
Setelah pelajaran terakhir sekolah usai, mereka berdua pun pergi ke kafe yang berada tidak jauh dari sekolah bernama Western Café. Hanya perlu berjalan ke arah kiri sejauh 600 meter dari sekolah dan memakan waktu sekitar 6 menit untuk sampai di sana.
Saat di dalam kafe, terdapat begitu banyak orang yang berkunjung dan duduk di meja seraya menikmati menu-menu yang tersedia di tempat itu. Ada yang menikmati cake tart, ada yang menikmati minuman seperti teh dan kopi, bahkan ada yang datang hanya untuk bersantai.
Yoz dan Suryadi memutuskan untuk mencari meja yang dekat dengan jendela, dengan niatan untuk menikmati minuman sambil merasakan udara yang segar. Pada akhirnya, mereka menemukan meja yang dimaksud dan buru-buru menuju ke meja itu sebelum orang lain merebutnya.
Suryadi dengan semangatnya menunjuk-nunjuk barang-barang yang ada di dalam kafe, kesannya seperti orang yang tidak sesuai pada tempatnya. Hal itu membuat Yoz harus menanggung sedikit rasa cemasnya akibat dilihat oleh orang-orang di sekitar.
Sementara itu, salah satu pelayan kafe langsung mendatangi kedua pelanggannya dan menyambut dengan ramah, seakan membuat suasana menjadi sedikit lebih tenang. Suryadi yang melihat pelayan cantik itu langsung bertingkah normal dan memesan.
“Aku pesan teh hangat, ya, Mbak. Oh iya, jangan lupa dikasih es.”
Pelayan itu seketika bingung dan hanya bisa tertawa mendengar pesanan konyol Suryadi. Sedangkan Yoz hanya bisa tertunduk malu dan menutupi wajah dengan tangannya, seakan menyesal sudah pergi ke kafe bersama temannya itu.
‘Apa anak ini sama sekali tidak tahu tempat?’ batin Yoz.
“Bercanda, aku pesan Milk Tea,” pesan Suryadi setelah puas tertawa.
Si pelayan kafe langsung menulis pesanan Suryadi di kertas dengan posisi berdiri yang sempurna. Setelah itu menoleh kepada Yoz menunggu pemuda itu mengucapkan pesanannya.
Menyadari hal itu, Yoz dengan refleks menegakkan badan kaget.
“Ah!? A-aku pesan Caffee Latte.”
Si pelayan kembali mencatat pesanannya kemudian pergi menuju ke dapur untuk mengantarkan kertas pesanan.
‘Maaf…’ gumam Yoz dalam hati sambil melihat ke arah pelayan itu dan tersenyum pahit. Mungkin karena perasaan bersalah atas tingkah temannya tadi.
Selagi menunggu pesanan mereka tiba, Yoz bertanya kepada Suryadi perihal tujuan mengajaknya ke kafe.
“Nah, apa yang ingin kau bicarakan sampai mengajakku ke kafe?”
“Ya… tidak ada. Aku cuma mau nyantai di kafe sekaligus melepaskan pikiran dari tugas sekolah. Hitung-hitung lumayan lah, bisa ngadem di ruangan yang sejuk dan dingin,” jawab Suryadi dengan wajah tak bersalahnya.
‘Orang ini…’ Yoz menepuk jidatnya begitu mendengar jawaban temannya.
Penyesalannya pun semakin bertambah setelah mendengar jawab itu. Waktu dan uangnya terbuang sia-sia hanya untuk melakukan sesuatu tanpa tujuan. Namun apa daya, pesanan sudah diantarkan ke meja mereka dan dia hanya bisa pasrah menikmatinya.
“Ayolah jangan marah, sesekali kamu harus mencoba nikmati hari-hari membosankanmu di tempat seperti ini,” bujuk Suryadi lalu menyesap minumannya.
Yoz pun tak membalas dan hanya membuang muka ke arah luar jendela, mencoba menenangkan diri dengan melihat pemandangan kota dan langit biru yang memanjakan mata.
Ketika hendak menyeruput kopinya, terdengar suara TV yang terpasang di pilar kafe yang menyiarkan acara berita yang membosankan.
Alasan mengapa disebut membosankan karena isi berita yang disiarkan setiap hari adalah monster, monster, dan monster.
「Siang ini, terjadi penyerangan monster di pusat Kota Machina yang menyebabkan kekacauan. Beberapa orang yang ada di sekitar lokasi berhasil dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Para pahlawan yang diturunkan oleh organisasi pahlawan sedang berusaha untuk menghadapi monster tersebut. Dihimbau kepada para warga Kota Machina untuk tidak pergi ke sekitar pusat kota sampai monster yang muncul bisa diatasi—」
“Hiihhh… monster-monster semakin hari semakin banyak aja,” seru Suryadi tiba-tiba yang ternyata mendengarkan berita tersebut.
“Ya…” balas Yoz dengan nada datar lalu menyesap kopinya.
“Coba kau bayangkan, jika seandainya ada monster yang benar-benar kuat atau monster yang berukuran sangat besar dan mempunyai kemampuan untuk menghancurkan satu kota muncul...” terang Suryadi sambil membentangkan tangannya seperti menggambarkan ukuran monster yang dia maksud. “Itu pasti akan sangat mengerikan.”
“Lantas, kau mau berbuat apa? Kau nggak akan bisa berbuat apa-apa selain mengucapkan selamat tinggal kepada kota tercintamu ini,” balas Yoz seakan tak peduli dengan ocehan panjang temannya, "itu pun jika kau selamat."
Suryadi yang mendengar hal itu pun merasa tersinggung dan mulai menyipitkan mata.
“Woi, kau meledekku, ya?”
“Lalu?”
“Lalu—apa yang bakal kau lakukan jika berada di situasi seperti itu?” Suryadi balik bertanya.
“Aku sama sekali tidak peduli dengan kota ini. Jika kota ini memang akan hancur, aku akan pergi dan menganggap kota ini tidak pernah ada.”
“Hilihh… bilang aja kamu takut,” ledek Suryadi.
“Cih—sialan kau…” Yoz membalas kesal.
Tanpa disadari, rupanya Suryadi sudah menghabiskan minumannya. Terlihat wajahnya begitu bahagia ketika air teh yang ditelannya mengalir melewati tenggorokan. Sedangkan yang Yoz masih menikmati kopinya menatap tajam Suryadi seolah ingin berkata 'Tolong bersikaplah biasa!’.
Saat mereka berdua sedang asik berbincang, dari arah pintu kaca kafe muncul seorang pemuda berbadan besar yang membuka pintu dan masuk ke dalam. Dengan gaya pakaian yang berandalan dan tas yang diselempangkan, cukup jelas untuk menunjukkan bahwa orang itu adalah siswa berandalan.
Yang mengejutkannya lagi adalah, pemuda itu ternyata berasal dari SMP Gampat. Hal itu dikarenakan satu-satunya sekolah yang dekat dengan kafe itu hanyalah sekolah Gampat, bahkan tas yang ditenteng pemuda berbadan besar itu sama persis seperti tas yang digunakan oleh Suryadi maupun Yoz.
Dia melirik seluruh isi kafe seperti sedang mencari sesuatu tapi entah apa yang dicarinya. Ketika dia seperti sudah menemukan sesuatu yang dia maksud, pemuda itu langsung berjalan ke arah meja tempat Yoz dan Suryadi berada.
“Hei, kalian berdua! Pergi dari meja ini! aku mau duduk di sini!” perintah pemuda itu.
“Eh… tapi kami sudah duduk di sini lebih duluan, lagi pula masih ada meja kosong di tempat lain…” balas Suryadi tergagap sambil menunjuk ke arah meja kosong yang ada di pojok kanan kafe dengan tangan yang gemetaran.
“Oh—jadi kalian tidak mau pergi, ya? Mau merasakan tinjuku?”
Orang itu mulai membunyikan buku-buku jarinya, seperti memberi isyarat akan menghajar mereka berdua jika tidak segera pergi dari meja itu.
Suryadi terlihat ketakutan begitu mendengar suara-suara itu dan langsung mengajak temannya untuk pergi dari kafe. Namun Yoz seakan tak peduli dengan temannya yang sedang ketakutan tersebut.
Dia terlihat baru selesai menghabiskan kopinya, kemudian meletakkan cangkir di meja dengan hati-hati dan menaruh uang di sampingnya. Menyadari pemuda berbadan besar itu menatapnya, dia pun mulai merasa terusik.
“Jika kau ingin meja kosong, di belakang bagian kanan masih ada meja kosong. Kau bisa melakukan apapun di sana,” celetuk Yoz tiba-tiba.
Mendengar kata-kata Yoz, orang itu langsung naik pitam lalu memukul meja dengan tangannya sampai membuat bunyi yang cukup keras, memicu perhatian semua orang yang ada di kafe tertuju ke arah mereka.
Dia menatap Yoz dengan kesal seakan ingin memukul orang itu, sedangkan Yoz hanya membalasnya dengan tatapan datar. Mereka berdua berada dalam situasi di mana pemicu sekecil apapun dapat membuat perkelahian terjadi.
Namun, seperti datangnya sebuah keajaiban untuk mengabulkan doa Suryadi, mendadak orang mengurungkan niatnya untuk menghajar Yoz lalu menghela napas dan pergi ke meja kosong yang dimaksud tanpa berkata apa-apa.
Suryadi yang terlihat sudah ketakutan hanya terdiam membeku memandangi Yoz, bahkan meneteskan banyak keringat di wajahnya.
Adapun Yoz yang menyadari dirinya menjadi pusat perhatian mulai merasa tidak nyaman dan akhirnya mengajak Suryadi untuk pergi dari kafe. Mereka berdua segera beranjak dari meja dan menuju ke arah pintu, Suryadi terlihat terus-terusan mendesak Yoz untuk keluar secepatnya seakan dirinya sangat menyetujui usulan tersebut.
Ketika Yoz akan menarik pintu, sebuah suara dari belakang memanggilnya.
“Hei! Mata Aneh, siapa namamu?” panggil pemuda berbadan besar tadi.
Yoz pun berbalik dan membalas dengan suara malas, “Murid kelas 2-D, Yozhero.”
“Yozhero, ya…? Namaku adalah Rama. Hari ini kalian beruntung karena aku mengurungkan niatku untuk menghajar kalian, tetapi tidak untuk berikutnya. Ingat itu baik-baik!” tutup Rama sambil menunjuk Yoz.
“Oh...” balas Yoz yang seperti tidak peduli dengan ancaman itu berbalik badan kemudian meneruskan dalam hati, ‘Lagi pula tidak ada yang peduli dengan namamu…’
Yoz pun menarik pintu dan keluar dari kafe, diikuti oleh Suryadi yang mengekor dari belakang. Suryadi yang terlihat sudah kehabisan napas karena ketakutan dari tadi langsung bernapas lega dan mengeringkan wajahnya yang berkeringat dengan dengan bajunya. Wajahnya yang nampak sangat kesal langsung menatap tajam Yoz.
“Kau sudah gila, ya?! Menantang anak berandalan sekolah yang ukuran badannya jauh lebih besar dari kita itu, hah?!”
“Lalu?”
“Kau mau dibuat babak belur olehnya? Lagi pula aku juga bakal ikut terlibat dan dipanggil oleh pihak sekolah jika kalian berdua benar-benar berkelahi!”
“Aku tak peduli dengan semua itu, yang penting urusanku di kota ini sele—”
Tiba-tiba saja Yoz menahan kalimatnya di tenggorokannya, sisa kata-katanya seakan menggantung di udara begitu saja.
Suryadi yang mendengar Yoz tidak menyelesaikan ucapannya mulai menaruh curiga, “Urusan?”
“….”
Namun Yoz hanya diam seakan menyembunyikan sesuatu. Suryadi yang melihat temannya tak menjawab langsung melupakan hal itu dan mengalihkan topiknya ke pembahasan lain.
Setelah beberapa saat kemudian, ternyata mereka berdua sudah berada di sekitar pusat kota. Tapi anehnya, tempat itu tampak begitu sepi dan sunyi. Tidak seperti hari-hari biasanya di mana tempat itu sangat ramai akan orang-orang dan kendaraan, bahkan bisa dibilang jauh lebih ramai dibandingkan daerah kota yang lain.
Mendengar ucapan Suryadi, Yoz kembali teringat dengan berita yang dia dengar di kafe sebelumnya yang menghimbau untuk tidak pergi ke di pusat kota.
Dia yang mulai merasakan firasat buruk langsung berkata, “Sepertinya kita salah jalan….”
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
*BOOMMM!!!!*
Benar saja, tak berselang lama setelah Yoz mengatakan firasat buruknya, sebuah ledakan muncul dari mobil yang tidak jauh dari lokasi mereka berdua.
Kemudian, dari samping mobil yang terbakar, muncul orang-orang yang panik berlarian seperti sedang menyelamatkan diri dari suatu bahaya.
“Jadi monster itu belum dikalahkan?!” celetuk Yoz kaget begitu melihat kerumunan tersebut.
“A-apa?! Monster?! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” balas Suryadi yang sama kagetnya.
“Jangan tanya aku! Aku saja baru ingat ketika kau bertanya tadi!”
“Hah!? Kau harus hilangkan kebiasaan pikunmu itu!!!!”
Yoz segera menarik temannya untuk ikut berlari mengikuti kerumunan tersebut. Di saat semua orang berlari panik untuk menyelamatkan diri, Yoz melirik ke belakang karena penasaran dengan sosok monster yang membuat kekacauan di pusat kota.
‘Sial! Bagaimana aku bisa lupa dengan berita tadi? Sebenarnya, seberapa kuat monster itu?’ keluh Yoz di dalam hati.
Tepat saat ia menoleh ke belakang, ada seorang gadis kecil yang berdiri sendirian dan terlihat kebingungan karena terpisah oleh orang tuanya, anak itu hanya bisa menangis sambil memanggil nama kedua orang tuanya berharap mereka berdua kembali dan menyelamatkannya.
*BOOMMM!!!!*
Suara ledakan pun kembali terdengar tak jauh dari lokasi gadis itu berada. Saat Yoz melihat ke arah sumber suara, monster yang menjadi penyebab kekacauan itu mulai menampakkan dirinya.
Makhluk itu berjalan melewati mobil-mobil yang hancur dan terbakar akibat ulahnya dengan santai. Memiliki tinggi sekitar 2,5 meter, berwujud mirip manusia, berbadan kekar, berkuku tajam, dan memiliki warna kulit pucat seperti mayat.
Monster itu terlihat membawa sebuah kepala manusia yang sudah terpisah dari tubuhnya dan melemparkannya tanpa arah. Setelah itu dirinya kembali mengejar kerumunan orang yang berlari, namun langkah terhenti begitu mendengar suara tangis anak kecil tidak jauh dari posisinya berada.
Saat berhasil menemukan dari mana sumber suara tangisan berasal, makhluk beringas itu langsung melompat ke arah gadis itu sambil mengayunkan cakarnya.
Wajah gadis kecil itu kehilangan warna setelah mengetahui makhluk mengerikan itu mengincar dirinya, tampaknya dia tidak akan selamat dari mautnya. Namun—
*Bruk…!*
‘Apa yang… aku… lakukan?’
Secara mengejutkan, Yoz berlari cepat menuju gadis kecil itu dan mendorongnya menghindari serangan monster yang sudah sangat dekat dengannya. Mereka berdua pun terhempas jauh karena efek serangan monster yang dahsyat itu.
Yoz dengan reflek memeluk gadis itu untuk melindunginya dari hantaman permukaan tanah dengan tubuhnya. Dari efek serangan yang hebat tersebut, alasan mengapa para pahlawan masih belum bisa mengatasi monster tersebut langsung terjawab, jelas kekuatannya berada di luar nalar.
“Sial! Bahuku…” rintih Yoz memegang bahunya.
Beruntungnya, gadis kecil yang diselamatkannya hanya menerima sedikit luka. Dengan perasaan sedikit lega, Yoz meminta gadis itu untuk pergi menuju ke Suryadi. Dia memberi tanda menggunakan tangan kepada Suryadi seperti meminta tolong agar segera membawa anak itu menjauh dari lokasi.
Suryadi yang paham dengan maksud Yoz pun langsung menggenggam tangan gadis itu dan mengajaknya untuk pergi ke tempat yang lebih aman. Namun ketika mereka sudah berjalan cukup jauh, Suryadi mendadak berubah pikiran dan berhenti di tengah jalan.
Dirinya terlihat seperti merasa bersalah karena telah meninggalkan temannya sendirian tanpa pikir panjang. Dia berniat untuk kembali menolong Yoz, tapi di sisi lain dirinya tak bisa meninggalkan gadis di sampingnya begitu saja. Hal itu membuat dirinya jadi kebingungan harus melakukan apa.
Tapi beruntungnya, rupanya mereka berdua sudah dekat dengan tempat evakuasi. Suryadi yang melihatnya langsung meminta gadis kecil itu untuk pergi ke tempat evakuasi sendiri lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Sedangkan itu, Yoz yang merasakan sakit pada tubuhnya akibat terhantam oleh tanah mulai mencoba berdiri kembali sembari menatap waspada monster yang ada di depannya.
“Huh…?! Ternyata masih ada manusia yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan manusia yang lain? Manusia memang sangatlah bodoh…” desis si monster.
Yoz terbelalak terkejut begitu mendengar monster di hadapannya berbicara menggunakan bahasa manusia. Namun, dibandingkan memikirkan hal itu, ada hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan. Apa yang harus dirinya lakukan sekarang?
“Siapa kau ini? Makhluk apa kau sebenarnya? Dan mengapa dirimu menyerang manusia?” tanya Yoz berusaha mengulur waktu sampai para pahlawan tiba.
Monster itu pun menjawab, “Namaku adalah Rogiant, aku berasal dari roh makhluk hidup yang menolak untuk mati.
“Ro-Rogiant?” Yoz mengulang nama yang didengarnya tadi.
Monster yang bernama Rogiant itu pun melanjutkan, “Kalian manusia membunuh makhluk hidup hanya untuk kepentingan diri kalian sendiri. Tanpa mengasihani kami, kalian terus membunuh makhluk hidup yang tak berdaya. Aku diciptakan untuk membalaskan dendam mereka yang terbunuh oleh kalian para manusia sialan!”
“Diciptakan? Siapa yang menciptakanmu?”
“Jadi kau ingin mengetahuinya, ya…? Sosok yang menciptakanku adalah seorang dewa. Dia yang merasa kasihan terhadap makhluk tak berdaya akhirnya memutuskan untuk menciptakan makhluk hasil dari revolusi yang kalian sebut sebagai monster.”
Monster itu membenangkan tangannya dan kembali melanjutkan—
“Kami para monster akan mengubah sistem tataan dunia! Kami akan menciptakan dunia di mana semua makhluk bisa hidup berdampingan tanpa harus saling membunuh!”
“Pffttt—hahahaha….”
Ketika mendengar penjelasan monster itu, Yoz tertawa dengan suara yang lantang memecahkan ketegangan di tempat itu.
Sedangkan monster yang mendengar tawa Yoz mulai menunjukkan ekspresi kesalnya.
“Apa yang lucu?!” tanya Rogiant.
“—Huh… lucu aja, monster sepertimu berpikir bahwa yang menciptakan dirimu adalah seorang dewa. Dewa yang mengasihani makhluk hidup tapi menciptakanmu untuk membunuh makhluk hidup lain. Bukankah itu terdengar lucu?”
“Jika kau berpikir itu lucu, bagaimana jika aku menghabisimu terlebih dahulu? Aku ingin tahu apakah kau masih bisa tertawa setelah jantung kecilmu itu keluar dari dadamu—”
“Oh ya satu hal lagi,” Yoz memotong, “tadi kau berusaha membunuh anak kecil yang menangis tak berdaya. Bukankah kau sama saja dengan manusia yang kau benci itu?”
Mendengar ledekan itu, si monster pun diselimuti kemarahan yang besar. Cakar-cakarnya mulai memanjang dan otot-ototnya mulai membesar. Dia menggeram penuh amarah kemudian menerjang ke arah Yoz dengan nafsu membunuh yang terlihat jelas.
“JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN KALIAN PARA MAKHLUK HINA!!!”
Serangan si Monster begitu cepat sehingga sepertinya sudah tidak ada waktu lagi untuk Yoz menghindarinya. Pemuda berjaket merah itu sedikit menunduk dan tersenyum aneh.
“Huh… waktu mengobrolnya habis, ya? Ini pasti hari sialku….”
Di saat bersamaan, Suryadi yang baru tiba di lokasi langsung disambut dengan pemandangan temannya yang akan dibunuh oleh monster. Dia pun berteriak ke arah Yoz untuk berlari menyelamatkan diri. Namun semuanya sudah terlambat, dia hanya bisa terdiam dan menutup matanya dengan penuh keputusasaan.
*Crack!... BLAM!*
Suara keras seperti suara tubuh yang hancur langsung masuk ke telinga Suryadi.
Tenggelam dalam keputusasaan, tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga, bahkan kedua kakinya bertekuk lutut seperti sudah kehilangan kekuatan untuk berdiri. Seakan tidak percaya kalau temannya mati terbunuh oleh monster dihadapannya.
Saat dia mencoba membuka matanya secara perlahan dengan tubuh yang gemetar hebat. Sontak saja dirinya kaget dengan apa yang dilihatnya.
Monster yang sebelumnya menerjang ke arah Yoz tiba-tiba hancur dengan menyisakan potongan kaki yang masih utuh tergeletak di tanah. Sedangkan pemuda berjaket merah itu hanya berdiri di sana dengan santai dan tanpa ekpsresi apapun seakan tidak terjadi apa-apa dengannya.
Namun, hampir di seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bercak darah kecuali bagian celana dan sepatunya. Pemuda itu menyeka darah yang ada di pipinya dengan tangan seperti seorang pembunuh yang baru saja selesai menghabisi korbannya.
Suryadi yang kebingungan langsung melirik ke sekelilingnya, namun tak menemukan ada orang lain di tempat itu selain dirinya dan Yoz.
Dia langsung menyadari kalau temannya lah yang mungkin menghabisi monster itu. Tapi di sisi lain, dia juga tidak percaya dengan hal itu.
Dia pun mencoba berdiri kembali dan berjalan pelan ke arah temannya. Dengan ekspresi yang masih tak percaya dan penuh kebingungan dia bertanya kepada Yoz.
“A-apa yang sudah kau lakukan?”
...\=> Arc Hero : Begin <\=...
...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 3: Kebenaran