100 (One Hundred)

100 (One Hundred)
Chapter 28: Larilah!



Yoz tertegun saat menerima pesan dari Turpin. Ia pikir semuanya telah berakhir namun nyatanya tidak demikian, apalagi setelah melihat kondisi selatan kota yang nyaris rata dengan tanah akibat ledakan serta mengetahui ibunya yang disandera membuatnya bingung harus melakukan apa.


Sebenarnya dia bisa saja bekerja sama dengan HSO untuk mengalahkan Turpin, tapi hal itu tidak bisa dilakukan sebab pihak musuh sedang membawa sandera. Jadi pilihan satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menuruti apa yang dikatakan oleh Turpin.


Kini yang menjadi permasalahnnya adalah dia tidak tahu harus pergi ke mana sebab Turpin tidak menyebutkan lokasi. Dia hanya bisa mengandalkan nalurinya yang mengarahkan pada apa yang ia tatap sekarang, yakni sumber dari ledakan hebat sebelumnya berasal.


Bermodalkan dari naluri kuatnya itu, ia bergegas berlari menuruni tebing, meninggalkan Suryadi begitu saja padahal beberapa menit sebelumnya sudah setuju akan menghadari Turpin bersama-sama. Rasa sakit pada tubuh yang babak belur akibat perkelahian sebelumnya tidak menghambat dirinya.


“Hei, tunggu!—Ughh!”


Sedangkan Suryadi yang awalnya berniat ingin menyusul kini hanya bisa berdecak kesal karena sakit pada tubuh yang membuatnya tidak bisa berlari untuk sementara waktu. Dirinya memutuskan untuk mengamankan detonator untuk mengantisipasi sesuatu yang buruk terjadi.


“Apa-apaan dia itu, bagaimana caranya dia masih bisa berlari dengan kondisi tubuh yang seperti itu? Ah, sudahlah… setidaknya aku berhasil menghentikannya.”


Pemuda itu memperhatikan detonator cukup lama sebelum pada akhirnya mengingat hal penting yang sempat ia lupakan. Wajahnya nampak seperti orang yang tersambar petir.


“Ah, benar juga, Ito!”


Buru-buru ia berlari menuju ujung tebing dan memperhatikan keseluruhan bagian selatan kota dengan seksama. Dia tidak tahu lokasi pasti di mana Ito berada sekarang, tapi seharusnya monster besar hijau yang ditahan temannya itu cukup besar untuk bisa terlihat dari atas. Sayang, usahanya tak membuahkan hasil apa-apa.


Saat sibuk memperhatikan kota, dirinya secara tidak sengaja justru mendapati sebuah kubah raksasa transparan mulai terbentuk dari langit dan membungkus nyaris seluruh bagian selatan kota. Fokusnya yang semula mencari keberadaan Knighto teralihkan oleh kubah tersebut.


“A-apa itu? Sebuah kubah?”


Merasa itu adalah sesuatu yang buruk, dia berniat untuk mengejar Yoz dan memberitahukan hal mengenai yang ia lihat meskipun harus memaksakan tubuhnya untuk berlari. Belum saja tujuh langkah diambil, ia harus berhenti karena kehadiran seseorang yang menghadang jalannya.


“Aku kembali,” ucap orang itu.


Suryadi yang tak menduga akan kehadiran orang itu justru tersenyum walaupun dibumbui perasaan terkejut, “K-kau?”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


‘Sialan! Kapan ini akan berakhir?’


Yoz mengumpat dalam hati sambil terus berlari menuju sumber ledakan. Dirinya masih berada di luar jangkauan ledakan, jadi pandangannya dibatasi oleh beberapa bangunan sekitar yang masih berdiri kokoh.


Melewati mobil-mobil yang terparkir di tengah jalan tanpa pengemudi di dalamnya, serta beberapa mayat monster yang telah terbelah menjadi dua. Banyak bekas sayatan serta retakan yang menghiasi sekitarnya, mengindikasikan telah terjadi pertarungan di tempat itu.


Bekas-bekas pertarungan tersebut berakhir pada jarak 1,5 kilometer dari tebing. Dari kejauhan dia bisa melihat monster humanoid singa yang sedang melihat mayat teman hijaunya tergeletak dalam kondisi isi perut dan dada keluar.


Menyadari kehadiran Yoz dalam radius 100 meter, makhluk tersebut langsung menghadang sembari menujukan taring dan cakarnya. Tapi Yoz tidak berhenti ataupun takut, dia justru menambah kecepatannya dengan wajah kesal.


“Tcih! Aku tidak punya waktu untuk hal ini, menyingkir!”


Si monster meraung kencang seolah meneriaki suara gemuruh perang seraya mengangkat cakar-cakarnya ke atas. Bersamaan dengan Yoz yang melompat hingga posisinya berada tepat di depan dada si monster dan langsung menggunakan teknik pamungkasnya.


*Blam!!!*


Tubuh seberat dua ratus kilogram tersebut langsung hancur menyisakan kedua tangan dan kaki si monster yang tidak terkena dampak dari serangan. Empat potongan tubuh tersebut jatuh menghantam tanah sehingga menimbulkan suara gedebuk.


Yoz yang selesai melancarkan serangannya mendarat dengan aman tapi ia terlihat terengah-engah seperti orang yang kehabisan tenaga hingga bertekuk lutut, bahkan tidak sedikit keringat merembes keluar dari wajahnya.


‘Tidak, jangan pingsan sekarang! Aku harus menyelamatkan ibu….’


Setelah beberapa saat, Yoz pun kembali berlari walaupun nyaris kehilangan keseimbangan saat mencoba untuk berdiri. Pandangannya terus mengarah ke depan, tanpa menyadari ada kubah raksasa dari langit yang terbentuk secara perlahan menuju ke bawah.


Setelah perjalanan sepanjang 2,5 kilometer, Yoz akhirnya bisa melihat batas dari deretan bangunan yang masih berdiri kokoh. Karena dirasa sudah dekat dia memperlambat larinya sembari memulihkan tenaga.


Nahas sekali, jalannya harus kembali terhambat disebabkan kehadiran dua polisi yang tak berada jauh dari posisinya berada. Kedua petugas itu tengah sibuk memasang garis polisi di dekat lokasi ledakan hingga pada akhirnya salah satu dari mereka melihat Yoz.


“Siapa di sana?” teriak salah seorang polisi.


Yoz yang menyadari dirinya dilihat buru-buru berbalik dan mengambil langkah seribu untuk kabur. Mengetahui dirinya pasti akan langsung ditangkap jika hanya berdiam diri. Sesekali menolehkan kepala untuk memastikan apakah kedua orang itu mengejarnya atau tidak.


Benar saja, polisi sebelumnya langsung menodongkan pistol dan menembak kakinya tapi meleset. Yoz yang berhasil menghindari tembakan tersebut meningkatkan laju lari. Sialnya, ia tiba-tiba saja terjatuh karena tersandung oleh batu.


Kedua polisi itu dengan secepat kilat mendatangi dan meringkus Yoz, salah satu dari mereka langsung menindih pemuda itu dan mengambil borgol miliknya untuk memborgol Yoz.


“LEPASKAN! LEPASKAN AKU!”


Yoz yang tertelungkup meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari tindihan tapi sia-sia sebab pergerakannya dikunci. Polisi yang menindih tersebut memperhatikan wajah Yoz dengan seksama dan mendapatkan satu kesimpulan.


“Anak laki-laki berumur tiga belas tahun dengan jaket merah serta pupil aneh pada mata kanan. Jadi dia orangnya?” ucapnya lalu memberikan tanda dengan satu anggukan kepada rekannya.


Polisi yang satu lagi merespon tanda tersebut dan langsung mengambil walkie talkie untuk memberikan laporan tapi gagal merampungkan laporannya karena melihat rekannya yang diserang.


Polisi yang menindih Yoz langsung terkapar kesakitan setelah menerima tendangan lutut tiba-tiba di wajahnya oleh seseorang.


Yoz memanfaatkan kesempatan itu untuk bangun, dengan penasaran dirinya melihat punggung pelaku dan bertanya-tanya siapakah yang menolongnya. Dia terbelalak terkejut saat mengetahui bahwa sosok yang menolongnya adalah temannya sendiri, Knighto Darce.


Kondisi pemuda itu cukup kacau dengan beberapa luka dan lebam di tubuh serta pakaian yang robek-robek, bahkan di kepalanya mencucurkan sedikit darah. Claymore yang dia gunakan untuk sebagai alat bantu untuk berdiri tegak juga mengalami lecet dan patah.


Berpikir jika itu pemuda itu adalah salah satu musuh yang berusaha menyelamatkan buronan, polisi sebelumnya langsung menodongkan pistol dan tanpa ragu-ragu menembak Knighto.


Sang ksatria bergerak cepat menahan peluru tersebut menggunakan claymore dan berhasil selamat dari tembakan yang mengarah ke lehernya, meskipun senjatanya harus terlempar karena efek dari tembakan.


Tidak menyerah sampai di situ saja, Knighto pun langsung menerjang sehingga sang polisi melepaskan pistol serta walkie talkie di genggaman, kemudian menindihnya seraya menahan kedua tangan polisi meraih senapannya.


“Ito?” ucap pelan Yoz terkejut.


“Larilah…” desak Knighto.


Yoz tidak percaya dengan apa yang ia lihat sampai-sampai mengabaikan sekitar, sebab ia tidak pernah menduga akan melihat Knighto yang melawan polisi yang merupakan bagian dari pemerintah. Terutama Knighto adalah bagian dari bangsawan yang tentu tindakannya barusan akan mencoreng nama baik keluarganya.


Knighto pun mulai kewalahan menahan polisi tersebut, dia kembali berteriak mendesak dengan wajah serius. “LARILAH, YOZ!”


Yoz pun akhirnya tersadarkan oleh suara teriakan itu dan langsung bergegas kabur dari sana meskipun dengan perasaan berat hati sama halnya seperti yang dilakukan Suryadi sebelumnya.


‘Maaf… karena akulah kalian semua sampai terlibat…’ batin Yoz.


Saat sudah hampir mencapai kawasan bekas ledakan, ternyata kubah sebelumnya sudah hampir menyentuh tanah dengan menyisakan jarak kurang dari empat meter. Yoz yang baru menyadarinya tidak tinggal diam, secepat kilat ia berlarinya sebelum kubah tersebut menutup jalannya.


“JANGAN BIARKAN DIA LOLOS!” perintah polisi yang ditahan Knighto kepada rekannya.


Polisi yang terkapar sebelumnya berusaha berdiri kembali sambil memegangi wajahnya, kemudian mengambil senapannya dan diarahkan menuju Yoz.


“Aku sudah tidak peduli tentang misi untuk menangkapnya secara hidup-hidup, aku akan langsung menghabisinya!” ucapnya lalu menarik pelatuk.


Knighto yang mendengarnya berusaha untuk membelokkan arah tembakan tapi itu justru membuatnya lengah sehingga dia berhasil dilumpuhkan oleh polisi yang satunya.


“YOZ!” ucapnya lalu menarik pelatuk.


Saat peluru-peluru tersebut sudah berjarak beberapa senti dari punggung Yoz, tiba-tiba saja semuanya terpental akibat kubah yang telah menyentuh tanah. Yoz yang tidak tahu mengenai peluru-peluru itu hanya terus berlari hingga menghilang dari pemandangan.


Si polisi pun hanya bisa berdecak kesal karena kegagalannya, “Sialan!”


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Setelah berhasil melewati kubah tersebut, Yoz akhirnya bisa melihat tempat tujuannya. Seluruh bangunan yang dibangun di atas tanah yang luasnya mungkin setara dengan 28 kali lipat luas lapangan bola tersebut kini luluh lantak akibat ledakan.


Dengan kondisi yang seperti itu sulit bagi Yoz untuk menemukan lokasi pasti rumah pamannya, apalagi Yoz adalah pengingat yang buruk dalam beberapa hal terutama dalam hal geografis.


Satu-satunya yang bisa ia lakukan ialah berjalan lurus sambil menoleh ke sana kemari tanpa petunjuk. Tidak hanya bangunan saja, bahkan mayat monster dan orang-orang bergeletakan dengan kondisi setiap tubuh yang berbeda satu sama lain.


Entah sudah seberapa jauh Yoz berjalan tapi tetap tidak menemukan titik pasti yang dicari-cari. Semua bangunan-bangunan yang hancur itu terlihat persis di matanya. Akhirnya dia mengeluarkan keluh kesahnya.


“Sial! Apa aku salah tujuan?” ucapnya sambil menepuk jidat frustasi.


Usai mengacak-ngacak rambut, dia memutuskan pergi menuju markas HSO untuk meminta bantuan meskipun sangat kecil kemungkinan permintaannya terkabulkan, tapi diurungkan saat melihat potongan tangan tidak jauh dari posisinya berada.


Potongan tangan yang sebagian nyaris gosong serta jam tangan antik yang terpasang di sana sangat dikenali oleh Yoz, persis seperti milik Paman Hans. Dia bergegas untuk mendekati potongan tersebut dan mengecek memastikan.


Mengetahui dugaannya benar, dia berspekulasi bahwa dirinya sudah tidak jauh dari lokasi rumah pamannya. Yoz mencari tempat tinggi agar bisa melihat sekitar dengan mudah dan berhasil menemukan satu tempat yang cukup mencolok.


Dia pun mendatangi tempat yang menjadi satu-satunya lokasi yang mengalami kehancuran sangat parah, bahkan lokasi tersebut tidak menyisakan apapun selain abu dan tanah gosong yang luas. Di tempat itu juga Yoz melihat mayat seseorang yang tergeletak dengan kondisi salah satu tangan yang telah buntung.


“Paman… tidak mung….” Kata-katanya menggantung di udara dan tergantikan oleh isak tangis. Bahkan ia sampai memeluk mayat pamannya tersebut erat-erat, hatinya terasa tertusuk saat melihat kondisi jasad pamannya yang menyedihkan seperti itu.


Usai menenangkan diri, dia berniat membawa jasad pamannya untuk menjauh dari lokasi ledakan karena takut akan terjadi ledakan lagi di tempat yang sama, tapi saat mencoba mengangkat ada hal yang aneh.


‘Mengapa berat Paman sangat ringan? Aku bahkan bisa mengangkatnya dengan mudah…’ pikirnya keheranan lalu memperhatikan potongan tangan yang ia bawa sebelumnya, ‘bahkan sama sekali tidak ada darah yang merembes di sana… ada yang janggal.’


“Untuk ukuran anak SMP, ternyata kau cukup bodoh karena baru menyadarinya sekarang,” celetuk suara dari belakang.


Yoz yang sudah sering mendengar suara tersebut mulai memasang wajah serius, sebelum berdiri ia meletakkan jasad pamannya dengan hati-hati kemudian berbalik dengan kedua tangan sudah mengepal kuat-kuat.


Awalnya ia berpikir telah salah menuju lokasi yang ditentukan, tapi ternyata keputusannya sudah tepat menuju ke sini.


Di hadapannya berdiri Turpin beserta ibunya yang tangan serta leher diikat dengan rantai besi. Kondisi pria bertopi tersebut sangat buruk, berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu.


Nyaris seluruh armor di tubuhnya mengalami retak parah terutama pada bagian wajah, sementara jubah yang seharusnya berkibar di belakangnya kini sudah tidak ada lagi karena hangus terbakar. Bahkan Yoz bisa melihat mata merah yang menatap kesal dari balik topeng bagian kiri Turpin.


“Apa kau tidak ingin mengatakan apapun seperti permintaan maaf?” tanya Turpin.


Yoz membalas seraya menatap ibunya yang terikat tak berdaya, “Untuk apa aku melakukannya?”


“Untuk apa katamu? Setelah kau pengkhianatanmu dan kau masih bertanya untuk apa?”


Perempuan paruh baya di samping Turpin mencoba mendatangi anaknya namun tidak bisa sebab rantai yang mengekang, dirinya berteriak dengan wajah panik, “YOZ, LARI—”


“Diam!” bentak Turpin menarik kuat-kuat rantai sehingga sandera terjatuh.


Yoz yang melihat ibunya diperlakukan seperti itu mulai tersulut emosi dan hendak maju, tapi Turpin langsung menggertak dengan kalimat yang mengisyaratkan ancamannya.


“Aku tidak akan bertindak gegabah saat mengetahui musuhku sedang membawa sandera….”


Meskipun Turpin tidak memegang senjata apapun yang ditodongkan kepada sanderanya, Yoz memilih untuk mengurungkan niatnya. Pemuda itu hanya bisa mengepalkan kuat-kuat tangannya sampai mengeluarkan darah.


“Kenapa… kenapa kau melakukan semua ini? Mengapa kau harus melibatkanku dan juga keluargaku?” tanya Yoz menggertakkan gigi.


“Kenapa? Hmm…” Turpin menelengkan kepala seraya memegang dagu, tak lama kemudian mengangkat bahu, “Entahlah… mungkin karena iseng?”


Mendengar pernyataan tersebut, mata Yoz melebar. “I-iseng katamu?”


Turpin tertawa jahat keras, seolah-olah berhasil mempermainkan bocah polos dengan kalimatnya. Yoz sendiri mengabaikan sikap cengengesan Turpin dan menoleh ke arah jasad pamannya.


“Lantas apa yang telah kau lakukan terhadap pamanku? Apa kau juga memasukkan virus ke dalam tubuhnya?” tanya Yoz mengernyitkan dahi.


“Dia? Ah… pria tua itu sudah mati sejak lama,” jawab Turpin dengan entengnya.


Fakta tersebut seolah menghantam wajah Yoz dengan sangat keras, dia selaku orang yang sering bersama dengan pria tua itu bahkan tidak mengetahui hal seperti itu. Wajahnya memucat, badannya menjadi gemetar serta suara yang tergagap.


“A-apa?”


Turpin pun melanjutkan, “Seharusnya kau berterima kasih karena aku telah menghidupkannya kembali sehingga kau bisa menghabiskan waktu bersama-sama selama tiga bulan terakhir. Walaupun sosok yang bersama denganmu selama ini adalah mayat yang dikendalikan layaknya boneka dari jarak jauh, sih….”


Yoz memegang wajahnya tak percaya, dirinya berkeringat dingin dan napas yang mulai tidak teratur. Meskipun mencoba untuk membohongi diri sendiri, tetap saja kenyataan mengerikan itu tidak bisa disangkal.


Terutama setelah mengingat kulit pamannya yang tiba-tiba pucat layaknya mayat saat itu memperkuat buktinya. Lebih mengerikannya lagi, sebenarnya ia sempat mendengar satu kata aneh yang diucapkan oleh pamannya saat hendak menuju rumah sakit kemarin.


‘Mumifikasi…’ pikirnya mengingat kata aneh tersebut.


Setelah berhasil mengatur napasnya, dia kembali memandang Turpin lalu bertanya, “Setelah semua yang kau lakukan ini, kau mengatakan hanya iseng?”


Turpin mematung sejenak, kemudian menggaruk-garuk kepala seperti sedang memikirkan sesuatu. “Pernahkah terlintas di pikiranmu sebuah pertanyaan tentang bagaimana bisa dunia kita menjadi seperti yang sekarang?”


Yoz menaikkan sebelah alisnya terheran-heran dengan ucapan tidak terduga itu. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang selain membiarkan musuhnya sibuk berbicara selagi dirinya mencoba secara perlahan untuk mendekat, walaupun ibunya menggeleng-geleng kepala menentang rencananya.


“Jadi seperti ini ceritanya…” kata Turpin.


Semua bermula dari puluhan ribu tahun yang lalu. Saat itu terjadi fenomena yang mengejutkan seluruh umat manusia terjadi, makhluk-makhluk mengerikan tiba-tiba terlahir entah dari mana yang disebut oleh manusia sebagai monster.


Makhluk-makhluk dengan wujud mengerikan serta kemampuan di atas rata-rata makhluk hidup. Hukum alam yang baru pun berlaku yakni para monster adalah pemburu dan manusia adalah mangsanya. Beberapa manusia ada yang takut dan bahkan menyembah mereka agar bisa selamat, tapi ada juga yang membenci dan memerangi mereka.


Sayang sekali, manusia pada dasarnya adalah makhluk lemah meskipun mereka dibekali kecerdasan tinggi, monster tetap bukan tandingan mereka. Umat manusia pun hidup dalam ketakutan dan putus asa, mereka seakan tidak memiliki harapan untuk terus bertahan hidup.


Akan tetapi, semuanya berubah saat langit menurunkan cahaya harapan kepada umat manusia. Dua belas manusia yang dijuluki sebagai 12 Ksatria muncul saat umat manusia berada dalam posisi terpuruk. Hal ini menjadi titik balik manusia untuk memerangi monster.


Peperangan besar antara kedua pihak kembali pecah, manusia kini bisa membalikkan keadaan berkat kehadiran 12 Ksatria ini dan berhasil memenangkan pertempuran. Kekuatan kedua belas orang itu hampir tak tertandingi, bahkan monster terkuat sekali pun tidak sanggup menghadapinya.


Sisa-sisa monster yang selamat memutuskan untuk bersembunyi dan memperbanyak jumlah mereka, makhluk-makhluk ini terus menyimpan dendam mereka selama ribuan tahun hingga sekarang.


“Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan dongengmu!” celetuk tiba-tiba Yoz dengan posisi sudah sangat dekat dengan Turpin, ia pun berlari untuk menyelamatkan ibunya tapi langsung terlempar hebat setelah menerima tamparan keras dari Turpin.


*Bruak!*


“TIDAK!” teriak ibu Yoz panik.


Entah keberuntungan seperti apa, Yoz ternyata masih bisa bertahan meskipun tubuhnya telah menghantam tanah hingga membentuk cekungan. Dia pun mencoba berdiri kembali sambil batuk darah.


“Apa kau tidak bisa sedikit bersabar sampai aku menyelesaikan ceritaku?” ucap Turpin menggeleng-geleng kepala.


Meskipun disebut sebagai 12 Ksatria penyelamat, mereka pada dasarnya tetaplah manusia yang akan menghadapi kematian seiring dengan waktu, jadi satu-satunya cara agar kekuatan itu terus ada ialah dengan mewarisinya kepada generasi ke generasi.


Hal itu mengakibatkan kekuatan 12 Ksatria menjadi rebutan banyak orang dan menimbulkan perang saudara hanya supaya bisa mendapatkan kekuatan dahsyat tersebut.


Puncak dari perang terjadi 200 tahun yang lalu, ketika korban berjatuhan sudah terlalu banyak bahkan melibatkan warga sipil tak bersalah.


Para generasi penerus kekuatan tersebut memutuskan untuk mengakhiri semuanya, mereka menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak seolah melakukannya secara sengaja dengan harapan peperangan bisa berhenti, itu menjadikan kesempatan bagi monster untuk kembali muncul dan menyerang.


Umat manusia yang pada saat itu tidak memiliki ksatria untuk berlindung pada akhirnya melakukan kesepakatan untuk bersatu. Pada saat itulah, terlahir suatu kelompok yang siap untuk melindungi manusia menggantikan para ksatria dan bertarung melawan monster.


“Merekalah yang sekarang kita sebut sebagai pahlawan,” tutup Turpin dengan suara yang dipaksakan keluar saat menyebutkan kata pahlawan.


“Dan kau ingin menghapus seluruh pahlawan agar monster bisa kembali berkuasa?” tanya Yoz.


“Pffttt! Jangan bercanda!” sanggah Turpin seraya membuang muka. “Alasan mengapa aku melakukan semua ini tidak lain adalah untuk menata ulang. Apa kau pikir pahlawan yang sering kau tonton di film itu nyata? Tidak, kau salah besar! Mereka hanyalah orang-orang munafik yang memakai gelar tersebut untuk kepentingan mereka!”


Turpin mengalihkan pandangan ke arah bangunan menjulang tinggi di bagian utara kota, dengan memberikan tatapan penuh kebencian. “Di dunia ini sudah tidak ada satu pun manusia yang bersedia melindungi orang-orang dengan tulus! Semuanya hanya dilandaskan karena kepentingan pribadi, camkan kata-kataku!”


Yoz pun kembali bertanya, “Lalu… apa kaitannya denganku?”


“Kaitannya denganmu? Aku ingin mengkambinghitamkan dirimu atas tragedi ini sehingga para pahlawan memburumu.”


Pemuda berjaket merah itu mulai sulit mencerna apa yang sudah didengarnya. Bagaimana tidak, dari apa yang diceritakan, nampaknya Turpin ingin menyingkirkan pahlawan yang sekarang namun di sisi lain ingin memanfaatkan pahlawan untuk memburu dirinya.


Usai memijat-mijat kepala, dia lagi-lagi bertanya. “Sebenarnya apa yang kau inginkan dari rencana ini? Apa yang kau inginkan dariku?”


Turpin pun menjabarkan, “Bukankah sudah aku katakan bahwa tujuanku adalah untuk menghapus sistem pahlawan sampah ini? Setelah berhasil menghancurkan Kota Machina, masyarakat akan kehilangan kepercayaan mereka kepada HSO, itu akan meruntuhkan pemerintahan HSO secara perlahan dan aku bisa menata sistem baru yang lebih baik. Itulah alasan mengapa dalam rencanaku ingin mengantisipasi korban berjatuhan terutama warga sipil.”


Yoz tersenyum tipis tapi terkesan meledek, “Tapi rencanamu itu sudah gagal dan kau sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi meskipun menyadera ibuku!”


“Kau benar, tapi juga salah. Alasan mengapa aku memilihmu tidak lain adalah untuk mengantisipasi kegagalan seperti sekarang, awalnya aku berniat menjadikan para pahlawan sampah itu sebagai pemicu tapi jikalau gagal aku masih bisa menggunakan cara lain.”


“Pemicu?” ulang Yoz.


Turpin terkikik sejenak, kemudian menunjuk Yoz dengan suara licik. “Benar, untuk memicu mata emas milikmu, Vassal Amalgam!”


Bersamaan dengan itu, ibu Yoz tiba-tiba terbalak terkejut seakan melihat sesuatu. Yoz yang menyadari ekspresi ibunya serta jari telunjuk Turpin yang sebenarnya menunjuk ke arah lain langsung secepat kilat menoleh ke belakang, di hadapannya sudah ada monster mutasi trenggiling yang mengayunkan cakarnya ke wajah Yoz.


*Slash! Crat!! Crack!!!*


...〚\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〘100〙\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=〛...


Next Chapter:


Chapter 29: Awakened