ZAF

ZAF
Bagian 23 - Panggilan Buk Hesti



"Bagi, monyong, bagilah kuy!" serobot David nyuri jajanan Gavin. Anak itu gak peduli, soalnya selain jadi bandar Uno, Gavin juga pohon duit di kelas. Biasa anak orang kaya. "Tumben lu gak bawa timun, Pid."


"Ada nih," David merogoh isi tasnya. Ada timun kecil lima biji. "Noh, buat lu. Gak mood gue liatnya."


"Hey hey Wak geng," panggil Zigo. David dan Gavin menoleh sedangkan yang satu biji itu melamun entah apa yang dipikirkannya. Anak itu bersiul-siul kecil.


"Ciahh yang lagi melamun! Mikirin ape lu bang?!" seru David mencomot sandwich Julio.


"Heh, timun! Hobi bat ye lalerin orang!"


"Abis lu kaga mau makan sih, kan kesian gue ngeliat makanan dibuang-buang gitu. Udah lu kaga usah makan, biar gue aja dah! Ikhlas gue!"


"Yehh enak di elu rugi di gue kambink!"


Julio memilih memutar bola mata. Anak itu mengalihkan pembicaraan, "gue penasaran, Gong. Lu sama Farad ngomong apa kemaren?"


"Apa yak gue lupa." Zigo berpikir keras. "Dia nantangin gue buat ikut Olimpiade Sejarah Nasional," celutuknya.


"Apaaaaa?"


"Lebay.. lebay.." suara Gavin gak sadar diri.


"Diem lu!"  Seru Julio ganas, David melerai. "Udah kaga usah lu ladenin tuh torso, yang ada masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Besoknya langsung murtad lu!"


Gavin ketawa ngakak gak sadar diri. Ketiga temannya menatap plongo. Udah biasa mereka liat orang gila gini, udah gak tau malu, gak ada otak, gak ada ahklak lagi.


"Seriusan lu akhirnya mau Gong?" Julio bertanya penasaran.


Zigo memasang wajah berpikir, yang jika dilihat dalam kurun waktu sepuluh detik lebih mirip biawak kena muntaber.


"Iya."


"Weh, jadi kenapa lu gak belajar sekarang? Bukannya OSN tinggal satu Minggu lagi ya?"


"Udah, Ling. Gue udah belajar. Belajar mencintai tapi gak dihargai," ujar Zigo.


Gavin mendadak nimbrung dengan wajah datarnya. "Makanya cukup cintai Yakult dong!"


Zigo mendengarkan, kadang kata-kata yang bakal dikeluarkan anak itu berguna sedikit. Dikit doang yang berfaedah, sisanya bacot.


"Yakult?"


"Cintai Yakultmu minum usus tiap hari."


"Kebalik woi!"


Anak-anak kelas geleng kepala lihatin mereka, suasana kelas yang udah kayak orang tawuran itu mendadak sunyi ketika terdengar langkah kaki di pintu. Farad datang ke kelas X IPS 1.


"Yang namanya Zigo mana?"


Zigo menarik sudut bibirnya kecut, tuh cewek emang pura-pura lupa wajahnya apa. Padahal mereka udah ketemu dari kemaren-kemaren. Apa emang cewek emang gitu, sok gengsian.


"Noh!" Zigo melempar si torso, eh menyeret si torso. "Eh lu kira gue karung goni ape segala diseret-seret!" dumelnya gak terima. Zigo terpanah asmara, maksudnya terpana ngeliat Gavin marah-marah gini. Biasanya adem ayem kek Valak keabisan kemenyan.


"Kan yang Zigo elo!" jengkel Farad menunjuknya dengan kaki menghentak gemas. "Gue salah, iya gue salah."


"Maksud lo yang salah itu gue, iya?!"


"Kan gue bilang gue salah--ah udah ah! Lu mau ngapain? Mo jadi kang panci diri-diri di pintu?"


"Oooh.. menghina gue, lo?"


Oke, Zigo nyerah. Cewek selalu benar. Dalam hati cowok itu cuma bisa menggerutu kesel. "Kenapa diem?"


"Gak, Far. Gue lagi baca surah Al-Baqarah ayat 153."


Farad mengerutkan alisnya masih bersedekap dada.


"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Zigo melanjutkan, "hanya orang-orang tersakiti yang bisa paham."


"Bodo amat! Udah buruan ke ruang Buk Hesti, ada yang mau beliau omongin."


πππ


Sepanjang koridor suasana awkward membuat Zigo risih sendiri. Cowok itu membuang muka. Farad bukan tipe orang yang bisa diajak ngobrol dengan lepas, dia sangat serius dan kaku. Meskipun Zigo tetap ingin menjahili anak itu.


"Kenapa lo?"


"Batuk disengaja?"


"Hm. Gak tau ah. Otak gue lagi loading."


"Kok bisa sih lo **** banget?" ejek Farad berhasil membuat Zigo terdiam tak membalas. "Pasti gak bakal ada cewek yang mau sama lo."


Zigo dongkol abis. Cowok itu berinisiatif menggampar tuh singa sampe mulutnya berbusa, terus tuh busa keknya bisa dipake buat usaha cuci mobil. Peluang bisnis yang menjanjikan.


"Gue pernah putus." Zigo berkata tenang.


"Eh, seriusan. Kata Aurel lu gak pernah pacaran."


Triple jleb bosqu.


Zigo gak mau bicara lagi terpaksa Farad yang bertanya.


"Lo pernah pacaran?"


"Pernah, 9 bulan."


"Lama juga ya. Orangnya kayak gimana? Gak yakin gue kalau dia secantik Aurel."


"Lo gak perlu tau siapa. Dia udah dikuburkan," ujar Zigo menyesal abis.


"Eh eh sorry. Gak maksud. Nama dia siapa kalau boleh tau?" tanya Farad hati-hati. Zigo menatapnya.


"Tali pusar."


Farad terdiam sedangkan Zigo berlari dengan suara awokawokawok menggema di seluruh penjuru.


"SINTIIIIING!!!"


***


"Jadi akhirnya kamu mau, Zigo?" ujar Buk Hesti yang tengah duduk di meja kantor seraya menopang dagunya dengan kedua tangan menumpu meja. Guru itu beralih melirik Farad, ia tersenyum. "Farad juga ikut?"


"Ehm, iya Bu."


"Baik, mulai sekarang kalian harus sering-ikut pelatihan OSN sama ibu, Zigo, kamu dengar saya tidak?"


Kelihatannya Zigo masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Zigo, kamu harus serius ikut OSN. Kamu membawa nama sekolah," tegas guru itu menukikan alis membuat tampangnya semakin killer. Terdengar hembusan panjang dari mulut muridnya yang sedang cuek itu.


"Saya gak tau buk."


"Kok gitu jawabnya?"


"Saya permisi."


Pintu ditutup pelan, Buk Hesti menatap tak percaya. Ia mencoba mengingat-ingat omongannya, tidak ada yang menyinggung anak itu. Sementara Farad mencoba menyusul Zigo.


"Go! Zigo!"


Langkah derap mereka terdengar sepanjang kelas, Farad melangkah lebih cepat dari Zigo.


"Lo kenapa sih? Sentimen banget kaya cewek!" komentar cewek terdengar pedas di telinga Zigo. Mendengar kata-katanya Zigo berhenti, wajah Farad menabrak punggungnya.


"Ih apa-apaan sih lo?"


"Denger," ucap Zigo pelan. "Lo bukan siapa-siapa, urusan gue juga bukan hak lo buat lo ganggu."


Zigo berjalan menjauh dengan Farad yang kehabisan kata-kata, dalam pikirannya ia tak pernah menyangka Zigo memiliki sifat seperti ini. Dulu saat SMP, Aurel selalu bercerita kalau Zigo selalu menghiburnya dengan segala cara, mulai dari hal yang konyol sampai hal paling ekstrim. Hanya agar Aurel tertawa.


Sekarang, saat tahu siapa Zigo. Rasanya cowok itu bukan seperti yang Aurel gambarkan. Dia memiliki sisi gelap. Bersembunyi di balik cahaya semu itu, terdapat rahasia di baliknya.


"Lo ... Siapa, sih?" Batin Farad bingung.


"Lebih baik lo gak usah tahu siapa gue."


Lamat-lamat suara cowok itu terdengar halus, namun begitu dingin. Angin siang itu menggoyangkan pepohonan di sekitar sekolahan, namun saat itu suasana sekolah sunyi senyap, mungkin karena jam pelajaran. Atau mungkin juga karena mendengar kata-kata itu.


***