita tidak banyak!”
“Ah... i-iya...!”
Dengan rasa sakit di kaki kanan, pemuda berkemeja merah itu menggelengkan kepala berusaha menghilangkan suara tembakan barusan dari benaknya.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan pengejaran dengan posisi Suryadi yang ada depan sedangkan Knighto di belakang.
Meskipun posisinya mengekor di belakang, Knighto sekilas bisa melihat ekspresi Suryadi yang seperti tersenyum puas setelah menendang kakinya seolah-olah ingin membalas dendam, itu membuatnya sedikit kesal dan berpikir untuk membalasnya di kemudian hari.
Ratusan meter telah mereka tempuh, dengan diiringi suara ledakan dan raungan monster jarak mereka dengan tebing bagian selatan Kota Machina semakin dekat. Pada saat itu juga mereka melihat sebuah mobil yang menabrak salah satu gedung dengan kondisi yang sebagian hangus terbakar akibat kobaran api, mereka berdua memperhatikan dengan seksama mobil tersebut.
“Itu... jangan-jangan—”
“Yoz!?”
Sontak keduanya dibuat panik sekaligus takut saat menyadari ternyata ada seseorang di dalam mobil itu dengan kondisi kepala yang sudah tertusuk oleh sesuatu, dengan cepat mereka berlari mendekat berusaha memastikan dugaan mereka salah.
Beruntungnya dugaan mereka memang salah karena postur tubuh yang mereka lihat terlalu dewasa untuk ukuran Yoz, kedua pemuda itu menghela napas lega bersama-sama.
“Ini bukan dia... syukurlah....” ucap Suryadi sembari memegang dadanya.
Adapun Knighto melirik sekitar mencari-cari, “Jika itu bukan Yoz, lalu dia ada di mana?”
Tanpa ada satu pun petunjuk, kedua pemuda itu mulai kebingungan harus menuju ke arah mana. Suryadi tidak berani mengambil keputusan begitu saja karena saat ini mereka sedang berlomba dengan waktu, jika salah melangkah saja maka mereka hanya akan membuang-buang waktu yang mereka miliki.
*Blam!*
Tiba-tiba tanpa diduga terdengar suara yang cukup keras seperti suara banyak hantaman yang terjadi secara bersamaan dalam waktu singkat. Suryadi yang familiar dengan suara itu langsung tahu ke arah mana mereka harus pergi dan bergerak cepat menuju sumber suara.
“Ikuti aku!” ucap Suryadi kepada Knighto tanpa memalingkan wajah.
Si ksatria tidak diberi kesempatan untuk angkat suara sehingga mau tak mau ia harus mengikuti temannya. Dengan berat hati ia meninggal jasad manusia yang mulai ikut terbakar oleh kobaran api.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Saat sampai di sumber suara, yang mereka temukan hanyalah jasad monster yang seluruh tubuhnya sudah hancur akibat banyak pukulan. Knighto sangat kecewa dengan apa yang mereka, tapi berbanding terbalik dengan Suryadi karena menurutnya itu justru sebuah petunjuk.
‘Tubuh yang hampir hancur karena menerima banyak hantaman.... Tidak salah lagi!’ Suryadi membatin.
Begitu menelusuri jalanan yang penuh dengan darah, dia langsung mendapati sebuah jejak langkah kaki yang terbuat dari darah menuju ke arah tebing. Suryadi yakin bahwa mereka sudah selangkah lebih dekat dengan Yoz, dia langsung menoleh ke arah Knighto dengan wajah antusias.
“Kita menuju ke puncak tebing—”
*Brukk!*
Belum saja Suryadi menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba di belakangnya mendarat sosok monster yang begitu besar hendak mengayunkan senjatanya ke arah leher pemuda itu. Knighto yang sadar lebih dulu langsung berteriak sekencang mungkin.
“MENUNDUK, SURYADI!”
Dengan refleks Suryadi mengikuti perintah temannya. Ayunan dari senjata makhluk itu sudah sangat tipis menyentuh kepalanya. Ia harus merelakan dua atau tiga helai rambut yang lepas dari kulit kepalanya akibat ayunan itu, tapi setidaknya kepala dan badannya masih utuh.
Tidak berakhir sampai di situ, setelah gagal menargetkan leher targetnya, sosok itu kembali mengayunkan senjatanya dari atas ke bawah hendak menargetkan punggung Suryadi.
Knighto dengan seluruh tenaganya bergerak cepat dan ternyata tepat waktu menahan serangan itu sebelum senjata makhluk itu menyentuh tengkuk temannya.
Keduanya saling beradu kekuatan dengan senjata masing-masing, namun makhluk besar itu terlihat lebih unggul sedangkan Knighto mulai tidak bisa menahan lebih lama lagi. Sang ksatria pun memutuskan menempatkan kedua kakinya dengan benar lalu mengerahkan tenaganya pada satu dorongan sehingga sosok tadi sedikit mundur.
Knighto memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa dirinya dan temannya mundur beberapa langkah menjauh dari si monster.
Terlihat si ksatria cukup kewalahan menahan serangan barusan sampai-sampai napasnya terengah-engah. Adapun Suryadi mengalami sedikit syok akibat nyawanya yang sempat berada di ujung tanduk.
“Te-terima k-kasih....” ucap Suryadi lemas.
Sosok monster tadi mengangkat senjatanya yang berupa gada lalu menopangnya di bahu. Wujud dari monster itu mulai terlihat jelas, berbadan tegap seperti manusia berotot, berkulit hijau, telinga yang lancip, serta gigi taring bagian bawah yang panjang hingga keluar dari mulutnya. Sederhananya, monster itu nyaris mirip seperti goblin yang sering muncul di dalam cerita-cerita.
Makhluk itu berjalan mendekati dua manusia di depannya dengan tatapan haus darah yang mengintimidasi serta napas yang berat.
“Kau cukup kuat untuk ukuran manusia yang bisa menahan seranganku, itu berarti kau adalah—”
Ucapan dan langkah goblin itu terhenti saat ia memperhatikan wajah dari dua targetnya. Sedangkan Suryadi dan Knighto mulai bersiaga dari kemungkinan monster di hadapan mereka akan mulai menyerang.
“Kalian berdua tidak terlihat seperti bocah 'Aura' dengan mata kanan yang tertutup oleh rambut itu....” kata si goblin dengan wajah sedikit kecewa.
“Mata kanan tertutup oleh rambut?” ulang Knighto.
“Bocah ‘Aura’?” imbuh Suryadi.
Mereka berdua sama-sama menyadari siapa yang dimaksud oleh monster itu, terutama Suryadi yang mendengar kata ‘Aura’ mengingatkannya dengan perkataan monster yang pernah muncul di sekolah beberapa hari yang lalu, Pison.
“Ya, sudahlah... bunuh siapa pun juga tidak masalah, bukan?” tutup si goblin menurunkan senjatanya hingga menghantam tanah lalu melakukan peregangan pada tubuh diikuti suara tulang-tulang yang berbunyi.
Adapun dua sejoli yang mulai mempersiapkan diri masing-masing. Genggaman Knighto terhadap senjatanya semakin menguat, diikuti posisi kuda-kuda. Sedangkan Suryadi tanpa sadar mundur secara perlahan dengan waspada sekaligus takut.
Dirinya kini sedang berpikir keras tentang cara untuk mengalahkan monster tersebut. Melirik ke sana kemari untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu Knighto dalam pertarungan, hingga secara tiba-tiba si ksatria menyeletuk.
“Di, pergilah duluan!”
“A-apa? Bagaimana denganmu?”
“Aku akan menahan monster ini agar tidak mengejarmu! Tenang saja, aku akan menyusulmu nanti.”
Suryadi tak menduga akan mendengar ucapan seperti itu dari teman lamanya yang dulu sering disebut sebagai seorang penakut. Melihat wajah temannya yang serius mengindikasikan bahwa ucapan tadi bukanlah omong kosong.
Hal itu membuatnya mengepal tangan kuat-kuat, merasa kesal dengan dirinya sendiri yang hanya bisa menatap punggung kedua temannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Jangan bercanda! Aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja!” tolak Suryadi dengan suara keras, “Kau tidak akan bisa menang melawan monster itu—”
“Ini bukan tentang bisa menang atau tidak!” hardik Knighto memotong, “Jika salah satu dari kita tidak ada yang menghentikan Yoz, maka semuanya akan berakhir!”
“T-tapi... aku lemah... aku tidak akan bisa menghentikan dia seorang diri....”
Suryadi menundukkan kepala serta tubuh yang bergetar hebat. Hatinya kini terguncang oleh keraguan terhadap dirinya sendiri. Sebenarnya perasaan itu telah timbul pasca mengetahui identitas Yoz dan Knighto yang sebenarnya sehingga selalu menganggap diri lemah.
Knighto yang mendengar jawaban temannya tadi mengerti dengan yang dipikirkan Suryadi sekarang. Dia pun berusaha menyemangati dengan berkata, “Kau tahu, aku juga tidak memiliki peluang besar menang melawan monster ini... tapi aku harus tetap bertarung karena itu satu-satunya pilihan yang tersisa!”
Pemuda berkemeja orange itu tersadarkan oleh kalimat barusan. Membuat sosok siluet Arda kembali muncul di ingatannya, sosok siluet nampak menempatkan jarinya ke dada sembari berkata.
‘Yoz mungkin kuat sampai-sampai bisa mengalahkan monster tingkat atas, tapi tidak dengan hatinya! Dia sangat lemah dari sisi dalam dan sangat mudah dimanipulasi oleh orang lain!’
“Cih!”
Meskipun dengan berat hati karena harus meninggalkan temannya, Suryadi pada akhirnya meneguhkan hatinya lalu berlari meninggalkan Knighto sembari berpesan, “Jangan sampai terbunuh, dasar orang bodoh nekat!”
“Jangan pikir aku akan membiarkan salah satu dari kalian lari!”
Si goblin kembali memegang gagang gadanya lalu mengangkatnya hendak mengejar Suryadi, tapi ia dicegat oleh Knighto yang menerjang ke arahnya. Dengan gerakan cepat, makhluk itu menempatkan gadanya ke depan untuk menangkis serangan si ksatria.
*Sing!*
“Dan jangan pikir aku akan membiarkanmu mengejar temanku begitu saja!” seru Knighto dengan wajah serius.
Kedua wajah mereka saling berhadapan dekat dengan senjata masing-masing yang menyilang saling beradu kekuatan.
Urat pelipis nampak menghiasi wajah si goblin, dengan satu kali dorongan persis seperti yang dilakukan oleh si ksatria sebelumnya, Knighto terlempar cukup jauh akibat dorongan kuat dari si monster tapi tetap bisa mempertahankan posisinya untuk berdiri.
“Namaku ada Orke, yang dikatakan sebagai yang terkuat dari ras goblin!” ungkap si goblin seraya berjalan ke arah Knighto, “Siapa pun yang mendengar namaku tidak akan pernah selamat setelahnya! Bersiaplah....”
‘Dia sangat kuat, ini tidak akan mudah...’ pikir Knighto.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 24: Keangkuhan Melawan Kelengahan