ZAF

ZAF
Bagian 38 - Gavin Malik Zakhary



Bully. Satu kata yang tak pernah lepas darinya. Dulu, ketika di SMP Gavin selalu sendiri karena dibully seorang cowok yang menjadi penguasa di kelasnya, ia melakukannya karena membenci Gavin. Padahal cowok itu tidak melakukan apa-apa, hanya saja karena wajah tampan dan tinggi badan idealnya membuatnya selalu dikejar-kejar oleh kaum hawa.


Kirana menyukainya sejak SD, mereka selalu satu sekolah dan di kelas 3 SMP ini mereka satu kelas. Bukan hanya secara fisik saja banyak cewek yang menyukainya, tapi secara sifat Gavin yang hanya kadang-kadang bicara.


Dari semua watak dan karakter orang ia telah temui Gavin mengerti banyak hal.


Salah satunya teman yang tidak benar-benar tulus bersamanya. Hanya menginginkan uang Gavin. Dia tidak pernah mendapatkan teman yang bisa diajak susah bareng, senang bareng dan gila bareng. Hari-harinya juga dipenuhi dengan para orang yang sibuk menjilat, mencari muka hingga membuat Gavin muak sendiri.


Tapi nyatanya? Ketika Dika yang menjadi berandalan di sekolahnya itu mengganggunya karena Kirana suka padanya, di situlah Gavin sadar tidak ada yang namanya teman  yang datang membantunya ketika meja dan kursinya sengaja ditumpahi air kotor. Atau baju olahraganya yang tiba-tiba dilempar di pohon tinggi.


Gavin tidak jago bela diri, dia juga tidak bisa kelahi. Dokternya tidak membenarkan jika dia berkelahi yang pastinya menguras tenaga yang ujung-ujungnya membuat Gavin jatuh pingsan.


Namun makin hari tekanan dari Dika semakin membuat dirinya stress, ia berusaha menghindari Kirana namun cewek itu tetap bersikukuh mendekat. Gavin tidak mengusirnya secara langsung karena dia juga ingin menjaga perasaan cewek itu.


Ia juga tak ingin memberitahukan hal ini kepada Papanya, beliau saat itu sedang dirundung banyak masalah. Mamanya juga jarang di rumah. Gavin tidak bisa mengadu. Semakin hari ia semakin berharap agar hari kelulusan cepat-cepat datang dan dia bisa pergi dari tempat ini.


Namun pertemuan sore itu dengan seseorang mengubah hidupnya. Membatalkan niatnya untuk segera tinggal di tempat lain.


Dika mengangkat tinggi-tinggi kerah baju Gavin yang baru lagi, baju yang sebelumnya sudah dirusak oleh preman kecil itu.


"Berapa kali gue bilangin?!" geramnya. "Jangan pernah lo dekatin Kirana! Lo liat, kan?! Dia sampe-sampe bawain bekal buat lo!"


Bughk!


Perut Gavin ditumbuk kuat, anak itu sampai terbatuk dengan tatapan buyar. Ia tidak bisa membalas. Terlebih lagi di depannya berdiri lima cowok yang terkenal jago berantem.


"Lo denger gak?!"


"Heh bocah perosotan!"


Sebuah sendal swallow melayang ke kepala Dika, cowok itu menatap ke belakangnya nyalang. "Siapa lo hah?! Lo tau siapa gue?!"


"Tau mata kau! Kembaliin swallow gue gak? Itu swallow hasil nyolong di masjid, kesian kalo ujung-ujungnya berakhir cuma buat gebukin palelo!"


Dika dan teman-temannya tak lagi mengganggu Gavin, mereka sama-sama memelototi cowok dengan gaya seenak udel itu.


"Heh orang udik!"


"Bapak lu tuh udik!"


"Gak ada takut-takutnya lo sama gue, ya? Gue Dika, anak SMP Maju Jaya!"


"Gak peduli gue mau bapak lu mati kek! Lepasin tuh anak kaga?!" teriaknya. "Ato gue lemparin lagi nih sendal gue?!"


Dika dan teman-temannya maju menyerang sedangkan Gavin memilih bertekuk lutut di dinding gang. Dia ketakutan.


Beberapa saat terjadi keributan yang heboh, sampai akhirnya suasana kembali tenang. Gavin berniat mengangkat wajah sebelum ia kaget saat seseorang menghampirinya.


"Uy! Awas!"


Gavin mengerjapkan mata teduhnya pelan, melongokkan kepalanya ke belakang Zigo. Lima preman bocil itu telah terkapar di tanah sambil menjerit kesakitan.


Cowok yang belum ia ketahui namanya itu menunduk, Gavin menutup kepalanya ketakutan. Mana ada anak seusianya yang jago berkelahi lima lawan satu.


"Gue cuma mo ambil ini sendal doang, sans ae lu."


"N-nama lo?" tanya Gavin hati-hati.


"Berani lari lu?! Minta maaf sama dia, cepet! Sebelum gue jejelin nih sendal ke pantat lo!" Teriaknya lantang.


Akhirnya semua orang yang selama ini membully Gavin pergi, cowok itu juga berkata kalau seandainya dia tahu mereka mengganggu Gavin lagi, bapak mereka yang bakal kena hantam.


Para preman bocah itu manut saja saking takutnya.


"Kok lo bantuin gue, sih?" tanya Gavin. Zigo membalikkan badan sambil menatapnya bersahabat. "Gak tau, lagi gabut gue hahaha!"


"Lo gak kenal gue?"


"Lo tanya presiden sekarang aja gue gak tau siapa namanya!"


Nada bicara cowok itu selalu semangat, Gavin mulai tersenyum kecil. "Makasih sekali lagi, ya, Go."


"Iya, masama. Betewe itu temen lu?"


Terlihat seorang cowok yang rada pendek berlari sampai rambutnya berterbangan gak keruan. Cowok itu masih sempat-sempatnya ngunyah timun. "Pin! Sori gue telat!"


Gavin membuang pandangannya pelan. Dia tau David dari tadi bersembunyi di balik tembok berusaha menyelamatkan namun kakinya saja gemetaran.  Cowok itu ngos-ngosan dengan telapak tangan berpangku di lutut. "Makasih udah jagain temen gue, nama lo siapa?"


"Zigo."


"Dah ya gue balik mo ke minimarket."


"T-tunggu!" Gavin menahan laju langkahnya.


"Kita boleh temenan gak?" tanya Gavin malu, walaupun dia jarang bicara di kelas tapi di hadapan Zigo mulutnya selalu ingin mengomel. Lebih baik dia malu-maluin diri sekarang, yang penting dia harus mengenal Zigo.


"Gue udah anggep lo temen daritadi.."


"Kapan?" Gavin mencoba mengingat-ingat namun tetap tak tahu.


"Sejak gue lemparin sendal tadi," katanya dengan binar jenaka. "Gila aja tuh muka tukang bully pada bonyok kena nih sendal." Zigo menatap sendal sejuta umatnya dengan bangga. Swallow is the best lah.


"Gue gak nyangka lo bisa ngalahin lima preman itu, lho."


"Haha b aja, kalo lo mau bisa gitu juga berarti lo harus sering kena hajar juga."


"Gak doyan. Gue gak mau." David menolak mentah-mentah. "Oiya nama gue David Rian Syahputra."


Mereka berbincang-bincang selama pergi ke minimarket, bahkan barang-barang belanjaan Zigo tiba-tiba menjadi banyak. Gavin membelinya sebagai ucapan terimakasih.


Yang pasti, sejak kedatangan Zigo semuanya berubah. David yang dulu penakut ketika ingin membelanya mendadak jadi super Hero papan gilesan. Muka noraknya suka sok sombong walaupun ujung-ujungnya tetap dibonyokin.


Saat SMA akhirnya mereka bisa berteman, satu kelas bahkan mengenal satu orang lagi yang bernama Julio. Gavin sering menceritakan teman-temannya pada Papanya, membuat lelaki itu senang dengan perubahan pesat di wajah Gavin– anak kesayangannya satu-satunya.


Anaknya itu selalu ceria, tidak lagi mengurung diri di kamar, dia juga lebih patuh ketika diberi obat agar tetap sembuh.


Papanya semakin berterimakasih pada teman-teman Gavin. Mungkin sekarang anak itu menemukan arti hidupnya.


"Gavin pengen hidup kayak semua orang, pa. biar bisa bareng sama temen-temen lebih lama."


***


Abis baca like ya, bantu support karyaku supaya makin berkembang:D