ZAF

ZAF
Bagian 9- Paradoks



"Seperti paradoks, kadang sebuah kebenaran sangat bertolak belakang dari pernyataan. Memunculkan konflik, memulai kontradiksi dan berakhir pada situasi yang bertentangan dengan intuisi. Kadang cinta seribet itu. Kayak kamu dan aku."


🖋️


-Zigo Alathas Theodera-


Bagian 9- Paradoks


Bagi segelintir orang, Zigo tak lebih dari orang dungu yang suka membodohi diri sendiri. Kadang cowok itu terlihat bloon gak ketulungan tapi di sisi lain sangat bersinggungan.


Ketika sebagian orang menganggapnya bodoh, seketika cowok itu menampakkan sisi gemilangnya, namun ketika orang lain menyanjung cowok itu malah memperparah persepsi bahwa dia emang ****** dari embrio.


Seperti paradoks, banyak orang mengakui bahwa orang bandel dengan tingkah 'ngajak ribut' seperti Zigo memiliki kadar otak yang lemah. Namun mereka salah sangka, sama sekali salah. Cowok itu menyimpan rapi semua ilmu di dalam kepalanya yang kadang membuat orang lain tak habis pikir. Selain itu dia juga hobi bercelutuk tentang hal-hal yang mistis, belum tentu ada, dan penuh dengan penambahan gak masuk akal yang berujung dengan adu bacot.


Contohnya tentang sumur di dekat WC, katanya di dalam sumur itu pernah meninggal sepasang pengantin yang bunuh diri karena tidak direstui orang tua mereka. Kemudian anak-anak kelas akan bertanya mengapa dan Zigo hanya menjawab; Hanya Tuhan yang tahu, kawan. Gue cuma manusia yang gak tahu apa-apa.


Tentu mereka dongkol setengah mati melihat wajah Zigo. Ketenangan mutlak tanpa dosa. Walaupun di lain waktu argumen cowok itu begitu solid ketika sesi debat, tidak bisa dipatahkan. Kalau sudah masuk di materi debat mereka paling benci kalau dihadapkan dengan Zigo. Diam saja mereka bakal tetap kena lempar batu, apalagi nyahut. Bisa kena bom.


Bom batchoet.


Seperti biasa, pagi-pagi Gavin dan David mengerubungi meja Zigo dan Julio. Cowok berambut agak kemerahan itu pasti yang duluan membuka topik pembicaraan.


“Kalian tau gak.. kenapa dispenser kalo malem bunyi ‘bubluk’ gitu?”


“Syalan, true story,” David ngakak menepok jidatnya. Sedangkan Julio berpikir keras. “Setan kali, abis jogging malem-malem mampir dulu minta aer,” cetusnya dengan wajah bergairah. Teman-temannya memalingkan muka.


“DENGERIN GUE KEK WOI!”


“Sebenernya … pas malem para roh-roh yang sembunyi di tempat-tempat sepi bakal keluar, ngasih tahu kalau mereka masih ada di dunia.”


Ini nih yang namanya membual gak karuan dan gak tahu diri.


“Yah, terus ngapain kudu mainin dispenser Enyak gue, sih. Nonton bokep aja kek, kan lebih ah-ah gitu,” cela David anteng.


Julio menimpali. “Raja bokep emang lo Pid, ntar kalo lo meninggal jangan gentayangin gue buat apus riwayat browser lo ya.”


“Gue beliin beras deh, buat lo.” David membujuk.


“Gak mau.” Kali ini Julio membuang muka.


“Duid mau gak?”


“Gak.”


“Kalo link?”


“Babhi, yaudahlah deal kita bro,” tawa Julio terdengar menyebalkan di telinga Zigo. Gavin cuma memasang wajah plongo sambil memainkan kartu di tangannya. Meskipun tidak bereaksi apa-apa ternyata Gavin akhirnya protes juga.


“Gong, lo bisa gak sih jangan cerita yang aneh-aneh? Merinding gue tahu,” gerutunya kesal. Sesaat Zigo melirik cowok itu. “Gue gak mau dikomen sama orang yang lebih aneh dari gue.”


“Gundulmu goyang.”


“Udah ah, cabut! Tuh buk Hesti udah otw, bisa diratain tuh muka lo kalo masih mejeng di situ!" Julio bangkit dengan aura kaptennya. Ketiga temannya serempak berdiri dengan sikap siaga, gak mau jadi korban repetan penuh siraman qolbu dari si Incubus.


Julio melirik ke Bagus. "Woi oneng! Lu dengerin gue, gak?!!”


“Eh? Lo ngomong ke gue, Ling?” Tanya Bagus.


“Enggak…. Gue ngomong sama Malaikat Ijroil! Ya ke elo lah jancok! Buruan lu duduk manis sanah! Makanya **** lu jan kek Pipa Rucika, mengalir sampe jauh!”


Bagus ketawa cengengesan. “Hebat dong. **** gue berarti mengalir juga ke elo.”


Julio mendidih di tempat.


“Betumbuk kita?!”


“Assalamu’alaikum,” salam Buk Hesti lembut. Seluruh muridnya menjawab serempak. “Wa’alaikumsalam.”


Julio masih berdiri di tempatnya, sedangkan Bagus sudah duluan nyerobot di meja orang lain. Dia tahu kalau Buk Hesti ngamuk jangankan dia, Fir’aun aja bakal lari dari kuburannya. Buk Hesti menatap Julio.


“Hei, kamu!” cecar guru itu, Julio terkejut-kejut dramatis.


“Hatiku dag dig dug saat aku melihatmu…” ucapnya membuat bentuk love dengan jarinya. “Julio, jangan banyak cincong kamu. Cepat siapkan!”


Saat pelajaran berlangsung seorang cowok mengantar buku Kimia yang mereka kumpul kemarin, Zigo pening sendiri saat buku miliknya gak kunjung dibagi-bagi, padahal Gavin, Julio dan yang lainnya sudah mendapat buku masing-masing.


“Yu, buku gue kok gak ada?” Tanya Zigo pada Wahyu. Wahyu mengerutkan alisnya heran. “Lah mana gue tau somplak.”


Mendengar jawaban itu Zigo mengatup mulut dongkol. Dia memilih meninggalkan kelas dan mencari bukunya di kantor tapi tidak ketemu, sudah jelas Zigo kesal setengah mati. Mahakarya yang kemarin digambarnya itu ada di buku Kimia. Zigo mengacak-acak rambut sambil memasuki kelas, Buk Hesti meliriknya sebentar.


“Kenapa kamu tiba-tiba keluar dari kelas saya?"


“Mungkin buku lo lagi naik haji Gong,” celutuk Gavin. Zigo menampar cowok itu dengan tas.


Entah ke mana buku itu, Zigo yakin dia sudah mengumpulkannya. Dia mencoba mengingat-ingat walau akhirnya buntu juga, mungkin dia harus ikhlas buku itu hilang.


Cuma ada 2 kemungkinan, pikir Zigo. Kalau bukan hilang dibuang, mungkin ada yang salah ngambil buku. Kalau iya, matilah Zigo. Di buku itu dia kadang suka nulis puisi-puisi alay bin norak, karena buku itu memang seperti gado-gado. Semua mata pelajaran ada di situ.


“Tu-tunggu,” gumam Zigo pada dirinya sendiri. Dia seperti teringat sesuatu. Dan benar aja, di buku itu ada gambar tidak senonoh yang dibuat David tempo lalu. Gambar kelamin cowok dengan bulu menjuntai-juntai.


“DAVID JAHANAM!!” teriak Zigo mencekik leher David tiba-tiba, David mencoba melepaskan tangan Zigo yang kerasukan dedemit itu.


“Salah gue apa woi?!”


“Cariin buku gue, jir! Cepetaaaan!!!!”


“I-IYA DAH, GUE CARIIN!” gerutu David kebingungan. Buk Hesti cuma bisa geleng-geleng melihat dua cowok itu. Belum jalan semeter, Zigo langsung dibuat kesel oleh temannya itu. David malah nyosor godain senior kelas tiga.


“Kak, kakak tau gak? Sekarang kebutuhan aku cuma bahan sandang, pangan, papan dan harapan,” goda anak itu dengan gombalan ala anak Ips-nya, senior itu heran sampai alisnya bertemu.


“Harapan?”


“Iya, harapan bisa jadian sama Kakak, hehe.”


“Unch bisa aja kamu.” Zigo bercelutuk dengan muka masam. “BURUAN CARI BUKU GUE, SEETAAAN!!!”


*****


“Lo dari tadi gue lihatin sibuk ama buku mulu, ngapain sih?” Tanya Aurel menghampiri Fika yang sibuk membaca buku bersampul batik tanpa peduli sekelilingnya. Farad juga mulai curiga. Biasanya anak itu lebih tertarik dengan buku cetak atau ruang lab untuk menghabiskan waktu istirahatnya.


“E-eh? Gak ada kok, gue lagi baca catatan doang.” Fika menutup buku itu dengan cepat, Aurel menaikkan sebelah alisnya namun urung bertanya karena dia sedang badmood. Gara-gara  Karen yang belakangan ini yang sering mencuekinya, memang, di geng mereka Aurel yang paling lebay.


Dia suka ngelabrak bencong pas lagi galau, maki-maki kepala sekolah dan yang paling parah ngejambak orang yang gak dia kenal. Bahaya deh, kalau Aurel lagi kesal.


“Keluar yok, bete banget di kelas.” Farad bercelutuk. Tangannya berhenti bermain game horror di laptop dengan mata menatap kedua temannya yang suntuk saat jam kosong.


Aurel mengiyakan sedangkan Fika tak berkata apa-apa, hanya memalingkan mukanya ke pintu. Farad tahu, Fika malas membuka mulutnya. Saking malasnya ngomong, pas bicara suaranya kadang kedengaran serak.


Mereka memilih duduk di dekat ruang TU yang bersebelahan dengan lapangan sepak bola, saat Aurel dan Farad sibuk menonton pertandingan bola Fika tanpa sengaja melihat Zigo yang bermain jauh lebih seru di sana.


Zigo, Julio, David dan Gavin sibuk dengan daun kelapa sawit yang masih bergantungan di pohonnya. David mengambil kursi dari kelas lalu menggapai daun itu untuk berayun.


Tertawaan mereka pecah saat David terjengkang dengan mulut mengumpat-umpat, giliran Gavin cowok itu malah nyusruk termehek-mehek. Mereka ngakak bersama-sama saling menertawai. Sadar tak sadar, saat ini Fika malah ikutan ketawa.


Fika terhenyak kaget bukan main saat tahu-tahu, Zigo menatapnya dari kejauhan. Dia berpikir Zigo pasti mengejeknya, namun cowok itu malah tersenyum lebar.


Fika memanas. Zigo memasang kuda-kuda saat hendak bergelayutan di daun itu, teman-temannya saling berbisik. Lalu ketika cowok itu berayun Gavin dan David mendorong Zigo sampai terjungkal, Julio yang ketawanya paling menghayati sampai kedengaran kayak orang kena asma.


Beberapa detik mereka terdiam, Zigo memegang pantatnya.


“CELANA GUE SOBEK, ANJENK!!” jeritnya penuh emosi, mereka tambah ketawa ngakak guling-guling. Fika memalingkan muka sambil menutup mulut. Farad yang melihatnya mencari-cari dari mana sahabatnya bisa ketawa begitu.


Zigo. Cowok itu selalu.


“Entah kenapa, sekarang gue lebih sering ngelihat lo senyum,” gumam cewek itu.


Fika menoleh padanya. “Apa?”


Farad menggelengkan kepala. “Gak ada, tadi ada bencong nyeruduk tiang,” jawabnya ngasal. Zigo dan teman-temannya tidak ada lagi di situ, pundak cewek itu menurun. Farad tersenyum kecil.


“Nyariin siapa Ka?”


Yang ditanya tersentak kecil, perlahan wajahnya memerah.


“G-gue? Gak nyari siapa-siapa, suer,” ucap cewek itu dengan wajah berusaha meyakinkan, Farad memasang wajah curiga membuatnya kalang kabut.


"Beneran kali! Dah lah males, balik ke kelas aja!” kata cewek itu pergi terburu-buru.


"Menurut lo gimana Rel?"


"Gue gak yakin Fika bisa tahan buat gak jatuh cinta sama Zigo." Aurel tertawa dengan mata menyipit.


"Seriusan?"


"Tapi..."


"Apa?"


"Gak ada apa-apa." Kali ini Aurel menunduk ketika dari ujung sana Zigo sedang berjalan bersama teman-temannya. Mata mereka sejurus bertatapan namun kemudian Zigo langsung membuang muka.


πππ