100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 34: Sosok di Balik Topeng



“UGGHHH!!!!”


*SRATT!*


Bilah katana peninggalan Lightning Warrior menembus dada Turpin. Menurut Yoz, mustahil ada manusia yang dapat selamat dari tusukan langsung yang menembus organ vital. Apalagi darah segar banyak mengalir keluar dari dada musuhnya.


Bersamaan dengan itu, Ruckkehr yang sebelumnya dilemparkan oleh Yoz rupanya berhasil mengenai topi Turpin dan terjatuh tidak jauh dari posisi keduanya berada. Turpin tak bergerak sama sekali, membuat Yoz yakin musuhnya sudah mati.


“Ugh! Si-sial…”


Ekspresi kemenangan Yoz lenyap seketika begitu Turpin ternyata masih dapat berbicara, sosok berarmor itu menggerakkan tangan kanannya kemudian menggenggam bilah pedangnya. Wajah Yoz memucat sadar ini masih belum berakhir.


Situasi semakin diperburuk dengan aura hitam yang menyelimutinya sedari tadi mulai menghilang yang disusul dengan pupil mata kiri Yoz yang kembali seperti sedia kala. Turpin pun berusaha mendorong keluar pedang dari tubuhnya tapi Yoz bersikeras untuk mempertahankannya.


“Tusukan ini masih belum cukup untuk membunuhku…” ungkap Turpin seraya terus mendorong.


“Tcih! Sebenarnya kau ini apa?!” tanya Yoz.


“Ketimbang menanyakan hal itu, mengapa kau tidak mempertanyakan aura hitam di tubuhmu yang secara perlahan menghilang?”


Yoz menundukkan kepala hingga matanya tertutup oleh rambut, tapi Turpin dapat melihat senyuman yang terhias di wajah lawannya disertai suara tertawa singkat.


“Menghilang? Apa kau yakin?”


Turpin awalnya tak mengerti apa maksud dari ucapan pemuda itu, tapi beberapa detik setelahnya baru ia sadar dan langsung menoleh ke arah gagang pedang. Rupanya aura hitam Yoz tidak menghilang melainkan tersedot menuju gagang pedang itu.


Dalam satu kali melihat ia langsung teringat bagaimana monster trenggiling miliknya dibuat gosong. Perasaan panik pun tak dapat terhindarkan, dia pun berjuang keras untuk mendorong keluar keseluruhan bilah tapi hasilnya nihil sebab tangannya yang kini tersisa satu saja tidak sebanding melawan dorongan dua tangan Yoz.


Yoz pun berkata, “Sudah aku katakan, bukan? Aku akan menang, tidak peduli bagaimana pun caranya!”


“D-dasar kau!!!”


“Apa kau tahu nama dari pedang ini?” Yoz mengangkat kepalanya, memperlihatkan senyuman tipis kepada musuhnya sambil berkata, “Kilat!”


Mata Turpin melirik ke bawah, dengan jaraknya yang sedekat itu ia dapat melihat ukiran di bilah pedang yang bertuliskan ‘Raiden’. Sepersekian detik setelahnya, aliran listrik keluar dan menyambar sosok berarmor itu hingga membuatnya menjerit.


“OAAAHH!!!!”


Seketika tubuhnya mengalami kejang-kejang yang hebat akibat dahsyatnya aliran listrik yang diterima, kemudian terpental cukup jauh dan terbaring dalam kondisi sekujur tubuh yang bisa dikatakan gosong.


“Aku… menang…?”


Yoz melepaskan katana di tangannya yang sudah patah separuh akibat efek dari terpentalnya Turpin. Melihat tubuh musuh yang tak bergerak sedikit pun dan mengeluarkan asap akibat tersengat aliran listrik yang dahsyat membuatnya yakin bahwa kali ini pertarungan telah usai.


Yoz pun menegakkan badan, memandangi langit dengan perasaan lega kemudian menghembuskan napas panjang seolah hendak mengeluarkan seluruh beban yang menimpa tubuhnya sedari tadi. Lantas dia tersenyum tipis kembali sambil memejamkan mata.


“Aku berhasil mengalahkannya… aku berhasil… ya, aku berhasil!” ucapnya senang.


Kemudian dia menurunkan kepalanya, tatapannya kini mengarah kepada topi Turpin yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berada. Perlahan dia berjalan mendekati benda tersebut tapi belum mencapai empat langkah dirinya dibuat terkejut.


Jari-jari Turpin bergerak kembali, mengindikasikan sosok tersebut masih belum dapat menerima kekalahannya. Mata Yoz melebar tak percaya, bahkan suaranya tergagap sesaat saking tidak tahu harus berkata apa.


“M-M-MUSTAHIL!??” Yoz pelan-pelan mundur dengan sikap waspada sebelum berubah pikiran, ‘Tcih! Sudah tidak ada waktu lagi untuk mengurusi dia! Terminal kendali itu harus kudapatkan segera!’


Secepat mungkin dia berlari untuk mengambil topi putih itu kemudian menjaga jarak sejauh mungkin dari musuh, fokusnya kini terkunci pada isi di balik topi itu. Saat memeriksa isi dari alat itu, dirinya terperangah sebab tidak menemukan apa-apa selain puluhan kapsul di dalamnya.


Dirinya kebingungan sebelum akhirnya terus berinisiatif meniru cara musuhnya yang mengeluarkan banyak senjata sekaligus hanya bermodalkan satu ayunan horizontal. Rupanya hal itu berhasil, Yoz sekarang mengerti bagaimana bisa Turpin menyimpan dan mengeluarkan banyak barang di dalam topi kecil itu.


Begitu beberapa kapsul keluar, benda-benda kecil itu segera berubah menjadi wujud asal mereka. Nampak banyak barang yang tersebar di tanah, tapi pemuda berjaket merah itu berhasil menemukan terminal kendali Nerous hanya dalam hitungan detik.


Sementara itu, Turpin yang baru saja bangkit setelah menerima rasa sakit di sekujur tubuh mendapati lawannya sudah memegang terminal kendali Nerous. Yoz tanpa ragu-ragu menekan tombol merah lalu menginjak alat itu sampai hancur menggunakan kaki.


*BOOMMM!!!!*


Dua belas detik berikutnya terdengar suara ledakan dari arah timur dan disusul dengan hembusan angin yang menyebar ke seluruh kota, tak dapat dipastikan di mana titik ledakannya terjadi namun yang jelas berada di luar Kota Machina.


Kubah raksasa yang membungkus nyaris seluruh bagian selatan kota akhirnya menghilang, demikian juga dengan bola transparan yang membungkus ibu Yoz. Wanita itu sepertinya sudah bisa membuka mata, tatapannya sekarang tertuju kepada putranya yang tengah berhadapan Turpin.


“Y-Yoz…?” ucap Annariel dengan suara kecil.


“Kau sudah gagal!” kata Yoz.


Turpin mematung dengan tatapan kosong sejenak sebelum pada akhirnya mengepal tangan kuat-kuat. Akibat kemarahan yang telah mencapai puncak, ia pun langsung melesat menuju lawannya dengan tangan siap menyambar leher lawannya.


“SIALAN KAU, BOCAH AMALGAM!!!”



*Blam!*


Apa yang dilakukan Turpin barusan adalah sebuah kesalahan besar, tindakannya cerobohnya yang asal maju tanpa berpikir matang-matang hanya membuat jaraknya dengan lawan sangat dekat. Akibatnya, Yoz langsung melepaskan teknik pamungkasnya tanpa perlu menahan diri lagi setelah berhasil merebut topi sebelumnya.


Turpin menghilang begitu saja dari pandangan, tapi bukan karena tubuhnya hancur melainkan dirinya yang terhempas tanpa ampun akibat banyaknya hantaman menghujani tubuhnya dalam waktu singkat.


Entah apa karena armornya yang sangat kuat sampai-sampai teknik pamungkas Yoz tidak menghancurkan tubuhnya atau karena pemilik teknik yang sedang berada dalam kondisi kurang prima, yang jelas akibat hal itu salah satu bangunan di luar kubah yang semula berdiri kokoh menjadi runtuh saat dihantam oleh tubuh Turpin.


Yoz sendiri bertekuk lutut dengan napas terengah-engah, menatap waspada ke pemandangan runtuhnya bangunan yang tertutupi oleh kepulan debu.


“Aku tidak tahu serangan barusan dapat menghabisinya atau tidak, tapi ada hal lain yang harus aku lakukan!” kata Yoz berbicara sendiri lalu bangkit dan berbalik badan.


Pemuda itu berjalan terhuyung-huyung menuju ibunya, wajahnya benar-benar lesu seolah sangat letih seharian. Hatinya merasa terpukul melihat sosok ibunya yang terkulai lemas dengan wajah yang begitu pucat tapi masih memberikan senyum kepadanya seolah senang dia masih selamat.


Sesekali dia melirik ke arah markas HSO, menaruh harapan terhadap bangunan menjulang tinggi itu. Secara tak sadar ia menendang sebuah kotak kecil berwarna hitam, bunyi yang dihasilkan dari tendangan itu menarik perhatiannya, pada tengah-tengah kotak hitam itu bertuliskan ‘Nitrogliserin’ yang membuatnya terbelalak terkejut.


‘Apa kau sudah mendengar beritanya? Benda ini seakan menjadi penemuan terbaik dari HSO! Apa? Kau tidak tahu? Dasar… benda bernama Nitrogliserin ini adalah obat yang bekerja dengan cara melebarkan pembuluh darah, serta meningkatkan pasokan darah dan oksigen ke otot jantung.


Sederhananya obat ini akan mengejutkan jantung sehingga seolah-olah pasien hidup kembali. Jadi obat ini dapat menjadi pilihan terakhir sebagai pertolongan pertama saat penyakit jantung atau kejang-kejang karena racun bahkan virus. Kira-kira seperti itu yang tertulis di sini….’


Kalimat Suryadi yang dulu pernah didengar Yoz terlintas kembali di benaknya. Buru-buru dia memungut kotak tersebut kemudian memeriksa isi di dalamnya, di sana hanya ada satu serum beserta jarum suntik di sampingnya.


“Pilihan terakhir… pertolongan pertama… virus….” Yoz mengulangi beberapa kata yang ia ingat, secercah harapan kembali menghiasi wajahnya. Tanpa mengulur waktu lebih lama, dia pun berjalan lebih cepat menuju ibunya tapi entah mengapa ia merasakan sakit luar biasa pada kakinya.


Sebuah lubang dengan diameter 4 cm tiba-tiba saja menghiasi kaki kirinya. Alhasil pemuda berjaket merah tersebut bertekuk lutut sampai-sampai memecahkan serum yang ia genggam. Dia memegang kaki kirinya merintih kesakitan, sempat merasakan seperti ada sesuatu yang panas yang berkecepatan tinggi melesat menembus dagingnya.


Pemuda itu langsung tahu pelaku dari semua ini terus menoleh ke belakang. Dari balik kepulan debu nampak siluet Turpin tengah berjalan mendekat. Ketika akhirnya semua pemandangan mulai terpampang jelas, Yoz langsung mengenal sosok yang topeng dan armor telah hancur seutuhnya.


Yoz mulai paham alasan mengapa Arda mencurigainya pada saat itu. Dugaan yang diberikan oleh Lightning Warrior bukan sebuah fitnah melainkan fakta yang sebenarnya. Sosok dengan pupil merah dan rambut putih itu persis seperti foto pada poster buronan yang pernah ditunjukkan Arda kepada Yoz.


“Freed… Clowen…” sebut Yoz dengan wajah berubah serius.


Identitas sebenarnya dari sosok Turpin yang bernama Freed menghentikan langkahnya kemudian membalas, “Aku tak menduga nama itu begitu terkenal sampai-sampai bocah sepertimu bisa mengetahuinya, tapi nama itu sudah tidak ada artinya lagi bagiku….”


Pria itu mengangkat topeng yang sudah terlepas dari helmnya, lalu mencabut paksa paksa eye loop yang terpasang di bagian mata kanan topeng bermodalkan satu tangan dan gigi. Terlihat energi putih yang langsung tersedot pada pusat lensa eye loop usai dicabut. Sembari melakukan gaya seperti meninju, Freed pun berteriak keras.


“JIKA AKU GAGAL, MAKA KAU PUN JUGA HARUS GAGAL!!!”


Sinar putih itu langsung ditembakkan menargetkan Yoz yang tengah bertekuk lutut, memaksa pemuda itu untuk bergerak atau kepalanya akan bernasib sama seperti kakinya. Yoz seberusaha mungkin untuk bangkit meskipun merasakan sakit pada kakinya.


*SYUUU!!!*


Sayangnya semua terlambat, tembakan energi tersebut memang gagal mengenai kepala target, tapi dia berhasil menciptakan lubang pada perut bagian kanan Yoz sampai menembus ke belakang. Rasa sakit yang tak tertahankan pun mulai terasa di bagian sana, cukup untuk membuat Yoz tersungkur dan menjerit.


“GAHHH!!!!”


Darah pun mengalir keluar dari luka baru, bahkan dia nyaris kehabisan napas akibat sakit yang luar biasa. Aura hitam yang menghilang setelah tersedot ke katana Arda membuatnya mustahil untuk memulihkan diri.


Namun Yoz pantang menyerah, dia mencoba kembali bangkit dengan wajah yang mulai memucat, napasnya terengah-engah serta keringat yang membasahi wajah. Dalam kondisinya yang sekarang, kecil kemungkinan untuk menghadapi Freed yang memegang senjata. Dia pun bertanya seolah hanya itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan sekarang.


“Kenapa… kenapa kau melakukan semua ini…?” tanya Yoz lalu menaikkan nadanya, “KENAPA KAU SANGAT MEMBENCI PAHLAWAN? KENAPA KAU SAMPAI MELAKUKAN APAPUN UNTUK MENJATUHKAN MEREKA MESKIPUN HARUS MENGHANCURKAN KOTA INI!? KENAPA!!??”


Freed menurunkan senjatanya, pandangannya mengarah ke bawah seakan tengah melamun kemudian setelahnya tertawa terbahak-bahak dan menjawab, “KENAPA KATAMU?”


“AKAN KUBERITAHU SATU ALASAN….” Freed memberikan tatapan hasrat membunuh, mata yang melebar namun pupil yang mengecil pria berambut putih itu memberikan kesan horror tersendiri bagi orang yang melihatnya, “SELURUH KELUARGAKU TELAH DIBUNUH OLEH PARA SAMPAH ITU! JADI AKU BERSUMPAH AKAN MEMBALAS DENDAM SAMPAI MEREKA SEMUA BINASA!”


Yoz terbungkam mendengar pernyataan Freed, fakta itu seolah menghantam keras wajahnya. Walaupun belum terbukti benar, tapi tatapan Freed sudah lebih dari cukup untuk membuat Yoz yakin bahwa musuhnya tidak sedang berbohong.


‘Apa yang sebenarnya terjadi di balik semua ini?!’ gumam Yoz.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


“Cepat masuk!”


“Aduh! Tidak bisakah kalian sedikit lebih lembut terhadap warga sipil!?”


Suryadi berdecak kesal setelah masuk ke dalam mobil secara paksa oleh polisi, beruntungnya kaca mobil tertutup rapat sehingga umpatannya tidak sampai terdengar oleh polisi. Setelah puas mengomel sendiri, dia pun duduk tenang terus membuang napas seraya menatap kedua tangannya yang telah terborgol.


“Di?”


Suara yang familiar terdengar dari arah kanan, Suryadi yang kaget secepat kilat menoleh ke arah sumber suara. Mungkin dikarenakan terlalu sibuk dengan polisi sebelumnya, Suryadi sampai tak menyadari ternyata ada Knighto yang duduk di sebelahnya dan sedari tadi menyaksikan dirinya mengomel sendiri.


“I-Ito?” sebut Suryadi setelah mematung beberapa saat, berikutnya dia menghela napas lega, “Syukurlah, rupanya kau selamat…”


Knighto pun membalas dengan tersenyum, tapi tidak menatap wajah temannya melainkan mengarahkan pandangan ke tangannya yang juga diborgol, “Aku tahu kamu pasti bisa melakukannya... kamu berhasil menyelamatkan kota….”


“Begitu… terserahmu saja….”


Keduanya kembali terdiam, sempat terjadi kesunyian di sana sebelum pada akhirnya Suryadi lanjut bertanya, “Kira-kira… dia ada di mana sekarang, ya?”


“Maksudmu Yoz? Apa kau lihat dinding kubah itu?” balas Knighto menatap ke depan.


Suryadi yang dipandu oleh temannya langsung saja menoleh ke arah yang sama lalu mengangguk, “Ya?”


“Dia masuk ke dalam kubah raksasa itu. Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya, sudah setengah jam aku berada di sini dan yang aku saksikan sedari tadi adalah badai angin, ledakan, dan juga dua orang yang tengah bertarung di langit sebelum kembali terjatuh….”


*BOOMMM!!!!*


Mendadak terdengar suara ledakan dari arah timur kota, bersamaan dengan hembusan angin yang menguncang mobil dan kubah raksasa yang mulai menghilang. Semua orang pada saat itu memiliki satu pertanyaan yang serupa.


“Suara apa itu?”


“Kubahnya menghilang?” ucap salah satu polisi yang masih berjaga di sekitar mobil yang kemudian menyambungkan komunikasinya melalui walkie talkie, “Lapor! Kubah di bagian selatan kota sudah menghilang. Kirimkan para pahlawan menuju ke lokasi kejadian!”


Suryadi menyaksikan kubah raksasa di hadapannya yang secara perlahan menghilang, seraya menyebut ulang beberapa kata yang berujung pada mengetahui sesuatu, “Ledakan…? Dua orang…? Jangan bilang―”


“Ada apa?”


“Dua orang yang kau maksud itu pasti adalah Yoz yang sedang bertarung melawan Turpin!”


“Turpin? Maksudmu Turpin X sang buronan HSO tingkat A? Mengapa dia bisa berurusan dengan kriminal kelas atas?”


“Sebenarnya orang itu adalah dalang sebenarnya di balik semua ini, dia menjadikan Yoz sebagai boneka dan kambing hitam yang akan disalahkan atas kejadian ini!”


Wajah Suryadi berubah serius saat mengatakannya. Menghilangnya kubah transparan disertai suara ledakan dari arah timur membuatnya berniat untuk keluar dari mobil, dia pun mencoba untuk membuka pintu namun buru-buru dicegat oleh temannya.


“Kamu tidak akan bisa keluar dari sini, tidak dengan para polisi yang berjaga di sekitar kita!” celetuk Knighto sembari melirik waspada polisi di luar, “Satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang adalah berharap para pahlawan datang tepat waktu untuk membantunya.”


Kalimat tersebut nampaknya berhasil menenangkan Suryadi, Knighto bersyukur sebab temannya masih berkepala dingin ketimbang Yoz yang sulit dikendalikan ketika tersulut emosi. Keduanya kini hanya bisa berharap agar semua ini bisa segera berakhir.


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


*BOOMMM!!!!*


“Ledakan apa itu?”


Di suatu ruangan yang luas nampak diisi oleh banyak pemuda-pemudi berseragam sekolah. Tidak ada yang tahu jumlah pastinya, yang jelas ruangan itu hampir penuh karena banyaknya siswa yang berada di sana. Berdasarkan hal itu, maka bisa disimpulkan bahwa ruangan itu adalah tempat shelter.


Semua orang bertanya-tanya suara apakah itu, meskipun sudah berjam-jam mereka mendengar suara ledakan, tapi ledakan kali ini terasa berbeda sebab tidak diikuti dengan bergetarnya tanah. Beberapa dari mereka sudah ada yang mulai merasa kesal sebab tidak ada yang bisa dilakukan sedari tadi.


“Sudah berjam-jam kita berada di shelter 34, tapi tidak ada pemberitahuan lebih lanjut di luar sana. Hah… mengapa para pahlawan dan polisi lamban sekali membereskan masalah ini?!”


“Ssttt! Diamlah, apa kau ingin membuat masalah?”


Tempat itu mulai memanas sebab terbentuknya dua pihak secara tiba-tiba. Salah satu pihak berisikan mereka yang mengeluh dan protes terhadap kinerja para pahlawan dan polisi yang mereka anggap lamban dalam menangani kekacauan kota, sedangkan pihak lainnya berisikan mereka yang memiliki sudut pandang sebaliknya.


Nyaris terjadi perkelahian di sana sebab tidak ada yang berani menengahi kedua belah pihak sampai salah satu murid dari kelas 2-G nampak menoleh ke sana kemari seperti bingung kemudian bertanya kepada teman-temannya.


“Tunggu dulu! Di mana Ito?”


Ada bukit di balik pendakian, mungkin itu adalah pepatah yang sedikit cocok dengan kondisi yang tengah terjadi. Konflik dua pihak sebelumnya terlihat mulai mereda setelah mereka semua mendengar pertanyaan barusan, namun hal itu justru menjadi masalah baru yang membuat seisi ruangan menjadi ribut.


Mereka semua terlalu sibuk dengan diri masing-masing sampai-sampai tidak sadar bahwa salah satu dari teman mereka ada yang menghilang. Tidak hanya kelas 2-G saja, kelas lain pun mengalami hal yang sama.


Siswa dari kelas lantas 1-E bertanya, “Apakah ada yang melihat Bill?”


“Hei! Siapa yang bersama dengan Elgant?” Siswa dari kelas 3-B berbicara keras.


“Pemuda berambut perak yang tampan pun masih tetap belum terlihat sejak satu minggu yang lalu….” Kali ini siswa dari kelas 2-D yang berbicara.


Tariun pun juga menyadari ada salah satu temannya yang tak terlihat sedari tadi, “Eh? Suryadi juga tidak ada di sini?”


Begitu mendengar nama Suryadi, hampir semua orang terpaku ke sumber suara. Tariun sempat gugup karena dilihat ramai orang. Tak menunggu waktu lama, semua siswa kelas 2-D bahkan kelas lainnya mulai berbisik heboh. Sepertinya Suryadi memiliki tingkat kepopuleran yang tinggi sampai-sampai siswa dari kelas lain pun mengenal namanya.


Namun semuanya berakhir ketika salah satu siswa di balik kerumunan menyebutkan satu nama yang seharusnya tidak dia sebutkan dari mulutnya.


“Bahkan si Mata Aneh juga tidak ada?”


Seketika shelter jatuh ke dalam keheningan, ekspresi beberapa orang ada yang berubah masam saat mendengar nama itu layaknya mendengar kata terlarang dan terkutuk. Lantas Gluck pun muncul dari kerumunan kemudian bertanya dengan suara terkesan jengkel.


“Pfftt! Untuk apa kau mengkhawatirkan dia?”


“Aku tidak mengkhawatirkannya!” balas siswa sebelumnya membuang muka.


Beberapa orang mulai ikut mengomentari siswa tersebut, tentu dengan wajah yang sama-sama masam. Walaupun komentar yang ia terima bukan ditujukan kepadanya, tapi tetap saja ada perasaan tertekan saat diri dikeroyok oleh banyak orang.


“Jika Suryadi yang menghilang, sangat wajar kita khawatir, tapi untuk si Mata Aneh? Jangan bercanda!”


“Akan lebih bagus jika dia tidak pernah ada! Dia hanya sampah di sekolah ini―tidak, lebih tepatnya sampah di kota ini.”


“Benar, satu-satunya hal yang membuat kita masih menerima kehadirannya adalah karena bisa memanfaatkannya untuk menyalin jawaban PR dan tugas.”


“Dia itu berlagak pendiam supaya terlihat keren, padahal itu hanya membuatnya seperti orang aneh.”


Siswa tersebut mengacak-ngacak rambut seperti orang frustasi mendengar banyaknya orang yang terus berbicara kepadanya, “Baik! Baik! Aku paham! Aku tidak akan menyebut si sampah itu lagi―”


“BERHENTI MENGATAKAN HAL ITU!”


Tanpa siapa pun duga, seorang gadis tiba-tiba berteriak yang membuat suasana kembali jatuh ke dalam keheningan. Mata semua orang teralihkan ke sumber suara dan menemukan gadis berambut pendek sebahu yang mengenakan kacamata berwarna kuning menjadi pelakunya.


Baik Pami, Shela, Tripu maupun Riki terkejut akan tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh teman mereka. Napas Nia menjadi berat setelah berteriak, bukan karena suaranya mau habis melainkan gadis itu tahu konsekuensi yang akan diterima setelah mengatakan hal barusan.


“Apa-apaan kau ini? Mau membela dia?” tanya Gluck dengan urat yang timbul di pelipisnya.


Nia menatap serius kepada orang-orang di sekitar, tidak ada keraguan dalam hatinya saat melakukan hal itu, “Dia tidak pantas dihina seperti itu! Dia tetap manusia, sama seperti kita! Mengapa kalian sejahat itu terhadapnya?”


Gluck pun berjalan mendekat, kemudian memberikan pandangan intimidasi kepada gadis itu dan membalas, “Manusia? Apa kau buta sampai-sampai tidak pernah melihat mata kanannya yang mengerikan? Itu adalah mata monster!”


“Bisa jadi dia adalah monster yang berbaur dengan kita para manusia. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa guru-guru mengizinkan orang seperti dia untuk berada di sekolah kita?” sambung teman Gluck di belakang sembari memegang dagu.


“Apa kau merasa kasihan kepadanya? Makhluk rendahan seperti dia tidak perlu belas kasih dari kita!” timpal yang lain.


Nia kembali menjawab, “Aku adalah temannya! Memang aku baru mengenalnya selama beberapa hari, tapi itu lebih dari cukup untuk meyakinkanku bahwa dia tidaklah seburuk seperti apa yang kalian katakan! Apa kalian memiliki bukti lebih bahwa dia adalah monster selain melihat matanya?”


Shela pun berdiri di samping temannya dan ikut angkat suara, “Benar! Dia sama seperti kita, dia membutuhkan kita sebagai temannya, bahkan dia masih tetap berusaha baik kepada banyak orang tapi mengapa justru mendapatkan balasan seperti itu?”


“Aku setuju! Mau itu Ero, Suryadi, atau bahkan si kacamata biru waktu itu, mereka tetap sama bagiku.” Riki melipat tangan di depan dada, mengatakannya sambil tersenyum percaya diri.


Tripu awalnya sedikit ragu untuk ikut terlibat, tapi secara reflek kepalanya mengangguk membenarkan pernyataan ketiga temannya. Pami sendiri terdiam dengan posisi salah satu tangan terangkat hendak mencegah temannya bertindak lebih lagi tapi memilih untuk mengurungkan niatnya, pemuda bongsor itu hanya bisa menghela napas berat dan menurunkan tangan.


“Terserah kalian saja…” ucap Pami pasrah.


Orang-orang mulai bertukar pandangan, sepertinya kata-kata mereka bertiga berhasil menutup mulut mereka. Namun itu masih belum cukup untuk menyadarkan orang-orang yang sudah terlanjur berpandangan buruk tentang Yoz.


Gluck menggeleng-geleng kepala, terus memperagakan gaya mengusir menggunakan tangan seraya berkata, “Suka-suka kalian saja, lagipula dia mungkin sudah tewas diserang oleh monster-monster di kota dengan kondisi kota yang seperti sekarang.”


Shela menempatkan kedua tangannya di dada, dengan wajah penuh keyakinan dia menjawab, “Aku percaya, dia pasti selamat….”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


“Ada kata-kata terakhir?” tanya Freed yang tengah memainkan eye loop di tangannya dengan santai.


Wajah Yoz semakin memucat, penglihatannya secara perlahan mulai kabur. Tak tahu harus berbuat apa, terutama aura hitam di tubuhnya sudah menghilang tanpa jejak membuat pemuda itu merasa tak memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.


Kehilangan darah yang cukup banyak mulai membuatnya nyaris tumbang, beruntungnya ia menahannya menggunakan tangan, bersamaan dengan sesuatu berguncang di balik kantong celananya. Yoz yang menyadarinya melirik ke arah sana, wajahnya seketika berubah.


‘Ini…?’ pikirnya kemudian menoleh ke alat pada genggaman musuh, ‘Masih ada harapan….’


Freed berhenti memainkan senjatanya karena melihat Yoz mencoba kembali bangkit. Walaupun badan pemuda itu bergetar hebat saat berusaha bangkit, tapi dia berhasil berdiri sambil memegangi perut, hal itu membuat Freed naik pitam.


“Selalu saja…. Selalu saja…. Selalu saja! Selalu saja! Selalu saja!! Selalu saja!! SELALU SAJA!! SELALU SAJA!!!!” geram Turpin yang suaranya semakin mengeras hingga terdengar hampir di seluruh penjuru kota “MENGAPA KAU TIDAK PERNAH TAHU KAPAN HARUS MENYERAH!!???”


Yoz tersenyum tipis lalu membalas, “Aku membenci orang-orang di kota ini, tatapan yang mereka berikan kepadaku dan setiap ucapan menyakitkan itu benar-benar membuatku muak…. Tapi aku sadar, hanya karena hal itu bukan berarti aku harus menghancurkan rumah-rumah mereka, lagi pula masih ada orang-orang yang berharga bagiku di dalam kota ini dan ini adalah tanggung jawabku untuk melindungi mereka!”


Dia pun melepaskan jaketnya secara kasar sampai-sampai merobek beberapa bagian kain merah tersebut, kemudian mengikatnya di perut guna menghambat darah keluar lebih banyak dari luka.


Setelah selesai mengikat, dia melemparkan pandangan ke musuh seraya bertekad, “Aku tidak akan mati oleh orang sepertimu!”


Freed memejamkan mata, berikutnya membuang napas panjang sebelum kembali berbicara dengan emosi yang sedikit mereda, “Hah… jadi itu kata-kata terakhirmu? Baiklah, mari kita akhiri semua ini!”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 35: Mirror