
‘Sial! Apa yang harus aku lakukan sekarang?’
Arda yang sudah menerima banyak luka pasca pertempuran pun hanya bisa memegang telinganya sembari menyeret mundur tubuhnya secara perlahan, menjauh dari Turpin yang berjalan pelan mendekatinya.
Dengan kondisinya yang sekarang, tidak mungkin baginya untuk bisa melarikan diri begitu saja, apalagi jika harus meninggalkan dua rekannya yang masih tak sadarkan diri.
Namun tanpa disadari oleh Turpin, rupanya Arda sudah mengirim pesan darurat kepada pihak HSO menggunakan intercome berukuran kecil yang terpasang di telinga kanannya.
Alat pemberian dari HSO itu diberikan kepada setiap pahlawan untuk digunakan jika keadaan sudah benar-benar darurat. Selain sebagai pesan darurat, alat itu juga bisa digunakan merekam suara yang ada di sekitarnya.
Meskipun sudah mengirimkan pesan darurat kepada pihak HSO, tentu bala bantuan tidak akan langsung datang begitu saja.
Mau bagaimana pun juga, yang bisa Arda lakukan saat ini hanyalah mengulur waktu sampai bantuan tiba.
“Si-siapa kau sebenarnya?” tanya Arda berusaha mengulur waktu.
Ada pun Turpin menjawab, “Bukankah sebelumnya kita sudah berkenalan? Kau hanya berusaha mengulur waktu, bukan?”
Arda yang pasrah karena sudah tak bisa melakukan apa-apa bergumam, ‘Sial…! Dia mengetahui rencanaku….’
Melihat Arda yang sudah terlihat pasrah seperti menyerahkan dirinya, Turpin menepuk pelan area mulutnya seperti menguap bosan.
“Baiklah, akan aku ikuti permainanmu, aku akan memberimu waktu 3 menit sampai bantuan yang kau panggil datang,” ucapnya.
“A-apa!?”
Ekspresi terkejut pun tak bisa disembunyikan oleh Arda begitu mendengar pernyataan Turpin.
Bagaimana bisa seseorang memberi kesempatan kepada musuhnya yang bisa saja membalikkan keadaan? Melakukan hal itu adalah sebuah kesalahan besar, kecuali dia yakin tetap bisa memenangkan pertarungan.
‘A-apa dia bercanda? T-tunggu sebentar, ada hal yang aneh….’ Arda mulai menyadari sesuatu setelah merasakan ada keanehan.
‘Bagaimana bisa alatku melacak keberadaannya sedangkan pada hari-hari sebelumnya sama sekali tidak berhasil? Dia bahkan memilih untuk melawan kami bertiga ketimbang lari. Jadi semua ini memang sudah direncanakan olehnya dan dia sengaja memancing kami untuk masuk ke dalam jebakannya… SIAL!’
Arda pun menyesali keputusannya yang begitu gegabah menghadapi musuh dengan peringkat B tanpa mempersiapkan rencananya dengan matang-matang. Dia bahkan merasa bersalah karena telah melibatkan kedua rekannya hingga jadi seperti ini.
“Dilihat dari wajahmu itu, sepertinya kau baru menyadarinya, ya? Sesuai dengan dugaanmu, aku memang sengaja memberitahukan posisiku kepada kalian.
"Jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk menangkap kalian satu per satu. Siapa pun yang mengetahui rencanaku dan berusaha menganggu tidak akan aku lepaskan begitu saja!” Turpin memandangi langit sejenak lalu kembali melanjutkan, “Terutama jika orang itu tiba-tiba mengintai dan mengikuti bidakku secara diam-diam.”
Arda yang paham siapa orang yang dimaksud Turpin langsung menyebutkan nama pelaku dengan suara yang kecil, “Y-Yoz…?!”
Turpin yang mendengar suara kecil Arda segera membalas seakan membenarkan ucapannya. “Jadi kalian berdua sudah saling mengenal rupanya. Huh—bocah itu… selama ini dia berakting dengan sangat hebat.”
“J-jadi dia memang ada sangkut paut denganmu?!” tanya Arda tak percaya.
“Tentu saja, anak itu akan melakukan apapun demi keinginannya terwujud meskipun harus mengorbankan ratusan nyawa orang tak bersalah!”
“Tidak! Dia bukanlah orang yang seperti itu! Berhenti membalikkan fakta!” sanggah Arda dengan wajah geramnya.
“Jangan berkata seolah kau sangat mengenalnya. Sudah aku katakan sebelumnya, bahwa dia sangat pandai berakting. Kau tentu paham maksudku, bukan?”
Kekecewaan pun terukir di wajah Arda setelah mendengar ucapan Turpin, dirinya dalam hati bertanya-tanya tentang pemuda berjaket merah itu.
‘Yoz… kenapa kau lakukan semua ini? Mengapa kau berpihak kepada orang seperti dia?’
Sedangkan itu, Turpin mengangkat tangan kanannya lalu menatap alat yang terpasang di sana seperti sebuah jam tangan sembari berkata, “Waktumu tersisa 30 detik….”
Seakan tak peduli dengan sisa waktu yang didengarnya, Arda pun kembali bertanya, “Sebenarnya apa yang kau inginkan darinya!?”
Turpin pun terkikik sejenak mendengar hal itu lalu berkata, “Jika kau memang ingin mengetahuinya maka akan kuberitahu.”
Kemudian ia mendekatkan mulutnya ke samping telinga Arda, lalu berbisik kepada si pahlawan yang diam membeku karena berada sangat dekat dengan dirinya.
Tidak ada yang mengetahui apa isi dari bisikan tersebut selain mereka berdua, tapi hal itu membuat Arda dipenuhi oleh amarah.
“Tcih! Sialan kau!!!”
Arda langsung mengambil pedang yang tidak jauh di sampingnya lalu diayunkan ke arah Turpin dengan penuh emosi. Namun, Turpin dengan mudah menangkap pedangnya lalu melempar jauh senjata itu sehingga si pahlawan tidak bisa meraihnya.
“Menyerahla—”
“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!!!” potong Arda.
Memanfaatkan kelengahan Turpin, Arda menendang perut Turpin sampai membuatnya terdorong cukup jauh. Kemudian dia memaksakan diri untuk bangun dan berlari sekuat mungkin.
Sedangkan Turpin kembali bangkit dan berjalan dengan santai seperti pemburu yang menghampiri mangsa yang sudah berhasil dia panah. Sesekali dia melirik ke arah jam tangannya lalu kembali menatap Arda.
“Sudah 3 menit! Waktumu habis, Pahlawan…!”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Turpin yang sudah sangat dekat dengan Arda berusaha menangkap si pahlawan. Namun, di saat tangannya hampir meraih leher target, sebuah peluru yang entah berasal dari mana meluncur mengenai tangannya sehingga dia gagal menangkap mangsanya yang lemah itu.
“I-itu….” Arda mendapatkan secercah harapan saat melihat sumber dari peluru itu berasal.
Dari arah sampingnya, sudah ada salah satu polisi yang menodongkan pistol menjadi pelaku dari meluncurnya peluru tadi. Diikuti dengan beberapa polisi lain di belakangnya yang telah tiba untuk membantu Arda dan ikut menodongkan pistol ke arah Turpin bersiap menembak menunggu aba-aba.
“TEMBAK!!!” teriak polisi tadi.
Seketika ratusan peluru melesat mengarah ke Turpin dan menghujaninya tanpa memberikan dirinya kesempatan untuk menghindar.
Meskipun tembakan para polisi tidak melukainya secara langsung, pergerakannya menjadi terbatas karena harus menahan peluru yang terus menembaki tubuhnya, bahkan baju besinya mulai mengalami kerusakan lagi akibat hujan peluru tersebut.
Arda yang melihat Turpin kesulitan menangani tembakan para polisi memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauh.
“Apa anda baik-baik saja?” tanya langsung si Polisi setelah melihat kondisi Arda yang memprihatinkan.
Di tengah suara peluru yang terus ditembakkan. Arda tanpa basa-basi langsung mengambil intercome dari telinganya lalu diberikan kepada pemimpin polisi tersebut, membuat si polisi bertanya-tanya.
“Tolong segera pergi dari sini dan berikan benda ini kepada HSO!” pinta Arda.
Si polisi yang mendengar permintaan itu segera menerima intercome milik Arda sembari berkata, “Baik akan kami laksanakan! Kalau begitu silahkan masuk ke mobil dan biarkan kami yang mengu—”
“Pergilah tanpa aku!” Arda memotong.
“T-tapi…”
“Kita tidak punya banyak waktu!” Arda memotong lagi, “Musuh yang sedang kuhadapi sekarang bukanlah lawan yang bisa dikalahkan oleh kalian dengan mudah. Jika aku ikut bersama kalian, dia akan mengejar kita semua dan aku hanya akan menjadi beban bagi kalian. Oleh karena itu, segera tinggalkan tempat ini dan berikan benda ini kepada HSO!”
Setelah mendengar penjelasan Arda, si polisi langsung paham lalu tanpa banyak protes memenuhi permintaan berat tersebut dengan satu anggukkan.
“Baiklah, saya mengerti! Berhati-hatilah!”
“Anda juga!” balas Arda.
Polisi itu segera memberikan bentuk penghormatannya kepada Arda sebelum pergi meninggalkannya. Namun saat dia hendak berbalik badan, tiba-tiba wajahnya terkejut seperti tersambar petir.
“AWAS!!!” teriak si polisi.
Si polisi langsung mendorong Arda hingga membuatnya terdorong cukup jauh. Segera setelah itu, muncul sebuah misil yang melesat dengan sangat cepat dan meledakkan mobil polisi beserta orang-orang yang ada di sekitarnya. Arda yang masih berada cukup jauh dari ledakan pun terhempas hebat.
Dengan posisi tengkurap tak berdaya, Arda pun dengan lemas mendongak ke depan untuk mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Tidak…” suara paraunya.
Seketika matanya terbelalak lebar sewaktu melihat seluruh polisi ternyata sudah tergeletak tak bernyawa, termasuk si pemimpin polisi.
Sedangkan intercome yang sebelumnya berada di tangan oleh polisi ternyata terlempar ke depan Arda dalam kondisi sudah hangus terbakar, tepatnya di posisi yang sejajar antara dirinya dengan Turpin yang kini sedang berjalan ke arahnya.
“Menggunakan intercome sekecil itu lalu merekam semua pembicaraan kita tadi sebagai informasi, itu adalah ide yang sangat hebat! Aku bahkan sama sekali tidak menyadarinya karena terlalu kecil untuk dilihat,” ungkap kagum Turpin lalu menginjak alat intercom yang sudah hangus itu sampai hancur dengan satu injakan.
“Se-semuanya….” Arda menatap kosong Turpin yang menghancurkan alat intercom miliknya seakan-akan sudah kehilangan harapan, lalu mulai memukul tanah dengan tangan berkali-kali, bahkan kepalan tangannya semakin menguat karena menyalahkan dirinya yang terlalu lemah dan merasa bersalah kepada tewasnya para polisi itu.
“Sial! Jika seandainya Bizmark ikut serta dalam misi ini, mungkin tidak akan jadi seperti ini!” sesalnya.
“Berakhir…” desis Turpin yang semakin mendekat.
‘Jangan terus-terusan bergantung terhadap orang lain dalam segala hal. Akan ada saat di mana kau sendirian dan hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri’
Sebuah kalimat yang pernah Arda dengar tiba-tiba terlintas di pikirannya, membuat dirinya kembali tersadarkan dari lautan penyesalan.
‘Maafkan aku, teman-teman… masih ada yang harus aku selesaikan…’ Arda membatin.
Tekad Arda yang awalnya melemah seketika kembali berkobar hebat. Dia berjuang bangkit kembali dengan sebuah teriakan yang meraung-raung menahan rasa sakit pada tubuhnya, walaupun kaki dan tangannya sudah gemetar hebat seakan tidak kuat untuk berdiri kembali.
Bahkan suara raung dari Arda membuat langkah Turpin berhenti karena terkejut sekaligus kagum.
Dengan segenap kekuatan dia berlari menjauh memaksa tubuhnya yang sudah menerima luka cukup parah dengan terhuyung-huyung.
‘Yoz, aku benar-benar tidak paham mengapa kau berpihak kepada Turpin. Tapi entah mengapa aku merasa kau bukanlah orang yang seperti itu, kau mungkin sudah dipengaruhi olehnya. Tidak peduli bagaimana pun caranya, yang harus ada seseorang menghentikanmu!’ pikir Arda.
Melihat keteguhan Arda membuat Turpin tertawa lepas seperti orang gila dengan suara jahatnya. Bahkan suara tawanya membuat siapa pun yang mendengarnya merinding, tak terkecuali dengan Arda.
“Apakah sekarang kau bepikir untuk pergi meninggalkan kedua temanmu itu?” tanya Turpin.
Namun Arda sama sekali tidak memberi respon apa pun terhadap ucapan Turpin. Dia hanya terus berlari dengan sisa tenaganya menjauhi Turpin yang masih diam di tempat.
“Tcih! Berani-beraninya kau…!”
Mengetahui ucapannya tidak dibalas, kekesalan mulai pun menyelimuti Turpin. Dia langsung menoleh ke arah Leon dan Kidman yang masih tak sadarkan diri berniat untuk langsung menghabisi kedua pahlawan itu dengan tangannya.
Namun, dia terkikik pelan begitu melihat api yang dari tadi terus berkobar mulai merambat mendekati kedua pahlawan yang malang itu.
“Hihihi… kendalikan dirimu, kawan…. Lagipula tanpa kuhabisi secara langsung pun, mereka berdua akan mati terbakar.”
Seusai tertawa kecil, ia dengan santai mengejar pelan Arda yang terus berlari terhuyung-huyung menjauhi dirinya.
Jarak antara mereka berdua pun semakin menjauh karena sebelumnya dia mengoceh sendiri, apalagi kini dia mengejar Arda dengan berjalan santai hingga membuat jaraknya semakin tertinggal dari si pahlawan.
Tapi dia tidak peduli akan hal itu dan terus berjalan santai seakan mempermainkan situasi.
“Apa kau benar-benar berpikir untuk meninggalkan kedua temanmu yang hendak dilahap api itu?” tanya Turpin sekali lagi.
Namun hasilnya tetap nihil, sang pahlawan sama sekali tak memberi respon apa pun seolah tidak mendengarkan pertanyaan barusan. Hal itu membuat Turpin kembali tertawa jahat sembari membentangkan tangannya.
“Hahahaha…. Teruslah berlari menggunakan sisa tenagamu! Teruslah berlari dengan ketakutan! Dan teruslah berlari dalam keputusasaan! Pada akhirnya kau akan tetap tertangkap olehku!” ucapnya.
Sedangkan itu, Arda yang semakin jauh dari Turpin justru semakin panik. Dia menyadari kalau Turpin hanya bermain-main dengannya sedari tadi. Terutama setelah mendengar suara tawa menggema yang mirip seperti suara tawa iblis.
‘Si-sial! Apa yang harus aku lakukan!?’ tanyanya dalam hati sambil berlari panik.
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 11: Hide & Seek