
“Bawa seluruh keluarga kalian untuk masuk ke Shelter 01! Jangan sampai ada yang tertinggal!”
Seluruh sisi gerbang shelter dibuka agar semua penduduk Kota Machina bisa leluasa masuk berlindung tanpa harus berbaris lama. Pasca sirine peringatan berbunyi, seluruh penduduk baik yang di jalan, di dalam bangunan, maupun di dalam rumah lekas pergi menuju shelter terdekat.
Tidak ada satu pun yang mencoba berlindung di tempat lain selain shelter karena seluruh kota nyaris dipenuhi oleh monster. Oleh karena itu, shelter menjadi satu-satunya pilihan mereka mengingat sebagian pahlawan dan polisi ditugaskan untuk berjaga di setiap shelter, sedangkan sisanya bertugas untuk memandu masyarakat menuju ke shelter terdekat dengan selamat, salah satunya adalah Shelter 01.
“Ya, ampun... jumlah penduduk kali ini terlalu banyak!” keluh salah satu pahlawan dengan warna rambut merah menyala yang kewalahan mengatur banyaknya penduduk.
“Berhentilah mengeluh, Ignis! Setidaknya mereka semua masih bisa diatur untuk evakuasi!” tegur pahlawan lain yakni seorang wanita berperawakan seperti seorang idol.
“Ya, ya, ya, aku paham, dasar Fluarite cerewet!” sahut kesal Ignis.
Proses evakuasi tersebut hanya memakan waktu hampir 30 menit, itu sudah termasuk cepat jika dibandingkan dengan dulu saat kejadian serupa yang membutuhkan waktu hampir 6 jam untuk mengevakuasi semua penduduk.
Begitu seluruh orang sudah masuk ke dalam shelter, seluruh gerbang langsung ditutup rapat. Ignis membaringkan diri ke tanah sembari menghela napas lega.
Sementara itu, Fluarit meregangkan badan ke atas sembari berkata, “Sepertinya semuanya sudah masuk ke shelter.”
“Bagus, sekarang tugas kita adalah berjaga di sini. Jangan sampai ada monster yang mendekat ke shelter!” seru salah satu polisi.
Pusat kota seketika seperti kota mati tanpa ada orang yang terlihat selain para pahlawan dan polisi, bahkan monster pun sama sekali tak terlihat di sana. Meskipun begitu, mereka semua tetap mempertahankan kewaspadaan mereka, jaga-jaga ada yang menyerang secara diam-diam dan muncul di tempat yang tidak mereka duga.
Semua awalnya biasa saja sampai salah satu polisi menyadari ada siluet bayangan hitam yang berdiri di puncak bangunan shelter dan segera memberitahu semuanya mengenai hal itu, membuat seluruh orang mengarahkan pandangan mereka ke arah yang sama.
“Apa itu...?”
“Halo?”
Siluet bayangan hitam itu nampak seperti melambaikan tangan, jadi bisa dipastikan dia adalah makhluk hidup, ditambah lagi dengan terdengarnya suara menyapa yang bisa ditarik kesimpulan bahwa bayangan hitam tersebut adalah manusia.
Semua orang bertanya-tanya siapa kah sosok siluet di atas itu karena kesulitan melihat jelas dari kejauhan. Salah satu pahlawan pun menggunakan scope pada senjata snipernya agar bisa melihat dengan jelas. Dalam satu kali melihat, pemilik sniper langsung mengetahui siapakah sosok tersebut.
“Turpin!”
“Apa!?”
Baik pahlawan maupun polisi dibuat kaget mendengar nama itu, termasuk Ignis yang langsung tersentak bangun saat mendengar kata Turpin. Semenjak berita tentang Lightning Warrior beserta dua rekannya yang berhasil dikalahkan, nama Turpin semakin dikenal luas oleh banyak kalangan.
Pemilik sniper sendiri langsung menarik pelatuknya setelah menyebutkan nama Turpin, menargetkan kepala musuhnya itu selagi sosok itu masih berada di sana. Namun sayang, Turpin yang menyadari hal itu langsung melancarkan misil dari tangannya untuk menahan peluru itu.
*Boommm!*
“Mengapa orang-orang di kota ini selalu menyambut kedatanganku dengan sangat tidak ramah?” keluh Turpin sendirian.
‘Ini benar-benar gawat! Seluruh penduduk ada di dalam sana dan musuh berada tepat di atas mereka! Apa yang harus kami lakukan?’ batin Ignis keringat dingin seraya menatap gerbang shelter.
Sosok berjubah itu tanpa ragu-ragu langsung terjun dari ketinggian menuju ke tempat para pahlawan dan polisi berada. Semua orang sontak mundur untuk menjaga jarak. Kaki mekanik Turpin menghantam hebat permukaan hingga retak dan menerbangkan debu-debu hingga menutupi pandangan seluruh mata.
Namun serbuk-serbuk halus itu dengan mudah disingkirkan oleh salah satu pahlawan menggunakan senjatanya berupa kipas tangan yang berukuran cukup besar. Efek angin yang ditimbulkan cukup membuat beberapa orang jatuh akibat hembusannya.
Turpin dengan santai melirik sekitarnya yang sudah dikelilingi oleh para pahlawan dan polisi. Tatapan serius mereka membuat Turpin mulai melakukan pergerakan seperti peregangan, bersiap-siap jika ada yang langsung menyerang dirinya.
“Tenang saja, aku sama sekali tidak tertarik terhadap warga sipil,” ucapnya meyakinkan semua orang.
Meskipun begitu, tetap saja semua orang bersikap waspada dan menodongkan masing-masing senjata ke arah Turpin, bahkan ada yang bergerak cepat menuju ke depan gerbang shelter untuk melindungi penduduk yang berlindung di dalam.
Turpin pun kembali bertanya, “Aku hanya ingin bertanya satu hal, apakah kalian sudah mengamankan seluruh penduduk ke dalam shelter?”
Tapi hasilnya nihil, tidak ada satu pun jawaban atau respon selain tatapan-tatapan serius yang menuju ke arahnya. Dia menepuk jidatnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
“Tidak ada yang menjawab? Ya, ampun.... kalian ini—”
*SYUU! JDUARR!!!*
Turpin pun gagal menyelesaikan kalimatnya karena harus lompat menghindari tembakan sinar yang entah berasal dari mana. Walaupun berhasil menghindar dan mendarat dengan baik, efek ledakan tersebut membuatnya terdorong mundur beberapa meter hingga ia harus menahannya menggunakan tangan.
“Lihat siapa yang datang?” ucap Turpin mencoba berdiri kembali sembari membenarkan posisi topi, dalam jarak beberapa puluh meter ia dapat melihat Bizmark yang menjadi pelaku dari tembakan barusan sedang membawa kepala monster di tangan kirinya.
“Aku pikir pengecut seperti dirimu akan menyerahkan semuanya kepada seorang bocah sedangkan dirimu hanya akan memantau dari layar, namun rupanya kau juga turut andil dalam pertempuran ini…” seru Bizmark melempar kepala monster tadi tanpa arah lalu berjalan mendekat.
“Jadi kau yang namanya Bizmark?” Turpin terkikik pelan lalu membentangkan tangan seraya melanjutkan, “Ini benar-benar mengejutkan, di hadapanku sekarang ada banyak banyak pahlawan termasuk salah satu kartu AS HSO. Ini adalah tangkapan yang besar!”
Bizmark pun mulai mendekati kerumunan, semua orang yang berada di jalur pahlawan itu langsung minggir memberikan jalan. Dalam sekali lihat, Turpin tahu bahwa lawannya kali ini akan sedikit berbeda dengan lawan-lawan sebelumnya pun meningkatkan kewaspadaan.
“Bizmark, biarkan kami untuk ikut memban—”
“Diam lah! Aku bisa menghadapinya sendiri!”
Tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh Bizmark, akan tetapi tidak ada seorang pun yang berani melemparkan protes atau komentar. Beberapa dari mereka hanya bisa berdecak dalam hati karena muak dengan keangkuhan pahlawan tersebut, salah satunya adalah Ignis yang dari telinganya keluar sedikit asap dan hawa panas karena kesal.
Sedangkan Turpin mulai merogoh sesuatu dari topinya sembari berkata, “Bizmark, kau terlihat cukup kuat…. tapi ingatlah satu hal, suatu saat keangkuhanmu itu akan menjatuhkan dirimu sendiri!”
Bersamaan dengan berakhirnya kalimat, Turpin mengeluarkan sebuah palu mainan raksasa dari topinya. Hal itu membuat beberapa orang kaget, termasuk Bizmark yang berhenti saat melihat palu tersebut.
“Kenapa? Terkejut karena barang dari Museum Magi ini ada di genggamanku?”
Dengan percaya diri, Turpin menodongkan palu yang salah satu sisinya bertuliskan ‘00.010 kg’ tersebut ke arah lawannya, sementara Bizmark justru memasukkan pedangnya ke dalam sarung lalu berdiri tegak.
Orang-orang di sekitar hanya bisa meneguk ludah menyaksikan pertarungan dua orang dengan kekuatan di atas rata-rata yang sebentar lagi akan dimulai.
Pertarungan pun dimulai dengan Turpin yang menyerang terlebih dahulu. Sosok berjubah itu langsung berlari sambil menyeret palu mainannya yang sepanjang 1 meter itu menuju ke Bizmark. Sedangkan sang pahlawan menyambutnya dengan tembakan artileri yang terpasang pada bahunya.
Turpin berusaha keras agar ratusan proyektil itu tak menyentuh dirinya, alhasil dia sedikit kesulitan untuk mendekati target. Tapi dengan perjuangan keras, ia akhirnya bisa mendekati Bizmark dan langsung melancarkan ayunan dari atas menggunakan palunya.
Bizmark pun tak mau kalah, dengan cepat dia memusatkan energi pada lengannya lalu menciptakan sebuah perisai dari energi barusan.
Keduanya saling beradu kekuatan dengan senjata masing-masing. Semuanya tampak seimbang hingga pada akhirnya Bizmark mengalirkan lebih banyak energi pada perisainya dan mulai unggul.
Turpin sedikit terkejut dengan kekuatan Bizmark yang ternyata sedikit jauh dari yang diperkirakan, sambil terkikik pelan dirinya berkata, “Lima ratus!”
Sontak Bizmark bingung dengan apa yang diucapkan oleh musuhnya. Merasa itu mungkin sesuatu yang buruk, dia bergegas mengerahkan kekuatannya untuk mendorong Turpin. Tapi saat hendak melakukannya, secara tiba-tiba palu yang ia tahan menekan dirinya hingga pijakan di bawah mulai hancur. Bahkan dia yang awalnya menahan hanya dengan satu tangan, kini dipaksa untuk menggunakan kedua tangannya.
Semuanya terkejut bukan main melihatnya, sebab untuk pertama kali Bizmark berhasil dipojokkan seperti itu. Mereka hendak membantu pahlawan tersebut, tapi tidak ada yang berani bergerak mengingat itu adalah Bizmark, sosok pahlawan angkuh yang sangat menolak keras bantuan apapun.
“Apa aku salah melihat? Bizmark… dipojokkan?” komentar Ignis.
“A-apa Turpin memang sekuat… itu?” imbuh Fluarite.
“Aku rasa bukan karena hal itu….” Pahlawan yang menggunakan kipas sebelumnya turut andil dalam pembicaraan.
“Anemos benar….” Pemiliki sniper menunjuk ke arah palu Turpin, “Perhatikan lebih seksama!”
Mereka bertiga bersama-sama memperhatikan bagian yang dimaksud dan menyadari bahwa terjadi perubahan pada tulisan sisi palu.
“00.500 kg ?” ucap Ignis menggaruk-garuk kepala berusaha mencerna apa yang dia lihat.
Sementara itu, Fluarite memegang dagu paham, “Jadi begitu rupanya, kau memang sangat teliti, HIT.”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Tubuh Bizmark semakin bergetar hebat menahan palu yang beratnya mencapai setengah ton itu, jika dia tidak segera membalikkan keadaan maka tubuhnya mungkin akan hancur karena beratnya. Dia pun memusatkan energi pada seluruh tubuh hingga mengeluarkan percikan listrik, kemudian secara perlahan membuat situasi berbalik.
Hanya dalam hitungan detik setelah percikan listrik muncul, dirinya perlahan mulai bisa mengangkat palu Turpin lalu melemparnya ke arah samping. Turpin cukup dibuat kaget akan hal itu, padahal dia sangat yakin tidak ada satu manusia pun yang bisa mengangkat benda dengan berat setengah ton.
Lemparan Bizmark membuat Turpin tanpa sadar melepaskan senjatanya. Kemudian sang pahlawan langsung melancarkan sebuah tendangan ke arah perut Turpin. Akibatnya, Turpin pun terdorong cukup jauh, disusul dengan berat serta angka pada sisi palu yang kembali seperti sedia kala.
Bizmark mengayunkan tangannya ke samping diikuti dengan mengurainya perisai energi di lengan, kemudian buru-buru hendak merebut palu mainan Turpin.
“Aku ambil kembali palu ini!”
“Dalam mimpimu!”
*SYUUU!!!*
Entah sejak kapan terjadi, Turpin tiba-tiba saja sudah memegang sebuah bumerang besi sepanjang 1 meter lalu dilemparkan ke arah Bizmark. Sang pahlawan mau tidak mau harus mengalihkan fokusnya kepada serangan dadakan itu.
*PRANG!! CLANG!!!*
Lemparan bumerang itu dibelokkan dengan mudah menggunakan pedangnya yang ia cabut dari sarung, namun bumerang itu membelokkan aliran udara sehingga membuatnya terbang kembali ke pemiliknya dengan kecepatan yang meningkat menjadi dua kali lipat.
Sang pahlawan yang telat menyadarinya memilih untuk melompat guna menghindari bumerang itu. Tanpa dia duga, ternyata belokan bumerang itu bukan menargetkan dirinya melainkan palu yang hendak ia ambil tadi.
Hasilnya, senjata lempar khusus itu mengenai palu mainan dan melemparnya kembali ke Turpin yang tengah berlari. Dengan tangkapan sempurna, kini sosok berjubah itu memegang dua senjata sekaligus.
*Slash! Sing! Bruak!*
“Kau terlalu lambat! Mengapa kau tidak mencoba untuk melepaskan besi-besi yang menempel pada tubuhmu itu daripada harus menahan beratnya dan membatasi pergerakanmu?” cibir Turpin sembari mengayunkan palunya tanpa henti.
Bizmark terpaksa dibuat mundur sejenak selagi mencari cara lain mengalahkannya, dia lompat menghindari ayunan palu Turpin sembari memegang intercom, “Marva! Berikan aku data mengenai barang-barang dari Museum Magi yang telah dicuri!”
“Kau pikir ingin pergi ke mana, hah!?”
Turpin yang tiba-tiba berada di atas lantas melancarkan satu serangan kuat nan mutlak di perut Bizmark menggunakan sebuah sarung tinju canggih, Bizmark terhempas hebat menuju ke bawah disertai suara gedebuk keras.
*BRUAK!!!*
“Hanya sampai sini kemampuanmu?”
Seluruh pahlawan dan polisi nyaris tak percaya saat melihat Bizmark menerima serangan mutlak itu, tanpa pikir panjang mereka semua langsung berniat masuk ke dalam pertarungan untuk turut membantu.
Sementara Turpin menjentikkan jari seusai mendarat, dengan tertawa jahat yang khas dia berseru kepada semuanya sambil menunjuk.
“Perhatikan sekeliling kalian!”
Beberapa orang yang penasaran mencoba berpaling ke belakang untuk melihat apa yang dimaksud oleh Turpin dan langsung terbelalak terkejut bukan main saat menoleh. Ribuan monster non humanoid bermunculan entah dari mana layaknya kerumunan serangga mengepung mereka.
Jumlahnya begitu banyak, bahkan melebihi jumlah dari gabungan polisi dan pahlawan. Suara raungan monster nyaris memenuhi udara dan memberikan kesan horror tersendiri bagi beberapa orang. Bahkan tidak sedikit yang gemetar ketakutan saat melihat jumlah dari makhluk-makhluk itu.
Perhatian semuanya langsung berpindah ke arah serbuan ribuan monster tersebut, mengabaikan Turpin yang masih berdiri di posisi semula, satu-satunya yang masih fokus kepada Turpin hanyalah Ignis.
“Jika aku bisa mengalahkanmu, maka monster-monster itu akan bisa dihentikan!” Pahlawan berambut merah itu mulai memasang kuda-kuda dengan tatapan serius, ‘Akan aku tunjukan bahwa aku kuat!’
Dalam sekejap, warna pada rambutnya menyala terang layaknya api yang membara, hembusan napasnya terasa begitu panas serta hawa di sekitar tubuhnya ikut memanas. Bermodalkan sarung tinju sebagai senjatanya, dia membunyikan buku-buku jari serta melakukan beberapa peregangan sebelum pada akhirnya melesat ke arah musuh.
Namun sayang sekali, belum sempat dirinya mendaratkan tinju ke arah musuh, Bizmark tiba-tiba saja terbangun dan menangkap pergelangan tangan Ignis. Baik dirinya maupun Turpin tidak ada yang tahu ekspresi seperti apa yang dipasang oleh Bizmark, tapi yang jelas pahlawan itu terlihat sedikit kesal.
“Aku sudah katakan agar tidak ikut campur, bukan? Ignis?” ucapnya lalu melempar Ignis mundur hingga menabrak salah satu pahlawan.
“Huh? Dia itu rekanmu, loh?” komentar Turpin menyaksikan hal barusan.
“Bersiaplah!” balas Bizmark seraya memasukkan pedang ke dalam sarung.
“Bersiap? Setelah menerima serangan mutlak dariku dan kau masih berkata demikian?”
“Kau bilang aku terlalu lambat bukan?”
Tubuh Bizmark kembali memunculkan percikan listrik di sekujur tubuhnya. Partikel-partikel energi tiba-tiba saja muncul di sekelilingnya lalu secara perlahan mendekati tubuhnya, seluruh partikel yang mendekat dan menempel pun mulai memudar seolah-olah terserap.
“Pertarungan yang sebenarnya baru saja di mulai!”
“Huh?”
“Memasuki mode tempur!”
Suara mekanisme pada armor Bizmark terdengar, bersamaan dengan sinar kuning pada bagian matanya yang mulai menyala. Turpin yang awalnya bersantai langsung bersikap waspada dan mundur beberapa meter. Sedangkan Ignis hanya bisa berdecak kesal setelah dilempar begitu saja lalu memutuskan untuk turut membantu pahlawan lain menghadapi monster ketimbang harus dilempar lagi jika ikut campur.
Beberapa atribut yang terpasang pada tubuh Bizmark lepas satu per satu dengan sendirinya, termasuk pelindung berat pada bahunya. Meskipun terlepas dari tubuhnya, atribut-atribut itu tidak terjatuh melainkan mengambang di dekat posisi awal.
Penampilan Bizmark tidak mengalami banyak perubahan dibandingkan dengan sebelumnya, yang berbeda hanyalah sinar yang menyala pada beberapa bagian, atribut yang mengambang di dekatnya, serta ukuran badan yang jauh lebih ramping.
Kemudian dia mengangkat tangan meraih salah satu bola energi yang mengambang di hadapannya layaknya sedang memegang apel. Salah satu artileri pada masing-masing pelindung bahunya pun juga ikut terlepas kemudian terbang menuju ke arah bola energi berada.
Kedua artileri itu saling bergabung kemudian melakukan tranformasi menjadi sebuah shotgun, disusul dengan bola energi yang ikut menyatu dengan shotgun. Tranformasi itu hanya terjadi dalam beberapa detik. Setelah perubahan itu berakhir, Bizmark menggapai gagangnya dan dalam sepersekian detik langsung menembak Turpin yang mengambil kesempatan untuk menyerang.
Suara dan dampak tembakannya begitu keras sampai-sampai sang penembak sedikit tergeser mundur akibat hebatnya dampak dari tembakan. Turpin yang sudah menduga akan menerima serangan seperti itu langsung mengeluarkan perisai yang mirip seperti perisai pada zaman Romawi Kuno untuk menahan serangan itu.
Saat peluru shotgun menyentuh perisai tersebut, sebuah gelombang yang berasal dari tengah perisai mementalkan pelurunya ke atas. Serangan Bizmark pada akhirnya gagal dan ia harus mengisi kembali energi untuk menembak, hal itu memberikan celah bagi Turpin untuk melancarkan serangan balasan menggunakan bumerang.
Senjata lempar khusus itu melesat ke sana kemari menargetkan Bizmark, membuatkan sang pahlawan tak diberi kesempatan untuk mengisi energi pada senjata gentelnya. Kecepatan bumerang tersebut mulai meningkat setiap kali berbelok, tapi Bizmark dengan mudah menghindarinya tanpa merasa terbebani dengan atribut yang mengambang di tubuhnya.
Kemampuan menghindar pahlawan itu membuat Turpin bertanya-tanya heran dalam benaknya, ‘Apa-apaan ini? Bagaimana bisa kecepatannya tiba-tiba meningkat? Seharusnya pergerakannya terbatas karena atribut-atribut yang berat itu!’
Turpin pun melancarkan beberapa tembakan menggunakan revolver yang pernah ia gunakan saat melawan Arda dan dua rekannya. Sementara artileri serta pelindung pada bahu Bizmark yang secara otomatis mendeteksi ada beberapa proyektil melesat ke arah tuannya maju memisahkan diri dari Bizmark. Atribut-atribut itu layaknya perisai yang terus-menerus menahan peluru yang melesat sembari memberikan serangan balasan dengan proyektil, melindungi tuannya yang masih menangani bumerang Turpin.
Kedua pihak saling beradu mekanik dengan serangan masing-masing hingga Turpin melepaskan misil ke arah salah satu peluru Bizmark, ledakan pun tak dapat terhindarkan walaupun jaraknya cukup jauh dari mereka berdua.
Tanpa diduga, Turpin tiba-tiba muncul dari tengah-tengah asap ledakan, melesat cepat menggunakan arc reactor pada kakinya dan melewati artileri Bizmark begitu saja. Dalam beberapa detik dirinya sudah dekat dengan Bizmark dan langsung mengayunkan palunya kembali dari atas, dia merasa sangat yakin bisa mengenai Bizmark mengingat pahlawan itu masih fokus pada bumerangnya.
Tapi siapa sangka, Bizmark yang menyadari kehadirannya dengan sengaja menangkap palu itu menggunakan tangan kiri lalu mendekatkan diri dengan senjata itu.
“Seribu!” ucapnya.
Dalam sepersekian detik sebelum senjata itu merubah beratnya, Bizmark secepat mungkin mundur. Turpin yang lambat menyadarinya langsung terseret jatuh ke tanah akibat perubahan berat pada senjata yang ia genggam.
Tidak hanya itu, setelah berhasil menjadikan palu itu sebagai pedang bermata dua, Bizmark melompat cukup tinggi guna menghindari bumerang yang melesat dari belakang. Senjata lempar khusus itu langsung mengenai Turpin yang berada di jalurnya hingga melempar pemiliknya sendiri tanpa ampun dan menghantam hebat shelter.
*BRUAK!!!!*
Efek hantamannya pada dinding shelter membekas cukup dalam, mengakibatkan Turpin harus mengeluarkan sedikit tenaga untuk melepaskan diri.
“TCIH! SIALAN KAU!” teriak kesalnya lalu mengeluarkan senapan gatling dan menembak secara membabi buta dengan penuh emosi.
Tembakan tanpa arah itu tidak hanya mengarah kepada Bizmark, namun juga semua yang berada di sekitarnya baik itu pahlawan, polisi maupun monster. Beberapa ada yang terkena tembakan itu, sedangkan sisanya berusaha menahan sebisa mungkin.
Ignis dan Fluarite bersama-sama menahan tembakan itu dengan tinju berapi dan getaran pada gelombang suara, sedangkan Bizmark mencabut pedang dari sarungnya dan menebas seluruh peluru yang melesat ke arahnya tanpa henti. Mayoritas yang terkena tembakan membabi buta itu adalah para monster yang menyebabkan pihak monster mulai kalah jumlah.
*Clang!*
“Gotcha!”
Turpin yang awalnya tersulut emosi berubah senang ketika melihat dua pelurunya ternyata berhasil mengenai pedang dan shotgun Bizmark, membuatnya lepas dari tangan si pemilik. Turpin yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu segera mengeluarkan sarung tinjunya untuk maju melancarkan pukulan kuat kepada lawannya.
Kedua artileri Bizmark sebelumnya mendeteksi keberadaan Turpin yang mendekat dan kembali menembak layaknya hujan peluru, akan tetapi Turpin menahannya menggunakan perisai ‘Athena’ sembari terus berlari mendekat, dirinya juga sempat melancarkan pukulan pada masing-masing artileri Bizmark yang mengakibatkan kedua senjata itu terlempar dan menghentikan tembakan.
“Tanpa pedang, shotgun, dan pelindung pada bahumu itu, kau bisa apa sekarang?!” tantang Turpin dengan percaya diri.
Bizmark sendiri tidak mencoba untuk mengambil senjatanya kembali, melainkan justru juga melakukan hal yang serupa. Sambil berlari menuju ke musuh, dirinya memusatkan energi pada tangan.
*BLAM!!!*
*BLAM!!!*
Keduanya sama-sama berhasil mendaratkan pukulan masing-masing tepat di dada lawan, efek pukulan mereka berdua cukup untuk membuat tanah bergetar. Baik Bizmark maupun Turpin tidak menunjukkan reaksi apapun pada saat itu, masing-masing sangat yakin akan menang. Setelah beberapa detik kemudian baru terlihat jelas hasilnya.
Gelombang kejut nampak timbul di punggung Bizmark setelah menerima pukulan dari sarung tinju Turpin, diikuti dengan cahaya pada bagian matanya yang mulai meredup.
“Sudah aku katakan, keangkuhanmu itulah yang akan menjatuhkan dirimu sendiri, Bizmark!” celetuk Turpin seraya tertawa.
Bizmark membalas dengan santai namun serius, “Kau yakin?”
“A-apa? U-ugghhh!!!”
Nyatanya, justru Turpin lah yang nampak memberikan reaksi lebih setelah menerima pukulan Bizmark. Dari reaksinya yang seperti memuntahkan darah seusai menerima pukulan tersebut, maka bisa dipastikan bahwa siapakah kandidat pemenangnya. Sosok berjubah itu buru-buru mundur beberapa langkah sambil memegang dadanya yang sakit.
“Turpin X… justru kelengahanmu itulah yang menjatuhkan dirimu!” ungkap Bizmark.
‘Apa-apaan ini! Bagaimana bisa pukulannya menembus pertahanan armorku!? Aku sangat yakin kalau Chaker sudah memperbaiki—’
Saat melihat dadanya, ternyata terdapat sebuah kerusakan pada bagian dadanya, kerusakannya terlihat seperti besi yang mengalami korosi akibat terkena asam. Sekilas dia mengingat kejadian sebelum dirinya pergi ke pusat shelter, lebih tepatnya di saat salah satu ilmuwan sempat melemparkan suatu cairan ke tubuhnya. Entah cairan apakah itu, tapi yang jelas cairan itulah yang menjadi penyebab armornya mengalami korosi seperti sekarang.
‘Dasar ilmuwan sialan! Seharusnya aku habisi saja dia waktu itu!’ umpatnya di dalam hati.
Selagi Turpin melihat kerusakan pada armornya, Bizmark mengambil kembali pedang dan shotgunnya sementara kedua pelindung bahu Bizmark mengambang dengan sendirinya lalu terbang kembali ke bahu pemiliknya seolah-olah dipanggil untuk menyatu kembali dengan asal mereka.
Di sisi lain, para polisi dan pahlawan ternyata berhasil menghabisi hampir semua kerumunan monster sebelumnya. Kini beberapa dari mereka berusaha membereskan sisa monster yang mencoba untuk kabur, sedangkan yang lain menyimpan senjata masing-masing lalu mendapati ternyata kartu AS HSO berhasil mengalahkan musuh utama.
Seakan menuruti perintah tuannya, pedang dan shotgun Bizmark bergabung lalu berubah bentuk menjadi sebuah senapan memanjang seperti sniper dengan bayonet terpasang di ujungnya. Setelah perubahan selesai, Bizmark menodongkan dan membidik Turpin menggunakan senapannya, energi-energi sekitar mulai berkumpul pada ujung senapan menjadi suatu energi baru untuk ditembakkan.
“Ini sudah berakhir!”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 25: Hancurlah Kota Machina!