
“Mengerikan….”
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut seorang pemuda ketika melihat kota tempat tinggalnya mengalami kerusakan yang cukup parah akibat serangan monster. Jeritan memilukan orang-orang yang ada di kota terbawa oleh udara dan sampai di telinganya, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding.
Pemuda itu berdiri di atas sebuah tebing yang melingkar mengelilingi kotanya. Ketika melihat sekelilingnya, pemuda itu menyadari dirinya sendirian di tempat itu. Dia hanya ditemani oleh angin sepoi-sepoi yang bertiup pelan menggerakkan rambut poni hitamnya.
Tubuhnya terasa mati rasa saat melihat pemandangan mengerikan itu dari kejauhan, bahkan wajahnya hampir tak bisa mengekspresikan apapun pada saat itu.
Tanpa disadari sebulir keringat menetes di wajahnya, padahal cuaca pada saat itu tidak terik.
Tidak lama setelah terdengarnya suara memilukan orang-orang, muncul beberapa ledakan di berbagai titik kota akibat dari serangan para monster. Makhluk-makhluk mengerikan itu memburu orang-orang yang berlarian dan menghabisi mereka secara brutal.
Di sisi lain, terlihat sekelompok orang yang dipersenjatai berbagai macam alat dan kemampuan khusus berusaha menghadapi monster-monster itu dengan segenap kemampuan mereka, orang-orang itu dijuluki sebagai Pahlawan.
Kota itu mengalami pergejolakan hebat, pertarungan terjadi di mana-mana. Beberapa monster berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh para pahlawan, namun tak sedikit juga dari pihak mereka yang tewas karena keberingasan para monster.
Di dalam tempat evakuasi, semua orang yang mengungsi di dalam shelter merasa ketakutan, kesedihan, putus asa, bahkan ada yang merasa marah terhadap para monster yang sudah menghancurkan kota tempat tinggal mereka namun tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang yang bisa mereka semua lakukan hanyalah menaruh harapan mereka kepada para pahlawan.
Namun berbeda dengan pemuda yang berdiri di atas tebing tersebut. Dirinya merasakan hal yang serupa tapi bukan karena teror para monster melainkan karena alasan lain. Mau dilihat bagaimana pun juga, terlihat jelas kalau pemuda itu memandangi kotanya dengan penuh kebencian.
Kemudian dia mengambil sesuatu dari kantong celananya dan menatap kosong ke benda yang dipegangnya. Benda itu adalah sebuah kalung indah berwarna biru safir, serta sebuah nama yang terukir di sana. Tidak ada satu pun yang tahu apa isi dari kepalanya sekarang, tapi nampaknya ada sesuatu mengganjal pikirannya.
Dari kalimat itu, sepertinya dia dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit. Apakah keputusan yang dipilihnya sudah benar atau justru salah. Keraguannya semakin menjadi-jadi setelah mendengar suara pilu orang-orang, hingga pada akhirnya suara bisik entah darimana asalnya membuyarkan lamunannya.
「Lakukan!」 bisik suara misterius itu di telinganya.
“Huh… kenapa aku ragu untuk melakukannya? Aku adalah bidak yang harus menuruti perintahnya, bukan?” ucapnya berusaha menyakinkan diri sendiri seolah-olah terpengaruh oleh suara bisikan itu.
Sesudah mengucapkan kalimat itu, dia memejamkan mata lalu mengatur pernapasannya. Setelah berpikir sejenak, dia membuka mata dan menghela napas sedalam-dalamnya. Dirinya pun kembali menunjukkan kegeramannya terhadap kota di hadapannya seakan sudah menentukan pilihannya.
“Baiklah, sudah aku putuskan….”
Sambil memegang erat kalung di tangannya, dia menatap kota itu dengan penuh keseriusan. Kini hanya ada satu hal yang ada di benaknya.
Menghancurkan kota itu!
Kisah dari seorang pemuda bernama Yozhero, dimulai!
... 〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...
Next Chapter:
Chapter 1: Machina