
“―akan kulindungi kota ini!”
Kata-kata penuh keyakinan Yoz membuat Turpin sedikit muak. Perubahan sudut pandang pemuda itu terjadi begitu cepat, padahal Turpin sudah berusaha keras untuk mempengaruhi pikiran Yoz agar membenci segala hal yang berhubungan dengan pahlawan tapi sekarang menjadi sia-sia.
Jujur saja, kemampuan menembus milik pemuda itu benar-benar membuatnya bertanya-tanya tentang bagaimana cara melakukannya, apalagi Yoz baru saja mendapatkan kekuatan tersebut jadi rasanya agak mustahil dia dapat menguasainya dalam waktu singkat.
Lantas Turpin bertanya, “Bagaimana bisa kau melakukannya? Kemampuan seperti itu… yang baru saja kau dapatkan… tidak mungkin kau langsung menguasainya begitu saja!”
Yoz nampak terdiam beberapa detik sebelum pada akhirnya menjawab, “Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Semuanya ingatan yang entah berasal dari mana tiba-tiba masuk ke benakku dan aku dengan reflek menirunya….”
Turpin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh lawannya barusan, bertanya kembali pun dirasa akan sia-sia. Namun ia yakin, setiap kemampuan pasti memiliki kelemahan, oleh karena itu dia berinisiatif untuk maju seraya menganalisis.
Sebelum itu, Turpin menyimpan terminal kendali Nerous ke dalam topinya. Pandangan Yoz kini terkunci kepada alat tersebut, tidak ada hal lain yang dapat mengalihkan pandangannya meskipun itu adalah sebuah katana yang menodong ke arahnya.
Turpin menatap ke arah Yoz dengan penuh siaga, tangan kanannya memegang katana erat-erat. Dalam sekali hentakan kuat, ia menerjang ke arah lawannya.
Yoz terkesiap melihat gerakan Turpin yang dapat dikatakan tiba-tiba tersebut. Dia pun segera mengangkat pedangnya untuk menangkis serangan Turpin.
*SLASH! SING! SING!*
Suara bilah pedang yang saling beradu terdengar, dari gesekan kedua besi itu muncul percikan-percikan api. Turpin cukup terkejut sebab Yoz mampu menangkis semua serangannya hingga saat ini padahal dirinya menebas dengan cukup kuat.
Jika dibandingkan dengan Lightning Warrior yakni Arda, maka Yoz bisa dikatakan unggul dalam hal ketahanan tubuh dan tenaga. Tapi jika berbicara mengenai teknik berpedang, jelas pemuda berjaket merah itu masih jauh di bawahnya.
Bagaimana tidak, Yoz menangkis lalu memberikan serangan balasan menggunakan teknik berpedang claymore meskipun tahu senjata yang ia gunakan sekarang adalah sebuah katana. Dari hal itu saja sudah bisa menjadi bukti kalau Yoz tidak pernah mengetahui mengenai teknik berpedang.
Turpin menatap lawannya dengan menaikkan sebelah alisnya, “Teknik perpedang aneh macam apa itu? Apa kau menggunakan teknik berpedang claymore pada katana? Konyol sekali!”
Namun Yoz tak merespon pertanyaan tersebut, ia hanya memberikan tatapan serius kepada Turpin. Meski demikian, ucapan barusan seakan menyadarkannya akan sesuai sehingga ia terpaksa mundur beberapa meter.
Turpin pun memilih untuk mundur juga, meskipun lawannya hanyalah seorang bocah SMP tapi ia tak tahu kapan kemampuan menembus yang merepotkan itu akan aktif. Apalagi dia tidak menemukan hal baru apapun saat beradu pedang tadi sehingga usahanya terasa nihil.
Yoz mengernyit karena kepalanya tiba-tiba terasa sedikit sakit. Rasa sakit tersebut membuatnya memegangi kepala dan bahkan memaksanya untuk memejamkan mata beberapa saat.
“Lagi-lagi sakit kepala yang sama seperti tadi!” rintih Yoz.
Di benaknya muncul ingatan Knighto tengah menebas slime waktu itu yang kemudian berubah menjadi siluet sesosok pria yang menggunakan zirah serta claymore tengah menebas tujuh orang.
Berikutnya ingatan tersebut berganti ke sebuah pantulan bayangan dari pedang yang diselimuti oleh asap-asap hitam transparan. Lalu berganti lagi menjadi sosok siluet yang muncul dari permukaan lalu kembali menghilang seperti asap yang tertiup angin.
Sewaktu rasa sakit itu sudah menghilang, Yoz membuka matanya dan langsung disambut dengan Turpin yang sudah sangat dekat dan siap menebas secara vertikal dari bawah.
“Apa kau punya waktu untuk mengurusi sakit kepalamu itu?” cibir Turpin.
Serangan tak terduga itu benar-benar membuat Yoz terkejut. Beruntungnya, dia sempat menempatkan posisi katananya secara horizontal untuk menahan serangan itu, tapi ayunan Turpin kali ini begitu kuat sehingga pedangnya terlempar ke atas.
Meskipun tertutupi oleh topeng besi, Yoz tahu bahwa Turpin tersenyum bengis, suara terkikiknya masih bisa masuk ke telinga walaupun terdengar kecil. Turpin tanpa basa-basi langsung menghunuskan pedangnya seraya menatap wajah lawannya yang memucat.
‘Celaka!’
Ketika ujung dari bilah pedang Turpin sudah hampir menyentuh perut Yoz, tubuh dari pemuda berjaket merah itu tiba-tiba menjadi sedikit transparan layaknya hantu. Turpin yang menyaksikan hal tersebut di depan mata langsung tahu bahwa serangannya lagi-lagi gagal mengenai lawan.
“Tcih! Lagi-lagi kemampuan itu!” decak Turpin.
Yoz bernapas lega sesaat sebelum kembali fokus ke dalam pertarungan. Dengan jarak antara dirinya dengan musuh yang cukup dekat, Yoz langsung mengambil kesempatan untuk mencoba mengambil topi Turpin.
Turpin yang terlambat menyadarinya buru-buru untuk menjauh tapi nahasnya tangan Yoz sudah meraih topi kesayangannya. Dirinya langsung sadar bahwa Yoz berniat untuk mengambil terminal kendali Nerous yang tersimpan di dalam topinya.
Tapi alangkah terkejutnya Yoz saat melihat jari-jarinya justru melewati topi Turpin begitu saja. Baginya kejadian tak terduga itu membuat rencananya otomatis gagal.
Sedangkan Turpin langsung mengambil langkah seribu untuk mundur sejauh mungkin. Dirinya mungkin tidak melihat secara langsung, tapi dari ekspresi Yoz saja sudah cukup untuk menjelaskan apa yang terjadi.
‘Aku berani bersumpah tangannya sudah menyentuh topiku, tapi aku tidak merasakan benda ini bergeser sejengkal pun dari kepalaku…’ pikir Turpin sambil memastikan topi kesayangannya masih terpasang di kepala, ‘sepertinya tadi ia tidak dapat menyentuh topiku.’
Mungkin hal itu dapat menjadi salah satu titik kelemahan dari kemampuan menembus Yoz, tapi tetap saja Turpin tidak memiliki rencana apapun. Paham dirinya tidak dapat melakukan apa-apa selama Yoz terus mengaktifkan kemampuan merepotkan itu.
“Kemampuan menembusmu memang sangat merepotkan, aku bahkan tidak memiliki peluang untuk menggores kulitmu,” ucap Turpin kemudian tertawa pelan, “tapi… apa kau akan terus bertahan dalam wujud transparan itu jika seseorang yang kau sayangi berada dalam bahaya?”
Kala Yoz yang masih bingung mengapa dirinya tidak dapat menyentuh topi musuhnya dipaksa untuk berada dalam posisi waspada setelah mendengar suara tertawa pelan Turpin. Ia berniat untuk mengambil kembali pedangnya secepat mungkin sebelum Turpin maju menyerang, tapi rupanya sosok berarmor tersebut menghilang dari pandangannya.
Kalimat yang diucapkan Turpin sebelum menghilang dari posisi seakan menjadi petunjuk bagi Yoz. Tanpa memakan waktu yang lama, dirinya langsung menemukan Turpin yang kini tengah berlari menuju bola transparan.
Mustahil bagi Yoz untuk menghentikannya dengan jarak yang sudah sebegitu jauhnya, dirinya hanya bisa pasrah melihat Turpin yang sudah sangat dengan dengan bola transparan itu sebelum pada akhirnya mengingat sesuatu.
“Hentikan aku jika kau bisa!” tantang Turpin sambil menoleh memastikan lawannya benar-benar terpancing dengan ucapannya.
Akan tetapi saat menoleh ke belakang, dirinya tak menemukan seorang pun di sana. Bahkan ia tidak mendengar suara apapun termasuk selain suara langkah kakinya berlari. Di tengah keheranannya, tiba-tiba saja larinya terhenti karena merasa ada yang menahan kakinya.
Ketika melirik ke bawah, ternyata kakinya ditahan oleh sebuah tangan yang muncul dari bayangan tubuhnya. Tangan tersebut secara perlahan naik hingga memperlihatkan Yoz yang menjadi pelakunya sedang keluar dari bayangan tubuhnya seakan bayangan tersebut adalah sebuah portal.
“Bagaimana kau?―”
Sontak Turpin memutar-mutar pedangnya lalu tanpa pikir panjang langsung dihunuskan menuju kepala Yoz. Alhasil bilah pedang tersebut menusuk kepala Yoz tapi pemuda itu tak memberikan reaksi apa-apa.
Tangan Yoz mendadak menembus kaki Turpin, kemudian disusul dengan Yoz yang menghilang seperti asap hitam.
Pemandangan itu membuat Turpin tak percaya melihatnya, rupanya pemuda berjaket merah itu masih memiliki beberapa kemampuan yang belum ditunjukkan. Perasaan was-was menyelimuti Turpin setelah asap hitam tadi menghilang.
Turpin masih tak menemukan keberadaan Yoz meskipun menoleh ke segala arah, bahkan ia sampai memperkuat indera pendengarannya hanya supaya dapat mendengar suara langkah kaki Yoz yang bisa saja datang dari segala arah. Tak lama setelahnya terdengar bisikan pelan di telinga.
“Kau adalah orang pengecut yang menggunakan sandera saat dirimu tidak dapat melakukan apa-apa….”
Dengan cepat Turpin menebas ke sumber bisikan tapi tak menemukan apapun. Kalimat yang sama kembali terdengar berulang kali di telinganya yang membuat Turpin merasa pusing dan kesal hingga berteriak.
“DI MANA KAU?!”
“Di sini!”
Suara kali ini terdengar cukup keras dari arah belakang, Turpin buru-buru berpaling tapi masih tak menemukan apapun di sana dan justru menerima sebuah hantaman keras pada kepalanya. Hantaman yang entah berasal dari mana menghujani tubuhnya.
Akibat hal itu, armornya semakin lama semakin retak hingga kini Turpin bisa sedikit merasakan sakit pada tubuhnya. Jika dia tidak melakukan apa-apa, maka ada kemungkinan armornya akan hancur oleh banyaknya hantaman yang tidak mengendor sedikit pun.
Rentetan hantaman yang sudah tidak dapat dihitung banyaknya berakhir pada kemunculan Yoz di hadapan Turpin secara tiba-tiba, dengan posisi tangan yang hendak meraih topi lawannya dan menjadikan detik-detik itu sebagai momen keberhasilannya.
Walaupun Turpin sudah menemukan posisi lawannya yang berada tepat di hadapannya, gerakan pemuda itu begitu cepat bahkan cukup untuk mengalahkan reflek Turpin. Dia tidak memiliki peluang untuk mundur atau mempertahankan topinya sekarang.
“Berakhir sudah―”
Sepersekian detik setelah kalimat itu terucap, aura pada tubuh Yoz tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Hal itu mengakibatkan pergerakannya yang semula cepat berubah menjadi lamban, bahkan Turpin langsung menyadarinya dan memberikan sebuah tendangan memutar ke dada Yoz.
Pria itu menendang Yoz dengan keras, membuat pemuda itu terlempar cukup jauh hingga menabrak sebuah bongkahan bangunan. Rasa sakit yang disusul dengan darah mengalir keluar dari mulut tak dapat terhindarkan, Yoz terbatuk-batuk dalam posisi terduduk.
“Apa kau sudah mencapai batas?” ucap Turpin berjalan mendekat, “Kau memang benar, seharusnya aku tidak perlu menggunakan cara pengecut seperti menggunakan sandera jika seandainya tahu bahwa aura hitam itu akan menghilang secara tiba-tiba seperti tadi.”
Yoz mengumpat kesal tidak percaya, dia sangat yakin tadi dirinya masih berada dalam kondisi optimal tapi entah mengapa aura hitam yang menyelimuti tubuhnya tiba-tiba menghilang begitu saja. Lantas dia memperhatikan telapak tangannya sambil bertanya-tanya dalam hati.
‘Apa yang sebenarnya terjadi?’ Yoz menyerngitkan alis saat tahu aura hitam tadi kembali menyelimuti tangannya lalu menyebar ke seluruh tubuhnya.
“Apa kau menyerah?” tanya Turpin.
“Tutup mulutmu!” bentak Yoz kemudian berlari ke arah Turpin.
Langsung saja Turpin melemparkan pedangnya menuju ke kepala Yoz namun bilah pedangnya tetap melewati tengkorak pemuda itu begitu saja. Berikutnya Yoz kembali menghilang seperti sebelumnya, namun Turpin sudah mengetahui apa yang akan dilakukan lawannya.
Turpin tertawa sejenak lalu mengubah posisi kakinya menjadi selebar bahu. Dengan tangan yang mengepal kuat, Turpin memukul tanah yang menyebabkan permukaan retak hebat dan menerbangkan bongkah batu di sekitarnya.
Yoz pun kembali terlempar saat Turpin meninju perutnya sampai menabrak batu di belakangnya, tapi itu tak membuatnya menyerah begitu saja. Dirinya kembali menghilang tanpa jejak sambil menyebutkan suatu teknik.
Turpin sendiri tidak mengetahui teknik apa itu, tapi menurutnya itu mungkin adalah teknik yang Yoz gunakan sebelumnya.
Benar saja, rentetan hantaman kembali menghujani tubuhnya tanpa ampun. Meski begitu Turpin tidak nampak seolah terdesak sedikit pun, sebab hanya dalam waktu singkat dirinya berhasil membalikkan keadaan begitu aura hitam Yoz kembali tak stabil.
Hal itu terus terjadi berulang dan diakhiri dengan Turpin yang berhasil menangkap pergelangan tangan Yoz kemudian melepaskan dua tinjuan ke dada dan perut lawannya.
Yoz untuk kesekian kalinya terlempar dan menghantam bongkahan bangunan hingga nyaris hancur. Darah pada mulutnya semakin banyak keluar, ia dapat merasakan tubuhnya telah babak belur. Sementara aura pada tubuhnya masih terus menghilang dan muncul dalam waktu singkat persis seperti lampu yang berkedip dalam film horror.
Penglihatannya mulai kabur tapi ia dapat melihat Turpin kini tengah berjalan menuju ke arahnya sambil memegang senjatanya. Gesekan bilah pedang dengan tanah tersebut terdengar semakin mendekat ke arahnya yang kini sedang bertekuk lutut.
Tanpa disadari keringat membasahi wajahnya, entah apa karena cahaya matahari yang masih menerangi kota atau karena diri yang sudah kelelahan hingga napas terengah-engah.
Pada akhirnya Turpin berdiri tepat di hadapan Yoz sambil mengangkat pedangnya, dengan posisi bilah yang mengarah ke bawah. Hasrat membunuh Turpin terlihat jelas dari tatapannya, siap mengakhiri nyawa lawannya kapan pun yang ia mau.
“Ada kalimat terakhir?” tanya Turpin.
Yoz tidak menggubris kalimat tersebut, ia hanya memejamkan mata bersiap untuk menerima rasa sakit yang akan menghantarkannya pada kematian.
“Tidak ada? Ya, sudahlah….”
Tanpa basa basi setelahnya, Turpin langsung mengayunkan tangannya dan menargetkan punggung Yoz tepat posisi jantung pemuda itu berada. Sekilas dirinya mengingat kejadian persis saat hendak mengakhiri hidup Arda.
‘Kau benar-benar menyedihkan!’
Sebelum bilah pedang Turpin berhasil menyentuh tubuhnya, Yoz melakukan gerakan kecil menghindar dalam waktu singkat kemudian mendaratkan tinju ke dagu Turpin dengan sangat kuat. Akibatnya, Turpin terlempar ke atas kemudian mendarat cukup jauh dari posisi awal dalam keadaan terlentang.
Terlihat tangan Yoz yang sudah dilapisi oleh aura serta garis-garis emas yang menjalar di lengannya menjadi penyebab mengapa Yoz bisa memberikan serangan kuat seperti barusan. Pemuda itu tersenyum tipis sambil tertawa pelan sejenak.
“Justru kau yang menyedihkan! Menumpang di dalam tubuh bocah SMP dan terus berbisik tidak jelas di telinganya! Lalu apa kau pikir aku akan berterima kasih untuk yang barusan? Maaf, tapi setelah ini aku akan bertarung tanpa bantuan darimu!” ucap Yoz berbicara sendiri yang disusul dengan menghilangnya garis-garis emas di lengannya.
‘Kau akan menyesal mengatakan hal itu!’ suara bisikan di telinga Yoz secara perlahan menghilang.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
「Apa yang terjadi?」
“Tidak ada.”
「Jika memang tidak terjadi apa-apa, kau seharusnya sudah menghubungiku sedari tadi. Lagipula kau memanggil Pesawat Nerous ke lokasimu, apanya yang tidak ada?」
Turpin terbungkam begitu sosok di balik komunikasi bertanya demikian. Tidak ada jawaban tepat yang bisa ia berikan sekarang selain mencoba bangkit sambil memegang dagu, sebelum pada akhirnya sosok di balik komunikasi tersebut mengetahui sesuatu dan bertanya memastikan.
「Apa kau gagal menyeretnya keluar kubah?」
Turpin menghela napas sejenak kemudian menjawab, “Bocah itu berhasil sadar dan kini aku sedang menghadapinya.”
「Dan kau masih belum beres dengannya? Apa kau bercanda?」
“Kau akan menarik kata-katamu begitu menghadapinya langsung, Chaker! Entah bagaimana caranya, sebuah aura hitam aneh tiba-tiba melapisi tubuhnya dan kini dia memiliki kemampuan yang sangat merepotkan!”
「Aura hitam? Ah, aku paham sekarang… ini benar-benar tangkapan yang besar!」
“Apa kau mengetahui sesuatu?”
「Tentu saja, dia adalah keturunan dari 12 Ksatria. Aura hitam yang melapisi tubuhnya itu adalah salah satu kekuatan dari para ksatria itu. Tidak heran jika dia menjadi lawan yang merepotkan bagimu.」
Turpin cukup terkejut dengan apa yang barusan ia dengar, padahal tadi ia sudah bercerita tentang 12 Ksatria tapi tanpa ia sadari rupanya sosok yang diceritakan berada di hadapannya sedari tadi. Setelah mengetahui hal itu, ia belajar untuk tidak meremehkan lawannya kali ini.
“Sulit dipercaya….”
「Begitulah faktanya, tangkap dia hidup-hidup dan bawa ke sini! Lupakan saja rencana penghancuran kota bodoh itu dan tarik Nerous kembali ke markas!」
“T-tapi aku tidak mungkin menghentikan rencana ini, setelah semua yang aku lakukan sampai sejauh ini!” protes Turpin dengan suara keras.
「Ini adalah perintah! Kerahkan saja seluruh kekuatanmu untuk menghadapinya, kau tidak perlu menahan diri. Tapi ingat, jangan sampai dia terbunuh!」
Setelah memberikan perintah, komunikasi langsung terputus, tidak memberikan kesempatan bagi Turpin untuk melemparkan lebih banyak protes. Tatapan pada Turpin nampak kecewa dengan keputusan tadi, dia mengepal tangan kuat-kuat geram.
“Tcih! Aku tidak sudi untuk menggagalkan rencana terakhir ini. Mau di hadapanku ini seorang Vassal Amalgam atau pemiliki kekuatan Aura, aku sudah tidak peduli lagi dengan hal itu!”
Saat sudah berhasil berdiri, alangkah kagetnya dia melihat luka memar di tubuh Yoz yang sedikit demi sedikit menghilang. Mengindikasikan bahwa aura hitam itu memiliki kemampuan menyembuhkan luka. Kini dia benar-benar yakin bahwa energi hitam itu adalah Aura yang diceritakan.
“Apa kau masih bisa melanjutkan pertarungan?” tanya Yoz yang sudah menggenggam katana Arda di tangannya.
“Diamlah! Aku tidak akan menahan diri lagi kali ini! Bersiaplah!”
“Hmm?”
Turpin mengambil topinya dan dimiringkan 95 derajat ke kanan, kemudian diayunkan secara horizontal dengan cepat. Seluruh senjata yang sudah ia gunakan selama ini dikeluarkan sekaligus dari topi tersebut.
Berikutnya dia mengambil sebuah kartu remi yang cukup istimewa dibandingkan kartu-kartu remi sebelumnya sebab pada bagian tepi pada kartu remi itu dilapisi oleh emas berkilau. Turpin langsung melemparnya sambil berteriak lantang.
“DATANGLAH KEPADAKU, BLACK BESS!”
Kartu remi itu sontak hancur setelah Turpin memanggil sebuah nama dan memunculkan lubang dimensi di tanah. Sesosok mutasi kuda berwarna hitam keluar dari lubang dimensi tersebut dengan sebagian tubuhnya yang telah dimodifikasi dengan mesin, terutama di bagian badan.
Makhluk bernama Black Bess itu meringkik keras kepada Yoz, suara mengerikannya sebanding dengan wujudnya yang sangat mengintimidasi. Turpin berjalan mendekati Black Bess dan mengelus surainya dengan lembut.
“Bertarunglah untukku dan bersamaku!”
Turpin berbisik kepada Black Bess kemudian menunggangi monster tersebut layaknya koboi. Segera setelah itu, seluruh senjata yang sudah Turpin keluarkan tadi tiba-tiba tertarik sendiri ke badan Black Bess layaknya besi yang ditarik oleh magnet.
Yoz menyaksikannya dengan terpukau, rasanya seperti sedang menghadapi Final Boss dalam video game RPG. Tapi itu hanya berlangsung sementara sebab dirinya sadar bukan waktu yang tepat untuk terkagum-kagum dengan wujud musuhnya.
Dia pun memejamkan mata, pikirannya kini tenang seperti air meskipun di hadapannya sedang ada musuh yang melakukan tranformasi. Awan-awan di atas mulai berkumpul dan menutupi sinar matahari, mengakibatkan langit kota kini menjadi mendung dan gelap.
‘Wahai Aura Hitam, berikan aku kekuatan sekali lagi…’ gumamnya kemudian membuka mata. “Berkobarlah Aura!”
Energi hitam di tubuhnya seketika mengalir deras dan mengembang layaknya api yang berkobar. Pancaran energi tersebut begitu kuat, bahkan Turpin bisa merasakannya meskipun keduanya berjarak belasan meter.
Energi hitam di sekitar mereka mengalir layaknya aliran air menuju ke tubuh Yoz. Dalam satu kedipan saja, pupil hitam pada mata kiri Yoz yang awalnya gelap hampa kini dihiasi sebuah simbol seperti bulan sabit. Dengan mata tersebut, dirinya menoleh ke arah katananya sembari berpikir.
‘Jika aku tidak bisa membuat benda yang kusentuh ikut menembus, lantas bagaimana bisa pakaianku ikut menembus? Apa karena pakaian ini ikut terlapisi oleh aura?’ pikir Yoz lalu menyadari sesuatu dari pikirannya barusan dan mendapatkan suatu ide.
Yoz mencoba memfokuskan konsentrasinya ke katana milik Arda tersebut. Aura di tubuhnya secara perlahan mulai ikut menyelimuti senjata tersebut, mengindikasikan usaha Yoz ternyata berhasil. Meskipun belum memastikan apakah pedangnya sudah benar-benar ikut menembus, setidaknya ia mulai sedikit memahami tentang kekuatannya.
Bersamaan dengan itu, Turpin pun selesai dengan perubahannya. Dirinya kini menunggangi Black Bess dengan lima senjata yang terpasang di belakang tubuh monster kuda tersebut. Black Bess itu kembali meringkik sambil mengangkat dua kakinya ke atas.
“Sangat sulit dipercaya, sosok 12 Ksatria yang diceritakan bertugas untuk melindungi umat manusia rupanya merupakan dalang dari tragedi yang telah menghancurkan hidupku. Sekarang aku mengerti, baik pahlawan maupun 12 Ksatria… KALIAN SAMA-SAMA SAMPAH!” ucap Turpin lalu berlari menuju Yoz dengan revolver di genggaman yang siap menghabisi lawannya.
“Kalau begitu, akan aku hancurkan kembali semua yang kau miliki termasuk topeng di wajahmu itu, Turpin!” balas Yoz bersiaga.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 32: Kemampuan dan Makhluk yang Merepotkan!